Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 part 24


__ADS_3

Setelah menurunkan Queen di depan rumah sakit, Al langsung melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke perusahannya. Ia sengaja


berangkat lebih awal. Karena ia sudah membuat janji dengan Candra untuk


membahas sesuatu setelah ia janjikan setelah kembali bekerja nanti. Al sendiri juga yakin, kalau Candra kini sudah tiba di kantor.


Tiba di pintu masuk perusahaan, Al langsung menanyakan pada


dua resepsionis yang berada di sana.


“Apakah pak Candra sudah tiba di kantor?” tanya Al pada


salah satu dari dua wanita yang berdiri di sana.


“Sepertinya sudah, Pak. Kurang lebih lima menit yang lalu.”


“Hubungi dia, dan minta ke ruangan saya saat ini juga, cepat!” tanpa berbasa-basi lagi, Al langsung menuju ke dalam ruangannya.


“Baik, pak.” Tangan wanita cantik itu segera meraih telefon yang ada


di sebelah kanannya, kemudian menghubungi Candra dan meminta saat ini juga untuk segera ke ruangan CEO.


Al masuk ke dalam ruangannya yang sudah selama satu minggu


ini ia tinggalkan. Tidak banyak berubah. Tatanan juga sangat rapih. Bahkan, tak ada sebutir pun debu yang menempel dalam ruangannya. Tapi, tumpukan berkas proposal di mejanya, lumayan tinggi.


Baru beberapa menit saja, pintu ruangannya sudah ada yang


mengetuknya.


“Masuk!” jawab Al dengan nada


datar dan dingin.


Seorang pria mengenakan kemeja


lengan panjang berwana hitam berdiri di ambang puntu yang terbuka setengahnya.


Ia sedikit membungkuk untuk memberi salam pada atasanya kemudian masuk dan


duduk setelah dipersilahkan.


“Kau tahu, kan Ndra untuk apa


saya memanggilmu?’’ ucap Al sambil menatap lurus pada pria yang duduk di depannya.


“Iya, Pak. Saya mengerti. Apakah


bapak perlu jawaban atas tawaran yang anda berikan pada saya minggu lalu?’' jawab Candra tegas. Namun tak menghilangkan rasa sopan santunnya.


“Tepat sekali. Bagaimana keputusanmu sekarang? Menerima dan pindah ke Borneo, atau di sini saja tapi tetap bertahan berada


ada posisimu.”


“Saya akan tetap bertahan di


sini, Pak. Tak peduli apapun. Saya bekerja hanya cari upah bukan jabatan.”


Al diam sambil bertopang dagu.


Sesaat kemudian ia kembali mengangkat kepalanya.


“Baiklah. Kurasa kau sudah


mencapai tujuanmu,” jawab Al.


Candra hanya tersenyum tertahan saja. Selama


ini, bahkan mungkin dari awal Al juga tahu tentang percintaan karyamannya yang


ini.


“Doakan saja, Pak yang terbaik


untuk saya.”


“Baiklah. Ya sudah, kau boleh


pergi sekarang dan lanjut bekerja,” ucap Al kemudian pria itu pun keluar


meninggalkan ruangan atasannya.


Al melihat tumpukan berkas yang


ada di hadapannya. Cukup banyak juga. ia pun mengambil semua tumpukan tersebut


dan membaliknya. Yang paling atas, berada di paling bawah. Lalu, mulai membaca


isinya satu-satu.


Berkas yang sebagian besar adalah


proposal permintaan kerja sama dari perusahaan lain. Sudah seminggu lamanya ia


biarkan, karena berlibur. Sedangkan, setiap hari rata-rata ada tiga sampai lima


perusahaan yang selalu mengirimkan proposal pengajuan kerja sama ke perusahaannya.


****


“Hey yang baru saja liburan.


Gimana apakah liburanmu menyenangkan?” sambut Gea saat melihat Queen masuk ke


dalam ruangan para dokter.


“Ya, begitulah. Ini untuk kamu.


Diaz mana?” Queen memberikan tas karton berisi oleh-oleh dari negeri spin atau singa putih untuk Gea. Ia juga membawa beberapa lagi unutk diberikan pada Diaz dan Hanifah, juga teman dokter yang lain.


“Dia nanti, dapat bagian praktik


malam.” Gea meraih tas karton itu dengan sangat antusias. Dari sorotan matanya,


sepertinya ia menyukai oleh-oleh yang dibawakan Queen olehnya.


“Wah, kau memberiku makanan khas


sana dan juga sari? Ah, keren bangt, bisa deh buat foto short ala-ala india


sama Juna,” timpal Gea. Queen hanya tersenyum saja mendapati ekspresi puas sahabatnya.


“Itu bagus banget, lo Ge. Aku


dapat rekomendasi dari sahabat Mamiku.”


“Oh, mamimu ada sahabat orang


India? Keren sekali,” timpal Gea.


“Ya, Cuma seorang saja. Dan dia


juga memiliki satu sahabat kayaknya. Ya sudah, lah. Ayo kita mulai bekerja.


Apakah tugasku tetap mengeceki semua pasian yang ada di bangsal?”


“Ya, dan kali ini kau di Bansal


angrek satu sampai sepuluh. Dan menangani beberapa pasien kusus di vip.


Queen menrima selembar kertas


dari Gea yang sebenarnya diperuntukkan untuknya. Ia membacanya, beberapa menit


kemudian, ia berkomentar. “Aku menangani pasien anak-anak saja, ini?”


“Ya, karena kau salah satu dokter


yang sangat menyukai anak-anak, dan juga yang disukai anak-anak,’' jawab Gea.


Wanita itu hanya tersenyum saja.


Kemudian meletakkan tas, mengambil stetoskop dan bersiap menemui salah satu perawat untuk menjadi asistennya mencatat laporan, atau hasil pemeriksaan.


Agar ia tahu, obat apa saja yang harus ia berikan pada masing-masing


pasiennya.


Sementara Gea. Ia bertugas di


poli umum untuk memeriksa para pasien yang datang untuk memeriksakan diri.


Queen pun mulai kekeliling masuk

__ADS_1


ke bangsal Angrek dulu, ia memulai dari angka satu. Satu bangsal yang berisi


lima pasien itu.


“Halo, Selamat pagi,” sapa Queen


pada seluruh penghuni bangsal angrek satu. Ia mendapati banyak orang di sana.


Bagaimana tidak. Satu pasien minimal ada dua orang yang menunggunya. Bahkan ada juga yang tengah menjenguk. Jadi, bangsal yang luas itu terasa penuh dan sesak.


Lain dengan kamar yang vip yang hanya seorang pasien saja. Tempatnya luas, juga


ada sofa di dalamnya.


“Bu dokter. Lihat itu, dokternya


cantik banget. Jangan nangis lagi, ya?” bujuk seorang ibu pada putranya berusia lima thaun yang menangis karena tidak betah di rumah sakit dan ingin segera pulang.


Kebetulan, ia berada di bagian


paling belakang. Queen bisa memulainya dari pasien itu, dan keluar, lanjut ke bangsal angrek dua.


“Halo, jagoan, ibu! Jangan nangis


lagi, ya? Coba sini ibu dokter periksa,” ucap Queen dengan sabar. Anak itu


awalnya kian menjerir saja karena takut di suntik.


“Gak mau disuntik bu dokter, Alif


takut… gak mau diperiksa, Alif takut disuntik,” rengek bocah itu yag terus


meronta dalam gendongan mamanya.


“Alif, sayang. Ibu dokter hanya


memeriksamu saja. Coba kau lihat! Ibu tidak membawa jarum suntik, artinya bu dokter tidak bisa menyuntik. Sekarang baringan, ya? Biar ibu mudah


memeriksanya.,” ucap Queen dengan lemah lembut. Memang butuh sedikit


perjuangan. Tapi, akhirnya bocah berusia lima tahun itu, yang susia dengan anaknya pun menurut juga.


Setelah memeriksa balita itu, ia


berbicara pada perawat yang membawa catatan, dan meminta menuliskan sesuatu


untuknya.


Lalu berpindah pada pasien


sebelahnya, dan ke bangsal lainnya. Sampai selsesai. Waktu periksa yang


harusnya cukup ia kerjakan satu jam saja, ia menyelesaikan lebih dari satu setengah jam. Dalam bekerja, ia memang tidak pernah terburu-buru. Kenyamanan dan kepuasan pasien, dan memberikan yang terbaik pada mereka adalah tujuan utamanya. Karena


ia memilih dokter sebagai profesi bukan untuk memperkaya diri. melainkan


benar-benar ingin mengapdi pada masarakat. Jika ia ingin memperkaya diri. jelas


ia kuliah ambil di jurusan bisnis dan bergabung di perusahaan keluarganya


bersama Al, yang kini sudah berubah jadi suaminya.


Setelah membaca laporan dan


menulis resep obat satu demi satu untuk tiap-tiap pasien, serta meniliskan nama si


pemilik obat dan dari bangsal mana saja. Setelah selesai, ia menelfon salah salah satu perawat dan memintanya untuk mengambil obat pada apoteker, dan mengantarkan pada para pasien. Sementara dia sendiri, kini menulis laporan dan menyimpannya ke dalam file computer.


Tanpa terasa, waktu sudah


menunjukkan pukul duabelas siang saja. Queen mengeliatkan tubuhnya di atas kursi. Kemudian, mengambil gawainya yang ada di dalam tas miliknya.


Wanita itu langsung


tersenyumketika membaca salah satu pesan dari seseorang yang sangat special dalam hidupnya.


“Sayang! Aku sudah berada di


depan rumah sakit untuk mengajakmu makan siang.”


Dengan sangat antusias, Queen


membalas chat tersebut, sekalian beranjak dan berpesan pada teman satu profesinya yang berada di ruangan tersebut agar petugas makanan tidak


Queen setengah berlari menuju ke


mobil Ferrari merah yang terparkir diluar pagar rumah sakit.


“Apakah kau sudah menungguku


lama, Tuan?’ tanya Queen sambil membungkukkan kepalanya mengintip ke dalam


jendela mobil tersebut.


“Lumayan, kurang lebih, limabelas


menit,” jawab pria itu, sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“Baiklah. Aku minta maaf. Karena


memang aku banyak tugas. Jadi, aku tlat melihat pesan darimu.” Wanita itu


membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Duduk di samping kemudi.


“Kamu mau makan apa?’' tanya Al


dengan nada tegas. Namun, lembut dan penuh dengan kasih sayang.


“Apa saja boleh lah. Aku makan


apa saja juga mau, kok. Asal jangan hati,” jawab Queen sambil tertawa.


“Hati ayam enak, tahu.”


“Hati yang lain, yang kumaksut,”


jawab Queen dan semuanya tertawa.


“Dasar, kau,” ucap Al dengan


gemas.


Akhirnya, mereka berdua pun


memutuskan memilih café milik om reza untuk dijadikan tempat pilihan makan siangnya. Selain sudah lama tidak ke sana, mereka ingin makan mie goreng yang jadi andalan di café tersebut.


“Nanti kamu jadi ke tempat


Nayla?” tanya Al membuka percakapan setelah keduanya sama-sama selesai makan.


“Jadi, dong. Aku dah ngabari dia


tadi,” jawab Queen sambil mengaduk-aduk minumannya.


“Memang nanti kamu pulang kerja


jam berapa?”


“Mungkin jam tiga sore. Kenapa?


Kau berubah pikiran, dan ingin ikut bersamaku, kah ke sana?” Queen menatap


lekat wajah pria yang duduk di hadapannya itu.


“Tidak. Agar aku bisa memprediksikan


kira-kira jam berapa aku menjemputmu di sana!” jawab Al.


“Ya mungkin aku di sana sekitar


satu jam, an. Dan pasti banyak pula yang akan kami bahas dan lakukan.”


“Bagaimana kalau aku sudah


mengirimimu pesan aku dah jemput, kau pamit padanya? Sepakat?”


“Baiklah! Kita sepakat.” Queen


melirik jam tangan di tangannya. Kemudian berkata, “ini sudah saatnya aku kembali ke rumah sakit. Ayo, antarkan aku,” ucapnya sambil tersenyum.


“Baik tuan putri.”


Mereka berdua pun beranjak pergi.

__ADS_1


Queen melambatkan berjalannya sambil menunggu Al yang tengah membayar di kasir.


“Ayo!” Al meraih pinggang


istrinya, memeluknya dan berjalan beriringan menuju ke tempat parkir.


***


Bel berbunyi sebanyak dua kali. Artinya, jam


istirahat pertama pun tiba. Anak-anak murid SMP 1 keluar berhambur. Ada yang


menuju kantin, perpus, dan sebagian juga duduk-duduk di teras untuk sekedar mengulang pelajaran yang baru saja guru berikan.


Tapi, ada juga, seorang murid


yang masih di kelas bersama seorang guru. Mereka berdialog melakukan percakapan


dalam Bahasa ingris. Sepertinya murid itu tegah berlatih jeras.


“Jam istirahat sudah berlalu


sejak sepuluh menit lalu. Kau beristirahat saja, Bilqis,” ucap guru tersebut. Yang masih muda, kira-kira usianya sekitar tiga puluh tahunan.


“Baik, Bu. Terimakasih sudah mau


mengajari saya secara pribadi,” jawab gadis itu. Sebenarnya ia masih ingin


belajar lagi. Tapi, kebetulan cacing di dalam pertunya jga tengah konser tiada henti. Atau mungkin bu guru yang mengajarinya mendengar itu, sehingga ia meminta


agar Bilqis untuk beristirahat saja. Sebab, di wajah bu Alfi, juga


nampak sekali kalau ia juga sangat bersemangat memberi pelajran pribadi pada


Bilqis. Karena anak itu selalu bersungguh-sungguh, serta mudah tanggap dan


cepat menangkap materi yang Ia sampaikan.


Bilqis pun beranjak ke bangkunya,


kebetulan ia berada di paling depan, tepat berhadapan dengan meja guru. Ia merapihkan alat tulis pada tepak, serta memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


Kemudian, ia keluar lebih dulu sebelum guru Bahasa ingris tersebut meninggalkan


kelas.


Di depan pintu, ternyata Tiara


sudah menunggunya.


“Bilqis, kamu kok lama banget?”


tanya gadis itu, dan memberikan segelas jus jambu pada Bilqis.


“Wow, kau sudah membelikan ini


untukku? Makasih, ya?” ucap Bilqis. Keduanya berjalan beriringan menuju ke kantin sekolahan.


“Oke, sama-sama.”


 Tidak seperti biasa, Bilqis kali ini


mempercepat langkahnya.


“Bilqis, kau ini kenapa, sih?


Tumben cepet banget jalannya kek dikejar setan?” protes Tiara sambil setengah berlari menguntit Bilqis dari belakang.


“Aku sudah sangat lapar, dan


takut bel masuk berbunyi sebelum aku menghabiskan makanannku,” jawab gadis itu dan kian tergesa-gesa.


Sesampai di dalam kantin, ia


langsung memesan bakso, dan menggambil beberapa gorengan untuk dimasukkan ke


dalam baso tersebut sgar kenyang. Pengennga sih mie ayam. Tapi, untuk memasak juga lama dan, antiran lumayan panjang. Jadi, dia mencari yang cepat saja.


“Kau suka, makan bala-bala dengan


baso, Bilqis?” tanya Tiara.


“Apa saja, yang penting kenyang


aku tuh,” jawab Bilqis tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk baso yang sudah oren warnanya karena sambal yang banyak.


“Kamu itu kek anak kurang makan,


ya? Sudah badan kurus. Apapun doyan. Padahal, soal lauk dan gizi mamamu termasuk sangat peduli, loh. Tapi, kau malah jajan sembarangan.”


“Yang penting kenyang di perut,


dan gak berat di kantong.”


“Pdahal mama kamu kaya, loh.”


“Kan yang kaya mamaku. Aku mah,


Cuma numpang hidup saja. Uang belum bisa cari sendiri.”


Tiara diam sesaat. Dia tidak


merasa tertampar oleh apa yang temannya katakana. Ia malah tersenyum.


“Bilqis, kau tahu, aku ini


sekolah biaya sendiri. Kalau kamu sebagai anak orang kaya bisa berfikir seperti itu, aku suka. Aku, mendekatimu awalnya berfikir kalau kita ini sama-sama bukan


anak orang kaya. Ternyata, mama kamu owner Mode cake yang terkenal itu, ya?”


Bilqis meletakkan sendok dan


garpunya, lalu menatap ke arah Tiara seperti tatapan tidak percaya saja.


“Kamu serius?” jelas saja gadis


itu tidak percaya. Sebab, Tiara termasuk anak yang royal, dan peralatan sekolah


yang ia miliki semua bermekr. Bahkan, jaket dan sepatu yang ia gunakan saja minimal seharga lima ratus ribuan. Mana mungkin? Apakah dia tengah bercanda?


“Tentu saja aku serius. Kenapa


harus bohong?” jawab gadis itu dengan mantap


Tiba-tiba saja Bilqis teringat


dengan kejadian semalam. Saat ia melihat Bilqis mencium pria itu. ‘Atau


jangan-jangan… ah, sudah Bilqis. Jangan berfikir buruk pada orang lain,’


batinnya.


“Lalu, orang tuamu?” tanya Bilqis


dengan ragu-ragu.


“Aku anak pertama dari dua


bersaudara. Ayahku sudah lama meninggalkan kami. Dia lebih memilih wanita lain.


Ah, ya sudah lah. Tidak penting. Sejak saat itu ibuku sakit-sakitan, dan aku


terpaksa mencari nafkah, sama uang untuk biaya Pendidikan adikku.”


Bilqis diam. Karena mamanya juga


mengalami nasib serupa. Papanya lebih memilih wanita lain, yang adalah adik angkat dari papanya. Tapi, bedanya, papa Al adalkah ayah tirinya. Perceraian ayah


tiri dan mamanya juga karena kesalahan mamanya sendiri.


“Kamu sabar, ya? Semoga ibu kamu


cepat sehat, dan kelak kau juga bisa menemukan pria yang benar-benar tulus mencintaimu


apa adanya.”


Tiara hanya tersenyum saja. Tapi,


dari raut wajahnya terlihat sekali kalau ia tengah bersedih. Tapi, apa? Biqis tidak berani bertanya. Bahkan pekerjaan apa yang dilakukan temannya ini Bilqis juga


tak berani bertanya. Ia takut kalau pertanyaannya menyinggung temannya. Dan, untuk meyakinkan tebakannya ia juga takut. Bukan takut salah. Tapi, takut kalau itu


benar.

__ADS_1


__ADS_2