
Dengan mata terpejam Rika memasukan benda berbentuk persegi panjang sebesar lidi itu ke dalam urinnya. Sampai hitungan yang sudah di tentukan, ia masih belum berani melihat hasilnya.
Semoga saja tidak apa-apa semoga saja semua baik baik saja, ucapnya dengan lirih.
Benar, kata-kata adalah doa, tapi, tidak semua doa dikabulkan juga, kan oleh Tuhan?
Badannya terasa lemas seolah seluruh tulangnya telah lolos, dengan gemetar Rika menarik benda itu. Tidak mempercayai hasil dan penglihatannya sendiri. Ada dua garis merah di bagian berwarna putih itu, yang menandakan Rika positif hamil.
"Tidak, ini tidak mungkin." Rika terjatuh kakinya terasa lemas tak mampu menopang berat badannya sendiri. Dia menangis sejadi-jadinya sambil bersandar pada dinding kamar mandi tepat di sebelah pintu.
Sampai akhirnya, dia berusaha menenangkan diri dan kembali ke kamarnya.
Sekitar pukul dua belas siang dinreatoran dekat kantor di mana Bram bekerja, Rika menemuinya dan menunjukan hasil tesnya.
"Mas, aku hamil." Tangan Rika gemetar saat menyodorkan benda berbentuk persegi panjang itu kepada pria di hadapannya.
Bram nampak diam, tapi, ada sirat bahagia di wajahnya. Hanya saja dia kurang mengekspresikannya.
"Jangan sedih, sayang. Kita akan segera menikah. Nanti Mas akan kerumahmu melamar kepada ibumu setekah ujian nasional kita menikah. Tidak apa-apa kan biar tidak mewah?"
"Iya, mas tidak apa-apa," jawab Rika dengan tangis tertahan.
Malam itu sekitar pukul tujuh malam, Bram menepati janjinya. Datang ke rumah Rika untuk menemui ibunya.
"Jadi begini, Bu. Kami sudah sama-sa suka sejal satu tahun yang lalu, saya kesini akan melar Rika dan menikahinya setelah dia lulus sekolah," ucap Bram kepada Ningsih.
Ningsih diam mengamati pria yang usianya sekitar empat puluh tahunan ini, sedangkan putrinya baru menginjak usia sembilan belas tahun.
"Memang, Bu. Usia kami terpaut jauh, tapi kami saling mencintai dan saya janji akan jaga Rika dengan baik," ucap Bram meyakinkan.
"Bagaimana denganmu, Rika?" tanya Ningsih mengalihkan pandangan pada putrinya.
"Jika itu yang terbaik kenapa tidak, Bu? Resiko kan jaman sekarang anak gadis jika keluar malam-malam. Jika aku jadi istri mas Bram, aku tidak perlu bekerja lagi, apalagi sampai larut. Rika cukup di rumah menemani Ibu, saja."
"Baiklah, Nak ibu merestui hubungan kalian. Menikahlah jika sudah jadi pilihan kalian, Ibu juga semakin tua tidak akam selamanya menjaga Rika."
Setelah dirasa cukup menyampaikan maksut kedatangannya, Bram pun memohon diri. Rika mengantarkannya dari depan pintu.
"Sudah, jangan stres atau banyak pikiran lagi, Sayang. Jaga dia baik-baik untuk Mas, ya?" ucap Bram sambil mengelus perut Rika.
"Iya, Mas. Hati-hati, ya?" Rika melambaikan tangan kepada Bram dan terus mengamati mobilnya bergerak sampai hilang dari pandangan. Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah.
"Rika, sini! Apakah kau sudah memikirkannya baik-baik segera menikah dengan pria yang jauh lebih dewasa? Dia umur berapa?" tanya Ningsih kepada putrinya.
"Usianya baru tigapuluh lima tahun, Bu. Cuma memang terlihat boros saja kaya empat puluhan," jawab Rika sambil tersenyum.
"Apakah dia belum menikah?"
Rika terhenyak mendapati pertanyaan ibunya. Namun, bibir ya masih bungkam.
"Maksut Ibu, apakah dia sudah pernah menikah?"
"Di... Dia, duda, Bu. Ya sudah. Ini sudah malam, Ibu istirahat, ya. Besok hari Senin, Rika dah UAN. Rika mau belajar dulu," ucap gadia itu seraya berdiri dan pergi ke kamarnya.
Sepuluh hari kemudian.
Bram benar-benar menepati janjinya. Tiga hari usai ujian nasional, ia menikahi Rika. Rika sangat bahagia, karena bayi yang ada dalam kandungannya akan memiliki sosok Ayah. Dan kelak mereka bisa hidup layak bersama.
Rika duduk di depan cermin kamarnya memperhatikan wajahnya yang nampak cantik dengan riasan pengantin. Semntara petugas WO tengah sibuk memasangkan sanggul di rambutnya.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum mengagumi pantulan dirinya di cermin. Bibir dengan polesan warna merah, bulu mata lentik sungguh perpaduan yang sangat sempurna.
"Nak, apakah kau sudah siap? Calon suamimu sudah siap, pak penghulu juga sudah hadir," ucap Ningsih dari balik pintu kamar Rika.
"Sebentar, Bu. Tinggal memasangkan bunga melati saja," jawab perias yang mendandani Rika.
Ningsih mengangguk sambil tersenyum. Bahagia dan haru menyelimuti hati seluruh para tamu undangan.
Rika duduk bersanding dengan Bram pria yang usianya enambelas tahun lebih tua darinya menghadap penghulu.
Air mata haru mengalir di sudut mata Ningsih dan beberapa ibu-ibu yang turut menghadiri acara ijab Qobul tersebut.
"Saudara Bram, apakah anda sudah siap?" tanya pak penghulu sambil menjabat tangan Br di atas meja yang sudah tersedia mas kawin dan dua buku surat nikah yang siap untuk ditandatangani.
"Sudah siap, Pak," Jawab Bram dengan tegas dan mantap.
"Baik, bisa dimulai sekarang ya, Ibu, Bapak para saksi. Saya Nikahkan dan kawinkan saudara Bram Satro Bin...."
"HENTIKAN!"
Kalimat yang diucapkan penghulu menggantuk tak terselesaikan, semua para tamu undangan dan saksi serentak menoleh keluar ke arah pintu.
Berdiri seorang wanita dengan menggandeng anak perempuan kira-kira usia tujuh tahun dan bayi di gendongannya, seperti ya juga baru usia dua bulanan an karena posisi menggendongnya masih berbaring.
Semua tamu terheran dan kaget. Kasak kusuk terdengar di mana-mana. Begitupun ibunya Rika tak kalah bingung dalam hati mempertanyakan siapa wanita itu.
Sementara Rika dan Bram nampak panik, gusar dan tidak tenang. Rasa malu, sudah pasti.
"Maaf, mbak. Anda siapa? Ada keperluan apa?" tanya pak RT pada wanita itu.
Tanpa menjawab Wanita itu berjalan mendekati Bram dan Rika duduk dengan ekspresi marah yang meluap-luap. Sementara wajah kedua mempelai itu nampak pucat dan berkeringat dingi.
"Jadi ini, Mas alasanmu kenapa setahun ini jarang pulang? Dan ini yang namanya miting di luar Negeri? Diam-diam menikahi pelacur muraham seperti ini?" teriak Nadia kalapa sambil menjambak keras sangul Rika dengan tangan kanannya. Hingga wanita itu terjengkang jatuh. Tak puas demgam itu Badia menginjak-injak kepala Rika. Tak peduli posisinya menggendong si kecil.
Sontak semua tamu undangan pada heboh dan melerai keduanya. Rika pun tidak ada persiapan. Pakaian ya sakral dengan rok batik span panjan membuatnya tidak dapat memberikan perlawanan hingga akirnya wajahnya banyak menerima cakaran Nadia dan pingsan.
"Harap tenang, Ibu. Semua bisa dibicarakan dulu baik-baik," ucap pak RT yang megangi Nadia.
Nadia napaanya semakin kencang karena emosinya yang tertahan air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
"Saudara, Bram. Anda mengaku lajang di sini, ini menunjukan anda melakukan poligami tanpa persetujuan istri pertama anda," ucap petugas KUA dengan tegas.
Sementra Bram masih diam. Nampak bingung dan tidak mempercayai apa yang terjadi.
Di belakang ibu Ningsih nampak shok. Air mata yang tadinya mengalir karena bahagia, kini berubah arti, malu, sedih terpukul bercampur aduk jadi satu.
"Kenapa kau diam saja, Mas? Jawab aku!" Bentak Nadia. Karena lelah bertanya tak kunjung mendapat jawaban dia menampar Bram berkali-kali di depan umum sambil menangis.
Sementara dua anaknya bawa keluar oleh salah satu tetangga Rika karena takut mempengaruhi psikologi si kakak sementara si adik menangia kejer.
"Jawab aku, Mas. Apa kamu sudah gak cinta lagi sama aku? Inikah balasanmu kepadaku setelah bertahun-tahun memperjuangkanmu agar diterima keluarga besarku sampai kau diangkat menjadi direktur diperusahaan papaku, ini, Mas? Penghianatan?" ucap Nadia nampak sedih dan hatinya perih.
"Maafkan aku, Nadia, terpakasa aku menikahi Rika karena dia tengah mengandung anakkuz" jawab Br berterus terang.
"Kenpa kau tega sama aku, Maaaas?" Nadia menangis semakin tersedu-sedu kakinya roboh tak mampu lagi berdiri.
Sedangkan Ningsih yang mendengar pernyataan pria yang hampir jadi menantunya pun sangat kaget. Mendadak pandangannya kabur putih dan semakin gelap dan ia pun ambruk tak sadarkan diri.
Rika yang sudah sadar, berlari ke arah ibunya sambil menangis. Ia tak peduli lagi dengan riasan yang berantakan serta sebagian kebaya yang sudah koyak dan sobek akibat dijahar Nadia.
__ADS_1
"Ibuuuu! kanapa, Ibu? Sadarlah, Bu," teriak Rika sambil nenagis berusaha menyadarkan sang Ibu.
Nadia menoleh ke arah Rika yang tengah berupaya keras menyadarkan sang ibu. Dia tersenyum getir dalam tangisnya.
"Kau lihat akibat dari perbuatanmu? Tidam hanya aku yang terluka. Wanita tua yang lemah tidak tahu apa-apa pun juga turut menderita karena malu. Malu gagal mendidik anak. Malu putri yang dibanggakannua tak lebih hina dari pelacur. Dia pelakor!" Seru Nadia.
Rika berusaha tidak menggubris ucapan Nadia. Dia hanya fokus pada ibunya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Nadia menggandeng tangan Bram membawanya berdiri di dekat Rika.
"Mas, kau bisa pilih sekarang. Menikai pelacur ini? Atau kembali padaku dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Tapi, perlu kau ingat. Kau menikahiku tak punya apa-apa. Jangan harapkan harta gono gini dari perceraian ini. Serta kursi direktur yang kau miliki bukan hasil jerih payahmu. Tapi papa memberikanmu secara cuma-cuma demi aku," ucap Nadia sambil menunduk.
"Iya, sayang. Maafkan aku, ya? Sudah khilaf dan mendustaimu selama ini?" ucap Bram sambil menciumi kedua tangan Nadia.
"Baik, katakan pada wanita ini kalau kau tak peduli lagi dengannya. Dan ayo kita pulang!" Seru Nadia tegas. Namun, masih terisak.
"Rika, maafkan aku tidak bisa menikahimu. Mulai sekarang jangan mencariku lagi. Jangan ganggu keluargaku," ucap Bram dengan berat lalu pergu bersama kedua anak dan istrinya.
Semua tamu undangan sudah pergi, termasuk pak penghulu dan petugas KUA. Karena Ningsih belum juga siuman Rika membawanya ke rumah sakit. Saat perjalanan di dalam ambulance Ningsih sempat sadar. Dengan terbata-bata dia berkata pada anaknya.
"Ibu tidak mendidikmu untuk seperti ini, ibu tidak menyangka putri yang ibu besarkan dan kubanggakan malah hamil di luar nika dengan suami orang."
"Maafkan Rika, Bu. Rika sudah tidak akan pernah menemui mas Bram lagi, sekarang," ucap Rika sambil menangis tersedu-sedu.
"Kemarin kau bilang dia duda. Sedang petugas KUA bilang di sana mengaku lajang. Apa kau tahu kalau dia sebenarnya sudah berkeluarga?"
"Maafin Rika, Buuuuu. Rika terpaksa agar bisa membiayai sekolah dan hidup kita, Bu."
"Kau tahu? Cara itu salah?" Kata-kata Ningsih semakin berat napasnya pun juga menjadi sesak. Seaat kemudian dia tak sadarkan diri.
Rika semakin panik dari sebelum ya rasa teramat takut merasuki ke hatinya membuat dia berteriak kepada sopir ambulance agar lebih cepat.
Tiba di rumah sakit, dengan segera tim dokter dan beberapa perawat melarikan Ningsih ke dalam IGD. Namun, hanya beberapa menit dokter keluar menemui Rika mengabarkan berita duka.
"Maaf, Mbak. Pasien sudah meninggal di perjalanan. Menurut hasil pemeriksaan kami, pasien mengalami serangan jantung dadakan dan tensi yang secara drastis naik."
"Apa, Dok? Ibu saya pergi, Dok? Huhuhu Ibuuuu jangan tinggalin Rika, Bu. Rika tidak punya siapa-siapa lagi selain, Ibu..." Gadis itu terjatuh terus menangisi kepergian ibunya yang sangat mendadak akibat kebodohannya sendiri.
Dengan menggunakan sisa tabungan hasil dari uang yang selalu dikirmkan Bram, dan juga uang mahar serta satu set perhiasan Rika mengurus pemakaman ibunya dan menggunakan untuk biaya hidupnya. Sampai bayi yang dikandungnya lahir.
Keuangan semkain menipis, membuat ia terpaksa harus bekerja untuk menyambung hidup, hanya saja pikiran wanita muda itu bingung, kerja apa? Jika pun kembali kerja ke club malam tidak mungkin dia membawa bayi. Untuk menitipkan tidak satupun warga yang mau lagi dengannya. Akhirnya. Merasa tidak ada jalan lagi dengan sangat terpaksa Rika membuang bayi laki-lakinya.
Sebelum subuh Rika keluar dengan bayi digendongannya, "Nak, maafkan ibu, ya? Ibu sebenarnya tidak tega. Tapi, ibu terpaksa demi kehidupanmu yang lebih baik." Berkali-kali Rika menciumi putranya sambil beruraian air mata.
Di bukanya bedongan sekali lagi pastikan tanda lahir di leher putranya, "Kelak Ibu akan mengenalimu dengan tanda ini, sayang. Selamat tinggal." Tangis Rika semakin menghebat kala meletakan bayi yang tak berdosa itu di teras rumah salah satu orang. Dia pergi berlari sambil terus menangis sejadi-jadinya setelah mengetok pintu rumah itu. Dan mendengar sahutan dari dalam rumah.
🌸 🌸 🌸 🌸
Tangis Clara pun pecah, bukan karena mendengar kisa Rika, melainkan ketakutannya kehilangan Al yang sudah diterima baik oleh keluarganya. Dan dia beserta suaminya juga telah melupakan kalau Al adalah sosok anak angkat.
Dengan membuang rasa malunya Clara bersujud di bawah kaki Rika sambil menangis sejadi-jadinya.
"Buuu, tolong jangan ambil Al dariku. Jangan pisahkan aku dari dia, Bu... Dia itu putraku, kakaknya Quen. Bagaimana kalau sampai Quen mengetahui hal ini pasti akan sangat sedih, Dia, Bu..."
merasa sudah lewat tiga puluh menit Clara dan Rika di belakang, Andreas meminta Vano memanggil mereka untuk meneruskan acara atau amakan siang dulu. Dan entah apa yang menggerakan kaki Al tiba-tiba saja ia mengekor di belakang papanya ikut serta kebelakang.
Di sana dia pria itu melihat Clara menangis sambil bersujud di bawaj kaki Rika. Jelas, ada yang tidak bieres.
"Mama!" Al lebih cepat menhampiri Clara ketimbang Vano. Dia membantu mamanya berdiri dan memeluknya.
__ADS_1
"Mama, ada apa, Ma?" tanya Al panik dan memasang pandangan tidak enak terhadap Rika. Karena jelas dia yang membuat Clara menangis.