
Maaf, kemarin saya lupa akibat baper ikut mewek bagian Adriel melihat mamanya meninggal dan bertanya pada Sherly. Sampai-sampai di episode kemarin gak ngasih TAMAT di session 3 ya? oke. Karena ini sudah mulai anak-anaknya Queen, jadi ini anggap saja season 4, ya? sesuai permintaan kalian, Bilqis masih akan berperan di sini. Mungkin juga Sherly akan
ikut nimbrung.
🌻🌻🌻
SEASON 4
💖 WILL DIE💖
EPISODE 1
PROLOG.
Banyak yang berkata, cinta itu benar dan tak pernah salah. Makanya, siapapun tidak boleh menyalahkan cinta. Lalu, siapa yang salah? Banyak cinta yang membawa suka. Tapi, tidak sedikit pula cinta yang membawa duka sampai pada gerbang kematian.
✨✨✨✨✨✨
Tanpa terasa, empat tahun sudah Adriel dan Axel hidup tanpa
memiliki satu pun orang tua. Menjadi seorang yatim piatu memanglah tidak mudah. Tapi, semua bisa mereka lalui dan mereka jalani tanpa beban seperti yang orang lain pikirkan. Itu berkat kedua
om dan kedua tantenya. Mereka sangat baik dan layak jika disebut orang tua pengganti. Adriel juga kini sudah tidak lagi jadi sosok pemurung. Walau, hanya
bersama Berlyn saja ia dapatkan keceriaan. Sama halnya dengan Axel yang sangat sayang pada Berlyn.
Kini Axel sudah kuliah di smester akhir dan bahkan tinggal
nunggu wisuda saja. Sedangkan Bilqis, ia sudah duduk di kelas tiga SMA, Berlyn
kelas tiga SD dan Adriel kelas empat SD. Sementara Clarissa… dia sudah berada
di Jepang. Mungkin tahun depan dia juga akan wisuda S1 nya. Di usianya yang baru sepuluh tahun, ia sudah berani mengambil alih perusahaan papanya yang
berada di Jepang. Walaupun ia jarang menunjukkan dirinya di depan karyawannya.
Tapi, sepenuhnya kepemimpinan adalah dia. Dari nama CEO juga sudah menggunakan Namanya.
Clarissa, dengan nama samara Jennie.
Karena tidak ada kegiatan, Axel bersama Bilqis mengajak
jalan Adriel dan Berlyn ke time zone. Mereka asik bermain wahana permainan yang
ada di sana.
“Kak, adu lempar bola basket, yuk!” ajak Bilqis pada Axel.
“Kau main saja sendiri, ya?” ucap Axel. Sekalipun dengan
lembut dan tak nampak jutek, bahkan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman,
tetap saja. Ini adalah sebuah penolakan, entah sudah yang keberapa ribu kali. Bilqis
eneg menghitungnya. Karena, hampir tidak ada satupun ajakan dan permintaannya
yang diterima oleh pria yang sejak lima tahun lalu ia sukai. Mungkin juga Axel lah cinta pertama gadis itu.
Bilqis tersenyum, mencoba agar tetap terlihat baik-baik saja
walau mungkin tidak dengan hatinya. Ia menoleh ke belakang. Matanya mengikuti
ke mana Axel pergi. Ia menghampiri Berlyn yang tidak mood bermain apa-apa. Ia
ajak memancing boneka. Terlihat sekali dari raut pria berusia duapuluh tiga
tahun itu kalau sangat serius dan penuh usaha keras untuk mendapatkan yang terbaik,
dan… benar saja, sebuah boneka beruang berukuran besar, sebesar gallon air
mineral berhasil Axel dapatkan. Diambilnya beruang warna pink dengan pita di
dadanya itu, dan dengan suka cita diberikannya pada Berlyn. Gadis yang baru
berusia sepuluh tahun itu, yang lebih layak menjadi adiknya. Tapi, Bilqis merasa kalau ia
perlakukan seperti pacarnya saja oleh Axel. Bilqis tidak buta, dia sudah berusia hampir
sembilan belas tahun. Bisa lah membedakan antara sayang pada adik dan sayang
yang cinta itu seperti apa.
“Ini, kak Axel berikan pada Berlyn yang cantik. Kamu, mau?”
ucap pria itu sambil menyodorkan boneka tersebut.
Sementara gadis berusia sepuluh tahun tersebut dengan suka
cita hendak meraih boneka itu. tapi, dengan cepat Axel menaikkan bonek
tersebut. Jelas saja, Berlyn tidak bisa meraihnya, karena tubuh Axel memang sangat tinggi. Sekalipun ia sudah berusaha melompat beberapa kali. Tetap saja, usahanya tidak lah membuahkan hasil.
“Berlyn mau? Iya?” tanya Axel setengah menggoda, membuat
Bilqis tersenyum meilhat dalam lamunan saat melihat tingkahnya.
Sedagkan Berlyn hanya mengangguk dan terus memberi isyarat
agar pria jangkung itu segera memberikan boneka tersebut kepadanya.
“Serius, mau?” goda Axel lagi, sambil sedikit mencondongkan
tubuhnya ke depan, dan meletakkan boneka beruang warna pink tersebut di
belakang punggungnya.
“Ya… yaaa,” seru Berlyn dengan ceria. Sangat nampak jelas
dari sorot matanya yang berbinar.
“Cium pipi kak Axel dulu, jika kau mau,” ucap Axel.
Tanpa pikir panjang bocah polos itu langsung mencium pipi
kiri Axel, dan kembali berusaha meraih boneka tersebut. Tapi, lagi-lagi gagal. Seolah dengan sengaja Axel
emmang berniat ingin sedikit mempermainkan gadis kecil tersebut.
“Sebelahnya saja belom, berat sebelah dong, nanti. Ayo, cium
lagi.” Axel nampak menyodorkan pipisebelahnya lagi sambil tersenyum. Kemudian
ia memberikan boneka tersebut pada Berlyn.
Sementara Bilqis hanya tersenyum seorang diri. ia
membayangkan, jika saja Axel bertingkah seperti itu padanya, bukan pada bocah
berusia sepuluh tahun yang masih sangat polos. Tapi, saat ia sadar itu hanyalah
sebuah khayalan, senyumannya berubah jadi sebuah senyuman kecut.
Bilqis menghampiri Axel yang kini tinggal seorang diri.
Berlyn sudah berlari meninggalkan pria tampan bermata biru itu setelah apa yang
__ADS_1
dia mau sudah ia dapatkan. Sementara Axel, hanya tersenyum seorang diri, terlihat sekali dari raut wajahnya yang tak bisa di sembunyikan, kalau ia nampak gemas dengan tingkah bocah itu.
“Kak Axel, sendirian saja?” sapa Bilqis sambil duduk di
sebelahnya, ia menyodorkan sebotol softdrink yang memang sengaja ia bawa dari
rumah Berlyn sebelum mereka berempat tadi berangkat.
“Thank’s,” jawab pria itu dengan dingin tanpa melihat ke arah Bilqis yang memberikan minuman. Ia malah lebih tertarik melihat pasa Berlyn yang tengah bermain dengan Adriel adiknya.
“Melihat mereka sangat akrab begitu, tidak mungkin rasanya
jika kelak keduanya akan saling jatuh cinta di masa mendatang kelak, saat
mereka remaja,” ucap Bilqis, kemudian melirik ke samping, mengamati bagaimana
ekspresi Axel.
“Ya, kita lihat saja. Kita dari kecil akrab tapi tetap biasa
saja? Adriel anggap Berlyn itu sebagai adik, sama halnya kek aku ke kamu,” ucap
Axel sambil tersebyum tipis dan mengacak rambut Bilqis lalu pergi mencari
permainan baru.
Sedangkan Bilqis hanya mematung mengamati Axel yang pergi
meninggalkan dirinya. Ia bergumam seorang diri sambil tertawa, menertawakan
dirinya sendiri yang bodoh karena dibutakan oleh cinta pada pria yang tidak pernah menaruh hati sedikitpun padanya.
“Yang benar saja, aku hanya kau anggap adik? Apakah kakak
pada adiknya jutek? Lalu, kau anggap apa Berlyn, kak? Dia yang pantas kau jaga
selayaknya seorang kakak menjaga adiknya. Tapi, nampaknya perlakuanmu seperti
tengah menjaga seorang yang paling berharga saja dalam hidupmu. Apakah kau
diam-diam menyukainya? Lihatlah, jarak usia kalian sangat jauh, kau hampir duapuluh
tiga tahun, kau dan aku, hanya selisih empat tahun saja denganmu,” guamam Bilqis seorang
diri dan tersenyum kecut.
Tak mau hanya diam mematungmenyaksikan mereka bertiga, ia
kembali ikut nimbrung. Bermain bersama, dan mengajak mereka untuk makan siang.
“Adriel, Berlyn, kalian sudah lapar apa belum? Udah jam
setengah satu siang, nih?” ucap Bilqis dengan penuh perhatian.
“Iya, Kak. Aku sudah lapar,” jawab Adriel. Dengan girang bocah
berusia sebelas tahun itu menggandeng tangan Berlyn mengajaknya ke food court
yang letaknya tidak jauh dari time zone.
Berlyn yang nampak masih
asik bermain nampak sedikit keberatan saat Adriel main geret aja. Tapi, ia
hanya diam saja. Lain halnya dengan Axel yang terus memperhatikan gadis kecil
yang cantik nan anggun itu. ia tahu apa yang dikeluhkannya dari adik kandung
semata wayangnya itu.
“Adriel, kamu jangan kasar-kasar gitu sama anak perempuan,
“Aku sudah lapar, Kak.”
“Kau ikut kak Bilqis. Pesan makan siangmu di food court, oke?
Kakak akan temani Berlyn,” ucap Axel dengan lembut. Kemudian pria yang
sudah bukan lagi anak-anak itu
berjongkok, bertanya pada gadis kecil di hadapannya sambil memeluk boneka.
“Berlyn masih mau main?”
Gadis itu mengangguk pelan. Memalingkan wajah menghindari kontak
mata dengan Axel.
“Kakak janji, akan akan temani kamu setelah makan siang. ini
sudah setengah satu. Jangan telat makan, oke?” bujuk Axel.
Gadis itu pun tersenyum dan mengangguk pelan, memegang
tangan Axel dan mengandeng pria yang mungkin lebih cocok menjadi omnya.
Usai makan siang Bilqis dan Adriel kembali lebih dulu. Karena
jam dua nanti Adriel ada les privat di rumah, dan Bilqis yanga akan
menemaninya, sebenarnya mereka berempat ingin pulang bareng. Tapi, Axel sudah
terlanjur janji akan menemani Berlyn bermain setelah makan.
“Bilqis. Jangan naik taxi online. Om Dedi akan segera kemari
jemput kalian berdua. Tunggu saja,” ucaap Axel pada gadis remaja yang beridiri
di sebalahnya.
“Baik, Kak. Apakah kakak masih lama di sini?”
“Tidak tahu, mungkin setelah ini. Tidak lama lagi. Tapi,
jika kalian tidak pulang duluan aku juga takut nanti Adriel telat.”
“Ya sudah, ini om Dedi sudah menghubungiku, Kak. Aku sama
Adriel duluan, ya?” pamit Bilqis lalu ia mengajak Adriel keluar. Menunggu di
depan pintu keluar. Sebuah mobil rush warna hitam sudah berhenti di tepi jalan.
Bilqis menggandeng tangan Adriel dan mengajaknya masuk.
Sedangkan Axel dan Berlyn masih sangat menikmati bermain di
time zonee sampai pukul dua lewaat lima belas menit Axel mengajak Berlyn
pulang. Gadis itu tidak berusaha menolak atau pun mengulur waktu sedikitpun. Karena,
sebelumnya Axel sudah meminta agar ia berjanji kalau jam dua sudah harus
pulang. Paling telat jam dua lewat lima belas menit, dan Axel, baru mengajak
Berlyn untuk kembali juga pukul 14,15 WIB. Ia paling mengerti bagaimana cara
__ADS_1
memperlakukan gadis tersebut.
Tiba di rumah, ternyata tante Queen sudah berada di rumah,
sepertinya ia juga baru saja tiba dari klinik, dan Adriel sendiri masih
melanjutkan belajar dengan guru les privatnya.
“Kalian baru tiba?” sapa Queen pada Axel dan Berlyn.
Melihat mamanya sudah berada di rumah, dengan girang gadis
kecil itu berlari memeluk mamanya dan memamerkan dua boneka berwarna tua muda dan pink itu pada Queen.
“Kau dapat bonek? Siapa yang mendapatkannya?” tanya Queen sambil
menatap putrinya.
Dengan girang Berlyn tersenyum dan menunjuk ke arah Axel
yang juga membawa sebuah boneka berwana cream dengan ukuran yang sama.
“Wah, hebat kak Axel, ya? bisa dapatin tiga boneka,” puji
Queen.
Sementara Axel hanya diam dan sedikit menyunggingkan
senyuman saja.
“Di mana Bilqis, Tante?” tanya Axel dengan nada khasnya yang
dingin dan cool.
“Dia berada di halaman belakang mengerjakan tugas,” jawab Queen.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Axel langsung berjalan menuju
halaman belakang sambil membawa boneka warna cream di tangannya.
Melihat itu, Queen hanya tersenyum sendiri saja.
“Ini buat kamu,” ucap Axel dengan jutek dan dingin seraya
menyodorkan boneka beruang warna cream atau coklat muda itu pada Bilqis yang
ternayata mengerjakan tugasnya tidak sendirian. Tapi bersama Tiara.
Axel emamng sangat jengah dengan gadis bernama Tiara itu. baru kelas tiga SMA saja, dandanannya sudah kaya tante-tante, terlalu menor dan glamor. Untung saja,
pakaian anak sekolah itu adalah seragam. Jika saja tidak, pasti semua juga
tahu, identitas pekerjaannya sebagai wanita panggilan dari cara dia berpakaian.
“Kau juga mendapatkannya untukku, Kak? Termikasih, Ya?” ucap
Bilqis saking senangnya ia malah lepas kendali, berjinjit dan sedikit melompat
memberi sebuah ciuman di pipi Axel.
Sebenarnya Axel ingin protes, kalau ia tidak perlu melakukan
itu. tapi, ia melihat kebahagiaan yang tiada tara dari binar pancaran dua bola
mata gadis tersebut. Jadi, ia diam saja. Terlebih ada Tiara di sana juga
melihat. Ia tidak mau membuat gadis yang ia anggap sebagai adiknya sejak kecil
itu merasa malu di hadapan temannya sendiri. Makanya, ia memilih untuk tetap diam.
“Ya sudah, lanjutkan belajarnya,” ucap Axel. Wajahnya mendadak
langsung memerah seperti kepiting rebus.
“Ya, aku akan belajar.” Bilqis tersenyum pada Axel dan
merangkul erat boneka yang baru saja pria itu berikan.
“Eh, elu jadian sama kak Axel?” ucap Tiara tidak sabar
sambil memukul punggung Bilqis dari belakang.
“Eh, apa, ya? Tidak lah. Mana mungkin?” ucap Bilqis sedikit
tergagap. Walaupun ia berharap-nya begitu, dia juga tidak mungkin mengarang cerita
pada sahabatnya, juga bukan? Toh Axel juga mau saja baik sama Bilqis, asal dia
nurut sebagai adik dan tidak lebih. Sudah berkali-kali pria itu mengatakan hal
itu sampai Bilqis akhirnya menyerah juga. sebab, baginya begini juga lebih baik, asal
bisa tetap dekat Axel. Tak perlu pedulikan status hubungan. Dari pada ia memaksakan egonya sendiri, untuk memiliki hubungan lebih dari kakak beradik, tapi akhirnya mereka malah tidak lagi bisa dekat. Tetap Bilqis yang merasa rindu dan sakit. Sebab ia sadar kalau cinta tak harus memiliki.
“Dia memberimu sebuah boneka. Lalu, kau mencium pipinya dan
dia diam saja? Hello… kau ini bukan Berlyn, anak berusia sepuluh tahun. Kelakuan adek pada kakak tidak begitu juga, kali?” ucap Tiara.
Bilqis diam sesaat. Ia baru sadar apa yang baru saja
dilakukannya. ‘Astaga… tadi aku mencium kak Axel dan dia diam saja? Duh, dia
marah gak ya ma aku? Lagian, kenapa juga gua kek gitu. Benar kata Tiara, aku
bukan anak usia sepuluh tahun yang bisa dengan bebas minta peluk dan cium dari
seorang pria dewasa berusia duapuluh tiga tahun. Ya Tuhaaan. Giaman kalau kak
Axel sampai marah nanti? Keluh Bilqis dalam hati.
“Tidak ada, kak Axel itu juga sama, menganggap akau seperti
adiknya sendiri. Antara aku dan Berlyn gak ada bedanya,” jawab Bilqis menunduk
malu atas kelakuannya sendiri yang terkesan los control dan tak terkendali.
“Ya, itu itu kan yang dia katakana padamu. Tapi hatinya apakah
kau yakin juga demikian? Menganggap kau adiknya seperti yang kau katakana barusan?
Jika memang, iya. Dia pasti akan menegurmu, Bilqis.”
Bilqis diam merenung. Hampir saja ia terpengaruh dengan apa
yang Tiara katakana dan menganggap kalau Axel diam-diam Axel menyukainya. Tapi,
malu mengungkapkannya. Ia juga mulai berfikir benar jika Axel menganggap ia dan
Berlyn sama-sama sebagai adiknya. Mungkin wajar di mata orang lain Axel mencium
Berlyn karena masih kecil. Dia sendiri menganggap itu lain apa karena dia juga
suka pada Axel? Berpendapat lain karena ia merasa cemburu dan ingin mendapat perlakuan seperti itu.
“Sudahlah! Ayo kita belajar. Kapan selesainya PR kita kalau
__ADS_1
begini terus,” ucap Bilqis. Kembali duduk di atas karpet yang ia gelar, dan meletakkan boneka pemberian Axel tadi di sebelahnya, kemudian ia
mulai mengerjakan PR-nya bersama Tiara.