Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 195


__ADS_3

Tiba di kediaman lamanya dulu dengan mantan suami , Novi dan


Axel sudah di sambut ipar dan mertuanya. Mereka memeluk Novita dan Axel satu


persatu secara bergantian. Livia menatap heran ke arah tybyuh Novi yang terlihat


jauh lebih berisi dari sebelumnya, saat terakhir kali ketemu waktu mengantarnya Bandung


beberapa bulan silam.


“Novi, kamu kok gemukan, ya? Apakah di sana sedang musim


dingin, kau banyak makan dan jarang bergerak?” tanya Livia setelah memeluk


menantu dari mendiang putranya itu.


Novita tidak menjawab, ia bingung harus berkata apa, juga


malu karena tidak mendengarkan nasehat mertuanya dulu. Tapi, nasi telah menjadi


bubur, semua telah terlanjur, mau gimana lagi? Udah terlanjur ya jalani saja,


sekalipun tanpa ayah, bayi itu pun juga bukan dari hasil hubungan gelap, kan?


“Mama itu hamil adiknya Axel, Nenek, lihat saja dia! Gendut,


kan? Hahaha,” ucap bocah itu dengan polos dan menunjukan deretan gigi


kecil-kecilnya yang rapi saat tertawa lebar.


“Apa? Beneran kamu hamil, Nov? Apa waktu itu kamu tidak


suntik KB?” tanya Livia, kaget, tapi juga tidak sedih, semacam ada kesenangan


tersendiri di hatinya, ia yang sudah tak lagi memiliki cucu bayi, sebentar lagi


akan kembali menimangnya lagi.


“Maafin Novi, Ma,” jawab wanita itu dengan manja. Sedangkan


di luar, Alex, bersama Doni tengah mengobrol.


Setelah menjelaskan dan menceritakan semuanya, Livia


memutuskan untuk kembali menetap di Jakarta menemani Novi, dan ikut membantu


menjaga Axel juga adiknya jika sudah lahir kelak. Awalnya Novita pun menolak,


karena bagaimana pun sebelum Aditya meninggal, mereka berdua sudah cerai secara


hukum terlebih dahulu, hanya saja, kedua mertua dan iparnya tetap meminta dia


dan Axel untuk tetap menempati rumah itu selama dia belum menikah lagi,


bagaimana pun bayi yang ad dalam kandungannya juga cucu dan keponakan kandung


mereka. Padahal sebelum ia kembali ke Indo, Alex sudah meminta agar kakaknya tinggal bersamanya saja. meskipun ada


Malam itu, di meja makan, hanya ada kakek Andrean bersama


cucu perempuannya saja, Nayla berada di kamar dengan Bilqis, dan mungkin juga


makan malamnya  belakangan, dia terlalu


malu untuk menunjukkan muka di depan kakek Andrean. Tapi, masih saja berlagak


di depan Queen. Sedangkan Al, entah kemana, setelah di dorong keras oleh Queen


dari dalam kamarnya ia pergi keluar dengan mengendarai mobilnya.


“Kakek, Diaz bilang dia dan keluarganya mau ke sini untuk


melamarku, kira-kira kapan kita bisanya?” ucap Queen memulai pembicaraan.


“Apa kamu sudah siap?”


“Tentu saja, Kek. Dari pada gini terus, yang ada kita cuma kesalah


pahaman saja.”


Andrean diam, ia berusaha berfikir, lalu kemudian, ia


berusul, “Bagaimana jika minggu depan?”


“Minggu depan, kek?” tanya Queen seolah tidak percaya.


“Iya, terlalu cepat, atau tidak?’’


“Iya, deh, Kek.., Iya. Terimakasih ya kek.” Wanita itu pun


bangkit dan memeluk sang kakek.


“Ya sudah ini kan sudah malam, katanya besok kamu ada


praktek ke rumah sakit, barengan sama kakek ya? Kakek juga ingin menjenguk papa


dan mama kalian,”


“Baik, Kek. Klau gitu aku ke kamar dulu, ya?” Queen pun


mencium kedua pipi kakeknya lalu pergi ke kamarnya.


Andrean mengamati Queen sampai dia benar-bemnar masuk ke


dalam kamarnya, begitu pria tua itu sudah mendengar pintu yang ditutup dengan


suara sedikit keras, memang sudah jadi ciri khasnya dia, persis Clara walau tak


separah mamanya.


Andrean melajukan kursi rodanya ke halaman depan,


sesampainya di sana, ia berusaha menghubungai Al dan memintanya untuk segra


pulang.


“Halo, Kek. Ada apa?” jawab Al, setelah mengankat


panggilannya dengan diiringi suara music yang bising di sekitarnya.


“Kamu ada di mana? Segeralah pulang!”


“Ada apa sih kek? Ini masih sama Vico,” jawab pria itu,


sedikit gugup.


“Ya, kau boleh saja sekarang bersama Vico. Tapi, kalian


berdua berada di tempat Martin, bukan? Cepat pulang atau kakek akan susul kau


ke sana!”


“Baik, Kek. Baiklah. Aku akan segera kembali.”


Andrean tertawa tertahan melihat tingkah Al yang masih saja


tidak berubah, masih suka membangkang, tapi juga patuh, ah entah lah bagaimana


dia itu, sulit dimengerti.


Dalam hati, Al mengumpat kesal jika harus di suruh pulang


sebeelum dia puas, lagian ini juga bru jam delapan kurang, pasti dia akan


ditertawakan kawan-kawannya jam segini harus balik kandang, biasanya saja


paling awal juga jam dua belas malam. Tapi, pria itu juga bersukur, setidaknya


dia masih belum terlalu mabuk, meskipun mulut dan tubuhnya sudah bau miras.


Pria itu melihat sekeliling, begitu sudah menemukan orang


yang ia cari, dengan segera ia menghampirinya dan merangkul pundaknya dari


belakang, “Eh, Vic, ikut gua, yuk!”


“Hah, kemana?” tanya Vico, sedikit kesal. Sebab, ia lagi


asik dan bersenang-senang dengan banyak wanita sexy.


“Ada misi, nih!” jawab Al dengan tampang yang dibuat


seserius mungkin.


“Apa lagi? Tidak bisakah menungguku tiga puluh menit saja


aku masih ingin bermaain dengan…”


“Tiga puluh menit apaan? Ini sudah sangat mendesak. Jangan


terlalu doyan dengan yang seperti itu, kena sipilis tahu rasa kau.” Tanpa


mendengarkan lagi, Al langsung saja menyeret sahabatnya itu dan mebawanya ke


dalam mobilnya.


“Al, kamu mau bawa aku kemana sih?” tanya Vico oenasaran.


“sudah jangan banyak bicara, yang jelas aku lagi butuh


kamu.” Al terus fokus mengemudi, ia sengaja melajukan kendaraanya dengan


kencang supaya bisa segera sampai.


Perjalannan yang biasa di tempuh selama empat puluh lima


menit dari kyagfe Martin ke rumahnya hanya bisa di tempuh selama dua puluh


menitan saja oleh Al. Begitulah dia, kalau sedang mengemudikan kendaraan, tak


punya rasa takut seperti memiliki cadangan nyawa saja.


“Kamu cuma pulang saja kenapa harus mengajakku sih  Al?” keluh Vico, dengan kesal ia pun turun


dari mobil ferarry merah itu dengan langkah yang sangat dipaksakan.


“Habis, kalau bukan urusan bisnis yang dijadikan alasan,


teman-teman ngiranya aku ngandang lagi. Biasa… pria yang sudah menikah dan gak


doyan jajan.” Al oun merangkul pundak Vico lagi, dan mengajaknya berjalan


beriringan, sebenarnya Al pun juga sudah mulai terpengaruh minuman, jadi,


membawa Vico sekalian jadi tameng agar marahnya kakek sedikit dikurangi, karena


Al sedang bersama temannya.


Al menarik gagang pintu, mengira sudah terkunci, ternyata


belum. Awalnya ia merasa heran, sebab sudah malam tapi pintu utama dibiarkan


tak terkunci. Al mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sampai


lantai atas, semuanya sepi.


“Eheem!”


Tapi, ia dan Vico tidak sadar jika ada seseorang yang tengah


duduk di ruang tamu yang menunggu kedatangannya.


“Eh, Kakek, kok belum tidur, Kek?” tanya Al sedikit


berbasa-basi sambil nyengir, karena merasa takut dimarahin.


“Mana mungkin kakek bisa tidur? Kan ada yang mau kakek bahas


sama kamu, Al,” jawab Andrean dengan santai.


“Sama aku, Kek? Apa kek? Perusahaan baik-baik saja kok,


besok Al juga akan mulai bekerja kembali,” jawab pria itu, merasa panik


seperti anak kecil yang ketakutan akan dimarahi mamanya karena menumpahkan satu

__ADS_1


toples gula saja.


“Bukan soal pekerjaan, Al. Melainkan tentang Queen dan Diaz.


Menurutmu bagaimana?”


“Bagaimana apanya, Kek?” jawab Al, masih bisa berekspresi


tenang.


“Minggu depan mereka akan tunangan. Kamu bantu mempersiapkan


acara adikmu, ya? Kakek sudah tua, dan lagi juga tidak bisa berjalan. Mana


mungkin, kan?”


Seketika itu juga raut wajah Al langsung berubah. Untuk


mengalihkan topik, ia melihat ke arah Vico yang duduk di sebelahnya. Lalu


berkata, “Kau, kalau mau pulang atau balik ke tempatnya Martin pergi saja sana!


Aku capek besok harus kembali ke kantor.” Dengam raut wajah suram Al pun pergi


meninggalkan kakek dan temannya di ruang tamu, ia masuk ke salah satu kamar


yang disediakan untuk tamu dan membanting pintunya dengan keras.


Vico diam sesaat, tak berani berbuat apapu tapi, perutnya


terlalu mulas jika ia terus diam. Jadi, ia pun akhirnya terkikik pula di depan


kakek Andrean yang ia segani.


Kakek Andrean pun juga Nampak tersenyum dan bertanya dengan


nada lembut yang sudah jadi ciri khasnya, “Kena tertawa Nak Vico?”


“Maaf, Kek. Al lucu, sepertinya dia cemburu, dari awal


dibilangin juga masih saja ngotot aku Cuma punya utang janji gak mungkin cinta


sama Queen, sekarang mungkin dia sudah mulai sadar.”


“Kau kesanalah, bujuk dia supaya mau mengakui perasaannya.


Tidak buruk kok kalau dia menikah dengan Queen juga.”


“hah, serius, Kek? Terus gimana dengan nasibnya Diaz?” tanya


Vico, sampai matanyan terbelalak.


“Diaz, ya? Jangan kau pikirkan dia, dia akan bersama seorang


yang benar-benar tulus mencintainya”


“Hah, terus Diaz cinta gak sama dia kek?” tanya Vico dengan


ekspresi keponya.


“Lalu kau pikir Queen apakah mencintai Al?” ucap kakek


Andrean bertanya balik.


Vico hanya mengelengkan kepalanya saja, ia sadar kalau cinta


sahabat karibnya itu mulai dari mama angkat dan adik angkatn ya itu memang


bertepuk sebelah tangan.


“Jadi Queen dan Diaz akan menjalani ci ta bertepuk sebelah


tangan dong, Kek?”


“Bukannya cinta datang karena terbiasa?” ucap kakek Andrean


sambil tersenyum lebar.


Vico Nampak berfikir kerass, mereka berdua pikirannya


sama-sama disibuukan dengan dua kakak beradik itu, sampai-sampai lupa kalau Al


sudah beristrikan Nayla. Sejurus kemudian Vico mendekatkan tubuhnya ke depan


mendekat kea rah sang kakek. Lalu berbisik pelan, “Kek, kalau boleh tahu, siapa


sih cewek yang suka sama Diaz? Kok kakek bisa kenal sama dia? Ketemu di mana


memangnya? Apakah kakek lihat dia menangis karena ditolak sama dokter Diaz?”


“Hahahaha,” Kakek Andrean malah tertawa lebar, menganggap


pertanyan Vico sangatlah lucu.


“Kok ketawa sih kek?”


“Kau mau tahu? Udah, nanti kau juga akan tahu dengan


sendirinya, sana susul Al ke kamar barunya, kau tahu kana pa tugas kamu?”


“Oh, siap Kek beres.” Pria itu pun buru-buru menyusul Al ke


dalam kamarnya dan bersiap untuk membulinya habis-habisan dan akan begitu


sampai seterusnya tak akan berhenti sebelum Al menyadari perasaannya.


“Kenapa kamu gak balik ke tempat Martin? Katanya mau maen


sama  para cewek sexy itu,” ucap Al jutek.


“Mana mungkin? Aku akan tetap mementingkan kamu yang  lagi butuh teman curhat, dong,” uca Vico


sambil merebah di dekat Al dan sampai mepet pada sahabatnya yang lagi dalam


mood buruk itu.


“Hih, apaan sih ksmu, Vic? Jangan nempel-nempel napa?”


protes Al sambbil mendorong tubuh Vico.


juga, mumpung belum nikah lagi kan perawannya juga sudah lo yang dapatkan,


hehe,” ucap Vico sambil nyengir.


“Ngomogn apaan sih nglantur saja kamu tuh. Mana mungkin aku


suka sama adek sendiri?”


“Ya mungkin saja, kan? Toh buktinya sama emak angkat saja lu


bisa suka, ini adek lebih muda dari lo, dan juga sudah lu perawanin pula,


kenapa gak coba?”


“Ngaco, loe.” Al menyikut keras Vico dan ambil posisi


membelakangi sahabat karibnya sejak SMP dulu itu.


“Eh, Al. Tapi, kayaknya gua tidak salah deh kalau kamu itu


sekaranng fall in love with your sister. Kamu yang tadi semula baik-baik saja


kenpa pas kakek bilang bahas soal pertunangan dia sama dr.Diaz raut wajah kamu


mendadak suram begitu? Kesel kan loe sebenarnya, cemburu kan?” ucap Vico terus


menggoda.


“Kamu bisa diam tidak? Atau kulempar kau lewat jendela!”


“Hehehe jangan  gitu,


walaupun ini tidak di Gedung, bertingkat, aku tahu itu akan sangat sakit. Ok


baiklah mari kita tidur saja.’'


Al mengambil satu lagi bantal di sebelahnya dan


menggunakannya untuk menutup bagian wajahnya, ia memaksakan diri untuk segera


tidur saja. Tapi, rupanya si Vico kembali mulai lagi, dia malah ngomong kembali


ngelantur tidak keruan. “ Heh, Mau sampai kapan lu menderita karena cinta,


masa pernikahan Cuma buat status doang gak bisa buat itu pas malamnya?”


Al masih diam tidak memberikan tanggapan sedikitpun.


“Saran gua nih ya, teerserah mau lu pake atau tidak itu


urusan kamu, dari pada kamu ngenes-ngenes menjalani cinta dalam diam atau kasih


tak sampai, cegah saja pertunangan mereka, ambil Queen untuk jadi ratu mu saja,


and you will be her king.”


Al diam, kali ini dia tidak mencoba tidak peduli, melainkan


malah kebalikannya. Dua kali dia mengalami jatuh cinta yang sebenarnya dengan


orang yang sudah ia kenal dari kecil, dan mungkin kali ini ia tidak ingin


berujung sama lagi seperti yang sebelumnya. Terlebih ketika Vico bertakata, “Ini


adek, gak apa-apa, halal-halal saja, terlebih dia janda dan belum kembali resmi


menikah, jika dengan mama angkat, ampun deh jangan, bukan soal berondong atau


apa, emang mau kau jadi sangkuriang? Hehehe walau pun dayang sumbi adalah ibu


kandungnya.


“Bangsat, kau menyamakan aku dengan sangkuriang, dan mamaku


Dayang sumbi, sama aja kau ngina papaku anjingnya dong, Sangkuriang itu bapaknya


anjing!” umpat Al jengkel sambil meniju Vico.


“Eh, eh.. siapa yang bilang kalau papa kamu dog, Al? aku


Cuma memberi umpama, lebih baik kamu sama Queen diperjuangkan saja, gak ada


yang menghujat, beda kalau sama mama Clara, sekalipun dia mama angkat kamu


tetap saja tidak baik, kan?” ucap Vico sambil menutupi wajahnya yang


dipukuli oleh Al.


Al pun diam tidak menjawab, ia meraih ponsel dan juga


rokoknya yang ia letakan di atas nakas tadi. Lalu keluar dari kamar itu dan


duduk di kursi halaman belakang.


Sedangkan Vico ia hanya tertawa terkikik dengan ulah


sahabatnya itu. Ia tak mau mengikuti kemana ia perginya, jika sudah rokok yang


dia bawa, pasti Al juga sedang berfikir atas apa yang baru saja ia sampaikan. Sekaligus memahami tentang perasaannya sendiri terhadap Queen.


Al pergi meninggalkan Vico di dalam kamar tamu yang sudah


beberapa bulan ini ia tempati. Tepatnya sejak ia terakhir kembali ke Jepang


dulu, ia misah ranjang dari istrinya, dan lama-lama makin gila gak bisa control


diri terhadap adik angkatnya.


Ia berjalan menjauh dari area rumah, dia memilih duduk di


bawah pohon akasia, terdapat kursi Panjang berwarna putih terbuat dari besi di


sana, kursi khas taman kota dan bola lampu putih sehingga terang-terang saja


meskipun malam hari ia berada di sana.

__ADS_1


Pria itu mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya,


sambil mendongak ia meniupkan asab ke udara, sambil menyandarkan kepalanya yang terasa


berat pada sandaran kursi itu. Diam-diam dalam keheningan malam ia mulai


memikirkan apa yang baru saja Vico katakana padanya, pikirannya mulai teracuni.


‘Apa benar aku mencintai Queen dengan merasa bahwa akulah


yang paling bisa menjaga dan melindunginya selama ini? Apa benar aku merasa


bahwa akulah yang terbaik dan paling mengerti dia? Aku suka melihat tertawa dan


bahagia, aku hancur melihatnya terluka, tapi aku juga benci jika ia tertawa


dengan pria lain, aku tidak terima jika Diaz atau yang lainlah yang membuatnya


bahagia saat ini, aku ingin sekarang hanya akulah yang boleh membuat dia


tersenyum, bahagia dan merasa nyaman. Apa benar tanpa sadar aku mencintai dia?


Kenapa cintaku kepadanya begitu egois dan menuntut?’ batin Al seorang diri.


Kini Al mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring,


wajahnya ia arahkan ke timur melihat ke atas, sebuah kamar dengan selambu masih


terbuka dan lampu yang masih terang menyala. Al terus memperhatikan kamar itu


dan mengabaikan jendela kamar sebelahnya. Tak lama kemudian dari jendela muncul


seorang wanita dengan rambut tergerai indah, smbil sesekali tangan kirinya


memainkan rambutnya, menyisir dengan jarai-jari lentiknya dan tersenyum seorang


diri, rupanya ia sedang telfonan. Al tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan


wanita itu dari atas sana, hanya ada satu dua kata saja yang sempat ia tangkap.


Namun jika dilihat dari ekspresinya, ia seperti tengah ngobrol dengan pacarnya.


Merasa kesal, Al pun pergi meninggalkan tempat itu, ia kembali masuk ke dalam


kamarnya yang di dalamnya ada Vico yang sudah lelap tertidur. Al mencoba tidak


peduli, ia berusaha memejamkan matanya agar bisa segra tidur.


🍁🍁🍁


Pagi itu, dengan hanya mengenakan pakaian santai, Queen,


Vico, kakek Andrean dan juga Al sarapan bersama. Mata wanita itu di edarkan ke seluruh ruangan,


mulai dari ruang keluarga juga sudut dapur, sejurus kemudian, mimik wajahnya


berubah jadi seperti orang bingung.


“Mencari siapa, Queen? Selesaikan saja sarapanmu dulu!” ujar


kakek Andrean.


“Tidak, Kek. Apakah Bilqis tidak ke sekolah hari ini? Di


mana dia kok belum datang untuk sarapan?”


“Mungkin masih di atas, itu dia,” sahut kakek Andrean,


ketika melihat Bilqis dan Nayla menapaki tangga dari atas.


“Kamu tidak ke rumah sakit sekarang, Queen?” tanya Vico,


memulai pembicaraan.


“Yak ke sana, lah. Tapi nanti jam sebelas jadwal praktekku.”


“Kenapa tidak ikut kakakmu ke kantor saja dulu?”


“Aku masih belum vit sepenuhnya, dari pada menyarankan aku, kenapa tidak kak Vico


saja yang ke sana ikut membantu kakakku,” cetus Queen sambil memasukan


sepotong roti ke dalam mulutnya.


Vico yang sudah kena telak oleh Queen, diam seribu Bahasa.


Tapi, bukan Vico Namanya jika tidak bisa menemukan ide dengan cepat untuk


menjomblangkan antara saudara angkat itu yang masih bertepuk sebelah tangan.


“Ok, baiklah, kau kan seorang dokter, Queen. Anggap saja kamu


lagi mengawasi luka kakakmu. Masih parah kan itu?”


“Ya aku tahu, selama tidak kena air dan rutin meminum obat


juga akan sembuh kok.”


“Makanya, kamu control jadwal minum obatnya, karena dia


kalau sudah sibuk, melupakan banyak hal yang juga penting untuk dirinya.”


“Kan ada istrinya,” jawab Queen singkat dan langsung


kena. Merasa aneh dengan sikap Vico yang memberi kesan mencomblangkan dia


dengan kakaknya sendiri, Queen pun meninggalkan meja makan makan dengan piring


rotinya yang belum habis ke dapur. Ia sudah merasa kalau Nayla over protektif


terhadap dirinya karena kedekatannya dengan kakak angkatnya itu, ini malah


Vico memancing datangnya masalah baru dengan berkata demikian di depan Nayla.


“Ehem… Dokter Queen, kenapa tidak mengikuti saran dari Vico


saja? Kurasa apa yang dia katakana itu benar. Salah lo kalau kamu


merecomendasikan diriku untuk menemani kakak tercintamu itu, sekalipun aku ini


adalah istrinya. karena apa? Aku tidak sepertimu, aku hanya wanita yang ia


temukan di jalan sebagai korban kekerasan dari mantan suaminya, aku Cuma


tamatan SMP, tak tahu dengan urusan kantor apalagi medis. Al menikahiku karena


iba saja, aku terlunta-lunta dengan membawa anak berusia satu tahun setengah


tanpa tujuan dan tak memiliki tempat tinggal. Jadi wajar dong kalau aku tak


dianggap keberadaannya di sini.”


Queen diam, memeruskan  sarapannya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak peduli. Sebab, ia hafal


kebiasaan Bilqis yang tiba-tiba saja muncul ke dapur untuk menyusul mamanya.


Bagaimana pun ia berhati-hati agar tidak sampai berkata kasar, apalagi telah anak itu


melihat, dengan melihatnya menyeret mamanya saja juga mungkin sudah membuat anak


itu berfikir buruk tentangnya, walaupun ia tidak peduli.


“Kenapa kau diam saja Queen? Apakah kamu tuli? Oh, aku tahu,


kau membenciku mungkin kamu iri, ya kalau anakku sangat disayangi oleh kakekmu


dan dianggap sebagai cicitnya sendiri, sedangkan kamu, baru beberapa bulan hamil


malah keguguran, malang sekali nasibmu.”


“Mendengar tuduhan yang tak masuk akal itu Queen sudah


merasa panas dan bangkit hendak memukulnya. Tapi malah keduluan Bilqis datang


menghampiri mereka. Jadi, Queen hanya bisa menjawab sepatah kata saja,”Untuk


apa? Statusnya yang cucu kandung adalah aku bukan dia.”


“Mama, maksut mama apa barusan? Aku bukan cicit kakek


buyut? Dan mama adalah korban KDRT dari mantan suami yang dapat belas kasihan


dari papa Al karena membawa seorang anak? Apakah yang mama maksut anak itu adalah aku?”


Queen menaikan satu alisnya sambil tersenyum meledek ke arah


Nayla. Ia baru sadar sikap up normal Nayla barusan itu semang sengaja untuk


memancing dirinya, hanya saja dia tidak sedang beruntung, senjata makan tuan.


“Tante, jawab jujur pertanyaanku, apakah kalimatmu yang


belum selesai kemarin itu yang mengatkan kalau aku ini bukan itu apakah aku


bukan anak kandung papa?”


“Aku tidak berhak menjawabnya, itu urusan keluarga kalian,


karena aku tidak mau ikut campur lagi dengan drama yang diciptakan mamamu.”


Jawab Queen kesal. lalu pergi meninggalkan dapur.


“Ada apa ini kok ribut-ribut?’’ tanya Al, tahu-tahu sudah


berdiri di ambang pintu dapur, dan jarak antara dia dan Queen hanya beberapa langkah saja.


Merasa malas dan juga masih dongkol dengan Al yang telah


memaksanya pulang dari rumah Diaz kemarin, Queen pun bermaksut menghindar


dengan meninggalkan  mereka bertiga.


Queen melangkah melewati Al yang berdiri di depannya. Namun


pria itu memegangi lengan atas sebelah kiri wanita itu, sehingga membuat Queen


meringis kesakitan, karena tubuhnya terdapat banyak luka goresan dari pepohonan


saat ia terjatuh dari jurang beberapa hari yang lalu, termasuk kedua lengannya tentunya.


“Auwww… Kak, sakit banget,” ucap Queen. Matanya menatap ke arah wajah Al sementara tangan kanannya memegangi tangan Al yang mencengkram


kuat lengannya.


“seketika itu juga, Al mengendurkan cengkramannya. Raut


wajahnya menunjukan kekawatiran, meskipun bibirnya hanya bungkam, tapi pandangan


mata itu sudah dapat mewakili permintaan maaf atas kecerobohannya.


Queen memalingkan wajahnya dari tatapan Al. Dia yang biasa


selalu nyaman bersama pria itu, sekarang kenyamanan itu menjadi lenyab, dan tergantikan


oleh rasa canggung semenjak ia merasa kalau kakanya menujukan rasa suka padanya


dan cemburu saat dirinya tengah bersam Diaz.


“Aku mau pergi, Kak,” lirih Queen.


Tapi, Al rupanya enggan melapsakan adiknya pergi. Ia tetap


memegangi lengannya, lalu mata minimalisnya itu menatap tajam ke arah Nayla sambil


berkata, “selama aku di sini, belum pernah satu kali pun pagi-pagi diawali


dengan keributan sekecil apapun, kau jangan merubah kebiasaan yang selama


betahun-tahun kami jaga. Ada apa ini sebenarnya, Nay?”


Nayla yang melihat suaminya menunjukan emosi dan


kemarahannya terlihat gelagapan, sebab bagaimana pun dari tadi ia yang mulai


dan banyak bicara, sementara Queen juga tak lebih dari sekedar memberi jawaban

__ADS_1


atas pertanyaan Bilqis yang dilontarkan padanya.


__ADS_2