
Tiba di kediaman lamanya dulu dengan mantan suami , Novi dan
Axel sudah di sambut ipar dan mertuanya. Mereka memeluk Novita dan Axel satu
persatu secara bergantian. Livia menatap heran ke arah tybyuh Novi yang terlihat
jauh lebih berisi dari sebelumnya, saat terakhir kali ketemu waktu mengantarnya Bandung
beberapa bulan silam.
“Novi, kamu kok gemukan, ya? Apakah di sana sedang musim
dingin, kau banyak makan dan jarang bergerak?” tanya Livia setelah memeluk
menantu dari mendiang putranya itu.
Novita tidak menjawab, ia bingung harus berkata apa, juga
malu karena tidak mendengarkan nasehat mertuanya dulu. Tapi, nasi telah menjadi
bubur, semua telah terlanjur, mau gimana lagi? Udah terlanjur ya jalani saja,
sekalipun tanpa ayah, bayi itu pun juga bukan dari hasil hubungan gelap, kan?
“Mama itu hamil adiknya Axel, Nenek, lihat saja dia! Gendut,
kan? Hahaha,” ucap bocah itu dengan polos dan menunjukan deretan gigi
kecil-kecilnya yang rapi saat tertawa lebar.
“Apa? Beneran kamu hamil, Nov? Apa waktu itu kamu tidak
suntik KB?” tanya Livia, kaget, tapi juga tidak sedih, semacam ada kesenangan
tersendiri di hatinya, ia yang sudah tak lagi memiliki cucu bayi, sebentar lagi
akan kembali menimangnya lagi.
“Maafin Novi, Ma,” jawab wanita itu dengan manja. Sedangkan
di luar, Alex, bersama Doni tengah mengobrol.
Setelah menjelaskan dan menceritakan semuanya, Livia
memutuskan untuk kembali menetap di Jakarta menemani Novi, dan ikut membantu
menjaga Axel juga adiknya jika sudah lahir kelak. Awalnya Novita pun menolak,
karena bagaimana pun sebelum Aditya meninggal, mereka berdua sudah cerai secara
hukum terlebih dahulu, hanya saja, kedua mertua dan iparnya tetap meminta dia
dan Axel untuk tetap menempati rumah itu selama dia belum menikah lagi,
bagaimana pun bayi yang ad dalam kandungannya juga cucu dan keponakan kandung
mereka. Padahal sebelum ia kembali ke Indo, Alex sudah meminta agar kakaknya tinggal bersamanya saja. meskipun ada
Malam itu, di meja makan, hanya ada kakek Andrean bersama
cucu perempuannya saja, Nayla berada di kamar dengan Bilqis, dan mungkin juga
makan malamnya belakangan, dia terlalu
malu untuk menunjukkan muka di depan kakek Andrean. Tapi, masih saja berlagak
di depan Queen. Sedangkan Al, entah kemana, setelah di dorong keras oleh Queen
dari dalam kamarnya ia pergi keluar dengan mengendarai mobilnya.
“Kakek, Diaz bilang dia dan keluarganya mau ke sini untuk
melamarku, kira-kira kapan kita bisanya?” ucap Queen memulai pembicaraan.
“Apa kamu sudah siap?”
“Tentu saja, Kek. Dari pada gini terus, yang ada kita cuma kesalah
pahaman saja.”
Andrean diam, ia berusaha berfikir, lalu kemudian, ia
berusul, “Bagaimana jika minggu depan?”
“Minggu depan, kek?” tanya Queen seolah tidak percaya.
“Iya, terlalu cepat, atau tidak?’’
“Iya, deh, Kek.., Iya. Terimakasih ya kek.” Wanita itu pun
bangkit dan memeluk sang kakek.
“Ya sudah ini kan sudah malam, katanya besok kamu ada
praktek ke rumah sakit, barengan sama kakek ya? Kakek juga ingin menjenguk papa
dan mama kalian,”
“Baik, Kek. Klau gitu aku ke kamar dulu, ya?” Queen pun
mencium kedua pipi kakeknya lalu pergi ke kamarnya.
Andrean mengamati Queen sampai dia benar-bemnar masuk ke
dalam kamarnya, begitu pria tua itu sudah mendengar pintu yang ditutup dengan
suara sedikit keras, memang sudah jadi ciri khasnya dia, persis Clara walau tak
separah mamanya.
Andrean melajukan kursi rodanya ke halaman depan,
sesampainya di sana, ia berusaha menghubungai Al dan memintanya untuk segra
pulang.
“Halo, Kek. Ada apa?” jawab Al, setelah mengankat
panggilannya dengan diiringi suara music yang bising di sekitarnya.
“Kamu ada di mana? Segeralah pulang!”
“Ada apa sih kek? Ini masih sama Vico,” jawab pria itu,
sedikit gugup.
“Ya, kau boleh saja sekarang bersama Vico. Tapi, kalian
berdua berada di tempat Martin, bukan? Cepat pulang atau kakek akan susul kau
ke sana!”
“Baik, Kek. Baiklah. Aku akan segera kembali.”
Andrean tertawa tertahan melihat tingkah Al yang masih saja
tidak berubah, masih suka membangkang, tapi juga patuh, ah entah lah bagaimana
dia itu, sulit dimengerti.
Dalam hati, Al mengumpat kesal jika harus di suruh pulang
sebeelum dia puas, lagian ini juga bru jam delapan kurang, pasti dia akan
ditertawakan kawan-kawannya jam segini harus balik kandang, biasanya saja
paling awal juga jam dua belas malam. Tapi, pria itu juga bersukur, setidaknya
dia masih belum terlalu mabuk, meskipun mulut dan tubuhnya sudah bau miras.
Pria itu melihat sekeliling, begitu sudah menemukan orang
yang ia cari, dengan segera ia menghampirinya dan merangkul pundaknya dari
belakang, “Eh, Vic, ikut gua, yuk!”
“Hah, kemana?” tanya Vico, sedikit kesal. Sebab, ia lagi
asik dan bersenang-senang dengan banyak wanita sexy.
“Ada misi, nih!” jawab Al dengan tampang yang dibuat
seserius mungkin.
“Apa lagi? Tidak bisakah menungguku tiga puluh menit saja
aku masih ingin bermaain dengan…”
“Tiga puluh menit apaan? Ini sudah sangat mendesak. Jangan
terlalu doyan dengan yang seperti itu, kena sipilis tahu rasa kau.” Tanpa
mendengarkan lagi, Al langsung saja menyeret sahabatnya itu dan mebawanya ke
dalam mobilnya.
“Al, kamu mau bawa aku kemana sih?” tanya Vico oenasaran.
“sudah jangan banyak bicara, yang jelas aku lagi butuh
kamu.” Al terus fokus mengemudi, ia sengaja melajukan kendaraanya dengan
kencang supaya bisa segera sampai.
Perjalannan yang biasa di tempuh selama empat puluh lima
menit dari kyagfe Martin ke rumahnya hanya bisa di tempuh selama dua puluh
menitan saja oleh Al. Begitulah dia, kalau sedang mengemudikan kendaraan, tak
punya rasa takut seperti memiliki cadangan nyawa saja.
“Kamu cuma pulang saja kenapa harus mengajakku sih Al?” keluh Vico, dengan kesal ia pun turun
dari mobil ferarry merah itu dengan langkah yang sangat dipaksakan.
“Habis, kalau bukan urusan bisnis yang dijadikan alasan,
teman-teman ngiranya aku ngandang lagi. Biasa… pria yang sudah menikah dan gak
doyan jajan.” Al oun merangkul pundak Vico lagi, dan mengajaknya berjalan
beriringan, sebenarnya Al pun juga sudah mulai terpengaruh minuman, jadi,
membawa Vico sekalian jadi tameng agar marahnya kakek sedikit dikurangi, karena
Al sedang bersama temannya.
Al menarik gagang pintu, mengira sudah terkunci, ternyata
belum. Awalnya ia merasa heran, sebab sudah malam tapi pintu utama dibiarkan
tak terkunci. Al mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sampai
lantai atas, semuanya sepi.
“Eheem!”
Tapi, ia dan Vico tidak sadar jika ada seseorang yang tengah
duduk di ruang tamu yang menunggu kedatangannya.
“Eh, Kakek, kok belum tidur, Kek?” tanya Al sedikit
berbasa-basi sambil nyengir, karena merasa takut dimarahin.
“Mana mungkin kakek bisa tidur? Kan ada yang mau kakek bahas
sama kamu, Al,” jawab Andrean dengan santai.
“Sama aku, Kek? Apa kek? Perusahaan baik-baik saja kok,
besok Al juga akan mulai bekerja kembali,” jawab pria itu, merasa panik
seperti anak kecil yang ketakutan akan dimarahi mamanya karena menumpahkan satu
__ADS_1
toples gula saja.
“Bukan soal pekerjaan, Al. Melainkan tentang Queen dan Diaz.
Menurutmu bagaimana?”
“Bagaimana apanya, Kek?” jawab Al, masih bisa berekspresi
tenang.
“Minggu depan mereka akan tunangan. Kamu bantu mempersiapkan
acara adikmu, ya? Kakek sudah tua, dan lagi juga tidak bisa berjalan. Mana
mungkin, kan?”
Seketika itu juga raut wajah Al langsung berubah. Untuk
mengalihkan topik, ia melihat ke arah Vico yang duduk di sebelahnya. Lalu
berkata, “Kau, kalau mau pulang atau balik ke tempatnya Martin pergi saja sana!
Aku capek besok harus kembali ke kantor.” Dengam raut wajah suram Al pun pergi
meninggalkan kakek dan temannya di ruang tamu, ia masuk ke salah satu kamar
yang disediakan untuk tamu dan membanting pintunya dengan keras.
Vico diam sesaat, tak berani berbuat apapu tapi, perutnya
terlalu mulas jika ia terus diam. Jadi, ia pun akhirnya terkikik pula di depan
kakek Andrean yang ia segani.
Kakek Andrean pun juga Nampak tersenyum dan bertanya dengan
nada lembut yang sudah jadi ciri khasnya, “Kena tertawa Nak Vico?”
“Maaf, Kek. Al lucu, sepertinya dia cemburu, dari awal
dibilangin juga masih saja ngotot aku Cuma punya utang janji gak mungkin cinta
sama Queen, sekarang mungkin dia sudah mulai sadar.”
“Kau kesanalah, bujuk dia supaya mau mengakui perasaannya.
Tidak buruk kok kalau dia menikah dengan Queen juga.”
“hah, serius, Kek? Terus gimana dengan nasibnya Diaz?” tanya
Vico, sampai matanyan terbelalak.
“Diaz, ya? Jangan kau pikirkan dia, dia akan bersama seorang
yang benar-benar tulus mencintainya”
“Hah, terus Diaz cinta gak sama dia kek?” tanya Vico dengan
ekspresi keponya.
“Lalu kau pikir Queen apakah mencintai Al?” ucap kakek
Andrean bertanya balik.
Vico hanya mengelengkan kepalanya saja, ia sadar kalau cinta
sahabat karibnya itu mulai dari mama angkat dan adik angkatn ya itu memang
bertepuk sebelah tangan.
“Jadi Queen dan Diaz akan menjalani ci ta bertepuk sebelah
tangan dong, Kek?”
“Bukannya cinta datang karena terbiasa?” ucap kakek Andrean
sambil tersenyum lebar.
Vico Nampak berfikir kerass, mereka berdua pikirannya
sama-sama disibuukan dengan dua kakak beradik itu, sampai-sampai lupa kalau Al
sudah beristrikan Nayla. Sejurus kemudian Vico mendekatkan tubuhnya ke depan
mendekat kea rah sang kakek. Lalu berbisik pelan, “Kek, kalau boleh tahu, siapa
sih cewek yang suka sama Diaz? Kok kakek bisa kenal sama dia? Ketemu di mana
memangnya? Apakah kakek lihat dia menangis karena ditolak sama dokter Diaz?”
“Hahahaha,” Kakek Andrean malah tertawa lebar, menganggap
pertanyan Vico sangatlah lucu.
“Kok ketawa sih kek?”
“Kau mau tahu? Udah, nanti kau juga akan tahu dengan
sendirinya, sana susul Al ke kamar barunya, kau tahu kana pa tugas kamu?”
“Oh, siap Kek beres.” Pria itu pun buru-buru menyusul Al ke
dalam kamarnya dan bersiap untuk membulinya habis-habisan dan akan begitu
sampai seterusnya tak akan berhenti sebelum Al menyadari perasaannya.
“Kenapa kamu gak balik ke tempat Martin? Katanya mau maen
sama para cewek sexy itu,” ucap Al jutek.
“Mana mungkin? Aku akan tetap mementingkan kamu yang lagi butuh teman curhat, dong,” uca Vico
sambil merebah di dekat Al dan sampai mepet pada sahabatnya yang lagi dalam
mood buruk itu.
“Hih, apaan sih ksmu, Vic? Jangan nempel-nempel napa?”
protes Al sambbil mendorong tubuh Vico.
juga, mumpung belum nikah lagi kan perawannya juga sudah lo yang dapatkan,
hehe,” ucap Vico sambil nyengir.
“Ngomogn apaan sih nglantur saja kamu tuh. Mana mungkin aku
suka sama adek sendiri?”
“Ya mungkin saja, kan? Toh buktinya sama emak angkat saja lu
bisa suka, ini adek lebih muda dari lo, dan juga sudah lu perawanin pula,
kenapa gak coba?”
“Ngaco, loe.” Al menyikut keras Vico dan ambil posisi
membelakangi sahabat karibnya sejak SMP dulu itu.
“Eh, Al. Tapi, kayaknya gua tidak salah deh kalau kamu itu
sekaranng fall in love with your sister. Kamu yang tadi semula baik-baik saja
kenpa pas kakek bilang bahas soal pertunangan dia sama dr.Diaz raut wajah kamu
mendadak suram begitu? Kesel kan loe sebenarnya, cemburu kan?” ucap Vico terus
menggoda.
“Kamu bisa diam tidak? Atau kulempar kau lewat jendela!”
“Hehehe jangan gitu,
walaupun ini tidak di Gedung, bertingkat, aku tahu itu akan sangat sakit. Ok
baiklah mari kita tidur saja.’'
Al mengambil satu lagi bantal di sebelahnya dan
menggunakannya untuk menutup bagian wajahnya, ia memaksakan diri untuk segera
tidur saja. Tapi, rupanya si Vico kembali mulai lagi, dia malah ngomong kembali
ngelantur tidak keruan. “ Heh, Mau sampai kapan lu menderita karena cinta,
masa pernikahan Cuma buat status doang gak bisa buat itu pas malamnya?”
Al masih diam tidak memberikan tanggapan sedikitpun.
“Saran gua nih ya, teerserah mau lu pake atau tidak itu
urusan kamu, dari pada kamu ngenes-ngenes menjalani cinta dalam diam atau kasih
tak sampai, cegah saja pertunangan mereka, ambil Queen untuk jadi ratu mu saja,
and you will be her king.”
Al diam, kali ini dia tidak mencoba tidak peduli, melainkan
malah kebalikannya. Dua kali dia mengalami jatuh cinta yang sebenarnya dengan
orang yang sudah ia kenal dari kecil, dan mungkin kali ini ia tidak ingin
berujung sama lagi seperti yang sebelumnya. Terlebih ketika Vico bertakata, “Ini
adek, gak apa-apa, halal-halal saja, terlebih dia janda dan belum kembali resmi
menikah, jika dengan mama angkat, ampun deh jangan, bukan soal berondong atau
apa, emang mau kau jadi sangkuriang? Hehehe walau pun dayang sumbi adalah ibu
kandungnya.
“Bangsat, kau menyamakan aku dengan sangkuriang, dan mamaku
Dayang sumbi, sama aja kau ngina papaku anjingnya dong, Sangkuriang itu bapaknya
anjing!” umpat Al jengkel sambil meniju Vico.
“Eh, eh.. siapa yang bilang kalau papa kamu dog, Al? aku
Cuma memberi umpama, lebih baik kamu sama Queen diperjuangkan saja, gak ada
yang menghujat, beda kalau sama mama Clara, sekalipun dia mama angkat kamu
tetap saja tidak baik, kan?” ucap Vico sambil menutupi wajahnya yang
dipukuli oleh Al.
Al pun diam tidak menjawab, ia meraih ponsel dan juga
rokoknya yang ia letakan di atas nakas tadi. Lalu keluar dari kamar itu dan
duduk di kursi halaman belakang.
Sedangkan Vico ia hanya tertawa terkikik dengan ulah
sahabatnya itu. Ia tak mau mengikuti kemana ia perginya, jika sudah rokok yang
dia bawa, pasti Al juga sedang berfikir atas apa yang baru saja ia sampaikan. Sekaligus memahami tentang perasaannya sendiri terhadap Queen.
Al pergi meninggalkan Vico di dalam kamar tamu yang sudah
beberapa bulan ini ia tempati. Tepatnya sejak ia terakhir kembali ke Jepang
dulu, ia misah ranjang dari istrinya, dan lama-lama makin gila gak bisa control
diri terhadap adik angkatnya.
Ia berjalan menjauh dari area rumah, dia memilih duduk di
bawah pohon akasia, terdapat kursi Panjang berwarna putih terbuat dari besi di
sana, kursi khas taman kota dan bola lampu putih sehingga terang-terang saja
meskipun malam hari ia berada di sana.
__ADS_1
Pria itu mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya,
sambil mendongak ia meniupkan asab ke udara, sambil menyandarkan kepalanya yang terasa
berat pada sandaran kursi itu. Diam-diam dalam keheningan malam ia mulai
memikirkan apa yang baru saja Vico katakana padanya, pikirannya mulai teracuni.
‘Apa benar aku mencintai Queen dengan merasa bahwa akulah
yang paling bisa menjaga dan melindunginya selama ini? Apa benar aku merasa
bahwa akulah yang terbaik dan paling mengerti dia? Aku suka melihat tertawa dan
bahagia, aku hancur melihatnya terluka, tapi aku juga benci jika ia tertawa
dengan pria lain, aku tidak terima jika Diaz atau yang lainlah yang membuatnya
bahagia saat ini, aku ingin sekarang hanya akulah yang boleh membuat dia
tersenyum, bahagia dan merasa nyaman. Apa benar tanpa sadar aku mencintai dia?
Kenapa cintaku kepadanya begitu egois dan menuntut?’ batin Al seorang diri.
Kini Al mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring,
wajahnya ia arahkan ke timur melihat ke atas, sebuah kamar dengan selambu masih
terbuka dan lampu yang masih terang menyala. Al terus memperhatikan kamar itu
dan mengabaikan jendela kamar sebelahnya. Tak lama kemudian dari jendela muncul
seorang wanita dengan rambut tergerai indah, smbil sesekali tangan kirinya
memainkan rambutnya, menyisir dengan jarai-jari lentiknya dan tersenyum seorang
diri, rupanya ia sedang telfonan. Al tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan
wanita itu dari atas sana, hanya ada satu dua kata saja yang sempat ia tangkap.
Namun jika dilihat dari ekspresinya, ia seperti tengah ngobrol dengan pacarnya.
Merasa kesal, Al pun pergi meninggalkan tempat itu, ia kembali masuk ke dalam
kamarnya yang di dalamnya ada Vico yang sudah lelap tertidur. Al mencoba tidak
peduli, ia berusaha memejamkan matanya agar bisa segra tidur.
🍁🍁🍁
Pagi itu, dengan hanya mengenakan pakaian santai, Queen,
Vico, kakek Andrean dan juga Al sarapan bersama. Mata wanita itu di edarkan ke seluruh ruangan,
mulai dari ruang keluarga juga sudut dapur, sejurus kemudian, mimik wajahnya
berubah jadi seperti orang bingung.
“Mencari siapa, Queen? Selesaikan saja sarapanmu dulu!” ujar
kakek Andrean.
“Tidak, Kek. Apakah Bilqis tidak ke sekolah hari ini? Di
mana dia kok belum datang untuk sarapan?”
“Mungkin masih di atas, itu dia,” sahut kakek Andrean,
ketika melihat Bilqis dan Nayla menapaki tangga dari atas.
“Kamu tidak ke rumah sakit sekarang, Queen?” tanya Vico,
memulai pembicaraan.
“Yak ke sana, lah. Tapi nanti jam sebelas jadwal praktekku.”
“Kenapa tidak ikut kakakmu ke kantor saja dulu?”
“Aku masih belum vit sepenuhnya, dari pada menyarankan aku, kenapa tidak kak Vico
saja yang ke sana ikut membantu kakakku,” cetus Queen sambil memasukan
sepotong roti ke dalam mulutnya.
Vico yang sudah kena telak oleh Queen, diam seribu Bahasa.
Tapi, bukan Vico Namanya jika tidak bisa menemukan ide dengan cepat untuk
menjomblangkan antara saudara angkat itu yang masih bertepuk sebelah tangan.
“Ok, baiklah, kau kan seorang dokter, Queen. Anggap saja kamu
lagi mengawasi luka kakakmu. Masih parah kan itu?”
“Ya aku tahu, selama tidak kena air dan rutin meminum obat
juga akan sembuh kok.”
“Makanya, kamu control jadwal minum obatnya, karena dia
kalau sudah sibuk, melupakan banyak hal yang juga penting untuk dirinya.”
“Kan ada istrinya,” jawab Queen singkat dan langsung
kena. Merasa aneh dengan sikap Vico yang memberi kesan mencomblangkan dia
dengan kakaknya sendiri, Queen pun meninggalkan meja makan makan dengan piring
rotinya yang belum habis ke dapur. Ia sudah merasa kalau Nayla over protektif
terhadap dirinya karena kedekatannya dengan kakak angkatnya itu, ini malah
Vico memancing datangnya masalah baru dengan berkata demikian di depan Nayla.
“Ehem… Dokter Queen, kenapa tidak mengikuti saran dari Vico
saja? Kurasa apa yang dia katakana itu benar. Salah lo kalau kamu
merecomendasikan diriku untuk menemani kakak tercintamu itu, sekalipun aku ini
adalah istrinya. karena apa? Aku tidak sepertimu, aku hanya wanita yang ia
temukan di jalan sebagai korban kekerasan dari mantan suaminya, aku Cuma
tamatan SMP, tak tahu dengan urusan kantor apalagi medis. Al menikahiku karena
iba saja, aku terlunta-lunta dengan membawa anak berusia satu tahun setengah
tanpa tujuan dan tak memiliki tempat tinggal. Jadi wajar dong kalau aku tak
dianggap keberadaannya di sini.”
Queen diam, memeruskan sarapannya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak peduli. Sebab, ia hafal
kebiasaan Bilqis yang tiba-tiba saja muncul ke dapur untuk menyusul mamanya.
Bagaimana pun ia berhati-hati agar tidak sampai berkata kasar, apalagi telah anak itu
melihat, dengan melihatnya menyeret mamanya saja juga mungkin sudah membuat anak
itu berfikir buruk tentangnya, walaupun ia tidak peduli.
“Kenapa kau diam saja Queen? Apakah kamu tuli? Oh, aku tahu,
kau membenciku mungkin kamu iri, ya kalau anakku sangat disayangi oleh kakekmu
dan dianggap sebagai cicitnya sendiri, sedangkan kamu, baru beberapa bulan hamil
malah keguguran, malang sekali nasibmu.”
“Mendengar tuduhan yang tak masuk akal itu Queen sudah
merasa panas dan bangkit hendak memukulnya. Tapi malah keduluan Bilqis datang
menghampiri mereka. Jadi, Queen hanya bisa menjawab sepatah kata saja,”Untuk
apa? Statusnya yang cucu kandung adalah aku bukan dia.”
“Mama, maksut mama apa barusan? Aku bukan cicit kakek
buyut? Dan mama adalah korban KDRT dari mantan suami yang dapat belas kasihan
dari papa Al karena membawa seorang anak? Apakah yang mama maksut anak itu adalah aku?”
Queen menaikan satu alisnya sambil tersenyum meledek ke arah
Nayla. Ia baru sadar sikap up normal Nayla barusan itu semang sengaja untuk
memancing dirinya, hanya saja dia tidak sedang beruntung, senjata makan tuan.
“Tante, jawab jujur pertanyaanku, apakah kalimatmu yang
belum selesai kemarin itu yang mengatkan kalau aku ini bukan itu apakah aku
bukan anak kandung papa?”
“Aku tidak berhak menjawabnya, itu urusan keluarga kalian,
karena aku tidak mau ikut campur lagi dengan drama yang diciptakan mamamu.”
Jawab Queen kesal. lalu pergi meninggalkan dapur.
“Ada apa ini kok ribut-ribut?’’ tanya Al, tahu-tahu sudah
berdiri di ambang pintu dapur, dan jarak antara dia dan Queen hanya beberapa langkah saja.
Merasa malas dan juga masih dongkol dengan Al yang telah
memaksanya pulang dari rumah Diaz kemarin, Queen pun bermaksut menghindar
dengan meninggalkan mereka bertiga.
Queen melangkah melewati Al yang berdiri di depannya. Namun
pria itu memegangi lengan atas sebelah kiri wanita itu, sehingga membuat Queen
meringis kesakitan, karena tubuhnya terdapat banyak luka goresan dari pepohonan
saat ia terjatuh dari jurang beberapa hari yang lalu, termasuk kedua lengannya tentunya.
“Auwww… Kak, sakit banget,” ucap Queen. Matanya menatap ke arah wajah Al sementara tangan kanannya memegangi tangan Al yang mencengkram
kuat lengannya.
“seketika itu juga, Al mengendurkan cengkramannya. Raut
wajahnya menunjukan kekawatiran, meskipun bibirnya hanya bungkam, tapi pandangan
mata itu sudah dapat mewakili permintaan maaf atas kecerobohannya.
Queen memalingkan wajahnya dari tatapan Al. Dia yang biasa
selalu nyaman bersama pria itu, sekarang kenyamanan itu menjadi lenyab, dan tergantikan
oleh rasa canggung semenjak ia merasa kalau kakanya menujukan rasa suka padanya
dan cemburu saat dirinya tengah bersam Diaz.
“Aku mau pergi, Kak,” lirih Queen.
Tapi, Al rupanya enggan melapsakan adiknya pergi. Ia tetap
memegangi lengannya, lalu mata minimalisnya itu menatap tajam ke arah Nayla sambil
berkata, “selama aku di sini, belum pernah satu kali pun pagi-pagi diawali
dengan keributan sekecil apapun, kau jangan merubah kebiasaan yang selama
betahun-tahun kami jaga. Ada apa ini sebenarnya, Nay?”
Nayla yang melihat suaminya menunjukan emosi dan
kemarahannya terlihat gelagapan, sebab bagaimana pun dari tadi ia yang mulai
dan banyak bicara, sementara Queen juga tak lebih dari sekedar memberi jawaban
__ADS_1
atas pertanyaan Bilqis yang dilontarkan padanya.