
Sekitar pukul enam petang, Al tiba dari pemakaman dengan
pakaiannya yang kotor penuh dengan tanah kuburan. Sementara Queen masih duduk
bersimpuh, kepalanya disandarkan pada dinding ruangan tengah dengan tatapan kosong.
Sesekali buliran bening mengalir membasahi pipinya. Kepalanya penuh dengan kenangan saat-saat ia masih bersama papanya. Saat ia kecil, mulai beranjak dewasa, sampai saat papanya mengantarkan dirinya pada pernikahan pertamanya. Semua
terukir jelas di benaknya bagai role film yang hanya dia saja yang mampu
melihatnya.
“Sayang!” Al memanggilanya lirih, setengah berbisik dan memegang pundaknya dari
samping.
Mengetahui yang datang adalah suaminya, wanita itu langsung
memeluk erat dan kembali menangis sejadi-jadinya.
“Sudah, kamu yang tenang, ya? Aku janji sama kamu, akan aku
usut sampai tuntas kematian papa. Jika benar itu karena serangan jantung secara
dadakan, aku akan telusuri penyebabnya sampai akar. Aku janji sama kamu, oke?”
Queen masih menangis, seolah tidak puas dengan apa yang Al
katakan padanya.
“Aku malam ini akan pergi ke perusahaan papa. Akan kulihat,
jika memang staff tidak tanggap, akan kupecat mereka.”
Barulah Queen mengangguk, melepaskan pelukannya dan
menghapus air matanya. Ia memandang wajah Al. suaminya yang berkumis seperti
ini sungguh kian mirip sekali dengan mendiang papanya. Wajar saja, seluruh rumah ini lupa kalau dia adalah anak angkat papa dan mamanya. Memang dari segi
wajah dan kepribadian banyak kesamaan.
“Kau mandilah, dan segera ikut tahlil,” ucap Queen setengah
berbisik. Suaranya mungkin habis karena terlalu lama menangis.
“Di mana mama? Cari dan temani dia, jangan biarkan dia
sendiri, Sayang,” ucap Al. ia bisa mengerti bagaimana perasaan mama angkatnya
itu karena dia sendiri sekarang sudah menemukan sosok yang benar-benar ia cintai. Ia bayangkan jika saja itu terjadi padanya, Queen yang mendadak mati.
Sungguh, ia tidak dapat membayangkannya.
“Iya, aku akan menemui mama,” ucap Queen kemudian beranjak mencari di mama mamanya berada. Ternyata yang dia cari berada di ruang tengah bersama dengan Nayla, Zahara dan juga mami Jeslyn yang tadi tiba bersama Clarissa saat jenazah papanya akan disolatkan.
Jadi, putrinya tadi masih sempat melihat wajah kakeknya untuk yang terakhir kalinya, dan sekarang dia berada di kamar mengunci diri bersama saudari kembarnya, Berlyn. Mungkin mereka akan merencanakan sesuatu. Bisa
saja nanti yang muncul setelah acara tahlil adalah Clarissa yang pura-pura bisu
menyamar sebagai Berlyn.
****
Singapura.
Di sebuah bangunan flat lantai 24. Suasana yang semula
tenang-tenang saja, seketika menjadi heboh.
“Amaaaa! I want go Jakarta Now. If you do’t want to join
up. In an hour my dad’s private jet will
arrive. I will get ready.”
“Amaaaa! Aku mau pergi ke Jakarta sekarang. Jika kau tidak
mau ikut terserah. Satu jam lagi privat jet papa akan tiba. Aku akan bersiap,”
teriak bocah itu bersi keras.
Jeslyn yang sedari tadi sudah setengah mati berusaha melarang Clarissa untuk pergi ke tempat papa mamanya, akhirnya menyerah. dia bukan tak mau ikut serta. Tapi, Al dan
Queen sebelumnya juga sudah mewanti-wanti agar putrinya tidak datang. Karena
banyak orang takziah di sana. Mereka tidak ingin kalau memiliki anak kembar akan terbongkar. Sebab, satu musuh Queen sudah muncul.
Dengan mengenakan celana jeans dan kaus sweter lengan
panjang serta running shoes warna putih kombinasi hitam dan rambut diikat model ekor kuda,
Clarissa sepertinya sudah siap untuk pergi ke Bandra Changi. Dia tidak membawa apa-apa selain tas ransel kecil yang mungkin hanya berisi ponsel, carger dan flashdisnya saja. Untuk baju, mungkin dia berfikir bisa lah memakai milik kembarannya di sana.
"Clarissa. Wait ama. Ama will come with you. "
“Clarissa. Tunggu ama. Ama akan ikut denganmu!”
Bocah kecil itu pun menghentika langkahnya. Padahal, satu Langkah lagi dia sudah berhasil meraih gagang pintu dan rumah flat tersebut dan keluar.
Sekitar sepuluh menit, Jeslyn sudah bersiap dan keduanya
sama-sama menunggu lip turun. Selama di dalam pesawat. Tak henti-hentinya
Jeslyn terus mengomeli cucunya yang
super itu. ia juga berfikir, jika saja dulu dia membawa Berlyn, pasti hidupnya
penuh dengan kedamaian. Penuh kasih sayang, dan tak ada keributan. Tapi, walau bagaimana pun, ia juga tetap menyayangi Clarissa. Mungkin, dia adalah gambaran
Al kecil yang dulu pernah dia abaikan. Bukan diabaikan, tapi, terpaksa dibuang demi menyelamatkan jiwanya. Jika tidak, pasti dia tidak akan melihat Clarissa
dan Berlyn di dunia. Dia benar-benar anak dari putranya.
****
“Clarissa, apakah tidak apa-apa kau meninggalkan sekolahmu?
Kelas berapa kau sekarang?” tanya Berlyn melalui tulisan tangannya yang ia tunjukkan pada saudari kembarnya.
“Tidak masalah. aku sudah membuat surat izin, dan besok,
temanku akan menyampaikan ke sekolahan. Kau apakah tidak ingin belajar?”
Gadis kecil itu hanya mengelengkan kepala saja.kemudian
memberi isyarat kalau besok libur dan tidak ada PR.
“Oh, ya sudah baiklah.”
__ADS_1
“Krek!”
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dengan Clarissa melompat
dan bersembunyi ke bawah kolong tempat tidur. Karena takut yang datang adalah orang lain.
“Sayang, di mana Clarissa?” tanya Clara.
“Aku kira yang datag adalah orang lain, Nek,” jawab bocah
itu sambil muncul dari tempat persembunyiannya.
“Kalian belum makan malam. Kalian mau makan apa?” tanya
Clara pada kedua cucunya.
“Apa aja, Nek.” Jawab Clarissa.
Kemudian wanita itu pun kembali menutup pintu. Diam-diam ia
menyesal dan merasa bersalah saja karena bersikeras untuk d atang. Jika saja tidak, pasti mereka tidak akan serepot ini, bukan?
Tapi, seperti apapun Clarissa. Tetaplah dia adalah seorang
anak yang usianya baru enam tahun. Begitu, Saudari kembarnya mulai menyapanya
lagi, penyesalannya juga lenyap begitu saja. Meskipun sapaan itu dengan bahasa isyarat, tapi, Clarissa bisa mebgerti dan sangat nyambung banget. Apa mungkin karena kembar?
Usai acara tahlil, Al berpamitan ada istrinya labih suka
menyendiri dari pada berkumpul dengan yang lain, awalnya Queen ingin ikut
bersama suaminya. Tapi, suaminya melarang. Selain sudah malam, dia juga dalam
suasana hati yang tidak stabil. Pasti mudah drop jika terkena angin malam.
Makanya, ia menyarankan agar dia bersama kedua putrinya saja agar sedikit terhibur.
“Aku janji tidak akan lama, Sayang. Kamu ke kamar anak-anak
saja, ngobrol sama mereka, ya?” ucap Al sambil mencium kening istrinya.
Tiba di kantor, Al
langsung menuju ke ruangan papanya, di atas meja, tidak ada satupun tanda-tanda
yang menjadi pemicu serangan jantug secara dadakan tersebut. Dugaan awal, ia
mengira ada kabar buruk mengenai perusahaan aatau apa. Tapi, semua kerja sama
berjalan dengan sangat baik, bahkan memberi banyak keuntungan.
Kemudian, barulah ia melihak dalam rekaman cctv. Meskipun di
dalam ruangan papanya tidak terdapat kamera, setidaknya, dengan melihat siapa
saja yang masuk ke dalaam ruangan papanya dia juga sudah akan bisa
memperediksikan.
Setelah menghabiskan hampir dua jam menelusuri rekaman cctv hari ini, baru lah Al mengetahui
jawabannya. Tangannya mengepal erat dan dia pukulkan pada meja. Setelah
mendapatkan petunjuk, pria itu langsung kembali ke rumah. Karena, ia merasa
sudah tidak ada hal lain lagi yang bisa perbuat di situ, sementara mama dan
begitu tiba di rumah, ia tidak mendapati Queen di kamarnya,
bahkan, di kamar anak-nya pun Cuma ada dua putri mereka dan juga mama dan
maminya.
“Al, kau sudah pulang, Nak? Dari mana saja, kau?” tanya
Clara yang lebih dulu melihat kedatangan putranya.
“Aku baru saja dari kantor papa, Ma. Tidak ada sesuatu yang
buruk di perusahaan. Semua baik-baik saja. Mengenai investasi dan jalinan kerja
sama semua normal dan justru memberi keuntungan yang sangat baik,” jawab Al.
“Jadi, dugaan bangkrut dan terkena penipuan itu salah, Al?”
“Salah besar, Ma. Yang membuat isu itu juga orang luar, kok.
Aku sudah menemukannya, akan segera kuurus dia, di mana Queen?”
“Mama masuk di kamar dekat ruang tamu, Pa,” sahut Clarissa
dengan cepat.
“Baiklah, karena ini sudah malam, kalian cepatlah tidur,
oke?” ucap Al yang entah ditujukan ada dua wanita yang dia panggil mami dan
mama atau dua bocah kembar itu, sangat ambigu sekali.
“Clarissa, Berlyn. Kalian tidurlah berdua, ama akan menemani
nenek malam ini, oke?” ucap Jeslyn pada dua cucu kembarnya.
“Baik, Ama,” jawab Clarissa. Sementara Berlyn hanya
menunjukkan senyuman tipis dan megangguk lembut. Sangat anggun sekali, persis
mamanya.
Dua wanita yang usianya sudah menginjak hampir kepala lima
itu sama-sama tidur di kamar tamu. Clara masih belum sanggup untuk masuk ke dalam kamar yang biasa dia tempati dengan Vano, mendiang suaminya. Hal itu membuatnya
hanya kian merasa sesak saja.
“Kamu yang sabar, ya Ra? Yang kuat. Walau aku tidak begitu
mengenal mendiang suamimu, aku yakin, dia adalah sosok yang baik, dan sayang banget sama kamu. Aku yakin, jika dia bisa memilih, dia ingin menunda
kematiannya dulu untuk menemanimu di dunia ini. Tunjukkan padanya, kalau kau bisa berdiri tegar sendiri menjaga anak cucu kalian, dan merelakan dia agar langkahnya ke surga tidak berat,” ucap Jeslyn pelan. Tapi, hal itu malah
membuat Clara kian terpukul dan menangis saja.
“ya, Jes. Kau benar. Jika aku rapuh, dia juga akan sedih di sana,” ucap Clara singkat. Lalu, ia membaringkan tubuhnya sambil memandangi
foto suaminya.
“Tuhan mengirimkan Al padamu mungkin juga karena suatu
__ADS_1
alasan. Pandanglah dia, dia juga putramu. Dia lebih pantas jadi putra kalian, dari pada putraku. Anggap saja, kau yang melahirkan dia, Clara.”
“Makasih, Jes!” ucap Clara sambil menahan air matanya.
Sampai tengah malam Clara masih saja belum bisa terlelap. Ia
berjalan keluar kamar menuju balkon sambil memeluk foto mendiang suaminya setelah memastikan kalau Jeslyn sudah benar-benar tertidur.
“Van, kau ingat tidak? Saat cinta kita hanya kita saja yang tahu,
kita sering diam-diam habiskan waktu di sini. Cinta kita sangat rumit. Namun,
indah. Tak ada satu memory pun yang terlupakan olehku. Kau ingat, tidak?
Bagaimana awal aku menunjukkan rasa cintaku padamu? Saat itu, aku lulus
sekolah. Aku menyusul mu ke kantor dan memelukmu di depan papa dan mama. Tapi,
kau belum tahu pasti perasaanku, bukan? Mereka juga masih anggap kedekatan kita
ini adalah sebuah keberhasilan mereka dalam mendidik kita sebagai saudara tiri.
Tapi, tidak tahunya… kedekatan kita karena cinta.
Kala itu aku bersama dua sahabatku mengadakan camping yang
juga diikuti olehmu. Tapi, Eren yang juga menaruh hati dari awal pertama
melihatmu, dia berhasil membuatku cemburu, yang akhirnya perasaanku padamu jadi
ketahuan.
Van. Apakah kau masih ingat betapa sulitnya cinta kita dulu,
mama dan papa kita tidak setuju dengan hubungan ini. Mereka tidak memberikan restunya, dan bahkan mereka akan mengirimku kuliah ke
luar negeri, dan akan menjodohkanmu dengan Yuna. Kau ingat itu, Van? Baiklah, jika kau lupa juga tidak apa-apa.
Tapi, mana janjimu dulu? Kau bilang tidak akan meninggalkan aku sendiri di
dunia ini? Kau ingkar, Van. Kau ingar,” gumam Clara seorang diri sambil
menangis dan mengeratkan pelukannya pada bingkai foto Vano bersama dirinya saat
mereka berada di Paris dulu.
Kembali ingatan di
masa lalu bersama mendiang suaminya terlihat jelas di depan pelupuk matanya.
Saat malam hari, Ketika Al dan Queen bayi sudah sama-sama
terlelap dalam satu kamar yang sama. Queen tidur di dalam box yang di sebelahnya ada tempat tidur kecil untuk baby sisternya menjaga, dan di sudut ruang adalah tempat tidur Al.
Clara menyandarkan kepalanya pada bahu Vano dan berkata,
“Jika nanti kau bisa memilih, kau pilih aku dulu yang mati, atau kau dulu yang
harus mati, Van?”
“Kenapa mengatakan tentang itu, Sayang?” tanya Vano sambil
memandang ke arah Clara.
“Karena, setiap pertemuan akan ada perpisahan. Dan setiap
yang bernyawa juga akan mati, kan? Jadi, aku mau, kita hanya dipisahkan oleh
maut,” jawab Clara dengan mantap.
“Baiklah. Aku akan memilih kamu dulu yang mati. Sebab, jika
aku dulu yang mati, aku tidak akan bisa tenang di sana, sementara kau di sini
merasa sendiri dalam keterpurukan. Aku, juga tidak akan mencari penggantimu.
Tetap kamu wanita dalam hidupku.”
“Kamu janji, ya? jangan pernah ninggalin aku dulu.”
“Tapi, Sayang, manusia hanya bisa berencana.”
“Maka, aku akan menyusulmu. Jemputlah aku bawa aku ke surga
bersamamu.”
Mengingat akan hal itu, hati Clara kian teriris saja. Dia
sungguh tidak menduga sebelumnya jika akan begini akhirnya. Padahal, pagi
sebelum berangkat ke kantor suaminya juga masih terlihat baik-baik saja.
Lagi pula, selama ini juga dia tidak memiliki Riwayat penyakit jantung. Lalu,
bagaimana bisa?a
Entah sudah berapa lama Clara duduk seorang diri di balkon. Entah terlalu lelah atau apa, dia sampai tertidur bersandar pada dinding sambil memeluk foto Vano.
***
Al membuka pintu ruang baca perlahan. Di sana ia mendapati
Queen tengah membuka hasil rekaman cctv perusahaan yang dipegang papanya. Saking paniknya Al, ia sampai lupa kalau
rekaman juga disalurkan di pc rumah ini.
“Sayang, apa yang kau lakukan?” tanya Al.
“Aku mencari mencoba mencari tahu penyebab meninggalnya papa, Al.
“Aku sudah menemukan petunjuk, cepat atau lambat, aku akan
segera mengusutnya untuk mu,” ucap Al.’’
Kemudian Queen menjatuhkan kedua tangannya yang bersiap
hendak mengetik pada keyboard tersebut. Rupanya dia baru saja akan memulai
pengecekkan. Jadi, Al tidak perlu mengatakannya sekarang demi kebaikan istrinya. Dia tahu, dalam mood seperti ini istrinya akan menjadi sangat
sensitif dan cepat bertindak tanpa memikirkan resikonya.
“Ini sudah malam. Kita tidur dulu, yuk!” ajak Al.
Awalnya Queen tidak mau dan terus memaksa agar Al mengatakan
siapa dan apa penyebab meninggalnya papa Vano. Tapi, Al sudah bertekad. Jadi, akhirnya Queen lah yang mengalah. Menuruti permintaan suaminya agar segera
tidur. Sebab, besok masih ada banyak hal yang perlu dikerjakan, dan masalah
__ADS_1
untuk dihadapi.