
Al menghidupkan mesin mobilnya, memanasi beberapa menit lalu kemudian melaju keluar dari area apartemen dan terus melaju.
"Kak, kau mau mengemudikan mobil ini ke mana?" tanya Quen heran.
"Gak tahu, kamu mau ke mana memang?" jawan Al, nampak sedikiy ling lung.
"Lihat dirimu sekarang? Bahkan kau berubah jadi pria tua dan bodoh, kau tidak tahu mau kemana, tapi, kenapa kau tidak bertanya?" jawab Quen sewot.
"Kau sejak kemarin selalu mengataiku pria tua saja, apakah aku benar-benar terlihat tua sekarang?" Protes Al, memandang ke arah adiknya.
"Usia segitu harusnya kau sudah menikah dan punya anak, tapi kau, pacar sana tidak punya, cowok bukan, sih?"
"Untuk pertanyaanmu kali ini. Kau bisa menjawabnya sendiri bagaimana aku semalan."
Kali ini giliran Quen yang nampak gelapan, ia tidak mampu menjawab apapun. Beruntung dia memiliki inisiatif menutup mata Al dengan dasi, jika tidak, pasti dia dapat melihat bagaimana ekspresinya semalam. Bahkan dia hampir kwalahan, paginya susah berjalan.
"Kita ke Panti Asuhan, Kak," ucap Quen mengalihkan pembicaraan. Dia tiba-tiba merasa malu sendiri dengan apa yang dia perbuat. Terlebih saat melihat kedua lengat atas dan leher Al yang penuh dengan cakaran kukunya, pasti sakit banget. Bukan karna sakit yang Al rasakan yang jadi pertimbangan, lalu, apakah dia seganas itu sebagai wanita?
Tidak, bukan ganas, cuma melampiaskan kesakitan saja.
"Kenapa tiba-tib Mengajakku ke panti, Quen?"
"Nanti kakak juga tahu sendiri."
Quen mengarahkan wajahnya ke samping menghadap jendela mobil, dia tidak mau lagi bicara dengan Al dan agar wajahnya tak terlihat oleh kakaknya pasti.
"Kenapa tiba-tiba ngakak pergi ke panti, Quen? Quen... Quen." Al mencolek pundak adiknya yang tidak menyahut sama sekali.
__ADS_1
"Eh, apa Kak?" ucapnya terkejut menoleh ke arah Al.
Al tersenyum geli mendapati sikap adiknya.
"Kau kenapa? Kemarilah! Lihatlah dirimu! Kau napak lelah." Al menepuk pundak Quen.
"Iya kak, Quen kurang tidur," jawan Quen dengan wajah lesu.
"Kenapa tiba-tiba mengajak ke panti?" tanya Al lagi dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Nanti kakak juga akan tahu sendiri." Kembali Quen menunjukan senyuman jailnya membuat Al menjadi makin gemas saja. Beruntung dia tengah mengemudikan mobil, jika tidak....
Apapun yang akan Al lakukan, dia tidak akan mengulang adegan tadi malam. Bagaimanapun, Quen adalah adiknya sendiri.
Tanpa terasa mobil sudah menginjak di halaman panti asuhan. Tidak seperti biasa, kali ini tidak ada anak-anak yang barmain di halaman depan panti seperti biasanya. Lantas kemana mereka semua? Batin Al.
Keduanya turun dari mobil, saat Al mengucapkan salam, pintu utama panti langsung di buka lebar. Semua anak panti berkumpul di sana membentuk setenah lingkaran dengan di depannya penug dengan beberapa gunduk nasi tumpeng berukuran besar.
"Apa, ini?" tanya Al, menunjukan keterkejutannya, membuat dia semakin terlihat seperti orang ling lung.
"Quen, kemarilah, Nak. Momy ingin memelukmu," ucap Jeslyn sambil membuka kedua tangannya.
Quen berlari mendekati Jeslyn lalu memeluknya sambil tersenyum senang.
"Selama persiapan kau menghilang bagai ditelan bumi, bahkan, semalam saat pesta ulang tahun kakakmu pun kau juga tidak hadir. Jadi kau yang atur semua ini? Umi Fatiya sudah menceritakan semua pada kami," ucap Jeslyn.
"Momy... " Al tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat tatapan mata Quen yang memberikan isyarat untuknya tetap diam. Tidak mengatakan kalau dia hadir walau hanya saat acara dansa, itupun juga tidak sampai rampung.
__ADS_1
"Semalam kau kemana, Al? Kami sangat mengkawatirkanmu," tanya Clara.
"Aku cari Quen di apartemennya, Ma. Dia tidak ada, aku menunggu sampai tadi pagi," jawab Al, berbohong.
"Anak papa kemana saja ini? ha?" tanya Vano sambil mencubit hidupbg putrinya.
"Aduh, sakit, Pa. Quen semalam ngerjain tugas di rumah Gea. Dan tadi pulang-pulang kakak ada di apartemen."
"Kemari, Al. Kita mulai acara ini dengan Do'a," ucap Umi Fatiya.
Acara yang dilakukan di panti asuhan sangat meriah, walau terkesan sederhana dan jaub dari kata mewah, apa lagi yang menbuat hati mereka senang selain dari senyuman dan tawa anak-anak panti pada saat itu, bahkan Quen juga mendata anak-anak membelikan semua anak panti itu pakaian baru dan memberinya bingkisan kadi berisi snack dan mainan buat mereka. Berwana pink untuk anak perempuan berisi satu set mainan masak-masakan dan boneka barbie. Dan kado berwarna biru untuk anak laki-laki, berisi robot dan mobil-mobilan. Semua tertawa dan bermain bersama bersama Al dan Quen di halaman.
Sementara Zahara hanya melihat dari teras bersama Uminya di teras bersama keluarga Al dan Quen. Senyuman kecil terlukis di sudut bibir wajah itu melihat kekompakan dua bersaudara itu saat bermain bersama anak-anak.
"Al dan Quen sudah tumbuh bersama sejak kecil, ya Bu Clara. Mereka sangat mirip dan memiliki kepribadian yang sama, lihatlah keduanya! Mendadak berubah menjadi kekanak-kanakan jika berkumpul dengan anak kecil," ucap Umi Fatiya.
"Iya, saya tidak menyangka kalau Quen akhirnya mengetahui kebenarannya, selama ini dia tidak tahu kalau Al adalah kakak angkatnya, Umi," jawab Clara.
"Clara, kemarin aku menggoda Quen aku suruh menikah saja dengan Al, dia tidak mau, katanya, sebaik apapun laki-laki dia akan berubah menyebalkan jika sudah jadi suami. Biar kak Al jadi kakakku saja selamanya, nanti jika suamiku menyebalkan, biar kak Al yang memukulnya untukku, katanya," ucap Jeslyn dan disambut tawa oleh semuanya begitu mendengar hal itu.
"Al tidak menyukai Quen, dia spertinya punya gadis pujaan lain, hanha saja, dia tidak pernah berterus terang pada kita, iya kan sayang?" sahut Vano.
"Sebagai ayah yang baik, kau bantu dia pilihkan gadis yang, Van. Gadis yang disukainua sudah tidak ada lagi," sahut Andreas.
"Vano bantu, tidak tahu selera dia, mau sama Lyli nanti malah brantem lagi sama Quen," ucap Vano sambil tertawa.
Mata Zahara lekat memandangi ke arah anak-anak yang bermain ular naga bersama Al dan Quen yang menjadi pentolannya. Mereka saling kejar dan tangkap tak peduli usia. Kedua anak yang sudah dewasa namun masih ceria.
__ADS_1
Tapi, tunggu. Bukan mereka melainkan lebih terfokus pada pria bertubuh tinggi dan tampan itu. Sejak pertama ia melihat Al, gadis itu sudaj menyimpan rasa tertarik pada pria itu. Terlebih ketika masuk ke dalam rumahnya bersama anak istri Akbar, Zahara terpukau dengan bentuk tubuh Al. Tapi akhirnya dia malu sendiri karena Quen mengetahuinya dan terang-terangan mengatkan kalau ada cewek yang memperhatikan tubuh telanjangnya sambil matanya melirik ke arahnya.
"Umi, Zahara bantu beresin bekas makan siang tadi, ya?" Pamit Zahara pada uminya. Dan bergegas pergi ke dalam. Dia tidak mau terbuai dan hanyut dalam khayalannya jika terus memandangi wajah tampan itu. Ia takut benar-benar menyukainya. Melihat tampang Vano, Zahara yakjn dia type pria yang susah untuk di taklukan. Jadi, tidak ada yang bisa dia lakukan selain memendam perasaannya sendiri dan sebisa mungkin menghindari saja.