Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 2


__ADS_3

Sejak saat kejadian itu, Nayla hanya menjadi pribadi yang


penutup dan cenderung introverent. Hanya berdiam diri menghabiskan waktu di


rumah setelah bekerja. Saat liburan pun jarang sekali mengajak putrinya untuk


keluar. walau hanya sekedar jalan-jalan. Dia tak ingin lagi mengenal pria baru.


Bersamaan dengan lunturnya rasa suka kepada Jevin, muncul pula rasa sesal yang


menghebat di hatinya atas kesalahannya yang membuat Al pergi dari dirinya.


Dia memang sudah tak pernah lagi bertemu dengan mantan


suaminya itu. Tapi, Bilqis yang sudah dari kecil mengenal Al sebagai sosok papa


dia sering bermain ke kediaman Al dan menemani mantan nenek tirnya di rumah


saat semua orang tengah sibuk.


Sementara Jevin. Kini dia sudah tak lagi memiliki sugar momy


yang sekaya dan setajir Nayla dulu. Luna kini telah hamil dan memiliki banyak kemauan. Tak hanya menuntut, tapi ia juga menekan agar suaminya bisa


menghasilakan uang yang lebih dan lebih saja terus setiap saat. Karena ia


adalah wanita sosialita yang berkumpul dengan temannya yang rata-rata adalah pengusaha sukses. Sehingga hal itu membuat ia terlena dan ingin mengikuti mereka, dia tak sadar kalau dia hanya berdiam di rumah tak berpenghasilan. Semua kebutuhan hidup, Jevin sendiri yang menanggungnya.


“Mas, aku gak mau tahu. Bulan depan temanku ada yang ulang


tahun. Aku harus menyiapkan kado yang bagus untuk dia,” ucap Luna dari teras


sambil membersihkan kuku jarinya yang meruncing.


“Kamu mau ngado apa? Kamu yang ngerti dong, aku itu cuma


karyawan biasa dan gajiku itu tidak lebih dari duapuluh juta, Lun!” Bahkan


penampilan Jevin saat ini sangat kucel, tidak rapi, dan tak terawat. Tak jarang pula pria itu pergi ke kantor mengenakan kemeja yang lusuh dan kusut karena memiliki istri


yang hanya sibuk mempercantik diri dan bersosialita jalan-jalan kesana kemari.


“Aku tidak mau tahu itu. Kau kan laki-laki dan kepala


keluarga, jadi kamu harus tahu, donk bagaimana caranya bisa memenuhi


kebutuhanku sebagai seorang istri,” jawab Luna dengan cueknya. “dan kau tahu,


siapa yang meberi kado paket liburan bulan  madu selama satu minggu di Bali itu siapa? Tiara, Mas. Itu senilai


sepuluh juta. Jadi, kita juga harus memberinya kado yang sepadan, atau aku akan


dikucilkan nanti sama teman-teman,” imbuhnya.


Dengan perasaan yang tak keruan dan hati kacau, pria itu pun


berangkat ke kantor hanya dengan minum secangkir kopi. Itupun dia harus


membuatnya sendiri. Sejak kehamilan Luna, Jevin seolah kehilangan harga dirinya


sebagai laki-laki. Luna jadi pribadi yang pemalas dan pemarah. Untuk makanan


jika Jevin tidak mau memasak sendiri untuk mereka, ia akan memebeli makanan via


online dari rumah makan yang harganya fantastis.


Memiliki istri yang begini, Jevin jadi teringat dengan Nayla. Sekalipun dia bersuamikan orang kaya raya, dia tidak pernah bersosialita menghamburkan uang untuk keperluan yang tidak penting. Dia baru mengeluarkan uang suaminya dalam jumblah banyak juga saat ia memorotinya.


Merasa bingung dan tak menemukan jalan keluar, usaha


sampingan juga tidak ada. Kembalipun pada Nayla juga tak mungkin, karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi, Jevin berusaha keras memikirkan jalan keluarnya. Terlebih uang lembur juga tak bisa memenuhi kebutuhan


Luna. Jevin kembali nekat menggelapkan uang perusahaan sebesar lima puluh juta


rupiah. Dulu memang dia sering melakukan ini saat tempat ia bekerja di pegang oleh Al. Tapi, ketika kembali dipegang oleh Vano, ia masih belum lagi melakukan


itu. Krena rumornya Vano adalah orang yang teliti, walaupun Cuma sepeser ada dana yang tidak jelas pengeluarannya, ia akan mengurus dan mengusut sampai tuntas. Lain halnya dengan Al yang terkesan


cuek dalam segala hal sekalipun dia terkenal sebagai bos yang galak.


Satu kali dua kali Jevin masih aman. Tapi, tidak untuk yang


ketiga kalinya. Dari awal Vano sudah mulai curiga. Setelah mengumpulkan


bukti-bukti yang jelas kalau uang sebanyak tujuh puluh lima juta masuk ke dalam


rekening pribadi Jevin tanpa sepengetahuan pihak perusahaan bahkan dirinya.


“Dulu ini pernah terjadi, Om saat masih Al yang memegang


perusahaan. Tapi, Al hanya diam saja sampai akhirnya ia berhenti sendiri,


mungkin karena berganti morotin Nayla. Dan sekarang dia tidak ada lagi yang bisa


diporotin, jika dibiarkan begini, bisa habis dan bangkrut perusahaan kita, Om” ucap Juna.


Vano diam dan mengangguk pelan di depan berkas laporan  bukti kejahatan Jevin.  “Minta bagian HRD untuk memanggil Jevin suruh


ke ruanganku, Jun. Dan kau boleh kemabli.”


“Baik, Om.”


Selang beberapa menit, pintu ruangan Vano diketuk dari luar.


“Masuk!” jawab Vano tegas,


Ia sudah menduga


kalau yang akan masuk ke dalam ruangannya adalah Jevin. Dengan nada dingin pula


Vano meminta pria itu duduk di kursi depan mejanya.


Pria itu duduk. Sekalipun ia sudah berusaha untuk tenang dan


tidak gugup, kecemasan masih saja terkihat jelas tersirat pada raut wajahnya.


“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?”


“Tidak, Pak. Memang ada apa, Pak?” tanya pria itu, akhirnya


tergagap pula saking gugpnya.


“Kamu merasa melakukan kesalahan apa tidak? Ya mungkin kamu


memang sengaja melakukannya. Ingat, aku bukan Al yang hanya diam saja saat ada


penggelapan uang perusahaan. Sekalipun itu Cuma satu rupiah akan aku urus.”


Seketika keringat dingin langsung mengalir di pelipis Jevin.


Jantungnya berdetak dengan kencang. Dalam hati pria itu mengumpat, ‘Akhirnya, tamat sudah riwayatku!’


“Sekarang ada dua pilihan, dan kau pilih salah satu. Sekarang juga kau kemasi barang-barangmu dan berhenti bekerja di sini atau menyerahkan diri pada polisi?”


Jevin langsung terkejut. Ia tidak menyangka kalau


konsekwensinya akan seberat itu. Antara dipecat dan dipenjara.


“Pak, saya baru melakukan satu kali kesalahan, kenapa


langsung diberhentikan dari pekerjaan saya? Tidakkah ada surat peringatan satu, dua, dua dan tiga?”


tawar pria itu, seolah demi pekerjaan ia rela menggadaikan muka dan rasa


malunya sampai berani berkata demikian pada Vano.


“Tahun lalu kau sudah mengambil sebanyak limaratus juta, dan


selama tiga bulan ini bahkan kau sudah mengambil tujuratus lima juta. Itu bukan kejahatan biasa,


sudah satu milyar lebih uang perusahaan yang kaun gelapkan. Jika kau masih


ingin bekerja di sini dan tidak mau masuk penjara, kamu kembalikan uang itu


dalam waktu tiga hari, mampu?” Vano menatap pria di depannya dengan tatapan penuh intimidasi.


Jevin diam dan terpaku, ia berfikir kalau sampai ia


kehilangan pekerjaannya, Luna pasti akan meninggalkannya. Jika harus


mengembalikan itu, uang ia dapat dari mana? Mungkin ia bisa menjual mobil


pemberian Nayla dan rumah ibunya. Tapi, apakah Luna mau tinggal serumah dengan ibunya? Yang ada malah suruh pilih salah satu dari mereka. Pilih ibu Luna minta cerai, pilih Luna, lantas, akan tinggal di mana ibunya?


Jevin benar-benar pening sampai akhirnya ia pun menjadi


gelap mata. Mengingat Vano yang belum ada satu tahun sadar dari koma, pastilah


konsisi visiknya masih lemah dan rentan. Ia terlihat sehat karena hanya duduk


saja pekerjaannya. Jevin mengamati sekitar dan menemukan sebuah penggaris kayu


sepanjang satu meter, dengan cepat pria itu meraihnya dan hendak memukulkan pada Vano.


“Apa yang kau lakukan pada papaku!” teriak Queen, dan


langsung saja memukul keras tengkuk Jevin. Seketika pria itu pun roboh, tapi


tidak sampai hilang kesadaran.


“Papa, jaga dirimu baik-baik. Cepat keluar dan cari


bantuan,” ucap Queen. Sebenarnya Vano pun bingung harus pergi meninggalkan putrinya yang tengah hamil muda, atau bertahan tapi, ia sendiri masih lemah dan


tidak bisa melakukan apa-apa.


Vano pun  memilih


tetap tinggal dan menelfon sekuriti. Memang dia tidak sempat berkata apapaun,


Tapi, ketua satpam yang mendengar suara tidak beres seperti orang bekrlahi


langsung mengajak beberapa rekannya masuk ke dalam ruangan bosnya.


Saat dua orang satpam bertubuh tinggi besar dan kekar datang,


Queen sudah jatuh dan tersungkur di atas lantai. Rambutnya berantakan, Jevin berkali-kali menjambak rambutnya dan membenturkan kepala wanita itu pada


dinding ruangan Vano. Queen tak pedulikan dirinya, terlihat sekali, ia hanya


peduli dengan janin yang ada dalam kandungannya. Saat terjatuhpun juga bagian perut yang ia lindungi.


Sementara Vano, ia sangat shok melihat putri semata


wayangnya diperlakukan seperti itu tepat di depan mata kepalanya sendiri. Jevin, yang sebetulnya memang tidak suka pada Queen, apalagi setelah ia menggrebeknya itu, seolah menjadikan ini kesempatan untuk bala dendam, menghajar wanita yang sudah lemah tak berdaya. Terakhir, ia sudah bersiap melayangkan kakinya untuk menendang perut Queen. Ia berfikir kalau mangsa didepannya tengah mengandung. Karena mengamati geraknya yang tak bebas dan hanya melindungi bagian perut saja.


“Queen!” seru pria itu yang juga tidak berdaya, saat satu kali dorongan Jevin sudah membuatnya roboh menabrak rak tempat penyimpannan berkas dan sebagian juga menjatuhi dirinya


Seketika, dua satpam itu pun langsung dengan sigapnya


membekuk Jevin dan hendak membawanya ke kantor polisi. Tapi, dengan cepat Juna


mencegahnya.


“Tunggu dulu! Dia berani memukul om Vano dan menghajar


adikku, maka, ia harus merasakan hal yang sama.”


“Kak Juna, jangan apa-apakan dia. Aku tidak mau kau juga


menjadi tersangka penganiayaan nantinya. Pikirkan masa depanmu dan juga Gea.


Aku tidak apa-apa,” ucap Queen dengan lemah dalam pelukan papanya.


Juna yang sudah bersiap mengepalkan tangan dan


mengayunkannya pada muka Jevin pun urung. Tangannya mengambang di udara. Apa yang Queen katakana benar, tidak


terima boleh saja. Tapi, jika mau melampiaskan kekesalan juga jangan mengorbankan


dirinya. Jika masih ada cara lain yang aman, kenapa tidak?


“Baik, kita tunggu Al saja.” Jevin melihat ke arah luar ruangan


tersebut dan banyak orang di sana. “apakah kalian sudah memanggil ambulan?” tanyanya


pada mereka.


“Sudah. Baru saja saya menelfonnya,” jawab salah satu dari mereka.


Al yang mendengar kabar kalau ada kekacauan di kantor


papanya dan melibatkan Queen langsung saja menuju ke sana. Ia menaikan kendaraanya seprti orang kalap. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu,


jarak tempuh yang harusnya dicapai empat puluh menit dalam kecepatan normal ia


menempuhnya tak sampai limabelas menit. Tiba di perusahaan pun juga Al tidak


meletakkan mobilnya pada parkiran dengan baik. Ia langsung saja melajukan


dimanapun kiranya bisa dilewati mobil tak peduli apapun. Ia berfikir tak akan ada yang berani protes dan marah padanya sekalipun aku membawanya masuk ke dalam kantor.


Tiba di ruangan papanya ia terkejut melihat keadaan Queen


yang seperti itu.


“Ambulan mana? Kenapa kalian semua cuma diam dan menonton


saja?” bentak Al, entah pada siapa ia marah. Tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab.


“Pa, apakah terjadi sesuatu kepadamu?” tanya Al panik.


“Tidak, Al. Papa tidak apa-apa. Ambulan mungkin sedang


menuju kemari, sudah ada yang menghubungi tadi,’’ jawab Vano berusaha meredam

__ADS_1


emosi putranya.


“Ck, kenapa lelet sekali?” umpatnya. Merasa tak sabar dan


takut hal buruk terjadi pada istri dan calon anaknya, Al langsung menggendong


Queen dan membawanya pergi ke rumah sakit.


Saat melihat Juna, ia memberi kode yang hanya mereka berdua


saja yang tahu. Al pun melanjutkan langkahnya pergi menggendong Queen sementara


Juna mengangguk dan meminta dua scuriti itu untuk mebawa Jevin ke kantor polisi.


Setelahnya, ia menghampiri om Vano dan meminta cleaning service


untuk mengambilkan segelas air putih.


“Om, apakah kau tidak apa-apa?” tanya Juna, ia panik dan


takut hal buruk terjadi.


“Aku tidak apa-apa, Jun. Tadi, baru saja Jevin hendak


memukulku, Queen tiba-tiba saja muncul dan memukul keras tengkuknya sampai ia


roboh. Ayo kita ke rumah sakit dulu, lihat keadaan Queen. Seperinya parah.” Vano berusaha berdiri dengan bantuan Juna.


“Baik, Om. Bawa mobil saya saja.”


Saat mereka berjalan menuju ke parkiran, Juna mengirim pesan


kepada Vico untuk bantu urus Jevin yang kini tengah di bawa ke kantoe polisi.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Al pada seorang


dokter yang menangani istrinya.


“Luka ringan saja, tidak masalah. Janin juga aman-aman saja.


Bu, bawa rilex saja, jangan sampai kejadian tadi membuat anda stress. Temani


istri anda, ajak ngobrol, jangan sampai kejadian tadi membuatnya jadi trauma


ya, Pak?’’


“Iya, dok. Termikasih.” Al langsung tenang mendengar jawaban itu, karena dia tidak tahu sendiri apa yang Jevin lakukan pada istrinya tadi. Mungkin lain lagi jawabannya jika ia tahu bagaimana istrinya jadi korban kalapnya pria itu.


Al langsung menghampiri Queen. Dipegangnya tangan istrinya


dengan lembut dan ia mengusap perlahan kepalanya.


“Kepalaku sakit, Al,” keluh Queen. Memang tadi Jevin sempat beberapa


kali membenturkan kepalanya pada meja dan juga dinding.


“Sakit banget, ya?” tanya Al panik.


“Iya, nih. Kok makin parah saja, ya rasanya? Aduh Al… “


“Ck, gimana cara dokter tadi bekerja? Kenapa dia bilang


tidak apa-apa, sedangkan istriku terlihat sangat kesakitan.”


“Kita pindah rumah sakit saja gimana?” usul Al.


“Tidak usah, tolong kamu tekan kepalaku agak keras begini,


aku lebih baik dengan begitu.” Queen mengambil tangan suaminya dan meminta agar


menekan sedikit kuat pada kening dan terutama di antara kedua alisnya.


“Bagaimana, apakah kau sudah merasa baikan?” tanya Al sambil


memijat lembut dengan dua jari di atara alis istrinya.


“Ya, begitu saja, lakukan terus.”


Queen memejamkan matanya dan akhirnya, ia pun tertidur, mungkin


juga efek obat yang diberikan dokter tadi sudah mulai bekerja.


Al mengamati Queen yang sudah benar-benar pulas sambil


memegang tangannya. Tiba-tiba saja ponsel dari dalam saku celananya berdering.


Pria itu segera mengambil ponsel itu dan melihat ke arah istrinya


yang masih pulas tertidur lalu menjauh dari hospitalbad dan mengangkat panggilan itu.


‘’Halo, apakah ada masalah, Vic?”


“Aku sudah berada di kantor polisi. Kita menggunakan yang


sudah basah saja, kan? Mau dibagaimana, kan?”


“Buat saja sampai cacat dan tak lagi berfungsi senjatanya,


agar tak jadi simpanan tante-tante setelah bebas dari penjara nanti.”


“Hahaha, menarik. Kurasa sebentar lagi istrinya juga akan menggugatnya.”


“Ya, aku tidak menjamin dia jera. Ya sudah lakukan saja


semua sesuai alur, dan jangan lupa selalu rapi.”


"Baik, boss.”


Panggilan pun


dimatikan. Vico pun membuka komputernya dan kembali melakukan hobinya yang lama


terhenti. Sebagai hacker. Ia sengaja mengehack data kepolisian. Sasarannya kali


adalah kantor polisi yang tadi menahan Jevin. setelah data-data yang ia mau ia


dapatkan, segera pria itu menyalinnya pada ponsel genggamnya kemudian, ia


mendatangi alamat yang tertera di sana satu persatu. Ada sekitar limabelas orang.


“Hehehe, ini sangat menarik pastinya,” ucapnya sambil tersenyum


seram. Lebih tepatnya, ia menyeringai. Kemudian, ia mulai melanjutkan misinya


dengan lima anak buahnya yang memang paling ia percaya dan selalu bisa


diandalkan.Hanya butuh satu hari saja Vico sudah berhasil menjalankan


misinya dengan baik.


Keesokannya pihak keluarga dari teman satu selnya Jevin


datang untuk membesuk. Lain halnya dengan Jevin. Bahkan saat ia menghubungi


Jadi, yang bisa ia lakukan hanya mengabari kakanya yang ada diluar kota saja,


sekalian menitipkan sang ibu pada sang kakak.


Pada saat jam makan malam, teman satu jeruji Jevin berkumpul


dan mendiskusikan sesuatu, seperti apa yang ia dapatkan dari keluarganya di


rumah adalah sama. Mereka jadi penasaran, dengan siapa pria bernama Jevin itu


cari masalah, sampai-sampai bisa serumit itu urusannya. Dipenjara saja tak cukup. Mungkin, jika tidak ada urusan dengan hukum, pastilah orang itu sudah menghajarnya sendiri.


Lalu, dari mana orang itu bisa menemukan data dan alamat keluarga mereka? Itu yang masih membuat mereka heran dan bertanya-tanya.


Bagi mereka para narapidana yang lama akan tinggal di dalam


tahana sudah tak peduli dengan apapun. Yang penting keluarga di rumah yang


ditinggalkan bisa makan dan hidup cukup juga sudah baik. Apalagi ada tawaran


limapuluh juta untuk keluarga, serta uang jaminan Pendidikan atau deposit


selama mereka masih di penjara. Sampai mati pun di bui juga tak masalah.


“Gimana? Kamu setuju tidak?”


“Kenapa gak? Yang penting anak istri makan dan biaya hidup


tercukupi beres.”


“Tapi, kira-kira dia bohong gak pada kita?”


“Kalau bohong ya kita lapor polisi saja kalau ada yang


mendatangi keluarga kita, meminta kita untuk menghajar Jevin rame-rame nanti


keluarga yang dirumah akan diberi uang sebesar limapuluh juta dan biaya


Pendidikan anak dijamin sampai lulus SMA. Mereka, juga bisa jadi saksi.l


Akhirnya, setelah limabelas orang itu sudah berunding dan menentukan


kesepakan, salah satu dari mereka sengaja menacing-mancing Jevin agar emosi.


Ketika Jevin emosi, ia memukul teman satu tahanan yang jauh lebih lama darinya,


alhasil, hal itu menjadi alasan kenapa mereka mengeroyok Jevin yang hanya


sendirian belum ada teman satupun. Karena mereka semua sudah dibayar Al.


“Tolong tolong ada yang dihajar sampai sekarat dan sampai


hampir mati!” teriak orang-orang di tahanan yang lain yang kebetulan menyaksikan itu.


Mendengar suara gaduh, polisi yang bertugas menjaga lapas


langsung berlari dan melihat. Ternyata benar, Jevin yang baru tiga hari di sini


telah lemas tak berdaya, mukanya bengeb dimana-mana, bahkan bajupun juga bersimbah darah.


“Stop! Ada apa ini?’’ teriak seorang sipir pria. Ia membuka


pintu penjara dan dua sipir lainnya menjaga pintu. Hal seperti ini tidak jarang terjadi, setiap kali ada narapidana baru, pasti ada saja ulah para tahanan


lama. Cuma, ini termasuk yang paling parah yang pernah dilihat sipir itu selama lima tahun berjaga di tempat ini.


Karena keadaannya kritis, Jevin pun segera dilarikan ke


rumah sakitt polres dan dikawal oleh dua orang polisi, sedangkan lima belas


orang yang menghajar ramai-ramai Jevin mereka diintrogasi. Berdasarkan jawaban


mereka, Jevin lah yang bersalah. Hanya saja, Jevin masih belum sadarkan diri,


jadi masih belum bisa untuk ditanya.


***


Usai menyuapi Queen, Al berniat meluruskan pinggangya sambil


merebah di sofa. Toh di sana juga sudah ada mama dan papa mereka yang juga turut menjaga Queen. Hanya saja mereka nanti akan pulang, yang akan bermalam di sini nanti hanya Al saja.


Untuk menghilangkan jenuh, iseng-iseng Al menyalakan


televisi dan melihat siaran brita, yang mmeberitakan terjadinya pengeroyokan dilapas.


Al sudah menduga kuat kalau itu adalah Jevin. Tak mau


ulahnya ketahuan oleh orang tua dan juga istrinya, Al mengirimkan pesan kepada


Vico untuk melihat berita dan melakukan pengecekkan ke lapas.


Sepuluh menit kemudian, Vico memberi kabar, kalau yang dihajar itu


benar adalah Jevin, sekarang dia dilarikan di rumah sakit polres dan sampai


masuk UGD. Mendapatkan jawaban itu, Al sangat puas. Baginya, siapapun berani


menyentuh orang yang ia cintai, tangannya harus patah. Tapi, dia tidak hanya menyentuh Queen, bahkan menghajar sampai separah itu. Beruntung sekali di


ruangan Vano terpasang cctv jadi, ia bisa melihat bagaimana kejadiannya dan


sekaligus diserahkan pada polisi untuk dijadikan barang bukti.


Vano melihat ke arah jam tangannya. Ternyata ini sudah


larut. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, akhirnya mereka berdua pun pamit.


“Ya sudah sayang. Papa dan mama pulang dulu, ya? Papa janji,


besok bersama kakek akan kemari dulu sebelum papa ke kantor,” ucap Vano.


“Kamu juga cepat sembuh ya sayang,” timpal Calara pula.


Queen hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan ringan


saja.


Clara dan Vano melihat ke arah Al yang masih rebahan dan


memainkan ponselnya. Dari wajahnya saja sangat ketara kalau pria itu sangat


kelelahan. Sampai-sampai, ia tidak mendengar kalau mereka sudaah pamit pada


istrinya. Jelas saja Al tidak mendengar, atau karena pikirannya kemana, biasanya, jika menyadari orang yang tengah bersamanya dalam satu ruangan pamit


untuk kembali ia selalu bangkit dan meletakkan apapun yang ia pegang.


“Al. kami kembali dulu, ya?” ucap Clara yang masih duduk di atas kursi roda.


Dengan terburu-buru dan setengah terkejut, pria itu segera

__ADS_1


beranjak dan menghampiri kedua orangtuanya.


“Mama sama Papa mau pulang sekarang? Hati-hati, ya?” ucap


pria itu.


“Iya, kamu juga, jaga kesehatan, jangan sampai kamu jadi


ikut sakit karena menemani istrimu di sini. Istirahat yang cukup,” pesan Vano


pada putrnya.


Al mengantarkan kedua orangtuanya sampai depan pintu saja,


kebetulan, letak lip tidak jauh dari kamar yang ia pesan. Jadi, ia bisa melihat


sampai keduanya masuk ke dalamnya. Barulah Al masuk dan kembali menghampiri Queen.


“Bagaimana keadaanmu? Uda mulai baikan belum?” tanya Al


sambil duduk di kursi samping Queenn berbaring.


“Aku sudah mulai baikkan, Mungkin besok aku sudah bisa


pulang.”


“Semoga saja, kamu tidak stress kan tinggal di rumah sakit?”


tanya Al yang memang paling mengerti dan paham kalau Queen paling tidak suka di


rumah sakit.


“Asal kamu temenin aku aja, gak apa-apa.”


Al tertawa menunjukan deretan giginya yang putih dan rapi.


“Ini sudah malam, kamu tidur dulu, deh!”


“Gak bisa tidur.”


“Kenapa?”


“Pengen makan pudding sutra.”


“Kamu ngidam?”


“Ya gak tahu, tiba-tiba saja aku kepengen.”


Al menghela napas Panjang, ia diam sesaat dan berfikir,


semalam ini mau mendapatkan pudding itu di mana? Pikirnya. Lagipula ia juga


tidak mungkin keluar meninggalkan istrinya sendirian di ruma sakit. Al


mengedarkan pandangannya pada sofa di mana ia berbaring tadi, di sana benda


pipih yang selau jadi andalan tergeletak begitu saja.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Al beranjak mengambil


poselnya, ia membuka aplikasi yang menjual aneka makanan online dan mencari pudding sutra.


Beruntung masih ada yang buka semalam ini, dan masih ada driver online yang mau mengantarkannya.


“Ini ada rasa stowberi, melon, kiwi sama kayu manis saja,


Sayang, kamu mau yang mana?”


“Coba pesankan satu cup rasa melon dan satu cup lagi aku mau coba


yang kayu manis itu.”


“Baiklah, tunggu dulu, ya. Agak lama ini kayaknya. Karena


lokasi dari rumah sakit sedikit jauh.”


“Baiklah! Dan mungkin aku juga tidak akan dapat tidur kalau belum mendapatkan apa yang aku mau,’’ jawab Queen dengan manja.


“Ya sudah kau beristirahat saja dulu. Apa lagi yang kau


inginkan?”


Queen nampak berfikir. Kemudian ia menggeser tubuhnya ke


samping dan menepuk tempat di sebelahnya sambil tersenyum.


Al merasa bingun dan menaikkan sebelah alisnya. “Hah?’’ Cuma


itu saja yang keluar dari bibirnya.


“Kau berbaringlah di sebelahku sini, dan ceritakan aku


tentang sesuatu. Apakah kau mau?”


Sekali lagi Queen menawarkan senyuman dan raut wajah yang


tak mampu Al tolak. Sebenarnya ia hanya takut kalau nanti ada yang tiba-tiba masuk saja ke dalam ruang inapnya. Tapi, jika tidak menurutinya akan dianggap tidak mau karena tidak lagi sayang.


“Bagaimana kalau ada yang masuk?”


“Kenapa? Ini sudah malam, tenaga medis juga manusia, mereka


butuh istirahat dan tidur. Lagipula kenapa kalau ada yang lihat? Kita suami


istri yang hanya sama-sama baringan tidak macem-macem.”


Al kembali tertawa karena gemas dengan jawaban Queen. Ingin


sekali dia menerkamnya saat itu juga. Tapi, sayang. Ini adalah rumah sakit,


walaupun pintu bisa dikunci dan hanya ada mereka berdua saja di sana karena


mereka memesan ruangan VIP. Namun, tetap saja, rasanya tidak sopan. Terlebih Queen juga masih sakit.


Al pun merebahkan tubuhnya di hospitalbad dan bertaya pada


wanita di sebelahnya, “Mau apa kau sekarang?”


“Aku ingin mendengarkan kau bercerita.”


“Cerita apa yang ingin kau dengar?” tanya Al sambil melihat Queen.


“Apapun.Asal kau mau bercerita, pasti akan aku dengarkan.”


Belum juga Al memulai ceritanya, mungkin juga masih berfikir


atau bahkan ide pun juga belum ditemukan. Suara chat dari ponselnya berbunyi.


Dengan segera pria itu melihatnya. Kemudian menoleh ke arah Queen dan berkata,


“Sayang, kurir sudah tiba di rumah sakit. Aku keluar dulu, ya?”


“Baiklah!”


Dalam sekejap saja Al sudah lenyap dari pandanga Queen.


Untuk menghilangkan rasa bosan, Queen meraih ponsel miliknya


yang berada di atas nakas. Didapatinya banyak pesan chat dari teman-temannya,


dan juga saudarinya, Hanifah. Ia kebetulan tidak berada di Jakarta, ia berada


di Bali katanya. Melakukan bulan madu yang sempat tertunda karena Diaz tengah ujian.


“Queen, aku dengar dari om Vano katanya kau masuk rumah


sakit karena kegilaan Jevin? sekarang bagaimana keadaanmu?” tulis Hanifah.


Queen tersenyum seorang diri. Hanifah masih tetap seperti


dirinya yang dulu, terlebih sekarang semua saling memaafkan, hubungannya dengan Diaz juga sudah membaik dan berkomunikasi layaknya saudara, begitupun Al. Tak


lagi ada aura permusuhan saat dua pria itu berjumpa.


“Ya, benar. Aku yakin Jevin berani menyakitiku bukan karena


aku berusaha menyelamatkan papaku. Tapi, memang ada dendam yang belum


tersalurkan, dan saat itu juga ia memanfaatkannya,” tulis Queen pada Hanifah.


“Dendam?”


“Karena yang membongkar kedoknya selingkuh di depan Al


bersama Nayla adalah aku, gara-gara aku dia diarak telanjang dari hotel kerumah sakit ramai-rama.”


Hanifah membalas dengan stiker tertawa. Setelahnya, ia


menuliskan kalimat “Itu pantas untuknya, karena otaknya rusak jadi dendam sama kamu,hahaha.”


“Ckreek!”


Queen memandang ke arah pintu. Ternyata Al yang datang.


Lagian, mau siapa lagi? Ini sudah malam, jam sepuluh lewat. Orang besuk juga tidak mungkin.


“Kukira kau sudah tidur, Sayang. Jadi, belum?”


Queen meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, dan


duduk bersandar. “Bagaimana aku bisa tidur kalau yang aku tunggu belum tiba?”


“Ya, sudah. Kau makan saja ini, perlu disuapin?”


“Iya, mau!”


Dengan telaten Al menyuapi Queen pudding yang baru saja


dipesannya. Entah, dia yang pengen, benar-benar suka dan sedikit lapar atau


nyidam, dua cup ukuran 300ml ia hampir menghabiskannya sendiri. Karena Al juga sempat mencicipi beberapa sendok saja di masing-masing rasa.


*****


“Tuan, apakah ini tidak berlebihan? Anda sudah memberi kamu uang


tunai sebesar limapuluh juta. Tapi, masih memberi tunjangan Pendidikan pada


anak-anak kami?” ucap seorang wanita paruh baya.


“Tidak, ini adalah upah suami kalian yang sudah bekerja


untuk bos kami. Terima saja, semoga ini bisa membantu sampai suami anda bebas dari tahanan.”


Setelah mengucapkan itu, pria yang memakai jas hitam dan


masker itu pun pergi meninggalkan rumah tersebut.


“Tunggu!”


Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang, saat ia sudah berjalan sejauh lima meteran.


“Ada yang perlu saya tanyakan pada anda. Apakah dengan


menghajar orang, suami saya akan menambah masa tahanannya?” tanya wanita itu, ketakutan.


“Aku bisa jamin, itu tidak akan terjadi.” Kemudian pria itu benar-benar pergi dan lenyap dari pandangan wanita itu.


“Bagaimana? Apakah semua beres?” tanya Vico pada beberapa


anak buahnya yang baru saja kembali.


“Sesuai permintaan, Bos.”


“Bagus! Ini bayaran kalian, dan segera pergi dari sini,


jangan biarkan tunanganku melihat salah satundari kalian.”


Vico melemparkan lima amplop tebal pada lima pria tersebut


dan kembali bersantai dan menghubingi Shinta.


“Halo, Sayang. Apakah kau sudah berangkat? Jika belum, aku


akan menjemputmu saja,” ujar pria itu saat panggilannya sudah dijawab.


“Kenapa? Tidak usah. Aku lagi pengen ke tempat kamu sendiri


tanpa dijemput, oke.”


“Kau masih apa?”


“Ini baru saja keluar mobil,” jawab wanita itu sambi


tersenyum.


“Ya sudah, aku tidak mau menganggumu saat mengemudi,


hati-hati sayang.”


Panggilan pun terputus. Tapi, beberapa detik setelahnya bel


rumahnya berbunyi. Vico mengira ada salah satu anak buahnya yang datang. Tapi, untuk apa? Bukankah semua misi sudah selesai dengan baik? Pekerjaan juga sudah tidak ada lagi.


“Duh, siapa, sih?” keluhnya seraya memaksa berjalan ke pintu


ruang tamu yang terasa sangat berat dan jauh. Padahal hanya beberapa meter saja


dari tempatnya bermalas-malasan.


Sepertinya orang yang berada di balik pintu itu sangat tidak sabar untuk masuk, terlihat dari cara bagaimana ia memencet belnya yang terus berulang-ulang meskipun pemilik rumah sudah menjawab.


Hal itu, jelas sanggat mengganggu Vico dan membuatnya marah. “Iya sebentar,


bangke!” umpat Vico dan membuka pintu rumahnya dengan sangat kasar!

__ADS_1


__ADS_2