
Sejak saat kejadian itu, Nayla hanya menjadi pribadi yang
penutup dan cenderung introverent. Hanya berdiam diri menghabiskan waktu di
rumah setelah bekerja. Saat liburan pun jarang sekali mengajak putrinya untuk
keluar. walau hanya sekedar jalan-jalan. Dia tak ingin lagi mengenal pria baru.
Bersamaan dengan lunturnya rasa suka kepada Jevin, muncul pula rasa sesal yang
menghebat di hatinya atas kesalahannya yang membuat Al pergi dari dirinya.
Dia memang sudah tak pernah lagi bertemu dengan mantan
suaminya itu. Tapi, Bilqis yang sudah dari kecil mengenal Al sebagai sosok papa
dia sering bermain ke kediaman Al dan menemani mantan nenek tirnya di rumah
saat semua orang tengah sibuk.
Sementara Jevin. Kini dia sudah tak lagi memiliki sugar momy
yang sekaya dan setajir Nayla dulu. Luna kini telah hamil dan memiliki banyak kemauan. Tak hanya menuntut, tapi ia juga menekan agar suaminya bisa
menghasilakan uang yang lebih dan lebih saja terus setiap saat. Karena ia
adalah wanita sosialita yang berkumpul dengan temannya yang rata-rata adalah pengusaha sukses. Sehingga hal itu membuat ia terlena dan ingin mengikuti mereka, dia tak sadar kalau dia hanya berdiam di rumah tak berpenghasilan. Semua kebutuhan hidup, Jevin sendiri yang menanggungnya.
“Mas, aku gak mau tahu. Bulan depan temanku ada yang ulang
tahun. Aku harus menyiapkan kado yang bagus untuk dia,” ucap Luna dari teras
sambil membersihkan kuku jarinya yang meruncing.
“Kamu mau ngado apa? Kamu yang ngerti dong, aku itu cuma
karyawan biasa dan gajiku itu tidak lebih dari duapuluh juta, Lun!” Bahkan
penampilan Jevin saat ini sangat kucel, tidak rapi, dan tak terawat. Tak jarang pula pria itu pergi ke kantor mengenakan kemeja yang lusuh dan kusut karena memiliki istri
yang hanya sibuk mempercantik diri dan bersosialita jalan-jalan kesana kemari.
“Aku tidak mau tahu itu. Kau kan laki-laki dan kepala
keluarga, jadi kamu harus tahu, donk bagaimana caranya bisa memenuhi
kebutuhanku sebagai seorang istri,” jawab Luna dengan cueknya. “dan kau tahu,
siapa yang meberi kado paket liburan bulan madu selama satu minggu di Bali itu siapa? Tiara, Mas. Itu senilai
sepuluh juta. Jadi, kita juga harus memberinya kado yang sepadan, atau aku akan
dikucilkan nanti sama teman-teman,” imbuhnya.
Dengan perasaan yang tak keruan dan hati kacau, pria itu pun
berangkat ke kantor hanya dengan minum secangkir kopi. Itupun dia harus
membuatnya sendiri. Sejak kehamilan Luna, Jevin seolah kehilangan harga dirinya
sebagai laki-laki. Luna jadi pribadi yang pemalas dan pemarah. Untuk makanan
jika Jevin tidak mau memasak sendiri untuk mereka, ia akan memebeli makanan via
online dari rumah makan yang harganya fantastis.
Memiliki istri yang begini, Jevin jadi teringat dengan Nayla. Sekalipun dia bersuamikan orang kaya raya, dia tidak pernah bersosialita menghamburkan uang untuk keperluan yang tidak penting. Dia baru mengeluarkan uang suaminya dalam jumblah banyak juga saat ia memorotinya.
Merasa bingung dan tak menemukan jalan keluar, usaha
sampingan juga tidak ada. Kembalipun pada Nayla juga tak mungkin, karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi, Jevin berusaha keras memikirkan jalan keluarnya. Terlebih uang lembur juga tak bisa memenuhi kebutuhan
Luna. Jevin kembali nekat menggelapkan uang perusahaan sebesar lima puluh juta
rupiah. Dulu memang dia sering melakukan ini saat tempat ia bekerja di pegang oleh Al. Tapi, ketika kembali dipegang oleh Vano, ia masih belum lagi melakukan
itu. Krena rumornya Vano adalah orang yang teliti, walaupun Cuma sepeser ada dana yang tidak jelas pengeluarannya, ia akan mengurus dan mengusut sampai tuntas. Lain halnya dengan Al yang terkesan
cuek dalam segala hal sekalipun dia terkenal sebagai bos yang galak.
Satu kali dua kali Jevin masih aman. Tapi, tidak untuk yang
ketiga kalinya. Dari awal Vano sudah mulai curiga. Setelah mengumpulkan
bukti-bukti yang jelas kalau uang sebanyak tujuh puluh lima juta masuk ke dalam
rekening pribadi Jevin tanpa sepengetahuan pihak perusahaan bahkan dirinya.
“Dulu ini pernah terjadi, Om saat masih Al yang memegang
perusahaan. Tapi, Al hanya diam saja sampai akhirnya ia berhenti sendiri,
mungkin karena berganti morotin Nayla. Dan sekarang dia tidak ada lagi yang bisa
diporotin, jika dibiarkan begini, bisa habis dan bangkrut perusahaan kita, Om” ucap Juna.
Vano diam dan mengangguk pelan di depan berkas laporan bukti kejahatan Jevin. “Minta bagian HRD untuk memanggil Jevin suruh
ke ruanganku, Jun. Dan kau boleh kemabli.”
“Baik, Om.”
Selang beberapa menit, pintu ruangan Vano diketuk dari luar.
“Masuk!” jawab Vano tegas,
Ia sudah menduga
kalau yang akan masuk ke dalam ruangannya adalah Jevin. Dengan nada dingin pula
Vano meminta pria itu duduk di kursi depan mejanya.
Pria itu duduk. Sekalipun ia sudah berusaha untuk tenang dan
tidak gugup, kecemasan masih saja terkihat jelas tersirat pada raut wajahnya.
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?”
“Tidak, Pak. Memang ada apa, Pak?” tanya pria itu, akhirnya
tergagap pula saking gugpnya.
“Kamu merasa melakukan kesalahan apa tidak? Ya mungkin kamu
memang sengaja melakukannya. Ingat, aku bukan Al yang hanya diam saja saat ada
penggelapan uang perusahaan. Sekalipun itu Cuma satu rupiah akan aku urus.”
Seketika keringat dingin langsung mengalir di pelipis Jevin.
Jantungnya berdetak dengan kencang. Dalam hati pria itu mengumpat, ‘Akhirnya, tamat sudah riwayatku!’
“Sekarang ada dua pilihan, dan kau pilih salah satu. Sekarang juga kau kemasi barang-barangmu dan berhenti bekerja di sini atau menyerahkan diri pada polisi?”
Jevin langsung terkejut. Ia tidak menyangka kalau
konsekwensinya akan seberat itu. Antara dipecat dan dipenjara.
“Pak, saya baru melakukan satu kali kesalahan, kenapa
langsung diberhentikan dari pekerjaan saya? Tidakkah ada surat peringatan satu, dua, dua dan tiga?”
tawar pria itu, seolah demi pekerjaan ia rela menggadaikan muka dan rasa
malunya sampai berani berkata demikian pada Vano.
“Tahun lalu kau sudah mengambil sebanyak limaratus juta, dan
selama tiga bulan ini bahkan kau sudah mengambil tujuratus lima juta. Itu bukan kejahatan biasa,
sudah satu milyar lebih uang perusahaan yang kaun gelapkan. Jika kau masih
ingin bekerja di sini dan tidak mau masuk penjara, kamu kembalikan uang itu
dalam waktu tiga hari, mampu?” Vano menatap pria di depannya dengan tatapan penuh intimidasi.
Jevin diam dan terpaku, ia berfikir kalau sampai ia
kehilangan pekerjaannya, Luna pasti akan meninggalkannya. Jika harus
mengembalikan itu, uang ia dapat dari mana? Mungkin ia bisa menjual mobil
pemberian Nayla dan rumah ibunya. Tapi, apakah Luna mau tinggal serumah dengan ibunya? Yang ada malah suruh pilih salah satu dari mereka. Pilih ibu Luna minta cerai, pilih Luna, lantas, akan tinggal di mana ibunya?
Jevin benar-benar pening sampai akhirnya ia pun menjadi
gelap mata. Mengingat Vano yang belum ada satu tahun sadar dari koma, pastilah
konsisi visiknya masih lemah dan rentan. Ia terlihat sehat karena hanya duduk
saja pekerjaannya. Jevin mengamati sekitar dan menemukan sebuah penggaris kayu
sepanjang satu meter, dengan cepat pria itu meraihnya dan hendak memukulkan pada Vano.
“Apa yang kau lakukan pada papaku!” teriak Queen, dan
langsung saja memukul keras tengkuk Jevin. Seketika pria itu pun roboh, tapi
tidak sampai hilang kesadaran.
“Papa, jaga dirimu baik-baik. Cepat keluar dan cari
bantuan,” ucap Queen. Sebenarnya Vano pun bingung harus pergi meninggalkan putrinya yang tengah hamil muda, atau bertahan tapi, ia sendiri masih lemah dan
tidak bisa melakukan apa-apa.
Vano pun memilih
tetap tinggal dan menelfon sekuriti. Memang dia tidak sempat berkata apapaun,
Tapi, ketua satpam yang mendengar suara tidak beres seperti orang bekrlahi
langsung mengajak beberapa rekannya masuk ke dalam ruangan bosnya.
Saat dua orang satpam bertubuh tinggi besar dan kekar datang,
Queen sudah jatuh dan tersungkur di atas lantai. Rambutnya berantakan, Jevin berkali-kali menjambak rambutnya dan membenturkan kepala wanita itu pada
dinding ruangan Vano. Queen tak pedulikan dirinya, terlihat sekali, ia hanya
peduli dengan janin yang ada dalam kandungannya. Saat terjatuhpun juga bagian perut yang ia lindungi.
Sementara Vano, ia sangat shok melihat putri semata
wayangnya diperlakukan seperti itu tepat di depan mata kepalanya sendiri. Jevin, yang sebetulnya memang tidak suka pada Queen, apalagi setelah ia menggrebeknya itu, seolah menjadikan ini kesempatan untuk bala dendam, menghajar wanita yang sudah lemah tak berdaya. Terakhir, ia sudah bersiap melayangkan kakinya untuk menendang perut Queen. Ia berfikir kalau mangsa didepannya tengah mengandung. Karena mengamati geraknya yang tak bebas dan hanya melindungi bagian perut saja.
“Queen!” seru pria itu yang juga tidak berdaya, saat satu kali dorongan Jevin sudah membuatnya roboh menabrak rak tempat penyimpannan berkas dan sebagian juga menjatuhi dirinya
Seketika, dua satpam itu pun langsung dengan sigapnya
membekuk Jevin dan hendak membawanya ke kantor polisi. Tapi, dengan cepat Juna
mencegahnya.
“Tunggu dulu! Dia berani memukul om Vano dan menghajar
adikku, maka, ia harus merasakan hal yang sama.”
“Kak Juna, jangan apa-apakan dia. Aku tidak mau kau juga
menjadi tersangka penganiayaan nantinya. Pikirkan masa depanmu dan juga Gea.
Aku tidak apa-apa,” ucap Queen dengan lemah dalam pelukan papanya.
Juna yang sudah bersiap mengepalkan tangan dan
mengayunkannya pada muka Jevin pun urung. Tangannya mengambang di udara. Apa yang Queen katakana benar, tidak
terima boleh saja. Tapi, jika mau melampiaskan kekesalan juga jangan mengorbankan
dirinya. Jika masih ada cara lain yang aman, kenapa tidak?
“Baik, kita tunggu Al saja.” Jevin melihat ke arah luar ruangan
tersebut dan banyak orang di sana. “apakah kalian sudah memanggil ambulan?” tanyanya
pada mereka.
“Sudah. Baru saja saya menelfonnya,” jawab salah satu dari mereka.
Al yang mendengar kabar kalau ada kekacauan di kantor
papanya dan melibatkan Queen langsung saja menuju ke sana. Ia menaikan kendaraanya seprti orang kalap. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu,
jarak tempuh yang harusnya dicapai empat puluh menit dalam kecepatan normal ia
menempuhnya tak sampai limabelas menit. Tiba di perusahaan pun juga Al tidak
meletakkan mobilnya pada parkiran dengan baik. Ia langsung saja melajukan
dimanapun kiranya bisa dilewati mobil tak peduli apapun. Ia berfikir tak akan ada yang berani protes dan marah padanya sekalipun aku membawanya masuk ke dalam kantor.
Tiba di ruangan papanya ia terkejut melihat keadaan Queen
yang seperti itu.
“Ambulan mana? Kenapa kalian semua cuma diam dan menonton
saja?” bentak Al, entah pada siapa ia marah. Tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab.
“Pa, apakah terjadi sesuatu kepadamu?” tanya Al panik.
“Tidak, Al. Papa tidak apa-apa. Ambulan mungkin sedang
menuju kemari, sudah ada yang menghubungi tadi,’’ jawab Vano berusaha meredam
__ADS_1
emosi putranya.
“Ck, kenapa lelet sekali?” umpatnya. Merasa tak sabar dan
takut hal buruk terjadi pada istri dan calon anaknya, Al langsung menggendong
Queen dan membawanya pergi ke rumah sakit.
Saat melihat Juna, ia memberi kode yang hanya mereka berdua
saja yang tahu. Al pun melanjutkan langkahnya pergi menggendong Queen sementara
Juna mengangguk dan meminta dua scuriti itu untuk mebawa Jevin ke kantor polisi.
Setelahnya, ia menghampiri om Vano dan meminta cleaning service
untuk mengambilkan segelas air putih.
“Om, apakah kau tidak apa-apa?” tanya Juna, ia panik dan
takut hal buruk terjadi.
“Aku tidak apa-apa, Jun. Tadi, baru saja Jevin hendak
memukulku, Queen tiba-tiba saja muncul dan memukul keras tengkuknya sampai ia
roboh. Ayo kita ke rumah sakit dulu, lihat keadaan Queen. Seperinya parah.” Vano berusaha berdiri dengan bantuan Juna.
“Baik, Om. Bawa mobil saya saja.”
Saat mereka berjalan menuju ke parkiran, Juna mengirim pesan
kepada Vico untuk bantu urus Jevin yang kini tengah di bawa ke kantoe polisi.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Al pada seorang
dokter yang menangani istrinya.
“Luka ringan saja, tidak masalah. Janin juga aman-aman saja.
Bu, bawa rilex saja, jangan sampai kejadian tadi membuat anda stress. Temani
istri anda, ajak ngobrol, jangan sampai kejadian tadi membuatnya jadi trauma
ya, Pak?’’
“Iya, dok. Termikasih.” Al langsung tenang mendengar jawaban itu, karena dia tidak tahu sendiri apa yang Jevin lakukan pada istrinya tadi. Mungkin lain lagi jawabannya jika ia tahu bagaimana istrinya jadi korban kalapnya pria itu.
Al langsung menghampiri Queen. Dipegangnya tangan istrinya
dengan lembut dan ia mengusap perlahan kepalanya.
“Kepalaku sakit, Al,” keluh Queen. Memang tadi Jevin sempat beberapa
kali membenturkan kepalanya pada meja dan juga dinding.
“Sakit banget, ya?” tanya Al panik.
“Iya, nih. Kok makin parah saja, ya rasanya? Aduh Al… “
“Ck, gimana cara dokter tadi bekerja? Kenapa dia bilang
tidak apa-apa, sedangkan istriku terlihat sangat kesakitan.”
“Kita pindah rumah sakit saja gimana?” usul Al.
“Tidak usah, tolong kamu tekan kepalaku agak keras begini,
aku lebih baik dengan begitu.” Queen mengambil tangan suaminya dan meminta agar
menekan sedikit kuat pada kening dan terutama di antara kedua alisnya.
“Bagaimana, apakah kau sudah merasa baikan?” tanya Al sambil
memijat lembut dengan dua jari di atara alis istrinya.
“Ya, begitu saja, lakukan terus.”
Queen memejamkan matanya dan akhirnya, ia pun tertidur, mungkin
juga efek obat yang diberikan dokter tadi sudah mulai bekerja.
Al mengamati Queen yang sudah benar-benar pulas sambil
memegang tangannya. Tiba-tiba saja ponsel dari dalam saku celananya berdering.
Pria itu segera mengambil ponsel itu dan melihat ke arah istrinya
yang masih pulas tertidur lalu menjauh dari hospitalbad dan mengangkat panggilan itu.
‘’Halo, apakah ada masalah, Vic?”
“Aku sudah berada di kantor polisi. Kita menggunakan yang
sudah basah saja, kan? Mau dibagaimana, kan?”
“Buat saja sampai cacat dan tak lagi berfungsi senjatanya,
agar tak jadi simpanan tante-tante setelah bebas dari penjara nanti.”
“Hahaha, menarik. Kurasa sebentar lagi istrinya juga akan menggugatnya.”
“Ya, aku tidak menjamin dia jera. Ya sudah lakukan saja
semua sesuai alur, dan jangan lupa selalu rapi.”
"Baik, boss.”
Panggilan pun
dimatikan. Vico pun membuka komputernya dan kembali melakukan hobinya yang lama
terhenti. Sebagai hacker. Ia sengaja mengehack data kepolisian. Sasarannya kali
adalah kantor polisi yang tadi menahan Jevin. setelah data-data yang ia mau ia
dapatkan, segera pria itu menyalinnya pada ponsel genggamnya kemudian, ia
mendatangi alamat yang tertera di sana satu persatu. Ada sekitar limabelas orang.
“Hehehe, ini sangat menarik pastinya,” ucapnya sambil tersenyum
seram. Lebih tepatnya, ia menyeringai. Kemudian, ia mulai melanjutkan misinya
dengan lima anak buahnya yang memang paling ia percaya dan selalu bisa
diandalkan.Hanya butuh satu hari saja Vico sudah berhasil menjalankan
misinya dengan baik.
Keesokannya pihak keluarga dari teman satu selnya Jevin
datang untuk membesuk. Lain halnya dengan Jevin. Bahkan saat ia menghubungi
Jadi, yang bisa ia lakukan hanya mengabari kakanya yang ada diluar kota saja,
sekalian menitipkan sang ibu pada sang kakak.
Pada saat jam makan malam, teman satu jeruji Jevin berkumpul
dan mendiskusikan sesuatu, seperti apa yang ia dapatkan dari keluarganya di
rumah adalah sama. Mereka jadi penasaran, dengan siapa pria bernama Jevin itu
cari masalah, sampai-sampai bisa serumit itu urusannya. Dipenjara saja tak cukup. Mungkin, jika tidak ada urusan dengan hukum, pastilah orang itu sudah menghajarnya sendiri.
Lalu, dari mana orang itu bisa menemukan data dan alamat keluarga mereka? Itu yang masih membuat mereka heran dan bertanya-tanya.
Bagi mereka para narapidana yang lama akan tinggal di dalam
tahana sudah tak peduli dengan apapun. Yang penting keluarga di rumah yang
ditinggalkan bisa makan dan hidup cukup juga sudah baik. Apalagi ada tawaran
limapuluh juta untuk keluarga, serta uang jaminan Pendidikan atau deposit
selama mereka masih di penjara. Sampai mati pun di bui juga tak masalah.
“Gimana? Kamu setuju tidak?”
“Kenapa gak? Yang penting anak istri makan dan biaya hidup
tercukupi beres.”
“Tapi, kira-kira dia bohong gak pada kita?”
“Kalau bohong ya kita lapor polisi saja kalau ada yang
mendatangi keluarga kita, meminta kita untuk menghajar Jevin rame-rame nanti
keluarga yang dirumah akan diberi uang sebesar limapuluh juta dan biaya
Pendidikan anak dijamin sampai lulus SMA. Mereka, juga bisa jadi saksi.l
Akhirnya, setelah limabelas orang itu sudah berunding dan menentukan
kesepakan, salah satu dari mereka sengaja menacing-mancing Jevin agar emosi.
Ketika Jevin emosi, ia memukul teman satu tahanan yang jauh lebih lama darinya,
alhasil, hal itu menjadi alasan kenapa mereka mengeroyok Jevin yang hanya
sendirian belum ada teman satupun. Karena mereka semua sudah dibayar Al.
“Tolong tolong ada yang dihajar sampai sekarat dan sampai
hampir mati!” teriak orang-orang di tahanan yang lain yang kebetulan menyaksikan itu.
Mendengar suara gaduh, polisi yang bertugas menjaga lapas
langsung berlari dan melihat. Ternyata benar, Jevin yang baru tiga hari di sini
telah lemas tak berdaya, mukanya bengeb dimana-mana, bahkan bajupun juga bersimbah darah.
“Stop! Ada apa ini?’’ teriak seorang sipir pria. Ia membuka
pintu penjara dan dua sipir lainnya menjaga pintu. Hal seperti ini tidak jarang terjadi, setiap kali ada narapidana baru, pasti ada saja ulah para tahanan
lama. Cuma, ini termasuk yang paling parah yang pernah dilihat sipir itu selama lima tahun berjaga di tempat ini.
Karena keadaannya kritis, Jevin pun segera dilarikan ke
rumah sakitt polres dan dikawal oleh dua orang polisi, sedangkan lima belas
orang yang menghajar ramai-ramai Jevin mereka diintrogasi. Berdasarkan jawaban
mereka, Jevin lah yang bersalah. Hanya saja, Jevin masih belum sadarkan diri,
jadi masih belum bisa untuk ditanya.
***
Usai menyuapi Queen, Al berniat meluruskan pinggangya sambil
merebah di sofa. Toh di sana juga sudah ada mama dan papa mereka yang juga turut menjaga Queen. Hanya saja mereka nanti akan pulang, yang akan bermalam di sini nanti hanya Al saja.
Untuk menghilangkan jenuh, iseng-iseng Al menyalakan
televisi dan melihat siaran brita, yang mmeberitakan terjadinya pengeroyokan dilapas.
Al sudah menduga kuat kalau itu adalah Jevin. Tak mau
ulahnya ketahuan oleh orang tua dan juga istrinya, Al mengirimkan pesan kepada
Vico untuk melihat berita dan melakukan pengecekkan ke lapas.
Sepuluh menit kemudian, Vico memberi kabar, kalau yang dihajar itu
benar adalah Jevin, sekarang dia dilarikan di rumah sakit polres dan sampai
masuk UGD. Mendapatkan jawaban itu, Al sangat puas. Baginya, siapapun berani
menyentuh orang yang ia cintai, tangannya harus patah. Tapi, dia tidak hanya menyentuh Queen, bahkan menghajar sampai separah itu. Beruntung sekali di
ruangan Vano terpasang cctv jadi, ia bisa melihat bagaimana kejadiannya dan
sekaligus diserahkan pada polisi untuk dijadikan barang bukti.
Vano melihat ke arah jam tangannya. Ternyata ini sudah
larut. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, akhirnya mereka berdua pun pamit.
“Ya sudah sayang. Papa dan mama pulang dulu, ya? Papa janji,
besok bersama kakek akan kemari dulu sebelum papa ke kantor,” ucap Vano.
“Kamu juga cepat sembuh ya sayang,” timpal Calara pula.
Queen hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan ringan
saja.
Clara dan Vano melihat ke arah Al yang masih rebahan dan
memainkan ponselnya. Dari wajahnya saja sangat ketara kalau pria itu sangat
kelelahan. Sampai-sampai, ia tidak mendengar kalau mereka sudaah pamit pada
istrinya. Jelas saja Al tidak mendengar, atau karena pikirannya kemana, biasanya, jika menyadari orang yang tengah bersamanya dalam satu ruangan pamit
untuk kembali ia selalu bangkit dan meletakkan apapun yang ia pegang.
“Al. kami kembali dulu, ya?” ucap Clara yang masih duduk di atas kursi roda.
Dengan terburu-buru dan setengah terkejut, pria itu segera
__ADS_1
beranjak dan menghampiri kedua orangtuanya.
“Mama sama Papa mau pulang sekarang? Hati-hati, ya?” ucap
pria itu.
“Iya, kamu juga, jaga kesehatan, jangan sampai kamu jadi
ikut sakit karena menemani istrimu di sini. Istirahat yang cukup,” pesan Vano
pada putrnya.
Al mengantarkan kedua orangtuanya sampai depan pintu saja,
kebetulan, letak lip tidak jauh dari kamar yang ia pesan. Jadi, ia bisa melihat
sampai keduanya masuk ke dalamnya. Barulah Al masuk dan kembali menghampiri Queen.
“Bagaimana keadaanmu? Uda mulai baikan belum?” tanya Al
sambil duduk di kursi samping Queenn berbaring.
“Aku sudah mulai baikkan, Mungkin besok aku sudah bisa
pulang.”
“Semoga saja, kamu tidak stress kan tinggal di rumah sakit?”
tanya Al yang memang paling mengerti dan paham kalau Queen paling tidak suka di
rumah sakit.
“Asal kamu temenin aku aja, gak apa-apa.”
Al tertawa menunjukan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Ini sudah malam, kamu tidur dulu, deh!”
“Gak bisa tidur.”
“Kenapa?”
“Pengen makan pudding sutra.”
“Kamu ngidam?”
“Ya gak tahu, tiba-tiba saja aku kepengen.”
Al menghela napas Panjang, ia diam sesaat dan berfikir,
semalam ini mau mendapatkan pudding itu di mana? Pikirnya. Lagipula ia juga
tidak mungkin keluar meninggalkan istrinya sendirian di ruma sakit. Al
mengedarkan pandangannya pada sofa di mana ia berbaring tadi, di sana benda
pipih yang selau jadi andalan tergeletak begitu saja.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Al beranjak mengambil
poselnya, ia membuka aplikasi yang menjual aneka makanan online dan mencari pudding sutra.
Beruntung masih ada yang buka semalam ini, dan masih ada driver online yang mau mengantarkannya.
“Ini ada rasa stowberi, melon, kiwi sama kayu manis saja,
Sayang, kamu mau yang mana?”
“Coba pesankan satu cup rasa melon dan satu cup lagi aku mau coba
yang kayu manis itu.”
“Baiklah, tunggu dulu, ya. Agak lama ini kayaknya. Karena
lokasi dari rumah sakit sedikit jauh.”
“Baiklah! Dan mungkin aku juga tidak akan dapat tidur kalau belum mendapatkan apa yang aku mau,’’ jawab Queen dengan manja.
“Ya sudah kau beristirahat saja dulu. Apa lagi yang kau
inginkan?”
Queen nampak berfikir. Kemudian ia menggeser tubuhnya ke
samping dan menepuk tempat di sebelahnya sambil tersenyum.
Al merasa bingun dan menaikkan sebelah alisnya. “Hah?’’ Cuma
itu saja yang keluar dari bibirnya.
“Kau berbaringlah di sebelahku sini, dan ceritakan aku
tentang sesuatu. Apakah kau mau?”
Sekali lagi Queen menawarkan senyuman dan raut wajah yang
tak mampu Al tolak. Sebenarnya ia hanya takut kalau nanti ada yang tiba-tiba masuk saja ke dalam ruang inapnya. Tapi, jika tidak menurutinya akan dianggap tidak mau karena tidak lagi sayang.
“Bagaimana kalau ada yang masuk?”
“Kenapa? Ini sudah malam, tenaga medis juga manusia, mereka
butuh istirahat dan tidur. Lagipula kenapa kalau ada yang lihat? Kita suami
istri yang hanya sama-sama baringan tidak macem-macem.”
Al kembali tertawa karena gemas dengan jawaban Queen. Ingin
sekali dia menerkamnya saat itu juga. Tapi, sayang. Ini adalah rumah sakit,
walaupun pintu bisa dikunci dan hanya ada mereka berdua saja di sana karena
mereka memesan ruangan VIP. Namun, tetap saja, rasanya tidak sopan. Terlebih Queen juga masih sakit.
Al pun merebahkan tubuhnya di hospitalbad dan bertaya pada
wanita di sebelahnya, “Mau apa kau sekarang?”
“Aku ingin mendengarkan kau bercerita.”
“Cerita apa yang ingin kau dengar?” tanya Al sambil melihat Queen.
“Apapun.Asal kau mau bercerita, pasti akan aku dengarkan.”
Belum juga Al memulai ceritanya, mungkin juga masih berfikir
atau bahkan ide pun juga belum ditemukan. Suara chat dari ponselnya berbunyi.
Dengan segera pria itu melihatnya. Kemudian menoleh ke arah Queen dan berkata,
“Sayang, kurir sudah tiba di rumah sakit. Aku keluar dulu, ya?”
“Baiklah!”
Dalam sekejap saja Al sudah lenyap dari pandanga Queen.
Untuk menghilangkan rasa bosan, Queen meraih ponsel miliknya
yang berada di atas nakas. Didapatinya banyak pesan chat dari teman-temannya,
dan juga saudarinya, Hanifah. Ia kebetulan tidak berada di Jakarta, ia berada
di Bali katanya. Melakukan bulan madu yang sempat tertunda karena Diaz tengah ujian.
“Queen, aku dengar dari om Vano katanya kau masuk rumah
sakit karena kegilaan Jevin? sekarang bagaimana keadaanmu?” tulis Hanifah.
Queen tersenyum seorang diri. Hanifah masih tetap seperti
dirinya yang dulu, terlebih sekarang semua saling memaafkan, hubungannya dengan Diaz juga sudah membaik dan berkomunikasi layaknya saudara, begitupun Al. Tak
lagi ada aura permusuhan saat dua pria itu berjumpa.
“Ya, benar. Aku yakin Jevin berani menyakitiku bukan karena
aku berusaha menyelamatkan papaku. Tapi, memang ada dendam yang belum
tersalurkan, dan saat itu juga ia memanfaatkannya,” tulis Queen pada Hanifah.
“Dendam?”
“Karena yang membongkar kedoknya selingkuh di depan Al
bersama Nayla adalah aku, gara-gara aku dia diarak telanjang dari hotel kerumah sakit ramai-rama.”
Hanifah membalas dengan stiker tertawa. Setelahnya, ia
menuliskan kalimat “Itu pantas untuknya, karena otaknya rusak jadi dendam sama kamu,hahaha.”
“Ckreek!”
Queen memandang ke arah pintu. Ternyata Al yang datang.
Lagian, mau siapa lagi? Ini sudah malam, jam sepuluh lewat. Orang besuk juga tidak mungkin.
“Kukira kau sudah tidur, Sayang. Jadi, belum?”
Queen meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, dan
duduk bersandar. “Bagaimana aku bisa tidur kalau yang aku tunggu belum tiba?”
“Ya, sudah. Kau makan saja ini, perlu disuapin?”
“Iya, mau!”
Dengan telaten Al menyuapi Queen pudding yang baru saja
dipesannya. Entah, dia yang pengen, benar-benar suka dan sedikit lapar atau
nyidam, dua cup ukuran 300ml ia hampir menghabiskannya sendiri. Karena Al juga sempat mencicipi beberapa sendok saja di masing-masing rasa.
*****
“Tuan, apakah ini tidak berlebihan? Anda sudah memberi kamu uang
tunai sebesar limapuluh juta. Tapi, masih memberi tunjangan Pendidikan pada
anak-anak kami?” ucap seorang wanita paruh baya.
“Tidak, ini adalah upah suami kalian yang sudah bekerja
untuk bos kami. Terima saja, semoga ini bisa membantu sampai suami anda bebas dari tahanan.”
Setelah mengucapkan itu, pria yang memakai jas hitam dan
masker itu pun pergi meninggalkan rumah tersebut.
“Tunggu!”
Pria itu berhenti dan menoleh ke belakang, saat ia sudah berjalan sejauh lima meteran.
“Ada yang perlu saya tanyakan pada anda. Apakah dengan
menghajar orang, suami saya akan menambah masa tahanannya?” tanya wanita itu, ketakutan.
“Aku bisa jamin, itu tidak akan terjadi.” Kemudian pria itu benar-benar pergi dan lenyap dari pandangan wanita itu.
“Bagaimana? Apakah semua beres?” tanya Vico pada beberapa
anak buahnya yang baru saja kembali.
“Sesuai permintaan, Bos.”
“Bagus! Ini bayaran kalian, dan segera pergi dari sini,
jangan biarkan tunanganku melihat salah satundari kalian.”
Vico melemparkan lima amplop tebal pada lima pria tersebut
dan kembali bersantai dan menghubingi Shinta.
“Halo, Sayang. Apakah kau sudah berangkat? Jika belum, aku
akan menjemputmu saja,” ujar pria itu saat panggilannya sudah dijawab.
“Kenapa? Tidak usah. Aku lagi pengen ke tempat kamu sendiri
tanpa dijemput, oke.”
“Kau masih apa?”
“Ini baru saja keluar mobil,” jawab wanita itu sambi
tersenyum.
“Ya sudah, aku tidak mau menganggumu saat mengemudi,
hati-hati sayang.”
Panggilan pun terputus. Tapi, beberapa detik setelahnya bel
rumahnya berbunyi. Vico mengira ada salah satu anak buahnya yang datang. Tapi, untuk apa? Bukankah semua misi sudah selesai dengan baik? Pekerjaan juga sudah tidak ada lagi.
“Duh, siapa, sih?” keluhnya seraya memaksa berjalan ke pintu
ruang tamu yang terasa sangat berat dan jauh. Padahal hanya beberapa meter saja
dari tempatnya bermalas-malasan.
Sepertinya orang yang berada di balik pintu itu sangat tidak sabar untuk masuk, terlihat dari cara bagaimana ia memencet belnya yang terus berulang-ulang meskipun pemilik rumah sudah menjawab.
Hal itu, jelas sanggat mengganggu Vico dan membuatnya marah. “Iya sebentar,
bangke!” umpat Vico dan membuka pintu rumahnya dengan sangat kasar!
__ADS_1