Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 116


__ADS_3

"Masih ada waktu sepuluh menit. Kakak temui Diaz dulu, ya?"


"Mau nemuin ya temuin aja kak. Kenapa pake izin?" ucap Queen sambil tertawa. Lalu pergi begitu saja.


Tiba di ruangannya, ia mendapati Gea yang tengah sibuk dengan kertas-kertas tugasnya.


Menyadari Queen sudah datang. Ia langsung menyampaikan pesan dari dr.Lusi.


"Queen. Dr.Lusi memintamu agar ke ruangannya."


"Sekarang?" tanya Queen ragu, sebab ini masih belum saatnya ia mulai praktik.


"Iya, sekarang."


***


Dengan nomor telepon yang dia dapatkan dari Queen, Al berusaha menelfon Diaz. Ia mengajaknya bertemu di taman dekat parkiran untuk berbicara.


Tak berapa lama, pria dengan celana jeans panjang dan setelan kemeja berwarna meroon setengah berlari menghampirinya.


"Kak Al sudah lama menungguku?" tanya pria itu dengan santun.


"Tidak juga. Aku baru saja datang mengantar Quen. Kakekku ingin bertemu denganmu. Apakah kau bisa datang ke rumah nanti setelah praktik?" tanya Al dengan ciri khas nya. Berbicara dengan nada tegas dan dingin, namun berwibawa.


Diaz, pria berkulit kuning langsay khas asia dengan ketampanan Indonesia banget itu hanya mengangguk sambil tersenyum simpul tatkala memberikan jawaban kepada Al, "Iya. Bisa, Kak."


Dengan gaya maskulinnya Al melihat jam tangan di pergelangannya dan berpamitan hendak kembali ke kantor, "Ya sudah, nanti di tunggu. Aku akan balik kerja lagi. Sampaikan pada Queen."


Awalnya Al memang benar-benar hendak kembali ke kantornya. Tapi, di tengah jalan salah satu anak buahnya menelfonnya dan memberi kabar kalau Lyli tidak mau makan.


Al sebenarnya tidak peduli akan hal itu. Tapi, dia tidak akan membiarkan wanita yang telah mencelakai keluarganya mati dengan mudah. Dia harus menderita dulu. Setidaknya selama Queen tidak dapat tersenyum ya. Setidaknya duapuluh hari. Di hari ke duapuluh enam pasca kecelakaan itu barulah ia pertama kali melihat adiknya tertawa yang sebenarnya.


"Terus paksa dia. Jangan biarkan dia mati dulu! Aku akan segera ke sana."


Al pun melajukan mobilnya dengan cepat dan mengambil jalur alternatif menuju basecamp nya.


Sekitar duapuluh menit Al pun sampai. Dengan segera ia memarkirkan mobilnya di halaman gedung yang dipagar tembok keliling dengan ketinggian tiga meter serta penjagaan yang ketat. Sehingga tidak ada orang luar yang tahu tempat apa itu sebenarnya.


Saat pintu gedung di buka Al mencium aroma darah. Memang, jarak antara pintu utama dan tempat di mana Lyli dan keluarganya di sekap sangat jauh. Tapi, Al memiliki kelebihan Indra penciuman dan pendengaran yang tajam, setajam anjing pelacak.


Delapan penjaga dengan tubuh kekar berbaris di kiri kanan lorong semuanya menunduk dengan kompak saat Al melintas di hadapan mereka.


Ia masuk ke dalam pintu penyekapan. Melihat Akbar sudah nyaris tak berbentuk. Banyak luka cambukan dan lebam di seluruh tubuh dan juga wajanya. Sementara Lyli. Gadis itu sungguh tak berdayam terkapar lemah dan lemas dengan kedua tangan terikat rantai. Rambutnya berantakan serta pakaiannya pun koyak menunjukkan banyak bekas cupangan di mana-mana. Lalu sang ibu... Dia nampak depresi melihat putra dan putrinya diperlakukan sangat tidak manusiawi di depan matanya sendiri.


Al menghampiri Lyli lalu berjongkok di depan gadis itu lalu diraihnya dagu Lyli dan menghadapkan wajahnya ke wajahnya.


"Kenapa kau tidak mau makan, hah? Kau mau mati?" lirih Al dengan nada yang menusuk dan tatapan mata yang tajam.


Gadis itu memejamkan matanya erat-erat. Tapi, buliran bening itu tetap saja jatuh dari ujung kedua matanya yang membengkak karena sedari kemarin terus saja menangis.


"Bukankah itu yang kau inginkan?" jawab Lyli sedikit keras.


Al menghempaskan wajahnya seraya menyeringai, "Bodoh! Memang aku ingin kau mati, tapi, tidak akan kubiarkan kau mati semudah itu. Kau harus lihat ibu dan kakakmu mati tersiksa dulu. Sebelum mereka mati, mereka harus lihat bagaimana kau digilir pria-pria yang ada di sini. Hahaha."


Lyli menangis sedih bukan karna sakit yang ada di seluruh tubuhnya. Tubunya tak lagi merasakan apa-apa. Tapi, hati nya benar-benar remuk dan hancur.


Bagaimana tidak? Pria yang sudah bertahun-tahun dia kagumi. Meski dingin tapi selau lembut dan hangat pada ibu serta adik perempuannya tak disangka sesadis ini.


"Kenapa? Kau menyesal? Tidakkah kau berfikir dulu sebelum melakukan hal itu? Siapa targetmu sebenarnya? Kakek Andreas? Selamat kau menang. Dia memang sudah mati saat perjalanan menuju ke rumah sakit. Tapi, dalam kecelakaan itu nyawa nenekku terenggut seketika dan papa mamaku sekarang sekarat antara hidup dan mati di ruang ICU. Dan sekarang aku akan buat kalian bertiga seperti itu!" ucap Al dengan nada santai. Tapi, justru saat seperti ini lah dia ada dalam puncak kemarahan yang sesungguhnya.


"Kau boleh melakukan apa saja terhadapku. Tapi, jangan bawa-bawa kakak dan ibuku. Mereka tidak tahu apa-apa tentang ini, aku mohon Mas."

__ADS_1


"Kau dendam karena di pecat kakek Andreas karna kesalahanmu sendiri. Tapi, semua yang tak tahu apa-apa juga jadi korban. Bahkan Quen juga sampai keguguran karena terlalu stres dan terpukul akibat ulahmu."


Al pun beranjak. Dia awalnya hendak pergi keluar tapi, ia ingat akan sesuatu dan kembali menyeringai. Seolah memiliki rencana baru. Dan, benar saja.


"Koki kita memasak apa hari ini?" tanya Al pada salah satu anak buahnya.


"Tumis dan sup daging, Bos. Apakah bos mau makan?"


"Ambilkan satu porsi nasi yang masih panas. Kuah sup yang mendih dan beri lima sendok makan sambal ke pada nasi itu cepat."


Dengan segera pria itu pun berlari ke dapur. Sekitar enam menit dia kembali dengan nampan berisi apa yang telah dimintanya.


Al tersenyum sinis melihat apa yang dibawa anak buahnya itu. Bawa kesini. Aku akan menyuapinya sendiri karena tidak mau makan.


Kembali Al berjongkok dan menuang asal sup dalam mangkuk itu pada nasi yang sudah ada lima sendok makan sambal lalu mengaduknya s mentara tangan kirinya meraih pipi wanita itu membuka dengan paksa dan menyuapkan makanan pedas dan panas itu langsung ke mulutnya tanpa belas kasihan.


"Kau dipecat karena mengadu domba antara aku dan istriku hingga bertengkar saja. Dan istriku dan adikku sampai dia sangat benci paa iparnya sendiri. Ayo makan terus!" Seru Al tanpa ampun.


Sementara Akbar dan ibunya Lyli berteriak histeris memohon untuk menghentikan apa yang Al lakukan.


"Nak Al sudah cukup jangan siksa Lyli lagi, ampuni dia... Maafkan dia Nak," teriaknya sambil terisak.


Begitupun dengan Akbar, "Al stop hentikan kau jangan gila begitu. Kau memang sudah tidak waras, ya? Kau ini psycopath!"


"Lalu, adikmu apa? Aku tidak akan begini jika keluargaku tidak hancur. Soal kesalahan dia yang mengadu domba antara istri aku dan Queen aku sudah tidak memberikan pembalasan apapun atau teguran. Tapi, dia melonjak. Hanya di pecat dengan pesangon sepuluh juta kurasa sudah baik kakekku tapi, lihat apa yang diperbuat adikmu?"


Al melempar piring itu ke depan Akbar hingga menimbulkan suara gaduh pecahan piring lalu pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantornya.


Dia berharap di sana ia mendapat pengalihan dari pikirannya yang tengah tak terkendali diliputi rasa dendam dan benci. Tapi, wajah Clara dan Vano muncul terus di benaknya kian jelas. Jadi, ia memutuskan untuk ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat mereka berdua.


🍁 🍁 🍁 🍁


Entah ia merasa lelah dan apa, tanpa malu-malu ia langsung berhambur dalam pelukan pria berkebangsaan Indonesia-Ingris itu. Ya, meski wajahnya tidak ada indo-indonya sama sekali, tapi, tetap saja dia dilahirkan dari ibu berkembangsaam asli Indonesia.


Alex membalas pelukan Queen yang tampak manja itu. Ya, baru kali ini setelah terjadinya kecelakaan itu dia hampir tidak pernah bermanja-manja dan tertawa lagi.


"Bagaimana harimu, Sayang? Pasti sangat melelahkan, bukan?" Bisik Alex dengan suara sensual di telinga Quen.


"He'ehm." Gadis itu mengangguk beberapa kali. "Mau langsung disiapin air panas buat berendam," ucap Queen manja.


Alex tidak mau mengulur waktu terlalu lama. Sebab, ia tahu Quen jelas kelelahan meski sedikitpun tidak nampak di wajahnya. Ia pun langsung membuka pintu mobil.


"Silahkan masuk tuan putri," ucap Alex sambil membungkuk layaknya seorang pengawal kerajaan.


Quen pun tertawa sambil mencubit perut suaminya, itu. "Dasar! Baik, pangeran."


Sementara dari kejauhan nampak dua orang yang mengawasi mereka berdua yang nampak Mesra dengan raut wajah suram dan penuh kebencian.


"Kau lihat! Begitu masih mau nunggu tujuh bulan? Yang ada Queen sudah akan hamil lagi anaknya Alex dan kalau itu terjadi, hancur rencana kita. Peluang untuk memisahkan mereka semakin kecil," ucap Helena penuh emosi.


Begitupun Aditya, dia juga tak kalah dongkol dalam hatinya melihat adegan itu di depannya. Bagaimana tidak? Dulu yang selalu Quen perlakukan seperti itu adalah dia, kini malah pria lain dan itu pun saudara iparnya sendiri. Mungkin Helena juga berfikir demikian.


"Ya sudah turunkan aku! Aku harus bekerja, dan rencana itu akan segera kita laksanakan."


🍁 🍁 🍁


Diaz berhenti di depan rumah berpagar besi besar dan tinggi itu ia turun dari motornya dan mulai menekan bell.


Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya mengenakan daster batik berlarian dari dalam rumah menuju pagar dan membukanya.


"Aden, siapa? Mau cari siapa, den?" tanya bik Yul dengan nada khas sundanya.

__ADS_1


"Saya Diaz, Bi. Mau bertemu dengan kakek Andrean. Tadi sudah janjian," jawab Diaz dengan santun.


"Ooo, nyari Tuan besar, ya? Ayo, den masuk." Bi Yul mempersilahkan tamunya masuk dan bergetutu seorang diri, "Aduh mana bager pisan masih muda juga sopan."


Setelah mempersilahkan Diaz duduk, Bik Yul pun menemui Andreas yang tengah berada di taman bersama Bilqis dan Nayla.


"Tuan, ada tamu yang mencari anda," ucap wanita itu seraya berlari sedikit tergopoh-gopoh.


"Siapa, Bik?" tanya AndreanΒ  penasaran.


"Duh, mateng aku... Lupa namanya saya Tuan. Orangnya kunging tinggi terus ganteng banget pokoknya," jawab bik Yul seraya menunjukan ciri-ciri pria itu.


Andrean tahu dan sudah menebaknya siapa yang datang menemuinya. Ia mengangguk dan tersenyum lalu meminta bik Yul membuatkan minuman untuk tamunya. Lalu, meminta Nayla mendorong kursi rodanya ke ruang tamu. Sekaligus ikut menemui tamu tersebut.


"Kakek memang sudah bikin janji sama seseorang, ya?" tanya Nayla penasaran.


"Iya, tapi, karena waktunya tidak di tentukan. Jadi, kakek sedikit lupa, Nay."


"Siapa memang, kek?"


Belum sempat Andrean menjawab, mereka telah sampai di ruang tamu. Di sana nampak Diaz yang tengah duduk dengan tenang. Begitu melihat si tuan rumah datang, anak muda itu segera bangkit membungkuk untuk bersalaman dan mencium tangan Andrean.


Andrean tersenyum mendapati sikap dan perilaku anak itu, ia mengelus punggung pria itu dengan belaian penuh kasih sayang.


"Sudah lama menunggu, Nak Diaz?" ucap sang kakek berbasa-basi.


"Tidak, Kek. Baru saja datang, kok," ucap Diaz dengan sopan dan kepala tertunduk.


Lagi-lagi Andrean tersenyum lembut melihat Diaz yang seperti itu. Sudah jarang sekali anak muda jaman sekarang yang mengutamakan ilmu adab seperti Diaz. Sehingga hal itu membuat Andrean semakin suka dan kian ingin selalu dekat dengan anak muda itu. Meskipun dia sudah punya cucu Quen, atau Al cucu laki-laki, meskipun cuma cucu angkat. Tapi, ada rasa yang berbeda saat ia berdekatan dengan Diaz seperti saat ini.


"Oh, iya. Kenalkan dulu, ini Nayla dan ini putrinya Bilqis. Nayla itu cucu mantuku, Nak. Kakek sudah sangat tua sekali sekarang," ucap Andrean seolah senyuman di wajahnya tiada pudar.


Saat di kenalkan pria itu hanya tersenyum dan mengangguk kepada Nayla seraya menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.


Begitu pun Nayla. Ia pun paham dengan budaya ini.


"Nay, nak Diaz ini teman sekolah Quen. Dia sama-sama menempuh sekolah profesi di rumah sakit milik Tante Lusi," ucap Andrean.


"Oh, iya. kek," jawab Nayla dengan pelan. ia pun juga merasa tidak enak dan sungkan dengan sikap Diaz yang seperti itu meskipun usianya jelas jauh lebih tua dari Diaz.


karena merasa menganggu keduanya ngobrol, Nayla pun berpamitan kepada Andrean dengan alasan membantu bik Yul menyiapkan. terlebih Andrean meminta Diaz untuk makan malam di rumahnya bersama saat ini, dan pria muda itu pun setuju demi.


setelah cukup lama berbasa-basi Andrean pun memulai pembicaraannya ke inti.


"Bagaimana, Nak. Apakah kau sudah memikirkannya untuk berpindah kerja di sini menemani kakek?"


"Kek, bukannya saya menolak, saya bersedia menemani kakek. Tapi, gaji sebesar itu tidak layak saya terima. Jadi, saya memutuskan untuk tetap bekerja di cafe makam hari, tapi, saat ada luang saya berjanji akan selalu ada waktu untuk menemani kakek, dan saya tidak meminta bayaran sepeserpun," ucap Diaz sambil menunduk.


Tanpa sadar Andrean terbengong mendengar jawaban dari Diaz. dia ini anak kedokteran dan masih menjadi koas, jelas hal itu pasti akan memakan biaya banyak. Dan bekerja di cafe saat malam, apakah itu bisa di andalkan? kenapa dia menolak pekerjaan mudah dengan gaji yang lumayan, yaitu lima juta. itu pun Andrean tidak membatasi ruang gerak Diaz jika ia masih ingin bekerja di cafe selain waktu kuliah dan mengerjakan tugas. itu sebenarnya hanya akal-akalan Andrean agar dapat sering menghabiskan waktu bersama Dias saja.


"Kenapa kau menolaknya, Nak? apakah bayaran itu terlalu rendah?


"Tidak, Kek. justru itu sangat tinggi. dan tidak sepadan dengan tenaga yang saya keluarkan."


Andrean kian bingung di buatnya. bukankah kebanyakan anak muda di jaman sekarang suka sekali dengan pekerjaan yang ringan tapi, gaji besar. lagi-lagi Diaz ini berbeda dari yang lain. yang membuatnya semakin penasaran saja.




__ADS_1


__ADS_2