Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 189


__ADS_3

Tak mau buang-bung waktu lagi, Aditya langsung menusuk bagian perut gadis malang itu, sontak saja gadis itu langsung melotot dan dari mulutnya memuntahkan banyak darah segar.


Aditya tertawa puas dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tidak ada penyesalan dan rasa bersalah sedikitpun di hatinya, karena ini bukanlah yang pertama kalinya.


“A.. Adit, kau.. bee benar lakukan ini? A.. aaku cinta sama kamu,” ucap gadis itu seraya tersenyum, dan tangannya memegangi perutnya yang telah bersimbah darah.


“Persetan sama cinta, aku hanya mencintai Queen saja. Tidak ada yang lain, wanita itu masuk jurang gara-gara Novi, dan kau seperti Novi. Aku benci wanita itu, selama aku belum bisa habisi dia, aku akan terus melukai wanita manapun yang persis dengannya,” ucap Aditya sambil terus membuat goresan dan sayatan tajam pada tubuh yang tak lagi berdaya itu hingga akhirnya wanita malang itu pun tewas, tak bernyawa.


Aditya tertawa puas sudah melakukan apa yang ingin ia lakukan kepada korbannya. Hanya saja kali ini dia tidak tertarik untuk memisahkan organ-organ tubuh Nindi, ia hanya inginkan tubuhnya, tidak kepalanya untuk diganti dengan kepala boneka sex miliknya yang persis dengan Queen.


Aditya beranjak mengambil boneka itu setelah berhasil memenngal kepala Nindy dan meletakkannya ke dalam freezer. Ia menatap mata bonekanya dengan tatapan sedih bahakan menangis, begitulah kondisi Aditya saat ini, moodnya sangat labil dan cepat berubah lebih cepat dari warna bunglon yang menyesuaikan warna kulit dengan tempatnya.


Jika tadi ia menangisi Queen yang terperosot ke dasar jurang, lalu ia tertawa terbahak penuh kemenangan dan sangat bahagia saat membunuh Nindi. Kini di hadapan boneka sex itu pun ia kembali berduka dan menangis menunjukan kesedihannya yang begiu dalam.


“Sayang, aku tidak dapat memeliharamu lagi, kau mati, jadi, aku pisahkan saja tubuh dan kepalamu. Aku tak mau kau tetap utuh. Kamu tahu kenapa? Karena ada sebuah dongeng yang mengisahkan tentang putri salju yang sudah mati dapat hidup kembali saat dicium oleh pangeran dan mereka pun akhirnya menikah. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku takut Diaz akan menciummu dan kau hidup lagi bersamanya. Aku sudah bilangkan, kalau aku tak bisa memilikimu, mustahil bagi pria lain memilikimu.”


Pria itu pun akhirnya benar-benar memenggal kepala boneka itu dan meleytakkan tepat di atas tubuh Nindi yang tergeletak begitu saja. Lalu ia kembali melewati terowongan rahasianya yang menghubungkan antara tempat itu dan rumahnya tanpa membersihkan darah korbannya yang berserakan di lantai hingga berbau sangat anyir.


****


Sedangkan Al dan tiga puluh anak buahnya sudah menyebar dan mencari Queen kemana-mana. Tapi, hasilnya masih saja Nihil Al yang sedari tadi sudah berteriak kencang tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan adiknya, sehingga pria itu pun kembali emosi dan menyalahkan anak buahnya. Sampai pagi, mereka terus mencari, menyusuri hutan, tapi yang mereka cari belum juga dapat di temukan, sampai pada akhirnya tepat pukul lima tiga puluh dini hari ada kabar dari orang yang mengawasi sekitar rumah Adit, kalau pria itu tengah mekakukan jogging seperti biasanya.


“Keparat! Lewat mana ******** itu sebenarnya ?” umpat Al seorang diri.


Ia pun akhirnya memberi kode pada seluruh anak buahnya untuk berkumpul di tempat di mana menghilangnya Queen tadi. Begitu semuanya sudah berkumpul, Al pun meminta pada mereka untuk meperketat pengawasan dan tetap menyelidiki tempat ini, serta Al juga berpesan jika menemukan sesuatu yang kiranya itu adalah suatu tanda-tanda cepat melapor.


Setelah semua yang ia ingin sampaikan sudah dikatakan, Al pun kembali keluar area hutan. Ia ingin melihat dan memastikan sendiri apakah benar yang dilihat anak buahnya barusan itu Aditya, jika benar, terus dia keluar lewat mana? Sedangkan jalan yang dilewatinya tadi juga adalah satu-satunya yang bisa dilewati, itu pun semua juga sudah dalam pengawasan anak buahnya dengan ketat. Kalau pun ia berjalan juga sepertinya mustahil jika jarak sejauh itu bisa ditempuh selama semalam, terlebih jika ia jalan kaki.


Pagi itu juga Al langsung menuju lokasi di mana anak buahnya melihat Aditya. Ternya benar, pria itu tengah jogging dan ikut senam pagi bersama orang-orang yang juga tinggal satu kompleks dengannya. Al tidak langsung muncul, ia coba mengawasi bagaimana pria itu bersikap dengan orang lain setelah melakukan kejahatan. Julukan psychopath memang pantas untuk Aditya, emosinya tak nampak. Tak ada kesedihan dan ketakutan sedkitpun di wajahnya, ia berlaku seolah-olah hidupnya memang sedang normal dan tak ada masalah. Cukup lama Al menunggu peserta senam itu buyar, sekitar tiga puluh menit dari sejak dia datang. Kini hal yang dia tunggu-tunggu pun tiba, pria itu mulai berjalan pulang ke rumahnya yang kira-kira hanya berjarak sekitar tigaratus meteran saja dari sini.Begitu Aditya masuk rumah, Al buru-buru menyusulnya dan meninjunya keras dengan tangan yang sudah mengenakan kerakel.


Saking tajamnya permukaan kerakel itu dan juga kerasnya pukulan Al yang sudah penuh dengan emosi, wajah Adit yang ditinju pun sampai berdarah.


“Al, kurasa kau sudah lupa dengan sopan santun. Kau sepagi ini bertamu ke rumahku bukannya mengucapkan salam, tapi justru malah memukulku!” seru Aditya sambil meringis kesakitn sambil menyeka darah di wajahnya. Jelas ia kesakitam, sebab Al mengenai tepat di tulang pipinya.


“Di mana kau sembunykan Queen, ha? Cepat serahkan dia padauk!” bentak Al sambil mencekik leher pria itu.


Aditya tertawa kencang dan menjawab pertanyaan Al dengan suara berat dan terputus-putus karena lehernya dicekik keras oleh Al.


“Hahaha. Naif sekali aku, ya. Tadi aku santuy karena kukira kau tak tahu jika Queen denganku.” Dengan suara terbatuk-batuk Aditya berkata, bibirnya membentuk sebuah senyuman yang seolah mengejek pria yang mencekiknya itu.


“Katakan, cepat! Atau aku akan mematahkan lehermu sekarang!”


“Patahkan saja! Maka kau tidak akan bisa bertemu dengan adikmu satu-satunya itu, hahaha.”


“Keparat!” Dengan keras Al membanting tubuh itu sampai terpelanting dan menabrak meja makan sampai meja itu terguling.


“Hahaha, kakak ipar, kau ini kuat sekali, ya? Tenagamu sepertinya lebih kuat dari pemenang MMA tingkat Internasional saja. Padahal kulihat kau juga seorang bos yang hanya anteng dikursi bersama lembaran kertas dan berkas-berkas.’’

__ADS_1


“Cepat katakana di mana kau menyembunyikan Queen!” bentak Al sambil menginjak keras kepala Aditya sampai ia tak berdaya.


“Jika aku tidak mau mengatakannya gimana? Aku tidak akan biarkan Queen bersama siapapun, Jika dia tidak mau denganku maka, tak ada satupun laki-laki yang bisa memilikinya.” Bahkan dalam keadaan seperti itu pun Aditya masih bisa tertawa. Membuat Al kian jengkel saja pada pria itu.


Al mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil memperkuat pula injakan kakinya di kepala Aditya. “Apa yang sudah kau lakukan pada adikku, di mana dia?”


“Apapun itu, kurasa aku juga tidak perlu katakana padamu, kan kakak ipar? Lagi pula yang kami lakukan juga bukanlah hal yang layak untuk diceritakan.”


Mendengar jawaban itu Al menjadi kian emosi dan menendang keras tubuh Adit hingga tubuhnya terpental menabrak kaki mej makan sampai meja itu tergeser.


Al kian emosi dan membabi buta saat Adit tertawa dan bertanya balik padanya dengan pertanya pria itu. “Sekarang kembalikan saja pada dirimu sendiri kakak ipar, apakah kau ada bercerita bagaimana kau lalui malam pertama dengan istrimu dulu? Mulai dari menggalkan pakainnya dan.. “


Belum sempat Adit meneruskan kalimatnya, Al sudah menendang keras pria itu sampai darah banyak keluar dari hidung dan bibirnya yang mungkin pecah.


Al tertuju pada satu keramik di bawah karpet yang tersingkap itu, jika saja dia orang biasa, pasti ia hanya mengira itu tempat untuk menyimpan pompa air atau jenset. Tapi dia adalah seorang mafia dulunya, hidupnya penuh trik kotor dan rahasia, ia yakin ada sesuatu di balik sana. Terlebih rumah Aditya terletak di atas pegunungan yang banyak terdapat Vila di sini, ia berfikir kalau ini kemungkinana ada hubungannya dengan rahasia dia bisa dengan cepat kembali, padahal semalam sekitar jam satu dini hari harusnya dia masih di hutan sana.


“Tempat apa ini? Cepat buka!”


“Hehehe, sepertinya kakak iparku bukan orang biasa, hanya dengan satu keramik bisa dibuka tutup saja sudah berfikir jauh, itu tempat aku menyimpan jenset, Kakak.”


“Cepat buka, atau aku akan menghancurkan wajahmu!” Tidak telaten dengan Aditya, Al pun membukanya sendiri, di sana ia melihat ada tangga dan mebentuk Lorong gelap, sepertinya cukup dalam dan jauh.


“Cepat masuk ke sana! Pasti kau sembinyikan Queen di sana, kan?” Kali ini Al mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan tepat di kepala Aditya. Sampai mebuat pria itu terkejut dan dengan mudah menuruti perintah Al.


Dengan tetap menempelkan ujung pistol di kepala Aditya, Al terus mengikuti pria itu di belakangnya. Baru beberapa meter Al memasuki tempat itu, ia merasa mencium bau aneh, terleebih tempat itu lembab dan pengap.


“Adit, lepaskan aku!”


Al terkejut saat melihat banyak bercak darah berceceran di mana-mana mengotori lantai,ia bukan terkejut atas apa yang dilakukan pria itu, karena ia sudah menduga sebelumnya. Ia hanya terlalu takut jika saja itu adalah darahnya Queen.


“Di mana Queen?”


Aditya menyeringai sambil mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Coba saja temukan! Bukankah sejak awal sudah kubilang, jika dia tidak bisa kumuliki mustahil siapapun memilikinya. Dia tidak di sini.”


Al terbelalak saat melihat sosok tubuh terpisah dengan kepalanya berjarak beberapa beberapa centi.


“Queen!” seru Al, terkejut buru-buru ia mengampiri tubuh dan kepala itu.


Aditya tertawa terpingkal-pingkal saat melihat wajah panik dan takut Al berubah zong ketika menyadari kalau tubuh itu bukan tubuh adiknya, dan kepala di sampingnya itu adalah kepala boneka yang menyerupai wajah sang adik saja.


“Di mana Queen!” bentak Al sambil menembak ke arah dinding ruangan itu.


Aditya terdiam, ia sedikit gentar saat mendengar suara letupan pistol itu. Akhirnya pria itu pun mengakuinya.


“Aku semalam tanpa sengaja mendorongnya ke jurang, entah dia masih hidup atau mati aku juga tidak tahu,” jawab Adit dengan tenang.


“Bawa aku ke sana Sekarang juga!”

__ADS_1


‘’Tapi aku lupa di mana tepatnya.”


“tidak apa-apa, aku akan coba menyusurinya sendiri, cepat atau peluru ini akan bersarang di kepalamu.”


“Baik, sedikitlah santai, Kak. Jangan sampai tensimu naik.” Masih dengan tertawa Aditya pun menunjukan npintu keluar menuju hutan, Al yakin anak buahnya masih ada di sekitar sini, ini akan memudahkan dirinya jika sewaktu-waktu butuh bantuan.


Hampir satu jam dua pria itu menyisir bibir jurang, Al pun mendapatkan petunjuk, ia menemukan jam tangan yang dipakai Queen saat di kantor dan sampai ia berangkat ke rumah sakit. Al kian panik tak bisa menahan ketakutannya akan hal buruk yang biaa saja menimpa adiknya, karena ia tau jurang ini curam dan dalam.


Tanpa ragu-ragu Al pun menuruni jurang itu meski tanpa pengaman. Begitpun dengan Aditya, dia seperti tak takut apapun asal bisa menemukan Queen. Ya, mereka berdua sama-sama turun ke jurang.


Perjuangan mereka pun tidak sia-sia, meraka menemukan Queen di sana tergeletak lemah tapi keadaannya sudah sadar.


“Queen! Akhirnya kakak nemuin kamu, Sayang, maafkan kakak datang terlambat,” ucap Al sambil memeluk adiknya dan menciumi pipinya. Al merasa bersalah dan seolah ikut merasakan sakit yang dialami Queen, tubuhnya banyak luka akibat terkena ranting-ranting pohon dan mungkin juga tanaman berduri serta batuan cadas di atas sana.


Sementara Aditya menyeringai sambil membuang muka dari Al yang tengah menangisi adiknya.


“Aku tidak apa-apa, Kak. Terimakasih,” ucap Queen sambil tersenyum dan memgangi lengan kakaknya.


Al mengeluarkan pistolnya, tigakali ia menembak ke udara untuk memberi kode pada anak buahnya yang masih ada di hutan.


“Oh, kau menembakkan pistol sebanyak tiga kali, apa kau membawa polisi?” tanya Aditya sambil tertawa.


“Tidak, aku perlu bantuan orang-orangku untuk mengevakuasi Queen saja.”


“Oh, kurasa ini buruk. Maaf, sudah kubilang aku tidak mampu jika Queen harus dengan yang lain, sekalipun itu kau. Tidak ada yang boleh menyayangi dia melebihi aku.”


“Maksutmu apa, Dit? Tanya Al yang sudah meletakan Queen kembali, sementara ia sudah berdiri dan bersiap meneriaki anak buahnya yang sebagian sudah ada di atas sana.


“Aku akan bunuh dia!” seru Adit sambil menghujamkan pisau ke arah Queen, tapi dengan cepat Al mampu mencegahnya, ia mengorbankan punggungya demi melindungi Queen.


“Jangan beraninya kau melukainya!”


“Tidak ,masalah jika kalian berdua mati di sini, rasakan ini,” teriak Aditya.


“DOOR!”


“Bos Al ada di bawah sana! Cepat seseorang ambil tali,” teriak salah satu anak buah Al dari atas sana.


“Kau gila apa akan menyeret mereka? Lihat, ada banyak tanaman dan batuan cadas di bawah sana. Gunakan brik mu, minta orang di markas untuk mengirimkan hellikppter!”


“kak, kau membunuhnya?” ucap Queen terkejut sambil menyembunyikan wajahnya pada dada Al.


Al tidak menjawab, ia terus mendekap Queen sambil menahan sakit luka tusukan yang ada di punggungnya.


“Kau menembak apanya, kak?”


“sudah tidak apa-apa, kau tenanglah, jangan lihat ke sana.”

__ADS_1


Queen menangis kian hebat saat tanpa sengaja tangannya menyentuh luka lebar dan cukup dalam di punggung kakaknya, ingin sekali ia bangkit dan melihatnya langsung. Tapi, apa dia saja sejak sadar seperti tak bisa menggerakan tubuhnya.


__ADS_2