
"Ya, sudah. masa Iddah adikmu juga sudah berakhir kita nikahkan saja mereka segera," jawab Andrean sengaja memancing emosi cucu laki-lakinya.
''Apa kek? Menikahkan, mereka? Apakah ini tidak terlalu cepat?" protes Al dengan tingkah yang nampak aneh di mata Andrean.
Andrean tersenyum melihat tingkah Al yang sangat aneh. 'Benar apa yang telah Juna dan Vico katakan. Sepertinya Al memang sudah jatuh cinta dengan Queen. Lantas jika memang iya kenapa tidak berterus terang saja? Terus kenapa dia tidak menceraikan Nayla saja kalau memang sudah tidsk cinta. Terlebih perempuan itu juga sudah berselingkuh,' batin Andrean.
"Apanya yang terlalu cepat, Al? Mereka sudah sama-sama mencintai sejak Queen belum resmi bercerai dengan Alex. Sementara, masa iddah adikmu juga sudah berlalu sejak sebulan yang lalu. Jika dua orang saling mencintai, apalagi alasan kita untuk tidak menyatukan mereka?"
Al diam sesaat berusaha berfikir mencari kalimat yang tepat untuk dijadikan alasan. Diam-diam dia pun berfikir, apakah benar dia mencintai, Queen? Tapi, mana mungkin? Bukankah sama halnya menikahi adik kandung jika begini, orang tua mereka sama. Memanggil papa pada satu laki-laki yang sama. dan mama pada wanita yang sama pula. sekalipun mereka tidak ada hubungan darah, tapi Al dan Queen sudah sejak kecil hidup dan tumbuh bersama.
"Al cuma khawatir saja, Kek. Alex juga mencintai Queen tapi hubungan mereka kandas gara-gara Helena. Jika itu sampai terjadi lagi, bagaimana kalau papa dan mama sadar nanti? Mereka akan sedih dan kecewa sama Al, Kek karena tidak bisa menjaga Queen dengan baik," jawab Al.
Andrean tersenyum dan mengusap punggung Al dan bertanya, "Lantas, siapa yang menurutmu layak untuk adikmu? Memang kau tahu wanita lain yang juga mencintai Diaz?"
Dengan cepat Al langsung menjawab, "Hanifah, Kek."
"Apakah kira-kira dia akan menghalalkan segala cara untuk mndapatkan Diaz? Jika memang, iya, pasti sudah sejak dulu, Al. Hanifah akan tetap menyayangi saudarinya, lah."
"Al cuma kasihan saja sama dia, Kek. Baru jatuh cinta sudah patah hati saja. Seandainya ada laki-laki lain yang mau menjaga Queen dengan baik, Apakah kakek akan menjodohkan Diaz dengan Hanifah?'
"Tergantung mereka mau tidak dipisahkan, kalau ada pria lain yang mau memberi kebahagiaan pada Nayla, dan itu bukan kamu, kamu siap gak melepaskan dia untuk pria itu?"
Al merasa kesal, dia dan kakeknya membahas mengenai Queen, kenapa tiba-tiba saja malah merambat ke hubungan rumah tangganya?
"Kau sarapan sana, ajak anak dan istrimu jalan-jalan. Kasihan mereka, pasti juga ingin jalan-jalan denganmu, mumpung kamu tidak sibuk.'
Al masih bergeming di tempatnya, ia terlihat enggan pergi meninggalkan rumah. Mungkin karena ada Diaz dan dia cemburu, Andreas bisa menagkap sorot mata dan gelagatnya yang aneh. Hanya saja, ia tidak begitu menyadarinya sebelum tanpa sengaja mendengar percakapan Vico dan Juna beberapa waktu yang lalu.
Tapi kalau dipikir-pikir memang masuk akal, sih. Al dari dulu hanya memprioritaskan adiknya dari pada istrinya. Tapi, kenapa dia tidak sadar juga ya?
"Kamu mau pergi atau tidak? Bagaimana kalau sampai ada pria lain yang menawarkan kenyamanan untuk istrimu?"
"Iya, Kek. Al ajak mereka jalan-jalan sekarang.''
Dengan hati dan perasaan jengkel serta dongkol Al pun pergi ke atas menuju kamarnya mengajak Nayla dan Bilqis jalan-jalan.
Sementara Andrean hanya tersenyum melihat tingkah Al dan bergumam seorang diri, "Kamu harus berjuang mendapatkan cinta adikmu dulu, barulah bisa bersama. Jika papa dan mama kalian dulu, berusaha meyakinkan dan memenangkan hati kami untuk mendapatkan restu. Berjuanglah, Al. Jika kau mampu, biarkan Diaz dengan Hanifah saja. kasian cucu kakek yang itu.
****
__ADS_1
Dengan malas Al masuk kamar, mendapati Nayla yang tengah membacakan buku cerita untuk Bilqis.
"Jalan, yuk!" seru Al, dengan cuek seperti orang yang berbicara sendiri.
Nayla menghentikan membaca, ia memandang ke arah Al menatap suaminya dengan tatapan hampir tak percaya. 'Mas Al ngajak jalan duluan? ada apa memangnya?' batin Nayla.
"Kamu ajakin aku dan Bilqis jalan, Mas?" tanya Nayla, meyakinkan diri.
"Tentu saja, mau tidak?"
"Iya, Mas. Mau. Bilqis, kita siap-siap pergi bersama dengan papa, ya Nak."
"Sekarang, Ma? Horee... Akhirnya setelah sekian lama, akhirnya papa ada waktu ajakin kita jalan-jalan, ya Ma?" teriak bocah itu gembira.
Nayla hanya tersenyum menimpali ucapan putri semata wayangnya.
"Papa, kita mau ke mana?" tanya Bilqis sambil memeluk pinggang papa tirinya, sambil mendongak ke atas.
"Bilqis mau ke mana? Ke Mall atau ke Dufan, Ancol?" tawar Al.
"Emmmb, kemana, ya Pa?" Bocah itu meletakan telunjuknya di bawah dagunya dan matanya menatap ke atas, menunjuka kalau dia tengah benar-benar berfikir keras.
“Ya sudah, kita ke Dufan saja kalau gitu, benar, kan Papa mau?’’ Tanya bocah itu sekali lagi, untuk meyakinkan. Sebab, sudah lama Al, papa tirinya itu ada waktu untuk dia dan mamanya.
Jangankan mengajak pergi, Jangankan jalan-jalan, sekedar mengajaknya ngobrol saja sudah hampir tidak pernah.
Ketika Bilqis bersiap, Nayla menghampiri Al. Wanita itu menunjukan senyum dan sikap manjanya yang sudah lama tak ditunjukan pada suaminya sendiri. Ia berfikir Al kembali peduli dan perhatian padanya dan juga putrinya karena marahan dengan Queen. Mungkin memang benar. Tapi itu tidak sepenuhnya pula benar.
“Mas, terimakasih, ya sudah mau ajak aku dan juga Bilqis jalan. Aku tahu, kau sayang sama aku, tapi, karena kesibukanmu mengurus tiga perusahaan sekligus, itu membuat kau jarang ada waktu.”
Al berusaha menyingkirkan tangan Nayla yang mengapit lengannya kanannya. Tanpa berkata apapun, Al pergi mengambil jaket jeansnya yang berada di gantungan lemari.
“Aku tunggu kalian di bawah, cepatlah sedikit sebelum aku berubah pikiran,” ucap Al, lalu bergegas keluar kamar meninggalkan Nayla yang mulai keGR-an.
Dengan cepat Al menuruni tangga. Emosi yang sebenarnya belum stabil sama sekali, kini malah bertambah tak keruan saat ia melihat Queen dan Diaz bercanda di kursi ruang tamu.
Al tidak tahu jelas apa yang dibicarakan oleh keduanya. Tapi, mereka berdua terlihat sangat seru dan asik menikmati kebersamaannya.
Dengan sengaja, Al berdehem dengan suara kencang. Tapi, Queen yang terlanjur emosi dengannya tidak mau tahu. Apalagi peduli.
__ADS_1
Al tidak begitu faham betul bagaimana sifat adiknya, karena selama ini dia tergolong tipe orang yang susah marah. Kalaupun ngambeg juga tidak pernah lama. Tapi, jika sudah marah... Begitulah, Queen.
“Ada kak Al. Jangan deket-deket gitu, dong duduknya,” bisik Diaz pada Queen yang merasa sungkan dan tidak enak dengan Al yang sedari tadi Nampak memperhatikan mereka.
“Kenapa memangnya kalau ada dia? Toh dia juga pasti mengerti. Dia pernah muda, dan tidak dijodohkan saat menikah dengan kak Nay,” jawab Queen, sewot, dan malah menyandarkan kepalanya di lengan Diaz.
“Ayo mas, kita sudah siap. Apakah kita bisa berangkat sekarang?’’ ucap Nayla, sambil menggandeng lengan Al.
Sementara Bilqis dia menyelinap papa dan mamanya yang masih berhenti di tengah-tengah anak tangga.
Bocah itu ternyata menghampiri Queen dan Diaz.
"Om, Tante, ikut ke dufan bareng sama kita, yuk!’’ ajak Bilqis sambil duduk di pangkuan Queen.
"Kalian mau ke Dufan? Wah, asik dong," ucap Quen.
"Ayo, ikut dengan kami," ajak Biqis, lagi.
"Kalian pergi saja, Om sama Tante akan di rumah menemani kakek, oke?" bujuk Quen.
"Ya sudah, dada Om, Tantee." Bilqis pun ikut berjalan keluar saat papa dan mamanya keluar melintasi mereka berdua tanpa berkata sepatah pun.
Queen juga tidak peduli, Dia merasa ini akan lebih baik jika kakaknya tak mau berbicara dengannya.
"Diaz, ke pantai, Yuk!" ajak Quen sambil memegangi lengan Diaz.
" Ke pantai, mana?"
"Terserah, asal bukan Ancol."
Diaz pun menuruti kemauan wanitanya. Awalnya mereka ingin mengajak kakek Andrean. Tapi, kakek menolak, meskipun sudah mati-matian dibujuk beliau tetap saja menolak.
Akhirnya mereka pun hanya pergi berdua saja.
Rumah pun menjadi sepi saat duanya pergi, hanya ada Andrean dan Bik Yul saja.
Andrean masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. ia merasa bosan terus-terusan berada dan selalu duduk di kursi roda. ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, memikirkan sesuatu untuk membuang rasa bosannya.
Tiba-tiba saja, ia teringat dengan Hanifah, yang akhir-akhir ini ia ketahui banyak murung meskipun tersenyum di depannya.
__ADS_1
"Harusnya, untuk mempermulus rencanaku untuk pura-pura belum bisa jalan aku harus ada sopir yang bisa dipercaya bisa jaga rahasia dan tidak mudah keceplosan. Tapi, sudahlah biar kutelfon saja satu cucuku yang malang itu," Batin Andrean. Ia pun mulai menscrol contak dalam ponselnya lalu menelfon Hanifah.