
**Setelah mendapat telfon dari Jevin bahwa dia jadi ambil izin pulang, dengan semangat Nayla segera berdandan cantik untuk menemuinya.
Berkali-kali wanita itu berputar-putar di depan cermin mencoba baju yang kiranya pas dan membuat ia terlihat cantik. Tapi rupanya ia masih juga belum menemukannya, bahkan hampir setengah dari isi lemarinya sudah keluar dan ia coba.
Ia memandangi dalam lemari, beberapa gaun yang tergantung rapi di dalamnya. Sejurus kemudian matanya menangkap sebuah gaun berwarna dusty pink yang cantik. Nayla tersenyum dan mengambil gaun itu lalu mencobanya.
"Perfack, ini bagus. Kenapa gak dari tadi aja langsung coba gaun ini, ya?" ucap Nayla seorang diri. ia menoleh ke arah tempat tidur yang berantakan penuh dengan baju-bajunya. Terpaksa mau tidak mau harus membereskannya dulu. satu persatu ia gantung dan dimasukan ke dalam lemari.
Baru beberapa helai baju yang beres, bahkan tidak ada seperempatnya, ponselya berdering. Ternyata Jevin yang menelfonnya.
"Halo, Jev? Kau di mana sekarang?" tanyanya, begitu mengangkat panggilan dari teman prianya itu. Entah, teman atau pacar, yang jelas hubungan Nayla yang sudah menikah dan Jevin itu tepatnya adalah selingkuhan.
"Aku berhenti tigaratus meter sebelum di rumahmu, apakah kau masih lama?" jawab pria itu dari seberang.
Nayla pun panik, melihat baju-baju yang berserakan sampai ke lantai, bahkan Kebon sudah ada di tempat di mana ia sudah janjian tadi. meminta agar pria itu menunggu lagi, tidak mungkin, kan?
"Oh, iya... iya. Sebentar, ya? Aku jalan dulu. aku masih di kamar dan sudah siap, kok tapi." Nayla punematikan panggilan dan buru-buru keluar. kawatir Nanti Bilqis pulang lebih dulu, atau tiba-tiba Al datang dan kamar berantakan, ia pun meminta bantuan bibi agar membereskan baju-bajunya secepatnya.
Sementara Jevin yang mendengar jawaban Nayla yang tiba-tiba saja gugup saat tahu ia sudah ada di tempat janjian hanya tertawa dan geleng-geleng kepala saja sambil bergumam, "Dasar wanita, dandan aja lama, yang mekap yang milih baju, lah. Padahal, kenyataanya pria suka wanita yang tak berbusana."
Nayla berlari ke dapur setelah menuruni tangga, tapi, Bik Yul tidak ada di sana, ia pun mulai berteriak memanggil-manggila si bibi.
"Biiik, Bik Yul!"
"Iya, Non. Ada apa?" tanya si bibi tergopoh-gopoh berlari dari halaman belakang.
"Bibi lagi apa?" tanya Nayla berbasa-basi.
"Ini, tadi, membersihkan ranting-ranting bunga mawar yang kering, Non. Tapi dah selesai, kok. tinggal rapiin alat-alat dulu."
"Oh, bagus. Setelah itu tolong ya Bi, berseskan baju saya di dalam kamar ke dalam lemari lagi, agak berantakan," ucapnya lalu ia pun pergi.
"Ehhh.... Non. tunggu dulu, Non. Non Nayla mau ke mana?" tanya bibi sambil mencegah Nayla pergi.
"Saya mau arisan sama teman-teman, Bi. bilang gitu aja sama Bilqis, ke kakek atau mas Al kalau nanti dia pulang untuk makan siang," jawab Nayla lali bergegas pergi.
Sementara bi, Yul pergi ke belakang membereskan alat-alat dan juga selang ke tempat semula dan bergegas ke kamar Nayla.
Tiba di dalam kamar, Bi Yul terkejut dan bergumam, "Aduh, kalau ini bukan lagi sedikit berantakan, Noooon.... tapi kapal pecah." Berkali-kali Bi Yul mengelus dada dan mulai membereskannya satu demi satu baju-baju itu.
Nayla terengah-engah setelah berjalan sejauh tigaratus meter. mungkin dapat dikatakan ini tidak begitu jauh, tapi, jelas terasa melelahkan baginya sebab ia memakai high heels.
"Kamu nunggu aku gak kurang jauh, ya?" ucap Nayla begitu masuk ke dalam mobil Jevin.
Pria itu hanya terkekeh sambil mengusap keringat yang ada di kening Nayla.
"Kan kamu yang memintaku agar menunggu di sini."
"Jauh ternyata, ya? Capek. kakiku pegel," ucap Nayla dengan nada manja.
"Ya sudah, nanti sampai hotel aku pijitin," ucap Jevin sambil memijat sebentar betis kanan Nayla.
Nayla mengeringkan matanya, menggoda Jevin dengan senyuman manjanya, "Beneran, lo, ya?"
"Iya, iyaaa. kamu mau ke mana dulu? langsung chek in atau gimana, nih?" goda Jevin.
Nayla diam tidak menjawab. Sebenarnya dia ingin langsung chek in saja. tapi, rasanya malu, sebagai wanita jika terlalu gampang dan blak-blakan.
Bagaimana pun juga, sebagai wanita normal wajarlah jika ia memiliki nafsu dan rindu dengan sentuhan pria. Sebab, akhir-akhir ini Al, suaminya jadi tidak pernah lagi sekalipun menyentuh dirinya beberapa Minggu ini. ya, tepatnya setelah dia pulang dari Jepang. Hal itulah, yang membuat Nayla parno sendiri dengan stafnya yang bernama Iren, itu.
"Sayang, kok bengong.... kita nonton dulu aja, yuk!" ajak Jevin sambil meletakan tangannya di atas paha Nayla yang kebetulan terbukaz karena dres yang dikenakannya menyingkap ke atas.
Nayla pun menjadikan ini kesempatan, dengan mendekatkan diri ke arah Jevin sambil mendekatkan dadanya ke arah pria itu.
sontak saja, mata Jevin langsung tertuju pada belahan dada Nayla yang nampak menonjol dan menggoda.
"Terserah, kamu, deh. Yakin, kita nonton dulu? emang mau nonton apa?" ucapnya sambil meletakan kedua tangannya di atas pundak Jevin dan menempelkan buah dadanya pada lengan laki-laki berondong itu.
__ADS_1
"Lalu gimana? apa sopan jika aku langsung mengajakmu cek in hotel?" Jevin pun menghadap ke arah Nayla merangkulnya sambil ******* bibirnya.
"Ya terserah, kau mau ajak aku nonton dulu, atau chek in aku nurut kamu saja, deh. Emang gak apa-apa, tuh sebelum kelar nonton tiba-tiba anakku telfon?" pancing Nayla, yang sebenarnya ia sendiri yang sudah terpancing nafusnya.
"Ya sudah, aku tidak mau ambil resiko, ayo kita ke tempat biasa, saja." Jevin pun menghidupkan mesin dan mulai melakukan mobilnya menuju hotel berbintang tempat di mana ia biasa melakukan bersama Nayla.
****
Pukul Sembilang lewat tiga puluh, rombongan Aditya sudah tiba di rumah kakaknya yang berada di Bandung Buah batu, tempat kakak kandung Aditya.
Awalnya dia juga tinggal di Jakarta, tapi, karena di tugaskan di Bandung. Jadi, mau tidak mau ya harus pindah. Sudah lama pula, dia dan istrinya meminta kedua orang tuanya untuk tinggal bersama mereka agar rumah tidak sepi, karena anak semata wayang mereka sudah kuliah di Jogja.
Sekalipun di sini termasuk kota, Tapi, hawanya masih sejuk tidak sepanas ibu kota. Novita dapat merasakan kesejukan kota kembang ini.
"Axel, kita sudah tiba di rumah Om kamu, ayo turun!" seru Adita setelah menghentikan mobilnya di depan rumah berpagar besi tinggi. menunggu satpam kakaknya membukakan pintu gerbang.
Aditya membunyikan Clakson sekali lagi, lalu terdengar suara kumci dibuka dan menyusul pintu pagar di buka lebar.
Di depan mata, Novi melihat taman bunga beraneka warna dan jenis di depan halaman rumah megah itu. Dia tersenyum menatap dengan takjub. sudah lama dia tidak datang ke rumah kakak iparnya. kalau tidak salah, sudah sekitar enam bulan yang lalu, dan mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. karena, besok dia akan pergi ke negara lain dan menetap di sana sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.
Kakak ipar Novita, beserta istrinya dan juga papa mertua keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan mereka.
Om Doni.... Tante, Rere, Kakeeek... Axel kangen kalian," teriak Axel begitu turun dari mobil dan berlari ke dalam pelukan omnya.
"Waaaah, keponakan Om sudah besar, ya? Aduh! om hampir tidak kuat menggendong mu," ucap Doni sambil memaksa mengangkat tubuh keponakannya itu. dan mungkin, ini akan jadi yang terakhir kalinya bagi dia.
"Usiaku sudah hampir duabelas tahun, Om. jadi wajar," ucap Axel sambil tertawa riang.
"hohoho, iya... Om lupa, ayo kita masuk. tapi, kakak Tiara tidak ada di rumah, dia di Jogja. kau menginap, ya? besok Om ajak mengunjunginya, bagaimana?" tawar om Doni.
"Lain kali saja, Om. Axel harus banyak-banyak belajar, karena ini sudah mendekati ujian nasional."
"Baik, kalau gitu setelah kelulusan kau melanjutkan SMP di sini saja, ya?"
"Apa bisa, Om? kan sudah ada penerapan zonasi," jawab bocah itu polis sambil terkikik.
mereka pun berkumpul di ruang tamu, selain Novita, Livia dan Rere. tiga wanita itu mengusung barang bawaan Livia ke dalam kamar.
"Re, jangan. ini sebaiknya sembumyikan saja di tempat yang aman," ucap Livia.
"Ini bareng milik Novi dan Axel, Ma?" Rere menatap iba ke arah Novita yang masih berusaha tetap terlihat tegar sejak ia tiba tadi. bahkan adik ipar dari suaminya itu juga masih tersenyum meski matanya mulai berembun.
Tanpa banyak bicara Rere memeluk erat tubuh Novita sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Sabar ya, Nov. Semoga kau dan Axel menemukan kebahagiaanmu di sana, ya."
Novita yang semulanya tegar dan yakin tidak akan menangis langsung saja air matanya berjatuhan dengan deras saat mendapatkan perlakuan Rere yang menunjukan kepeduliannya.
"Aamiin... iya, kak. iya... terimakasih, kak. maafin Novi, ya jika mungkin selama ini ada berbuat salah sama kakak."
"Kita saling memaafkan. jangan lupakan kami, di sini. Ya?"
Novita hanya membalas dengan anggukan, berusaha tenang dan tidak lagi menangis, agar Aditya tidak curiga.
"Sudah, ayo kita ke depan," ajak Livia, setelah melihat Novita terlihat tenang.
"Mama ke depan saja dulu ya menemui mereka. Biar aku sama Novita ke dapur dulu menyiapkan makanan ringan untuk kita bersantai," ucap Rere.
Livia pun menuruti permintaan menantunya itu. Ia berfikir mungkin mereka ada hal rahasia yang ingin di bicarakan. meskipun sebenarnya itu hanyalah untuk alasan Rere saja mengulur waktu, supaya keadaan Novita lebih baik.
Di dapur Rere mengajak Novi membuat gorengan dan memotong puding sebagai hidangan. Di sana dia tidak membahas mengenai permasalahan Novita dengan Aditya, kawatir tiba-tiba adik iparnya datang ke dapur dan mendengar semuanya. yang hanya akan membuat rencana yang telah di susun matang jadi berantakan.
Mereka hanya menceritakan sesuatu uang lucu-lucu saja sambil sesekali tertawa. dan benar saja, saat keduanya asik tertawa tiba-tiba saja Aditya muncul dari belakang mereka.
"Pada ngobrolin apa, sih? kok asik banget."
Kedua wanita itupun menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Eh, kamu, Dit? kenapa kemari?" tanya Novita.
"Kenapa? aku khawatir hal buruk terjadi padamu, sayang. Makanya aku kemari," jawab Adit sambil memeluk Novita dari belakang, bahkan tidak sungkan dengan Rere yang masih ada di situ.
'Peluk aja istrimu sebelum fajar,' batin Rere sambil menertawai Aditya.
"Ya sudah, ayo kita ke depan yuk!" ajak Rere kemudian.
🍁🍁🍁
"Haaah.... Akhirnya, kelar juga, ini." Quen nampak mengeliatkan tubuhnya di kursi kerjanya.
sementara Al dari mejanya meliriknya sambil tersenyum kecil.
"Kau sudah beres, Sayang? Cepat sekali?"
"Ya, waktu membagi, jadi, apa-apa harus cepat donk!" seru Quen sambil beranjak ndari kurainya dan meluruskan kakinya di atas single sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Al pun juga sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun menghampiri adiknya, ikut duduk di sana dan meletakan kedua betis Quen dalam pangkuannya lalu memijatnya.
"Kak, yang capek pundak ku, bukan betis ku. pijat sini saja!" Queen tersenyum sambil memberi isyarat memegang kedua pundaknya.
Tanpa berkata apapun, Al meletakan kaki adiknya dan berpindah berdiri di belakang Quen dan mulai memijat pundaknya.
"Begini, enak tidak?" tanya Al.
"Iya, yang itu, Kak. enak banget. Jadi tukang pijit aja deh, kamu, kak," ucap Quen sambil terkikik.
"Tukang pijit pribadimu saja, gimana?" jawannya.
"Ooo, dengan senang hati."
"Apa imbalannya?" bisik Al di dekat telinga Quen.
"Ih, Kak." Quen menghindar, sedikit menjauh dari Al.
"Hahah, kenapa?"
"Kumismu, geli."
"Kau tidak suka kakak berkumis?" tanya Al, sambil menjaili adiknya dengan mengusapkan kumisnya di pipi Quen lagi.
"Ya, terserah. Kenapa tanya aku? Sudah jam istirahat, kan? Ayo kita cari makan, aku lapar ini."
Al tertawa lalu mengejar adiknya yang sudah berada di depan pintu.
"Memang, kau mau makan apa?"
"Apa, ya? Kita makan Bakmi di depan sana, saja yuk, Kak!" ajaknya, sambil berjalan mendahului Al.
Awalnya Al hanya berjalan di belakang Quen saja, Tapi, lama-lama dia berlari bejalan sejajar, lalu mengapit lengannya sambil berjalan.
Al tidak peduli, meskipun ia jadi pusat perhatian para karyawannya yang lalu lalang dan kebetulan berpapasan dengannya.
Queen sebenarnya agak risih dengan Hal ini, tapi, melihat Al, sepertinya enjoy saja, dan tak peduli. barulah saat berpapasan dan di sapa oleh Iren kakaknya nampak sedikit muak.
"Selamat siang, Pak Al."
"Iya, siang."
Queen menahan tawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Jangan jutek-jutek, benci sama cinta itu beda tipis, loh. terlalu benci lama-lama cinta tau rasa, kau kak," tegur, Quen.
"Cinta? Terus istriku mau dikemanakan?"
""Kali aja mau poligami, asal bisa adil, sah-sah aja, kan?"
__ADS_1
"Ide bagus. kapan-kapan saja lah. cari calon istri kedua dulu," jawab Al sekenanya.
sementara Quen hanya terbahak saja. ia mengamati penampilan kakaknya yang tidak mengenakan jas selain kemeja hitam polos seperti karyawan biasa memang membuatnya terlihat cool. dan kumisnya.... ah, Maco juga kakakku kalau begini. gumam Quen dalam hati.