
Dengan sedikit terburu-buru Alex pergi ke kampus untuk
mengajar, Entah bagaimana ceritanya dia bisa bangun kesiangan. Sungguh tidak
seperti dirinya yang biasanya. Jadi, ia sedikit keteteran saat mengoreksi hasil
dari tugas-tugas sisa wiswinya.
Entah suatu kebetulan atau ujian. Ketika ia melintasi area
sekitar apartemen Queen tanpa sengaja ia melihat mantan istrinya turun dari
taxi dengan penampilan lusuh dan berantakan. Hal itu cukup membuat Alex
tercengan dan mau tidak mau dia pun turun dari mobil dan berlari menyebrang
menghampiri wanita itu.
“Queen!” serunya.
Wanita itu pun berhenti, lalu menoleh ke belakang. Sehingga
pandangan mereka saling bertemu.
‘’Alex, kenapa kau ada di sini?”
“Ini aku mau ke kampus dan sengaja lewat sini biar lebih cepet tiba saja. Itu, kamu dari
mana kok berantakan banget?” tanya pria itu dengan ragu-ragu.
“Aku tidak apa-apa, kok. Kamu buru-buru, tidak? Mau mampir
dulu?”
Awalnya Alex bermaksut menyetujui ajakan Queen, tidak peduli
dengan kampus dan berfikir sepuluh atau lima belas menit terlambat gak apa-apa.
Tapi, sayang. Ucapan Al yang begitu menusuk membuatnya susah melupakan hal itu.
Dia juga tidak berani ambil resiko mengorbankan kakak dan keponakannya. Jadi,
mau tidak mau ia pun harus menolak. Tetap diam tak bertanya melihat penampilan
Queen yang sangat berantakan.
Dngan perasaan hati bimbang dan penuh rasa khawati pun Alex
pergi ke kampus. Ingin tahu apa yang terrjadi pada wanita yang dicintainya tapi
bingung hjarus tanya pada siapa, sebeb, jika tanya pada Al jawabannya juga
seperti itu. Tidak akan jauh-jauh dari kalimat, “Kau tidak ada hak lagi untuk
memperdulikannya, sebab sudah ada Diaz.”
Tapi, ketika masuk di dalam kelas, tiba-tiba dia teringat
dengan Juna yang juga bekerja di perusahaan Al. Tapi, tak mungkin juga, kan
kalau Alex menelfon atau mengiriminya pesan chat. Sebab, dia sudah ada di
kelas, dia harus memberi contoh yang baik sebagai dosen.
Jadwal yang terlalu padat membuat Alex lupa dengan Juna. Ia
langsung pergi ke gym aetelah selesai di kampus, dan baru tiba di rumah sekitar
jam enam sore. Setelah mandilah, ia baru sempat dan teringat dengan Juna.
Saat itu, kebetulan Juna tengah berada di rumah Al bersama
Vico pula sejak jam empat sore tadi. Tapi, sampai saat ini Al masih juga belum
kembali.
“Apakah tadi ada masalah di kantor, Jun?” tanya kakek
Andrean.
“MAsalah, ya? Iya ada, Kek. Taoi, Cuma sedikit,” jawab Juna
dengan ragu-ragu.
Dari situ, Andrean sudah bisa menebak kalau yang bermasalah
adalah kkedua cucunya yang sampai saat ini belum kembali. Baru saja Andrean mau
bertanya kembali. Tapi, ponsel Juna telah bordering tanda ada panggilan masuk.
Juna melihat pada layar ponselnya, ternyata Alex yang
menghubunginya. “Saya angkat telfon dulu, Kek.”
Barulah pria itu mulai mengngkat panggilan setelah Andrean
memberi jawaban berupa anggukan pelan.
“Halo, Lex. Ada apa?” ucap Juna setelah mengangkat panggilan
dari sahabat SMA nya itu.
“Halo, Jun. Apakah Queen sedang ada masalah?”
Juna mengwrutkan keningnya dan balik bertanya, “Kenapa kamu
tanya gitu sama aku?”
“Sebab tadi tanpa sengaja melihat dia turun dari taxi dalam
kondisi yang berantakan, seperti ada yang menjambak rambutnya.”
“kamu Cuma liat doing dari jauh? Kenapa gak di samperin dan tanya langsung saja
ke dia?”
“Aku nyamperin. Tapi, gak berani nanya.”
“Kenapa? Bukannya kamu ingin bisa balikan sama dia?” ucap Juna merasa adsa yang
janggal dengan sikap Alex kali ini.
“Kan, sudah ada Diaz, Jun. Biarkan saja mereka bahagia, aku
dah janji gak akan ganggu Queen lagi. Dia sudah menentukan pilihannya?” jawab
Akex dengan nada lirih. Sepertinya ia tengah tertekan.
“Janji sama siapa? Bukannya kamu kemarin masih
terang-terangan ajak dokter Diaz bersaing, ya?”
__ADS_1
“Sama kak Al. Dia yang memintaku jauhi adiknya karena sudah
ada Diaz.”
Mendengar jawaban itu, Juna tertawa tertahan. Akhirnya, ia
pun memberi jawaban pada Alex agar dia terpuaskan dengan rasa penasarannya.
“Ok, jadi gini, tadi Queen berantem sama salah satu staf.
Wanita itu iri dengan karir Queen ia di kata masuk perusahaan modal tampang
aja, ya dikata jalng segala macam, itupun dia masih diam. Tapi, tidak terima
ketika wanita itu berkata Queen bisa lolos jadi dokter juga dari jual diri pada
dosennya, Queen menegur dan si wanita itu malah menjambaknya dengan kencang.”
“Apa?” ucap Alex terkejut.
“Saat itu, dia langsung pergi, dan Al juga sudah pecat
wanita itu kok,” jawab Juna.
Barulah Alex bisa merasa lega kita tahu wanita
itu sudah di urus oleh Al. Ia oun mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan Sementara Juna malah terkikik setelah mendengar kabar dari
Alex barusan Ia merasa kalau Al memang memiliki rencana dan meminimalkan
saingan. Entah benar begitu atau tidak Juna mencoba mencari tahu tentang
pendapat sang kakek dan pada Vico yang lebih dulu menyadari hal ini.
“Siapa yang barusan telfon, Jun? Gea, ya? Kok senyum-senyum
sendiri gitu, sih,” tanya Vico, heran.
‘’Itu, Alex, nanyain Queen. Tapi, alu merasa ada kesimpulan
lain sih dari sikap dan apapun yang di lakukan sama Al akhir-akhir ini.”
“Apaan?” tanya Vico. Penasaran.
“Gak tahu gimana awalnya. Cuma intinya Alex diminta Al agar
menjauhi Queen, dengan alas an sudah ada Diaz.”
“Lalu, apa kesimpulannya?” tanya kakek Andrean sambil
tersenyum, karena merasa Juna sepemikiran pula dengan dirinya.
“Biar saingan dia tidak banyak, cukup Diaz aja. Kalau Alex
mmungkin agak susah, karena dia termasuk bisa lah dengan mudah kembali
memenangkan hati Queen kembali, karena perceraian mereka dulu bukan atas
kesadaran dari Alex. Tapi, jika Diaz…. “ Juna sengaja menggantung kalimatnya.
Andrean tertawa, membenarkan ansumsi Juna. “Kita lihat saja
bagaimana nanti selanjutnya, kalau memang dia bisa membuat Hanifah pergi dari
kehidupan Diz, artinya kita memang salah pajam dengan dia. Dia benar-benar
ingin tepati janji pada Clara dan Vano untuk membuat Queen terus bahagia.
Hanifah. Ia merasa enggan untuk pulang, karena rasa muaknya terhadap Nayla.
Mungkin jika saja Queen tidak marah dengannya masih mending, dia ada teman
ngobrol. Sebab, jika tidak dengan mereka, pasti yang ada kakek saja , dan itu
pun yang dibahas juga pasti tentang hubungan antara Diaz dan Queen. Entah
mengapa. Al merasa muak mendengarnya saja.
“Baru jam Sembilan, ya?” gumamnya seorang diri setelah
melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Akhirnya pria itu pun
melajukan mobilnya menuju ke cafe dan bar milik Martin.
Tidak seperti biasa, kali ini Martin seolah tahu akan
kedatangannya, dia sudah menyambutnya begitu ia memasuki area bar.
‘Al… Selamat datang, kawan. Apa kabar? Apa yang mwmbawamu
kemari?” sapa pria berbadan gendut dan mata sipit itu, sambil membuka kedua
tangannya bersiap untu memeluk Al.
“Hay, Bro! Kabar baik. Gimana dengan kamu, dan cafemu? Makin
rame saja, ya?” ucap Al sambil membalas pelukan Martin.
“Ya, seperti yang kau lihat, Bro. Ini semua atas dukungan
dari kamu.” Martin membuka tangannya seolah menunjukan gemerlap café dan bar
miliknya yang sangat penuh pengunjung yang sebagian besar dari kalangan orang
elit. Dan Al adalah tamu kehormatannya.
“Bagaimana bisa aku? Ini semua tas kerja keras dan jerih
payahmu. Percayalah, Bro. kalau usaha itu tidaklah mengingkari hasil,” jawab
Al, merendahkan diri.
‘’Sudahlah, ayo. Kau adalah tamu kehormatan café ini dan
akan selalu begitu selamanya, mari, Al. Kali ini aku akan menemani kamu minum
sampai puas.”
Al tersenyum, ia merasa senang karena ada yang menemaninya
malam ini. Martin mengajak Al duduk di ruangan paling pojok, di mana di sana
juga tersedia sisha kegemaran Al. Cafe ini pun menyediakan sisha juga atas
rekomendasi dari Al, karena baginya, sisha itu, enak, bikin nyaman,danjuga bisa
bikin pikiran rilex, enteng. Sama dengan rokok. Cuma, bedanya sisha itu tidak
bikin addicted, atau nagih. Dan pasti kalian juga tahu, lah rokok, ya? Selain
kita harus keluar ruangan jika menikmati karena bau asapnya yang tak disukai
__ADS_1
dan merugikan bagi yang bukan perok, juga menimbulkan sampah, puntungnya itu,
harus sedia asbak. Belum lagi, ketagihannya, itu pasti. Karena sudah banyak
yang ingin berhenti merokok, tapi susah. Termasuk Al. Meskipun sudah di ganti
dengan vape atau rokok elektrik yang bisa dengan praktis dibawa kemana-mana,
baginya beda dengan rokok biasa.
Begitu keduanya sudah duduk di tempatnitu dan saling
mengobrol ringan seputar karir masing-masing. Soerang pelayan datang membawakan
Al dan juga Martin lima botol sekaligus minuman berakohol denghan berbagai
merk. Salah satunya adalah sababay wine. Itu adalah minuman kegemaran Martin,
dan Al sendiri, dia lebih menyukai two Islan. Meskipun minuman ini satu pabrik dengan Htten Wines, Two Islan memiliki rasa yang berbeda yang
terdiri dari chardonnay, Riesling, shiraz dan carbanet merlot. Bahkan dari bahan-bahannya pun juga berbeda
two islan ini menggunakan anggur asal Astralia, sementara Hatten wines
menggunakan anggur hitam local jenis Alphones-Lavallee, French table grapes,
anggur putih local Belgia dan anggor Probolinggo biru. Dan dua minuman itu
sudah masuk dalam daftar minuman berakohol dari Indonesia yang telah mendapat
pengakuan dunia karena kwalitasnya.
“Gimana, loe, Al? Udah lama nikah belum punya anak sendiri,
mandul, kamu ya?” tanya Martin tiba-tiba saat dirinya sudah terpengaruh alkohol
dan mulai mabuk.
Al tertawa miring mendengar pertanyaan kawannya ini. Dia
tidak tahu harus menjawab apa, dijelaskan pun Martin si cowok buaya itu juga
tak akan paham. Karena baginya, jika mampu membuat wanitanya hamil, dia adalah
pria perkasa.
“Ngapain kamu bahas ke anak-anak? Kamu sendiri sudah punya
berapa anak?” Al justru bertanya balik.
“Jangan diragukan kalau aku, empat istri masing-masing sudah
punya dua anak, di usia yang belum tua anakku ada delapan, Al,” jawab Martin
dengan rasa bangga.
Al Cuma menyeringai dan berkata, “Itu yang dari istri sah,
ya? Yang dari istri siri atau pacar dan simpanan?”
“Tidak ada, aku tidsk pernah membuat mereka hamil. Tapi,
jika tidak sengaja aku akan memina mereka untuk mengaborsinya. Tapi, jika memaksa untuk tetap mempertahankan
dan melahirkan anak itu, ya aku sudah bilang anak itu di luar tanggung
jawabku.” Dengan sangat enteng pria itu
menjawab. Tnpa rasa bersalah dan berdosa ia menyesap sebatang rokok yang
terselip di antaratelunjuk dan jari tengahnya itu dalam-dalam, lalu mengepulkan
asapnya ke udara.
“Bangsat, kau Tin.” Hanya itu komentar Al.
“Hahaha, emang yang ******* itu jusru memikat, Al.”
Tanpa terasa, mereka mengobrol
sampai larut, waktu pun sudah menunjukan pukul dua dini hari. Artinya jika Al
pulang nanti sudah jam setengah tiga. Tidak buruk lah, minimal semua orang
sudah pada tidur, dan tak aka nada yang melihatnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Berada di apartemen ternyata membuat Queen lebih mudah
mengerjakan pekerjaan dari kantor. Jadi, hari ini sekalipun sangat padat, ia tidak merasa begitu lelah, sebab, tadi siang dia masih ada waktu untuk tidur selama tigapuluh menit.
Tepat pukul tujuh malam ia meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah. Ia ingin mengadu pada sang kakek mengatakan kalau lebih baik tidak usah ke kantor saja. Karena, selain dia masih berseteru dengan Al. ia juga merasa lebih cepat saat mengerjakannya.
Padahal baru pukul tujuh lewat duapuluh menit. Tapi, suasana rumah sudah begitu sepi.
Hal ini membuat Queen teringat kepada kedua orangtuanya yang masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia pun jadi berandai-andai cz seandainya Papa dan Mama masih berada bersama kita pasti rumah sebesar ini tak akan lagi terasa sepi.
Queen masih berdiri mematung di depan pintu, pandangannya di edarkan ke seluruh ruangan mengamati setiap sudut ruang di mana dulu ruangan itu suasananunya benar-benar terasa hidup.
Setiap selesai makan malam, semua orang berkumpul di sini. Kakek nenek, dan juga papa mamanya, saling bercanda, dan menceritakan masa kecil dirinya dan juga Al.
Setiap kali ia pulang dari sekolah, atau bahkan kuliah, mamanya selalu menyambutnya dengan hangat. Menanyakan bagaimana kegiatannya hari ini, menyenangkan atau tidak. Andai masih seperti dulu, dia pun juga ingin seperti itu, setiap kali pulang bekerja disambut dengan peluka. Tapi, kapan?
'Ma, Pa... Kapan kalian akan sadar dan kembali di sini bersama kami? lihatlah sekarang rumah ini, seperti tak berpenghuni saja. Ma, aku juga rindu dengan masa itu, saat ini aku ingin bercerita kepadamu bagaimana kegitanku hari ini di kantor dan di rumah sakit.
Ma, tidakkah kauh tahu, merangkap dua profesi sekaligus itu sangat lah sulit. Aku menjadi staf kantor, sekalipun free line katena milik sendiri dan hanya sekedar membantu meringankan sedikit beban kakak, itu jug tidak mudah, masih ada banyak pasien yang harus aku layani, masih banyak kegiatan-kegiatan yang menyita waktuku. Bahkan, tidak jarang pula, aku kurang istirahat dan tidur.
Cepatlah sadar, Ma... agar lelahku hilang saat pulang melihat dirimu tersenyum sambil membukakan pintu untukku.'
Meski kakinya terasa berat dan kaku, wanita itu tetap melangkah karena tak ingin terlalu larut dalam kesedihannya yang tiada arti itu. Toh setiap hari dia juga tak pernah absen memantau langsung bagaimana perkembangan kedua orang tuanya.
Queen berjalan menuju ke ruang tengah dengan harapan kakek Andrean berada di sana. Tapi, tempat itu sepi. Tak seorang pun berada di sana. Bahkan, Bik Yul yang biasanya jam segini masih berada di dapur juga tidak ada.
Queen pun memutar badannya, berjalan menuju kamar dengan maksuteletakan tas dan juga rebahan sebentar, punggungnya terasa sangat lelah.
Tapi, baru saja ia menginjakan satu kalinya pada anak tangga, Bik Yul yang keluar dari tempat setrika memanggilnya, "Non, sudah pulang? Tuan tadi berpesan pada saya kalau Non Quen sudah tiba, suruh menemui beliau di ruang baca."
Queen pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang ke arah Bik Yul. Ia tersenyum dan menjawab, "Baik, Bi. Terimakasih, ya. Saya mau ke kamar dulu meletakkan tas sekalian mandi."
Tiba di kamarnya, Quen hanya merebah sebentar saja di atas ranjangnya, kira-kira lima menitan, cukuplah untuk meluruskan tulang-tulang belakangnya. Setelah itu ia pun bergegas mandi, dan mengenakan steelan pyama putih, bermotif rabbit pink celana panjang dan baju lengan pendek sebatas siku, ia menggambil sliper putih bulu-bulu denha. tempelan aksesoris kepala beruang berwarn senada lalu mulai keluar kamar dan menapakai anak tangga.
Ia tidak tahu apa kira-kira yang ingin kakeknya sampaikan. Sebab, jika ia sudah menunggu dan sampai berpesan kepada bibi,pasti ada hal penting yang memang beliau ingin sampaikan. Tapi Queen tidak mau berfikir apa itu, dia juga butuh kakek untuk mengutarakan maksut dan keinginannya.
Tiba di depan pintu, wanita itu tidak langsung mengetuknya. Ia merasa seperti ada hal yang membuatnya berat.Tapi, apa dia juga tidak tahu.
'Ayolah, Quen, masuk dan temui. Apapun itu, masalah dan rasa takut bukan untuk dinikmati, melainkan untuk dihadapi!'
Dengan pelan, Quen mengetuk pintu ruangan itu, dan membukanya setelah mendapat jawaban dari dalam.
"Kakek menungguku?" sapa Quen dengan lirih, nyaris tak terdengar, suaranya seolah terkikis habis oleh rasa was-was di hatinya.
__ADS_1
"Kau sudah pulang, Nak? kemarilah duduk di sini." Andrean menunjuk kursi tepat di depannya. Begitu cucu perempuannya itu sudah duduk di sana, ia letakan buku tebal, kira-kira empat ratus halaman, yang sepertinya sudah ia baca dapat setengahnya. Lalu, menatap ke arah Quen dengan senyum wibawanya.