Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
episode 76


__ADS_3

Kesibukan yang ditunggu pun telah tiba. Jika minggu lalu keluarga Novi masih santai, Queen bersama anak dan suaminya juga masih bisa berkunjung ke tempatnya dan bermain bersama, minggu ini, adalah puncak acara. Nanti malam sudah terlaksananya peringatan kematian mendiang adiknya Candra.


Banyak orang berdatangan untuk melakukan tahlil. Sedangkan di belakang, banyak orang-orang yang diundang dan dibayar mama Dian untuk bantu menyiapkan berkat, serta hidangan untuk para tamu undangan tahlil.


Mungkin ini kali pertama Novita melihat yang seperti ini. Kejadian yang teramat sakral dan sangat kejawen. Bahkan, di kamar yang dulu ditempati mendiang Leivi.


Tanpa sengaja, Novi yang hendak lewat mengambil sesuatu melintas di depan kamar itu. dilihatnya mama mertua membawa beberapa hidangan berupa sepiring nasi, lauk pauk, kue basah dan dua gelas berisi air putih dan bunga yang direndam pada air serta teh dan kopi di dalam sana dan menatanya dengan rapi di atas meja. Wanita itu juga nampak menyalakan lilin di antara hidangan itu. Lalu, ia memejamkan mata dan seperri tengah merapalkan sebuah doa yang Novita sendiri tidak tahu.


"Sayang, kau rupanya di sini?" sapa wanita berusia limapuluh tujuh tahun tersebut saat ia menoleh ke arah pintu.


"Maafkan Novi, Ma. Novi tidak bermaksud lancang," jawab wanita itu, gugup.


"Kemarilah, Nov!" seru mama Dian.


Dengan ragu-ragu, wanita itu pun melangkah. Bau dupa yang terbakar di bawah meja menyeruak hidungnya. Beruntung, yang diambil adalah aroma therapi seperti yang digunakan untuk meditasi saat yuga.


"Ini adalah adat jawa. Konon, leluhur kami percaya kalau pada saat orang yang meninggal itu dislameti seperti ini, arwahnya akan pulang untuk makan berkat. Jadi, ya harus disiapi seperti ini. Ini adalah jenis-jenis kue basah yang disukai mendiang putriku dulu. Makanya, mama menyiapkan untuknya. Serta ini adalah minumannya. Bunga adalah sarat. Kelak, jika mama sudah mati, kau lakukan ini untuk mama, ya? Kau tahu, kan apa kesukaan mama?" ucap mama Dian panjang lebar.


"Iya, Ma," sahut Novi singkat. Ia tidak menyangka, kalau mama mertuanya masih mempercayai kalau orang yang sudah mati itu bisa pulang untuk meminta makan pada saat selamatannya. Padahal, faktanya, arwah orang yang sudah mati ya tetap tinggal di alam barzah sana bersama amal perbuatannya. Yang baik, juga akan merdeka dalam kuburnya, yang tidak, juga akan menerima siksa kubur.


Adapun sosok yang menyerupai orang tersebut membawa beberapa isyarat, menurut yang Novi ketahui itu adalah qorin. Qorin adalah jenis jin yang sering menjelma sebagai orang yang sudah mati dengan maksud dan tujuan tertentu. Tidak semua jin itu jahat. Tapi, bagaimana pun, jangan pernah kita bisa tertipu oleh muslihatnya. Novi hanya mengiyakan saja. Dia tidak berani berdebat dengan mama mertuanya sekalipun tahu itu adalah salah.


"Ya sudah, besok pagi, ini baru bisa di bereskan, dan kau baru akan bisa membuktikan pada gelas-gelas berisikan minuman ini, semua akan berkurang karena Leivi akan meminumnya. Sedangkan untuk makanan, rasanya akan berubah hambar, karena sari pati dari makanan itu sudah dia nikmati," ucap mama Dian lagi, panjang lebar.


"Ya sudah, Ma. Novi bantu Menyiapkan Hidangan untuk para tamu undangan dulu," ucap Novi lalu meninggalkan kamar tersebut.


"Kau jangan terlalu lelah, Nov," pesan mama Dian lalu melihat Novi hingga meninggalkan ruangan tersebut dengan muka datar.


Tak kama kemudian dari jendela tertiup angin hingga membuat api lilin di hadapannya berkelibatan karenanya.


Wanita itu tersenyum dan berkata lirih, "Kau sudah pulang, Nak? Makanlah dulu yang sudah mama hidangkan untukmu setelah itu mari kita bicara mengenai apa yang akan merencanakan untukmu semoga kau tenang di alam sana," ucap wanita itu.


" Leivi, Sayang, kau sudah lihat kan orangnya? Ya sudah, mama tidak akan menunggu lama. Mama tidak akan membiarkan mu lebih lama lagi tersiksa. Akan segera mama laksanakan besok," ucapnya lagi. Lalu, meninggalkan kamar tersebut.


Usai acara selamatan orang-orang sudah pada lelah dan capek. Tak terkecuali Novi dan dan mama Dian sendiri. Ia juga merasa lelah. Jadi, semua tidur lebih awal, dan mengerjakan pekerjaan yang belum sempat di kerjakan keesokannya.


Dari kejauhan, mama Dian mengamati Novi yang nampak sibuk menyiapkan sarapan suaminya. Sementara Adriel sudah berangkat ke sekolahan diantar oleh supir.

__ADS_1


Wanita berusia limapuluh tujuh tahun tersebut tersenyum dan menghampiri keduanya. Lalu, menyapa.


"Berangkat kok pagi banget, Ndra?"


"Iya, Ma. Nanti ada kunjungan ke luar kota. Ke Magelang kalau gak salah. Mama mau nitip apa?" tanya Candra pada mamanya yang baru saja duduk di sebelahnya.


"Mama tidak titip apa-apa. Cukup kamu hati-hati di jalan. Tidak usah buru-buru. Utamakan keselamatan mu, ya?"


"Iya, Ma."


"Ya sudah. Kau makan saja dulu. Mama mau pergi dulu," ucap mama Dian. Lalu ia pun pergi meninggalkan Novi dan Candra.


Novita diam tertunduk. Tidak berani memandang ke arah mama mertuanya.


Candra yang merasakan kejanggalan itu lantas melihat dulu ke arah istrinya dengan seksama. Setelah mendengar suara mobil keluar halaman, barulah, ia bertanya, "Ada masalah?"


"Sepertinya tidak."


"Kamu kenapa? Kok gak kaya biasanya?" tanya Candra dengan tatapan penuh selidik.


Novita diam. Tidak menjawab.


"Maafin aku Ndra, aku nggak tahu kenapa perasaanku merasa tidak enak. Tiba-tiba saja aku pengen kamu sehari ini saja tinggal di rumah. Aku seperti ngga rela kamu tinggal kerja, apa lagi kamu sampai keluar kota," ucap Novi. Tertunduk dengan lirih.


Chandra menyeruput kopi di depannya yang kini mulai dingin, lalu kemudian ia berdiri menghampiri istrinya yang tengah duduk dan memegang kedua pundaknya dari belakang. "Kamu kenapa, sih? Jangan berfikir yang tidak-tidak. Doakan saja aku selamat sampai tujuan, sampai kembali ke rumah. Oke? Yakinlah, aku tidak akan kenapa-napa, akan kupastikan itu. Karena kutahu di rumah kau dan anak-anak kita menungguku pulang dengan keadaan selamat," ucap Chandra kemudian mengecup kening Novita dan bergegas pergi untuk bekerja


Novi tetap diam di tempatnya. Ia menoleh menatap punggung chandra yang kian menjauh dan lenyap oleh dinding yang membatasi antara meja makan, dan ruang tamu. Masih dalam posisi semula, air mata di kedua mata wanita itu mengalir. Pikirannya terasa kacau. Sebenarnya ia tidak khawatirkan keselamatan suaminya. Ia yakin, suaminya akan baik-baik saja. Tapi, ia merasa kalau ia sedang tidak aman jika tidak berada di samping Chandra.


***Flash back.


Dua hari yang lalu, sekitar pukul 10.00 WIB. Novita bersama ibu-ibu yang menjemput putra putrinya di sekolahan duduk di bawah kursi panjang depan kantin yang letaknya di luar area sekolahan.


Tidak ada yang aneh. Seperti biasa semuanya saling ngobrol dan bercanda ria tapi tiba-tiba Novita berteriak dan berdiri saat seekor cicak besar jatuh tepat di atas kepalanya.


"Ada apa, Nov?" teriak teman-teman Novita yang juga ikut kaget karena tiba-tiba ia berteriak segitu kencangnya.


"Kepalaku kejatuhan cicak," jawab Novita. Wajahnya memucat karena ia memang pobia dengan binatang itu.

__ADS_1


"Mana? Udah hilang, ya?"


"Iya, gak tau tadi gak sengaja kulempar ke sana," ucap Novi sambil menunjuk ke sudut ruangan.


"Sudah tidak apa-apa. Warna cicaknya apa memang? Selama itu tidak berwarna putih saja insyaallah tidak akan kenapa-kenapa, kok Nov," sahut salah satu temannya. Menyenangkan.


"Iya kah? Aku tidak tahu itu, aku cuma jijik saja. Emang kalau cicak yang berwarna putih kenapa, Nin?" tanya Novi penasaran. Sebenarnya ia bukan tidak tahu terkait mitos tentang cicak. Dia hanya ingin membuah kepercayaan itu yang jika diyakini malah menjadi nyata.


"Ya hati-hati saja kalau sampai warna putih. Karena, banyak yang bilang cicak putih itu pembawa sial. Yang dijatuhi bisa-bisa apes."


Novita hanya diam. Tak ada yang bisa dia lakukan selain memberikan senyum palsu pada mereka. Ia berlagak tenang meski hatinya terasa tak keruan.


Belum hilang rasa cemas dan was-was dari insiden itu, malamnya Novita mimpi buruk.


Dalam mimpi itu, ia seperti berada di sebuah tempat yang gelap. Ia tidak tahu itu tempat apa. Tapi, tiba-tiba seorang wanita muncul mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala. Sehingga, ia tidak dapat mengenali siapa wanita itu. Hanya saja, dari postur tubuh wanita itu seperti mama Dian. Mertuanya sendri.


"Mama? Apakah benar itu kau, Ma?" tanya Novita, ragu-ragu.


Tak ada jawaban dari wanita itu. Tapi, Novi dapat merasakan kalau wanita itu tengah marah padanya dan menatap dirinya dengan tatapan tajam penuh amarah, sekalipun seluruh wajahnya tertutup oleh kain hitam.


"Ma, kenapa di sini? Ayo pulang!" seru Novita. Melangkah ke depan mendekati orang yang ia duga itu adalah mertuanya.


Namun, beberapa langkah kemudian Novita menghentikan langkahnya tatkala ia menyadari kalau wanita di sana tidak berdiri dengan tangan kosong. Melainkan dia juga membawa sebilah pisau yang terlihat sangat tajam. Kenapa?


"Ma," panggil Novita lagi dengan kaki bergetar.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu melangkah cepat dan langsung membacok Novita tepat mengenai dada dan perutnya. Kemudian apa yang terjadi Novita tidak tahu. Ia tersadar. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya juga ngos-ngosan.


Setelah berhasil mengatur napas, Novita segera mengambil segelas air putih yang terletak di atas nakas. Kemudian ia menoleh ke samping didapatinya Chandra tertidur pulas di sebelahnya.


Novita menyalakan ac kemudian mengeratkan tubuhnya memeluk Candra dan berusaha untuk tidur kembali. Tapi, sepertinya sia-sia. Dia tidak bisa tidur sama sekali.


****


Sementara mama Dian sendiri kini pergi ke makan putrinya yang baru saja dia adakan peringatan, atau selamatan yang ke delapan tahun. Ia bawakan bunga kuburan dan rangkaian bunga daisy yang merupakan bunga kesukaannya semasa hidupnya dulu.


Wanita itu menatap pilu pada batu nisan marmer yang terukir nama putrinya. Tanpa terasa air mata wanita itu menetes. Ia duduk berjongkok meletakkan rangkaian bunga daisy tepat di batu nisan dan menaburkan bunga kuburan dan terdiam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya ia pun berbicara sendiri dengan batu nisan yang ia umpama kan itu adalah putrinya, Leivy.

__ADS_1


"Sayang. Kamu yang tenang di alam barumu, ya? Keinginan mu akan segera terwujud. Kamu gak perlu kawatir kan itu. Apapun akan mama perjuangkan demi kamu. Semua jenis ikan incaran kita sudah masuk dalam jala. Tinggal menunggu saja, oke? Ya sudah, Nak. Mama pulang dulu," ucap mama Dian kemudian mengusap batu nisan putrinya dan pulang ke rumah.


__ADS_2