Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 137


__ADS_3

Malam itu Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah orang tuanya.


Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu tiga puluh menit, hanya ia tempuh selama sepuluh menitan saja. Entah apa yang ada di kepala pria itu.


Begitu sampai, Alex langsung membuka pintu ruang utama dan memanggil papa mamanya, berteriak layaknya seorang rentenir menagih utang.


"Papa... Mama, kalian di mana?"


Mendengar suara Alex mereka berdua yang semula sedang menikmati teh, tergopoh-gopoh berlari ke depan.


Melihat kenapa anak itu tiba-tiba saja datang dan berteriak seperti itu. Sebab, semenjak ia lupa ingatan, ia membenci siapapun yang menolak dia dengan Helena.


"Alex, ada apa kau berteriak-teriak seperti itu di sini? Tidakkah kau tahu ini sudah malam? Suaramu akan membahana," ujar mama Rita, menginginkan putranya.


"Mama, Queen minta cerai dan dia pergi kemarin."


Kedua orang tua Alex hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Kaduanya duduk di ruang tamu dan memperkenalkan Alex.


"Bukankah itu yang kamu mau, Lex?" ucap papa Nicolas.


Alex masih membisu, kepalanya tertunduk tak berkata apapun.


Satu Minggu yang lalu, Queen sudah mendatangi kedua mertuanya, ia mengeluh pada mereka dan menyerah menghadapi Alex.


"Ma, mungkin tidak apa-apa jika aku mengalah saja. Aku tidak sanggup dibuat seperti ini terus," ucap Queen kala itu saat ia bermain kerumah mertuanya.


"Kenapa, Nak? Apakah Alex tidak bisa berlaku adil pada istrinya?" tanya mama Rita.


"Dia memang sudah tak lagi menginginkan aku, Ma. Hanya ada Helena aja yang ada dalam hati dan pikirannya. Mungkin sudah seharusnya aku mundur. Lagi pula Helena juga benar-benar tulus mencintai Alex. Tidak apa-apa. Cinta itu memberi kebahagiaan dan kebebasan, bukan mengekang."


Queen tertunduk tidak meneruskan kalimatnya, dengan begini dia berharap mama dan papa mertuanya dapat memahami apa yang ia rasakan selama ini.


Mama Rita dan papa Nicolas saling pandang. Meskipun keduanya sudah menduga akan hal ini, tetap saja mereka tidak siap.


"Queen. Mama and dad already considered rigid as our own daughter. Β Divorce with Alex if that's the best. Looking for your happiness But, don't forget us as parents. (Queen. Mama dan papa sudah anggap kamu seperti putri kami sendiri. Bercerailah dengan Alex jika memang itu yang terbaik. Cari kebahagiaan mu sendiri. Tapi, jangan lupakan kami sebagai orangtua,") ucap mama Rita sambil memeluk Queen.


"Terimakasih Ma. Terimakasih banyak. Queen tidak akan pernah melupakan kalian, kalian adalah yang terbaik." Queen membalas pelukan mama mertuanya.


***


"Lalu, kenapa kau melapor pada kami? Tidak ingatkah kemarin kau bilang dengan kasar di depan Helena agar kami tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian?" bntak papa Nicolas.


"Pah, apa benar aku dan Queen sebelumnya saling mencintai? Kemarin sebelum Quen meninggalkan rumah kami ribut. Dan dia berkata kalau dia cukup sabar menahan diri untuk bersabar selama enam bulan ini atas perlakuanku. Apakah sebelum kecelakaan dia adalah prioritasku?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Alex, karena itu akan sia-sia. Dari dulu bertanya tapi, di elak sendiri Iya bertanya hanya mengharap jawaban yang sama dengan apa yang diucapkan Helena saja.


Mama Rita duduk menyamping tak mau melihat lagi ke arah putranya.


Sementara papa Nicolas beranjak mendekati Alex. "Diam, renungi, dan ingat-ingat semua dengan baik, mana yang lebih baik pengapdiannya sebagai istri, Queen, atau Helena," ucap papa Nicolas sambil menempelkan telunjuknya tepat di jantung Alex.


"Aku merasa sedih dan sakit saat Queen memintaku menandatangani surat cerai itu. Aku tidak melakukannya. Hanya saja aku tidak bisa mencegah dia pergi," jawab Alex.


"Sekalipun kau menolak, dengan bantuan Al, kakaknya Queen, dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Jika sekarang kau menyesal itu sudah terlambat," ucap mama Rita.


Sementara Alex hanya diam ia merasa kedatangannya sudah tak lagi diharapkan oleh orangtuanya sendiri. Ia pun pergi dengan langkah limbung untuk kembali ke rumahnya


🍁🍁🍁🍁🍁


Queen dan Diaz tanpa sadar saling berpelukan usai ambil sumpah dokter sekaligus pelantikan. Kini keduanya resmi menyandang sebagai dokter muda meskipun hanya dokter umum. Tapi, berkat kecerdasan yang mereka miliki, mereka menempuh pendidikan profesi hanya satu tahun setengah saja.


"Selamat tuan putri, kini kau resmi menjadi seorang dokter muda dan cantik," gurau Diaz pada Quen, sambil memberikan buket bunga pada wanita di depannya.

__ADS_1


"Terimakasih dokter Diaz, selamat juga untuk mu," balas Quen sambil menerima buket itu dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.


Mereka berdua keluar berjalan beriringan mencari keluarga masing-masing. Untuk Queen dia tidak perlu lagi mengenalkan Diaz pada keluarganya. Karena sudah kenal. Apalagi yang datang adalah Al, Nayla, Bilqis dan kakek Andrean.


Hanya Diaz saja yang perlu mengenalkan Queen pada ibu dan adik perempuannya, Fatimah.


"Di mana Hanifah, Kek?" tanya Queen. Pada kakek Andrean.


"Dia ke kampus, jadi tidak bisa datang kemari, Queen," jawab kakek Andrean.


Diaz hanya diam tak mau berkomentar memang sejak kejadian malam itu, Hanifah cenderung diam dan selalu menghindar darinya. Entah benci, tersinggung karena selalu ditolak atau apa Diaz tak mau tahu, baginya dengan tidak ada dia justru malah lebih bagus. Sebab, uminya tidak akan tenang jika ada cewek cantik dan berpenampilan sexy seperti Hanifah terlalu agresif ke padanya.


"Kaka Diaz!"


Semua menoleh ke sumber suara itu. Tidak jauh dari tempat mereka berkumpul melambai seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahunan melambai ke arah Diaz dengan senyumnya yang sangat enak di pandang mata.


"Fatimah, Umi," lirih Diaz. Tanpa sadar dia menggandeng tangan Queen membawanya pada mereka.


Di sana Diaz langsung sungkem pada uminya dan berkali-kali mencium telapak tangan dan punggung tangan wanita paruh baya itu.


Sementara Queen hanya mematung dan tersenyum simpul turut merasakan kebahagiaan yang mereka bertiga rasakan.


"Selamat, ya Nak cita-citamu sebagai dokter kini sudah terwujud. Almarhum abahmu pasti akan senang di alam sana melihat kau sukses begini," ujar wanita itu sambil terus mengelus kepala putranya.


"Ini semua berkat doa Umi yang tak pernah berhenti sepanjang hari, terimakasih Umi."


Diaz bangkit dan menyapa Fatimah. Gadis muda itu tersenyum dan mengucapkan selamat pada kakaknya, "Selamat ya Kak. Kau kini sudah resmi menjadi seorang dokter," ucapnya sambil mencium tangan Diaz.


"Terimakasih, Fatimah. Ini semua juga tidak lepas dari doa kamu yang selalu mendoakan kakak," ucapnya.


"Queen, kemarilah ini Umi dan adikku, Fatimah," ucap Diaz dengan Banga memperkenalkan mereka kepada wanita yang sedari tadi berdiri di belakang menyaksikan kebahagiaan mereka.


Diaz senyum-senyum sendiri melihat Quen yang juga ikut memanggil ibunya dengan panggilan umi juga, bukan Tante atau apalah yang biasa dipakai orang kota untuk panggilan pada ibu temannya.


"Wah, cantik sekali, sesuai dengan namanya," ucap uminya Dias sambil mengusap pipi kanan Queen.


Gadis itu tampak tersenyum malu-malu mendapati pujian dari uminya Diaz. Mendadak dia jadi minder saat melihat ke arah adiknya Diaz. Gadis cantik yang mengenakan hijab dan busana muslim nampak rapi, cantik dan anggun. Beda dengan dirinya yang lebih sering mengenakan pakaian terbuka meski pun sudah berkali-kali diingatkan oleh Diaz.


"Fatimah, ya? Aku Quen temannya kak Diaz," ucap Queen sambil mengulurkan tangannya pada gadis muda itu lalu memeluknya.


Setelah itu mereka sedikit berbincang. Lalu, Quen berinisiatif memperlihatkan keluarganya kepada mereka, jadi, ia pergi meninggalkan Diaz beserta Umi dan adiknya untuk menjemput kakek, kakak dan juga keponakannya.


Ketika Queen sudah jauh dari mereka, usilnya Fatimah pun muncul, ia menggodai kakaknya habis-habisan.


"Oh, aku tahu, pasti yang selalu disebut-sebut tuan putri itu dia, kan?"


ucap Fatimah, sambil terrawa.


"Hah, nyebut apaan, kapan?" ucap Diaz terkejut.


"Itu pasti pacarnya kakak, ya?"


"Bukan, kok. Kita cuma teemenan saja."


"Iya, temen, lama-lama jadi demen, hehehe," ucap Fatimah terkekeh.


"Hus!" seru Diaz saat Quen kembali bersama kakek, Nayla dan Bilqis.


Wanita itu nampak anggun, berjalan sambil mendorong kursi roda kakeknya seraya tersenyum kepada Diaz dan keluarga. Saat sampai, Quen memperkenalkan mereka.


"Kakek, ini Umi dan adiknya Diaz," ucap Queen.

__ADS_1


"Di mana kak Al, Quen?"


"Katanya ada urusan di kantor," jawab Quen singkat. Mereka pun saling mengobrol dan bertukar cerita sampai pada akhirnya mereka kembali. Diaz mengajak umi dan adiknya ke kos-kosannya. Sementara kakek, dia pulang bersama Nayla dan Bilqis.


Queen sengaja tidak ikut pulang. Dia ingin menemui papa dan mamanya dengan harapan ada kejaiban mereka atau minimal salah satu dari mereka terbangun dari koma yang panjang dan memberi ucapan kepada putrinya yang telah remsi menyandang status dokter, sekalipun kini dalam proses perceraian.


🍁🍁🍁


"Apa, masih muda udah mau janda saja? Jangan-jangan dia bercerai karena kakak," ucap Fatimah yang tiba-tiba saja nimbrung saat mendengarkan sedikit pembicaraan Diaz dan Uminya.


"Heh, ngawur saja. Ya tidaklah. Queen tidak bakal suka sama kakak, dibandingkan sama suaminya kakak tidak ada apa-apanya. Dan dia juga selain cerdas anak dari keluarga kaya raya. Kami gak selefel, Fatimah."


"Siapa tahu saja? Namanya juga jodoh tiada satupun yang tahu, kan kak?"


Diaz hanya tersenyum. Selain dia minder, tapi yang dikatakan adiknya tidaklah salah. Tapi, untuk bermimpi bisa mendapatkan Queen dia sungguh sangat takut.


"Tapi, Queen itu gadis yang sabar, ya Diaz. Dengan ujian seberat dan sebesar itu dia masih mampu berdiri dan bertahan sampai sejauh ini," ujar Uminya Diaz.


Fatimah tidak tahu apa-apa. Ia baru saja melaksanakan sholat Dzuhur. Ia pun duduk menyimak dan bertanya apa yang baru saja dialami gadis cantik itu sehingga uminya berkata demikian. Sebab, beliau jarang sekali memuji seseorang itu adalah sosok yg sabar, kuat dan tabah.


"Memang apa yang dilalui sama dia, Umi?" tanya Fatimah.


"Tujuh bula lalu, orang tua kakak Queen mengalami kecelakaan. Sopir nenek dan kakek dari papanya meninggal dunia, tinggal kakek yg dari mamanya tadi itu yang selamat. Tapi mengalami lumpuh. Dan papa mamanya sampai saat ini masih koma dan belum sadar. Bersamaan dengan itu, ia pun juga keguguran karena terlalu shock," jelas umi sementaraΒ  Diaz pergi berpamitan untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur.


"Kasian juga dia ya, Umi? Lalu, kenapa dia malah mau bercerai? Bukan karena dia juga suka sama kakak, kan?"


"Alhamdulillah tidak." Umi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Apakah karna dia dah gak bisa hamil lagi setelah keguguran?"


"Dasar kepo kamu," ucap Umi Halim.


"sebulan setelah orangtuanya kecelakaan, suaminya juga mengalami hal yang sama. Dia selamat. Hanya beberapa jam saja tak sadarkan diri. Tapi, begitu ia sadar dia lupa ingatan. Ingatannya kembali di masa SMA dulu, Queen adalah pacar yang memutuskan dia karena ketahuan selingkuh dengen Helena. Jadi, sebulan lalu dia menikahi Helena dan Queen minta cerai karena selama enam bulan dia tak pernah dianggap dan meminta Helena tinggal bersama bahkan sudah sekamar tnpa ikatan pernikahan."


Fatimah diam sesaat. Membenarkan jika uminya memuji gadis itu. Pernah dia mengalami cinta pertama pada kakak kelas, tapi, kakak kelas sukanya sama teman sebangkunya aja dia dah dongkol sering diam-diam menangis padahal gak ada hubungan apapun, hanya sebatas memandang saja. Apalagi yang sudah menjadi istrinya dan sempat mengandung anaknya meskipun akhirnya keguguran.


"Salut aku sama kak Quen, pantas saja kak Diaz suka sama dia."


"Kakakmu suka pada pandangan pertama. Tapi, setelah tahu dia bersuami dia berusaha melupakan."


"Loh, Umi kok tahu?"


"Buku diarinya ketinggalan dan umi baca, huusst sudah jangan berisik. Kakakmu nanti kembali tahu kalau kita ngomongin dia," ujar umi halim


🍁🍁🍁


Sementara Diaz di mushola yang masih satu pagar dengan kos-kosannya, ia berdoa dengan sangat khusyuk.


Nama Quen selalu dia sebutkan berulang kali setelah mengirim Al-fatihah pada mendiang Abah, doa kepada Umi, dan Fatimah, adiknya.


Usai menutup doanya dengan bacaan Alfatihah dan doa sapu jagat, Diaz diam merenungi kalimat-kalimat yang ia susun indah tadi, sungguh terasa benar-benar lebai orang yang tengah dibutakan oleh cinta itu. Dia senyum-senyum sendiri mengingat kata tiap kata yang bagaikan puiji milik pujangga tadi.


🍁🍁🍁🍁


Queen memberikan dua buket bunga terbaik yang dia dapat untuk papa dan mamanya. Ia meletakan di atas nakas yang targabung dari dua nakas yang terletak di antara tempat papa dan mamanya berbaring.


Quen tak lagi menangis meski pun ia sempat mengadukan perceraian yang ia ajukan. Di akhir kalimat, Queen berkata pada mereka yang entah mendengar atau tidak.


"Pa, Ma. Maafkan Queen jika masih terus merengek pada kalian. Sebenarnya bisa saja masalah ini ku simpan sendiri. Tapi, aku takut jika tidak memberi tahu kalian, kelak kalian akan shock jika sadar tahu-tahu putrimu yang cantik ini berubah wujud menjadi janda. Jadi, mau tak mau aku memberi tahu kalian. Ini awal dari perjalananku sebenarnya. Kini aku sudah menjadi dokter. Dan pasti aku sangat sibuk. Tak dapat lagi datang ke kantor. Tapi, aku berjanji pada kalian tetap akan membantu kakak di manapun aku berada karna bis kirim lewat email.


Pa, Ma cepatlah sadar, dan carikan jodoh untuk putrimu yang bakal jadi janda ini," ucap Queen seorang diri lalu terkikik dan mencium kedua pipi papa mamanya dan ia pun keluar. Kembali pulang kerumah. Tapi ia urungkan. Dia menyusul Al yang ada di kantornya.

__ADS_1


__ADS_2