Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 121


__ADS_3

Tubuh Diaz kian kaku dan terpaku. ingin rasanya dia bergerak mendekati Queen. tapi, rasanya dia tidak mampu.


Pria itu hanya memperhatikan dan mendengarkan ratapan demi ratapan sahabatnya dari kejauhan. Kira-kira sekitar tiga meter.


Tunggu! Queen diam. Tak lagi berbicara apapun. Bahakan dia tidak bergerak, apakah dia pingsan?


Dengan perlahan Diaz melangkah mendekati wanita itu yang menjatuhkan kepalanya di atas ranjang tepat di mana ayahnya terbaring dengan mata terpejam.


Sebelum ia berbuat apapun,ia mengamati wajah papanya Queen. Diaz sedikit terkejut, sebeb, wajah itu sangat mirip dengan kak Al. Hanya saja papanya nampak lebih dewasa dan lebih pucat.


"Ini papanya yang awet muda, apa anaknya yang cepat tua, ya? Hus! Apaan sih yang kupikirin kenapa jadi ke tua muda? Ini Queen tidak pingsan lagi, kan?" Umpat Diaz dalam hati.


Ia mengulurkan tangannya menyentuh punggung Queen, dan gadis itu memberi respon. ia mengangkat kepala dan mendongakkan wajah ke arahnya.


"Maafkan aku, Diaz jika selalu merepotkan mu.kau tidak seharusnya melihatku begini hingga membuatmy sendih," ucap Queen sambil tersenyum, tapi matanya sembab.


Dias ikut berjongkok di sebelah Queen. Dengan berat ia mengelus punggung wanita di sebelahnya itu dan berkata, "Memang, selama ini aku hanya tahu keceriaan mu. Tapi, jangan sungkan jika kau ingin menangis. Menangis lah agar beban di hatimu sedikit lega."


Quen mengedarkan matanya ke arah tempat mamanya terbaring.


"Mama selama ini mendidikku keras agar aku jadi pribadi kuat. Tapi, sulit. Diaz. Aku tidak berani menemui mama dalam keadaan kayak gini. Aku takut dia akan marah sekali pun dia tengah tidak sadar, sama aja, kan? Dia akan merasa. Lihat! Papaku juga turut meneteskan air matanya. Aku gak mau kecewain mama agar dia cepat bangun," ucap gadis itu masih dengan terisak.


"Kamu belajar jadi pribadi yang lebih kuat lagi, ya mulai sekarang? Waktu kita tinggal lima menit lagi kamu sapa mamamu dulu, gih!" Seru Diaz dengan lembut.


Ya, kelembutan memang sudah jadi ciri khas pria itu memang.


"Tapi, Diaz?" Quen memandang Diaz dengan pandangan seolah ia ragu dan menolak untuk ke arah mamanya.


"kamu sayang sama mama, kan? Sapa juga dia, agar dia tidak bersedih, ok?"


Quen pun akhirnya menuruti permintaan Diaz. Ia pun bangkit dan berdiri di sebelah mamanya. Dengan lembut di genggamnya tangan kanan Clara. Queen diam untuk beberapa detik sebelum memulai berbicara pada Clara.


"Mama, cepatlah sadar, ayo Ma bangun agar ada yang memarahiku setiap kali aku merengek pada papa dan kak Al. Ayo, ma! Didik aku lebih keras lagi, agar aku tidak selembek tadi. Aku tahu, jika kau sadar dan bisa bicara kau minta aku melepaskan Alex, kan? Dulu aku pernah kehilangan dia karena Helena dan kali ini pun juga. Tapi, kenapa kali ini lebih sakit, Ma? Apa karena kami sudah menikah? Bagaimana Ma? Aku pertahankan atau sudahan saja dia lupa dan tak ingat sama sekali padaku. Tapi, dia memanggilku dokter. Jika memang harus melepas, insyaallah aku ikhlas. Pasti bisa mungkin memang Alex jodohnya Helena. Dari dulu putus juga dia sama Helena, bukan?


"Ma, waktu besuk pasien sudah habis. Aku pergi dulu, ya? Besok aku akan kdmari lagi."


Queen menoleh ke arah Diaz dan memneri isyarat mata. Diaz pun paham dan ia berjalan di sebelah Queen meninggalkan ruangan ICU beriringan.


"kita jadi pergi?" tanya Diaz saat hampir tib di area parkir roda dua rumah sakit.


"Iya, enaknya kemana?"


Dengan lesu Queen menjawab dan balik bertanya.


Diaz diam sejenak. Jelas Queen kali ini butuh tempat yang tenang dan nyaman untuk memperbaiki suasana hati atau moodnya.


"Aku ada tempat yang recommended sih, cuma itu, jauh dari sini."


"Tidak sampai ke luar negeri, kan? Ya udah bawa aku ke sana!"


"Kamu serius?"


"Kamu pikir aku bercanda?"


Diaz menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dia bawa anak orang ke luar kota tanpa seizin keluarganya. Bisa-bisa dia kena masalah nanti.


"Itu, anu... Ada di Bandung. Sebaiknya kau izin saja dulu sama kak Al dan kakek. Aku takut membawamu pergi begitu saja. Nanti akan jadi masalah."


"Masalah apa, sih? Kita kan tidak sedang selingkuh," cetus Queen agak kesal.

__ADS_1


Diaz diam sesaat. Bingung mencari cara. Bagaimana cara menyampaikannya agar tidak membuat wanita di depannya ini tidak tersinggung.


"Nah, orang lain tidak tahu masalahmu, bukan? Kau pergi denganku karena aku sahabatmu. Tapi, mereka hanya tahu kau istri orang dan aku masih lajang. Kita sama-sama muda dan keluar cuma berdua. Orang luar tak peduli hal itu yang mereka tahu kita sama-sama suka dan berusaha mencari tempat aman. Bukannya netizen suka gitu? Begitupun orang... Karena netizen jg orang yang mengoperasikan medsos dan menulis sesuai kemauannya. Jadi, cari aman aja. Aku antar kau ke rumah."


Quen diam sejenak berusaha mencerna apa yang Diaz katakan. Beberapa detik kemudian dia sadar. Yang Diaz katakan benar. Dari sini Queen bisa ambil kesimpulan kalau Diaz tipe orang yang tidak asal-asalan.


"Kamu ya, sebelum ambil tindakan selalu berfikir panjang lebih dulu," ucap Queen setengah tertawa.


"Ya seharusnya begitu. Manusia lahir kepala dulu, kan yang keluar? Dari situ kita harus berfikir dulu sebelum melangkah," jawab Diaz sambil menatap Queen.


Queen memperhatikan Diaz sambil tersenyum penuh kekaguman. Sampai-sampai dia tidak dapat berkata apapun.


🍁 🍁 🍁 🍁


Seorang gadis berpawakan mungil dengan rambut pendek sebahu duduk di sebuah cafe yang cukup ramai pengunjungnya. Dia sengaja memilih tempat di pojokan agar tidak terlalu ramai.


Tidak lama setelah memainkan layar sentuhnya seorang pria berpawakan tinggi menghampiri dan duduk di depannya.


"Sudah lama kau menungguku?" Tanya pria itu sambil mengambil jus milik gadis itu lalu menyeruputnya. Rupanya dia tengah kehausan.


Gadis itu menatap dengan tatapan aneh. Seolah dia keberatan dengan apa yang baru saja temannya lakukan.


"Hey, kenapa kau menatapku aneh begitu?" Tanya pria itu, balik menatap aneh pula.


Gadis itu hanya mendesah kesal dan memutar bola matanya.


"Hello plis deh jaga sikap. Kau meminum minumanku dan meninggalkan bekas mulutmu di sana," celetuk gadis itu kesal.


"Hahaha, Helena. Kau berkata seperti itu seolah dirimu lupa kalau kita pernah saling bertukar ludah. Apa perlu aku ingatkan kejadian malam itu?" ucap Aditya menatap Helena dengan tatapan penuh nafsu.


"Ok. Lupakan itu. Alex, dia sangat luar biasa. mampu melupakan pernikahannya dan semua tentang Queen. Tapi, dengan yang lain masih ingat dengan baik. Bahkan, sebelum orangtuanya datang. Ku sudah mengatakan padanya baru kemarin.kit berencana akan menikah, kau malah mengalami kecelakaan dan dia percaya."


"Dia, ya? Queen jelas sangat terpukul. Andai kau tahu bagaimana ekspresi Alex saat sadar dan dipeluk olehnya." Helena tersenyum kecil. Antara senang juga kasihan.


"Kenapa?" tanya Aditya penasaran sambil membenarkan posisi duduknya.


"Dengan muka datar dan tatapan aneh dia berkata pada Queen. Apakah dokter selalu melakukan hal itu? Memeluk setiap pasien rumah sakit ini ketika baru saja sadar? Awalnya Queen mengira kalau Alex hanya bercanda, tapi.... " Helena diam tidak melanjutkan kalimatnya.


Sementara Aditya tertawa puas atas apa yang dia dengar dari Helena. bahkan rasanya ia tidak sabar ingin dua sejoli itu segera pisah dan ia mendapatkan Queen sebagai wanitanya.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


"Kedua mertuamu tidak menerima kenyataan. Mungkin aku harus jujur mengatakan kalau mereka memang menikah. Tapi, terpaksa karena kemauan orang tua. Dan selama pernikahan kita selalu berhubungan."


"Begitu, ya? Yakin bisa sukses dengan rencanamu itu?"


"Selama ingatan Alex masih ada dalam kendali kita berdua, apa yang tidak? Dia itu sudah seperti boneka yang hanya akan nurut pada tuannya saja. Oh, ya. Alex juga ingat soal hubunganmu dengan Queen."


"Ok, yang penting segera lakukan aja misimu. Kau berutang padaku, sekarang aku masih sibuk dan nanti, akan aku tagih!" Seru Aditya lalu beranjak meninggalkan Helena.


Helena membeku di tempatnya memperhatikan punggung pria itu pergi hingga tak nampak lagi di pandangannya.


Deringan nada dering di ponselnya membuyarkan lamunannya ia. Terperanjat saat nama yang muncul pada layar panggilannya adalah nama Alex.


"Alex, ada apa?" tanya wanita itu sedikit takut, sebab, ia kawatair pengaruh hipnotis dari orang suruhan Aditya sudah berakhir, so dia akan marah-marah dan memenjarakan dia dan Aditya.


"Kau di mana, sayang? Kenapa lama sekali, apakah kau begitu caramu memperlakukan calon suamimu yang tengah terluka?"


Mendengar kalimat itu yang terlontar dari Alex Helena membuang napas lega. Bagaimana tidak, kekhawatiran nya tidak sampai terjadi. Meski sudah dikatakan pengaruh hipnotis itu sampai tiga tahun, tapi tetap saja kadang wanita itu merasa was-was. Apakah iya benar bisa begitu?

__ADS_1


"Oh, maaf. Tadi aku bertemu dengan teman, ini aku akan segera ke sana, ya?" ucap Helena lalu bergegas meninggalkan tempat itu.


🍁 🍁 🍁 🍁


Setelah dari menjenguk orang tuanya, akhirnya Diaz mengantar Queen kembali ke rumah. Ia memperhatikan raut wajah gadis itu seolah sudah berangsur membaik.


Sesampai di depan halaman Quen meminta pria itu untuk mampir dulu, tapi, Diaz menolak. Setelah mendapatkan paksaan dari akhirnya pun menurutinya.


Saat memasuki halaman rumah, Queen memperhatikan mobil Civic seri terbaru warna hitam. Jelas dia tahu banget siapa pemilik mobil itu.


"Ayo masuk. Tidak perlu sungkan. Anggap aja kau kemari untuk kakek, ya?" ujar Queen kepada Diaz.


Pria berpawakan tinggi besar berparas tampan khas Indonesia yang agak-agak mirip Verel Bramasta itu hanya diam dan memberikan anggukan kecil dan senyum simpul yang selalu jadi ciri khas laki-laki pendiam itu.


Benar saja dugaan Queen di dalam ia melihat Nayla dan kakeknya tengah ngobrol dengan gadis yang lebih muda darinya dengan kulit putih bersih ramputnya lurus hitam berpotong segi serta ciri khas tato di lengan dan pundaknya. Terlihat dari balik kain kemeja putihnya yang memang tipis dan agak transparan.


"Hanifah, kapan kau tiba kembali di Indonesia?" sapa Queen begitu jaraknya dari mereka hanya beberapa meter saja.


"Baru saja dan langsung kemari. Mama minta aku pindah dan menetap di Indonesia, agar kau punya teman,"  jawab gadis itu dengan logat dingin dan sorot mata yang tajam.


Queen hanya mendesah kesal lalu duduk berdiri di sebelah kursi roda kakek Andrean.


"Kau sudah pulang, Nak? Bagaimana kondisi Alex? Apakah dia sudah siuman?" tanya Andrean penuh perhatian.


"Iya, Kakek. Dia sudah sadar. Tapi... Dia lupa ingatan, gak ingat kalau aku adalah istrinya. Yang dia ingat kami hanyalah teman SMA saja."


Diaz kemabali melihat kesedihan yang kian mendalam di raut wajah gadis itu. Tapi, dia tidak dapat lagi menangis ia masih berusaha tersenyum dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Tidak apa-apa. Kata dokter yang menangani dia masih bisa mendapatkan ingatannya kembali kek. Semua hanya soal waktu saja. Iya, kan Diaz?"


Pria itu lagi-lagi hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Kau enak sekali, mentang-mentang suami lupa ingatan malah bersama cogan gini. Kasihkan aku aja, Queen aku jomblo ini," celetuk Hanifah.


"Kenalan dulu, dia adalah teman seangkatan. Kami menempuh pendidikan profesi satu tempat dan kebetulan dia juga yang akan sering menemani kakek saat ia senggang." jawab Queen dengan santai dan ada sedikit senyuman kembali di wajah itu.


"Diaz, kenalkan dia Hanifah cucu keponakanku selama ini dia menetap di Australia. Dan ini dia dan mamanya telah kembali pindah kemari untuk menemani Quen," ucap kakek Andrean. Sambil mengusap pundak Hanifah yang duduk di sebelah kanannya.


"Hanifah, senang kenal kamu," ucap Hanifah seraya mengulurkan tangan sambil tersenyum manis kepada Diaz.


Sementara Diaz dengan segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada sambil menyebutkan namanya, "Diaz."


Seketika itu wajah Hanifah berubah masam. Tapi, bukan Hanifah namanya kalau tidak mengomeli habis-habisan orang yang membuatnya malu.


"Hey, calon dokter! Kau ini over cleaner, ya? Tanganku bersih loh. Sombong banget, sih!" Cetusnya seraya menatap tajam dengan raut emosi pada pria itu.


Jelas saja hal itu membuat Diaz merasa tidak enak. Tapi, demi tidak di kata sombong dia juga perlu memberi penjelasan agar dia paham dan tidak menyinggungnya.


Pria itu nampak berfikir sejenak untuk beberapa saat. Lalu, menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan dan akhirnya berkata, "Begini, dalam Islam itu wanita istimewa. Jadi, tidak boleh sembarangan di sentuh agar tidak hilang kehormatannya."


"Maksut kamu apa? Emang bisa dengan kamu menyentuh ku dah kehormatan ku berkurang? Kita cuma berjabat tangan, tidak berbuat mesum, Diaz."


"kau tahu Queen Elizabeth? Apakah semua orang boleh menyentuh dan bisa dengan mudah bersalaman dengan dia? Tidak, bukan? Hanya suami, orang tua anak-anak dan kerabat terdekatnya saja. Begitu pula halnya wanita tidak boleh sembarang lelaki menyentuhnya. Karena dalam Islam wanita itu adalah ratu di rumahnya masing-masing."


Hanifah dan semua orang yang ada di ruangan itu tertegun mendengarkan penjelasan pria itu.


@@@@


Nanti kalau Al Uda Ama Queen gimana? tamat gitu aja apa biar lanjut dikit sampai Clara bangun dan tau2 saat ortunya sadar kedua anaknya dah menikah dan memiliki anak?

__ADS_1


__ADS_2