Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 161


__ADS_3

iya, aku percaya sama kamu, kayaknya aku harus pulang, Deh, Yank. kamu temani kak Al saja, Deh. keknya dia lagi bete banget," ucap gadisΒ  itu lalu pergi meninggalkan rumah Vico. sementara Al, ia segera merapihkan piring berkas kue dan juga gelas bekas minum dia dan kekasihnya setelah mengatakan wanita itu sampai depan pintu. dan kini ia pun menghampiri Al dan mengajaknya mengobrol.


"Ada apa, Bro? Sewot Mulu mukanya?" ucap Vico sambil melemparkan bungkus rokok ke depan Al setelah ia mengambil isinya satu batang dan menyalakannya.


Al melihat ke arah bungkus rokok berwarna putih itu dengan malas, tapi, ia mengambilnya satu dan meraih korek api di sebelahnya. Kini keduanya sama-sama saling meniupkan asap rokok ya masing-masing ke udara.


"Kenapa mukanya kusut gitu? Ada masalah?"


"Sedikit. Sejak kapan Quen sama Diaz jadi semakin dekat gitu?" ucap Al, tanpa sadar.


Sementara Vico langsung terwata terpingkal-pingkal ketika mendengarnya. Jelas, apa lagi kalau bukan cemburu. Sepertinya sahabatnya ini sudah berhasil move on dari mama angkatnya. Dan mungkin semenjak Quen ikut ke kantor untuk membantunya itu, mereka sering bersama dan membuat Al menjadi cinta. Terlebih sebelumnya Quen juga pernah terpuruk saat suaminya hilang ingatan.Β 


"Kenapa ketawa?" tanya Al sambil menatap aneh ke arah Vico.


"Udah, mumpung mereka belum menikah, sikat saja Al... Biar adek sendiri, halal itu dinikahin kan, ga ada hubungan darah. Kau juga pasti kagak minum asi ke mama angkat kamu, kan? Hahaha." Vico kian terbahak mendapati ekspresi sahabatnya yang seperti itu. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.


"Aku itu kawatir sama adikku Quen, Vic. kenapa malah suruh menikahi dia? dasar jamunya aja ya g tidak waras memang!" seru Al sambil melanjutkan menghisap rokoknya.


Lagi-lagi Vico tertawa terbahak, dan berkata dengan suara tengah-tengah, "Lihat! Bos kita di kantor yang nampak perfack di kantor, dan garang saat di markas para mafia, seperti beo bodo yang cuma bisa mlongo doang gegara cinta. Beneran, bucin kau ini, Al, hahaha."


"Sepertinya kau tidak waras, Vic. perlu lah di antar ke RSJ. Apakah tidak jelas, aku kawatir sama Quen. Lalu kenapa suruh menikahi dia? Apa kau tidak lihat ini?" Al mengangkat tangan kirinya dan menunjukan cincin perak yang tersemat di jari manisnya. cincin pernikahan antara dia dan Nayla dulu. "bahkan aku sudah menikah. tapi kau menuduhku yang bukan-bukan," imbuh Al,merasa kesal dan tidak dimengerti.


"Juna juga sudah menceritakan semua padaku, kau cemburu saat Quen bersama Diaz, kan? Kau malah lebih memprioritaskan Quen daripada istrimu. sekarang aku tanya, siapa yang paling berarti dalam hidup kamu?"


"Kalau kamu tanya siapa? ya Clara, lah. aku cuma ingin membuat Quen hidup bahagia bersama orang yang tepat. agar kelak jika Clara bangun, sekalipun Quen sudah tidak bersama Alex, mama tenang lihat putrinya bahagia. aku juga udah janji pada mama dan papa untuk selalu menjaga Quen."


"Terus, kamu tidak percaya sama Diaz bisa jaga adik kamu, gitu? lalu siapa yang kau percaya? kau percaya aku tidak? jika iya, akan ku putuskan pacarku dan aku akan menikahi Queen, gimana?" ucap Vico sambil tergelak dalam tawanya.


"Mana bisa aku percaya sama cowok playboy kek kamu gitu? Di rumah bilang setia sama Quen, di luar ada cewek bening juga bakal di kejar sampe dapat."


"Hal itu wajar bagi cowok ganteng dan berduit kaya aku, Al. di mana-mana wanita juga cinta karena duit. coba aja aku kere, mana ada yang mau, ya kan?" ucap Vico sambil tertawa.


"Kamu aja yang dasarnya play boy. Aku berduit juga nggak kayak gitu setia sama satu wanita," jawab Al, dengan jutek.


Kembali Vico tertawa. Lalu, menjawab, "Kau itu pengecualian. Aku jadi ragu sama kamu, lihat deh, bahkan udah berapa tahun kau menikah, Nayla juga nggak penting bunting tuh. Atau jangan-jangan kamu enggak normal ya? bisa berdiri nggak sih lu itu?"


"Jelas aja normal, kau pikir aku ini Gay? Jika iya, bagaimana bisa aku mencintai mama angkatku? kalau saja aku tidak normal yang kucintai itu papa angkatku, papa Vano."


"Atau kau mandul lagi gak bisa punya anak, atau kurang sering aja mainnya? setiap hari gak, Sih, Al?"


"Dasar kepo, Lo. Aku mau ke kantor dulu, awas jangan seneng-seneng ganti wanita terus, kena sipilis tau rasa kau," ucap Al lalu pergi meninggalkan tempat itu setelah mengetuk habis minuman ringan yang baru diambilnya dari dalam kulkas Vico.


🍁🍁🍁🍁


Usai dari rumah sakit di mana Diaz akan bekerja, mereka berdua keluar sambil bergandengan tangan. Mood Diaz sudah membaik berkat Quen. ia tidak lagi memikirkan soal calon kakak iparnya yang nampak aneh. Toh dari dulu Al juga selalu bersikap baik dengannya. mungkin benar jika dia seperti itu karena ada masalah dengan istrinya.


"Kita kemana, sekarang?" tanya Quen pada Diaz.


"Terserah, kamu mau ke mana? ke mall atau pulang, saja?"


Queen nampak diam dan sok berpikir keras mencari ide. lalu kemudian dia berkata, "Tidak dua-duanya. aku mau makan sushi aja, Deh."


"Ya sudah, Ayo!"

__ADS_1


Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan menuju ke restoran Jepang yang sudah menjadi langganan Quen, Diaz dan juga Gea.


usai, makan, Diaz mendapat telepon dari Bandung, katanya ada salah satu saudaranya yang sakit. sementaraΒ  satu-satunya dokter di kampungnya hanya ada dia saja. jadi, mau tidak mau Diaz harus segera mengantarkan Quen pulang dan kembali ke Bandung secepatnya.


"Ada apa Diaz? Kamu kok kelihatan panik itu apakah ada masalah?" tanya Queen sambil menatap wajah Diaz.


"Gak, kok cuma ada sedikit masalah. Ada saudara yang sakit, ini aku harus memeriksa nya gimana dong? aku anter kamu pulang aja ya? habis gitu aku mau ke Bandung," ucap Diaz.


Queen mematung tidak langsung menjawab pertanyaan Diaz. Ada sedikit kekecewaan yang tersirat di wajah wanita itu. tapi ia pun mengangguk dan tersenyum, agar pria di depannya tidak semakin sedih. sebab, ini pun juga bukan maunya. Queen sangat tahu bagaimana sifat laki-laki yang ada di depannya ini, dan itu alasan dia tetap mempertahankan meskipun berat baginya saat sang mantan suami kembali hadir dalam hidupnya.


"Diaz, kalau memang kamu buru-buru, gimana kalau aku pulang sendiri saja naik Taxi online? Biar kamu gak nolak balik juga, sih. Kasian. Biar cepet sampai lah," usul Quen. Karena merasa tidak enak dengan Diaz. Jika saja dia tadi tidak memaksa untuk ikut, pasti dia juga tidak perlu repot-repot menggentarkan dirinya, juga kan?


"Tidak apa-apa, aku akan antar kamu pokok nya. Dokter sih ada, mungkin mereka enggan keluar, kau tahu, Bandung bukankah tempat terpencil seperti daerah Papua, kan?" jawab Diaz sambil tersenyum. Dan mengelus pipi Quen dengan lembut, saat ia juga melihat ada makanan yang mengenai pipinya.


Rupanya pria itu tidak menerima usul Quen. dia tetap maksa mengantarkan kekasihnya pulang, sekalipun kondisi dan waktu sudah dapat dikatakan mendesak.


Tiba di rumah Quen, dari luar pagar terparkir sebuah mobil Lamborghini kuning, dan seorang pria bersandar di sana, sepertinya pria itu tengah menunggu seseorang.


Begitu melihat Diaz berhenti dan dua penumpang nya turun, pria itu berjalan mendekat menghampiri Quen dan tanpa rasa malu asal memeluk wanita itu di depan kekasihnya.


Melihat hal yang tidak pantas itu, Diaz menjadi sangat, geram, terlebih, Quen juga sudah berusaha melepaskan diri. Semakin Quen memberontak, semakin erat pula pelukan laki-laki itu. Terlebih saat ia mengatakan pada Quen dengan lantang dan melirik ke arah Diaz, "Sayang, bukankah kau suka pelukanku? Kenapa kau jadi menolaknya? Apa karena ada dia?"


Tanpa pikir panjang, Diaz menarik paksa Quen dan menonjok muka Alex dengan kencang.


"Jaga sikap kamu, dan hargailah perempuan. Kau ini siapa? Kau hanya mantan suaminya tidak pantas seperti itu," ucap Diaz dengan tubuh bergetar karena menahan amarah dan api cemburu yang berkobar dalam dirinya.


"Memangnya, kenapa? Queen masih cinta sama aku, dia mau aku akan rujuk, coba saja tanyakan padanya, apa alasan tetap memilihmu dan menolak rujuk denganku? Jawabnya pasti hanya kasian dan tidak tega saja, soal cinta, jelas hanya ada aku di hatinya," jawab Alex penuh rasa percaya diri.


Queen membisu, memang yang Alex katakan tidak salah. Tapi, bukan berarti seratus persen benar. Dia harus jaga harga diri Diaz pula sebagai laki-laki.


Alex sedikitpun tidak nampak menyerah, dia malah tertawa. Lalu, Quen memandang ke arah Diaz dan memintanya agar segera kembali.


"Ya sudah, aku masuk dulu, ya Diaz. Kau cepatlah kembali kasian mereka sudah menunggumu. Aku masuk dulu, ya?" Queen pun akhirnya membuka pagar dan masuk ke dalam meninggalkan dua pria yang tengah perang dingin di luar sana.


"Heh, kau bahkan tidak bisa memberikan seluruh waktumu untum wanita yang kau cintai. Gimana kau bisa jaga dia? Lepaskan saja dia, cari wanita lain, dia akan aman bersamaku," ucap Alex dengan nada menghina.


"Kalau kau waras, seharusnya aku yang berkata demikian. Tapi, kenapa malah jadi kamu? Periksakan dirimu ke rumah sakit jiwa. Atau minimal berkontribusi lah dengan seorang psekeater, sebelum otakmu rusak."


Diaz pun tak mau debat lagi dan masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Alex yang baginya kian hari kian hilang kharisma dan coolnya sebagai pria berkelas



gimana nih, kalau dia yg jadi dokter Diaz? pantes, gak?πŸ˜…


Quen mendapati rumahnya sepi tak berpenghuni. hanya ada Bik Yul saja di dapur yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.


Awalnya wanita itu ingin naik ke atas, menuju kamarnya. tapi, urung. karena hal itu hanya akan membuatnya banyak berfikir dan stres saja. jadi, ia memutuskan untuk ke dapur saja membantu Bibi.


diletakannya tas cangklong nya pada single sofa di ruang keluarga, lalu ia berjalan menuju dapur dan menyapa Bibi.


"Rumah kok sepi banget, Bi? orang-orang pada kemana?" tanya Quen sambil melipat kaus lengan panjangnya sampai siku. dan bersiap mengambil pisau memotong sayuran yang tergeletak di atas meja.


"Eh, Non, Quen sudah datang. itu, Non. tadi mbak Hanifah datang mengajak tuan pergi bersama non Bilqis," jawab Bibi, yang tengah sibuk mencuci beras.

__ADS_1


"Oh, sama kak Nayla juga, Bu mereka perginya?"


"tidak, Non. Non Nayla keluar setelah mereka, tapi bibi tidak tahu dia kemana. kayaknya juga buru-buru banget," jawab Bik Yul apa adanya.


Queen tidak mau ambil pusing. dia berfikir mungkin juga pergi ke mall kopdar dengan teman-teman dunia matanya. Sebab, ia melihat akhir-akhir ini Nayla nampak sibuk dengan ponsel. bahkan di medosos nya, dia juga nampak sekali aktif update dan upload foto kebersamaan dengan teman-temannya.


Memang, awal dia masuk dalam keluarganya dia hanyalah wanita yang pernah polos dan tak punya teman, hal itu membuat dia jadi menuntut perhatian kakaknya dan sering membuat mereka bertengkar. dan semenjak saat ini, Nayla nampak lebih menerima dan mengerti posisi kakaknya yang kian hari kian sibuk mengurus bisnis yang menjamur di mana-mana. sementara Quen sendiri, dia juga lebih fokus dengan profesinya.


saat mereka berdua hampir menyelesaikan pekerjaan di dapur, Nayla pun kembali dengan membeli. dengan keperluannya dapur, berupa bumbu-bumbu, buah dan juga sayuran. tapi, ia masih terlihat marah dengan Quen. karena sekalipun dia tidak menyapa adik iparnya dan langsung pergi begitu saja setelah memberikan semua belanjaan kepada bibi.


Queen hanya tersenyum saja dan melanjutkan aktifitasnya memasak makanan kesukaan Hanifah.


ia hanya membatin saja kalau Nayla tetap seperti dirinya yang dulu. tidak royal dan tak suka belanja berlebihan. hanya berubah perhatiannya.


Sebab, jika dia dulu keluar selalu membelikan sesuatu untuk sang kakak, entah itu Dasi, Kemeja baru, dan aksesoris pria lainnya, kini sudah tak lagi. jika pun iya juga tak sesering dulu. alasannya simple. Al tidak pernah menyukai apapun yang dia beli, semua hanya berakhir tersimpan di dalam lemari dan laci saja.


🍁🍁🍁🍁


Diaz melajukan kendaraannya dengan cepat agar segera sampai, tiba di sana, ia melihat ada Umi dan adiknya, Fatimah. dalam hati ia pun bertanya-tanya, sakit apa pamannya memang kok harus dia yang memeriksanya? walau dokter hanya dia, jika hanya sakit ringan, kan ke bidan saja juga sudah cukup. periksa ke dia, tapi, alat medis tidak ada bukankah sama saja jadinya? pikir Diaz.


"Assalamualaikum," ucap Diaz, sambil melepas sepatu fantofelnya dan masuk ke dalam.


"Waalaikumssalam," sahut mereka yang ada di dalam serempak.


"Nah, ini Diaz, sudah sampai," ucap uminya.


Pria itu kian bingung saja, saat berada di dalam, seluruh keluarga besar dari alamarhum abahnya tengah berkumpul di rumah saudaranya yang katanya sakit. dan lebih bingung lagi, saat mendapati saudaranya nampak sehat Wal Afiat. tidak ada aura sakit sedikitpun di wajahnya.


'Apa aku dikerjain? kan ini bukan April moon,' batinnya. ah, iya, di keluarga ku tidak mengenal istilah seperti itu, ding,' batinnya lagi.


"Katanya paman Ahmad sakit, Umi? kok kelihatan baik-baik saja?" ucap Diaz.


"Sudah, ayo sini duduk dulu," ucap Uminya, sambil mempersilahkan putranya duduk di sebelahnya.


"Diaz, maaf ya sudah bohongi kamu. karena kalau tidak dengan cara ini kamu pasti tidak akan datang, hehe" ucap pamannya, kakak sang Abah sambil tertawa.


Diaz tidak menjawab. ia hanya menduduk dan duduk bersila di dekat uminya.


"Sudah, jangan kesal gitu, Diaz. kami berkumpul tidak akan bahas soal perjodohan kamu dengan Nurma. Umi kamu sudah menceritakan semua kalau wanita pilihanmu itu baik, dan sopan, kaan di halalkannya, Dia?"


lagi-lagi, Diaz hanya tersenyum malu-malu. bukan karena apa, tapi, makin ke sini, ia makin ragu saja kalau kelak ia bisa bersama Quen. sebab, sekalipun dia nampak menghargai dirinya tapi, Alex kembali mengejarnya. dan juga Al, nampak tidak menyukai dirinya.


"Manusia hanya berencana, Paman. sementara Allah yang menentukan," jawab Diaz. dengan mantap.


dia merasa kedatangannya kemari dan mengorbankan waktu seharian dengan Quen tidaklah terlalu sia-sia saat mendengar kalau perjodohan ini dibatalkan.


Memang sudah jadi hal yang lumrah di tempatnya untuk saling menjodohkan putra dan putrinya sejak dini. dan mereka akan menikah setelah usianya di rasa sudah cukup kelak.


memang, keluarga sang Abah, sudah sangat mewanti-wanti agar Diaz tidak macam-macam apalagi jatuh cinta pada wanita di kota kelak, karena, jodoh untuknya sudah dipersiapkan.


tapi, siapa sangka. begitu melihat Quen dia bahkan lupa segalanya. dan mungkin hal ini terjadi karena Nurma sendirilah yang meminta membatalkan, sebab dia pernah melihat Quen saat mengikuti pelajaran uminya di rumahnya dulu.


meskipun pihak dari almarhum Abah begitu serius dan antusias menanggapi perjodohan yang tidak masuk akal ini baginya, tapi, Umi tidak pernah anggap hal itu serius. karena dari awal beliau menjawab, percumah dijodohkan kalau anaknya tidak suka dan tidak cocok malah bercerai, kan malu kita. memang bercerai tidaklah di haramkan. tapi, bukankah itu dibenci Allah? jadi, soal pendampingnya hidup, biar lah Diaz sendiri yang memutuskan mana yang terbaik baginya.

__ADS_1


mendadak Diaz jadi teringat akan surat kertas yang diberikan adiknya dulu, katanya dari Nurma. ia jadi penasaran ingin membukanya. melihat apa isi di dalamnya. apakah soal ini dan dia kini sudah menepati janjinya?


__ADS_2