Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
DASAR LELAKI


__ADS_3

"Al," ucap Queen setelah makan beberapa suapan dari suaminya.


"Iya, Sayang."


Queen menghapus sisa makanan yang menempel di area mulut. Lalu, dia mulai mengutarakan apa yang ingin dia katakan sejak kemarin.


"Semalam asal datang ke sini, dia mengatakan bahwa sejak peristiwa itu adriel mogok dalam segala hal termasuk makan nggak mau kuliah dan tidak mau melakukan apapun. Dia hanya dia mengunci diri di kamar."


Al meletakkan piring dan sendok di atas nakas lalu memandang istrinya dengan seksama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Lalu menurutmu bagaimana apakah kita menyetujui saja permintaan konyol mereka?"


"Aku nurut sama kamu saja, sayang," jawab Al. Toh lagi pula sejak awal Al juga memang telah setuju dengan permintaan April untuk menikahi siri putrinya Berlin.


"Jika tidak setuju kasihan juga anak orang mana orang tuanya udah nggak ada masa kita sebagai orang tua asuh akan membiarkan dia gila karena cinta? Cintanya pada Putri kita, hahaha! Sungguh kehidupan ini sangat konyol. Apa mungkin keluarga kita telah menerima kutukannya anak yang kita besarkan akan menikahi anak kandung kita?"


Aldian sesaat menaikkan sebelah alisnya sambil memandang Queen. Kemudian dia tertawa setelah mengingat bahwa dia adalah anak yang kebetulan ditemukan oleh Mama Clara dan dibesarkan lalu mencintai anak dari orang tua asuhnya. Begitu pula Mama Clara dan papa vano mereka adalah saudara tiri yang bertemu setelah keduanya sama-sama dewasa.


"Kalau memang itu yang terbaik kenapa tidak? Tidak mengizinkan Berlin menikah dengan Adriel, mencarikan Dia pria lain belum tentu pria itu juga akan sebaik Adriel, kan? Yang penting, papa dulu baik sama mama, dan aku juga sayang sama kamu, kan?" ucap Al sambil mengecup pipi Queen.


"kebaikan Papa pada Mama memang tidak bisa diragukan lagi. Tapi, setidaknya untuk mendapatkan mama papa tidak memaksa. Tidak seperti kau yang berkali-kali melecehkan ku!"


"Tapi, enak kan?"


"Apaan? Kau ini! Sudahlah, kau siap-siap sana dan pergilah bekerja!" ujar Queen karena malu dengan ucapan suaminya.


Dia tak ingin berdebat. Apapun jawaban dia, juga pasti akan kalah. Memang, kala itu, dia sama sekali tidak menikmati apa yang Al lakukan padanya. Bahkan, dia sempat merasa jijik pada sosok yang selama inintelah dia kagumi dan hormati.

__ADS_1


Tapi, pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, Queen juga mulai mencintai Al dan gak pernah menolak dalam melayani pria itu hingga akhirnya lahir Clarissa dan Berlyn. Lalu kini, dia telah mengandung lagi benih dari Al.


"Kau bicara tentang Adriel dan Berlyn belum selesai. Bagaimana?"


"Mungkin lebih baik iya saja deh. Kita izinkan saja mereka. Walau resikonya putri kita akan hamil sebelum menikah di KUA."


"Ya sudah, kalau memang mau kamu begitu, silahkan saja. Tuan putri yang ambil keputusan, hamba nurut saja," ujar Al. Lalu, keduanya pun tertwa.


****


Saat jam istirahat, Al segera bergegas untuk pulang dia telah menyiapkan buah-buahan yang dia pesan lewat aplikasi online yang bisa diantar saat itu juga hanya menunggu beberapa menit. Maksudnya menunggunya tidak sampai seharian setidaknya paling terlambat sekitar 2 jam saja. Sengaja dia melakukan itu untuk menebus rasa bersalahnya karena akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar sampai-sampai tidak memperhatikan istrinya yang telah hamil hampir 2 minggu.


Bahkan saking sibuknya dia dengan pekerjaan, dia juga lupa tidak memberi kabar kepada Clarissa yang ada di negeri singa putih.


"Papa Al!"


"Oh, Bilqis. tumben kau kemari. Ada apa?" tanya Al pada anak tirinya. Entahnlah, istilah mantan Anak tiri itu ada atau tidak sedangkan sekarang ini dia sudah tidak lagi bersama dengan ibu gadis itu.


"Papa mau mengantarkan sesuatu ke tempat kerja mama Queen. Kau, mau ikut?"


Bilqis diam tak langsung menjawab. Dalam hati gadis itu mulai merasa iri kepada Queen yang begitu diperhatikan oleh suaminya.


Sekarang dia mengerti kenapa mamanya begitu mencintai pria di depannya ini. Pria ini sangat baik dan begitu romantis perhatian kepada pasangan meskipun hal-hal kecil. Bahkan ndak sebagai seorang lelaki dia tidak merasa malu atau gengsi mengirimkan makanan kepada wanitanya.


Tapi yang dia sesalkan kenapa mamanya malah berselingkuh pada pria seperti jevin yang sama sekali tidak bertanggung jawab dan malah hanya memboroti hartanya saja? Jika saja hal itu tidak dilakukan oleh mamanya mungkin sampai sekarang Bilqis masih memiliki sosok ayah yang jadi harapan bagi seluruh anak di dunia.


"Bilqis kenapa kamu bengong?"

__ADS_1


"Oh, maaf Pa. Aku lagi suntuk di rumah," jawab gadis itu.


"Ya sudah sekarang kamu mau gimana bapak buru-buru nggak bisa lama-lama di sini."


"Baiklah aku mau ikut," jawab Bilqis. Terpaksa dia harus mengikuti mantan ayah tirinya itu menemui istrinya sekarang. Meskipun sebenarnya dia hanya ingin berdua saja dengan Al tidak ingin bersama dengan siapapun sekalipun itu Mama tirinya yang juga baik dan perhatian padanya.


Awalnya Bilqis tidak menyadari perasaannya terhadap Al. Dia hanya merasa bahwa dirinya hanya merindukan sosok seorang ayah dari Al. Tapi, nyatanya dia merasa tidak nyaman dan tidak menyukai pemandangan yang ada di hadapannya saat melihat hal begitu mesra menyuapi dua buahan kepada Queen.


Harusnya jika iri merasa tersaingi sebagai seorang anak tiri, perasaan ini timbul ketika Al memperlakukan Berlyn dengan baik, kan?


"Prank!"


Seketika Al dan Queen langsung menoleh ke sumber suara tersebut.


"Oh, maaf. Aku melamun, tidak sengaja menjatuhkan gelas," ucap Bilqis dengan syara bergetar menahan emosi.


"Ya sudah nggak apa-apa kamu pindah saja ke sini, biar nanti cleaning service yang membersihkan pecahan beling tersebut," ucap Queen.


Sebagai seorang wanita Aku juga merasa ada yang tidak beres dengan anak dari mantan madunya itu. Tapi sebagai wanita yang dewasa dia juga harus bersikap profesional, berusaha sebisa mungkin memberi bimbingan bahwa bagaimanapun Al dan dia jugalah tetap orang tuanya tidak bisa memiliki perasaan lebih dari seorang anak pada ayah dan ibunya.


Hanya saja, untuk memberi nasehat tersebut kuno masih belum memiliki banyak bukti atau satu bukti yang kuat dan cukup untuk menasehati Bilqis jadi terpaksa harus menahan dan diam.


"Ah, iya, Ma. Makasih. Ya sudah Bilqis pulang dulu, ya?" ujar gadis itu tergesa-gesa.


"Eh, Bilqis!" teriak Queen. Tapi, gadis itu tidak menghiraukan sama sekali dan langsung keluar dari ruangan.


"Al, kamu merasa aneh nggak sih dengan tingkah laku Bilqis?"

__ADS_1


"Mungkin dia trauma setelah hal buruk menimpa dirinya. Jadi, wajar lah sayang."


Queen menghembuskan nafas sedikit kasar menatap suaminya lalu tertawa kecil sambil dalam hati dia bergumam, "Dasar, laki-laki. Memang tidak peka!"


__ADS_2