
"Bahkan istrimu saja sudah mengecapmu sebagai bad boy, Van." Hans tertawa terbahak sambil memegangi perurnya.
"Cukup tertawanya!"
"Habis gimana, lucu banget kamu. Uda di kata suami semua wanita di luar, kena tangkap satpol pp lagi, untung ya ketangkap ama istri sah, kalau istri yang lain berabe."
Vano menghisap dalam-dalam rokok di tangannya, dan melemparkan puntungnya ke dalam asbak tanpa mematikan apinya.
"Tuan Vano. Ini ada berkas dari Tuan Andreas untuk anda lihat," ucap seorang staf kantor Vano, karena kebetulan pintu terbuka lebar.
"Oh, biar saya lihat. Terimakasih, ya!" ucap Vano sambil menerima map dari tangan pria itu.
Begitu membuka isi di dalamnya Vano nampak terkejut. Memang ini berita bagus darinya, tapi juga bisa membuatnya tidak habis pikir.
"Hans, ayo ikut aku menemui ayahku!" Seru Vano sambil beranjak.
Dengan langkah sedikit malas Hans juga mengikuti Vano, mereka berjalan berdampingan menuju ke kediaman Andreas.
**********
"Quen, sama Nenek dulu, ya, Mama mau kuliah dulu," ucap Clara kepada Quen yang digendongnya.
Clara terus berjalan melintasi ruang tamu tanpa memperdulikan Dela yang tengah menemani Revan belajar.
"Clara, mau kemana?" tanya Dela.
"Aku mau nitipin Quen ke mama aku." Tanpa berhenti Clara menjawab.
"Tunggu, Ra. Kalau kamu mau, kamu bisa menitipkannya padaku."
"Tidak perlu, lagian mamaku juga biar ada teman ngobrolnya, kamu urus aja Revan," jawab Clara sambil tersenyum pada Dela.
Di tengah jalan ponsel Clara berdering. Di raihnya tas yang dicangklongnya dan mengambil gawainya.
["Halo, Lus. Ada apa?"]
["Ra, kamu tahu di mana Revan bersekolah?"]
["Kurang paham, ada apa memangnya kok nanya itu?"]
["Gini, Ra. Minggu depan akan ada penyuluhan kesehatan siswa siswi TK-SMA dan sederajat, kupikir dengan begitu aku bisa ambil darah Revan untuk dicocokan dengan DNA Vano."]
["Kenapa gak terang-terangan saja, Lus bawa mereka ke RS?"]
["Apa kira-kira dengan begitu dia tidak akan memiliki rencana lain? Aku rasa ini yang tepat, Ra."]
["Ok, baiklah. Nanti aku cari tahu dulu baru kukabari kamu."]
*******
"Bagus kalau kau sudah datang, Vano. Ini adalah Ibu Fatiya, beliau adalah ketua Panti Asuhan Permata Bunda. Beliau menginformasikan kalau dua tahun silam Dela mengadopsi anak bernama Fatih, dan Dela merubahnya menjadi Revan," Terang Andreas.
Vano dan Hans menelungkupkan kedua tangan di depan dada memberi salam pada Bu Fatiya.
Menurut cerita Bu Fatiya, Fatih adalah bayi yang beliau temukan sendiri di depan pagar pintu panti Enam tahun lalu, jadi semua biodata Revan adalah rekayasa Dela. Tentang kepribadian pun, Revan bukan menyukai Drum dan Basket, tapi lebih ke membaca dan membuat gambar atau melukis.
Setelah beberapa hari menggali informasi mengenai Fatih, kini semua lengkap, bahkan Dela juga telah dilaporkan polisi atas kasus penipuan yang memanfaatkan anak di bawah umur serta pemalsuan identitas.
Setelah semua di rasa cukup, Vano, Clara dan juga teman-temannya akan menemui Dela dan membeber semua keburukannya.
*******
"Van, ikut aku ke rumah sakit, Yuk!" ajak Clara.
"Kenapa? Kamu sakit?"
Clara mengelengkan kepala, dia tidak mau menjawabnya. Malah, menarik lengan Vano keluar.
"Ra, kenapa kamu ajak aku kesini?"
__ADS_1
Menyadari kalau Dela menguntit sampai di parkiran rumah sakit, sengaja Clara mengeraskan suaranya agar terdengar olehnya.
"Aku merasa aneh dan tak enak badan. Jangan-jangan Quen mau punya adik, Van."
"Apa? Masa kamu hamil lagi, Ra? Quen kan masih empat bulan?"
"Apa itu jadi masalah?"
"Aku kasian kamu aja, pasti akan sangat repot, pakai jasa pengasuh kau tidak mau."
"Tau gitu, kenapa malam itu kau tidak pakai kondom?"
"Maaf," jawab Vano sambil menunduk.
Tidak menunggu lama Clara dan Vano sudah berada di ruangan Lusi, Vano semakin bingung saat Lusi mengeluarkan jarum suntik dan memintanya rebahan.
"Apa-apaan, ini?"
"Akan kuambil darahmu untuk pengecekan DNA, darah Revan sudah ada jadi, kita tinggal nyocokin aja." jawab Lusi sambil mengambil bulatan kapas kecil.
"Apa kalian tidak percaya padaku?"
"Van, ini bukan soal percaya atau tidak, kau pikir Dela itu seperti apa? Jika kita tidak bertindak cepat, aku takut dia memalsukan DNA kalian dan menjadikannya cocok."
"Mendengar hal itu pun, Vano akhirnya menuruti kemauan dua wanita yang ada di dekatnya.
Usai pengambilan darah, Vano dan Clara pun kembali pulang.
Keluar dari garasi, Vano tiba-tiba menggendong Clara.
"Aaaw. Turunkan aku, Van!" pekik Clara kaget.
"Anggap saja aku menggendong bayi di dalam perutmu," ucap Vano sambil tersenyum nakal.
"Kamu istirahat yang cukup, Sayang. Besok kamu kuliah pagi, kan?"
"Belum pasti, Van. Tunggu pengumuman besok saja," ucap Clara sambil beranjak ke toilet.
Keluar dari toilet Clara melihat Vano serius dengan komputernya. Ia berniat mengambil cemilan di dapur. Begitu keluar, Dela langsung menghadang Clara.
"Clara, kau membuat Vano hanya memperhatikanmu saja akhir-akhir ini." Dengan tatapan mata serius Dela memandangi Clara yang sudah berganti pakaian tidur.
"Jika tidak, apakah aku harus berbagi suami denganmu? Tidak, kan?"
"Ok aku paham. Tapi kau tahu kan, kalau Revan itu sebenarnya anak Vano. Setidaknya berilah waktu buat mereka saling mengenal agar dekat."
"Tapi Vano tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki anak selain Quen, jika memang dia anaknya, kenapa kau tidak langsung beri tahu dia?"
Dela diam sesaat, lalu menjawab, "Baik, aku akan beri tahu dia besok."
"Silahkan saja!" Clara pun berlalu ke dapur menganmbil beberapa makanan ringan dan sebotol air mineral.
********
"Vano, maaf jika aku menganggumu, tapi ini perlu aku katakan agar kau tahu, kalau Revan sebenarnya dia adalah darah dagingmu," ucap Dela perlahan, seperti memberanikan diri.
"Kau yakin?" jawab Vano sambil menutup komputernya, dan memandang tajam ke arah Dela.
"Apakah kurang bukti? Perhatikan dia, dia sangat mirip denganmu, dari segi sifat dan kepribadian pun kalian sama persis."
"Ting... Tong..." terdengar suara bell berbunyi.
"Sayang, ada tamu tolong bukakan pintu." Teriak Vano.
"Iyaaa, sebentar," teriak Clara.
__ADS_1
"Revan, kamu jangan takut lagi, ya. Kamu akan bebas menjadi dirimu kembali tidak harus menuruti perintah tante Dela, ayo ikut aku," ajak Clara.
Sambil menggandeng Revan Clara keluar dan membukakan pintu.
Sifat asli Revan, atau Fatih pun muncul, ia tak mampu menahan diri saat melihat siapa yang datang.
"Umaaaa!" Fatih berhambur memeluk bu Fatiya.
"Sayang, apakah kau merindukan Uma?" tanya bu Fatiya.
"Iya, Uma. Fatih tidak mau lagi jadi Revan, Fatih ingin kembali dengan adik-adik di panti saja menemani Uma." Fatih terus merengek dan enggan melepaskan Fatiya.
"Mari, Bu. Silahkan masuk!" Clara mempersilahkan Fatiya, sambil menggandeng Revan.
Melihat siapa yang datang, Dela nampak gelagapan, wajahnya pucat.
"Kau kenapa, Del? Sakit?" tanya Vano.
"Aku, aku tidak apa-apa. Aku akan ke belakang dulu." Dela bergegas pergi menghindari bu Fatiya.
"Dela, ini tamu kamu!" Seru Clara.
Dela berhenti, wajahnya semakin pucat dan memerah.
"Kau ini kenapa, Del? Seperti maling tertangkap basah saja," ucap Clara santai, tapi megejek.
"Bu Dela, kami dari pihak panti akan membawa Fatih kembali, anda tidak tulus mengadopsinya, melainkan hanya memanfaatkan anak di bawah umur," ucap bu Fatiya dengan tegas.
"Apa maksut anda, Bu? Siapa Fatih itu? Jelas-jelas dia Revan anak saya. Sini Revan, ikut Mami." Dela memberi isyarat tangan pada anak berusia enam tahun yang kini tengah berdiri di depan Clara.
Anak itu nampak bingung, antara menuruti Dela atau tidak.
"Fatih, kau tidak perlu takut. Ada kami di sini bersamamu," bisik Clara.
"Aku tidak mau jadi Revan lagi, aku gak mau sama Tante, Tante Dela jahat." Fatih berteriak sambil menangis ketakutan.
Dengan cepat Clara memeluk memberi perlindungan dan rasa nyaman.
"Revan, apakah beberapa hari yang lalu kau di ambil darahnya di sekolahan sama bu dokter cantik?" tanya Vano.
"Iya, namanya kalau tidak salah dokter Lusi." jawab Fatih polos.
Clara dan Vano saling berpandangan dan tersenyum.
"Ini kau lihat, Del! Dia bukan anakku. DNA kami beda. Kau sengaja melalukan ini hanya ingin kembali bersamaku setelah pria simpananmu itu bangkrut, kan? Dan kau kini terbelit banyak hutang." Vano menyodorkan lembaran kertas hasil tes yang di berikan Lusi tadi pagi.
Dela nampak bingung kehabisan akal, semua kubuskannya telah terbongkar dan ia memutuskan untuk kabur, tapi baru saja keluar pagar, dua orang polisi sudah sigap menangkapnya. Mereka sudah berjaga mengepung rumah Clara dan Vano.
Dela kini mempertanggungkan perbuatannya di dalam penjara, sementar Fatih, kembali menjadi dirinya sendiri. Ceria dan kekanakan, tak ada lagi tekanan untuk dia bersikap layaknya pria dewasa.
"Fatih, tante sudah membicarakan semua ini dengan keluarga tante, jika kamu mau, kau bisa tetap tinggal di sini bersama kami dengan syarat kau harus memanggil kami mama dan papa, bagai mana?" ucap Clara pada Fatih.
Ada rasa trauma di wajah Fatih, ia mendunduk dan diam sambil datangannya menggengg erat tangan Fatiya.
"Fatih, kami tidak akan menjadikanmu seperti yang kamu mau, jadilah dirimu sendiri di sini, dan adik Quenza, dia adikmu sekarang bagaimana?" tambah Vano sambil mendekati Fatih.
Fatih mendongak kepalanya menatap wajah Uma Faiya, beliaupum tersenyum sambil mengangguk.
"Kami akan mengajakmu berkunjung ke panti setiap minggu, jika kau besar nanti sudah setinggi papa, kau boleh ke sana sendiri jika kau mau, bagaimama?" tawar Clara sambil tersenyum.
"Aku mau!" Seru Fatih sambil memeluk Clara.
Dan kini secara resmi Clara telah mengadopsi Fatih dan memasukannya ke dal kartu keluarganya. Mereka pun hidup berbahagia bersama layaknya keluarga yang sempurna.
TAMAT.
__ADS_1