Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 175


__ADS_3

Al tidak dapat menemukan Nayla. Akhirnya, ia pun menelfonnya dan menunggunya di sebuah tempat. Cukup lama Al menunggu istri dan anaknya, ia mulai tak sabar, akhirnya ia pun menelfonnya kembali dan marah-marah.


''Kamu di mana sih, Nay ditungguin dari tadi lama banget?" maki Al marah-marah .


"Sebentar, Mas. Ini di sini sangat ramai, aku harus menembus antrian," jawab nayla, panik.


"Kamu mau ngantri di ke mana, sih Nay? Ya sudah, kamu kalaun masih di sini ya di sini saja dulu, Aku masih ada urusan. Kalau sudah nanti aku jemput kalian," ucap Al, akhirnya meninggalkan Area dufan dan pergi ke tempat Martin.


Awalnya dia ingin pergi ke tempat Vico. Tapi, diurungkannya karena enggan berurusan dengan makhluk itu. Sebab dia akan terus di Bully dan dianggap mencintai adiknya.


Baru beberapa kilo meter, Al mendadak teringat dengan papa dan mamamnya di rumah sakit. Sudah dua hari ini orang suruhannya tidak memberi kabar terkaitkondisi dan perkembangan kedua orangtuanya.


Begitu memasuki ruang ICU, empat orang suruhannya yang semula duduk dan bermain gadget, entah apa, mereka segera berddiri saat salah satu dari mereka menyadari kedatangan Al.


"Bos, Al... selamat siang, kata dokter yang menangani tuan dan nyonya, masih belum ada perkembangan apapun."


"Baiklah, tidak apa-apa, ini bukan salah kalian." ucap Al. Lalu pria itu pun masuk ke dalam ruangan dan melihat dua orang yang disayanginya masih terbaring tak berdaya dan tubuhnya penuh dengan alat-alat penopangkehidapannya.


Entah sudah  berapa lama, Al tidak mampu mengingatnya, persisnya saat kejadian pun bagaimana dia juga mungkin sudah lupa. Sebab saat kecelakaan itu dia berada di Jepang.


Kaki Al terasa lemas, seolah tak bertenaga melihat wajah orang yang telah membesarkannya dengan kasih sayang. Bahkan, pria seperti Al pun sampai bisa menangis, dan berlutut di antara hospital bet yang di tempati papa dan mamanya.


''Maafkan, Al Pa, maafkan Al juga, Ma. Al merasa tidak berguna selama ini sebagai anak tertua mu. Al merasa menjadi anak tidak tahu diri. Saat Al sakit mama selalu ada untukku, bahkan papa pun mengurungkan pergi ke luar kota untuk menemanimu. Tapi, di saat kondisi kalian semua seperti ini, aku justru malah sibuk dengan urusanku sendiri."


masih dalam keadaan berjongkok, Al pun meletakan kepalanya di hospital bet tempat mamanya terbaring.


Entah terlalu lama menangis atau terlalu banyak beban yang dipikirkannya, Al pun sampai tertidur di sana. Ia baru terjaga saat suster yang akan mengecek kondisi pasiennya membangunkannya.


"Mas, jadwal besuk sudah habis, tolong anda keluar dulu, ya. Biarkan kami memeriksa pasien dulu.


''Maaf, sus. Saya sampai ketiduran," ucap Al lalu dia pun segera keluar meninggalkan ruangan itu.


''Itu kakaknya dokter Queen, kan, ya?" ucap salah satu perawat kepada sesama teman perawatnya.


"Iya, kasian banget, ya sudah satu tahunan ini orang tuanya seperti ini dan tak kunjung sadar. Padahal mereka itu orang baik, katanya tapi kok masih ada saja ujiannya."


"Beginilah hidup itu, maunyang baik ataupun yang jahat semua tidak akan lepas dari masalah. Kau juga tahu bagaimana pria tadi, kan? Di luaran sana dia type orang cerdas dan tegas. Tapi, saat berhadapan dengan situasi seperti ini pun dia juga bisa menangis."


"Masa, sih diatadi nangis? Apa kau lihat?"


"Tidakkah kau melihat matanya yang sembab dan merah tadi?"


"Aku tidak begitu memperhatikannya. Ya sudah, ayo kita bekerja sekarang!"

__ADS_1


"Edo, kalian tunggu dua suster itu keluar, tanyakan bagaimana kondisi papa mamaku dan kabarkan padaku."


Lagi-lagi Al tiba dengan sangat mendadak. Sehingga empat orang itu yang tengah asik dengan gadgetnya terkejut. meletakan begitu saja dan berdiri. "Ba... Baik, Bos. Akan segera kami kabarkan nanti," jawab mereka, tergagap karena panik dan juga terkejut karena kedatangannya yang mendadak.


Al hanya, mengngguk dan pergi.


"Si bos datangnya sangat mendadak. Jadi gugup deh, cacingku mat, nih jadinya.''


"Sama... Cacingmu belum sebesr punyaku, malahan," keluh yang lain.


Al hanya tersenyum saat mendengar keempat anak buahnya menggerutu. Ternyata mereka semua asik dengan gadgetnya karena pada demam game cacing.


'Haaah, ada-ada saja mereka,'


Akhirnya Al pun tidak jadi ke rumah Vico dan juga Martin. dia bahakan juga lupa kalau anak dan istrinya msih di Ancol. Dia pun langsung pulang ke rumahnya. Tiba di rumah ia mendapati keadaan rumah yang masih sangat begitu sepi. Rupanya Queen dan Diaz belum datang. Lalu, di mana kakek kok cuma ada bik Yul saja? pikir Al.


Al pun menghempaskan tubuh lelahnya di atas sofa. Meletakan lengan tangannya di atas kening menutupi mataya. Diluruskannya kakukinya, ia berusaha memejamkan mata lagi setelah menghembuskan napas panjang dan sedikit kasar seperti orang yang tengah merasa kesal saja.


"Kamu sudah pulang, Al?" tanya kakek Andrean saat tiba bersama Hanifah.


Al langsung terperanjat mendenggaryang pertanyaan kakekknya. Bagaimana bisa dia meluipakan anak dan istrinya yang masih ada di ANcol?


Dengan cepat Al langsung melompat dari tempat ia bebaring dan berkata, "Mereka masih ada di Ancol, Kek. Aku lupa."


Cucunya pun bergegas pergi dan berlari menujungarasi. dan dengan cepat meninggalkan halaman rumah.


gadis itu menatap ke arah sang kakek dan berkata, " Kalau barang yang lupa bawa itu wajar, kan Kek? Ini kok anak dan istrinya bisa kelupaan." Hanifah tertawa lebar sambil meutup mulut dengan tangannya.


Sementara Andrean hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Apapun yang cucu laki-lakinya lakukan semua itumemiliki alaan yang jeas. Hanya saja Al tidak mau banyak bnicara, hasil kerja dan waktu lah yang akan mengungkap semuanya.


Meskipun begitu Andrean masih saja penasaran apa alasan Al masih saja mempertahankan istri yang menyelingkuhi dirinya. Jika di kata dia bucin, sepertinya cintanya sudah berpindah pada Queen. Meskipun dia masih belum mau mengakui, entahlah, Andrean sendiri juga bingung. Dia tidak mengaku atau masih belum sadar akan perasaannya sendiri atau bagaimana.


"Makanya, mulai dari sekarang berusahalah jadi perempuan yang baik, dari segi sifat, kepribadian dan terhadap siapapun terlebih keluarga suami agar kau tak mendapatkan suami yang aneh seperti suami kak Nayla." Kembali Andrean hanya terkekeh saja.


Hanifah merasa apayang diucapkan sang kakek sangatlah ambigu. Jujur dia pun sebenarnya tidak dapat mencerna maksut dari kata-katanya. Tapi, untuk bertanya pun rasanya juga percuma. Sebab, sang kakek memang memberinyan tugas untuk berfikir dan mengamatin keadaan sekitar.


*****


Aditya menunggu di depan halaman rumahnya, sementara Alex sudah sejak tadi tadi meleati dirinya yang tengah berhenti.


Aditya tertawa kecil menertawai Alex yang tidak mendapatkan apa-apa dari membuntutinyaa. Bukannya informasi atau apa, malah yang ada dia jusrtu ketahuan dan tertangkap basah.


"Aleex.... Alex, kau itu terlalu polos untuk bisa menyelidiki diriku, kau ini masih anak kemarin sore."

__ADS_1


Pria itu melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Sudah sepuluh menitan dia menunggu istrinya yang tak kunjung datang membukakan pagar iuntuknya. Ia pun mulai mrengklakson beberapa kali. Namun, tetap saja masih tak ada jawaban.


Akhirnya pria itu pun meraih ponselnya yang tergeletak di atas dasboard dan mencoba menghubungi nistrinya. tapi, tidak ada jawaban sampai beberapa kali.


Rasa panik dan khawatir mulai menjalari hatinya. Pikirannya mulai berkata macam-macam. Terlebih ketika dia make sure kondisi anak dan istrinya turun dari mobil mendapati pagar tidak terkunci dan pintu utama pun terbuka.


Aditya mempercepat langkahnya menuju rumah dan melihat keadaan di dalam.


Sepi yang dia dapatkan. tidak ada satupun orang di sana. Lntas, di mana anak dan istrinya berada?


"Axel... Novi, di mana kalian? Sayang, aku pulang. Ayo kita pergi jalan-jalan!" seru Aditya dengan suara agak kencang. Namun masih saja tak ada jawaban dari mereka.


Aditya mulai panik dan takut, ia berjalan mengeceki semua ruangan yang ada di dalam rumahnya bahkan juga lantai atas, Tapi ia masih saja tidak menemukan Novi dan juga Axel. Lalu, di mana mereka?" pikir Aditya.


Ia pun kembali menuruni tangga menuju ke lantai bawah sambil mencoba kembali menghubungi nomor Novita. Panggilannya tersambung. namun aneh, suara nada dering ponsel milik istrinya pun juga ada di dalam rumah ini. Dengan cepat Aditya mencari sumber suara itu. Betapa terkejutnya dia mendapati ponsel itu tergeletak di meja ruang tamu, tadi dia tidak menyadari mungkin karena aterlalu panik.


Dengan tangan bergetar Adit meraih ponsel itu, rasa takut, panik yang sedari tadi sudah bercampur aduk menjadi satu kini kian bertambah parah dan membuat pikirannya kian keruh saja.


"Novi, Sayang, di mana kau sebenarnya? Apakah ada halburuk yang menimpamu?" gumam Aditya seorang diri.


Namun, dia yang bergelar sebagai dokter, tidak mau terhanyut dalam pikiran negatif thinking. ia berusaha sabar menunggu. Barangkali dia masih ada keperluan di luar dan tidak lama lagi akan kembali bersama putranya. Sebab, saat ia datang, kondisi pagar tidak terkunci, pintu rumah tidak ditutup dan ponselnya pun juga ditinggal.


sudah cukup lama Aditya menunggu Novita, tapi, yang ditunggunya tidak kunjung datang. ia pun berinisiatif keluar memasukan mobil dan bertanya pada salah satu tetangganya. barangkali ada yang melihat dan tahu keberadaan Axel dan juga Novita.


"Ketika ia udah berada di luar. dia melihat seorang ibu-ibu yang sepertinya hendak keluar rumah. Dengan segera Aditya pun menghampirinya dan bertanya. "Maaf, bu permisi. Apakah anda melihat anak dan istri saya, tadi?" tanyanya dengan santun.


Dengan ramah dan antusias, ibu-ibu itu pun menjawab, "Iya, tadi saya melihat sekitar setengah jam setelah nak Dokter berangkat, dia keluar bersama Axel."


Aditya nampak mengerutkan kening dan kembali bertanya, "Keluar, Bu? Ibu tahu, mereka pergi ke arah mana dan naik apa?"


"Kalau ke arah mana, Saya tidak tahu. cuma, tadi ada dua orang laki-laki yang menjemputnya. apa mungkin adiknya? sebab, selama ini dia tidak pernah keluar dnegan laki-laki selain dengan nak Dokter dan si Alex, Alex itu."


"Oh, ya sudah, Bu. terimakasih." Aditya pun kembali pulang ke rumah. dia berfikir keras tidak mungki. Alex. jelas-jelas bocah kemarin sore itu sejak pagi sudah menguntitnya. lalu bersama siapa Novita pergi?


Cukup lama Aditya terdiam bingung melakuakan apa, sambil menunggu dia bermaksud untuk mandi, barang kali sehentar lagi Novita datang. Tapi, betapa terkejutnya dia saat mendapati isi lemari Novita kosong. baju-baju dan juga perhiasan miliknya telah raib. tidak hanya itu. buku nikah pun juga tidak ada.


"Novita? Benarkah kau pergi meninggalkan aku selamanya bersama Axel?" Tubuh Aditya pun terasa lemas. ia sampai jatuh berlutut karena kakinya seperti tak mampu menopang berat badannya sendiri.


Sedikit pun dia tidak pernah menyangka Novi akan pergi meninggalkan dirinya. Bagaimana ini bisa terjadi, tidak ada perselisihan dan pertengkaran di antara mereka sebelumnya. Bahkan, semalam pun saat keduanya bercinta juga nampak baik-baik saja. Lalu, apa alasannya dia pergi?


Apakah dia sudah tak tahan lagi karena merasa dianggap sebagai orang lain. Apa dia sudah tak tahan karena dirinya sering mengigau memanggil nama Queen.bajkan saat bercinta pun juga tak jarang nama Queen lah yang sering dia teriakan ketika mencapai puncak kenikmatannya.


Dengan sisa tenaganya yang ada, Aditya berusaha bangkit untuk mengecek kondisi kamar putranya. dari luar nampak rapi, tapi ada yang janggal. Tapi, apa?

__ADS_1


Aditya melangkah masuk ke dalam kamar itu, mencoba melihat kejanggalan yang ada. Benar. di atas meja belajar putra nya tak lagi ada buku-buku pelajaran untuk smester tahun ini. malah yang ada adalah buku pelajaran taun lalu. Bahkan, mainan robot kesukaannya pun juga tidak ada.


"Novitaaaaa Axeellll! di mana kalian, Sayang?" teriak Aditya histeris.


__ADS_2