Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 252


__ADS_3

Dari kejauhan, Diaz terus mengamti Queen yang hendak keluar


meninggalkan area rumah sakit. Bagitu memastikan keadaan sepi. Tidak ada Gea, maksutnya. Pria itu berjalan cepat, setengah berlari menghampiri wanita yang


masih mengenakan jas putih, khas seorang dokter itu.


“Queen! Tunggu dulu. Aku mau ngomong, sama kamu,” teriak


Diaz. Secara spontan memegang pergelangan tangan wanita itu.


Setika Queen langsung terkehenyak. Ia terkejut karena tangannya di sentuh oleh pria lain yang bukan suaminya. Rupanya apa yang Al lakukan


di masa silam saat membawanya dari acara pertunagannya itu menyisakan rasa trauma pada pria asing. Sekalipun sekarang ia sudah bisa menerima Al sebagai


suaminya.


“Diaz, apa yang kamu lakukan?” ucap Queen sampai matanya


terbelalak karena terkejut.


“Kenapa? Apakah kau terlalu takut dengan Al yang saiko itu?


Sampai-sampai kupegang tanganmu saja kau sampai terbelalak begitu?” jawab Diaz dengan kesal.


Queen hanya memalingkan wajahnya, menunduk dan memegangi


bekas pegangan Diaz di tangan sebelahnya tadi.


“Jawab aku dengan jujur, Queen. Apakah kau tidak bahagia


dengan Al? Kamu masih sayang, kan sama aku?” tanya Diaz penuh harap.


Queen menatap wajah pria itu. Ia bingung harus memberi


jawaban apa. Jika jujur pasti akan membuatnya sakit. Tapi, jika dia diam tak menjawab, pria itu akan terus berharap kepadanya.


“Diaz. Kita sekarang sudah memiliki hidup kita sendiri. Kau


carilah kebahagiaanmu. Belajarlah untuk menerima Hanifah,” lirih Queen sambil menatap mata pria itu.


“Kenapa? Apakah kau sudah mencintai ******** itu? Hah?” ucap


Diaz sambil menyeringai


Bahkan saat ini, Queen tidak bisa menerima saat Al dikatakan


seorang ******** oleh mantannya. Ia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya


sendiri. Satu tamparan melayang pada pipi Diaz.


“Kau jangan berani-beraninya menghina suamiku, Diaz.


Bagaimana pun, dialah ayah dari anak yang kukandung. Aku mencintainya,” ucap Queen lalu segera berlari.


Diaz terpaku tak mampu menatap punggung Queen setelah


menerima tamparan dan jawaban yang sangat menusuk palung hatinya.


“Kau hamil, Queen? Kau sudah menerima ******** itu? Apa yang


ia perbuat padamu sampai-sampai kau bisa sangat mencintainya?” gumam Diaz


seorang diri sambil memegang pipi bekas tamparan tadi.


Merasa tidak terima kalau ia sudah dilupakan, Diaz pun


mengeluarkan gawainya dan melakukan sesuatu. Kemudian ia tersenyum seorang


diri dan bergumam, “Coba biar kulihat seperti apa perasaanmu kepadaku nanti, Sayang.”


Queen terus berjalan menuju keluar area bangunan rumah sakit


tempat dirinya bekerja. Ia sempat menghentikan langkahnya dan menoleh ke


belakang. Karena ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Tapi, tidak ada apa-apa di belang.


Merasa tidak nyaman dan keamannya terancam, ia segera


menghubungi suaminya.


“Halo, Al. Apakah kau sibuk?” tanya wanita itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Lorong rumah sakit.


“Tidak begitu sibuk. Ada apa? Apakah kau minta aku


menjemputmu sekarang?” Pria itu bersandar pada kursi putar dan meluruskan kakinya


diletakkan di atas meja, dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


“Iya. Kamu perhatian sekali, sampai-sampai tahu kalau ini jam


pulang ku,” jawab Queen sambil terus berjalan.


“Oke. Tunggu akau sayang. Aku akan berangkat sekarang.” Al


langsung mematikan ponselnya dan beranjak meninggalkan ruangan. Ini sudah jam


dua, untuk kembali ke kantor sepertinya nanggung. Pikir Al.


“Lisa. Nanti kalau ada yang mencariku, tolong kamu bilang


kalau aku sudah meninggalkan kantor, ada urusan di luar,” pesan Al kepada sekertarisnya.


“Baik, Pak.” Jawab wanita itu.


Merasa sudah lepas dari tanggungan. Dengan semangat Al


berlari menuju ke tempat parkiran dan menuju ke rumah sakit din mana istrinya bekerja.


Queen menunggu Al sambil berdiri di dekat pos jaga. Ia tidak


berani jauh-jauh dari situ. Pengalaman bagaimana ia di culik Aditya beberapa


waktu lalu, masih membuatnya merasa takut dan selalu berantisipasi saja terus.


Belum juga Al tiba sebuah mobil berwarna merah berhenti di


depan pintu masuk rumah sakit. Queen kenal mobil itu. Ya, itu adalah mobil milik saudarinya, Hanifah.


Hanifah memajukan kendaraannya dan memarkirkannya. Agar


mobilnya tidak mengganggu kendaraan lain yang hendak masuk ke dalam rumah sakit


tersebut.


Teernyata benar, selang beberapa menit, Muncul dari sebelah


kiri pintu masuk rumah sakit seorang wanita mengenakan rok Panjang berwarna sustard dan blus panjang berwarna hitam berjalan dan melempar senyum padanya.


Tidak hanya pada Diaz. Sejak kejadian itu Queen memang belum


pernah bertegur sapa dengan dua pasangan itu. Jika pada Diaz ia dulu merasa bersalah dan tak pantas bersama. Namun, pada Hanifah, ia merasa jengkel. Queen berfikir untuk membalas


senyuman saudarinya itu dan menyapanya untuk yang pertama kali setelah itu. Toh, dia sekarang juga sudah tidak ada perasaan dengan Diaz. Yang ia mau


sekarang bukanlah Diaz, melainkan Al. Iya, Al seorang.


‘’Queen. Apakah kau juga akan pulang? Kebetulan sekali aku juga


akan menjemput Diaz. Bagaimana kalau kita barengan saja pulangnya? Kami akan

__ADS_1


menemui kakek Andrean juga,” sapa gadis itu dengan ramah.


Sebenarnya Hanifah merasa canggung. Dan rasa bersalah juga


ada, meskipun ia sudah tahu kalau saudarinya telah hamil. Tapi, jika ia tidak mulai menyapanya duluan, mau siapa mulai? Dia sudah dari dulu kenal dengan Queen. Jika ia tidak merasa bersalah tidak akan pernah mau menyapa duluan, apalagi


meminta maaf.


“Al sudah akan menjemputku kemari. Mungkin juga sebentar


lagi datang,” jawab Queen dengan tenang.


“Sayang, apakah kau sudah lama menunggu!”


Bersamaan Queen dan hanifah menoleh pada pria yang mengenakan


kemeja lengan pendek berwarna biru itu. Dengan hangat pria itu memberi pelukan ringan pada Hanifah dan mengecup keningnya dengan kilat saat Queen melihat ke arah keduanya.


Queen memalingkan wajah dan tersenyum. Entah kenapa. Tiba-tiba


dalam hatinya terasa nyesek saja. ‘Sialan, di mana Al? Kenapa belum datang, juga?’ umpatnya dalam hati.


“Queen, kita mau menemui kakek Andrean. Apakah kau mau


bareng kita sekalian?” ucap Diaz.


“Terimakasih. Sebentar lagi suamiku juga tiba. Itu, dia!”


serunya sambil menunjuk ke arah Al yang berjalan ke arah mereka bertiga.


“Hanifah, Diaz. Terimasih sudah menemani ibu dari


anak-anakku,” ucap Al dan menyeringai ke arah Diaz. Jelas sekali, kata-kata itu untuk melukai pria yang dulu ada dalam hidup istrinya.


Diaz hanya tertawa canggung. Sementara tangannya masih merangkul


pinggang Hanifah. Al yang memang jeli, ia mengerti kalau Queen masih ada rasa sakit


dan tidak terima melihat perlakuan Diaz di depan matanya seperti itu.


Al berdiri tepat di depan Queen dan mengelus perut wanita


itu dan berkata, “Halo, Sayang. Papa menjemputmu. Apakah kau tadi rewel saat bekerja bersama mama? Jangan kacaukan pekerjaan mamamu, ya Sayang.”


Queen tersenyum dan menyentuh lengan suaminya. “Ya sudah,


kita pulang sekarang. Pinggangku tarasa sakit. Aku butuh rebahan,” ucapnya.


“Kudengar kakek mengundang kalian makan malam di rumah, ayo sekalian," ucap Al pada Diaz dan Hanifah sambil menggandengantangan Queen dan berjalan menuju ke mobilnya.


Sedangkan Diaz memandang mereka berdua dengan tatapan tidak


terima. Bagaimana pun, adegan yang dilihatnya barusan juga bukanlah sebuah


sandiwara. Queen benar-benar telah menerima Al sebagai suaminya.


“Di, Kita ke tempat kakek, apa pulang saja? Aku akan masakin


sesuatu untuk makan malam kita nanti,” ucap Hanifah saat menyadari hati tunangannya terasa panas melihat kekompakan saudari dan suaminya.


“Kita ke tempat kakek saja. Beliau sudah mengundang kita untuk


makan malam.”


Selama perjalanan, Diaz sama seklai tidak mengajak bicara


Hanifah. Bahkan Hanifah sendiri juga merasa canggung untuk memulai lebih dulu.


Baru saja dia merasa bahagia karena tunangannya sudah bisa menerimanya, dan


Queen juga sudah bisa menerima Kak Al. Tapi, kenapa, hati Diaz masih saja terpengaruh


rumah sakit ini yang sama dengan mantan kekasihnya? Apakah benar, cinta pertama


itu susah untuk dilupakan?


Seketika air mata Hanifah mengalir saat ia sadar kalau perlakuan


Diaz tadi hanyalah untuk memanas-manasi Queen. Mungkin bisa saja tadi dia


berusaha merayu saudarinya namun diabaikan. Dengan cepat wanita itu menghapus


air matanya dan melirik ke arah Diaz yang tengah serius mengemudi. Jelas, ia tidak


akan menyadari kalau ia tengah menagis untuknya. “Bahkan kau telah memanfaatkan


ku, Di… Tega sekali kau Di,’ batin Hanifah sambil menatap Diaz dari samping.


Begitu tiba di kediaman keluarga kakek Andrean, Diaz menatap


ke arah Hanifah dan kembali meperlakukannya dengan baik. Seolah ia lupa kalau


selama di perjalanan dia mengabaikannya terus. Tapi, Hanifah yang sudah terlanjur


mencintai pria itu juga tak peduli sekalipun hanya dijadikan pelampiasan dan


dimanfaatkan saja oleh tunagannya sendiri.


‘Baiklah. Anggap saja kita sama-sama untung. Kau beruntung


merasa puas bisa memanas-manasi Queen, walau sepertinya dia sedikitpunh tidak


terpengaruh sama sekali. Sementara aku, aku bisa merasakan kasih sayangmu yang


banyak walau hanya pura-pura. Kelak suatu saat ini juga bukan lagi pura-pura,’


“Kita masuk sekarang, Sayang,” ajak Diaz sambil menggandeng


tangan tunangannya.


Tapi, lagi-lagi Diaz selalu kalah, karena saat ia hendak ke


teras belakang, di sana Al tengah duduk berjongkok sambil meletakkan telinganya


pada perut Queen yang duduk di kursi taman dan mengajak ngobrol bayi yang ada pada rahim wanita itu. Dan


Queen menatap lembutm ke arah suaminya sambil mengelus-elus rambutnya.


 Hanifah sengaja membiarkan


tunangannya meliat bagaimana masa lalunya sudah bahagia dengan yang lain dan tak


lagai mengharapkan dirinya.


“Sayang, apakah dia masih ngambeg sama aku karena menggodamu


terus?” tanya Al sambil mendongak ke atas memandang Queen.


“Hah? Kenapa kau berasumsi demikian, Al?”


“Dia bahkan diam tidak mau meresponku. Kata teman-temanku,


bayi setiap merasa senang dengan kedatangan papanya ia akan  bergerak. Tapi, anak kita diam saja.”


Queen memperhatikan Al dengan raut wajah yang terlihat


berseri. Jelas sekali kalau wanita itu tertawa tertahan. “Usia baby kita baru


satu bulan jalan, Sayang. Jelas saja tidak bergerak. Setidaknya tiga bulan

__ADS_1


setengah sampai empat bulan, dia akan membuat gerakan-gerakan halus dalam perutku.”


Al pun berdiri dan membungkukkan badannya kemudian mengangkat


tubuh Queen dan membawanya masuk ke dalam. Bahkan kedua lengan wanita itu juga


memeluk leher pria yang menggendongnya.


 “Kau lihat itu? Queen


bukan tipe orang yang suka sandiwara. Jadi, kau lebih baik menyerah saja.”


“Maafkan aku, Hanifah,’’ lirih Diaz.


Sejak saat itu, Diaz menjadi sedikit menjaga jarak dengan


Queen. Namun hubungannya dengan yang lain, terutama sang kakek, ia tetap baik-baik saja. Bahkan di rumah sakit pun juga ia tidak banyak mengobrol. Paling


hanya saling menyapa saja saat berpapasan. Sungguh, keduanya seperti dua orang


asing yang tidak saling kenal satu sama lain.


***


Sidang pertama perceraian Al da Nayla sudah di mulai. Nanti


jam sembilan pagi, keduanya harus sudah berada di pengadilan agama.


“Harusya, kalau sudah ada pengacara, kamu tidak perlu


datang, Al,” ucap Queen sambil memasangkan kancing kemeja suaminya.


“Kenapa? Kau cemburu jika aku bertemu dengan Nayla?”


“Aku percaya sama kamu. Kau tidak mungkin menaruh simpati


lagi padanyaa, apalagi jatuh cinta lagi.” Terakhir, Queen menyisir rambut Al dan merapikannya.


Al menatap istrinya yang  selalu saja menghindar saat ditatap matanya.


Kemudian, ia menggenggam erat tangan wanita itu dan meletakkannya di dadanya. Tepat


dengan  degupan jantungnya.


“Kau merasakan itu, bukan? Aku hanya mencintaimu, bahkan walau


sudah lama kita hidup bersama dalam cinta, jantungku masih berdebar-debar saat tengah


bersamamu.”


“Iya, semoga urusannya lancar, ya. Semua segera tuntas


seprti yang kita harapkan.” Queen mengalungkan kedua lengannya pada leher Al dan


mencium bibir pria itu.


“Al, kau sudah siap, Nak!”


Segera Queen menurunkan tangannya dan langsung menjaga jarak


saat mendengar suara kakeknya. Ia khawatir kalau tiba-tiba saja kakeknya


tiba-tiba membuka pintu beberapa waku lalu. Ketika Al tengah memasukkan kepalanya ke


dalam babydollnya. Mungkin sang kakek masih berfikir tak akan ada hal aneh-aneh yang akan keduanya lakukan. Karena cinta masih belum muncul di hati Queen untuk Al.


“Kau keluarlah dulu. Nanti, biar aku menyusulmu,” ucap Queen


sambil merapikan tempat tidur mereka.


Tanpa protes Al pun meninggalkan kamarnya dan pergi ke meja makan. Di sana, kedua orang tua angkat dan Kekeknya yang kini juga bisa disebut mertua sudah menunggunya.


Al mengambil posisi duduk di sebelah mamanya, dan kanannya, itu nanti akan jadi tempat Queen.


"Kamu sudah siap, Al?" tanya kakek Andrean pada cucunya.


"Tentu saja, Kek."


"Ya sudah, persiapkan semuanya. jangan sampai ada kendala agar sidang tidak ditunda."


Al hanya mengangguk saja, dan meraih segelas susu hangat yang sudah tersedia di atas meja, lalu meminumnya.


***


Entah suatu kebetulan atau apa, Sidang pertamanya di pengadilan agama hari ini, bersamaan dengan sekolah Bilqis libur. Jadi, mau tidak mau, Nayla harus mengajak serta putrinya ke sana.


"Maafkan mama ya, Sayang? Kamu jadi menyaksikan perceraian papa dan mama."


"Tidak apa-apa, Ma. Tenang saja," hibur Bilqis.


Dengan menaiki angkutan umum, Nayla dan Bilqis menuju ke pengadilan agama.  setibanya di sana, ternyata masih jam delapan lewat tigapuluh menit. artinya, masih ada waktu sekitar setengah jam. tidak lama menunggu, kira-kira sekitar sepuluh menit. Terparkir sebuah mobil Ferarri merah, dan dari dalam sana turun Al, kakek Andrean dan seorang pria berpakaian rapi dengan berkas-berkas di tangannya. Di lihat dari penampilannya, sepertinya dia seorang pengacara.


'Begitu inginkah kau segera berpisah dari ku, Mas? sampai-sampai, kau harus menyewa pengacara terbaik di kota ini untuk menuntaskan perceraian kita?' batin Nayla. Saat melihat pria itu berjalan dengan tegap dan tatapan lurus ke depan.


Nayla tersenyum seorang diri. melihat Al yang baginya nampak kian tampan saja membuat hatinya sakit dan perih, bahkan juga berdebar-debar. kenapa harus berpisah? Aku masih sangat mencintai dirinya, Tuhan?


"Mama, itu papa!" seru Bilqis dengan girang. Bahkan tanpa sadar, Gadis kecil itu lepas dari gandengan tangan mamanya dan berlari menghampiri Al.


"Papa!" serunya. Kemudian, ia langsung saja memeluk pinggang pria itu.


"Bilqis. Kau kenapa ikut ke mari?" tanya Al, heran.


"Iya, Pa. Karena sekolah Bilqis hari ini libur, di rumah sendiri Bilqis juga takut," jawab Bocah itu dengan mata berbinar. Seolah, ia tengah menumpahkan segala kerinduannya pada pria yang dipanggilnya papa.


"Pa, di mana Mama Queen? apakah dia tidak ikut?"


Al terlihat nampak canggung saat Bilqis menanyakan tentang Queen. Bahkan, gadis kecil itu memanggil nya dengan sebutan mama.


"Dia di rumah, Bilqis. Dia menemani nenek Clara."


"Oh, nenek sudah bangun, Pa. Bilqis kangen sama nenek." Di akhir kalimat, gadis kecil itu mengucapkan kata-katanya dengan sangat lirih dan pelan. Solah ia paham dan mengerti saja dengan semuanya.


Sedangkan Nayla. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri. Tidak berani menghampiri Bilqis. Wanita itu takut hilang kendali jika berada dengan jarak yang dekat dengan mantan suaminya itu.


"Kau boleh datang ke rumah itu untuk mengunjungi nenek jika kau rindu, oke!" seru Al sambil mengusap kepala bocah itu. Kemudian ia meminta agar Bilqis kembali pada mamanya.


Sidang antara Al dan Nayla pun di mulai. Semua berjalan lancar dan keputusan hakim pun sudah ditentukan. Keduanya sudah resmi bercerai karena bukti penggugat sangat kuat. Yaitu, pihak tergugat susah lama melakukan perselingkuhan. Terlebih Nayla mengakuinya dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Jika pun ia sampai melakukan pembelaan dengan berbagai alasan yang pernah ia lakukan, tetap saja ia akan kalah.


Bilqis menangis mendengar hal itu. Lalu menatap ke arah mantan papa tirinya dan protes kepada Nayla. "Jika mama memang masih mau sama papa, kenapa tidak ada usaha untuk mempertahankan?"


Nayla hanya mengelus putrinya dan berusaha menenangkan.


Lalu, kembali Bilqis berlari menghampiri Al dan berlari pada pria itu.


"Aku tahu, aku bukan anak kandungmu. Seharusnya dengan kau berpisah dengan mamaku kita sudah tak ada hubungan lagi. Apalagi, kau juga akan memiliki anakmu sendiri dengannya. Tapi, aku sudah terlanjur sayang padamu, dan menganggapmu sebagai papaku sendiri. Bisakah kau berjaji kita tidak akan pernah putus hubungan? Dan bolehkah jika aku tetap memanggil kalian papa Al dan mama Queen?"


Al merdam senyumannya menatap gadis kecil itu dak kemudian berjongkok. Ia memberi jawaban berupa anggukan sambil mengelus ujung kepala bocah itu dan segera pergi. Karena, masih ada banyak tugas di perusahaan yang tengah menantinya.


Begitupun Nayla, dia hanya izin kerja untuk beberapa jam saja. Saat urusannya sudah kelar, dia berjanji akan kembali bekerja lagi.


Sejak saat itu. Al dan Queen sudah menjalani kehidupannya yang bahagia. Bahkan, Diaz juga memutuskan untuk segera menikah dengan Hanifah dalam waktu satu bulan ini.


Kini, tak ada lagi permusuhan antara Al dan Diaz. Semua sudah berjalan normal dan baik-baik saja.


Lalu, Clara dan Vano. mereka berdua pindah ke vila dekat pantai yang dulu menjadi tempatnya berbulan madu saat pengantin baru, dan tempat itu pun juga pernah dikunjungi Al dan Queen beberapa saat lalu.


SEASON 2 TAMAT. NEX KE SEASON 3 YA.


MUNGKIN KARMA UNTUK JEVIN DAN NAYLA. KEBAGIAAN DIAZ DAN HANIFAH, ALEX DAN ZAHARA, VICO DAM SHINTA SERTA NOVITA. ENTAH, DENGAN CANDRA ATAU BUKAN. TUNGGU ANAKNYA LAHIR DULU.

__ADS_1


Buat para pembaca terimakasih sudah mau terus membaca dan memberi semangat untuk saya terus berkarya di sini.


__ADS_2