
Dari kejauhan, Diaz terus mengamti Queen yang hendak keluar
meninggalkan area rumah sakit. Bagitu memastikan keadaan sepi. Tidak ada Gea, maksutnya. Pria itu berjalan cepat, setengah berlari menghampiri wanita yang
masih mengenakan jas putih, khas seorang dokter itu.
“Queen! Tunggu dulu. Aku mau ngomong, sama kamu,” teriak
Diaz. Secara spontan memegang pergelangan tangan wanita itu.
Setika Queen langsung terkehenyak. Ia terkejut karena tangannya di sentuh oleh pria lain yang bukan suaminya. Rupanya apa yang Al lakukan
di masa silam saat membawanya dari acara pertunagannya itu menyisakan rasa trauma pada pria asing. Sekalipun sekarang ia sudah bisa menerima Al sebagai
suaminya.
“Diaz, apa yang kamu lakukan?” ucap Queen sampai matanya
terbelalak karena terkejut.
“Kenapa? Apakah kau terlalu takut dengan Al yang saiko itu?
Sampai-sampai kupegang tanganmu saja kau sampai terbelalak begitu?” jawab Diaz dengan kesal.
Queen hanya memalingkan wajahnya, menunduk dan memegangi
bekas pegangan Diaz di tangan sebelahnya tadi.
“Jawab aku dengan jujur, Queen. Apakah kau tidak bahagia
dengan Al? Kamu masih sayang, kan sama aku?” tanya Diaz penuh harap.
Queen menatap wajah pria itu. Ia bingung harus memberi
jawaban apa. Jika jujur pasti akan membuatnya sakit. Tapi, jika dia diam tak menjawab, pria itu akan terus berharap kepadanya.
“Diaz. Kita sekarang sudah memiliki hidup kita sendiri. Kau
carilah kebahagiaanmu. Belajarlah untuk menerima Hanifah,” lirih Queen sambil menatap mata pria itu.
“Kenapa? Apakah kau sudah mencintai ******** itu? Hah?” ucap
Diaz sambil menyeringai
Bahkan saat ini, Queen tidak bisa menerima saat Al dikatakan
seorang ******** oleh mantannya. Ia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya
sendiri. Satu tamparan melayang pada pipi Diaz.
“Kau jangan berani-beraninya menghina suamiku, Diaz.
Bagaimana pun, dialah ayah dari anak yang kukandung. Aku mencintainya,” ucap Queen lalu segera berlari.
Diaz terpaku tak mampu menatap punggung Queen setelah
menerima tamparan dan jawaban yang sangat menusuk palung hatinya.
“Kau hamil, Queen? Kau sudah menerima ******** itu? Apa yang
ia perbuat padamu sampai-sampai kau bisa sangat mencintainya?” gumam Diaz
seorang diri sambil memegang pipi bekas tamparan tadi.
Merasa tidak terima kalau ia sudah dilupakan, Diaz pun
mengeluarkan gawainya dan melakukan sesuatu. Kemudian ia tersenyum seorang
diri dan bergumam, “Coba biar kulihat seperti apa perasaanmu kepadaku nanti, Sayang.”
Queen terus berjalan menuju keluar area bangunan rumah sakit
tempat dirinya bekerja. Ia sempat menghentikan langkahnya dan menoleh ke
belakang. Karena ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Tapi, tidak ada apa-apa di belang.
Merasa tidak nyaman dan keamannya terancam, ia segera
menghubungi suaminya.
“Halo, Al. Apakah kau sibuk?” tanya wanita itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Lorong rumah sakit.
“Tidak begitu sibuk. Ada apa? Apakah kau minta aku
menjemputmu sekarang?” Pria itu bersandar pada kursi putar dan meluruskan kakinya
diletakkan di atas meja, dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Iya. Kamu perhatian sekali, sampai-sampai tahu kalau ini jam
pulang ku,” jawab Queen sambil terus berjalan.
“Oke. Tunggu akau sayang. Aku akan berangkat sekarang.” Al
langsung mematikan ponselnya dan beranjak meninggalkan ruangan. Ini sudah jam
dua, untuk kembali ke kantor sepertinya nanggung. Pikir Al.
“Lisa. Nanti kalau ada yang mencariku, tolong kamu bilang
kalau aku sudah meninggalkan kantor, ada urusan di luar,” pesan Al kepada sekertarisnya.
“Baik, Pak.” Jawab wanita itu.
Merasa sudah lepas dari tanggungan. Dengan semangat Al
berlari menuju ke tempat parkiran dan menuju ke rumah sakit din mana istrinya bekerja.
Queen menunggu Al sambil berdiri di dekat pos jaga. Ia tidak
berani jauh-jauh dari situ. Pengalaman bagaimana ia di culik Aditya beberapa
waktu lalu, masih membuatnya merasa takut dan selalu berantisipasi saja terus.
Belum juga Al tiba sebuah mobil berwarna merah berhenti di
depan pintu masuk rumah sakit. Queen kenal mobil itu. Ya, itu adalah mobil milik saudarinya, Hanifah.
Hanifah memajukan kendaraannya dan memarkirkannya. Agar
mobilnya tidak mengganggu kendaraan lain yang hendak masuk ke dalam rumah sakit
tersebut.
Teernyata benar, selang beberapa menit, Muncul dari sebelah
kiri pintu masuk rumah sakit seorang wanita mengenakan rok Panjang berwarna sustard dan blus panjang berwarna hitam berjalan dan melempar senyum padanya.
Tidak hanya pada Diaz. Sejak kejadian itu Queen memang belum
pernah bertegur sapa dengan dua pasangan itu. Jika pada Diaz ia dulu merasa bersalah dan tak pantas bersama. Namun, pada Hanifah, ia merasa jengkel. Queen berfikir untuk membalas
senyuman saudarinya itu dan menyapanya untuk yang pertama kali setelah itu. Toh, dia sekarang juga sudah tidak ada perasaan dengan Diaz. Yang ia mau
sekarang bukanlah Diaz, melainkan Al. Iya, Al seorang.
‘’Queen. Apakah kau juga akan pulang? Kebetulan sekali aku juga
akan menjemput Diaz. Bagaimana kalau kita barengan saja pulangnya? Kami akan
__ADS_1
menemui kakek Andrean juga,” sapa gadis itu dengan ramah.
Sebenarnya Hanifah merasa canggung. Dan rasa bersalah juga
ada, meskipun ia sudah tahu kalau saudarinya telah hamil. Tapi, jika ia tidak mulai menyapanya duluan, mau siapa mulai? Dia sudah dari dulu kenal dengan Queen. Jika ia tidak merasa bersalah tidak akan pernah mau menyapa duluan, apalagi
meminta maaf.
“Al sudah akan menjemputku kemari. Mungkin juga sebentar
lagi datang,” jawab Queen dengan tenang.
“Sayang, apakah kau sudah lama menunggu!”
Bersamaan Queen dan hanifah menoleh pada pria yang mengenakan
kemeja lengan pendek berwarna biru itu. Dengan hangat pria itu memberi pelukan ringan pada Hanifah dan mengecup keningnya dengan kilat saat Queen melihat ke arah keduanya.
Queen memalingkan wajah dan tersenyum. Entah kenapa. Tiba-tiba
dalam hatinya terasa nyesek saja. ‘Sialan, di mana Al? Kenapa belum datang, juga?’ umpatnya dalam hati.
“Queen, kita mau menemui kakek Andrean. Apakah kau mau
bareng kita sekalian?” ucap Diaz.
“Terimakasih. Sebentar lagi suamiku juga tiba. Itu, dia!”
serunya sambil menunjuk ke arah Al yang berjalan ke arah mereka bertiga.
“Hanifah, Diaz. Terimasih sudah menemani ibu dari
anak-anakku,” ucap Al dan menyeringai ke arah Diaz. Jelas sekali, kata-kata itu untuk melukai pria yang dulu ada dalam hidup istrinya.
Diaz hanya tertawa canggung. Sementara tangannya masih merangkul
pinggang Hanifah. Al yang memang jeli, ia mengerti kalau Queen masih ada rasa sakit
dan tidak terima melihat perlakuan Diaz di depan matanya seperti itu.
Al berdiri tepat di depan Queen dan mengelus perut wanita
itu dan berkata, “Halo, Sayang. Papa menjemputmu. Apakah kau tadi rewel saat bekerja bersama mama? Jangan kacaukan pekerjaan mamamu, ya Sayang.”
Queen tersenyum dan menyentuh lengan suaminya. “Ya sudah,
kita pulang sekarang. Pinggangku tarasa sakit. Aku butuh rebahan,” ucapnya.
“Kudengar kakek mengundang kalian makan malam di rumah, ayo sekalian," ucap Al pada Diaz dan Hanifah sambil menggandengantangan Queen dan berjalan menuju ke mobilnya.
Sedangkan Diaz memandang mereka berdua dengan tatapan tidak
terima. Bagaimana pun, adegan yang dilihatnya barusan juga bukanlah sebuah
sandiwara. Queen benar-benar telah menerima Al sebagai suaminya.
“Di, Kita ke tempat kakek, apa pulang saja? Aku akan masakin
sesuatu untuk makan malam kita nanti,” ucap Hanifah saat menyadari hati tunangannya terasa panas melihat kekompakan saudari dan suaminya.
“Kita ke tempat kakek saja. Beliau sudah mengundang kita untuk
makan malam.”
Selama perjalanan, Diaz sama seklai tidak mengajak bicara
Hanifah. Bahkan Hanifah sendiri juga merasa canggung untuk memulai lebih dulu.
Baru saja dia merasa bahagia karena tunangannya sudah bisa menerimanya, dan
Queen juga sudah bisa menerima Kak Al. Tapi, kenapa, hati Diaz masih saja terpengaruh
rumah sakit ini yang sama dengan mantan kekasihnya? Apakah benar, cinta pertama
itu susah untuk dilupakan?
Seketika air mata Hanifah mengalir saat ia sadar kalau perlakuan
Diaz tadi hanyalah untuk memanas-manasi Queen. Mungkin bisa saja tadi dia
berusaha merayu saudarinya namun diabaikan. Dengan cepat wanita itu menghapus
air matanya dan melirik ke arah Diaz yang tengah serius mengemudi. Jelas, ia tidak
akan menyadari kalau ia tengah menagis untuknya. “Bahkan kau telah memanfaatkan
ku, Di… Tega sekali kau Di,’ batin Hanifah sambil menatap Diaz dari samping.
Begitu tiba di kediaman keluarga kakek Andrean, Diaz menatap
ke arah Hanifah dan kembali meperlakukannya dengan baik. Seolah ia lupa kalau
selama di perjalanan dia mengabaikannya terus. Tapi, Hanifah yang sudah terlanjur
mencintai pria itu juga tak peduli sekalipun hanya dijadikan pelampiasan dan
dimanfaatkan saja oleh tunagannya sendiri.
‘Baiklah. Anggap saja kita sama-sama untung. Kau beruntung
merasa puas bisa memanas-manasi Queen, walau sepertinya dia sedikitpunh tidak
terpengaruh sama sekali. Sementara aku, aku bisa merasakan kasih sayangmu yang
banyak walau hanya pura-pura. Kelak suatu saat ini juga bukan lagi pura-pura,’
“Kita masuk sekarang, Sayang,” ajak Diaz sambil menggandeng
tangan tunangannya.
Tapi, lagi-lagi Diaz selalu kalah, karena saat ia hendak ke
teras belakang, di sana Al tengah duduk berjongkok sambil meletakkan telinganya
pada perut Queen yang duduk di kursi taman dan mengajak ngobrol bayi yang ada pada rahim wanita itu. Dan
Queen menatap lembutm ke arah suaminya sambil mengelus-elus rambutnya.
Hanifah sengaja membiarkan
tunangannya meliat bagaimana masa lalunya sudah bahagia dengan yang lain dan tak
lagai mengharapkan dirinya.
“Sayang, apakah dia masih ngambeg sama aku karena menggodamu
terus?” tanya Al sambil mendongak ke atas memandang Queen.
“Hah? Kenapa kau berasumsi demikian, Al?”
“Dia bahkan diam tidak mau meresponku. Kata teman-temanku,
bayi setiap merasa senang dengan kedatangan papanya ia akan bergerak. Tapi, anak kita diam saja.”
Queen memperhatikan Al dengan raut wajah yang terlihat
berseri. Jelas sekali kalau wanita itu tertawa tertahan. “Usia baby kita baru
satu bulan jalan, Sayang. Jelas saja tidak bergerak. Setidaknya tiga bulan
__ADS_1
setengah sampai empat bulan, dia akan membuat gerakan-gerakan halus dalam perutku.”
Al pun berdiri dan membungkukkan badannya kemudian mengangkat
tubuh Queen dan membawanya masuk ke dalam. Bahkan kedua lengan wanita itu juga
memeluk leher pria yang menggendongnya.
“Kau lihat itu? Queen
bukan tipe orang yang suka sandiwara. Jadi, kau lebih baik menyerah saja.”
“Maafkan aku, Hanifah,’’ lirih Diaz.
Sejak saat itu, Diaz menjadi sedikit menjaga jarak dengan
Queen. Namun hubungannya dengan yang lain, terutama sang kakek, ia tetap baik-baik saja. Bahkan di rumah sakit pun juga ia tidak banyak mengobrol. Paling
hanya saling menyapa saja saat berpapasan. Sungguh, keduanya seperti dua orang
asing yang tidak saling kenal satu sama lain.
***
Sidang pertama perceraian Al da Nayla sudah di mulai. Nanti
jam sembilan pagi, keduanya harus sudah berada di pengadilan agama.
“Harusya, kalau sudah ada pengacara, kamu tidak perlu
datang, Al,” ucap Queen sambil memasangkan kancing kemeja suaminya.
“Kenapa? Kau cemburu jika aku bertemu dengan Nayla?”
“Aku percaya sama kamu. Kau tidak mungkin menaruh simpati
lagi padanyaa, apalagi jatuh cinta lagi.” Terakhir, Queen menyisir rambut Al dan merapikannya.
Al menatap istrinya yang selalu saja menghindar saat ditatap matanya.
Kemudian, ia menggenggam erat tangan wanita itu dan meletakkannya di dadanya. Tepat
dengan degupan jantungnya.
“Kau merasakan itu, bukan? Aku hanya mencintaimu, bahkan walau
sudah lama kita hidup bersama dalam cinta, jantungku masih berdebar-debar saat tengah
bersamamu.”
“Iya, semoga urusannya lancar, ya. Semua segera tuntas
seprti yang kita harapkan.” Queen mengalungkan kedua lengannya pada leher Al dan
mencium bibir pria itu.
“Al, kau sudah siap, Nak!”
Segera Queen menurunkan tangannya dan langsung menjaga jarak
saat mendengar suara kakeknya. Ia khawatir kalau tiba-tiba saja kakeknya
tiba-tiba membuka pintu beberapa waku lalu. Ketika Al tengah memasukkan kepalanya ke
dalam babydollnya. Mungkin sang kakek masih berfikir tak akan ada hal aneh-aneh yang akan keduanya lakukan. Karena cinta masih belum muncul di hati Queen untuk Al.
“Kau keluarlah dulu. Nanti, biar aku menyusulmu,” ucap Queen
sambil merapikan tempat tidur mereka.
Tanpa protes Al pun meninggalkan kamarnya dan pergi ke meja makan. Di sana, kedua orang tua angkat dan Kekeknya yang kini juga bisa disebut mertua sudah menunggunya.
Al mengambil posisi duduk di sebelah mamanya, dan kanannya, itu nanti akan jadi tempat Queen.
"Kamu sudah siap, Al?" tanya kakek Andrean pada cucunya.
"Tentu saja, Kek."
"Ya sudah, persiapkan semuanya. jangan sampai ada kendala agar sidang tidak ditunda."
Al hanya mengangguk saja, dan meraih segelas susu hangat yang sudah tersedia di atas meja, lalu meminumnya.
***
Entah suatu kebetulan atau apa, Sidang pertamanya di pengadilan agama hari ini, bersamaan dengan sekolah Bilqis libur. Jadi, mau tidak mau, Nayla harus mengajak serta putrinya ke sana.
"Maafkan mama ya, Sayang? Kamu jadi menyaksikan perceraian papa dan mama."
"Tidak apa-apa, Ma. Tenang saja," hibur Bilqis.
Dengan menaiki angkutan umum, Nayla dan Bilqis menuju ke pengadilan agama. setibanya di sana, ternyata masih jam delapan lewat tigapuluh menit. artinya, masih ada waktu sekitar setengah jam. tidak lama menunggu, kira-kira sekitar sepuluh menit. Terparkir sebuah mobil Ferarri merah, dan dari dalam sana turun Al, kakek Andrean dan seorang pria berpakaian rapi dengan berkas-berkas di tangannya. Di lihat dari penampilannya, sepertinya dia seorang pengacara.
'Begitu inginkah kau segera berpisah dari ku, Mas? sampai-sampai, kau harus menyewa pengacara terbaik di kota ini untuk menuntaskan perceraian kita?' batin Nayla. Saat melihat pria itu berjalan dengan tegap dan tatapan lurus ke depan.
Nayla tersenyum seorang diri. melihat Al yang baginya nampak kian tampan saja membuat hatinya sakit dan perih, bahkan juga berdebar-debar. kenapa harus berpisah? Aku masih sangat mencintai dirinya, Tuhan?
"Mama, itu papa!" seru Bilqis dengan girang. Bahkan tanpa sadar, Gadis kecil itu lepas dari gandengan tangan mamanya dan berlari menghampiri Al.
"Papa!" serunya. Kemudian, ia langsung saja memeluk pinggang pria itu.
"Bilqis. Kau kenapa ikut ke mari?" tanya Al, heran.
"Iya, Pa. Karena sekolah Bilqis hari ini libur, di rumah sendiri Bilqis juga takut," jawab Bocah itu dengan mata berbinar. Seolah, ia tengah menumpahkan segala kerinduannya pada pria yang dipanggilnya papa.
"Pa, di mana Mama Queen? apakah dia tidak ikut?"
Al terlihat nampak canggung saat Bilqis menanyakan tentang Queen. Bahkan, gadis kecil itu memanggil nya dengan sebutan mama.
"Dia di rumah, Bilqis. Dia menemani nenek Clara."
"Oh, nenek sudah bangun, Pa. Bilqis kangen sama nenek." Di akhir kalimat, gadis kecil itu mengucapkan kata-katanya dengan sangat lirih dan pelan. Solah ia paham dan mengerti saja dengan semuanya.
Sedangkan Nayla. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri. Tidak berani menghampiri Bilqis. Wanita itu takut hilang kendali jika berada dengan jarak yang dekat dengan mantan suaminya itu.
"Kau boleh datang ke rumah itu untuk mengunjungi nenek jika kau rindu, oke!" seru Al sambil mengusap kepala bocah itu. Kemudian ia meminta agar Bilqis kembali pada mamanya.
Sidang antara Al dan Nayla pun di mulai. Semua berjalan lancar dan keputusan hakim pun sudah ditentukan. Keduanya sudah resmi bercerai karena bukti penggugat sangat kuat. Yaitu, pihak tergugat susah lama melakukan perselingkuhan. Terlebih Nayla mengakuinya dan tidak melakukan pembelaan sedikitpun. Jika pun ia sampai melakukan pembelaan dengan berbagai alasan yang pernah ia lakukan, tetap saja ia akan kalah.
Bilqis menangis mendengar hal itu. Lalu menatap ke arah mantan papa tirinya dan protes kepada Nayla. "Jika mama memang masih mau sama papa, kenapa tidak ada usaha untuk mempertahankan?"
Nayla hanya mengelus putrinya dan berusaha menenangkan.
Lalu, kembali Bilqis berlari menghampiri Al dan berlari pada pria itu.
"Aku tahu, aku bukan anak kandungmu. Seharusnya dengan kau berpisah dengan mamaku kita sudah tak ada hubungan lagi. Apalagi, kau juga akan memiliki anakmu sendiri dengannya. Tapi, aku sudah terlanjur sayang padamu, dan menganggapmu sebagai papaku sendiri. Bisakah kau berjaji kita tidak akan pernah putus hubungan? Dan bolehkah jika aku tetap memanggil kalian papa Al dan mama Queen?"
Al merdam senyumannya menatap gadis kecil itu dak kemudian berjongkok. Ia memberi jawaban berupa anggukan sambil mengelus ujung kepala bocah itu dan segera pergi. Karena, masih ada banyak tugas di perusahaan yang tengah menantinya.
Begitupun Nayla, dia hanya izin kerja untuk beberapa jam saja. Saat urusannya sudah kelar, dia berjanji akan kembali bekerja lagi.
Sejak saat itu. Al dan Queen sudah menjalani kehidupannya yang bahagia. Bahkan, Diaz juga memutuskan untuk segera menikah dengan Hanifah dalam waktu satu bulan ini.
Kini, tak ada lagi permusuhan antara Al dan Diaz. Semua sudah berjalan normal dan baik-baik saja.
Lalu, Clara dan Vano. mereka berdua pindah ke vila dekat pantai yang dulu menjadi tempatnya berbulan madu saat pengantin baru, dan tempat itu pun juga pernah dikunjungi Al dan Queen beberapa saat lalu.
SEASON 2 TAMAT. NEX KE SEASON 3 YA.
MUNGKIN KARMA UNTUK JEVIN DAN NAYLA. KEBAGIAAN DIAZ DAN HANIFAH, ALEX DAN ZAHARA, VICO DAM SHINTA SERTA NOVITA. ENTAH, DENGAN CANDRA ATAU BUKAN. TUNGGU ANAKNYA LAHIR DULU.
__ADS_1
Buat para pembaca terimakasih sudah mau terus membaca dan memberi semangat untuk saya terus berkarya di sini.