Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 85


__ADS_3

"Kamu pucat banget, Quen? Istirahat aja dulu, gih! Aku bantu bawa barang-barang kamu, yuk!" tawar Nayla setelah memperhatikan wajah Quen.


Belum juga mereka beranjak, Alex turun dan bersamaan dengan itu Al dan Vano juga sudah tiba.


"Papa," teriak Quen berlari memeluk pria itu dan mencium kedua pipinya. Lalu, melakukan hal serupa kepada Al.


Nayla memalingkan pandangannya ketika melihat Quen menghampiri Al, suaminya. Nampak Al memberi respon pelukannya dan mengecup kedua pipi adiknya.


'Jangan emosi, Nay. Kuasa dirimu, ingat! Dia adik satu-satunya suamimu,' bujuk Nayla dalam hati, memcoba tegar tapi.


"Tidak nakal, kan kamu di rumah mertuanya kemarin?" Al mencubit hidung mancung Quen sambil sedikit menariknya ke depan.


"Aaawww, sakit, tau!" teriak Quen sambil memukul lengan Al.


Sementara pria itu hanya terkekeh, menghindar dan menghampiri Alex.


"Bahkan kau buat hidungku sampai merah begini."


Nayla menghampiri Al mengambil tasnya dari tangan pria itu dan membawanya anik ke atas, ke kamar mereka.


"Sudah lama ya, Quen tadi tiba?"


"Belum, Mas. Tadi kami sempat ngobrol juga di bawah. Aku lihat sepertinya kelelahan. Baru mau ke kamarnya kau dan papa datang."


Al tersenyum menghampiri Nayla dan memeluknua dari samping wanita itu dan mencium pipinya beberapa kali, "Tidakkah kau merasa kalau dia itu menyenangkan?"


"Ya, tapi, rasanya masih sulit untukku menerima kalau dia dekat denganmu seperti tadi," ucap Nayla sambil membuang muka ke samping.


"Kenapa, sih, Nay?" tanya Al heran.


"Apa yang kau rasakan jika aku dekat dan berpelukan dengan mantan suamiku, Mas?"


Al tersenyum miring, merasa Nayla terlalu berlebihan memandingkan antara Quen dan mantan suaminya. "Jelas beda dong, Sayang. Dia itu adikku."


Nayla mendesah kesal, ia masih belum siap mengatakan apa yang ada di benaknya. Bagaimana pun dia sangat mencintai Al. Tak ingin kehilangan pria itu selamanya.


"Maafkan aku yang terlalu posesif, Mas. Kau bantu aku, ya?"


Al mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung Nayla. Tiba-tiba dia berfikir kalau sebaiknya membawa istrinya untuk konsultasi ke spikolog. Kebetulan tante Lusi juga seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit Medica sehat yang terkenal dengan fasilitas perawatan dan poli yang lengkap.


"Sayang, tidakkah kau ingin berkonsultasi dengan seorang psikolog?" ucap Al.


"Kau pikir aku gila, Mas? Mungkin kau lelah, mandilah dulu sana," ucap Nayla dan berjalan ke arah lemari pakaian, mengambilkan baju ganti utuk Al, suaminya.


Al mendesah kesal, Nayla tidak menagkap maksutnya. Tapi, dari pada ribut dan di marahi mama Clara lagi, pria itu pun menuruti perintah istrinya dan pergi ke kamar mandi.


Sementara Quen, berada di ruang keluarga bersama papa Vano. Mereka ngobrol sambil matanya sesekali mengarah ke dapur melihat mamanya dan Lyli yang sibuk menyiapkan makan siang.


"Jadi kapan kau akan kembali kampus, sayang?"

__ADS_1


"Masih minggu depan, Pa. Kenapa? Papa mau kasih aku sesuatu?"


Vano tertawa, lalu meletakan koran harian yang di bacanya di atas meja. "Memang kau minta apa?"


"Ya, minta kejutan dari papa, apa pun itu. Tapi, jangan minta cucu dulu sebagai imbalannya."


"Hahaha," Vano pun tertawa lebar mendengar ucapan putrinya, meski kian dewasa, selera humornya tetap saja tidak hilang.


"Memang kau belum memiliki keinginan punya anak? Mumpung papa dan mama masih muda, kan bisa janga dia saat kau kuliah atau kerja nanti, Sayang."


"Papa, kok aku, sih? Tuh, kak Al udah berapa tahun nikah kak Nayla gak hamil-hamil, kenapa? Tanyakan, donk!" ucap Quen saat melihat kakak dan istrinya turun.


Al mendengar itu hanya memasang wajah cuek seolah tidak mendengarkan apapun. Sementara Nayla wajahnya memerah karena malu.


"Kau tanyakan saja pada mereka, kenapa?" bisik Vano perlahan di telinga Quen.


"Baik, nanti aku tanyakan pada kak Al." Quen mengacungkan jempolnya lalu berlari ke dapur menyusul Nayla.


     🍁 🍁 🍁


Usai makan malam, Alex mengutarakan keinginannya saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Quen, rumahku di jalan Merdeka kan luas dan selama ini cuma ditunggu oleh pembantu dan tukang kebun saja. Bagai mana kalai kita pulang ke sana?"


Quen nampak diam sesaat dan memikirkan sesuatu.


"Ya, tidak masalah. Memang seharusnya istri ikut kemanapun suaminya pergi dan tinggal bukan?"


"Terimakasih, sayang."


"Jadi, kapan kita akan pindah?"


"Bagaimana kalau besok? Pulang interview?"


"Boleh."


"Ya sudah, kita istirahat dulu saja, Yuk!" Seru Alex.


    🍁 🍁 🍁 🍁 🍁


Hari ini Vico bermain ke rumah Al. Selain ada hal yang perlu di bahas tentang urusannya di Jepang. Dia juga ingin mengajak Lyli berkencan


Setelah satu jam lebih ngobrol dengan Al di ruang baca, mereka berdua keluar. Vico mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Adek kamu, Quen di mana, Al?"


Al menatap Vico dengan tatapan aneh sambil tertawa tertahan. "Ngapain nyari adikku? Kau mau cari Lyli? Coba kau telfon saja dia, jam segini biasanya juga di kamar. Istirahat. Kalau Quen dia sudah pindah di rumah suaminya sejak tiga hari silam."


"Kenapa pindah? Bukannya di sini enak, ya? Rame?"

__ADS_1


"Alex sekarang menjadi dosen di kampus dia belajar dulu, dan lagi Quen juga masih masa pendidikan profesi, kan? Di sana lebih dekat," ucap Al menjelaskan.


Vico pun mengangguk tanda ia paham. Dan engan berkomentar.


Keesokan harinya, Vico mengajak Lyli berkencan. Saat keduanya menikmati makaj siang di pinggir pantai, Vico mulai menunjukan keseriusannya pada gadis itu.


"Ly, kapan kamu akan membawaku ke rumah kedua orang tuamu? tidakkah kau merasa kalau hubungan kita sudah lama? aku ingin kita segera menikah." Dengan serius dan sungguh-sungguh Vico mengatakan hal itu.


Namun, Lyli enggan memberikan jawaban dia hanya diam seribu bahasa. sampai Vico kembali mengatakan kalimat berbeda tapi memiliki tujuan yang sama.


"Ly, bukankah usiamu sekarang sudah duapuluh tujuh tahun? bukan? bukankah gadis seusia itu harusnya sudah menikah bahkan punya anak? Aku janji akan mencukupi segala kebutuhanmu, dan tak lagi mengizinkan kamu bekerja keras lagi."


"Vico, Ini hidupku, kau tidak berhak mengaturku. Jika memang kau ingin menikah segera, ya menikahlah dengan wanita yang mau kau ajak menikah dalam waktu dekat ini. Aku gak siap. Dan aku lama-lama bosan sama kamu karena setiap kali kita ketemu selalu saja ini yang kau bahas!" Seru gadis itu sambil menenteng tasnya dan bersiap untuk pergi.


"Lyli! Kau sebenarnya mendekatiku tulus apa modus? Apa kau menjalin hubungaj denganku hanya untuk menggali informas8 tentang Al saja? Sadarlah yang kau lakukan ini salah, dia sudah berumah tangga dan bahagia dengan istrinya saat ini. kau move on saja dari dia!" Seru Vico kesal.


Lyli menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang lalu berputar menghampiri Vico.


"Kau sudah sadar rupanya? Iya, aku masih belum siap putus dengan mas Al, Vic. Akubmasih mencintainya. sama-sama bukan dari keluarga terhormat, kenapa dia mesti memilih Nayla dari pada aku? aku masih punya orang tua dan tempat, aku juga masih perawan. kenapa mas Al harus memilih gelandangan dan janda satu anak itu?"


Tanpa sadar tangan Vico melayang menampar pipi Lyli. Lyli pun juga nampak terkejut mendapati ekspresi serta kemarahan pria sabar dan humoris yang ada di depannya ini.


"Kau menamparku, Vico?" ucapnya sambil memegangi pipinya.


"Kau tidakkah berfikir bagaimana jika Al mendengar hinaan terhadap istrinya, hah? apa kau kira dia akan diam dan sadar betapa rendahnya pilihannya? Dia akan sedih dan marah jika istrinya di hina apalagi gadia pembantu seperimu, Lyli."


"Kenapa? lagi pupa aku tidak mengatakan hal ini di depannya, bukan? kalau dia tahu, ya dari kamu. Jelas itu." Lyli tetap ngotot meski sebenarnya hatinya sudah gentar mendapat8 kemarahan Vico.


"Ya, sudah, kita putus saja, jangan lagi datang untuk mencariku."


"Ya, aku tidak akan pernah mencarimu lagi, aku benci gadis sepertimu!" Teriak Vico seperti orang gila.


Beberapa hari setelah Lyli putus, baru ia merasa ada yang aneh dalam hidupnyam semacam ada yang hilang dan kurang tapi, entah apa.


mungkin dia menyesal. walau Vico tidak sehebat Al. Tetap saja dia tergolong pria hebat dan mapan. karena rumah, mobil harta jabatan sudah dimilikinya di usianya yang terbilang muda. Lain dengan Al, dia kaya karna faktor keturunan dari keluarga angkatnya.


'Ya tuhan Lyli. kau bodoh sekali? kenapa begitu gegabah dan tidak mikir panjang? bukankah dari awal mas Al mendekatimu karena permintaan dari Quen? Sedagkan dengan Nayla benar-benar itu cinta yang tumbuh dari hatinya. aku harus bisa mengajak Vico balikan," tekatnya dalam hati


Diiiinnnggg!


Lyli tersadarkan dari lamunannya ketika mendengar suara bell. kawatari yang datang tuan Andreas, buru-buru dia berlari meninggalkan dapur untuk membuka pintu.


Tapi, rupanya dugaannya salah. Bukan Andrean melainkan Vico.


gadis itu tersenyum canggung melihat pria itu.


Dengan muka datar Vico bertanya, "Tuan Al-nya ada, Mbak?"


Lyli sedikit kaget dengan nada suara serta sikap yang ditujukan Vico. Hatinya tiba-tiba saja merasa sakit dan sedih. Bagaimana pun dia masih belum terbiasa dengan sikap Vico yang seperti ini. dia benar-benar menganggapnya sebagai orang lain sekarang.

__ADS_1


__ADS_2