
Quen berjalan di tepi pantai, sesekali kakinya tersapu ombak pasang. Semilir angin meniup anak rambut yang tak ikut terikat melambai lambai.
Aditya mengamati wanitanya berhenti, lalu duduk bersama air yang terus pasang dan surut.
"Kau bilang menyukai pantai, kenapa hanya diam di sini?" Aditya berjongkok melihat pada diri Quen yang tertunduk.
"Ya, aku menyukainya."
"Kenapa kau tidak menikmatinya?"
"Pyuuk!" Quen dengan isengnya menyiratkan air pada muka Aditya, lalu buru-buru ia berdiri dan berlari kencang sambil tertawa.
"Hay, kau dasar ya. Mengerjaiku rupanya, awas aku akan membalasmu!" Seru Aditya berlari mengejar Quen.
Quen terus berlari sambil tertawa. Namun, karena larinya Aditya lebih cepat, dengan mudah dia tertangkap. Dari belakang Aditya memelul dan mengangat tubuh rampingnya sambil berputar-putar.
"Dit, turunkan aku, Plis...!" Seru Quen sambil berusaha melepaskan kedua lengan pria itu yang melingkar erat di pinggangnya.
"Kau jail sekali, ya ternyata?" Atas permintaan Quen pria itu menurunkannya. Tapi, tidak melepas pelulannya, ia mendekatkan wajahnya di telinga Quen dan menggigitnya halus.
Quen berteriak badannya bergeliat karena geli, "Hay, Dit. Apa yang kau lakukan? Ini tempat umum!"
"Oh, ya? Tidakkah kau lihat? Semua orang melakukan hal yang sama seperti kita bahkan lebih, lihat itu!" Aditya mnunjuk di dekat batuan karang sepasang kekasih yang duduk berdua posisi si gadis dipangku oleh prinya.
Awalnya Quen merasa risih, tap, begitu melihat seseorang membawa kamera, ia tahu, itu proses pembuatan prawedding.
"Dasar kau aja mesum. Mereka pasangan yang akan menikah," ucap Quem sambil mencubit lengan Aditya.
Keduanya pun berjalan menikmati pantai sambil bergandengan tangan. Sesekali bermain air dan saling memercikan ke muka satu sama lain.
"Quen, apakah kau yakin mencintaiku?" tanya Aditya dengan mimik yang sangat serius.
"Tentu saja, kau mencintaiku maka aku akan lebih mencintaimu," jawan Quen spontan.
__ADS_1
"Jika suatu saat aku mencampakanmu?"
"Saat itu pula saatnya aku berhenti mencintaimu. Melupakanmu dan membuka hati untuk yang baru, kenapa kau menanyakan itu? Apakah kau ini tidak serius?" tanya Quen mulai emosi.
"Tidak, kau tahu kan, selisih usia kita cukup jauh, bahkan ketika aku melihat papamu saja, sepertinya masih seumuran,"
"O, papaku memang maco. Dia keren dan tetap ganteng selamanya dia pria paling ganteng nomor satu di dunia." jawab Quen.
"Lalu, aku yang nomor dua?"
"Tentu sana bukan, kau yang nomor tiga."
Aditya sedikit kecewa mendengar jawaban itu, ia berfikir yang kedua yang ka maksut adalah Alex, berunting segera Quen menjawab ya g kedua itu kakaknya.
Aditya menepuk jidatnya dan membatin bagaimana bisa aku melupakannya, padahal di jalan tadi kami membahasnya.
waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Sedangkan Aditya hari ini ada jadwal mengajar mulai jam tiga spre sampai jam tujuh malam, mereka pun memutuskan pulang. Sementara Quen tinggal di rumah orang tua Aditya menemani Axel dan mamanya di rumah.
Karena tadi sudah izin akan mengantarkan Quen malam sebelum pukul sembilan, dan Clara mengizinkan.
Quen hampir saja tertidur. Namun tergeragan mendengar Aditya membuka pintu kamarnya.
"Ku kira kau tidur, sayang." Aditya sudah berpakaian rapi bersiap untuk berangkat.
"Ya, aku memang sempat tertidur barusan. Kau mau berangkat ke kampus sekarang, Dit?" tanya Quen. Quen pun duduk bersila di atas ranjang.
"Iya, aku kesini memang mau pamit sama kamu," ucap Aditya sambil duduk di tepo ranjang.
"Ya sudah, hati-hati, ya."
"Kamu tidak memberiku bekal?" Goda aditya sambil tersenyum nakal.
Awalnya Quen tidak paham. Tapi melihat gelagat Aditya seperti itu, ia mengerti. Diraihnya belakang kepala pria di depannya, ia mendekatkan wajahnya lalu bibir mereka saling bertemu. Keduanya saling melumat.
__ADS_1
Aditya mendonrong tubuh Quen hingga kebelakang berdandar pada sandaran springbad.
"Kamu wangi sekali sayang, aku suka," bisik Aditya di telinga Quen. Secara bergantian ia mencium bibir pipi dan leher dan semakin kebawah. Kedua tangannya bertumpu pada sisi kiri dan kanan Quen.
"Took... Toook... Toook!" tiba tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Aditya, apakah kau tidak bekerja? Sudah jam setengah tiga!" teriak Livia dari luar.
Dengan segera Aditya menyudahi aktifitasnya, dan bangkit dari tempat tidur merapihkan kemejanya yang sedikit kusut. Begitupun Quen. Buru-buru ia mengikat kembali rambutnya yang mulai berantakan.
Quen membuka pintu kamar lebar-lebar, sementata Aditya berlagak menyiapkan berkas yang perlu dia bawa.
"Sudah belum nyiapin berkasnya?" tanya Livia dengan senyuman tertahan penuh arti.
"Iya, Ma. Ini hampir selesai." Aditya pun bergegas menuju pintu sambil membawa tasnya.
"Aku berangat dulu, ya Quen?" ucap Aditya sambil mencium kilat pipi gadis itu di depan mamanya.
Quen terbelalak tidak percaya dengan apa yang Aditya lakukan. Ok lah dia type hot dady yang cool, ceuk sepertu kulkas. Dan tidak masalah berlaku romantis terhadapnya tapi tidak di depan mamanya juga kan?
"Ma, aku berangkat dulu, ya?" Pria itu pun menunduk berjalan keluar untuk ke kampus.
Sedangkan Quen sedikit salah tingkah dengan calon mertuanya, sepertinya ia tahu apa yang baru saja dilakukannya bersama Aditya di dalam kamar barusan.
"Aku kenal sekali putraku yang satu ini. Dia type orang yang dingin. Dulu, saat mengajak wanita kemari dia tidak pernah seperti ini, sekalipun setatusnya sudah duda. Kepadamu dia begitu berapi api." Livia tersenyum "Istirahatlah dulu, kau pasti lelah!" wanita itu pun pergi meninggalkan Quen di kamar Aditya.
Quen kembali menutup pintu dan terlelap. Ia tidur selama dua jam. Dan bangun-bangun sudah sore.
Quen merasa malu pada dirinya sendiri ketika ia bangung makanan di meja makan sudah terhidang rapih. sementata Livia seprtinya juga baru saja mengepel lantai.
"Astaga, payah sekali aku ini? ditinggal di rumah calon mertua malah enak tidur dan bangun-bangun semuanya sudah rapi?" umpat Quen dalam hati.
"Kau sudah bangun, Quen? Mandilah dulu sambil menunggu Aditya datang," ucap Livia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ia, Ma. maaf ya Quen baru bangun gak bisa bantu-bantu masak jadinya," ucap Quen dengan sungkan.
"Kau pasti capek, kan? Tidak apa-apa, Mama sudah terbiasa dengan rutinitas ini, mandilah! Axel ada di dalam kamarnya."