Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 27


__ADS_3

Usai makan malam, Queen masih merasa sakit di bagian


pergelangan kakinya yang terkilir tadi. Dengan telaten, Al mengoles ,minyak


gosok dan mengurutnya secara perlahan. Setelahnya, ia melilitkan perban di bagian yang sakit.


“Kamu pinter banget, si Al? makasih ya?” ucap Queen setelahnya. Sambil menatap suaminya, nyaris tak berkedip.


Pria itu hanya tersenyum saja. “Uda larut, nih. Kita pamit sekarang, apa gimana?”


“Iya deh, Berlyn di mana sekarang?”


“Dia lagi sama mama,” jawab Al, sambil membantu Queen berdiri.


Rasa nyeri di pergelangan kaki kanan Queen sudah banyak berkurng


semenjak Al melilitnya dengan kasa. Ia juga sudah bisa berjalan sendiri,


meskipun tidak sekeras ketika kakinya Normal.


Tiba di ruang belajar, Ternyata Berlyn tidak bersama mama


mereka. Entah berada di mana Clara. Al dan Queen melihat putrinya tengah


menulis sesuatu dengan sangat serius.


“Berlyn, apa yang kau lakukan, Nak?” tanya Queen.


Seketika bocah itu menoleh, dan menunjukkan hasil tulisan


tangannya pada mereka berdua.


Al dan Queen melangkah lebih dekat dan membaca tulisan


tersebut.


“Mama, Papa. Aku mohon izinkan aku tinggal di sini lebih


lama lagi. Bukanya kau tidak mau ikut bersama kalian. Tapi, kasian juga nenek. Dia kesepian saat kakek dan kakek buyut pergi bekerja. Aku janji pada kalian tidak akan merepotkannya. Aku juga rajin di sini merawat semua tanaman bunga dan sayur milik nenek.”


Al dan Queen saling memandang satu sama lain. Lalu


mengangguk. Setelahnya, Pria itu berjongkok dan mengajak bocara putrinya.


“Berlyn jadi mau di sini dulu sama kakek dan nenek?” tanya


Al lirih sambil berjongkok memeluk putrinya yang tengah berdiri memegang kertas


tadi, dengan kedua tangannya.


Berlyn mengangguk. Namun, di wajahnya juga nampak sedih.


Mungkin ia berfikir kalau keputusannya telah membuat kedua orang tuanya kecewa.


Tapi, ia juga tidak bisa mebohongi diri sendiri. Selama mama dan papanya


bekerja, ia merasa kesepian di rumah. Hanya neneknya saja yang selalu stay home, dan ada waktu setiap detik bersamanya.


Karena, dia bukanlah Clarissa yang sempurna, bisa melakukan apa saja


sendiri tanpa bantuan secarik keras dan bulfoin untuk mengatakan sesuatu yang ia mau, saat orang lain tak mengerti dengan isyaratnya.


Clarissa juga sangat cerdas dan bisa bergaul dengan siapapun. Tapi, tidak dengan dirinya. Bicara saja tak bisa, bagaimana bisa ngobrol dengan orang baru?


“Baiklah, jika itu mau Berlyn. Papa dan mama tidak akan


keberatan. Tapi, dengan satu syarat. Bagaimana kalau malam ini kamu tidur bersama kami? Kami akan


menginap di sini untukmu,” usul Al.


Berlyn tidak langsung menunjukkan ekspresinya. Melainkan ia


menatap Queen lebih dulu. Setelah melihat mamanya menunjukkan senyuman tipisnya, dan menatap ke arahnya dengan lembut. Barulah Berlin tersenyum dan melompat dalam pelukan papanya.


“Baiklah sayang. Mungkin selama satu minggu juga papa dan


mama akan menginap di sini dan berangkat kerja dari sini,” ucap Al sambil menggendong putrinya.


Bersama papa Andrean, dan juga Vano, Clara membawa tas ransel milik Bilqis.

__ADS_1


Tapi, dengan cepat, Al mengatakan kalau dia dan Queen akan menginap malam ini, dan malam selanjutnya sampai satu pekan.


"Ma, kami berencana akan menginap di sini malam ini."


"Oh, ya? Ya sudah, biar Anja menyiapkan kamar untuk kalian berdua," jawab Clara, senang.


"Tidak perlu. Kamar Berlyn kasurnya cukup luas bukan untuk kami bertiga?"


"Ya, lumayan. Cukup sih untuk kalian bertiga."


"Ya sudah, kami di sana saja, Ma." Jawab Al bersemangat."


Sambil memanggul putrinya di atas kedua pundaknya, Al berlari menuju kamar putrinya, dan diikuti pula oleh Queen.


Malam itu, saat kakek Andrean sudah berada di dalam kamarnya, bahkan Al, Queen dan juga Berlyn. Clara dan Vano duduk berdua di teras belakang rumah. Keduanya saling ngobrol membicarakan mengenai mereka.


“Tidak terasa kita sudah tua saja. Kita sudah menjadi kakek dan nenek, Sayang.” Vano menggenggam erat tangan Clara yang selama ini menemaninya dalam suka maupun


duka. Susah senang juga bersama.


“Ya, dan satu-satunya putri kita mengikuti jejak papa dan mamanya, walaupun beda, namun serupa, bukan?” Clara menatap dalam mata pria yang selalu ada dalam


hatinya. Pria yang dulu sempat membuat dirinya hilang kendali, serta membuat anak gadis orang lain gila.


Dua insan itu saling tertawa mengingat bagaimana masa muda mereka dulu. Lalu,


kenapa anak-anaknya malah nurun menikah dan memiliki anak dari orang yang dulunya adalah kaka mereka?


“Terkadang hidup ini sangat lucu. Rasanya belum lama ini kita bertemu di sebuah café, kau


adalah calon kakak tiriku,” ucap Clara.


“Ya, dan aku diam-diam mencintai adik tirku. Tapi, aku diam tak mau mengungkapkan. Lalu, akhirnya, setelah terungkap, kita berdua saling menentang kehendak orang tua kita.”


“Semua sudah berlalu, meski jalan anak-anak kita sama. Tapi, konflik mereka berbeda. Kita adalah saudara tiri saat kau sudah bekerja, dan aku kelas dua SMA. Cinta


kita sempat terhalang restu orang tau. Tapi, Queen… “ Clara diam tidak


melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tahu pasti bagaimana kisah cinta putrinya


dengan anak angkatnya.


Yang ia dengar dari papanya Al memperlakukan putrinya dengan sadis. Sebab, dengan


Tapi, lambat laun cinta itu muncul setelah beberapa bulan, dan setelah Queen mengandung putri kembarnya.


"Al jadi suami yang baik untuk Queen. Kita harus berterima kasih pada Dela, loh. Di mana dia sekarang, ya? Dan bagaimana kabarnya, kira-kira?" ucap Vano, sambil melirik istrinya.


"Tentu saja. Bahkan aku juga akan berterimakasih padanya secara pribadi. Karena dia mencampakkan dan membuangmu, kau jadi sukai yang baik untukku. Jika tidak, kau adalah suaminya dan pasti akan baik dan sayang padanya, bukan?"


Vano hanya ngacir saja. Niat hati untuk memanas-manasi istrinya malah tidak mempan sama sekali. Jadi, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Maaf, Pak, Bu. Apakah anda perlu kopi, atau teh?” ucap Anja dari balik pintu. Mungkin wanita itu mau beristirahat setelah menyelesaikan tugasnya. Tapi, mengetahui


majikannya masih ngobrol di halaman belakang, ia menawarinya minuman panas dahulu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


“Oh, terimakasih. Tidak perlu, Nja. Kau bisa istirahat saja. Besok kau bangunlah


lebih awal, siapkan sarapan untuk Al, ya?” ucap Clara.


“Baik, Bu.” Wanita itu pun beranjak pergi ke kamarnya.


Wanita itu sebenarnya sudah lama bekerja jadi buruh harian di rumah Clara. Kurang


lebih sudah satu tahun lamanya. Dia sendiri adalah janda tanpa anak. suaminya dulu adalah sopir bus antar kota. Tapi, naas. Di usia pernikahan mereka yang baru satu tahun, ia justru malah pergi meninggalkan Anja untuk selamanya karena sebuah kecelakaan lalu lintas.


Setelah suaminya pergi, memang banyak pria yang datang meminangnya. Tapi, demi rasa cinta dan setianya dengan mendiang suami, sampai detik ini, wanita itu tidak pernah membuka hati pada pria mana pun, dan cenderung jadi pribadi yang penutup.


“Kamu sudah ngantuk belum? Ke kamar, yuk!” ajak Vano pada Clara.


“Ngantuk belum, sih. Tapi, bukannya begadang dan angina malam tidak baik untuk kesehatan? Apalagi usia kita sekarang sudah tidak lagi muda,” ujar Clara.


Vano pun merangkul pinggang Clara dan berjalan beriringan menuju kamar.


Anja yang hendak keluar ke kamar kecil, tidak sengaja melihat betapa harmonisnya hubungan rumah tangga majikannya hanya bisa terseenyum saja, dan membatin. “Andai mas Fikri masih hidup. Pasti rumah tangga kami juga tidak beda jauh dengan mereka. Hanya beda di harta saja.


Tapi, bukakah yang utama itu adalah pasangan yang baik?”


***

__ADS_1


Pagi itu Queen sengaja bangun lebih awal. Dia tidak ingin merepotkan pengurus rumah mamanya. Dia paham betul kalau papanya berangkat jam delapan, dan baru jam enam


pembantu rumah tangganya memulai aktifitasnya. Tapi, karena letak kantor Al jauh, dan ia harus berangkat lebih awal, jadi, pukul lima lewat lima


menit wanita itu sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Awalnya Queen bingung, mau dimasakan apa suaminya pagi ini. Tapi, karena letaknya jauh,


sepertinya ia butuh makanan yang sedikit berat. Tapi, apa? Suaminya tidak terbiasa makan nasi di pagi hari.


Setelah beberapa detik, Queen berfikir, akhirnya ia menemukan ide juga.ia akan membuatkan burger ala-ala dirinya sendiri. Diambilnya bawang bombai, di cincang halus, dengan daging giling, telur mrica bubuk dan membentuknya bulatan oada Teflon, ia membuatkan burger untuk Al dan untuk semua orang.


“Non, Queen kok sudah bangun? Ini kan tugas, saya?” ucap Anja dari belakang wanita itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sungkan dan tak nyaman pada anak majikannya. Padahal ini juga baru setengah enam. Jam berapa dia bangun? Pikir wanita itu.


“Tidak masalah. Aku membuatkan sarapan suamiku. Dia memang sedikit rewel, aku takut dia ga mau makan, karena kau belum tahu seleranya malah tidak di makan lagi. Kan sayang juga, kan? Jawab Queen dengan ramah. Namun, terkesan seolah tidak ada wanita lain yang bisa mengerti Al selain dirinya. Mungkin, karena pembantu mamanya seumuran dengannya.


Wanita itu pun mengambil satu botol susu segar dari dalam kulkas dan memanaskannya pada


panci dengan api kecil.


“Pak Al mau susu segar, kan Non, Queen?” tanya Anja lagi, ragu-ragu.


“Iya, dia  mau. Kau tolong siapkan saja


minumnya, ini sudah hampir selesai. Aku akan cek, dia sudah selesai apa belum.” Dengan gerakan cepat serta lincah, Queen menyiapkan perlengkapan untuk burger, bawang


bombai, timun dan tomat yang dipotongi bulat-bulat. Sayur slada segar, saus tomat


keju dan mayonises. Setelah semua sudah selesai dan siap, barulah wanita itu meninggalkan dapur.


“Mbak, ini ada jagung manis serut, buncis dan wortel tolong ditumis, ya? Gak usah dikasih apa-apa.bunbui saja bawang putih cincang, mrica garam dan sedikit penyedap. Bawangnya sudah tak siapin,” pesan Queen, dan di balas dengan anggukan


dari Anja.


Baru beberapa langkah Queen meninggalkan dapur, ternyata yang dia tunggu sudah


sampai di meja makan duluan. Malah sepertinya pria itu hendak ke dapur. Mungkin hidungnya sudah mencium aroma sedap dan ingin melihat sendiri, apa yang dihidangkan


istrinya untuk sarapannya hari ini.


“Kau sudah siap, Al? ya sudah, kamu duduk. Aku ambilkan sarapanmu dulu, ya?”


Al tidak menjawab. Ia mengancingkan lengan kemejanya sambil duduk di kursi ruang makan. Sedangkan suasana rumah masih sepi. Mungkin juga papa dan kakeknya juga


sudah bangun. Tapi, mereka pasti masih di kamar, memebuka kembali hasil laporan atau apa yang bersangkutan dengan perusahaan yang mereka pegang. Atau mungkin, juga malah buka gadget untuk sekedar


memainkan game online saja untuk merefresh pikiran agra tidak jenuh.


Saat Queen kembali dengan nampan berisi satu piring kecil tumis sayur untuk menemani burger . segelas susu dan satu botol saus pedas. Ternyata Al belum juga selesai mengancingkan lengan kemejanya. Dia tidak bisa, atau sengaja?


"Sini, biar aku bantu kancingkan," ujar Queen setelah meletakkan sarapan suaminya di atas meja.


“Wow, kamu bikin burger sayang? Apa ini? pety jamur, daging atau ayam?”


“Petynya pake daging. Gak ada jamur di lemari esnya mama. Kamu makan dulu, gih,” Queen


duduk di kursi depan suaminya.


“Kamu, mau? Enak, loh!” seru Al sambil memberikan potongan berger pada Queen.


Tanpa menjawab, Queen membuka mulutnya, dan berkata, “Jelas enak. Siapa dulu yang bikin?” ucapnya dengan sangat percaya diri.


“Ih… PD,” goda Al.


"Tapi, benar, kan enak?"


“iya, Sayang. Enak banget malah.”


Selama satu minggu ini, Al dan Queen berangkat kerja dari


rumah orang tuanya, dan pulangpun juga kemari. Di hari pertama saja, mereka berdua kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu yang mereka butuhkan di rumah.


Pakaian, dan beberapa berkas milik Al yang berada di rumah.


Memang jarak kantor dan rumah sakit lebih jauh. Tapi, apalah


artinya sebuah jarak selama masih bisa di tempuh, demi putri mereka? Setiap malam Al dan Queen juga selalu tidur bertiga bersama putrinya. Secara bergantian pula, ibu dan ayah muda itu membacakan dongeng pada Berlyn secara setiap malamnya. Jadi, bocah itu bisa mendengarkan dua cerita sekaligus setiap malam. Dari papa, dan satunya lagi dari mamnya.


Namun, meskipun begitu, pada akhirnya, Berlyn juga masih tetap merasa nyaman tinggal bersama kakek dan neneknya. Hanya di saat

__ADS_1


liburan saja sesekali gadis kecil itu minta di atar ke tempat kedua orang


tuannya. Menghabiskan waktu bertiga saja saat papa dan mamanya tidak bekerja. Tapi, dengan begitu, gadis itu merasa sangat bahagia. Dan sejak saat itu, Al dan Queen setidaknya dua kali dalam seminggu selalu pulang ke rumah orang tuanya. Saat mereka satu sif kerja tentunya.


__ADS_2