Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 251


__ADS_3

Usai makan malam dan menemani Bilqis belajar, Nayla meminta


agar putrinya segera tidur, karena besok dia harus bangun pagi untk berangkat


ke sekolah lebih awal.


Sepertinya Al memang sudah memikirkan matang-matang untuk


membelikan rumah untuk dirinya tinggal bersama putrinya. Selain lokasinya yang


strategis. Ini juga sangat dekat jaraknya dengan lokasi sekolahannya Bilqis,


Mungkin sekitar duaratus meteran saja. Bisa lah meraka berngkat berjalankaki


bersama. Terlebih juga di sini dekat dengan minimarket dan pasar tradisional.


Jadi, jika ingin pergi-pergi, mereka berdua bisa menghemat biaya transportasi. Asal mau


sedikit memeras tenaga untuk berjalan kaki.


“Sayang. Kamu tidur, ya? Besok kita bangun lebih awal. Kita


tidak akan naik mobil atau taxi untuk ke sekolah.” Ucap Nayla saat menggantikan


pakaian putrinya dengan baju tidur putrinya.


“Kenapa, Ma? Bukankah jarak tempat kita sekarang dengan


sekolahannya Bilqis itu sangat dekat?”


“Iya, Sayang. Justru itu. Kita bisa berjalan kaki menuju ke


sekolahanmu. Sekalian sambil berolah raga,’’ bujuk Nayla kepada putri kecilnya.


Sebenrnya Bilqis keberatan jika harus bangun terlalu pagi dan


berjalan kaki. Sekalipun jaraknya dekat, Tapi jika dilakukan untuk berjalan,


sama aja ini akan sangat melelahkan. Tapi, ia tetap tersenyum dan menutupi


kesedihannya dari mamanya. Ia melakukan itu agar mamanya tidak kian terpuruk saja.


“Oh, iya Ma. Itu pasti akan sangat menyenangkan. Aku setuju,”


jawab Bilqis lalu kemudian gadis kecil itu pergi ke kamar mandi dekat dapur.


Tidak ada kamar mandi yang berada di dalam kamar di sini. Beda dengan rumah papa tirinya dulu. Jadi, jika mau buang air kecil ya harus mau keluar kamar.


Nayla menatap putrinya dengan tatapan kosong. Ia mengingat


jumblah saldo rekening di bank nya kemarin sisa sekitar lima juta. Uang segitu,


kalau hanya untuk makan dengan pola hidup sederhana bisa untuk sekitar dua atau tiga bulan. Tapi, ia ada anak yang harus dibiayai pendidikannya. Sekalipun itu rekening milik Al. Mantan suaminya juga tidak akan lagi mengisi kartu tersebut. Tidak dicabut saja sudah bagus. Mulanya ada banyak uang di sana. Setiap bulannya


Al selalu mengirimkan uang sebanyak serratus juta pada rekening tersebut. Tapi, uangnya Nayla habiskan untuk Jevin. Bahkan, sampai detik ini pria itu juga tidak lagi ada kabarnya sama sekali. Apa benar dia sudah menikah seperti yang


Queen katakana? Batin Nayla.


Begitu Bilqis tidur,


Nayla hendak pergi ke kamarnya. Tapi, gadis kecil itu melarangnya. Dengan memegangi tangan mamanya dan berkata, “Ma, temani Bilqis tidur malam mini, ya?”


Nayla langsung menatap ke arah mata gadis kecilnya. Ia pun


tersenyum. “baiklah, mama akan menamnimu tidur malam ini,” jawabnya sambil


membenarkan posisisnya. Rebahan di samping Bilqis.


Sekitar sepuluh menit, Nayla melihat ke arah putrinya. Mata


gadis itu sudah terpejam. Ia mengira kalau Bilqis sudah tertidur. Nayla meraih


gawainya dan membuka galeri dan memandangi satu persatu foto Al dengan berbagai


pose. Ada foto lama saat mereka masih pengantin baru, foto saat hubungan mereka


mulai renggang, Bahkan foto terakhir yang ia ambil secara diam-diam pun Nayla juga memilikinya.


‘Walau berpose seperti apapun, kau memang sangat tampan,


Mas,’ batin Nayla sambil tersenyum seorang diri melihat foto Al yang ia ambil


ketika mantan suaminya tidur pulas dalam satu kamar dengannya beberapa bulan


lalu.


Bilqis sebenarnya belum bisa tidur sama sekali. Tapi ,


sengaja ia melakukan untuk melihat apa yang akan mamanya lakukan jika tidak ada dia.


‘Mama ternyata sangat mencintai papa. Lalu, kenapa dia malah


sering keluar dan jalan dengan om Jevin?’ batin bocah itu sampai akhirnya ia


pun terlelap bersama pikirannya mengenai mama, papa dan teman pria mamanya.


Kurang dari jam enam, Nayla sudah siap berangat untuk


mengantarkan Bilqis bersekolah. Untuk mengalihkan rasa lelahnya berjalan kaki,


Nayla terus mengajak ngobrol dan bercengkrama putri kecilnya. Kurang dari sepuluh menit mereka juga sudah sampai di sekolahan.


Seperti biasa wanita itu hanya mengantarkan putrinya sampai


depan pintu gerbang saja lalu kemudian langsung pulang. Sebenarnya Nayla


bingung harus bagaimana untuk meneruskan kehidupannya. Ia tidak memiliki


pengalaman bekerja sebelumnya. Bahkan ijazah, juga lulusan SMP. Itu pun juga tidak di sini. Tapi, berada di kampung halamannya.


Nayla terus berjalan dan tanpa sengaja ia melihat toko roti


yang baru saja buka dan ada tulisan “di butuhkan karyawati segera.”


Nayla pun berbelok ke toko itu dan bertanya pada karyawan


tentang lowongan yang di buka pada toko tersebut. Setelah mendapatkan iformasi, dan ternyata


Nayla bisa langsung masuk tanpa ijazah hanya butuh kartu identitas diri saja. Dan besok, ia sudah bisa mulai bekerja besok pagi sampai jam lima sore.


Nayla sangat senang. Walaupun gajinya tidak banyak, setidaknya ia bisa


mendapatkan pemasukan pasti tiap bulannya. Sekarang yang perlu ia perhatikan


adalah berusaha mengatur pendapatannya dengan pengeluarnya. Ia sudah pernah hidup


susah sebelumnya. Jadi, untuk kembali hidup sederhana juga tidak akan kaget.


Walau ada sedikit rasa gengsi jika nanti ketahuan oleh salah satu temannya yang


juga menyekolahkan anaknya di tempat yang sama dengan Bilqis.


Dengan perasaan lega karena langsung mendapatkan pekerjaan

__ADS_1


pasca pisah dengan Al. Nayla pun pulang. Ia mekesampingkan dulu rasa galaunya


karena kehilangan pria yang ia cintai dan yang dijadikan sandaran selama ini. Ia


sadar ia memang pantas. Tapi, untuk merelakan sebnarnya ia tidak bisa. Karena


jauh dari dalam hatinya Nayla juga sangat mencintai pria yang telah menjadi


suami keduanya itu.


Ketika ia tengah memasak, tiba-tiba bell di dalam rumahnya


berbunyi sebanyak dua kali. Dengan tergopoh dan penasaran wanita itu pun keluar. Melihat siapa yang datang. Ternyata seorang pria paruh baya dengan postur


tubuh yang tegap berdiri di depan pagar.


“Siapa, ya?” tanya Nayla. Karena merasa tidak kenal dengan


orang yang berada di depannya itu.


“Saya petugas dari kantor urusan agama. Benar ini kediaman


saudari Nayla?’


“Benar, Saya sendiri.” mendengar pria itu memperkenalkan dirinya, seketika tubuh Nayla langsung terasa lemas tak berdaya.


Karena sudah jelas siapa yang datang, Nayla pun membukakan pagar


tersebut dan mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk masuk. Dan duduk di kursi


yang berada di teras rumahnya.


“Inia da surat gugatan cerai dari bapak Al yang perlu anda


tandatangani, Bu. Kemudian, anda tunggu jadwal panggilan untuk sidang.”


“Deg!”


Meskipun Nayla sudah memperkirakan itu. Tapi, hatinya masih


saja tidak terima dan tak percaya kalau Al akan benar-benar melayangkan gugatan


cerai kepadanya.


Dengan tangan gemetar, wanita itu mengamabil bulpoin yang


ada bersama kertas dan berkas yang akan ia tandatangani yang sudah tertempel


materai 6000 di sana.


Begitu ia sudah mendatangani surat gugatan tersebut, Nayla pun


segera meminta pria itu untuk pergi meninggalkan rumahnya dengan alasan karena


dia orang baru, dan sudah dikenal sebagai janda. Tak mau terlihat oleh tetangga


ada laki-laki yang masuk ke dalam rumahnya.


Setelahnya. Nayla menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa


perih dan sakit seperti telah ditusuk-tusuk oleh ribuan pisau hingga tak berbentuk.


“Mas, Al!” serunya seorang diri dalam isakannya. Sambil memandangi


foto Al yang ia gunakan sebagai wallpaper di layar ponselnya.


Seketika bayangan bagaimana awal dia kenal dengan Al terus teringat jelas seperti role film yang hanya dia saja yang bisa melihatnya.


Dengan gentle Al datang dan melindunginya, membawanya ke sebuah tempat menyewakan kos-kosan.


"Tidaaaaak!" Teriak Nayla histeris.


Kenangan itu memang terlalu indah untuk dilupakan. Tapi, terlalu sakit jika diingat.


"Ya Tuhan. Jika memang aku bukan jodoh mas Al. Kenapa kau harus mempertemukan aku dengannya dulu? Jika memang waktuku bersamanya sudah sampai di sini, kenapa rasa cinta ini padanya kian bertambah? Ini tidak adil bagiku, Tuhaaaan!"


****


Dengan raut wajah yang sangat bertentangan dengan suasana


hatinya, Queen turun dari mobil suaminya.


“Sayang!” seru Al, memegangi pergelangan tangan Queen


sebelum wanita itu benar-benar keluar dari mobilnya.


“Apaan, sih?” jawab Queen dengan nada kesal. Padahal ia sengaja


begitu agar Al terus merayunya. Entah sejak kapan dia sangat menyukai sikap Al yang sedemikian hangat kepadanya. Ia sendiri bahkan juga tidak sadar.


“Kemarilah, dulu!” Al menarik lengan istrinya hingga ia


sampai jatuh dalam pangkuannya.


”aku harus segera bekerja, Al,” ucapnya sambil berusaha


bangun.


“kenapa harus buru-buru? Ini terlalu awal, Sayang. Cium aku


dulu, gih.”


Queen menatap Al yang sedari tadi cengar-cengir tidak


jelas saat menghadapi dirinya yang seperti itu.


“kan tadi uda,” jawab Queen.


“Tadi cuma pipi. Ini, kan belum,” ucap Al sambil menunjuk bibirnya sendiri.


“Kalau aku tidak mau, kenapa?”


“Aku akan melakukannya sendiri kalau begitu.” Al pun


langsung membungkuk, ******* bibir Queen dan tangannya bergerilya kemana-mana.


Menyadari tingkah jail suaminya Queen segera menyudahi


dengan cara menggigit keras lidah Al yang tengah bermain dalam rongga mulutnya.


“Aw! Kau ganas sekali, sayang? Sejak kapan kau suka


menggigit?”


“Kau, jangan bikin rok dan kemeja yang kukanakan jadi kusut akibat


ulahmu!” protes Queen sambil cemberut.


“Memang kenapa? Mereka juga pasti tahu apa yang terjadi,


hehe”


Queen memukul lengan Al dan kemudian keluar tanpa pedulikan

__ADS_1


suaminya. Tapi ia diam-diam tersenyum dengan tingkahnya, sampai tanpa sadar satu


kancing bajunya ada yang terlepas. Entah, disengaja atau tidak oleh Al, ia


juga tidak tahu bahkan belum menyadarinya.


“Pagi dokter Queen.”


“Hay, Gea! Sejak kapan kau ada di sini?” ucap Queen dengan


kencang karena ia merasa sangat surprise dengan kejutan yang ada.


“Hahaha, Aku sengaja tidak bilang sama kamu memang ingin


bikin kejutan. Ternyata sukses,’ jawab Gea. Seketika mata gadis itu langsung


tertuju pada kancing kemeja Queen yang terbuka.


“Sejak kau dilantik itu kau sudah tahu ya kalau memang


ditempatkan di sini bersamaku?’’ tanya Queen.


Tapi, Gea tidak fokus dengan pertanyaan sahabtanya. Ia malah


tertawa karena kemeja yang sedikit kusut dan kancingnya terlepas salah satu.


“Hahahaha.”


Queen nampak mengerutkan alisnya karena  bingun dengan tingkah Gea.


“Kamu kenapa, sih?”


“Baru maen kilat sama Al, ya di mobil?” jawab Gea sambil tertawa


tertahan.


“Ck. Apaan, sih?”


“Lihat tuh, kemejamu sedikit lusuh, dan kancingnya juga satu


terlepas.”


Queen langsung menutupi bagian dadanya secara spontan. Kemudian


ia menoleh ke sekitar. Beruntung sepi hanya ada dia dan Gea. Ya, walau sesekali


ada keluarga pasien yang lalu Lalang. Tapi, sepertinya tidak satu pun yang


melihat ke arahnya. Terleih kancing bajunya. Semoga saja begitu.


Dalam hati Queen mengumpat dan menyumpah serapahi Al yang


telah menjailinya. Kali ini memang-benar-benar parah, dan harusnya ia juga


harus beneran marahnya.


“Main apaan, sih? Mungkin memang aku lupa memasang


kancingnya,” kilah Queen. Dan langsung begitu saja meninggalkan Gea di lobi setelah memasang kancing baju tersebut. Ia


segera menuju ke dalam ruangannya.


Setelah semuanya ia bereskan, Queen masuk ke dalam poli pemeriksaan untuk menangani pasien. Baru beberapa menit. Ada seorang ibu-ibu membawa anaknya yang berusia dua tahun an. Katanya sudah beberapa hari ini demam, dan hanya di malam hari, jika siang tidak.


"Bu, dites darah saja ya, putranya. Khawatir nanti terkena demam berdarah," ucap teman Queen yang sesama dokter.


Begitu si ibu menyetujui, Queen menyiapkan spuit, tourniquit, vacuum tube dan alat-alat yang dibutuhkan lainnya untuk diberikan kepada phlebotomis untuk pengambilan vena darah.


Setelahnya, Queen di minta untuk membawa Sempel darah tersebut ke ruang laboratorium.


Entah kenapa Queen merasa tidak enak saja saat berjalan menuju ruang laboratorium. Padahal, ini bukan kali pertama untuknya mengantarkan vena darah pasien.


Begitu tiba di depan pintu ruangan yang selalu di tutup dan tidak mengizinkan siapapun masuk tanpa keperluan kusus, Queen mengetuk pintu, lalu membuka pintunya dan masuk.


Queen menjadi sedikit canggung saat tiba-tiba saja melihat ada sosok pria yang tak asing baginya berada di sana. 'Sejak kapan? Bukankah kemarin-kemarin dia tidak berada di sini?' tanya Queen dalam hati.


"Ini saya taruh di sini," ucap Queen. Karena kebetulan tidak ada siapapun selain pria itu.


Pria yang tengah berkerja itu pun langsung menoleh. Matanya menyipit memandang Queen. Mungkin saja dia tersenyum. Namun, tak terlihat karena hidung sampai mulutnya tercover oleh masker.


Setelahnya, Queen segera berlari keluar. Sejak kejadian itu, ia masih belum bisa berbicara dan ngobrol secara langsung dengan mantan kekasihnya itu.


Diaz hanya memandang punggung Queen dari jauh. Sayang sekali, ini jam kerja. Jika saja tidak, mungkin Diaz sudah mengejarnya. Ada banyak pertanyaan yang ingin pria itu tanyakan pada Quen.


Saat jam istirahat, di ruangan para dokter dan tenaga medis lainnya berkumpul, pelayan rumah sakit mengantarkan jatah makan siang mereka masing-masing. Diaz yang melihat Queen duduk di tempat yang tidak jauh dari tempatnya pun segera beranjak dan menghampiri.


Karena banyak orang di sana, Queen tidak bisa menghindari Diaz. Karena itu hanya akan mengundang perhatian mereka saja.


"Hay, apa kabar?" sapa Diaz dan duduk tepat di sebelah wanita itu.


"Baik," jawab Queen, rada canggung.


Gea yang baru saja masuk dalam ruangan itu langsung menghampiri dua pasang mantan kekasih itu.


"Permisi," ucap Gea dan duduk di antara Diaz dan Queen. Sepertinya gadis itu sengaja menjadi jarak pemisah diantara dua sahabatnya.


"Diaz, katanya kau baru satu mingguan di sini ya?" tanya Gea.


Akhirnya, Diaz yang mulanya ingin mengobrol dengan Queen pun urung. Dia malah ngobrol banyak dengan Gea.


"Makan dulu," ucap Queen pada dua temannya dan mulai menyendok kan nasi ke dalam mulutnya.


Baru makan beberapa suap saja, ponsel miliknya yang ia letakkan di di atas meja berdering.


Sebenernya ia sangat canggung jika harus melakukan panggilan video dengan Al di tempat umum. Tapi, mungkin ini kesempatan. Agar Diaz tidak lagi mengejar-ngejar lagi. Bagaimana pun, dia sudah menikah dan bahkan dari pernikahannya, ia sudah hampir memiliki anak dari suaminya.


Queen menggunakan tumpukan berkas tebal untuk meletakkan ponselnya agar menghadap dirinya yang tengah menikmati makan siang.


Sementara dari layar ponselnya, terlihat seorang pria tampan mengenakan kemeja maroon dan gaya rambut jambul tengah tersenyum padanya. Manis sekali.


"Sudah makan siang, ya? Kirain belum."


"Iya, nih. Sudah," jawab Queen santai.


Al hanya tersenyum saja dan memperhatikan istrinya.


Sementara di samping Queen. Gea berbisik kepada Diaz dan berkata, "Kau cari kebahagiaan mu sendiri bersama Hanifah. Biarkan saja dia bahagia dengan suaminya."


Diaz hanya diam. Lalu kemudian ia pun pergi keluar tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.


Menyadari Diaz sudah pergi, Queen mengganti topik dan menanyaian kepada suaminya apakah dia sudah makan apa belum, kemudian ia pun langsung mematikan panggilan videonya.


"Cieee sudah muncul benih-benih cinta... Aku yakin, tak lama lagi aku akan memiliki keponakan dari kalian," ucap Gea yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Queen.


Gea memang tidak tahu kalau dia memang sudah hamil sekarang.


"Kamu kapan mau nikah sama kak Juna?" tanya Queen. Sepertinya dia memang enggan mengakui perasaannya terhadap Al.


"Nanti. Nunggu Al junior lahir, hehe."


"Dasar!"


Keduanya pun tertawa dan melanjutkan makan siang sebelum jam istirahat habis.

__ADS_1


__ADS_2