Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 138


__ADS_3

Queen menghempaskan tubuhnya di single sofa ruang tengah rumah keluarganya. Nampaknya ia kelelahan setelah mengadakan acara tasyakuran di panti asuhan sedari pagi hingga malam pukul tujuh. Dan ini pun juga sudah pukul setengah sembilan.


Ia melihat Al menggendong Bilqis yang tertidur di mobil naik ke atas dan Nayla mengikuti suaminya berjalan di belakangnya.


Tanpa sadar sudah sembilan hari Queen kembali ke rumah ini, meninggalkan rumah Alex. Meski hanya singkat di sana tapi, cukup banyak kenangan manis yang ada meski, tak sedikit pula hal pahit yang baru-baru ini terjadi.


Queen memejamkan matanya sejenak, untuk melepaskan penatnya karena aktivitas seharian. Tapi, ia benar-benar tertidur. Baru saja terbangun saat kakek Andrean keluar kamar Gendang mengecek kunci pintu ruang tamu.


"Queen, bangun nak, anak perempuan jangan tidur di sini!" Serunya, sambil menggoyangkan badannya.


Rupanya wanita itu sudah terlalu lelah, sehingga sedikit pun tak ada respon dan benar-benar nyenyak dalam tidurnya.


Andrean pun menggerakkan kursi rodanya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh cucunya. Sebelum ia pergi ke kamarnya ia mengusap kening Quen dan mengamati sesaat. Ia benar-benar sangat persis dengan Clara dulu.


"Clara, Vano. Cepatlah sadar, lihat putrimu begitu mirip dengan ibunya," gumamnya dalam hati.


Sekitar jam sebelas malam saat Nayla sudah tertidur pulas. Al merasa haus. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tapi, matanya tiba-tiba tertuju pada single sofa, Queen meringkuk memeluk selimut nampak sangat pulas.


Al mengurungkan niatnya mengambil minum, ia menghampiri Quen dan berusaha membangukannya.


Karena sedikitpun wanita itu tidak bergerak, Al berinisiatif memindahnya tidur di kamar tamu, terlalu berat jika harus menggendong ya naik ke tangga, pikirnya.


Usai membaringkan tubuh Queen di atas ranjang, Al sempat memperhatikan wajah itu yang kian hari kian dewasa dan hampir tak dapat dibedakan dengan Clara.


Al tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan mencium kening Quen.


"Lihatlah, ini kebetulan atau takdir. Kau sangat mirip dengan mama. Tapi, memang kau anak kandungnya. Sedangkan aku? Mereka tidak akan menyangka kalau kita saudara angkat. Tapi, aku akan tetap menyayangi mu lebih dari sekedar Saudara angkat sayang. Bagiku kau adalah adikku."


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Pagi itu Queen terbangun.


Ia sedikit bingung melihat sekitar. Sebab yang dia ingat semalam ia tidur di sofa ruang tengah. Ini kok tiba-tiba saja ada di sini? Apakah aku nglindur dan berjalan kemari dalam keadaan tidur? Gumamnya seorang diri lalu Ia pun bangkit dan keluar kamar.


Queen mendengar suara orang berbicara di teras belakang. Sepertinya itu suara kakek dan kakaknya, karena penasaran ia pun keluar, menghampiri keduanya.


"Queen, sudah bangun kamu sayang?" sapa Al saat mendapat adiknya muncul di ambang pintu.


Dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul Quen ikut duduk bersama mereka tapi, ia lebih banyak diam saja dari pada berbicara. Hanya mendengarkan Al dan kakek membicarakan perkembangan perusahaan sambil menikmati secangkir kopi.


Al memperhatikan Quen yang masih saja diam menawarinya kopi dari cangkir yang baru saja diminumnya.


"Kok bengong aja, sih? Mau?" ucapnya seraya menyodokan secangkir kopi yang sisa setengahnya pada Queen.


Wanita itu tidak menjawab selain menggelengkan kepalanya saja.


"Kek, kenapa tiba-tiba Hanifah tidak tinggal di sini lagi? Dan sejak kapan dia berubah jadi nona sok sibuk?"


Andrean hanya tersenyum dan menjawab, "Dia menempati rumah orangtuanya dulu biar tidak kosong katanya. Kamu sudah cuci muka Quen? timpal Andrean.


"Belum, kek. Aku tidur di kamar tamu."


"Emang kamu gak punya kamar?" tanya Al.


"Aku kayaknya nglindur, soalnya semalam aku ketiduran di sofa," jawab Quen. Dan hanya dibalas oleh tawa dari Al saja tanpa mengucapkan apapun.


"Kak, gimana dah dapat pengacaranya?" imbuh Quen.


"Sudah, tapi Alex kenapa tiba-tiba tidak mau menandatangani surat cerai itu? Apakah dia sudah mulai mendapatkan lagi ingatannya?"


"Tidak, aku sendiri juga tidak tahu. Aku cuma Nerima jadi saja, semua aku serahkan pada kakak aku gak mau hadir dalam sidang sekali pun."


Al hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kamu sudah yakin dengan keputusan ini, Quen?" tanya Andrean.


"Sudah kek. Mungin ini yang terbaik," jawab Queen masih lesu.


Meskipun ia memaksa untuk bercerai tapi dalam hatinya masih ada rasa sayang untuk pria yang satu tahun lebih ini menjadi suaminya. Terlebih pria itu menolak untuk bercerai. Jelas berat baginya.


Andrean masuk ke dalam dan hanya ada Al dan Quen saja di luar.


Melihat Queen yang nampak sedih seperti itu Al tidak tahan, ia mencoba mengalihkan topik membahas masalah lain.


"Cuci muka sana! Lihat tuh, iler kemana-mana," ledek Al sambil terkekeh.

__ADS_1


"Aku tidak ngiler lah," jawab Quen.


"Ke kantor gak hari ini?"


Queen hanya menaikan kedua bahunya saja. Meraih kopi milik Al yang sisa setengah dan menyesapnya hingga habis.


"Bersiaplah kalau mau ikut ke kantor mumpung ini masih pukul enam," ucap Al pada adiknya saat hendak meninggalkan tempat itu.


Quen berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, "Ya, aku akan bersiap." Lalu pergi menaiki anak tangga.


Tiba-tiba saja Al tersenyum merasa senang, tapi, untuk apa dia senang? Bukankah sudah biasa dia berada di kantor dan satu ruangan dengan adiknya? Meskipun mereka berangkat tidak pernah bareng. Al naik mobilnya sendiri sementara Queen dia lebih suka naik taxi. Meskipun ia bisa menyipit, tapi, seolah wanita itu ditak ada ketertarikannya dengan mobil pribadi.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Terik mentari yang menyilaukan mata masuk menebus korden jendela tipis yang ada di dalam kamar Alex. Kamar yang dulu ia tempati dengan Queen kini tergantikan Helena.


Dalam keadaan mata masih terpejam tangan wanita itu meraba-raba tempat di sebelahnya. Hanya ada bantal dan guling yang iaย  rasakan, lalu, kemana Alex?


Meski badannya terasa nyeri dan sakit di mana-mana akibat melayani nafsu bejat Aditya dua hari semalam di luar kota, ia paksakan saja bangun dan keluar kamar mencari Alex.


"Uuuuh... Gila, bahkan baru beberapa langkah aku berjalan badanku rasanya kaku dan kram semua, dasar pria gila!" umpat Helena sambil meringis kesakitan. Dan sedikit bergidik pula ingat perlakuan brutal yang Aditya berikan. Namun, diam-diam ia menyukainya. Sebab, ia tak pernah menolak saat pria itu meminta ketemu, dan bahkan usaha agar ia bisa bersama dengan Quen saja juga tak pernah dilakukannya.


Helena sudah berjalan sampai halaman belakang tapi, ia tidak mendapati Alex. Rumah juga nampak sepi, bibi pengurus rumah pun juga sepertinya tidak ada.


Helena pun kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sambil berendam air hangat dengan harapan nyeri dan kram di sekujur tubuhnya bisa membaik.


Dalam bathtub Helena masih berfikir kemana Alex pergi sepagi ini. Tidak biasanya. Tapi, memang semenjak seminggu lalu saat Queen menggugat cerai padanya Alex memang nampak berubah seperti layangan putus. Pada dirinya yang biasanya mesra pun juga sangat hambar.


"Percuma otak dan ingatannya dicuci tapi kalau masih punya hati. Dia tak ingat kalau Queen istrinya, tapi, lama-lama dia meresa terbiasa oleh perlakuan Queen. Dan saat ditinggal saja juga dia sedih."


Helena terus mengumpat di dalam hati tiada henti.


Sesaat kemudian lamun wanita itu buyar dengan suara dering dari ponselnya di dalam kamar.


Dengan tergesa-gesa ia memakai handuk tak peduli badannya masih penuh busa, berharap kalau yang menelfon adalah Alex.


Raut semringah mendadak berubah kecewa mendapati nama penelfon bukalah Alex,melainkan Aditya.


Dengan malas dan penuh keterpaksaan Helena pun mengangkat panggilan itu.


"Halo, ada apa Dit?" jawab Helena dengan ketus.


"Hey, kau kenapa galak sekali? Apakah kurang yang kemarin itu? Ok aku janji akan memberimu servis yang lebih ok lagi dari kemarin, tapi, mana janji kamu? Kau bahkan tidak terlihat memikirkan cara agar aku bisa dengan ratu-ku itu."


"Lalu aku harus gimana?" Kesal Helena mengibaskan tubuhnya yang masih terlilit handuk di atas kasur.


"Terserah, bagaimana kalau kamu jebak dengan cara murahan saja? Otak kamu gak encer sama sekali," ucap Adiitya.


Helena menahan emosi dikatakan seperti itu. Ia hanya tidak mau bermasalah dengan pria yang tengah menelfonnya atau,ia akan tamat.


"Katakan saja aku nurut intruksi kamu sama," jawabnya kesal.


"Peluk dia seberat-beratnya, jika sudah terlena dengan kenyamanan yang kau berikan tusuk dia." Aditya tertawa terbahak.


"Kamu mau aku bunuh dia? Tidak, aku tidak mau ambil resiko besar Dit."


"Itu perumpamaan, Helene. Apa hal sekecil itu saja kau tak mengerti? Lalu, kau gunakan apa saja otakmu itu?"


"Kau tahu aku sedang malas bdrfikir?'


"Ok, memang di dunia ini tidak ada satupun orang bodoh selain malas berfikir."


"Kamu mau aku gimana, Dit?" bentak Helena.


"Ooo sudah tak sabaran. Kau telfon Queen sekarang juga. Temui dia ajak ngobrol baikin dia. Saat ia merasa kau benar-benar baik dan mulai percaya dengannya kau bisa mudah menjebak dia bukan?"


"Ya, Nanti."


"Ini sudah siang Helena. Coba lihat jam jangan dengan feeling kapan kau baru bangun saja. Nyawamu belum sepenuhnya terkumpul," ucap Adiitya lalu mematikan telefon.


Helena melihat jam pada layar sentuhnya dan benar saja sudah jam setengah sebelas. Ah, mungkin langit agak mendung. Aku bisa menyelesaikan mandiku dulu baru menelfon Queen. Gumamnya seorang diri.


Usai mandi dan berganti pakaian, Helena menghubungi Queen.


Saat panggilan diangkat ia mendengar suara gaduh. Tapi, dia di mana?

__ADS_1


"Halo, Helena, ada apa?"


"Apakah ada waktu Queen? Aku ingin bertemu ndenganmu."


"Oh, baguslah kalau begitu. Kah kemari cepat ke perusahaan kakakku cepat."


Helena merasa bingung. Kenapa Quen seolah senang saat ia menelfon dan mengajaknya bertemu? Tapi, kenapa di perusahaan seperti ramai? Tidak mungkin ada demo, kan?


Sepanjang perjalanan Helena menggunakan otaknya untuk menerka sesuatu yang harusnya nanti juga dia ketahui kenapa.


Tiba di area kantor, tidak ada apa-apa. kalau mencoba menghubungi Queen. Wanita itu di beri interuksi agar segera naik ke ruangannya.


Tiba di sana Helena terkejut melihat Alex memaksa Queen untuk kembali.


Sementara para karyawan dan karyawati gencar menggosipkan dirinya yang rupanya sudah menikah.


"Cantik, suaminya bule ganteng pula. Tapi maksa minta cerai, pasti karena sudah suka sama pak Al dan ingin dinikahi meski hanya siri. Makanya ngotot."


"Alex!" Seru Helena, semua orang pun menoleh ke arahnya.


Helena berlari menembus kerumunan orang-orang. Ia melihat Quen hampir menangis karena malu jadi bahan tontonan dan juga bulian.


"Di mana kak Al? Ada masalah serumit ini kok tidak keluar bantu kamu?" lirih Helena.


"Tadi dia keluar sama kak Juna. Aku gak tahu kemana. Tanpa dia aku tidak bisa mengendalikan mereka semua, dan Alex sejak datang sudah bilang gak mau cerai tanpa peduli kondisi," jawab Queen.


Helena diam-diam merasa iba. Tapi, kenapa meski kondisinya seperti ini ia tetap keras kepala tidak menunjukan jati dirinya?


"Scuruty di mana scurity? Pak tolong bubarkan semuanya," teriak Queen lalu dengan paksa dua wanita itu menarik lengan Alex menuju ruangan dan menutupnya dengan rapat.


"Alex, kau sudah punya Helena, apa lagi yang kau mau dariku? Bukankah selama ini aku selalu kau abaikan?" ucap Queen setelah menghela napas lega.


"Aku janji aku akan bersikap adil kali ini."


"Aku tidak mau, aku sudah memikirkan semua dengan baik. Dan jika aku sudah ambil keputusan aku tidak akan pernah menariknya lagi."


"Tapi Queen?"


"Alex, apakah kau tidak bisa kehilangan Queen? Kau boleh pilih dia dan meninggalkan aku saja jika Queen sudah tak mau lagi dimadu," ucap Helena setelah sedari tadi hanya diam di tempatnya.


"Tidak, Helena. Denganku Alex tak punya alasan untuk bertahan. Hatikuย  sudah tak mau lagi diajak berdamai menerima dia dan mamulai dari awal.


Kecuali aku punya anak dengan dia ada alasan kami untuk tetap mempertahankan. Yang pantas dipertahankan adalah kamu, kau menggandung anak Alex, kan?"


Helena tertunduk. Begitupun Alex, dia terkejut dengan apa yang baru saja Queen katakan. Bahkan ia tidak tahu sama sekali kalau Helena hamil.


"Helena apa benar kau tengah hamil?"


Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar. Al dan Juna baru saja tiba. Mereka mengurungkan pergi ke luar kota saat salah satu staf menelfonnya kalau ada keributan di kantor. Seorang lelaki menolak gugatan cerai dari asisten pribadinya.


"Ada apa ini?" ucap Al begitu tiba.


"Kak, apakah kau sudah menemukan pengacara utukku? Minta padanya aku ingin segera cerai sama Alex tanpa menunda apapun," ucap Queen lalu pergi meninggalkan ruangan melewati kakaknya yang berdiri di tengah pintu.


"Alex, kurasa kau bisa dengar dengan baik apa yang baru saja adikku katakan. Jadi, tidak ada gunanya lagi berharap padanya. Fokus pada keluarga barumu dan calon anak kalian saja!" seru Al lalu bergegas menyusul Queen.


Cukup lama Al berputar-putar di area kantornya sendiri hanya mencari keberadaan Quen. Akhirnya ia teringat tempat terapi yang tak pernah didatangi oleh siapapun selain petugas kebersihan. Belakang gudang.


Al menghentikan langkahnya saat melihat Quen meringkuk menangis sambil memeluk lututnya. Wajahnya disembunyakan di balik kedua lengannya yang terlipat.


Al mengatur pernapasannya dulu setelah berlarian, lalu dengan langkah perlahan Al berjalan mendekati adiknya dan duduk di sebelahnya.


Ia hanya memandangi punggungnya yang naik turun karena menangis tanpa mengatakan apapun sampai wanita itu sadar kedatangannya dan mulai mengangkat wajah dan menhapus air matanya.


"Apakah mereka sudah pergi?" tanya Queen.


"Ya, mereka sudah pergi. Sudahlah a


jangan nangis lagi, ayo kita kembali! Maaf udah ninggal kamu di kantor sendrian. Kalau saja tadi Juna yang kutinggal, pasti aemua ini tidak terjadi."


Queen tidak menjawab apapun. Ia masih berfikir bagaimana bisa Alex tiba-tiba datang masuk dan naik ke lantai atas. Apakah ada yang sengaja memanfaatkan situasi saat kak Al tidak ada di tempat?


"kita makan siang saja yuk!" ajak Al sambil bangkit dan mengulurkan tangannya pada Queen.


Wanita itu masih bergeming diam Tak merespon ajakan Al. ia masih menatap lurus dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Queen, kamu kenapa? kamu sedih karena Helena hamil anak Alex? dan itu alasan kenapa kamu terpaksa menceraikan Alex?"


"Bukan, ayo kita makan ke kantin kantor saja," ujarnya lalu berjalan tanpa mau digandeng Al.


__ADS_2