
Begitu masuk ke dalam, Queen menyapa papa dan kakeknya yang
tengah bersantai di ruang keluarga. Dari
raut wajah mereka, sepertinya ada hal serius yang tengah di bahas. Merasa lelah dan lengket
ingin segera mandi, wanita itu pun segera naik ke atas.
Usai mandi dan berganti dengan pakaian santai, Queen membuka
laci mengambil pil KB yang setiap hari dia konsumsi selama beberapa bulan ini.
Baru dia memasukan satu pil ke dalam mulut, dan belum sempat meminum air untuk
menelan. Tiba-tiba saja pintu kamarnya sudah terbuka saja.
“Sayang! Kau meninggalkan bungamu,” ucap Al sambil mendekati
wanita itu.
Dengan sedikit gugup dan tergesa-gesa Queen langsung meraih
gelas berisi air outih pada nakanya dan mengambil pil tablet pil KB yang masih
ia letakkan di atas nakas dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.
“Kau sudah mandi? Ayo kita makan malam sekarang!” ajak Al.
“Iya, kamu duluan saja. Nanti aku akan menyusulmu,” jawab
Queen. Wanita itu menerima bunga dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya
masih ia sembunyikan di belakang tubuhnya dan mengenggam sesuatu yang tidak
ingin diketahui oleh suaminya.
Merasa ada yang di sembunyikan oleh istrinya, Al pun nampak
curihga dan melihat wanita itu dengan tatapan penuh selidik.
“Apa yang kau sembunyikan dibalik genggaman tanganmu,
Sayang?”
“Ini bukan apa-apa. Kau bisa keluar dulu. Nanti aku akan
menyusulmu,” jawab Queen dengan senyuma yang dipaksakan.
Al merasa penasaran dan benar-benar ingin tahu. Ia pun
memaksa merebutnya dari tangan Queen untuk melihat. Awalnya, ia berfikir yang
disembunyikan Queen adalah kejutan untuk menyenangkan dirinya nanti malam.
Benar, ia memang terkejut saat berhasil merebebut benda itu dari Queen. Tapi,
bukan kesenangan yang ida dapat. Melainkan rasa kecewa yang sangat mendalam.
Al terpaku mengamati benda yang ada di genggamannya saat
ini. Kemudian ia mengankat wajahnya memandang wajah Queen. Dengan tatapannya
yang menyorot tajam ke dalam mata wanita di hadapannya, ia tunjukkan segala
kekecewaannya.
“Apa ini? Begitu tidak inginnya kah kau memiliki anak
dariku, Queen?”
Queen hanya diam tak mau menjawab, badannya terasa gemetaran
dan takut.
“Kenapa hanya diam? Hah, aku saja yang terlalu bodoh dan
selalu saja terbawa oleh permainanmu. Di matamu, aku tidak lah lebih dari
seorang ********, kan? Makanya, kau tak pernah mencintaiku,” ucap Al sambil
tertawa bodoh menertawai dirinya sendiri dan membanting benda di tangannya di
hadapan Queen.
Queen hanya menunduk dan menitikkan air mata saja. Tak bisa
berkutik.
“Dulu, kau memelukku, dan mengalihkan maksutmu untuk
mengambil pistol yang terselip di pinggangku dengan menggunakan ciuman.
Beruntung aku tidak mengisinya dengan peluru. Jika saja pistol itu terisi, aku
juga sudah mati sejak dulu, kan? Dan bodohnya aku, kenapa masih saja percaya padamu,
apa yang kau rencanakan lagi, Queen?’’ teriak Al dengan nada marah dan emosi
yang tertekan.
“Maafin aku, Al,” lirih Queen sambil terissak.
“Maaf? Untuk apa? Memang kau tidak pernah mencintaiku,
Queen! Buktinya, kau juga tdak pernah mau mengandung anakku, kan? Hal itu sudah
acapkali kau ucapkan! Tapi, bodohnya aku terlalu percaya diri suatu saat kau
akan luluh dan mau mencintaiku. Ternyata itu Cuma sandiwara saja. Hatimu lebih
keras dari batu!” Al menunjjuk pada dada Queen dengan kasar dan berpaling pergi
meninggalkan Queen di dalam kamarnya.
Queen berlari mencegah Al. Ia menangis dan meminta maaf
sambil memegangi tangannya. Tapi, Al yang sudah dikuasai oleh amarah dan
kekecewaan dia mengibaskan tangan Queen dan tetap berjalan menuju pintu yang
sedikit terbuka.
Di sana ada Nayla yang merasa lemas jatuh tersungkur dan
menangis. Bagitu Al berada di depan pintu ia mendapati Nayla di sana, Wanita
itu mendongak dan menjerit keras. Tak percaya dengan apa yang baru saja di
dengarnya langsung dari bibir suaminya.
“Apa maksutmu, Mas kau inginkan anak dari Queen?”
Queen yang melihat Nayla di depan kamarnya pun urung
mengejar Al. Ia hanya membeku di tempatnya.
Mendengar jeritan Nayla, Vano dan kakek Andrean pun naik ke
atas, melihat apa yang terjadi. Sesampainya di sana, mereka berdua disuguhkan
pemandangan Al yang berdiri di antara dua wanita yang tengah sama-sama
menangis. Emosi dan kekecewaannya.
“Kau jelaskan sekarang Mas di depan papa dan kakek. Apa
maksutmu tadi? Kau ingin Queen melahirkan anakmu?”
Taka da raut keterkejutan sama sekali dari wajah dua pria
itu. Ia hanya melohat dan berusaha meredam emosi Al.
__ADS_1
“Sudah tiga bulan lebih aku dan Queen menikah. Dalam
pernikahan itu, aku berharap Queen akan segera hamil dan memberi keturunan
padaku. Tapi, dia malah meminum pil KB
setiap hari. Ya, aku tahu, kau benci padaku, dan tak akan pernah bisa menerima
apalagi mencintaiku.” Al pun melangkah pergi meninggalkan semua.
“Al, tunggu dulu, dengarkan penjelaskan aku!” seru Queen berlari
mengejar Al.
Awalnya pria itu masih sempat menghentikan langkahnya dan
menolah ke belakang. Sebenarnya ia tidak tega melihat wanita yang dicintainya
menangis seperti itu. Tapi, hatinya sudah terlanjur kecewa. Al kembali
melangkahkan kaki menapakkai anak tangga dan keluar menggunakan mobil entah
kemana.
“Van, kamu susul
Queen ke bawah!” perintah kakek Andrean kepada putranya. Sedangkan dia
menghampiri Nayla.
Begitu putranya turun. Andrean berjalan menghampiri Nayla.
“Bnagunlah Nayla. Sudah, kamu berusaha tenangkan pikiranmu.”
“Bagaimana aku bisa tenang, Kek? Sementara di belakang tanpa
sepengetahuanku diam-diam suamiku menikahi adik angkatnya,” jawab Nayla sambil
terisak.
“Kau tidak perlu cari pembelaan. Intropeksi diri saja,
kenapa Al bisa lakukan ini padamu? Dan kau juga tidak bisa menyalahkan Queen.
Di sini dia adalah korban, Al menyeretnya pergi di hari pertunangannya dan
melakukan apa padanya kala itu kita tidak tahu. Menikahi Queen pun juga dengan
paksa. Tidak ada solusi selain kalian saling berdamai dan tak saling menyalahkan
satu sama lain.”
Vano mencari Queen dia ada di depan pintu gerbang dan jatuh
tersungkur dan masih menangis. Mungkin tadi dia mencoba menahan mobil Al sampai
terjatuh dan terseret. Sebab, Vano mendapati baju putrinya kotor dan banyak
luka di lutu dan juga betisnya.
“Sayang. Sudah, bangunlah! Ayo kita masuk!” seru Vano sambil
membantu putrinya berdiri.
“Pah, Al marah sama aku. Dia kecewa sama aku.”
“Beri dia waktu untuk menenangkan pikirannya. Wajar jika dia
kecewa, karena dia sudah berharap banyak padamu.” Vano menenangkan Queen sambil
memeluknya
“Apakah Papa tidak marah aku diam-diam menikah dengan kak
Al?” tanya Queen, masih sesenggukan.
“Kalau kalian saling mencintai, kenapa harus marah?”
“Sekarang kamu hanya perlu menunggu Al, meminta maaflah dan
jelaskan padanya secara perlahan agar dia mengerti. Memang kenapa kamu
harus minum pil KB diam-diam? Apakah
kamu belum siap memiliki anak? Apakah keguguran itu membuatmu trauma?”
Queen hanya diam. Tak berani menjawab. Krena pada
kenyataannya bukan itu alasan dirinya.
“Maafin aku, Pah. Queen ragu memiliki anak darinya. Dia
pembunuh, dia banyak membunuh orang. Bagaimana nasib anakku jika memiliki ayah
yang seperti itu?”
Vano Cuma diam tidak menjawab, yang ia tahu dari jawaban
Queen saat ini adalah Queen mencintai Al tapi, tak ingin anak mereka terkena
imbas dari apa yang Al perbuat dulu. Namun, Vano juga tak bisa menyalahkan Al
sepenuhnya. Dia memang bekerja di duania hitam dan telah di latih sebagai
pemimpin oleh mendian papa kandungnya selama di Jepang dulu. Jika lawan tidak
dibunuh, memang akan menyerang lagi di kemudian hari dengan perancaan yang
lebih matang.
Apakah dia masih seperti itu?”
“Tidak, Pah. Tapi, aku takut jika karma itu akan mengenai anak-anakku nanti.”
“Sudah, ayo kita masuk, kita makan malam dulu, dan kamu
segeralah istirahat, Oke?” bjuk Vano.
Di meja makan yang biasanya penuh dengan kehangatan kini
sungguh membuat Queen dan Nayla merasa sangat tidak nyaman. Jika bukan karena
bujukan papanya, Queen juga tidak mau satu meja dengan Nayla. Dan jika Nayla?
Dia memang tebal mukanya.
Tidak merasa
bersalah, hanya menyalahkan orang lain.
“Pa, Queen sudah kenyang. Mau ke atas dulu, ya Kek.” Wanita itu pun menaiki tangga dan
langsung menuju ke kamarnya. Di sana Queen berusaha menghubungi Al. Namun
panggilannya tidak aktif. Awalnya aktif tapi tidak diangkat. Akhirnya wanita
itu memutuskan untuk mencari Al ke tempat Martin. Tapi, sampai di sana dia juga
tidak menemukannya. Bahkan, kata Martin, si pemilik bar. Suaminya sudah lama
tidak men ungunjungi barnya.
“Kamu mencari suamimu? Kenapa matamu sembab? Apakah ada
masalah?” tanya Martin, ikut khawatir.
“Tidak apa-apa, sejak tadi sore dia pergi. Tapi, aku gak
tahu kemana perginya kupikir dia kemari.”
“Terakhir dia datang kemari waktu itu, saat kau
__ADS_1
menjemputnya. Cerita saja jika kau ada masalah, siapa tahu aku bisa
membantumu.”
“Gak kok, Cuma ada sedikit kesalah pahaman saja, kok,” jawab
Queen. Drngan perasaan kecewa, Akhirnya Queen kembali pulang ke rumah. Lagi
pula ini juga sudah larut, sudah hampir jam Sembilan.
Sesampai di ruh, Queen mendapati suasana sudah sepi, hanya
papanya saja yang terlihat berada di ruang keluarga. Sepertinya dia memang
tengah menunggunya.
“Papa kok belum tidur?” tanya Queen dan berjalan menghampiri
pria paruh baya tersebut.
“Papa menunggumu, Nak. Bagaimana mungkin papa bisa tidur
sedangkan putri papa satu-satunya masih berada di luar sana?”
“Aku mencari Al, Pa. Aku sudah ke apartemen, ke tempat kak
Vico dan juga kak Martin di sana tidak ada, aku bingung harus mencarinya
kemana,” jawab Queen penuh dengan rasa bersalah.
“Kamu tenang saja. Dia pasti baik-baik saja, ia hanya perlu
waktu untk menenangkan pikirannya saja.”
“Kalau dia gak balik dalam waktu dekat gimana, Pa?”
“pasti kembali. Dia itu sangat sayang dan cinta banget sama
kamu, mana mungkin membiarkanmu sendiri terlalu lama? Dia tidak akan sanggup,
sayang.”
“Jika memang sayang sama aku, kenapa Nayla tidak diceraikan?”
jawab Queen sambil manyun.
Mendengar ucapan Queen, Vano hanya tertawa. Ia tahu, kalau
putrinya benar-benar jatuh cinta dengan anak yang selama ini ia angkat dan dibesarkan.
“Ya mana papa tahu, mungkin dia sayang sama kalian berdua.
Kenapa saat bersamanya tidak kau tanbyakan saja langsung? Papa tidak tahu, papa
tidak berani mengompori suamimu untuk menceraikan istri pertamanya,” jawab Vano
sambil tertawa.
Nayla yang sedari tadi menguping pembicaraan Queen dan papa
mertuanya menjadi geram. Sebal, emosi dan juga takut kalau saja Al benar-benar
menceraikannya.
“Anak ini, lama-lama bisa mengancam posisiku. Awas, kau,”
umpat Nayla seorang diri.
Secara perlahan dan sangat hati-hati, Nayla membuka pintu
kamar Queen agar tidak sampai menimbulkan suara. Lalu, dia bersembunyi di balik
pintu.
“Kamu istirahat sana,
jangan terlalu lama begadang!” ujar Vano pada putrinya.
“Iya, Pa. Besok aku tidak kerja pagi. Aku akan temani papa
dan kakek pergi, ya?”
“Baiklah, mungkin besok kakek akan menunjukkan sesuatu
padamu.”
“Apa itu, Pa?” tanya Queen penasaran.
“Tanyakan saja pada kakek. Papa tidak tahu,” jawab Vano
sambil tertawa.
“Ih, Papa… “
“Ini sudah malam, Sayang, kau sekarang tidurlah, jangan
terlalu larut. Itu tidak akan baik untuk kindisi kesehatannmu,” ucap Vano.
“Dih, Papa… “ Ucap Queen dengan raut wajah tidak senang. Padahal
dia sengaja mengulur waktu, agar Nayla yang diam-diam menyusup ke dalam
kamarnya menunggunya lama. Tapi, mungkin tidak apa-apa. Dia masih tidak kehilangan
akal. Ia berjalan ke dapur dengan alasan lapar karena tadi makan malam Cuma sedikit.
Di dapur pun dia juga masih sibuk sendiri dan berbelit-belit mencari sesuatu
yang kiranya bisa di makan. Buah ada, kue ada. Tapi, dia malah menyibukkan diri
membuat salad buah dan sausnya juga bikin sendiri. Padahal yang instan saja
sudah tersedia di kulkas.
Kurang lebih satu jam Queen berada di dapur dan menikmati
saladnya. Lalu, ia pun memutuskan naik ke selama menaiki anak tangga ia menahan tawanya
dan berfikir, mungkin kaki Nayla sudah kesemutan, atau kemungkinan terburuk dia tidur berdiri dan terjepit pintu.
Queen sudah ancang-ancang. dia berpura-pura tidak tahu kalau Nayla ada di dalam kamarnya.
Begitu Ia membuka pintu Nayla langsung menjambak rambutnya dengan sikap pelaku langsung mengunci lengan Nayla dan membentuknya mengarahkan kedua tangan wanita itu ke belakang.
Seketika Nayla langsung meringis kesakitan akibat kedua lengannya diplintir ke belakang oleh Queen.
"Kak, Nay? Apa yang kau lakukan di sini? Ku kira kau penyusup," ucap Queen pura-pura terkejut. Namun, ia tidak mau melepaskan tangan wanita itu.
"Kau sudah tahu, kan ini aku? Lalu kenapa kau tidak melepaskan ku?"
"Tunggu dulu. Apa maksutku kau diam-diam? masuk ke dalam kamarku dan menjambak rambutku dengan keras?"
"Apa yang harus kulakukan pada pelakor sepertimu?" umpat Nayla.
Tapi, Queen tidak mau kalah. Dia sama sekali tidak pernah merebut
Al darinya.
"Aku tidak merebut suamimu, juga suami orang lain. Kenapa kau menyebutku pelakor? hah?"
"Jika kau tidak mau disebut begitu. Ceraikan mas Al."
"Oh, menceraikan? Mana bisa? aku ini perempuan. Kau tahu sendiri dia marah padaku karena aku diam2 meminum pil KB. Nanti, setelah amarahnya reda, dia juga akan kembali padaku."
mendengar jawaban Queen, Nayla kian mendidih saja. Dengan geram ia melayangkan tamparan pada pipi Queen.
Queen yang tidak menyangka, ia hanya diam dan memegangi pipinya.
"Baik, sekarang kau menantang ku, Nay. Mari kita buktikan. siapa yang akan sanggup bertahan tetap jadi istri nya. aku, atau kamu? Jika perlu, kita bikin suami kita memilih salah satu dari kita."
"Baik! Dan jangan dendam jika mas Al lebih memilih aku, Nantinya. Aku akan bikin dia membencimu dan menceraikanmu."
__ADS_1
"Oh, aku akan menunggu masa itu tiba." Queen tersenyum dan mendorong tubuh Nayla keluar dari kamarnya.0