Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 239


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam, Queen menyapa papa dan kakeknya yang


tengah bersantai di ruang keluarga.  Dari


raut wajah mereka, sepertinya ada hal serius yang  tengah di bahas. Merasa lelah dan lengket


ingin segera mandi, wanita itu pun segera naik ke atas.


Usai mandi dan berganti dengan pakaian santai, Queen membuka


laci mengambil pil KB yang setiap hari dia konsumsi selama beberapa bulan ini.


Baru dia memasukan satu pil ke dalam mulut, dan belum sempat meminum air untuk


menelan. Tiba-tiba saja pintu kamarnya sudah terbuka saja.


“Sayang! Kau meninggalkan bungamu,” ucap Al sambil mendekati


wanita itu.


Dengan sedikit gugup dan tergesa-gesa Queen langsung meraih


gelas berisi air outih pada nakanya dan mengambil pil tablet pil KB yang masih


ia letakkan di atas nakas dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.


“Kau sudah mandi? Ayo kita makan malam sekarang!” ajak Al.


“Iya, kamu duluan saja. Nanti aku akan menyusulmu,” jawab


Queen. Wanita itu menerima bunga dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya


masih ia sembunyikan di belakang tubuhnya dan mengenggam sesuatu yang tidak


ingin diketahui oleh suaminya.


Merasa ada yang di sembunyikan oleh istrinya, Al pun nampak


curihga dan melihat wanita itu dengan tatapan penuh selidik.


“Apa yang kau sembunyikan dibalik genggaman tanganmu,


Sayang?”


“Ini bukan apa-apa. Kau bisa keluar dulu. Nanti aku akan


menyusulmu,” jawab Queen dengan senyuma yang dipaksakan.


Al merasa penasaran dan benar-benar ingin tahu. Ia pun


memaksa merebutnya dari tangan Queen untuk melihat. Awalnya, ia berfikir yang


disembunyikan Queen adalah kejutan untuk menyenangkan dirinya nanti malam.


Benar, ia memang terkejut saat berhasil merebebut benda itu dari Queen. Tapi,


bukan kesenangan yang ida dapat. Melainkan rasa kecewa yang sangat mendalam.


Al terpaku mengamati benda yang ada di genggamannya saat


ini. Kemudian ia mengankat wajahnya memandang wajah Queen. Dengan tatapannya


yang menyorot tajam ke dalam mata wanita di hadapannya, ia tunjukkan segala


kekecewaannya.


“Apa ini? Begitu tidak inginnya kah kau memiliki anak


dariku, Queen?”


Queen hanya diam tak mau menjawab, badannya terasa gemetaran


dan takut.


“Kenapa hanya diam? Hah, aku saja yang terlalu bodoh dan


selalu saja terbawa oleh permainanmu. Di matamu, aku tidak lah lebih dari


seorang ********, kan? Makanya, kau tak pernah mencintaiku,” ucap Al sambil


tertawa bodoh menertawai dirinya sendiri dan membanting benda di tangannya di


hadapan Queen.


Queen hanya menunduk dan menitikkan air mata saja. Tak bisa


berkutik.


“Dulu, kau memelukku, dan mengalihkan maksutmu untuk


mengambil pistol yang terselip di pinggangku dengan menggunakan ciuman.


Beruntung aku tidak mengisinya dengan peluru. Jika saja pistol itu terisi, aku


juga sudah mati sejak dulu, kan? Dan bodohnya aku, kenapa masih saja percaya padamu,


apa yang kau rencanakan lagi, Queen?’’ teriak Al dengan nada marah dan emosi


yang tertekan.


“Maafin aku, Al,” lirih Queen sambil terissak.


“Maaf? Untuk apa? Memang kau tidak pernah mencintaiku,


Queen! Buktinya, kau juga tdak pernah mau mengandung anakku, kan? Hal itu sudah


acapkali kau ucapkan! Tapi, bodohnya aku terlalu percaya diri suatu saat kau


akan luluh dan mau mencintaiku. Ternyata itu Cuma sandiwara saja. Hatimu lebih


keras dari batu!” Al menunjjuk pada dada Queen dengan kasar dan berpaling pergi


meninggalkan Queen di dalam kamarnya.


Queen berlari mencegah Al. Ia menangis dan meminta maaf


sambil memegangi tangannya. Tapi, Al yang sudah dikuasai oleh amarah dan


kekecewaan dia mengibaskan tangan Queen dan tetap berjalan menuju pintu yang


sedikit terbuka.


Di sana ada Nayla yang merasa lemas jatuh tersungkur dan


menangis. Bagitu Al berada di depan pintu ia mendapati Nayla di sana, Wanita


itu mendongak dan menjerit keras. Tak percaya dengan apa yang baru saja di


dengarnya langsung dari bibir suaminya.


“Apa maksutmu, Mas kau inginkan anak dari Queen?”


Queen yang melihat Nayla di depan kamarnya pun urung


mengejar Al. Ia hanya membeku di tempatnya.


Mendengar jeritan Nayla, Vano dan kakek Andrean pun naik ke


atas, melihat apa yang terjadi. Sesampainya di sana, mereka berdua disuguhkan


pemandangan Al yang berdiri di antara dua wanita yang tengah sama-sama


menangis. Emosi dan kekecewaannya.


“Kau jelaskan sekarang Mas di depan papa dan kakek. Apa


maksutmu tadi? Kau ingin Queen melahirkan anakmu?”


Taka da raut keterkejutan sama sekali dari wajah dua pria


itu. Ia hanya melohat dan berusaha meredam emosi Al.

__ADS_1


“Sudah tiga bulan lebih aku dan Queen menikah. Dalam


pernikahan itu, aku berharap Queen akan segera hamil dan memberi keturunan


padaku.  Tapi, dia malah meminum pil KB


setiap hari. Ya, aku tahu, kau benci padaku, dan tak akan pernah bisa menerima


apalagi mencintaiku.” Al pun melangkah pergi meninggalkan semua.


“Al, tunggu dulu, dengarkan penjelaskan aku!” seru Queen berlari


mengejar Al.


Awalnya pria itu masih sempat menghentikan langkahnya dan


menolah ke belakang. Sebenarnya ia tidak tega melihat wanita yang dicintainya


menangis seperti itu. Tapi, hatinya sudah terlanjur kecewa. Al kembali


melangkahkan kaki menapakkai anak tangga dan keluar menggunakan mobil entah


kemana.


 “Van, kamu susul


Queen ke bawah!” perintah kakek Andrean kepada putranya. Sedangkan dia


menghampiri Nayla.


Begitu putranya turun. Andrean berjalan menghampiri Nayla.


“Bnagunlah Nayla. Sudah, kamu berusaha tenangkan pikiranmu.”


“Bagaimana aku bisa tenang, Kek? Sementara di belakang tanpa


sepengetahuanku diam-diam suamiku menikahi adik angkatnya,” jawab Nayla sambil


terisak.


“Kau tidak perlu cari pembelaan. Intropeksi diri saja,


kenapa Al bisa lakukan ini padamu? Dan kau juga tidak bisa menyalahkan Queen.


Di sini dia adalah korban, Al menyeretnya pergi di hari pertunangannya dan


melakukan apa padanya kala itu kita tidak tahu. Menikahi Queen pun juga dengan


paksa. Tidak ada solusi selain kalian saling berdamai dan tak saling menyalahkan


satu sama lain.”


Vano mencari Queen dia ada di depan pintu gerbang dan jatuh


tersungkur dan masih menangis. Mungkin tadi dia mencoba menahan mobil Al sampai


terjatuh dan terseret. Sebab, Vano mendapati baju putrinya kotor dan banyak


luka di lutu dan juga betisnya.


“Sayang. Sudah, bangunlah! Ayo kita masuk!” seru Vano sambil


membantu putrinya berdiri.


“Pah, Al marah sama aku. Dia kecewa sama aku.”


“Beri dia waktu untuk menenangkan pikirannya. Wajar jika dia


kecewa, karena dia sudah berharap banyak padamu.” Vano menenangkan Queen sambil


memeluknya


“Apakah Papa tidak marah aku diam-diam menikah dengan kak


Al?” tanya Queen, masih sesenggukan.


“Kalau kalian saling mencintai, kenapa harus marah?”


“Sekarang kamu hanya perlu menunggu Al, meminta maaflah dan


jelaskan padanya secara perlahan agar dia mengerti. Memang kenapa kamu


harus  minum pil KB diam-diam? Apakah


kamu belum siap memiliki anak? Apakah keguguran itu membuatmu trauma?”


Queen hanya diam. Tak berani menjawab. Krena pada


kenyataannya bukan itu alasan dirinya.


“Maafin aku, Pah. Queen ragu memiliki anak darinya. Dia


pembunuh, dia banyak membunuh orang. Bagaimana nasib anakku jika memiliki ayah


yang seperti itu?”


Vano Cuma diam tidak menjawab, yang ia tahu dari jawaban


Queen saat ini adalah Queen mencintai Al tapi, tak ingin anak mereka terkena


imbas dari apa yang Al perbuat dulu. Namun, Vano juga tak bisa menyalahkan Al


sepenuhnya. Dia memang bekerja di duania hitam dan telah di latih sebagai


pemimpin oleh mendian papa kandungnya selama di Jepang dulu. Jika lawan tidak


dibunuh, memang akan menyerang lagi di kemudian hari dengan perancaan yang


lebih matang.


Apakah dia masih seperti itu?”


“Tidak, Pah. Tapi, aku takut jika karma itu akan mengenai anak-anakku nanti.”


“Sudah, ayo kita masuk, kita makan malam dulu, dan kamu


segeralah istirahat, Oke?” bjuk Vano.


Di meja makan yang biasanya penuh dengan kehangatan kini


sungguh membuat Queen dan Nayla merasa sangat tidak nyaman. Jika bukan karena


bujukan papanya, Queen juga tidak mau satu meja dengan Nayla. Dan jika Nayla?


Dia memang tebal mukanya.


 Tidak merasa


bersalah, hanya menyalahkan orang lain.


“Pa, Queen sudah kenyang. Mau ke atas dulu,  ya Kek.” Wanita itu pun menaiki tangga dan


langsung menuju ke kamarnya. Di sana Queen berusaha menghubungi Al. Namun


panggilannya tidak aktif. Awalnya aktif tapi tidak diangkat. Akhirnya wanita


itu memutuskan untuk mencari Al ke tempat Martin. Tapi, sampai di sana dia juga


tidak menemukannya. Bahkan, kata Martin, si pemilik bar. Suaminya sudah lama


tidak men ungunjungi barnya.


“Kamu mencari suamimu? Kenapa matamu sembab? Apakah ada


masalah?” tanya Martin, ikut khawatir.


“Tidak apa-apa, sejak tadi sore dia pergi. Tapi, aku gak


tahu kemana perginya kupikir dia kemari.”


“Terakhir dia datang kemari waktu itu, saat kau

__ADS_1


menjemputnya. Cerita saja jika kau ada masalah, siapa tahu aku bisa


membantumu.”


“Gak kok, Cuma ada sedikit kesalah pahaman saja, kok,” jawab


Queen. Drngan perasaan kecewa, Akhirnya Queen kembali pulang ke rumah. Lagi


pula ini juga sudah larut, sudah hampir jam Sembilan.


Sesampai di ruh, Queen mendapati suasana sudah sepi, hanya


papanya saja yang terlihat berada di ruang keluarga. Sepertinya dia memang


tengah menunggunya.


“Papa kok belum tidur?” tanya Queen dan berjalan menghampiri


pria paruh baya tersebut.


“Papa menunggumu, Nak. Bagaimana mungkin papa bisa tidur


sedangkan putri papa satu-satunya masih berada di luar sana?”


“Aku mencari Al, Pa. Aku sudah ke apartemen, ke tempat kak


Vico dan juga kak Martin di sana tidak ada, aku bingung harus mencarinya


kemana,” jawab Queen penuh dengan rasa bersalah.


“Kamu tenang saja. Dia pasti baik-baik saja, ia hanya perlu


waktu untk menenangkan pikirannya saja.”


“Kalau dia gak balik dalam waktu dekat gimana, Pa?”


“pasti kembali. Dia itu sangat sayang dan cinta banget sama


kamu, mana mungkin membiarkanmu sendiri terlalu lama? Dia tidak akan sanggup,


sayang.”


“Jika memang sayang sama aku, kenapa Nayla tidak diceraikan?”


jawab Queen sambil manyun.


Mendengar ucapan Queen, Vano hanya tertawa. Ia tahu, kalau


putrinya benar-benar jatuh cinta dengan anak yang selama ini ia angkat dan dibesarkan.


“Ya mana papa tahu, mungkin dia sayang sama kalian berdua.


Kenapa saat bersamanya tidak kau tanbyakan saja langsung? Papa tidak tahu, papa


tidak berani mengompori suamimu untuk menceraikan istri pertamanya,” jawab Vano


sambil tertawa.


Nayla yang sedari tadi menguping pembicaraan Queen dan papa


mertuanya menjadi geram. Sebal, emosi dan juga takut kalau saja Al benar-benar


menceraikannya.


“Anak ini, lama-lama bisa mengancam posisiku. Awas, kau,”


umpat Nayla seorang diri.


Secara perlahan dan sangat hati-hati, Nayla membuka pintu


kamar Queen agar tidak sampai menimbulkan suara. Lalu, dia bersembunyi di balik


pintu.


 “Kamu istirahat sana,


jangan terlalu lama begadang!” ujar Vano pada putrinya.


“Iya, Pa. Besok aku tidak kerja pagi. Aku akan temani papa


dan kakek pergi, ya?”


“Baiklah, mungkin besok kakek akan menunjukkan sesuatu


padamu.”


“Apa itu, Pa?” tanya Queen penasaran.


“Tanyakan saja pada kakek. Papa tidak tahu,” jawab Vano


sambil tertawa.


“Ih, Papa… “


“Ini sudah malam, Sayang, kau sekarang tidurlah, jangan


terlalu larut. Itu tidak akan baik untuk kindisi kesehatannmu,” ucap Vano.


“Dih, Papa… “ Ucap Queen dengan raut wajah tidak senang. Padahal


dia sengaja mengulur waktu, agar Nayla yang diam-diam menyusup ke dalam


kamarnya menunggunya lama. Tapi, mungkin tidak apa-apa. Dia masih tidak kehilangan


akal. Ia berjalan ke dapur dengan alasan lapar karena tadi makan malam Cuma sedikit.


Di dapur pun dia juga masih sibuk sendiri dan berbelit-belit mencari sesuatu


yang kiranya bisa di makan. Buah ada, kue ada. Tapi, dia malah menyibukkan diri


membuat salad buah dan sausnya juga bikin sendiri. Padahal yang instan saja


sudah tersedia di kulkas.


Kurang lebih satu jam Queen berada di dapur dan menikmati


saladnya. Lalu, ia pun memutuskan naik ke  selama menaiki anak tangga ia menahan tawanya


dan berfikir, mungkin kaki Nayla sudah kesemutan, atau kemungkinan terburuk dia tidur berdiri dan terjepit pintu.


Queen sudah ancang-ancang. dia berpura-pura tidak tahu kalau Nayla ada di dalam kamarnya.


Begitu Ia membuka pintu Nayla langsung menjambak rambutnya dengan sikap pelaku langsung mengunci lengan Nayla dan membentuknya mengarahkan kedua tangan wanita itu ke belakang.


Seketika Nayla langsung meringis kesakitan akibat kedua lengannya diplintir ke belakang oleh Queen.


"Kak, Nay? Apa yang kau lakukan di sini? Ku kira kau penyusup," ucap Queen pura-pura terkejut. Namun, ia tidak mau melepaskan tangan wanita itu.


"Kau sudah tahu, kan ini aku? Lalu kenapa kau tidak melepaskan ku?"


"Tunggu dulu. Apa maksutku kau diam-diam? masuk ke dalam kamarku dan menjambak rambutku dengan keras?"


"Apa yang harus kulakukan pada pelakor sepertimu?" umpat Nayla.


Tapi, Queen tidak mau kalah. Dia sama sekali tidak pernah merebut


Al darinya.


"Aku tidak merebut suamimu, juga suami orang lain. Kenapa kau menyebutku pelakor? hah?"


"Jika kau tidak mau disebut begitu. Ceraikan mas Al."


"Oh, menceraikan? Mana bisa? aku ini perempuan. Kau tahu sendiri dia marah padaku karena aku diam2 meminum pil KB. Nanti, setelah amarahnya reda, dia juga akan kembali padaku."


mendengar jawaban Queen, Nayla kian mendidih saja. Dengan geram ia melayangkan tamparan pada pipi Queen.


Queen yang tidak menyangka, ia hanya diam dan memegangi pipinya.


"Baik, sekarang kau menantang ku, Nay. Mari kita buktikan. siapa yang akan sanggup bertahan tetap jadi istri nya. aku, atau kamu? Jika perlu, kita bikin suami kita memilih salah satu dari kita."


"Baik! Dan jangan dendam jika mas Al lebih memilih aku, Nantinya. Aku akan bikin dia membencimu dan menceraikanmu."

__ADS_1


"Oh, aku akan menunggu masa itu tiba." Queen tersenyum dan mendorong tubuh Nayla keluar dari kamarnya.0


__ADS_2