
Setelah satu jam menunggu di depan rumah Diaz, Al berfikir untuk menelfon dokter muda itu. Entah, pria itu yang belum tidur atau
kebetulan terbangun. Sebab, tidak menunggu lama ketika panggilan Al tersambung
Diaz langungnmengangkat panggilannya.
“Halo. Kak Al. Ada apa malam-malam begini
telfon?” Diaz pun juga merasa ada yang aneh, sebab tidak biasa Al menelfonnya
malam-malam begini. Dan ini pun juga yang pertama kali.
“Kamu di mana?”
“Aku ada di rumah umik, Kak. Di Bandung. Ada apa, kak?”
Al tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung
begitu saja mematikan panggilannya dan segera mengidupkan mesin mobilnya. Malam
ini juga ia memutuskan pergi ke Bandung untuk menyusul Queen.
Dalam kondisi lelah dan pikiran juga
kemana-mana Al tentu saja tidak dapat berfikir jernih. Kalau pun mereka ingin
ke Bandung pastilah berangkat pagi dan Diaz mengizinkan Queen kepadanya dan
juga keakek seperti biasa. Tapi, Al yang sudah tidak waras tidak dapat lagi
berfikir demikian, dengan cepat ia melajukan mobilnya. Jarak tempuh yang biasa ditempuh
selama dua jam kini hanya ia tempuh tidak sampai satu jam.
Saat itu, Diaz terjaga, tidurnya tidak
nyenyak, tiba-tiba kawatir dengan Queen. Sebab, jika tidak, kenapa kak Al
menelfonnya malam-malam begini? Diaz pun meraih ponselnya, berusaha menflon
Queen dan memastikan kalau dia baik-baik saja. Namun nomor hp Queen tidak
aktif. Pria itu berusaha berfikir positif, mungkin kekasihnya itu kelelahan dan
tidur, jadi ponselnya off.
Baru saja ia meletakkan ponselnya, tiba-tiba
saja bel rumahnya berbunyi. “Siapa malam-malam begini datang ke rumah? Hah…. Semoga saja bukan orang sakit aneh-aneh yang minta priksa,’’ gumam Diaz, seraya
berjalan keluar dan menyalakan lampu ruang tamu yang telah dimatikan saat tak
lagi ada aktifitas di sana.
Sedangkan bell terus berbunti, Diaz semakin
panik dan takut, ia berharap, jika saja itu tetangga sekitar rumah yang datang,
semoga saja hanya demam biasa, karena setiap ia pulang kampung ia tidak pernah
membawa obat yang macam-macam selain obat penyakuit ringan, seperti obat flu,
batuk, antibiotic dan peradangan itu saja.
“Iya, sebentar!’’ seru Diaz, kwatir bell
itu mengganggu umiknya yang tengah bermunajah di 1/3 malam. Begitu dokter muda itu membuka pintu rumah, ia dikejutkan oleh seorang laki-laki di depan pintu
yang tiba-tiba saja menarik krah bajunya dan mendorongnya ke dalam sampai punggungnya menabrak dinging.
“Di mana kau sembunyikan adikku?” tanyanya,
dengan suara penuh penekanan dan emosi yang ditahan-tahan.
“Aku tidak tahu, Kak, semenjak pulang dari
rumah kalian aku mematikan ponselku, dan baru tadi sore, kami berbicara
melalui… ‘’ Belum sempat Diaz meneruskan kalimatnya Al malah meniju wajah itu.
“Aku tidak percaya, cepat suruh dia keluar
dan biarkan dia ikut pulang denganku!” bentak Al. “atau, aku akan menggledah tempat ini,’’
imbuh pria itu dengan raut wajah yang kian murka.
__ADS_1
“Boleh saja jika ini tempat tinggal
pribadiku, tapi ni rumah umikku, dan juga ada adik perempuanku. Ini juga
terlalu dini kau datang untuk mara-marah, Kak. Duduklah dulu, kita bicarakan bersama,” ucap Diaz dengan suara berat karena Al kian kencang mencekik lehernya.
Mendengar seperti ada keributan di luar,
Umik Halimah yang te gah melakukan sholat malam pun jadi terganggu, buru-buru
ia menyelesaikan witirnya lalu melihat ke depan kira-kira apa yang terjadi.
Begitu wanita paruh baya itu tiba diruang
tamu, ia terkejut mendapati putranya dengan pipi memar dan darah yang keluar
dari hidung dan sudut bibirnya. Sementara Al sudat tidak ada di tempat, jadi
Umik halimah tidak tahu siapa yang melakukan hal tersebut kepada putranya.
“Masyaallah, Diaz! Apa yang terjadi padamu,
Nak?” teriak Umik, histeris.Teriak Umik histeris. Pandangan wanita paruh baya tersebut langsung tertuju ke arah pintu yang sudah terbuka lebar, namun tidak ada siapapun di halaman, selain mobil putranya yang terparkir di sana.
“Umik, Diaz harus segera kembali Jakarta saat ini juga. Queen tiba-tiba saja menghilang dan nomor telfonnya juga tidak aktif.” Pria itu pun bergegas ke dalam kamar, tak lama kemudian, ia pun keluar dan sudah berganti pakaian kaus hitam berkerah dan celana jeans Panjang serta tas ransel yang ia cangklong di pundak kanannya.
“Nak, siapa yang memukulmu barusan? Dan bagaimana kau tahu kalua Queen hilang?”
Diaz hanya tersenyum dan meraih tangan kanan umiknya lalu menciumnya beberapa kali. “Barusan ada orang telfon, umik. Doakan Diaz agar segera menemukan Queen, ya Mik. Dan jangan lupa doakan semoga dia tidak kenapa-napa,” ucap Diaz, lalu bergegas keluar setelah bersalaman dan mencium tangan kanan umiknya sebanyak tiga kali.
“Iya, Nak, ia. Umik doakan semoga segera ketemu dan kalian baik-baik saja.” Umik Halimah pun mengantar putranya sampai depan pintu. Begitu mobil putranya sudah tak lagi Nampak dari pandangan, ibu dari dua anak itu pun kembali masuk dan duduk di ruang tamTidak ada hentinya ia mencemaskan dan mendoakan putranya agar tidak terjadi hal buruk terjadi padanya. Namun tak dapat dipungkiri, ia pun sebenarnya juga penasaran, kira-kira siapa yang datang dan memukul Diaz sampai seperti itu? Apakah Diaz punya musuh atau saingan?
🍁🍁🍁🍁
Malam itu, Aditya menikmati malamnya di sebuah bar, ia menikmati rokok yang ada di tangannya dan sesekali menyesab wine yang ada di dalam genggamannya itu sambal menikmati irama music yang mellow dari bar tersebut.
Sesaat kemudian, ia mengalihkan pndangan dari gelas wine dan asap rokoknya ke sebuah sudut bar di mana ada beberapa pria yang berkumpul membentuk lingkaran dan disanding oleh satu bahkan sampai tiga wanita cantik dan sexy di setiap pria. Mereka tengah asik memainkan kartu dan minum, serta memamerkan, betapa kayanya mereka yang dapat dilihat dari berapa besar uang yang digunakan bertaruh dalam permainan kartu dan berapa besar yang diberikan pada wanita di samping mereka.
Aditya tersenyum kecut melihat mereka yang lebih suka menikmati wanita malam di mana satu wanita sudah dipakai oleh beberapa pria dalam duapuluh empat jam. Aditya tak pernah tertarik dengan wanita seperti itu, yang ia tahu hanya Novita yang dulu pernah menjadi istrinya, dan kini ia sangat teropsesi pada Queen, hingga menjadikan ia hilang kendali dan gila layaknya psyco yang rela melakukan apapun demi ambisinya.
Saat ia mengamati kehidupan malam, ia mendengar lantunan lagu dari dalam sakunya, ternyata ada sebuah panggilan masuk. Buru-buru ia meraih dan melihat siapa yang menelfonnya. Bibirnya membentuk senyuman namun ia tak segera menjawab panggilan itu, melainkan membiarkan hingga panggilan itu mati dengan sendirinya tak terjawab. Barulah ia melihat isi pesan chat yang dikirim orang yang baru saja menelfonnya terlebih dahulu.
Di sana ia melihat foto wanita yang ia cintai dalam keadaan tak sadarkan diri dan terikat duduk di sebuah kursi dengan tulisan, jika kau tak percaya, aku bias vieo call langsung.
Aditya tidak membalas isi pesan itu, melainkan ia langsung memanggilnya melalui panggilan seluler.
“Tadi aku membekapnya saat ia hendak menyebrang dari depan rumah sakit. Tapi ini dia kok belum sadar?” tanya Jevin, rada panik.
“Kau memberikan biusnya sesuai petunjukku, bukan? Tidak apa-apa. Nanti dia juga sadar sekitar jam enam pagi,dan nanti sebelum aku ke kampus, aku akan memastikan dia dulu benar-benar ada bersamamu atau tidak.”
“Baiklah, terserah dokter Aditya saja,” jawab Jevin.
“Perlu kau ingat, jangan berani-beraninya kau sampai menyentuhnya.” Ucap Adit dengan nata penuh penekanan dan mengancam.
“Untuk apa aku menyentuhnya? Ayolah, jika saja aku menginginkan dia, mana mungkin aku bekerja sama dengan mu? Dia bukanlah seleraku.’’ Rupanya Jevin telah gagal paham dengan apa yang dimaksud Aditya.
Aditya menyeringai dan tertawa kecil lalu berkata, “Siapa yang mengira kau tertarik dengan wanitaku? Aku justru melihat kebencian di matamu, kau ingin mencelakai dia, salah apa dia sama kamu sebenarnya? Hah, tidak usah dijawab, tidak penting juga, yang penting aku akan selalu melindungi wanitaku dan melakukan apapun pada siapa saja yang berani menyakitinya.”
Setelah mengatakan itu, Aditya pun mematikan panggilannya lalu bergegas meninggalkan bar, ia ingin segera pulang ke rumahnya.
Tiba di rumahnya, ia pun segera masuk ke dalam kamar di mana kamar itu dulunya ia tempati Bersama Novita. Namun, setelah Novita pergi, yang di sana adalah sebuah boneka sex dengan tinggi badan sekitar 160cm dengan wajah yang begitu mirip dengan dengan Qeen.
“Sayang, apa kabar? Apakah sudah lama kau menungguku? Maafkan aku, malam ini tidak akan mengajakmu bermain, aku harus segera beristirahat, dan kurasa ini sudah saatnya kau turun bersama teman-temanmu, di ruang bawah tanah.” Pria itu pun menggendong boneka besar itu yang mampu berkedip dan mengeluarkan desahan menggoda, membawanya keluar kamar, dan meletakkan di lantai dapur, ia pun membuka pintu rahasia yang ada di bawah karpet lurus dengan tempat makannya.
Begitu ia berhasil membuka pintu rahasia itu, ia pun membawa serta boneka itu masuk ke dalamnya. Di mana ia menyimpan seribu rahasia tentang dirinya selama setahun terakhir ini.
“Tuan, siapa, kau? Lepaskan aku.”
“Lepaskan aku, Brengsek!”
Aditya tersenyum mendengar banyak umpatan untuknya, lalu berbisik pada boneka tak bernyawa dalam gendongannya yang selama ini selalu dia anggap hidup, “Sayang, mereka adalah wanita yang bukan spesial, namun menjengkelkan dan cenderung membenciku, makannya nasibnya seperti itu. Kau lihat, di sana ada lemari, di dalamnya ada banyak potongan tubuh yang tak lama lagi akan penuh terisi dari tubuh mereka yang mengataiku brengsek dan minta dilepaskan.”
🍁🍁🍁🍁
Dengan perasaan emosi, ingin marah dan tak keruan Al akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Wajahnya terlihat lesu dan Lelah serta lingkar hitam di bawah matanya menunjukan kalau ia sama sekali belum tidur selama duapuluh empat jam. Ditambah perjalanan PP Jakarta Bandung selama semalam.
“Dari mana saja kau Al, jam segini baru saja pulang?” tanya kakek Andrean ketika baru jam setengah enam mendapati cucunya baru saja tiba.
Al bingung harus menjawab apa pada kakeknya, ia pun lebih memilih untuk diam saja.
“Kau dari mana saja semalam?’’ tanya kakek Andrean, sekali lagi.
Al pun duduk di sebelah sang kakek yang tengah menikmati secangkir kopi, ia mengusap wajah letih-nya dengan kedua telapak tangannya berulangkali, lalu menjawab, “Kemarin sore pulang dari kantor Queen minta antar langsung ke rumah sakit, Kek. Dia bilang selesai prakteknya jam setengah sebelas. Tapi, jam sepuluh lewat lima menit Al sudah tiba di sana.”
“Terus?” tanya Andrean dengan tenang sambil menyeruput kopinya yang sudah tersaji sejak duapuluh menit lalu.
__ADS_1
"Al nunggu lama banget sampai hampir jam sebelas, karena kupikir ia masih ada sesuatu yang perlu dikerjakan di sana. Tapi, saat kutelfon tidak aktif, Al putuskan turun dari mobil dan bertanya pada security, katanya Queen sudah keluar sejak jam sepuluh. Dan dia tidak ketemu, kek.”
“Apa? Bagaimana bisa?” tanya kakek Andrean terkejut. Beruntung pria tua itu tak memiliki riwayat penyakit jantung. Jika saja ada, hmmm entahlah.
‘tenang, dulu, Kek. Ini Al juga sudah berusaha, saat itu juga aku berusaha menyusuri jalan dan ke apartemen. Tapi, kosong. Bahkan aku sempat ke kontrakan Diaz, ternyata Diaz ada di Bandung, sudah kupastikan Queen ikut ke Bandung atau tidak ternyata tidak ada.” Al menunduk merasa bersalah. Rasanya ia tak lagi punya muka berada di depan pria yang juga menerimanya sebagai cucu ini.
Andrean berusaha tenang dan meski khawatir, ia tidak menyalahkan Al sedikit pun, Tapi, siapa yang sampai beraninya menculik cucunya? Tidak tahukah Queen itu adiknya siapa?
“Al, kau istirahat saja dulu, kau terlalu Lelah. Ini tidak baik untuk kondisi kesehatan mu,” ujar kakek Andrean sambil menepuk pundak cucunya.
“Tapi, Kek… ‘’
“Sudahlah, duapuluh empat jam jika dia tidak kembali, kita bisa lapor polisi,” jawab pria tua itu berlagak tenang. Begitu ia sudah memastikan kalua Al cucunya sudah naik ke lantai atas dan terdengar suara pintu terbuka dan ditutup kasar, barulah ia beranjak dari tempat ia menikmati kopi sambil bersantai itu dengan melajukan kursi rodanya dengan kedua tangan.
Di dalam kamarnya, barulah kakek Andrean buru-buru mengambil gawainya. Karena Al tadi bilang kalau Queen tidak Bersama Diaz, orang pertama yang ia hubungi adalah Gea. Barulah setelah itu ia menelfon Diaz, dan ternyata pria itu sudah dekat dengan rumahnya.
“Halo, kek. Apakah Queen sudah ditemukan?”
“Tidak, Diaz, belum. Kau ada di mana sekarang?”
“Ini saya sudah ada di depan pagar, Kek. Semalam kak Al kerumah, setelah dia pergi saya menyusulnya.”
Andrean terkejut mendapati luka lebam di wajah Diaz seperti bekas pukulan keras. Ia sudah menebak, siapa pelakunya.
“Diaz, apakah Al yang memukulmu?”
“Tidak, Kek. Aku Cuma jatuh saja, bagaimana ini Kek? Apa saya coba menghubungi teman-teman Queen yang saya tahu, ya?’’ usul Diaz.
“Siapa, Diaz?’’
“Ada, teman SMA-nya dulu, Kek, Sinta kalau tidak salah, dia dulu satu kampus hanya saja ambil jurusan perawat.”
Andrean hanya mengangguk mengiyakan, sebab, dengan kondisinya yang hanya bisa di atas kursi roda tidak memungkinkan bisa bergerak bebas, sekalipun ia hanya berpura-pura. Cuma, jalan pun juga tidak bisa maksimal.
Al saat tiba di kamar langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, tak peduli dengan Nayla yang tengah sibuk membantu Bilqis menyiapkan keperluan untuk sekolahnya.
Ia diam sejenak, mengabaikan sapaan bocah kecil itu serta pertanyaan mamanya yang menanyakan baru dari mana saja dirinya. Tiba-tiba saja ia teringat tentang tiga orang yang secara kusus mengawasi Queen secara diam-diam itu. Harusnya mereka tahu dan kenapa hanya diam saja?
Dengan cepat dan sedikit terburu-buru Al mengeluarkan ponselnya untuk menelfon salah satu dari mereka.
“Halo, kau tahu di mana Queen berada sekarang?” tanya Al dengan nada dingin dan datar.
“Tidak tahu, Bos. Ada apa menanyakan nona Queen?” ucap pria itu, malah balik bertanya ,membuat darah Al terasa mendidih.
“Di mana kau dan dua orang temanmu?’’
“Ka.. kami ada di base camp, Bos.” Jawab pria itu mulai merasa ada firasat buruk, samapai-sampai ia tergagap saat menjawabnya.
Begitu mematikan panggilan itu, dan masih dengan penampilan yang sama, ia segera bergegas pergi ke base camp. Nayla tersenyum saat melihat suaminya Nampak panik. Sekalipun Al tidak mengatakan apapun, ia tahu kalua ia mencemaskan Queen.
“Sampai kapan pun, kau tidak akan dapat menemukan dia, mas. Anak buahmu yang kau suruh itu tidak tahu apa-apa tentang adik kesayanganmu itu. Nikmati saja kesibukanmu, agar aku punya lebih banyak waktu dengan Jevin,” gumam nayla, lirih.
Tiba di base camp. Al bertanya lagi pada mereka bertiga, kenapa tiba-tiba mereka menghentikan pengawasan dan sejak kapan.
“Nyonya Nayla yang menyuruh kami agar berhenti mengawasinya,” jawab salah satu dari mereka dengan kepala tertunduk, sambil terbata-bata.
“Atas dasar apa, dia berani memerintah kalian? Dan kalian juga, kenapa menuruti dia? Siapa yang membayar kalian?” bentak Al.
Taka da jawaban dari mereka bertiga, karena emosi, Al menampar dan memukuli mereka satu persatu sebagai luapan emosi dan kekecewaannya. Puas memukul tiga anak buahnya yang ia anggap tidak baik dalam mengerjakan tugas, ia pun kembali pulang kerumah. Sesampainya di sana ia berteriak-teriak memanggil nama Nayla. Tapi, tak ada jawaban darinya selain kakek dan bik Yul, pengurus rumah yang Nampak tergopoh menemui Al yang berteriak seperti orang kesetanan saja.
“Al, kenapa kau berteriak-teriak? Bukankah kakek minta kamu untuk tidur saja tadi? Kenapa malah pergi dan dari mana saja kau?”
“Di mana Nayla, Kek?” Bahkan, sedikit pun topik Al tidak dapat teralihkan.
“Non Nayla pergi mengantar non Bilqis, Den Al,” jawan bik Yul, Ia pun juga terkejut, sebab, baru pertama kali ini ia melihat Al, sosok yang tenang itu bisa marah sebesar itu.
“Sudah jam berapa ini? Ini sudah jam Sembilan lewat. Bilqis harus tiba di sana setengah tujuh. kemana saja wanita liar itu pergi?” teriak Al, hendak beranjak pergi. Tapi, dengan cepat kakek Andrean berhasil menahannya.
“Lihat penampilanmu seperti itu, mandilah dulu dan makan, nanti Nayla juga akan pulang.”
Kali ini Al menuruti perintah kakeknya, selain yang dikatakan kakeknya benar, ia pun juga merasa lelah dan mengantuk, selain selalu semalam sama sekali tidak tidur, ia juga kurang istirahat akhir-akhir ini.
🍁🍁🍁
Usai mengantarkan Bilqis, Nayla segera pergi menemui Jevin. Ia yang sebelumnya merasa senang karena bisa akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan pada Queen. Tapi, kesenangan itu berubah menjadi kecewa, sebab, Jevin melarangnya dan memberitahukan alasannya kalau Aditya sekali lagi sudah memperingatkan.
“Baiklah. Kamu, kan yang dilarang menyentuhnya? Kalau begitu, cukup katakana saja kalau aku yang melakukannya,” jawab wanita itu dengan angkuh dan penuh kebencian.
“Nay, jangan gegabah, pelan-kan suaramu! Apa kau pikir baik jika Queen mengetahui dalang di balik penculikan dirinya adalah kita? Walau pun dia tidak tahu hubungan kita selama ini apa dia tidak akan berfikir jauh? Dia itu wanita cerdas, Nay.”
“Lalu, maksutmu aku ini bodoh?” teriak Nayla tidak terima.
“Bukan begitu, pikirkan saja, jika kita berdua muncul, untuk apa tiba-tiba kita dekat kalua tidak ada sesuatu sebelumnya? Kau dulu sering ke kantor membawakan makan siang pada Al dan sekarang tidak. Jika saja salah satu dari kita yang muncul di hadapan dia, maka tamatlah kita. Jika itu aku, aku bisa dipecat Al, apalagi kalua sampai kamu, pikirkan nasib putrimu, Nay!”
Wanita itu pun diam. Dalam hati membenarkan apa yang baru saja kekasih gelapnya katakana.
__ADS_1
“prok…proook… prook.”
Dua orang itu menoleh saat mendengar ada seseorang bertepuk tangan di belakang mereka