Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
41 (Ayah pengganti)


__ADS_3

"Lihat deh, Van. Dia sangat mirip sepertimu, ya?" ucap Clara bahagia saat menggendong putrinya.



"Iya, tapi hidungnya sama seperti hidungmu." Vano menyentil hidung Clara di sampingnya.



"Mau kasih nama siapa putri kita?" tanya Clara sambil memandang Vano.



"Quenza," ucap Vano.



Clara menautkan kedua alisnya sambil menatap Vano, bibirnya membentuk sedikit senyuman.



"Kenapa Quenza, Sayang?"



"Quen adalah ratu, dengan nama itu kuharap putri kita kelak bisa menjadi wanita cantik dan kuat seperti seorang ratu," jawab Vano sambil mencium pipi Clara.



"Iya, nama yang bagu, Sayang."



"Kau setuju?"



Clara mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vano.



"Sepertinya ada tamu, baik-baik di sini sama Quen, ya?" Vano pun beranjak keluar melihat siapa yang datang setelah mendengar bell berbunyi.



"Vano, Clara mana?" ucap dua gadis di depan pintu begitu di buka, mereka langsung nyelonong tanpa dipersilahkan.



"Dia ada di kamar, sama Quen."



"Oh, nama yang cantik. Pasti dia cantik seperti Clara, ya?" ucap Selly.



"Kamu ini bagaimana? Istrinya lahiran kok gak kasih kabar sih, Van?" sahut Eren, keduanya menuju kamar Clara.



Sementara Vano, ia ke dapur mengambilkan minuman untuk kedua tamunya.



"Clara! Ya ampun kamu dah jadi ibu sekarang, selamat, ya!" ucap Selly dan Eren memeluk dan mencium kedua pipi Clara secara bergantian.



"Wah, cantik ya anak kamu, tapi kok kaya Vano, ya?" Eren berkerut kening sambil memasang muka jenaka begitu melihat Quenza.



"Emang dia bapaknya keles," ucap Selly. "Coba aku gendong dia, Ra. Boleh?" Dengan hati-hati


Selly menganbil Quen dari pangkuan mamaya.



"Eren, Selly ini kalaian minum dulu," ucap Vano dari luar dengan nampan berisi dua jus jeruk dan beberapa kudapan.



"Waaah, jadi merepotkan pak direktur. Bawa-bawa nampan segala," goda Eren sambil tertawa.



"Loh, seminggu ini dia yang rawat aku lo, ambilin makan, nyuapin, gimana sih kalian," ucap Clara tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.



"Ini yang Quen anaknya, apa mamanya, sih? Jadi ngiri." Eren tertawa riang.



"Ya jangan ngiri donk, gimana sama Hans, serius gak kamu?" sahut Vano dengan santai dan duduk berseberangan dengan ketiga wanita di hadapannya. Tiga? Empat kali ua, kan Quen juga wanita bayi.



"Ya serius dong! Mana berani aku mainin kakaknya Clara."


__ADS_1


Sementara Selly masih asik menggendong baby Quen sambil mengayun-ayunkan serta menepuk lembut pantatnya.



"Sssttt dia dah bobok." lirih Selly, dengan perlahan menidurkan baby Quen pada box.



"Dih, kamu bakat banget sih nidurin bayi," ucap Eren sambil memberi tatapan kagum pada Selly.



"Aku sebulan sekali kan selalu mendatangi beberapa panti buat kasih sumbangan, wajar donk. Kan aku juga ikut bantu rawat mereka," jawab Selly tenang.



"Oh, iya kalian tidak mau berbagi kebahagiaan apa, kita kalau Lusi bilang tidak tahu kamu dah lahiran, Ra," ucap Selly begitu duduk di sebelah Clara.



"Maaf, gak kepikiran, waktu itu kami bener-bener panik, usia kandungan aja baru tujuh bulan, kan?" jawan Clara.



"Iya juga, ya. Lusi saja juga ikut panik, apalagi kalian." Eren menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


************



Vano menyeruput secangkir kopi hangat di depannya yang baru beberapa menit lalu disajikan untuknya.



Ia melihat seluruh pemandangan rumah yang mungkin baru pertama kali ini, tapi sudah merasa akrab.



Cukup lama dia diam, matanya tertuju pada kolam ikan koi dengan tanaman bunga-bunga di pinggirannya serta air mancur yang membuat taman itu semakin cantik.



Entah sudah brapa lama, seorang pria paruh baya tahu-tahu sudah duduk di sebelahnya.



"Ayah, sejak kapan di sini?" sapa Vano, kikuk.



"Kamu kenapa? Bagaimana kondisi Quen dan Clara?" ucap pria itu sambil tersenyum simpul.




"Van, boleh Ayah cerita tetang masa lalu ayah saat kita masih bersama?"



"Boleh, Yah. Silahkan."



"Kamu mau mendengarnya?" Andreas menatap serius wajah Vano.



"Kenapa tidak?" jawab Vano meyakinkan.



"Dulu saat kau kecil, kau bercita-cita ingin menjadi pilot dan keliling duni. Kau sangat antusias mengantar ayah ke bandara dan selalu berkata .... " ucap Andreas mengingat tiap klise kejadiam 23tahun silam dan menceritakan semua pada Vano.



"Ayah, kelak kalau aku sudah dewasa dan setinggi Ayah, Vano akan jadi pilot hebat dan mengelilingi seluruh dunia dengan pesawat jet pribadiku," ucap Vano kecil penuh semangat.



"Harus itu, kamu harus bisa lebih hebat dari Ayah, ok?" Andreas tersenyum sambil memberi isyarat tos pada putra kecilnya.



Selama Andreas kembali setelah ambil beberapa hari cuti Vano biasanya selalu tenang-tenang saja. Kata-kata menjadi pilot hebat acap kali ia ucapkan tanpa bosan.



Tapi, berbeda dengan saat itu, Vano kecil menangis sejadi-jadinya meminta sang ayah untuk tinggal di rumah.



"Vano, Ayah harus kerja, Ok. Nanti jika Ayah pulang akan membawakanmu mainan pesawat yang sangat besar," tukas Andreas.



"Tapi jika tidak? Apa yang mau ayah bawa? tidak, Vano tidak mau apa-apa. Vano cuma mau ayah," rengek Vano kecil sambil terus memegangi kaki Andreas.



Dengan rasa sedih pula Amanda memegangi tubuh kecil Vano dan membiarkan sang suami pergi.

__ADS_1



Sementara Vano masih saja menangis dan terus berdiam diri di dalam kamarnya.



"Vano, ayo kita makan malam dulu, sejak pagi kau tidak makan apa-apa," bujuk Amanda dengan lembut.



"Tidak, Vano mau makan sama ayah," ucap Vano kembali menangis.



"Bulan depan ayahmu pulang, biar ayah kagum melihatmu makin pintar, jadi ayo kita makan." Amanda menggendong Vano ke ruang makan lalu menyuapinya.



Waktu sudah menunjukan pukul 21.00. Vano sudah terditur, sementara Amanda masih belum mengantuk, dan memutuskan untuk menonton tv.



Amanda melongo tidak percaya melihat apa yang ditayangkan dalam berita malam itu, sebuah pesawat dari Indonesia mengalami kecelakaan di Jepang setelah 30 los contack. Nyaris tiada yang selamat, ada tiga korban yang belum di temukan, salah satunya adalah Andreas, sang pilot.



Amanda sangat stres berat atas apa yang telah menimpanya, sampai-sampai ia tak dapat mengurus diri.



Bersama Andrean, adik dari Andreas, ayah mertuanya datang untuk menjemput keduanya untuk tinggal bersama.



Banyak hal yang terjadi, selama 3 tahun, Vano sudah berusia 5 tahun dan masuk taman kanak-kanak, bahkan dia juga mulai bertanya siapa dan di mana sang ayah. Rupanya 3 tahun tidak bertemu Andreas dia melupakam segalanya.



Di situlah, terjadi pendekatan antara Andrean dan Amanda. Awalnya kasihan dengan keponakan semata wayangnya akhirnya berujung cinta meski usia Amanda jauh lebih tua dari Andrean, selagi Vano bahagia memiliki seorang ayah pengganti dan kedua orang tua juga merestui tidak jadi masalah.



************



Vano diam sesaat memikirkan apa yang tengah Andreas ceritakan.



"Van, tidak ada maksut dari papa Andrean menyembunyikan semua ini darimu. Yang dia pikirkan saar itu hanyalah masa depanmu, tanpa merusak mentalmu saja. Bahkan dia rela tidak memiliki anak lagi pun demi kamu, dia khawatir jika dia memiliki 1 anak lagi dari ibumu, rasa sayang ke kamu akan berkurang," ucap Andreas.



"Selama dua puluh tiga tahun ini, apakah Ayah juga sudah menikah lagi?" tanya Vano dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.



"Tidak." Andreas tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.



Vano menyipitkan kedua matanya, sambil menatap lekat mimik Andras.



"Ayah berfikir kelak akan kembali bersatu denganmu juga ibumu, tapi kondisi mentalmu yang terus menanyakan ayah seperti teman-temanmu membuat hati adikku tergerak menjadi ayah pengganti aku tidak masalah, justru aku sangat berutang budi pada adik kandungku rela mengorbankan masa mudanya demi kamu."



"Mama tahu itu, tapi kenapa malah menghianati papa, Ayah?"



"Itulah kenapa aku baru kembali sekarang, kau sudah dewasa dan saat nya tahu semuanya. Aku dan papamu sudah memaafkan jadi biarkannsaja dia, kamu sebagai anak tetap hormati dia bagaimana pun dialah wanita yang bertaruh nyawa demi memberi kehidupan untukmu, Van." Andreas menepuk bahu putranya lalu beranjak meninggalkan Vano.



"Ayah, bagaimana Ayah tahu semua tentang kehidupan kami, dan di mana Ayah sebenarnya. Kenapa tidak cepat kembali?" tanya Vano sambil berdiri.



Mendengar pertanyaan dari putra kandungnya Andreas berhenti, menolah sambil tersenyum.



"Kau mau tahu, putraku?"



Vano terdiam, bingung mau menjawab, selain dia juga ingin tahu lebih banyak lagi, ia menangkap ekspresi ketidak siapan ayahnya.



"Jika Ayah tidak keberatan."



Andreas tersenyum menghampiri Vano lalu memeluknya, "Lihatlah dirumu, berkat Andrean kau kini sudah dewasa dan jadi pria bijak sana. Ayah bangga padamu." Menepuk punggung Vano.


__ADS_1



__ADS_2