Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 30


__ADS_3

Vano melihat Clara masih menangis dalam pelukan putranya, sementara ibunya Lyli hanya diam menunduk. Kesedihan ada di sana. Tapi, dia juga sepertinya nampak lega karena telah menyampaikan sesuatu yang memang harus disampaikan. Tapi, apa?"


"Ada apa, Ma?" tanya Al


Tapi Clara tidak menjwabnya. Tangan kirinya melingkar di pinggamg belakang putranya *** bagian ujung kemeja yang Al kenakan. Sementara tangan kirinya menggenggam erat pergelangan Al.


Vano mendekati istrinya. Membantu menyeka air matanya lalu mengulang pertanyaan putra mereka, "Sayang, ada apa? Cerita sama kita!"


"Al, apakah kamu sayang papa dan mama, Nak?" ucap Clara bersamaan dengan isakannya.


"Kenapa Mama bertanya seperti itu? Itu sudah pasti. Mama Clara Mama Al dan Papa Vano adalah Papanya Al," jawab Al dengan tegas.


"Tapi, Nak. Jika orang tua kandungmu menjemputmu bagaiamana? Akankah kau meninggalkan kami, kakek nenekmu juga Quen adikmu?"


Al mulai merasa tidak beres. Dia memandang ke arah Vano dan bergantian kepada Rika.


"Apa makstunya semua ini?" tanya Al sambil menatap tajam ke arah Rika, karena membuat Clara sedih.


"Al, memang nyatanya kau adalah anak Ibu, Nak. Makanya saat kau datang bersa Lyli, Ibu tidak langsung memberi jawaban. Kau dan Lyli adalah saudara kandung," ucap Rika.


"Siapa yang saudara kandung kak Lyli?" teriak Quen kencang dari dalam begitu Rika menyelesaikan kalimatnya.


"Tunggu! Atas dasar apa kau meyakini aku anakmu?" tanya Al.


"Karena tanda lahir di lehermu itu, Al."


Vano memegangi kepalanya denga  kedua tangan dijambaknya rambut depannya. Rahasia yang dia simpan rapat-rapat terlebih dari Quen kini terkuak dalam situasi yang tidak pas.


Ya, kenyataan seperti ini tidak akan tepat. Karena keluarga besar itu ingin selamanya Quen tidak tahu akan hal ini.


"Aku tanya, siapa yang saudara kandung Lyli? Apakah kalian semua dungu? Hah?" ucap Quen lagi dengan kencang. Membuat seluruh isi rumab berlarian kebelakang.


"Quen, tante kasih tahu. Al kakakmu ini sebenarnya bukan anak kandung orangtuamu.  Dia sebenarnya adalah anak kandung tante, kakak kandungnya Lyli," jawab Rika tanpa sungkan.


Quen diam nampak shock dengan kenyataan pahit yang baru saja diterimanya, dia hampir tidak mempercayai ini. Sebab, selama ini Al benar-benar menjaganya dengan sangat baik. Jika saja pria lain, pasti sudah kurang ajar kepadanya yang lebih sering memakai pakaian terbuka.


"Apa benar Papa dan Mama mengadopsi, Kak Al? Benar dia dan Quen bukan saudara kandung?" tanya Quen lirih. Lalu tak lama kemudian badannya roboh tak sadarkan diri.


"Queen!" Al, Vano, Clara dan semuanya berlari ke arah Quen berusaha menyadarkan.


"Angkat dia ke sofa, Van. Baringkan di sana!" Seru Andreas.


Acara yang diharapkan akan membawa bahagia malah menjadikan duka. Al hanya diam dan bungkam menunduk. Pandangannya tidak teralihkan pada Quen yang masih belum sadar. Siapapun yang mengajaknya bicara tidak dia gubris sedikitpun.


Merasa bosan dengan semuanya ia bangkit menghampiri Rika dan suaminya lalu berkata, "Om, Tante. Silahkan anda pulang. Maaf bukan maksut saya durhaka. Tapi, saya masih belum bisa menerima ini."


Al pun pergi kembali duduk di sebelah Quen dan memijat-mijat tapak tangannya.


Lyli terpaku di tempatnya berdiri memandangi Al yang terlihat semakin sayang terhadap adik angkatnya, sementara dia, tetap dicuekin meskipun tahu kalau dialah yang adik kandungnya.


Diam-diam dia tersenyum getir. Berjalan mendekat dam memegang punggung Al.


"Kakak," panggil gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Sedikitpun Al tidak menoleh, apalagi menjawab.


"Quen, sadarlah, ini kakak ada di sini. Tetap menjadi kakak Al yang sayang sama kamu, menggendongmu saat kau lelah berjalan sepulanh sekolah seperti dulu, Quen. Bangun lah, Dik. Jika kau tidak mau kakak lagi, kakal tidak keberatan pergi," ucap Al


Lyli melepaskan tangannya dari punggung Al. Dia merasa semuanya percuma. Hanya Quen yang dilihat oleh Al bukan dia. Karena mereka sudah tumbuh bersama. Dan lagi, Al sepertinya menikahi dia sebelum tahu kenyataan juga atas kemauan adiknya, dia terlalu sayang dan memanjakan Quen hanya ada Quen di mata dan hatinya.


Lyli berlari ke dalam kamarnya. Dia menangis sepuasnya, dan dalam hatinya, tiba-tiba dia membenci Quen.


"Sudah jelas aku ini yang adik kandungnya kenapa masih saja tak peduli denganku? Dia masih saja peduli dengan Quen, apakah ini adil?" ucap Lyli seorang diri.

__ADS_1


Sudah tigapuluh menit setelah Quen kembali sadar dia hanya diam dengan tatapan kosong. Tidak maj berbicara dengan siapapun.


Dia tidak mengunci diri di kamar, sesekali juga berdiri di balkon. Tapi, masih saja diam.


"Quen, makan dulu, yuk!"


Gadis itu menoleh mendengar suara yang sangat akrab itu. Dia tidak tahu harus marah, membenci atau kecewa dengan pria di hadapannya.


Pria itu berjalan menghampirinya dan langsung memeluk Quen. "Maafkan kami, ya?"


Quen mulai menangis di pelukan pria itu, tidak bersuara, tapi, memperlihatkan jelas bagaimana hatinya benar-benar sakit oleh kenyataan yang baru saja di terimanya.


"Kenapa kalian semua diam saja? Kenapa kalian membohongiku? Apakah sulit mengatakan kalau dia bukan kakak kandungku? Dan kenapa harus kakak kandung Lyli, Pa? Aku gak mau itu, aku cuma mau kak Al jadi kakak Quen saja."


Vano hanya mengelus belakang kepala putrinya. Gadis yang biasanya selalu ceria kini menangis sungguh memilukan. Vano menyeka dengan cepat air matanya yang mengalir dan terus berusaha menenagkan hati putrinya.


Sementara Al dari balik tembok kamar Quen duduk bersandar, tidak mampu membayangkan bagaimana sakit hati yang di derita Quen. Dia tahu dan merasa kalau Quen sangat menyanginya sebagai saudara.


"Papa turun saja, nanti Quen nyusul," ucap Quen.


"Beneran, ya? Sejak siang kamu tidak makan apapun. Calon dokter gak boleh sakit," ucap Vano berusaha menyemangati putrinya.


Cukup lama Quen berdiam diri di tempatnya. Dia kembali ke kamarnya mencuci muka dulu sebelum turun ke bawah.


Perlahan gadis itu turun dari tangga. Terlihat olehnya Al dan Lyli berada di ruangan bawah tangga. Sedangkan yang lain sudah ada di meja makan.


Quen yang biasanya tidak pernah peduli dengan hal seperti itu tiba-tiba saja tertarik untuk mengetahui apa yang mereka obrolkan.


"Kak, adikmu itu aku, kak. Bukan Quen. Dia hanyalah adik angkat saja kenapa kau lebih peduli dengannya dari pada aku?" tanya Lyli marah-marah kepada Al.


Tapi, pira itu hanya diam saja meski pun berkali-kali dipukuli oleh gadis di depannya.


"Hey, kau mau ambil kakakku dariku?" tanya Quen tersulut emosi.


"Quen, kau tahu sendiri, kan yang dikatakan ibuku tadi? Dia anak kandung ibuku cuma anak angkat orang tuamu. Kau tidak selayaknya mendapatkan perhatian seorang kakak lagi darinya. Aku yang berhak dan pantas, Quen!" bentak Lyli.


Merasa tidak salah tapi disalahkan dan dibentak Quen berjalan mendekati Lyli. Wajahnya semakin memerah.


"Kau bilang apa barusan? Coba ulangi! Aku mau mendengarnya lagi." Tantang Quen dengan dua jari tangan mengepal kuat.


Lyli hanya diam, entah dia takut afau bagaimana, karena melihat reaksi Al hanya diam saja. Tapi, entah keyakinan dari mana kalau Al akan lebih menyayangi saudari kandungnya dari pada Quen yang hanya saudari angkat.


"Kau tidak tahu diri, Quen!" ucap Lyli.


"Aku tumbuh besar bersama kak Al, selama ini, aku tahu dia adalah kakakku bukan kakak orang lain, sampai kapanpun dia hanya akan menjadi kakakku bukan kakak orang lain termasuk kamu," ucap Quen dengan suara tinggi.


"Tapi aku adik kandungnya, Quen! Tidakah kau tahu perbedaan air dan darah?" ucap Lyli tak kalah tinggu membuat Quen hilang kendali meninju telak wajah Lyli dan memukulinya.


Quen sepertu orang kalap menghajar Lyli habis-habisan. Tidak hanya rambutnya yang rontok hampir separuh, tapi wajah dan badannya oenuh dengan luka lebam dan cakaran Quen.


"Kau berani sama aku? Iya? Rasakan ini, siapa yang tidak tahu diri? Kau atau aku. Siapa kau siapa aku, kau hanyalah babu, Lyli. Aku nona rumah ini, dan beraninya kau membentakku dan mau ambil kakakku? Mati saja kau, matii... Matiii... Matiii sajah kau, Lyli.


Mendengat keributan di bawah tangga semua orang tua berlarian ke ruangan sebelah tangga. Sementara Al tidak mampu berbuat apa-apa. Dia terlalu Shok melihat tempramen Quen yang ternyata lebih dari yang dia duga selama ini.


"Al. Kenapa kau tidak melerainya? Kenapa bisa seperti ini?" teriak Vivian tak kalah kaget.


Clara menarik tubuh Lyli yang sudah tak berdaya. Darah dan rambutnya bercecetan di lantai hampir memenuhi ruangan. Al hanya jongkok menjabak rambutnya sendiri.


Sementara kedua tangan Quen dipegangi Vano dan Andreas. Meski sudah berdua mereka masih saja kualahan, buktinya Quen bisa lepas dan kembali menendang perut Lyli.


Al bangkit dari duduknya dengan setengah berlari ia memeluk Quen dari belakang dengan erat.


"Quen, jangan begitu, ya? Kalau Lyli mati, bisa-bisa kau masuk penjara. Aku akan selamanya menjadi kakakmu, aku tidak punya adik selain kau, ok?" bisik Al di dekat telinga Quen.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Quen mulai melemah, sedikit pun dia tidak memberontak. Hanya isakannya saja yang masih terdengar.


"Lyli, lain kali kau jaga sikap jika masih mau bekerja di sini. Jangan usik adikku apalagi berkata kasar seperti tadi. Kau boleh mengatakan kita saudara kandung tapi perlu kau ingat, kedudukan kita di rumah ini berbeda. Aku sudah diadopsi sedari kecil oleh pemilik rumah ini. Sementara kau, hanyalah pembantu, tidak selayaknya kau bertingkah sekalipun pada Quen putri kandung keluarga ini," ucap Al. Lalu membawa Quen pergi.


Seluruh isi rumah tercengang dengan ucapan Al. Semua yang awalnya menaruh simpati pada Lyli karena jadi korban amukan putri mereka, kini menjari ilfeel dengan gadis itu.


"Lyli. Kembalilah ke kamar, bersihakan dirimu, aku akan menelfon dokter untukmu," ucap Clara lalu ikut meninggalkan gadis itu seorang diri.


Vano duduk di taman belakang merenungi perbuatan putrinya tadi, ia hampir tidak percaya.


"Van, sudahlah jangan terlalu dipikirkan!" Seru Vivian sambil mengelus punggung Vano.


"Maafin aku, Ma, aku gagal mendidik anakku, kenapa Quen seperti itu?" ucap Vano sedih.


"Dia seperti itu memang dipancing. Mungkin kita memberhentikan Lyli saja, Van. Papa andrean dan papa Andreas semua sudah setuju. Memang Lyli yang tidak tahu diri. Al sudah menceritakan semua pada kami, tadi."


"Tapi, Quen tidak seharusnya begitu juga kan, Ma?"


"Suasana hatinya sudah buruk, takuy kehilangan kakak satu-satunya. Lyli malah mengatainya yang seharusnya tidak pantas dikatakan oleh siapapun apalagi dia yang hanya pembantu, wajar kalau dia lepas kontrol, Van. Temui dia dan hiburlah dia!" Perintah Vivian sambil tersenyum.


Vano mendapati Quen tengah makan disuapi Clara dan ditemani kakaknya. Mereka berdua tidak membahas apapun belum berani menasehatinya. Karena dia pun sebenarnya sadar yang ia lakukan salah dan sudah masuk dalam.katogori penganiayaan.


Clara memberikan suapan yang entah keberapa, yang jelas pada piring yang dipegangnya belum habis setengahnya. Tapi, Quen memalingkan wajahnya menolak dengan tindakan makanan dari Clara.


"Apakah kau sudah kenyang, Sayang?" tanya Clara dengan sabar.


Quen hanya mengangguk dan menerima gelas berisi air putih dari Al.


Vano duduk di sebelah putrinya dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Quen, mama dan papa punya apartemen kosong di dekat kantor, juga kampus kamu, apakah kau ingin melihatnya?"


Quen mendongakkan wajahnya melihat ke arah Vano. "Apakah Papa ingin aku tinggal di sana?"


"Tidak, tapi, jika kau merasa bosan di rumah, kau boleh ke sana. Papa berikan kuncinya, bagaimana?" bujuk Vano menghibur.


"Aku mau, tapi, bagaimana kalau aku tidak suka?" jawab Quen, mulai memcair.


"Maksutnya tidak suka? Kau lihay saja dulh, baru katakan apa yang tidak kau sukai. Nanti kita bisa merombaknya, gimana?"


"Baiklah! Ayo kita ke sana sekarang!" Seru Quen bersemangat. Dan mulai bisa tersenyum.


"Quen, cuci muka dulu. Lihat bahkan matamu sembab kau tidak sadar?" ucap Al mengingatkan.


"Ah, iya, kak."


Clara, Al dan Vano melihat Quen yang tengah berlari ke arah tangga.


"Sungguh moodnya mudah berubah, lebih cepat dari bentuk awan putih di langit," gumam Clara.


"Sebaiknya Quen jangan bertemu dengan Lyli dulu. Pa, apa perlu dia diberhentikan kerja saja?" ucap Al.


Vano dan Clara saling pandang, "Apakah kira-kira ini tidak jadi masalah? Dia saudar..." Kalimat Clara menggantungkan kalimatnya karema dipotong oleh Al.


"Mama, jangan percaya dulu. Saat ini mungkin tidak ada yang tahu aku anak angkat kalian. Tapi, pada saat itu yang tahu juga tidak banyak, kan?" jawab Al dengan mantap.


Vano hanya mengangguk-angguk saja, tidak menyalahkan ucapan Al. Tapi usia dan tanda lahir di leher kenpa kebetulan sekali? Bu Tika serius apa mengada-ada?


"Ra, Al benar, kita harus cari kebenarannya dulu," ucap Vano, tidak putus asa.


"Apakah Al akan melakukan tes DNA? Lalu, bagaimana kalau hasilnya positif mereka ibu dan anak, Van? Dan bu Rika meminta putranya kembali, dan aku harus kehilangan Al?" tanya Clara mulai gusar, bahkan lebih parah dari tadi saat berbincang dengan ibunya Lyli.


"Mama, tenang. Aku ini bisa berfikir. Sekali pun andai mama miskin tak punya apa-apa, Al tetap akan memilih ibu yang merawat Al dari pada ibu yang telah membuangku. Lagian jika pun aku mati saat itu, dia tidak akan tahu." Hibur Al.

__ADS_1


__ADS_2