
Lima hari di Jepang, Queen mengutarakan niatnya pada maminya yang dulu sudah pernah ia katakan pada Al, suaminya. Kala itu Al memang setuju.
Tapi, ia sebagai anak dan sekaligus suami yang baik yang sama-sama menyayangi keduanya, ia meminta agar Queen bicara saja langsung pada yang bersangkutan.
Semoga saja beliau bersedia dan tidak menolak. Jika iya, maka ini adalah oleh-oleh terbaik yang akan Beryn dapatkan.
Queen mendapati mamanya tengah asik duduk di atas balkon
melihat pemandangan kota Tokyo dari atas sambil membuat rajutan. Entah apa yang
wanita tua itu akan bikin sebenarnya. Queen yang tidak pernah mengerti akan hal
semacam itu hanya tersenyum seorang diri saja. Kemudian, ia beranjak ke dapur
untuk membuat teh dan mengambil beberapa kue brownies yang ia bikin pagi tadi
bersama putrinya yang memang sudah sejak dulu tertarik mmebuat kue seperti ini.
"Mami, kau terlihat sangat sibuk sekai," sapa Queen lalu meletakkan nampan di atas meja.
"Queen, apakah Al dan Clarissa masih belum kembali,
juga?" tanya mami Jeslyn balik. Tanpa mengalihkan pandangannya pada rajutan
yang berada di tangannya. Hal seperti ini membuat wanita berusia tiga puluh
depalan tahun itu teringat akan mendiang nenek Vivian yang hobi sekali dengan
merajut. Wanita itu menghabiskan masa tuanya hanya untuk membuat
rajutan-rajutan untuk menyenangkan anak cucu serta suaminya. Ada saja yang dia
buat. Mulai dari syal, topi hangat, tas dan dompet, dan Queen masih menyimpan
karya-karya beliau dengan baik. Bahkan, tidak jarang juga ia menggunakannya di
saat ada keperluan. Entah itu sehari-hari, atau memakai tas rajut buatan neneknya itu unutk bekerja, dan juga ketika bepertian.
"Belum, Ma. Mungkin mereka juga jalan-jalan dan jajan,
jajanan di pinggir jalan," timpal Queen. Ia berkata demikian karena ketika
suaminya pamit tiga hari ke Jepang sendiri sering mengirimkan video dirinya
bersama sang anak gadisnya kuliner makanan ponggir jalan yang mumbuat wanita
itu hanya tertawa seorang diri saja, saat mendapatkan hasil rekamannya.
"Oh, bagaimana kabar Berlyn? Apakah dia tidak rindu
pada amanya di sini? Amanya kian hari kian menua dan usianya kian berkurang
saja hari demi hari. Tapi, kenapa bocah itu demi saudarinya rela tidak bertemu
dengnku?" celoteh wanita itu kian ke mana-mana.
Menanggapi itu, Queen hanya tersenyum lembut saja. Ia
teringat akan titah mendiang mamanya dulu. Seseorang jika sudah tua itu,
pikirannya kembali seperti anak-anak. Perkataan dan perbuatannya juga aneh-aneh
saja dan tidak jarang juga tidak masuk akal. Jadi, sebagai anak, atau cucu yang
tentu lebih muda kita harus sabar, mengalah dan berusaha sebisa mungkin
mengerti mereka yang sudah sepuh. Berusaha menuruti kemauannya selama itu tidak
membahayakan. Sebab, bagaimana pun mereka tetaplah orang tua yang harus tetap
di hargai bagaimana pun keadaannya. Ibarat A-Qur'an yang sudah rusak. Dibaca
tidak bisa, ditaruh bawahm dilangkahi juga dosa.
"Berlyn sangat merindukan mu, Mam. Mam, kau di sini
sendiri, Clarissa sibuk dengan perusahaan dan juga kuliahnya. Tdak inginkah kau
pergi dan tinggal bersama kami di Indonesia?" ucap Queen mulai
mengutarakan makut dan keinginannya.
"Queen, mami ini sudah dari kecil menelantarkan
suamimu. Lalu, kau? Lihatlah apa yang kau lakukan ini? Apakah benar? Kira-kira
apa yang orang lain katakan? Yang mereka tahu Al adalah anak angkat dari orang
tuamu yang diberikan hak yang serupa sepertimu. Kemudian di usianya yang sudah
dewasa pria itu menikah denganmu. Kemudian ada seorang wanita tua renta ikut
tinggal bersama kalian sebagai ibu kandungnya, Al? Apakah pantas?" tanya Jeslyn sambil menatap pada Queen dengan tatapan wajah yang penuh dengan kebimbangan.
"Memang kenapa, Ma? apa memang yang membuat tidak
__ADS_1
pantas itu?" tanya Queen balik sambil menuangkan teh hangat ke dalam dua cangkir yang ia sediakan dai dapur tadi. Kemudian memberikan satu cangkir pada
mama mertuanya.
"Mami tidak pantas mendapatkan itu. Biarkan saja mami
tua sendiri dan tinggal di panti jompo untuk menghabiskan sisa usia mami,"
jawab wanita tua itu sambil menerima secangkir teh yang masih mengepulkan asap
dari dalam dari tangan menantunya.
"Emang enak apa menghabiskan sisa hidup di sana? Bukan kah tinggal bersama anak cucu itu lebih enak dan impian setiap insan di akhir
usianya?" jawab Queen dengan santai.
"Ya. Tapi, apakah pantas, Queen? seperti yang kau
tahu," jawab mami Jeslyn dengan kalimat ambigu dan menggantung itu. Tapi, lagi-lagi Queen bisa menjawab itu dan membuat Jeslyn tak berkutik lagi dan stop
membantah.
"Apanya yang tidak pantas didapatkan oleh wanita yang
berjuang bertaruh nyawa melahirkan suamiku? Bertaruh meletakkannya di sebuah
panti demi melindunginya dari maut? Dengan resiko kangen, was-was. Terus kepikiran sepanjang masa dan selalu dihantui rasa dosa san bersalah. Kini, bisa bertemu dengan ibu dari pria
yang telah melindungiku sedari aku lahir, dan memberi kebahagiaan dan cintanya
padaku kala dewasa adalah sebuah kebruntungan besar bagiku, Mam. Apalagi jika
aku dan suamiku bisa merawatmu. Maka, ikutlah bersama kami, Mam. ya?" ucap Queen smabil sambil memegang tangan maminya.
Jeslyn membalas senyuman Queen dan berkata, Maafkan mami,
Nak. Bukannya mami tidak menghargai niat baikmu ini. Tapi, bisarkan mami
menghabiskan masa tua mami seorang diri saja. Tapi, jika kau ingin mami ke Indonesia, mami bersedia berpindah kewarganegaraan. Di sana juga tanah kelahiran mami. Tapi, belikan mami rumah kecil dengan dua kamar saja, untuk
mami tinggal. Kamar satunya, mami sedikan jika ada anak cucu mami datang mengunjungiku dan menginap. Bagaimana?"
"Aku tidak keberatan dengan sarat yang Mami berikan.
Nanti, aku akan carikan seorang asisten untuk jadi teman ngobrol mami dan bantu
menyiapkan keperluan mami sehari-hari."
"Tapi jangan buru-buru."
"Clarissa masih butuh satu tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikannya. Mami tidak mungkin meninggalkan dia sendiri di sini, kan?" jawab mami Jeslyn kemudian.
Queen hanya bengong dan berkata lirih dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah. "Lalu, gimana dong, Mam? Aku hanya ingin membalas budi pada mama. Tapi, di sisi lain Clarissa... Hmb.... " Wanita itu tak melanjutkan lagi kata-katanya.
Jeslyn tertawa dan mengelus kepala Queen dan berkata,"Lihatlah, memang Al sangat beruntung beristrikan wanita
sepertimu, Queen. kau tidak hanya caantik wajah saja. Tapi juga hatimu. Kau benar-benar baik dan berhati emas. Pesis sekali dengan mamamu."
"Ini adalah kewajiban, Mami. Aku memang harus melakukan
ini. Jadi, kau jangan berlebihan," jawab Queen malu-malu.
"Mama, Ama... di mana kalian?"
Terdengar suaa teriakan nyaring Clarissa dari ruangan bawah.
Sepertinya gadis itu sudah tiba dari jalan-jalan sore bersama papanya.
"Mereka sudah datang. Coba lihat, apa yang sudah mereka
bawa pulang untuk kita," ujar Jeslyn sambil meletakkan rajutannya.
"Mami turunlah dulu, Queen akan bereskan ini dulu baru
akan menyusul kalian," ucap Queen.
Kali ini wanita itu tidak membantah. Ia langsung bergegas
turun ke bawah begitu saja meninggalkan kegemarannya. Ia selalu saja penasaran
apa yang di bawa cucunya yang sudah ia asuh sejak bayi itu. Sebab, selama ini yang di bawa pasti selalu yang aneh-aneh dan membuatnya spotr jantung. Mungkin
juga dengan kali ini. Jika memang benar, tidak hanya Clarissa. Bahkan juga Al akan kena semprot karena terlalu memanjakan anak dan membeli sesuatu yang tiak
pantas, atau makanan ringan yang tidak baik untuk kesehatan Al, dan masa pertumbuhan Clarissa.
Sementera di atas, Queen membersekan jarum benang dan
rajutan yang masih dimulai itu ke dalam sebuah box dan membawanya ke bawah bersama nampan berisi teh dan browniess coklat buatannya itu.
Sesampainya di bawah, suasana tenang-tenang saja. Sepertinya
Clarissa dan Al tidak membuat amanya marah kali ini. Mungkin saja suaminya akan memberi kesan baik pada maminya. Karena, besok ia dan Queen sudah akan kembali pergi ke Indonesia. Memulai lagi rutinitas dan bekerja di sana.
"Mama, coba kau lihat! Aku belikan kau sotong. Enak
__ADS_1
banget ini. Dulu aku sering memakannya ketika masih di Singapura. Selama di
Jepang, baru kali ini aku menemuka yang seperti ini. Dari segi rasa dan textur juga sama-sama enak dan lembut serta empuk walaupun ini sangat kering," ucap Clarissa sambil menunukkan sotong kering yang ditusuk dengan tusuk bambu lebih besar dari tusuk sate. Sebab, sotonya juga lumayan besar, masih merah dan berbentuk pipih karena kering.
Queen hanya tersenyum menanggapi putrinya dan berkata dalam hati, 'Sepertinya membeli makanan laut, ya? Pantesan mami tidak uring-uringan," batin wanita itu.
"Seperti apa rasanya? Apakah benar-benar enak?" tanya
Queen antusias.
"Ya, kau cobalah biar tahu rasanya. Kurasa mama dan
papa perlu membawa pulang ke Indonesi dan berikan pada Berlyn dan kak
Bilqis," imbuh Clarissa.
Ketika gadis itu menyebutkan nama Bilqis, Queen dan Al diam
dan saling pandang. Tapi, rupanya mereka sama-sama tidak tahu, mengapa Calrissa
bisa sampai teringat dan memikirkan Bilqis. Mungkin mereka tidak akan terkejut jika yang berbicara seperti itu Berlyn. Karena, dua putrinya ini akan selalu peduli pada orang yang menurut mereka spesial. Jika bisa-bisa aja ya tidak akan memiliki saran membawa makanan sesepele ini kusus untuknya. Kecuali oleh-oleh biasa atau souvernir khas daerah yang baru mereka kunjungi.
"Kak Bilqis, Sayang? Kau bagaimana bisa mengenalnya?"
"Aku? Ya tentu saja, aku setiap hari berkomunikasi dengan saudari kembarku. Dia selalu menceritakan siapapun yang baik
terhadapnya," jawab Clarissa. Padahal, tanpa mereka berdua ketahui, ia sudah pernah satu bulan lebih tingga bersama mereka menyamar sebagai Berlyn dan
tentu saja, satu bulan lebih ia bermain bersama Bilqis dan dari perlakuan gadis itu, dia benar-benar tulus menyayangi saudarinya. Makanya Clarissa pun menyukainya.
Queen diam sejenak. Mungkin saat yang tepat untuk mengajak
putrinya untuk pulang ke Jakarta. Masalah mengenai perusahaan yang berada di sini biar kembali di serahkan pad Vico saja. Ini adalah kesempatan emas yang
mungkin tidak akan datang dua kali. Maminya sudah bersedia ikut ke Indonsia meskipun minta rumah sendiri dan melakukan Bisnisnya di Singapura secara online.
Jadi, hanya membalasi pesan pelanggan dan meminta anak buahnya mengirimkan
sesuai pesanan sambil merajut.
“Clarissa, apakah kau tidak ingin pulang dan berumpul
bersama kami di Indonesia, nanti saat kau sudah lulus?” tanya Queen sambil menatap mata putrinya.
“Aku tinggal di Indonesia? Itu ide bagus. Lalu, bagaimana dengan pekerjaan di sini nanti? Jika pun mau pindah juga nanggung, Sbab, tahun depan aku sudah lulus
S1. Masa S1 di sini S2 di Indonesia?”
Secara reflek Queen menepuk jidatnya. Bagaimana ia bisa
tidak memikirkan ini? Pikirnya.
“Lalu, bagaimana, Sayang? Ama mauke Indonesia, jika kau sudah lulus kelak,” ucap Queen.
“Aku tidak apa-apa, kok Ma jika harus tinggal di sini
sendiri. Kalau kalian tidak tega, aku bisa tinggal di asrama sekolahan. Kelak,Bjika aku sudah lulus, aku janji, aku akan kembali ke tanah kelahiranku,” ucap Clarissa bersungguh-sungguh.
“Terimakasih, Sayang.” Ucap Queen.
"Mama kapan akan kembali ke Indonesia? Apakah Berlyn tidak merindukan kalian?" tanya Clarissa mengalihkan topik pembicaraan.
"Besok, Sayang. Apakah kau tidak ingin liburan ke sana?" tanya Queen.
Clarissa diam sambil memutar kedua bola matanya. Kemudian ia menjawab, "Biar kupikirkan dulu."
Queen kian gemas saja dengan tingkah putrinya yang satu ini. Selalu ada aja cara untuk membuatnya jengkel, gemas dan tersenyum dalam satu waktu bersamaan.
"Lain kali saja. Aku tidak berani ambil resiko," jawab Clarissa akhirnya. Meskipun queen sendiri juga sudah menduga apa kira-kira yang akan jadi jawaban putrinya.
🌻🌻🌻
Sudah beberapa hari semenjak Axel mengajak Berlyn ke Jogja. pria itu sangat mencolok sekali kalau dia menyukai Berlyn. Namun entah bagaimana tanggapan orang-orang di sekitar mereka menanggapi hal itu. Apakah itu wajar, sebagai saudara atau lebih sekedar itu. Sebab, sering kali ditemukan di setiap kesempatan, di mana ada Berlyn, pasti di situ juga ada Axel.
Memang anggapan orang itu bisa berbeda-beda. Tapi, lain dengan Bilqis. Selain ia peka karena menyukai dan memberi perhatian lebih pada pria itu, Axel sendiri juga pernag terang-terangan padanya kalau benar, dia jatuh cinta pada seorang bocah. Awalnya Bilqis menertawakan itu dan menganggap itu hanyalah sebuah lelucon saja, atau alasan Axel untuk menghindari dirnya saja. Tapi, kian ke sini, sepertinya apa yang dikatakan pria itu padanya sejak beberapa tahun silam itu adalah benar.
Kebersamaan dua orang itu yang sangat sering membuat Bilqis merasa kesepian. Ia tidak mungkin terus-terusan bisa mengajak bermain Berlyn jika Axel terus mengikutinya. Sebab, jika selalu bersama gadis belia itu takut tak mampu menghapus pesona Axel di matanya. Akhirnya, ia memutuskan kembali dekat dan selalu pergi bersama sahabat lamanya, Tiara.
Bilqis tak lagi peduli dengan Axel yang sudah melarangnya untuk terlalu dekat dengannya. Toh dia menganggap hanyalah adik saja, kan? Ia tidak harus patuh pada pria berhati dingin itu. Kecuali dia anggap sebagai kekasih dan resmi pacaran. Harapan untuk menikah ada walau 80%. Karena jodoh ada di tangan Tuhan. Ia akan tetap patuh untuk belajar tidak membangkang jika kelak mereka benar-benar menjadi sepasang suami istri. Tapi, nyatanya Axel juga tetap menganggap dirinya sebagai adik saja, kan?"
"Tiara! Apakah kau sibuk?" tanya Bilqis saat gadis di seberang sana sudah menjawab panggilannya.
"Tidak. Aku lagi free ini. Kebetulan sekali kau telfon. Apakabar, kau?" tanya Tiara dengan nada yang khas akan dirinya. Antusias, senang dan sangat peduli jika Bilqis yang menelfonnya.
“Kamu gak ada cita-cita main ke rumahku?” tanya Bilqs sambil bergiling-guling di atas kasur menikmati rasa malasnya.
“Kamu di mana?” tanya Tiara kemudian.
“Aku berada di rumah. Jika memang kau lagi free kesini saja,’’ timpal Bilqis. “jika kau mau, sih,” imbuhnya lagi.
“Baiklah! Tunggu saja aku. Aku akan bersiap dulu,’ jawab Tiara. Lalu mematikan panggilannya. kemudian gadis itu bersiap-siap. Kini ia tidak perlu repot-repot lagi memesan taxi online seperti yang sahabatnya lakukan jika hendak bepergian. Ia sudah memiliki mobil sendiri.
Kini, di usianya yang masih sangat muda dan biasa disebut cabe-cabean untuk gadis nakal seusia Tiara, dia malah jadi bosnya para wanita panggilan. Jadi, ia tidak perlu repot-repot melayani om-om sampai beberapa orang dalam sehari semalam demi meraup jutaan rupiah. Tapi, cukup menjual wanita-wanita yang seusia, dan bahkan lebih tua darinya yang menjadi anak asuhnya. Mengambil beberapa persen keuntungan dari mereka. Jika pun Tiara ingin melayani, dia juga akan pilih-pilih, dan tidak asal-asalan. Jika pun tidak ganteng dan muda, yang mau mengeluarkan banyak uang padanya dalam semalam. ya, seperti Honda Mobilio ini. Ia dapatkan hanya dari tidur dengan dua pria saja. Benar-benar fantastis untuk anak SMA.
Mungkin, ini juga alasan Axel kenapa melarang keras Bilqis untuk terlalu dekat dengannya. Ia takut, jika Tiara kelak menjual Bilqis. Jelas, dia akan sangat menguntungkan baginya. sebab, pria itu yakin kalau Bilqis masih perawan. Karena, sejauh ini dia yang dianggap sebagai adik tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan pria selain dengannya apalagi pacaran. Tapi, Bilqis yang merasa sudah lama kenal dengan Tiara dan menganggap Tiara itu baik dan tidak mungkin melakukan hal buruk padanya, tak lagi hiraukan perintah Axel.
__ADS_1