
Hari ini Diaz merasa sangat bosan berada di rumah. Dalam
hati, ia menyesali, kenapa tadi malah ambil cuti. Haaah… Tapi, mana boleh buat,
nasi telah menjadi bubur. Kalau saja dia tahu aka nada Hanifah kemari, dia
lebih memilih untuk bekerja saja.
Dia menoleh ke dapur, melihat Hanifah nampak sudah akrab
saja dengan Umiknya. Walaupun dia adalah tipe cewek lasak, pecicilan dan jauh
dari kata anggun, tapi di sisi lain dia memiliki sesuatu yang unik yang
dimiliki oleh wanita lain, bahkan Queen sekalipun.
‘Argh, kenapa aku jadi memikirkan dia. Masalah dengan Queen
saja masih belum kelar, kenapa malah mikirin tuh makhluk jadi-jadian?’ umpat
Diaz dalam hati.
“Aduh, blubandnya gak ada, Hanifah… Gimana kalau kamu sama
Diaz keluar bereng, beli di mini market terdekat? Soalnya sayang adonannya
juga, kan masih banyak!”
Diaz mendesah kesal mendengar ucapan Umiknya, ia merasa
kalau itu hanya lah dibuat-buat saja, dan sengaja direncanakan.
“Ayo Di, pergi temani aku,” ajak Hanifah.
Pria itu masih bergeming di tempatnya, seplah dia enggan
sekali beranjak. Sampai pada akhirnya, Umik sendiri yang menghampiri Diaz dan
memintanya untuk pergi dengan Hanifah, sekalian membeli beberapa kebutuhan yang
hanya ada di supermarket besar yang serba ada seperti superin**.
“Umik, ada hal yang peril kita ingat di sini, pertunangan
antara aku dan Hanifah terjadi hanya karena keinginan sepihak, selama Queen
belum memutuskan untuk menerimanya atau tidak, selama itu jangan pernah
berharap lebih dengan hubungan yang tak jelas ini. Aku melakukan juga karena
terpaksa, jika saja Umik hanya datang bersama Fatimah saja kemarin, jelas aku
akan lebih memilih gagal dan menunggu Queen kembali.”
Hanifah yang berusaha tetap tersenyum pun tak bisa. Ia
menunduk menyembunyikan raut wajah yang tak lagi menutupi rasa sakit.
‘Kau sudah tau konsekwensinya, bukan? Ayo tetap sabar dan
tersenyum! Untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan memang ada harga yang harus
kita bayar,’ ucap Hanifah dalam hati.
Diaz kembali dari kamarnya dan sudah mengenakan jaket
berwarna hitam kemudian ia mengajak Hanifah pergi. Sudah sekitar lima menitk
keduanya berjalan beriringan, sampai akhirnya mereka pun tiba di sebuah mini
market, Diaz hendak berbelok. Tapi, dengan cepat gadis di sebelahnya itu
menarik lengannya dan berkata, “Umik meminta kita juga membeli ikan segar dan
beberapa sayurana, kalau kita ke alfa*** tidak ada, kita ke super*** saja, atau
ke hype****.”
Diaz hanya meruntuk kesal namun taka da pilihan selain
menuruti apa yang baru saja gadis di sebelahnya itu katakana. Dia memang tidak
terbiasa melawan dan menolak apapun yang diperintahkan umiknya, memberi
peringatakan saja tadi sebelum dia berangkat saja sudah menjadi beban,
sepanjang jalan ia terus memikirkan betapa kasarnya kata-katanya barusan,
sungguh tak pantas diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya yang sudah
berjuang sendiri tanpa sosok ayah dari dia SD sampai lulus dari fakultas
kedokteran.
“Gitu, kenapa kamu tadi tidak sekalian saja ngomong? Kita
bisa pergi naik mobil, gini kan kita jadi jalan kaki jauh banget,” umpat Diaz.
“Anggap saja kita berolah raga. Tidak ada rugi-ruginya kan
jalan, sekalipun capek tapi sehatnya dapat pahalanya juga karena nurut sama
umik,” jawab Hanifa dengan enteng sambil menunjuka keriangannya.
***123
Usai mandi dan berganti pakaian rapi, Al segera menuju rumah
sakit untuk menjemput Queen.
Tidak lama menunggu sekitar tiga menitan saja, Ia sudah
melihat segerombol perawat magang dan dua wanita mengenakan jas putih khas
dokter, dan salah satunya adalah Queen.
Al bergegas turun dari mobilnya dan merapikan dasi yang ia
kenakan. Dari jauh ia mengamati kalau
teman seprofer\=si dengan wanitanya itu tengah menggodanya. Terlihat sekali dari
gestur tubuhnya, menyikuti Queen sambil tersenyum kemudian bergantian melihat
kea rah Queen dan dirinya.
“Itu suami kamu sudah
datang tuh.”
“Apaan, sih?” ucap Queen dengan malas.
“Hay, Sayang. Ayo kita kembali! Aku akan mengajakmu ke suatu
tempat dan aku yakin kau suka,” ucap Al yang sudah ada di dekat mereka berdua.
“Aku lagi males pergi, jika kau mau ke sana, pergi saja
sendiri ajak Nayla bersamamu, jangan aku.”
Teman Queen yang beru Al ketahui Namanya dari papan nama
yang ia kenakan berana Nadira itu terkejut dengan jawaban Queen. Secara logika
di mana ada pasangan suami istri yang seperti itu.
“Queen, siapa itu Nayla?”
“Oh, Nayla itu temanku, Mbak. Dia suka sama aku dan istriku
cemburu, padahal sudah aku katakana antara kami tidak ada hubungan apapun, dia
ngambek terus,” jawab Al sambil terkikik melihat Queen yang tengah melototi
dirinya dengan senyuman puas penuh kemenangan.
“Queen, kalau kau mau bahagia, jangan dengerin omongan
orang, ya? Cukup kamu percaya saja dengan suamimu, kurasa dia juga benar-benar
sayang dan setia banget sama kamu, loh. Sudah jadi resiko memiliki suami
ganteng gitu.”
“Apa dia ganteng? Kalau kau mau ambil saja, aku tidak. Kan
__ADS_1
kamu juga masih jomblo, kan Nad?” Queen pun pergi,m sedangkan Al segera berlari
menyusul wanitanya yang sepertinya masih belum bisa memaafkan dirinya.
“Mbak, maafkan dia, dia kalau pms memang begitu.”
Nadia hanya bengong melihat dua sejoli teraneh yang baru
saja dia lihat. Entahlah apa mungkin ada yang slah, atau mungkin temannya itu
dipaksa menikah. Tapi, siapa sih yang gak mau dipaksa menikah dengan orang
seperti Al?
Al terus berusaha mengejar Queen yang sudah melewati jauh
dari monbilnya.
“Queen ayuk kita pulang saja jika kau memang tidak mau
pergi,” ucap Al berusaha merayu.
Tapi Queen tetap tak memepedulikan dirinya, ia terus
berjalan dan semakin cepat. Sampai pada akhinya ia tiba di sebuah pusat
perbelanjaan serba ada, ia melihat Diaz yang tengah menentang tas kresek berisi
blanjakan yang sebagian sayurannya nampak keluar dari kresek berwarna putih
tersebut.
Queen berlari meninggalkan Al dan meneriaki nama pria itu,
“Diaz!”
Pria oitu pun menoleh, namun badannya terlihat seolah kaku,
ia bingung, antara senang bisa melihat wanita yang dicintainya baik-baik saja
namun tak mampu memberi tahu kejadian semalam setelah dia pergi.
“Diaz, tunggu aku dong! Kamu jalannya jangan cepet-cepet,
tuker dong, kamu bawa yang berat, ini berat banget loh.”
Queen yang hendak melangkah menghampiri pria itu sekaligus
meminta penjelasan padanyua prihal kepastiannya, itu pun urung, ketika dia
melihat Hanifah menyusulnya dan bahkan gadis itu bertingkah manja sekali pada
kekasihnya itu.
Perlahan Queen mengundurkan langkahnya sambil melihat dengan
tatapan tak percaya kalau Diaz bisa berubah secepat itu hanya dalam waktu
semalam.
“Queen!” Diaz menghempaskan tangan Hanifah dan berlari
menghampiri Queen. Tapi, wanita itu sudah putar arah dan berlari.
Al mencegat Diaz sambil menyeringai, dia berkata, “Hey, Pak
dokter! Kau urus saja tunanganmu yang baru semalam itu, gak usah repot-repot
kejar cewek lain. Emang, kalau janda itu lebih mempesona, ya? Hehehe, aku rasa
juga begitu.”
Diaz mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, kian hari ia
kian jengkel dan sangat membenci Al. Tapi, ia tidak mau mengotori tangannya,
sekalipun dia tidak pernah memukul orang lain, sekalipun itu sesame pri. Apalagi
wanita.
“Ini semua terjadi juga karena kamu, apa tujuanmu membawa
pergi Queen dari acara pertunangannya sendiri? Apakah kau sudah merancanakan
dengan pria di hadapannya.
“Hehehe, kau pikir apakah kakekku orang yang seperti itu?
Aku malah kaget kalau kakek sampai ambil tindakan seperti itu, dan lebih kaget
lagi kamu ternyata buaya, mau-maunya tunangan dengan wanita lain hanya karena pacarmu
kubawa lari.”
Diaz diam membisu, ia tak mampu mengatakan apapun untuk
menjawab perkataan Al. Tapi, apa yang dia katakana juga ada benarnya, seandainya
saja dia bisa sedikit lebih tegas pasti…. ‘Ah, aku benci diriku sendiri, tapi Umik,
kenapa Umik harus demikian?’ keluh Diaz dalam hati.
“Tapi ada baiknya lah kau bisa menunjukkan sikap aslimu di
depan keluarga besarku, sekarang jaga dia yang sudah lama mencintaimu, jangan
sakiti dia, ingat Hanifah juga adikku, soal Queen, biarkan kujaga dia sendiri,”
ucap Al sambil meletakkan telunjuk kanannya pada dada kiri Diaz. “dan kau tak
perlu ikut campur lagi,” imbuhnya, kemudian ia pergi menyusul Queen.
Al melihat Queen berjongkok menyembunyikan wajahnya sambil
memeluk lututnya sendir, ia yakin kalau wanitanya kini tengah menangi. Tapi, ia
ingin membuat Queen menjadi lebih sakit agar meninggalkaj Diaz dan melupakannya,
agar peluang untuk mendapatkan cintanya lebih besar, sebab bagaimana pun Alex
juga sudah lama di singkirkan selum Aditya terbunuh olehnya, dan sekarang yang
berhasil dia singkirkan adalah Diaz.
“Sudahlah takada gunanya pula menangis, ini sudah petang,
ayo segera kembali!”
Queen masih Diam bergeming di tempatnya. Keduan pundaknya
naik turun menyesuaikan tarikan napas dan isakannya.
“Lihatlah dirimu! Kau bahkan sampai takt ahu malu menangis
di pinggir jalan sampai jadi tontonan orang-orang lewat. Kau itu sudah dewasa
bukan anak-anak lagi.” Merasa diabaikan oleh Queen, Al merasa tak ada lagi
pilihan selain mengangkat tubuh wanita itu meletakkan di pundak kanannya dan
berjalan kembali ke rumah sakit di mana dia memarkirkan mobilnya tadi.
“Hey, Al! Apa yang kau lakukan? Dasar brengsek lepaskan aku!”
teriak Queen sambil meronta-ronta dan memukuli punggung pria yang menggendongnya.
Al hanya diam tak peduli, beberapa pasang mata yang kebetulan
lewat atau berpapasan dengan mereka semua telah memperhatikan mereka berdua. Queen
merasa sangat malu terlebih ia belum melepaskan jas putih yang dikenakannya
tadi.
“Al, apakah kau buta? Lihatlah banyak orang di sini. Cepat!
Turungkan aku,” bentak Queen.
Bukannya menurunkan, Al malah terkekeh dan berkata, “Kau
semakin berteriak, semakin banyak yang lihat, sebab yang ada di sana dan tak
melihat kita dia jadi menoleh karena penasaran dengan teriakanmu, Sayang.”
“Makanya, turunkan aku! Aku heran sama kau, kamu ini bodoh
__ADS_1
apa gila, sih?” bentak Queen.
“Mana kutahu? Coba saja bawa aku ke psekeater. Tapi, kalau
menurutku sih, ya dua-duanya, orang busa saja terlihat bodoh karena cinta. Dan aku
gila, karena tergila-gila padamu, sayang. Makanya aku terlihat seperti orang
bodoh,” jawab Al dengan santainya dan terus menggendong tubuh wanita itu.
“Dasar, kau gila! Memang gila, benar-benar gila!”
“Ya, kau sudah tahu jawabannya lalun kau mau apa?” jawab Al
sambil membuka pintu mobil dengan tangan kirinya dan meletakkan Queen seperti
barang di dalamnya, sengaja ia melemparnya dengan sedikit keras, itung-itung
hiburan gratis sambil menggodanya.
“Auuuu, sakit, Al!” Queen memukul keras lengan Al sambil
memegangi pingganya.
“Kau ini kenapa semuanya sakit, sih? Gak ada yang nikmat? Hehehe.”
Queen membuang muka tak mau lagi melihat Al. Apapun yang dia
katakana juga sepertinya percumah saja, sebab Al tak pernah menimpalinya dengan
serius. Apakah benar, otaknya konslet? Tapi kenapa? Apa sarap dilehernya yang
menghubungkan dengan otaknya itu tergelintir jadi dia berubah seperti itu dalam
sekejab?
Selama perjalanan menuju apartemen, Queen hanya iam saja. Dalam
benak dan ingatannya tak lepas dari bayangan bagaimana cara Hanifah bermanja
dengan Diaz. Sekalipun ia tak melihat sendiri jika Diaz meladeni Hanifah. Namun,
bukankah semua laki-laki seperti itu? Dengan dia belanja sayur-sayuran berdua
saja, bukankah itu artinya dia sudah bisa menerima wanita yang bersamanya? Hal
itu hanya membuat dada Queen terasa sesak dan ia pun kembali terisak karena
menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Al melirik ke samping, lalu berkata, “Kenapa nangis lagi
sih? Kamu nangisi Diaz? Heh… dia saja dah bahagia sama Hanifah.” Al tertawa
miring sambil menatap lurus lagi ke jalan raya.
“Kau benar-benar tidak punya otak, Al! Bahkan sedikit pun
kau merasa tidak bersalah. Kamu sadar gak sih ini semua terjadi karena ulahmu?”
ucap Queen lirih di sela-sela isakannya, sambil menghapus air mata di kedua
pipinya. “coba saja kau tidak bersikap gila dan membawaku pergi dari sana, aku
yang sudah menjadi tunangannya Diaz sekarang, bukan Hanifah,” imbuhnya lagi.
“Kau harusnya bersukur dan berteimakasih padaku, Sayang.
Karena dengan aku membawamu pergi semalam, kau bisa melihat, bukan? Seberapa
besarnya cinta Diaz ke kamu? Sudah kukatakan, kalau memang dia tulus
mencintaimu, apapun resikonya, dia akan tetap menolak dengan Hanifah, seperti
hal nya aku.”
“Bajingan sepertimu itu, adalah pengecualian!”
“Kau umur berapa sekarang?”
“Hampir duapuluh tujuh, kenapa?”
“Bukankah sejak lahir kau sudah jadi adikku? Pernah tidak
aku berbuat mesum sekalipun padamu? Walaupun kau berpakaiaan sexi dan menggodaku
di atas ranjang. Karena aku anggap kamu sebagai adikku. Tapi sekarang… Aku tak
mau jadi kakamu lagi, maunya jadi suamimu. Aku ternyata sudah lama mencintaimu.
Aku lakukan hal itu semalaam juga dah siap dengan rsiko yang kudapatkan apa,
kenapa? Karena aku mencin taimu. Kau mau, mempertahankan hubungan dengan Diaz
yang di hatinya jjuga ada Hanifah? Bahkan di belakangmu dia juga berani menggodanya.
Apakah kau mau, menikahnya sama kamu tapi setiap malam tdurnya di kamar
Hanifah?”
“Lalu, apa bedanya dengan kaiu?”
“Sudah kukatakan, aku hambar sama Nayla, sejak aku dari Jepang
kemarin, aku dah tak lagi menyentuhnya. Aku tidak bisa klarena tak lagi ada
cinyta di hatiku.”
Queen hanya diam dan menganggap semua itu sebagai omong
kosong doang. Ingin rasanya ia berkata, jika memang sudah tak cinta, kenapa rumah
tangganya masih dipertahankan? Tapi, ia takut malah dianggap memprovokator Al.
Lagipula, Nayla apa mau dengan mudah diceraikan? Ia begitu terlihat kalau
sangat mencintai Al.
Bahkan dalam diamnya ia juga berfikir tentang Diaz dan Hanifah.
Yng diucapkan Al adalah Benar, Dia juga tahu sendiri tidak hanya sekali kalau Hanifah
menggoda kekasihnya tak hanya satu dua kali saja.Jima memang benar hati Diaz
tidak bercabang, benar apa yang dikatakan Al, dia akan menolak.
Perlahan, Queen menoleh kea rah Al yang focus mengemudi. Dalam
hatinya ia bertanya, ‘Kenapa dia bisa mencintaiku? Apakah dia hanya kasian saja
sama aku atas apa yang selama dua tahun terakhir ini menimpaku, setelah
kehilangan nenek dan salah satu kakekku, bakan papa mamaku sampai sekarang
masih saja koma, menyusul aku keguguran dan kehilangan suamiku. Benar kata dia,
kalau dialah yang paling peduli dari pada Diaz. Dan benar kata dia, hati Diaz
bercabang.
“Kamu mau makan di mana? Uda waktunya jam makan malam ini.”
Al menoleh kea rah Quuen
dan menangkap basah wanita itu tengah melamun memperhatikan dirinya. “kenapa
lihatlihat? Aku ganteng, ya? Hehehe.”
“Narsis banget!”
“Terserah mau kemana saja, aku mau pulang saja dan kau
kembalilah, aku males liat kamu.” Queen langsung memalingkan wajahnya dengan
cepat begitu ia tersadar dari lamunannya.
Al hanya tersenyum gemas melihat tingkah Queen, mumpung
jalanan juga lagi sepi, pria itu menarik lengan Queen membawa dalam pelukannya
dan mencium pipinya dengan gemas.
“Apa yang kau lakukan dasar, gila!” Queen mendorong tubuh Al
dan kembali bergeser meper pintu mobil. Sedangkan Al hanya terkekeh saja,
__ADS_1