Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 206


__ADS_3

Hari ini Diaz merasa sangat bosan berada di rumah. Dalam


hati, ia menyesali, kenapa tadi malah ambil cuti. Haaah… Tapi, mana boleh buat,


nasi telah menjadi bubur. Kalau saja dia tahu aka nada Hanifah kemari, dia


lebih memilih untuk bekerja saja.


Dia menoleh ke dapur, melihat Hanifah nampak sudah akrab


saja dengan Umiknya. Walaupun dia adalah tipe cewek lasak, pecicilan dan jauh


dari kata anggun, tapi di sisi lain dia memiliki sesuatu yang unik yang


dimiliki oleh wanita lain, bahkan Queen sekalipun.


‘Argh, kenapa aku jadi memikirkan dia. Masalah dengan Queen


saja masih belum kelar, kenapa malah mikirin tuh makhluk jadi-jadian?’ umpat


Diaz dalam hati.


“Aduh, blubandnya gak ada, Hanifah… Gimana kalau kamu sama


Diaz keluar bereng, beli di mini market terdekat? Soalnya sayang adonannya


juga, kan masih banyak!”


Diaz mendesah kesal mendengar ucapan Umiknya, ia merasa


kalau itu hanya lah dibuat-buat saja, dan sengaja direncanakan.


“Ayo Di, pergi temani aku,” ajak Hanifah.


Pria itu masih bergeming di tempatnya, seplah dia enggan


sekali beranjak. Sampai pada akhirnya, Umik sendiri yang menghampiri Diaz dan


memintanya untuk pergi dengan Hanifah, sekalian membeli beberapa kebutuhan yang


hanya ada di supermarket besar yang serba ada seperti superin**.


“Umik, ada hal yang peril kita ingat di sini, pertunangan


antara aku dan Hanifah terjadi hanya karena keinginan sepihak, selama Queen


belum memutuskan untuk menerimanya atau tidak, selama itu jangan pernah


berharap lebih dengan hubungan yang tak jelas ini. Aku melakukan juga karena


terpaksa, jika saja Umik hanya datang bersama Fatimah saja kemarin, jelas aku


akan lebih memilih gagal dan menunggu Queen kembali.”


Hanifah yang berusaha tetap tersenyum pun tak bisa. Ia


menunduk menyembunyikan raut wajah yang tak lagi menutupi rasa sakit.


‘Kau sudah tau konsekwensinya, bukan? Ayo tetap sabar dan


tersenyum! Untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan memang ada harga yang harus


kita bayar,’ ucap Hanifah dalam hati.


Diaz kembali dari kamarnya dan sudah mengenakan jaket


berwarna hitam kemudian ia mengajak Hanifah pergi. Sudah sekitar lima menitk


keduanya berjalan beriringan, sampai akhirnya mereka pun tiba di sebuah mini


market, Diaz hendak berbelok. Tapi, dengan cepat gadis di sebelahnya itu


menarik lengannya dan berkata, “Umik meminta kita juga membeli ikan segar dan


beberapa sayurana, kalau kita ke alfa*** tidak ada, kita ke super*** saja, atau


ke hype****.”


Diaz hanya meruntuk kesal namun taka da pilihan selain


menuruti apa yang baru saja gadis di sebelahnya itu katakana. Dia memang tidak


terbiasa melawan dan menolak apapun yang diperintahkan umiknya, memberi


peringatakan saja tadi sebelum dia berangkat saja sudah menjadi beban,


sepanjang jalan ia terus memikirkan betapa kasarnya kata-katanya barusan,


sungguh tak pantas diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya yang sudah


berjuang sendiri tanpa sosok ayah dari dia SD sampai lulus dari fakultas


kedokteran.


“Gitu, kenapa kamu tadi tidak sekalian saja ngomong? Kita


bisa pergi naik mobil, gini kan kita jadi jalan kaki jauh banget,” umpat Diaz.


“Anggap saja kita berolah raga. Tidak ada rugi-ruginya kan


jalan, sekalipun capek tapi sehatnya dapat pahalanya juga karena nurut sama


umik,” jawab Hanifa dengan enteng sambil menunjuka keriangannya.


***123


Usai mandi dan berganti pakaian rapi, Al segera menuju rumah


sakit untuk menjemput Queen.


Tidak lama menunggu sekitar tiga menitan saja, Ia sudah


melihat segerombol perawat magang dan dua wanita mengenakan jas putih khas


dokter, dan salah satunya adalah Queen.


Al bergegas turun dari mobilnya dan merapikan dasi yang ia


kenakan.  Dari jauh ia mengamati kalau


teman seprofer\=si dengan wanitanya itu tengah menggodanya. Terlihat sekali dari


gestur tubuhnya, menyikuti Queen sambil tersenyum kemudian bergantian melihat


kea rah Queen dan dirinya.


 “Itu suami kamu sudah


datang tuh.”


“Apaan, sih?” ucap Queen dengan malas.


“Hay, Sayang. Ayo kita kembali! Aku akan mengajakmu ke suatu


tempat dan aku yakin kau suka,” ucap Al yang sudah ada di dekat mereka berdua.


“Aku lagi males pergi, jika kau mau ke sana, pergi saja


sendiri ajak Nayla bersamamu, jangan aku.”


Teman Queen yang beru Al ketahui Namanya dari papan nama


yang ia kenakan berana Nadira itu terkejut dengan jawaban Queen. Secara logika


di mana ada pasangan suami istri yang seperti itu.


“Queen, siapa itu Nayla?”


“Oh, Nayla itu temanku, Mbak. Dia suka sama aku dan istriku


cemburu, padahal sudah aku katakana antara kami tidak ada hubungan apapun, dia


ngambek terus,” jawab Al sambil terkikik melihat Queen yang tengah melototi


dirinya dengan senyuman puas penuh kemenangan.


“Queen, kalau kau mau bahagia, jangan dengerin omongan


orang, ya? Cukup kamu percaya saja dengan suamimu, kurasa dia juga benar-benar


sayang dan setia banget sama kamu, loh. Sudah jadi resiko memiliki suami


ganteng gitu.”


“Apa dia ganteng? Kalau kau mau ambil saja, aku tidak. Kan

__ADS_1


kamu juga masih jomblo, kan Nad?” Queen pun pergi,m sedangkan Al segera berlari


menyusul wanitanya yang sepertinya masih belum bisa memaafkan dirinya.


“Mbak, maafkan dia, dia kalau pms memang begitu.”


Nadia hanya bengong melihat dua sejoli teraneh yang baru


saja dia lihat. Entahlah apa mungkin ada yang slah, atau mungkin temannya itu


dipaksa menikah. Tapi, siapa sih yang gak mau dipaksa menikah dengan orang


seperti Al?


Al terus berusaha mengejar Queen yang sudah melewati jauh


dari monbilnya.


“Queen ayuk kita pulang saja jika kau memang tidak mau


pergi,” ucap Al berusaha merayu.


Tapi Queen tetap tak memepedulikan dirinya, ia terus


berjalan dan semakin cepat. Sampai pada akhinya ia tiba di sebuah pusat


perbelanjaan serba ada, ia melihat Diaz yang tengah menentang tas kresek berisi


blanjakan yang sebagian sayurannya nampak keluar dari kresek berwarna putih


tersebut.


Queen berlari meninggalkan Al dan meneriaki nama pria itu,


“Diaz!”


Pria oitu pun menoleh, namun badannya terlihat seolah kaku,


ia bingung, antara senang bisa melihat wanita yang dicintainya baik-baik saja


namun tak mampu memberi tahu kejadian semalam setelah dia pergi.


“Diaz, tunggu aku dong! Kamu jalannya jangan cepet-cepet,


tuker dong, kamu bawa yang berat, ini berat banget loh.”


Queen yang hendak melangkah menghampiri pria itu sekaligus


meminta penjelasan padanyua prihal kepastiannya, itu pun urung, ketika dia


melihat Hanifah menyusulnya dan bahkan gadis itu bertingkah manja sekali pada


kekasihnya itu.


Perlahan Queen mengundurkan langkahnya sambil melihat dengan


tatapan tak percaya kalau Diaz bisa berubah secepat itu hanya dalam waktu


semalam.


“Queen!” Diaz menghempaskan tangan Hanifah dan berlari


menghampiri Queen. Tapi, wanita itu sudah putar arah dan berlari.


Al mencegat Diaz sambil menyeringai, dia berkata, “Hey, Pak


dokter! Kau urus saja tunanganmu yang baru semalam itu, gak usah repot-repot


kejar cewek lain. Emang, kalau janda itu lebih mempesona, ya? Hehehe, aku rasa


juga begitu.”


Diaz mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, kian hari ia


kian jengkel dan sangat membenci Al. Tapi, ia tidak mau mengotori tangannya,


sekalipun dia tidak pernah memukul orang lain, sekalipun itu sesame pri. Apalagi


wanita.


“Ini semua terjadi juga karena kamu, apa tujuanmu membawa


pergi Queen dari acara pertunangannya sendiri? Apakah kau sudah merancanakan


dengan pria di hadapannya.


“Hehehe, kau pikir apakah kakekku orang yang seperti itu?


Aku malah kaget kalau kakek sampai ambil tindakan seperti itu, dan lebih kaget


lagi kamu ternyata buaya, mau-maunya tunangan dengan wanita lain hanya karena pacarmu


kubawa lari.”


Diaz diam membisu, ia tak mampu mengatakan apapun untuk


menjawab perkataan Al. Tapi, apa yang dia katakana juga ada benarnya, seandainya


saja dia bisa sedikit lebih tegas pasti…. ‘Ah, aku benci diriku sendiri, tapi Umik,


kenapa Umik harus demikian?’ keluh Diaz dalam hati.


“Tapi ada baiknya lah kau bisa menunjukkan sikap aslimu di


depan keluarga besarku, sekarang jaga dia yang sudah lama mencintaimu, jangan


sakiti dia, ingat Hanifah juga adikku, soal Queen, biarkan kujaga dia sendiri,”


ucap Al sambil meletakkan telunjuk kanannya pada dada kiri Diaz. “dan kau tak


perlu ikut campur lagi,” imbuhnya, kemudian ia pergi menyusul Queen.


Al melihat Queen berjongkok menyembunyikan wajahnya sambil


memeluk lututnya sendir, ia yakin kalau wanitanya kini tengah menangi. Tapi, ia


ingin membuat Queen menjadi lebih sakit agar meninggalkaj Diaz dan melupakannya,


agar peluang untuk mendapatkan cintanya lebih besar, sebab bagaimana pun Alex


juga sudah lama di singkirkan selum Aditya terbunuh olehnya, dan sekarang yang


berhasil dia singkirkan adalah Diaz.


“Sudahlah takada gunanya pula menangis, ini sudah petang,


ayo segera kembali!”


Queen masih Diam bergeming di tempatnya. Keduan pundaknya


naik turun menyesuaikan tarikan napas dan isakannya.


“Lihatlah dirimu! Kau bahkan sampai takt ahu malu menangis


di pinggir jalan sampai jadi tontonan orang-orang lewat. Kau itu sudah dewasa


bukan anak-anak lagi.” Merasa diabaikan oleh Queen, Al merasa tak ada lagi


pilihan selain mengangkat tubuh wanita itu meletakkan di pundak kanannya dan


berjalan kembali ke rumah sakit di mana dia memarkirkan mobilnya tadi.


“Hey, Al! Apa yang kau lakukan? Dasar brengsek lepaskan aku!”


teriak Queen sambil meronta-ronta dan memukuli punggung pria yang menggendongnya.


Al hanya diam tak peduli, beberapa pasang mata yang kebetulan


lewat atau berpapasan dengan mereka semua telah memperhatikan mereka berdua. Queen


merasa sangat malu terlebih ia belum melepaskan jas putih yang dikenakannya


tadi.


“Al, apakah kau buta? Lihatlah banyak orang di sini. Cepat!


Turungkan aku,” bentak Queen.


Bukannya menurunkan, Al malah terkekeh dan berkata, “Kau


semakin berteriak, semakin banyak yang lihat, sebab yang ada di sana dan tak


melihat kita dia jadi menoleh karena penasaran dengan teriakanmu, Sayang.”


“Makanya, turunkan aku! Aku heran sama kau, kamu ini bodoh

__ADS_1


apa gila, sih?” bentak Queen.


“Mana kutahu? Coba saja bawa aku ke psekeater. Tapi, kalau


menurutku sih, ya dua-duanya, orang busa saja terlihat bodoh karena cinta. Dan aku


gila, karena tergila-gila padamu, sayang. Makanya aku terlihat seperti orang


bodoh,” jawab Al dengan santainya dan terus menggendong tubuh wanita itu.


“Dasar, kau gila! Memang gila, benar-benar gila!”


“Ya, kau sudah tahu jawabannya lalun kau mau apa?” jawab Al


sambil membuka pintu mobil dengan tangan kirinya dan meletakkan Queen seperti


barang di dalamnya, sengaja ia melemparnya dengan sedikit keras, itung-itung


hiburan gratis sambil menggodanya.


“Auuuu, sakit, Al!” Queen memukul keras lengan Al sambil


memegangi pingganya.


“Kau ini kenapa semuanya sakit, sih? Gak ada yang nikmat? Hehehe.”


Queen membuang muka tak mau lagi melihat Al. Apapun yang dia


katakana juga sepertinya percumah saja, sebab Al tak pernah menimpalinya dengan


serius. Apakah benar, otaknya konslet? Tapi kenapa? Apa sarap dilehernya yang


menghubungkan dengan otaknya itu tergelintir jadi dia berubah seperti itu dalam


sekejab?


Selama perjalanan menuju apartemen, Queen hanya iam saja. Dalam


benak dan ingatannya tak lepas dari bayangan bagaimana cara Hanifah bermanja


dengan Diaz. Sekalipun ia tak melihat sendiri jika Diaz meladeni Hanifah. Namun,


bukankah semua laki-laki seperti itu? Dengan dia belanja sayur-sayuran berdua


saja, bukankah itu artinya dia sudah bisa menerima wanita yang bersamanya? Hal


itu hanya membuat dada Queen terasa sesak dan ia pun kembali terisak karena


menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Al melirik ke samping, lalu berkata, “Kenapa nangis lagi


sih? Kamu nangisi Diaz? Heh… dia saja dah bahagia sama Hanifah.” Al tertawa


miring sambil menatap lurus lagi ke jalan raya.


“Kau benar-benar tidak punya otak, Al! Bahkan sedikit pun


kau merasa tidak bersalah. Kamu sadar gak sih ini semua terjadi karena ulahmu?”


ucap Queen lirih di sela-sela isakannya, sambil menghapus air mata di kedua


pipinya. “coba saja kau tidak bersikap gila dan membawaku pergi dari sana, aku


yang sudah menjadi tunangannya Diaz sekarang, bukan Hanifah,” imbuhnya lagi.


“Kau harusnya bersukur dan berteimakasih padaku, Sayang.


Karena dengan aku membawamu pergi semalam, kau bisa melihat, bukan? Seberapa


besarnya cinta Diaz ke kamu? Sudah kukatakan, kalau memang dia tulus


mencintaimu, apapun resikonya, dia akan tetap menolak dengan Hanifah, seperti


hal nya aku.”


“Bajingan sepertimu itu, adalah pengecualian!”


“Kau umur berapa sekarang?”


“Hampir duapuluh tujuh, kenapa?”


“Bukankah sejak lahir kau sudah jadi adikku? Pernah tidak


aku berbuat mesum sekalipun padamu? Walaupun kau berpakaiaan sexi dan menggodaku


di atas ranjang. Karena aku anggap kamu sebagai adikku. Tapi sekarang… Aku tak


mau jadi kakamu lagi, maunya jadi suamimu. Aku ternyata sudah lama mencintaimu.


Aku lakukan hal itu semalaam juga dah siap dengan rsiko yang kudapatkan apa,


kenapa? Karena aku mencin taimu. Kau mau, mempertahankan hubungan dengan Diaz


yang di hatinya jjuga ada Hanifah? Bahkan di belakangmu dia juga berani menggodanya.


Apakah kau mau, menikahnya sama kamu tapi setiap malam tdurnya di kamar


Hanifah?”


“Lalu, apa bedanya dengan kaiu?”


“Sudah kukatakan, aku hambar sama Nayla, sejak aku dari Jepang


kemarin, aku dah tak lagi menyentuhnya. Aku tidak bisa klarena tak lagi ada


cinyta di hatiku.”


Queen hanya diam dan menganggap semua itu sebagai omong


kosong doang. Ingin rasanya ia berkata, jika memang sudah tak cinta, kenapa rumah


tangganya masih dipertahankan? Tapi, ia takut malah dianggap memprovokator Al.


Lagipula, Nayla apa mau dengan mudah diceraikan? Ia begitu terlihat kalau


sangat mencintai Al.


Bahkan dalam diamnya ia juga berfikir tentang Diaz dan Hanifah.


Yng diucapkan Al adalah Benar, Dia juga tahu sendiri tidak hanya sekali kalau Hanifah


menggoda kekasihnya tak hanya satu dua kali saja.Jima memang benar hati Diaz


tidak bercabang, benar apa yang dikatakan Al, dia akan menolak.


Perlahan, Queen menoleh kea rah Al yang focus mengemudi. Dalam


hatinya ia bertanya, ‘Kenapa dia bisa mencintaiku? Apakah dia hanya kasian saja


sama aku atas apa yang selama dua tahun terakhir ini menimpaku, setelah


kehilangan nenek dan salah satu kakekku, bakan papa mamaku sampai sekarang


masih saja koma, menyusul aku keguguran dan kehilangan suamiku. Benar kata dia,


kalau dialah yang paling peduli dari pada Diaz. Dan benar kata dia, hati Diaz


bercabang.


“Kamu mau makan di mana? Uda waktunya jam makan malam ini.”


 Al menoleh kea rah Quuen


dan menangkap basah wanita itu tengah melamun memperhatikan dirinya. “kenapa


lihatlihat? Aku ganteng, ya? Hehehe.”


“Narsis banget!”


“Terserah mau kemana saja, aku mau pulang saja dan kau


kembalilah, aku males liat kamu.” Queen langsung memalingkan wajahnya dengan


cepat begitu ia tersadar dari lamunannya.


Al hanya tersenyum gemas melihat tingkah Queen, mumpung


jalanan juga lagi sepi, pria itu menarik lengan Queen membawa dalam pelukannya


dan mencium pipinya dengan gemas.


“Apa yang kau lakukan dasar, gila!” Queen mendorong tubuh Al


dan kembali bergeser meper pintu mobil. Sedangkan Al hanya terkekeh saja,

__ADS_1


__ADS_2