
Acara pukul sepuluh malam, Quen sudah merasa lelah. Ia ke dalam untuk berganti pakaian santai, lagipula para tamu yang masih ada juga akan memakliminya bukan? Sejak jam dua siang loh mereka mulai acaranya.
Usai mandi Quen bermaksut menemui kakaknya Al. Lagi pula Alex juga masih belum selesai membersihkan badan.
"Alex, aku ke tempat kak Al dulu, ya?" ucap Quen saat hendak membuka pintu kamar.
"Ya, kesanalah. Nanti aku akan menyusul kalian jika sudah," sahut Alex dari dalam kamae mandi yang di iringi suara gemercik air shower.
Quen kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang meraih lengannya lalu memeluknya erat dari belakang. Membawa ke dalam ruangan sebelah kamarnya dan Alex yang merupakan tempat penyimpanan buku-buku sejarah keluarga papa Nicolas.
Mulanya Quen akan berteriak, tapi, pria itu sangat cepat pergerakannya. Dia membekap mulut Quen dengan tangan kanannya.
Quen berusaha keras melepaskan diri tapi, pria itu terlalu kuat. Entah karena panik atau bagaimana. Harusnya dia bisa dengan mudah melepaskan diri dari, tapi, dalam situasi seperti ini dia lupa kalau menguasai seni bela diri.
"Kau tenanglah, jangan berisik, agar kita tidak ketahuan. Memang kau mau, suami, ipar dan mertuamu sedih melihat kita di sini? Tentu tidak, bukan?" bisik laki-laki itu di dekat telinga Quen.
"Aku tidak menyangka kau orang seperti ini, awalnya q berfikir kau ini pria baik-baik dan sopa," ucap Quen dengan emosi tertahan.
"Oh, ya?" Aditya nampak menyeringai dan mendekatkan wajahnya pada wajah Quen. "Aku begini karena kamu, kau membatalkan pernikahan sepihak dan malah menikah dengan Alex, beraninya kau?"
"Lalu, untuk apa aku menikahi pria jika di hati pria itu tidak hanya ada aku? Kau juga masih menyangi Novita, bukan? Dulu kau berjanji akan menunggunya dalam keadaan apapun akan mau menerima dia dengan kedua tangan dan hati terbuka demi Axel. Lalu, apa ini yang namanya menerima dengan sepenuh hati?"
Aditya memandang Quen dengan tatapan penuh nafsu. "Sudah bicaranya, Sayang?"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku jijik mendengarnya!"
Kembali pria itu menyeringai dan mencengkram lebih erat lagi pergelangan Quen.
"Kau tahu, wanita yang marah-marah itu sangat menggoda dan mampu membangkitkan nafsu." Aditya hendak mendaratkan wajahnya pada leher Quen. Tapi, dengan cepat Quen menendang slangkangan Aditya dengan lutut kanannya. Sehingga pria itu kesakitan dan Quen bisa melarikan diri.
Quen keluar dari tempat itu dengan terburu-buru namun melihat situasi sekitar berharap tak ada seorang pun.
Dengan perasaan tak karuan dan badan gemetaran ia melangkah mencari keberadaan kakaknya yang mungkin ada di ruang tengah.
__ADS_1
Brugh...
Quen terkejut saat ia menabrak sosok pria bertubuh sedang.
"Hah," pekiknya sambil menutupi kepalanya dengan kedua lengan.
"Quen, ini aku Kak Vico. Kau kenapa?" tanya Vico panik seperti ada yang aneh dengan adik sahabatnya. padahal tadi dia seperti ya baik-baik saja, kenapa tiba-tiba seperti psikologinya mengalami suatu trauma. Tapi, apa? Bukan Alex, kan?
"Kak Vico. Kukira siapa, di mana kakakku?" tanya Quen berusaha terlihat baik-baik saja.
"Ada di sana, mana Alex?" tanya Vico sambil melihat reaksi Quen saat mendengar nama suaminya di sebut.
"Dia ada di kamar, tadi masih mandi, mungkin sudah selesai. Kesanalah jika kau ingin menemuinya," jawan Quen dan pergi berlalu.
Sebelum mengetuk pintu kamar Alex, Vico melihat Aditya yang nampaknya tidak baik-baik saja. Tapi, ia tidak berani berasumsi apapun, apalagi mengatakan hal ini kepada Al. Karena akan rumit jika hal ini sampai diketahui pria itu.
"Kak, apakah serius kembali saat ini juga?" tanya Quen dengan nada sedikit berharap kakaknya membatalkan niatnya.
"Ya sudah gapapa, kakak langsung ke Indo saja, kasian kak Nay dan mama juga, kan?" ucap Quen pelan. Memang merayu Al untuk membatalkan janji apalagi menyangkut urusan perusahaan, jelas itu akan sia-sia. Tapi, setidaknya Al bukan type cowok gila kerja seperti tokoh pria yang ada di komik mangatoon seperti itu, lah. So, dia juga masih ada waktu untuk keluarga.
Tak lama kemudian Alex keluar menghampiri Al. Keduanya sempat terlibat dalam obrolan sebentar, lalu, selang beberapa menit Al pun berpamitan kepada keluarga Alex.
"Alex, aku titip adikku. Ya? Jaga dia dengan baik untuk kami." Al menepuk-nepuk pundak Alex dan memeluknya. Lalu bergantian dengan Quen.
"Ya ampun, tidak menyangka, kau menikahi putri pengusaha perpesawatan, Alex," ucap mama Rita hampir tak percaya begitu mengetahui sedikit tentang Al yang menjadi penerus sang kakek dalam bisnis yang ia jalani.
"Aku juga baru tahu setelah menikah dengan Quen kok, Ma." jawab Aditya apa adanya.
"Mama dari awal melihat Quen sudah terlihat kalau dia putri dari keluarga berada, tapi, tidak nyangka kalau sekaya ini. Papa kamu juga bantu kakakmu, Quen?"
"Tidak, papa tetap di Indonesia saja, Ma."
"Oh, papa kamu masih muda, dia bekerja apa?" tiba-tiba saja jiwa penasaran mama Rita muncul untuk menggali lebih dalam tentang besannya.
__ADS_1
"Papa tuh, kuli bangunan," jawan Quen polos dan diikuti tawa dari semua yang ada di mobil termasuk Novita dan papa Nicolas.
"Mertuaku menjadi owner dua perusahaan, Ma. Garmen dan kontruksi. Dan lak Al sering membantu papa untuk survey ke tempat yang akan di dirikan gedung atau tempat pariwisata baru.
"Tapi, Quen tidak seperti anak gadis kaya lain ya? Gaya pakaiannya sederhana. Tapi, namanya bunga, sekalipun tumbuh di comberan teta0 saja dia wangi dan indah, iya kan Pah?" ucap mama Rita bersemangat.
"Mama, bisa aja," ucap Quen tersipu malu.
"Eh, tapi kalau lihat kedua besan kita kemarin, Ma. Vano dan Quen seperti dublikat papa mamanya, ya?" ucap papa Nicolas.
"Iya, kadar kemiripannya tinggi ya pa, gak seperti anak-anak kita," timpal mama Rita lagi.
n
***ini Cast nya mama Clara.
san***
Dan ini tuan putri Quen.
'Iya mama, kau benar. Quen memang bunga yang indah, makanya putra dan menantumu tergila-gila padanya sampai susah move on. Bukan karna harta orang tua yang dia milili. Tapi, dari hati, sikap dan juga kecantikannya,' batin Novita dalam hati sambil tersenyum miris menatap Alex dan Aditya.
Awalnya Novita menganggap hanya dia yang paling sempurna di mata Aditya, sebab. Dari jaman awal masuk SMA keduanya sudah bersama walau dia sering menghianati dengan jalan dengan laki-laki lain, Aditya masih saja tetap menerimanya jika Novita kembali, dan selama itu tidak pernah ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisi dia di hati Aditya.
Jadi, saat ia mendengar kalau mantan suaminya akan menikah, ia dengan percaya diri hanya menganggap Quen sebuah pelampiasan saja. Tapi, setelah tahu Aditya menolaknya baru dia percaya apa yang dikatakan Alex adalah benar jika Aditya sungguh-sungguh mencintai Quen.
Kembali dia mengira kalau Aditya membuka hati untuk yang lain karna sakitnya penghiatannya yang kali ini, tapi, tidak. Dia salah. Memang Quen sosok yang sangat luar biasa, bahkan di hari pernikahannya ia merelakan nama baik dan reputadi dia dan seluruh keluarganya hancur demi memberi keluarga yang utuh untuk seorang anak, bahkan bukan apa-apanya. Memang hatinya sangat mulia.
"Horeee kita sampai!" Teriak Axel menyadarkan Novita dari lamumannya. Tarnyata benar saja mobil mereka sudah menginjak halaman rumah orang tuanya.
__ADS_1