
"Hay, kau pikir aku anak kecil dengan kau cium begitu sudah cukup membayar jasa yang kuberikan padamu? Ayo, traktir aku!" Seru Quen dengan ekspresi muka jenaka hingga membuat Al terkekeh.
"Minta ditraktir apa?" tanya Al dengan lembut.
"Apa, ya? Aku hampir tidak memiliki keinginan saat ini. Ya sudah, kau keluarlah! Biar kubereskan alat-alat medisku. Agar aku tidak bingung saat sekolah besok," ucap Quen.
"Baik, terimakasih, Dokter Quen," Al pun pergi keluar meninggalkan Quen yang sibuk dengan alat-alat medisnya.
Cukup lama Nayla menunggu Al kembali ke kamarnya, tapi, ia tidak kunjung kembali, karena penasaran ia pun keluar kamar setelah mencuci mukanya agar tidak terlihat kalau ia baru saja menangis.
Dari atas ia melihat kalau Al tengah ngobrol dengan Lyli di bawah. Rupanya gadis itu juga mengkhawatirkan dengan kondisi tangan tuan mudanya.
"Tidak ada masalah, cuma luka kecil. Sudah dijahit pula sama Quen tadi."
Cuma itu kalimat yang didengar Nayla. Dengan tergesa-gesa wanita itu turun ke bawah menghampiri suaminya.
"Mas, separah ini kah tanganmu?" tajya Nayla khawatir sambil berusaha meraih tangan kanan Al yang di perban.
"Tidak apa-apa, satu minggu lagi paling juga sembuh, kamu jangan bikin aku emosi lagi, ya?" ucap Al pelan, lalu pergi meninggalkan Nayla.
Gadis itu membeku di tempatnya. Ia terlalu tenggelam dalam perasaan merasa bersalah. Tapi, apa mau di kata, nasi terlah menjadi bubur. Nayla menangis sejadi-jadinya di ruang tamu.
Ia tahu saat ini Al sangat marah kepadanya, tapi, pria itu terus berusaha menyembunyikan kemarahannya dengan bersikap lembut dan halus padanya dan memilih menghindar jika masih belum bisa berdamai dengan hatinya.
Dari tangga Quen turun sambil menguncir rambutnya asal. Ia menghampiri Nayla yang tengah menangis.
"Kak, kau kenapa?" sapa gadis itu.
"Aku tidak apa-apa. Jam berapa mama mengajak kita pergi?"
"Harusnya mama sudah tiba, mungkin tidak jadi. Oh iya, kak Al tadi kenapa tangannya?" tanya Quen polos. Karena ia memang tidak tahu menahu bagaimana dengan hubungan rumah tangga kakaknya, sebab hanya dua mingguan tinggal.bersama mereka sudah pindah ke Jepang.
"Apakah dia tidak bilang padamu, terken apa tangannya? Kau kajnyang menjahitnya barusan?" ucap Nayla malah bertanya balik.
"Dia diam saja." Quen mengedarkan pandangannya ke halaman depan sekelibat ia melihat banyangan kakaknya bersama seorang pria yang tidak asing baginya.
Dia pun melangkah bermaksut untuk melihat siapa yang datang. Tapi, Nayla salah paham dia memegangi pundak Quen.
"Kau beri waktu kakakmu sendiri dulu, ok?" ucap Nayla tanpa ekspresi.
Quen mengerutkan alisnya sambil tersenyum, "Hay, ada apa ini, kak? Bukannya kak Al hanya terluka dan itu akan baik-baik saja?" jawan Quen santai.
Tak lama kemudian Al sudah kembali masuk. Nayla melepaskan tangannya dari pundak Quen, menatap dengan isyarat penuh permintaan belas kasihan dari suaminya yang benar-benar marah.
"Siapa tadi yang datang, Kak?" tanya Quen begitu melihat kakaknya.
"Bukan siapa-siapa, kok," jawan Al.
"Kenapa tidak kau ajak masuk? Sepertinya orang itu familiar banget, siapa ya? Kak Juna apa?" ucap Quen menebak-nebak.
"Dasar kau berlagak seperti peramal saja," ucap Al sambil menyentik jidat adiknya.
"Aku cuma merasa saja, benar atau tidak?" tanya Quen.
"Iya, benar. Ada sedikit urusan antara aku dan dia."
Bersamaan dengan itu, Clara dam Vivian sudah tiba di rumah.
"Quen, Nayla. Apakah kalian menunggu mama, Nak?" tanya Clara begitu melihat anak dan menantunya kebetulan berkumpul.
"Telat lima belas menit, tidaklah buruk," jawab Quen sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
"Ya ampun, Al... Kenapa tangan kamu, Nak?" tanya Clara bersamaan dengan Vivian panik.
"Dia ninju meja kaca, di dalam kamarnya, Ma," jawab Quen sekenanya.
Sedangkan Al dan Nayla hanya bungkam dan saling pandang satu sama lain.
"Benar, Al apa kata Quen? Ada apa?" tanya Clara.
"Cuma kecelakaan kecil saja kok, Ma. Tidak apa-apa, Quen juga udah menjahitnya," jawab Al sambil melirik ke arah adiknya.
__ADS_1
"Ya sudah, mama istirahat dulu, Om Erwin tidak ada di tempat siang ini, Quen. Bagaimana kalau nanti sore saja sekitar jam tiga?"
"Iya deh Ma, gak papa. Aku naik dulu deh." Quen pun pergi ke ke arah dapur.
"Kalian istirahatlah! Al, minta Lyli untuk membersihkan kamarmu, sudah?" tanya Clara.
"Ya, belum, sih. Masa iya nyuruh kakak?" tanya Al ragu-ragu.
"Ya sudah, kau yang membersihkan, kan kamu yang memecahkannya, kan?" ucap Clara lalu pergi meninggalkan mereka berdua, menggandeng mamanya ke kamar.
"Mama mau Clara ambilkan makanan dulu sebelum minum suplemen dan obat?" tawar Clara begitu Vivian sudah duduk di atas kursi yang ada di dalam kamarnya.
"Baiklah boleh, sedikit saja, tadi kan Mama sudah makan siang soalnya."
"Iya, Ma." Clara pun keluar menuju dapur di sana ia melihat Quen tengah berdiri di depan kompor, sepertinya ia sedang membuat sesuatu.
"Sedang apa, Quen?"
"Bikin salad sayur Ma, ini ngrebus telur," jawab Quen.
"Oh, iya. Tangan kakakmu tadi apakah parah, Nak?"
"Ya lumayan, jahitan enam apa berapa tadi tuh, lupa."
"Kau tahu awalnya kenapa?"
"Tidak, Ma. Quen di kamar muter mp3. Pas musik habis Quen mendengar ada sesuatu yang pecah dari dalam kamar kakak, cuma Quen takut yang mau masuk dia ada si dalam dengan kak Nayla. Kak Nayka juga kaya habis nangis tuh."
"Oh, ya sudah. Biar nanti mama tanya setelah papamu datang."
Clara pun pergi begitu selesai mengambil nasi lauk dan sayur untuk Vivian yang sedang tidak enak badan.
Clara duduk di teras belakang sambil memijat lembut pelipisnya. Ingin sekali menggagalkan ke boutique menemui Erwin dan menunggu suaminya datang jam empat sore nanti, tapi, pernihkan putrinya sudaj tinggal menghitung hari, kawatir jika ada yang tidak pas mermaknya buru-buru dan tidak memberikan hasil maksimal.
Karena tidak bisa menahan, ia pun memilih untuk menghubungi Vano, suaminya.
"Halo, ada pa sayang?" jawab suara itu dari sebrang dengan nada khasnya yang lembut, dan berkharisma.
"Tentu saja tidak. Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana kondisi mama tadi?"
"Ya, aku baik-baik saja, dan mama sekarang dia sedang istirahat di dalam kamarnya," jawab Clara. Lalu kemudian dia kembali memanggil suaminya, "Van."
"Iya, ada apa?"
"Kau nantinpulang jam berapa? Aku jam tiga baru akan ke tempat Erwin."
"Mungkin agak telat Sayan. Apakah kau minta jemput nanti?"
"Emm bukan, tidak masalah. Ada clien mau bertemu?"
"Iya, oh iya sayang. Jika kau pergi bersama Nayla dan Quen minta Al temani mama saja di rumah, jangan ajak dia, ya?"
"Iya, papa juga belum kembali dari empang, kok Van."
Terdengar dari seberang pria itu tertawa kecil. Mungkin papa dan om nya jika berkumpul saja aja, pecinta ikan hoby memancing. Seharian pun juga tidak akan merasa lelah. Beda dengan dirinya jika tidak ada hal yang dilakukan lebih memilih main game online.
"Van, tadi tangan Al terluka sampai harus dijahit sama Quen. Aku belum tahu apa masalahnya. Mungkin kamy bisa mengajaknya berbicara dulu nanti saat pulang, dan nanti malam, kita kumpulkan dia dan Nayla, agar tahu permasalahan di antara mereka," ucap Clara sebelum akhirnya memutus panggilannya dan bersiap pergi karna waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga.
🍁 🍁 🍁
Di sebuah Cafe duduk dua pria muda yang sama-sama menikmati sebatang rokok yang terselip di antara ibu jari dan jari tengahnya.
Keduanya masih nampak santai, rupanya, salah satu dari mereka belum mengutarakan maksut dari pertemuannya.
"Kak Juna, ada perlu apa memangnya? Tumben banget?" sapa pria bertubuh atletis itu yang mengenakan kaus hitam pres body yang memamerkan otot-otot tubuhnya yang mengecap di permukaan kaus yang di kenakannya.
"Maaf, sebelumnya, sebenarnya aku tidak bermaksut ikut campur dalam masalahmu, tapi, hal ini sepertinya kau perlu tahu, Alex." Juna pun mematikan api pada puntung rokoknya pada sebuah asbak yang disediakan. Ia mulai fokus pada inti masalah dan wajahnya nampak sangat serius.
"Katakan saja, aku percaya padamu!" Seru Alex. Seraya mematikan rokoknya yang memang sudah hampor habis.
"Kau jujur sama aku, apakah kau masih mencintai Quen?" tanya Juna dengan sorot mata tajam dam penuh selidik.
__ADS_1
Alex tidak percaya kalau Juna mengajaknya bertemu hanya untuk membahas soal mantan pacarnya yang akan menikah dengam mantan kakak iparnya sendiri. Lantas, ada apa?"
"Kenapa kakak bahas itu?" tanya Alex berusaha tenang meski sebenarnya tubuhnya gemetaran begitu mendengar nama gadis itu di sebut.
"Kau jangan tanya balik, jawab saja iya atau tidak?"
"Kalaupun iya kenapa, kak? Bukankah dia sudah akan menikah dengan dosennya?"
"Iya, tapi sekarang Quen mulai ragu melanjutkan pernikahannya semenjak dia tahu kalau mantan istri dari dosennya kembali dan meminta rujuk," jawab Juna lesu, matamua mengisyaratkan kalau ia turut iba dengan penderitaan batin Quen saat ini.
"Apa? Bagaimana dia tahu? Apakah Aditya itu bilang dan ingin kembali dengan mantan istrinya demi anak setelah berjuang mendapatkan cinta Quen?" tanya Al penuh emosi.
"Kau tenang dulu, Alex. Jangan bawa emosi." Juna berusaha memenangkan Alex, dan menyodorkan secangkir kopi pada pria di hadapannya untuk diminum.
"Beberapa hari lalu Quen melihat mantan istri Aditya juga menyusul putranya. Sebenarnya mereka sudah janjian di sekolahan Axel sama-sama menjemput dan makan siang bertigam tapi, begitu turun dari ojek Quen melihar wanita memohon pada calon suaminya sendiri dan sedikit mendengar kembali demi memberi putra mereka sebuah keluarga yang utuh. Jadi, saat itu juga Quen kembali pulang tanpa memberi kabar," ucap Juna panjang lebar.
Alex nampak berfikir keras, saat itu dia juga bedrada di temoat kejadian, tapi, kok tidak melihat Quen? Apa mungkin dia terlalu fokus pada kakaknya jadi dari arah mana Quen datang dia tidak melihat.
"Lalu masalahnya apa? Selama Aditya tetap memilih dia kan tidak masalah. Dan Axel, bukannya juga menyukai Quen?" tanya Alex, masih dalam keadaan berlagak tenang.
"Sebab, awal kedekatan Aditya dia pernah berujar akan tetap menunggu mantan istrinya dalam keadaan yang seperti apapun demi anak. Kau sendiri coba bayangkan, sebaik-baiknya orang tua sambung apakah dapat memberi kenyamanan yang sama dibandingkan orang tua kandung? Yah, walau pun tidak semua begitu. Kalau mantan istri dosen itu terus datang apakah kau bisa jamin rumah tangga mereka akan terus baik-baik saja?"
"Lalu masalahnya apa? Apa hubungannya denganku?"
"Kau datang saja jika pernikahan itu urung dibatalkan. Jadilah tamu undangan yang baik, tidak usah ikut-ikutan yang lagi viral dengan dramanya," cetys Juna sedikit melemparkan candaan agar pikiran Alex tidak tegang.
"Apakah kau bermaksut menjadikanku cadangan bila andai Quen menolak menikah dengan pria tua itu?"
"Jika kau menolak, biar aku saja yang menikahi Quen, menyelamatkan dia dari rasa malu terhadap keluarga besarnya dan seluruh tamu undangan, kau pikir aku keberatan?" ledek Juna sambil menyesap secangkir kopi di dahapannya.
"Heh, kau jangan cari gara-gara. Iya aku masih mencintainya. Kalau tidak demi keponakanku, mana mungkin aku akan menyerah dari pria tua itu."
"Pff...!" Juna tersedak dan terbatuk-batuk mendengar kalimat Alex, bukan karena bentuk dari kecemburuan pria itu, melainkan kata keponakan.
"Maksutmu keponakan?" tanya Juna heran.
"Ya, Mantan istri pria tua itu adalah kakak kandungku. Axel secara otomatis ya keponakanku, lah." jawan Alex lirih.
"Begitu, ya? Aku bahkan baru tahu. Apakah Quen sudah tahu?"
Alex menaikan kedua pundaknya seolah mengatakan mana kutahu. Sebab sejak saat Aditya menegurnya untuk tidak lagi dekat dekat dengan Quen pria itu benar-benar telah lost komunikasi.
🍁 🍁 🍁 🍁
Quen mencoba gaunnya dan berputar putar di depan cermin tanpa sedikit senyuman di bibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sedikitpun dia tidak terlihat ceria.
"Say, kau jangan cemberut mulu donk, ayo senyumlah agar inner beautymu terpancar, iya gak sih, Ma?" ucap Erwin sambil menoleh ke arah Clara yang duduk di sebelah Nayla yang memangku Bilqis.
"Ma... Maaa... Kapan aku nikah sama bapakmu, hah?" cetus Clara sekenanya membuat Nayla menahan tawa saat mendengar kalimat dari mama mertuanya yang dia rasa sangat lucu.
"Iiiih, Lala, kamu gitu banget sih ma aku? Kesel deh jadinya, aku kan cuma mebahasakan anak-anak, anak kamu, Eren, dan Sely dah kuanggap anak sendiri sama aku." ucap Erwin dengan logat khas bencongnya.
"Yang lain terserah, tapi untuk Quen dia murni hasilku dengan Vano. Kaku tidak bisa pura-pura anggap dia anak dong, yang tak tahu ngiranya kau ikut andil pula nanti," jawab Clara sambil terbahak.
Nayla dan satu asisten pribadi Erwon turut tertawa mendengar argumeb dua orang itu. Tapi, beda dengan Quen ia hanya diam saja. Jangankan tersenyum tertawa saja tidak.
"Dih, dasar emang ya, dese nenek-nenek ya gitu deh, cepet marah, awas darah tinggi kamu La," ucap Erwin dengan gaya kemayunya.
"Kamu nyumpahin aku?"
"Ah, mana mungkin, cyyn. tidak kok. Eh, kenapa Al tidak kau ajak kemari? kamu umpetin dia dariku, ya? Aih, Ra. aku penasaran lah dengan dewasanya putramu itu kaya apa, seganteng Vano apa lebih ganteng dari Vano?" Erwin terus melontarkan pertanyaan kepada Clara yang masih memasang ekspresi muka datar.
"Nanti saat pernikahan putriku dia juga ada, kau lihatlah sepuasnya!"
"Lagian kamu curang. Nikahin bujangmu gak ada kabar-kabar aku, sih?"
"Saat itu Al tidak mau mengadakan pesta dan mengundang banyak orang, jadi ya sekedar ijab Qobul saja."
"Aih, Al pasti gak mau buang-buang waktu kaya kamu dulu, dia buru-buru seperti papanya ajak tempur, hahaha."
Clara melotot ke arah Erwin begitu mendengar kalimat yang diucapkan teman SMA nya dulu. teman? tapi mereka tidak seperti seorang teman lo dulu, itu? lebih ke musuh, ya mantan musuh bebuyutan seperto Tom and Jerry.
__ADS_1