
“Kami belum bahas tentang ini, Kek. Lagipula Hanifah juga
belum lulus kuliah, kan.”
Sesaat suasana menjadi hening. Diaz dan Hanifah sama-sama
menunduk. Sementara kakek Andrean memandang kedua anak muda yang duduk di depannya sambil mencari cara untuk kembali
mencairkan suasana lagi.
“Hanifah, seandainya kamu menikah sebelum lulus kuliah,
bagaimana? Kamu masuk jurusan bisni, kan? Bisa lah masuk ke perusahaan kakakmu
Al dan Queen meskipun sudah menikah, yang penting potensi kamu bagus.”
“Aku sih gak keberatan, Kek. Kalau pun aku tidak bisa
bekerja, kan bisa meneruskan usaha mama. Walau ilmu kecantikan tak setinggi
mama, aku bisa memenjnya.”
“Iya… Bagus, Hanifah. Tapi, apakah orang tuamu setuju jika
kau menikah muda, atau dalam waktu dekat ini?”
“setuju saja, Kek. Dari pada punya anak hamil duluan,” jawab
Hanifah scara spontan membuat Diaz terkejut dan memandang tajam ke arah
Hanifah.
“Maksut kamu apa, Hanifah?” tanya Diaz.
Sedangkan Hanifah hanya cengengesan saja. “Gak, ada… Tapi alasanku benar, kan?”
“Cukup, jangan berdebat lagi! Kalian bicarakan saja berdua,
soal bagaimana Hanifah biarkan jadi tanggung jawab kakek saja. Termasuk yang
akan menyampaikan pada kedua orang tuamu nanti, Fah.”
“Iya, Kek. Ya sudah, kalau begitu kami pamit. Besok Diaz
juga praktek pagi, kan Di?”
Diaz diam tidak menjawab. Ia hanya berdiri dan bersiap
bersalaman pada kakek Andrean.
Tapi, begitu keduanya berada di dalam mobil dan sudah keluar
area rumah kakek Andrean, Diaz mulai meluapkan emosinya. Terlebih Hanifah juga
tidak merasa bersalah dan corec dengan apa yang baru dikatakan di rumah kakek
barusa.
“Di, kamu kok diam
saja, sih?” tanya Hanifah. Dan itu sudah terulang sampai tiga kali.
“Kamu pikirkan saja, kenapa aku diam.” Mata Diaz lurus
memandang kedepan.
“Kamu marah? Iya, kan kamu marah sama aku? Memang aku salah
apa sama kamu Di?” tanya Hanifah setengah mengeluh.
Diaz mengerem mobilnya mendadak dan menatap tajam ke arah
Hanifah, dan berkata, “Kamu sadar tidak? Apa yang kamu katakana pada kakek
Andrean tadi?”
“Yang mana? Kamu ngomong jangan setengah-setengah gitu, bisa
tidak, sih? Yang jelas dong biar aku ngerti.”
“Kamu bilang tidak apa-apa nikah muda dari pada hamil
duluan… “
“Kan benar, Jika sampai aku hamil duluan apa kau pikir aku
tidak membuat aib dalam keluargaku? Ya, kalau aku artis, gak masalah. Itu pun
mereka yang kalangan artis pasti juga malu dan anggap aib, hanya saja kenapa? Tanpa
muncul di tv mereka gak makan,” jawab Hanifah, memotong pembicaraan Diaz.
“Kau berkata demikian, sama halnya kita seolah sudah pernah
melakukan hubungan terlarang itu, Fah. Apa kau tidak memperhatikan bagaimana ekspresi kakek Andrean tadi seperti
apa?”
“Cuma hal kaya gitu saja kau sampai semarah ini, Di? Ini hal
spele, selama kita tidak pernah melakukannya ya sudah, kamu santai saja gak
usah marah-marah.”
“Bagaimana tidak? Kita ini sudah bertunangan, seperti apapun
orang-orang juga mikir seperti itu. Coba kau pikirkan! Seandainya tadi ada
Queen, bagaimana?”
“Bagaimana? Apanya yang bagaimana, Diaz? Kau berhentilah
memikirkan dia. Sekarang dia sudah menjadi istri orang. Aku yang saat ini
nyata-nyata milikmu,” jawab Hanifah sedih.
“Tapi aku masih mencintainya. Begitupun dengan dia.”
“Apa kau yakin, Di? Mereka sudah menikah dan sah menjadi
suami istri. Kak Al bebas melakukan apapun yang ia mau terhadap Queen. Dengan
mereka hidup bersama, lama-lama cinta itu akan tumbuh dalam hati mereka. Jadi,
buang rasa gr mu itu. Kita cepat saja menikah dan membanggun bahagia sendiri
tanpa mengganggu kehidupan rumah tangga orang, Diaz.”
Diaz tidak menjawab. Ia kembali melajukan mobilnya dengan
kencang. Sementara Hanifah hanya diam, tidak berani mengatakan sepatah katapun
sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Hanifah.
“Makasih ya, Di. Udah mau jemput dan anterin aku pulang.
Berhubung kamu nanti libur, bagaimana kalau aku nanti malam ke tempatmu?
Kubawakan makan malam dari rumah, kita makan malam bersama, ya?”
“Tidak perlu.” Diaz pun langsung menutup jendela dan begitu
saja melajukan kendaraannya. Selama di perjalanan, Diaz pikirannya sangat
kacau, ia sangat cemburu membayangkan apa yang sekiranya bisa dilakukan Al
terhadap wanita yang dicintainya setelah pernikahan itu. Bahkan, ketika ia teringat
bagaimana raut wajah Queen yang seolah tidak berdaya dan tak ada kekuatan untuk
menolak pernikahan tadi juga membuat Diaz kembali berfikir, apa kira-kira yang
Al lakukan terhadap Queen malam itu, di aman ia membawa kabur Queen secara
paksa dalama pertunangannya sendiri, sampai-sampai Queen tidak berani bertemu
dengannya.
Diaz tak mau ambil pusing, ia segera melajukan kendaraanya, begitu
ia sampai di rumah, ia segera menunaikan ibadah sholat dzuhur mencari ketenangan,
kemudian, segera masuk kamarnya berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang
tidak-tidak mengenai Queen dan Al.
🍁🍁🍁🍁
Al dan Queen tiba di rumah akit. Sambil terus bergandengan
tangan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, termasuk beberapa
perawat yang juga menyapa Queen, yang merupakan salah satu dokter yang bekerja
di rumah sakit tersebut.
Entah siapa yang jadi perhatian mereka. Queen atau Al. Namun
rupanya, Queen diam-diam merasa risih juga dengan pandangan mereka yang
sebagian besar adalah kaum perempuan.
“Kita lewat sana saja kalau menuju ICU, karena lebih cepat!”
Al hanya nurut saja tanpa melepaskan tangannya dari tangan
Queen. Setiba di dalam ruangan Clara dan
Vano, Queen hanya diam saja tanpa berkata apapun. Ia merasa grogi, ya malu,
semua bercampur aduk.
Sementara Al dengan mudahnya meminta mereka agar segera
sadar dan memberi tahu apa yang sudah terjadi antara dia dan Queen.
“Papa, Mama… Kalian kapan akan sadar? Lihatlah, sudah banyak
yang berubah di kehidupan ini. Tapi, kenapa kalian masih saja berbaring dan
memejamkan mata kalian? Sekarang aku dan Queen bukan lagi saudara. Melainkan sepasang
suami istri. Tidakkah kalian ingin melihat kami berdua bahagia?”
Seketika suasana mejadi Hening. Queen lebih memilih tetap
diam dan menundukkan kepalanya melihat lantai putih yang ada di dalam ruangan tersebut.
‘’Ma, Pa. Jika memang kalian inginkan ini, segeralah sadar,
tunjukan keajaiban pada kita,” imbuh Al tanpa putus asa sambil berjongkok di
dekat ranjang mama Clara.
Melihat pemandangan di hadapannya Queen merasa iba dan tidak
tega dengan Al. Tapa sadar, ia menyentuh tunggung tangannya dan memandang ke
arahnya dengan mata yang mulai basah.
Al merasakan sentuhan hangat Queen. Pria itu pun diam sesaat
kemudian menongak hingga pandangan mereka saling bertemu. Awalnya Queen hendak
berjongkok, Namun ada perubahan pada suara salah satu ventilator tersebut. Queen melihat garis yang terdapat pada ventilator tersebut menunjukan
perkembangan. Sungguh, keajaiban itu memang benar adanya. Mereka berfikir jika
itu adalah milik Clara. Ternyata, ketika mereka bersamaan melihat ke belakang.
Jari jemari papa Vano mulai bergerak, kian lama kian banyak sehingga ada
kemungkinan kalau dalam waktu dekat papa Vano akan segera sadar.
Queen yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan ia
sampai mematung berdiri memandangi jemari papanya yang terus bergerak kian lama
kian cepat. Ia mulai memikirkan kata-kata yang sempat Al katakana padanya,
__ADS_1
jika papa dan mama menunggu kita bisa bersatu dan saling mencintai. Apakah itu
benar?
“Papa? Lirih Al, kemudian ia berlari keluar untuk memanggil
perawat, atau dokter. Siapapun yang bisa membantunya agar papa mereka bisa
segera sadar dan melewati masa kritisnya.
Tak lama kemudian tim medis datang dan meminta Queen untuk
keluar dulu. Tak peduli siapapun dia, sekalipun ia juga adalah seorang dokter
di rumah sakit ini. Tapi ini bukan jadwal bekerjanya dan juga dia tidak menangani
pasien yang ada dalam keadaan kritis seperti kedua orang tuanya.
Di luar. Al merangkul Queen meletakkan kepalanya pada dada
bidangnya sambil sesekali mencium ujung kepalanya dan berbisik, “Percayalah, bahwasanya
keajaiban itu ada. Kita terus berdoa dan berusaha jangan sampai berputus asa, ya?”
Queen diam-diam mengalirkan air matanya dan mulai
menyembunyikan wajahnya pada dada pria yang dulu dia panggil kak kini telah
menjadi suaminya.
“Sudah, jangan menangis lagi, ya? Biar aku hubungi kakek
dulu.” Al mulai mergoh ponsel yang ada di saku celana jeans nya, kemudian ia mulai
menyalakan layar menggunakan sidik jarinya. Tapi, Queen menahannya sambil
memegangi pergelangan tangan Al. Queen memandang pria itu seraya mengelengkan
kepalanya berulang-ulang.
“Apakah Nayla tahu pernikahan kita? Jika iya, kenapa tadi
dia tidak ikut datang bersama Bilqis juga?”
Al pun menurunkan tangannya, mengurungkan menelfon rumah.
Lebih baik menunggu dokter keluar dan memberi kabar. Dimasukannya kembali ke
dalam sakunya kemudian ia kembali mengelus punggung Queen. Mereka benar-benar
acuh tak acuh dengan beberapa mata yang tengah menyaksikan mereka seperti
pasangan Romeo dan Juli. Semoga saja setelah ini, mereka bisa benar-benar akur.
Queen segera menghapus air mata dari kedua pipinya, dan
sedikit mengambil jarak dari Al saat ia mendengar pintu ICU terbuka. Dengan
cepat dan terburu-buru mereka berdua meminta penjelasan pada dokter yang baru
saja menangani papanya.
“Bagaimana keadaan papa kami, Dok?” ucap mereka bersamaan.
“Ini adalah sebuah keajaiban, walau pun ada, tapi sangat
langka jika seorang pasien bisa kembali sadar setelah koma selama hampir dua
tahun.”
Mendengar penjelasan dari dokter tersebut Al langsung
melakukan sujud sukur. Sementara Queen masih terpaku, kemudian ia bertanya.
Apakah sekarang papa saya benar-benar sadar, Dok?”
Dokter tersebut menjawab dengan anggukan dan tersenyum. Raut
wajahnya memang tak dapat dibohongi kalau ia turut senang dengan adanya keajaiban
ini, dan berharap Clara yang ada di sampingnya sepanjang masa juga segera sadar.
“Bolehkah kami masuk untuk menemuinya, Dok?”
“Boleh, silahkan. Tapi, ingat! Jangan terlalu sering
mengajak pasien berbicara. Dia masih perlu banyak istirahat untuk pemulihan
tenaganya. Silahkan anda masuk dan kami akan menyiapkan kamar rawat untuknya.
“Terimakasih, Dokter.” Queen pun berjongkok meminta Al menyudahi
dan berbisik pelan, “Al, ayo kita temui papa.”
Al pun bangkit dari sujudnya dan kembali memeluk erat tubuh
Queen. Ia merasa benar-benar bahagia yang tiada tara. Semalam ia sakit, dan
dirawat Queen. Paginya menikahi Queen setelahnya mendengar kabar masalahnya di
Jepang sudah Vico atasi dengan baik, dan sekarang… Salah satu orang tua mereka
telah sadar dan mampu melewati masa kritisnya selama hampir dua tahun lamanya.
“Kita masuk ke dalam untuk menemui papa, kamu, jangan
tunjukan air mata kamu, ya?” ucap Al sambil menghapus air mata Queen dengan
jedua ibu jarinya.
Queen hanya tersenyum dan mengangguk patuh, meskipun air
matanya masih terus mengalir deras.
Al berdiri dan memasukkaan jemarinya di sela-sela jari tangan
Queen yang kosong keduanya saling menatap dan tersenyum kemudian melangkah
bersama ke dalam ruang ICU untuk menemui Vano. Sekalipun setiap hari ia
melihat. Tapi, rasa rindu itu tetaplah ada jika tak ada dialog diantara mereka. Sebab selama ini Vno juga hanya diam
“Papa, kami ada di sini.” Queen melepaskan tangan Al dan
berlari mendekati papanya yang juga tersenyum data melihat ke arahnya dan juga
Al.
“Queen, Al... “ Vano meletakkan tangan kanannya pada pipi krir
Queen. Dengan suara lirih dan sedikit berat ia berkata.
“Kau apa kabar, Nak? Di mana suamimu?”
Queen tidak langsung menjawab, ia menolah ke arah Al melihat
pria itu bersendekap dan tangan kanannya ia letakkan di depan mulutnya. Kemudian
wanita itu kembali melihat ke arah papanya.
“Pa, jangan banyak bicara dulu. Kata dokter, papa perlu
banya istirahat,” ucap Queen dengan pelan.
Tapi, rupanya Vano mengabaikan nasehat putrinya. Rasa rindu
dan kaingin tahuannya berhasil mengalahkan segalanya.
“Al, kemarilah, Nak!”
Al pun menurun kan kedua tangannya dan melangkah, berdiri di
dekat Queen.
“Apa kalian datang kemari berdua saja? Di mana istrimu
Nayla?”
“Dia mengurus bilqis, Pa,” jawab Al singkat.
“Kata dokter, papa sudah hampir dua tahun koma. Pasti Queen
sudah melahirkan cucu papa, ya?” Mata Vano melihat ke arah perut Queen yang
sudah rata. Sebab, ketika ia kecelakaan dulu, pertunya sudah besar kalau tidak
lima ya, sudah enam bulan. Hal itu masih melekat dalam ingatan Vano.
“Pa… Calon cucu papa saat itu telah tiada. Queen mengalami stress
berat sehingga ia keguguran. Tapi, tidak apa-apa, sebentar lagi, Queen juga
akan hamil lagi.”
“jam berapa ini? Di mana Alex?”
Queen bingung harus menjawab apa pada papanya. Sementara dia
juga baru sadar. Beruntung sekali, tak lama kemudian beberapa perawat datang
dengan membawa blangkar untuk memindah Vano di kamar VVIP yang sudah diurus
oleh anak buah Al yang selalu ada di ruang tunggu secara bergantian.
“Kita pindah ke ruang rawat dulu yuk, Pa,” ucap Queen
mengalihkan pembicaraan.
Vano mengisyaratkan tangannya untuk tidak buru-buru
memindahkan dirinya. Ia melihat kea rah istrinya yang masih terbaring lemah tak
berdaya di sebelahnya.
“Jika papa dipindah. Lalu, bagaimana dengan mama kalian?”
“Makanya, papa cepat sehat, ya? Jika papa sehat dan sudah kuat
nanti, bisa lah sering-sering nengokin mama,” ucap Queen.
“Kata Queen benar, Pa. Apalagi dia juga adalah salah satu
dokter umum di rumah sakit ini. Jadi, setiap hari, ia selalu ikut memantau
kalian,” imbuh Al.
"Benarkah itu, Sayang?" Saking terharunya, Vano bahkan sampai menitikkan air mata. Ia merasa menjadi ayah telah payah karena tidak tahu anaknya sudah dilantik menjadi dokter.
"Pa, jangan nangis gitu, dong! Queen juga sedih nanti," ucap Queen sambil terbata-bata.
"Papa bahagia, Nak. Tapi, papa juga sedih karena tidak bisa datang saat kau dilantik menjadi dokter."
"Tidak apa-apa, Pah. sudahlah, kita ke kamar inap dulu, ya Pa?"
Atas bujukan Al dan Queen Vano pun akhirnya mau dipindahkan,
dua orang suster mendorong dan mengarakan blankar tersebut menuju kamar yang
sudah disipakan untuknya dan seorang lagi membawa impus Vano berjalan di
sampingnya. Sementara Al dan Queen berjalan mengikuti di belakang mereka.
“Bagaimana? Benarkan apa kataku? Papa benar-benar sadar.
Cepat terima aku dan cintai aku sebesar aku mencintaimu agar mama juga segera
sadar,” bisik Al dengan lirih. Sehingga membuat Queen merasa malu-malu. Untung
saja Al sedikit ngerti situasi. Jika tidak, ia pasti kumat jahil lagi dan
menerima tamparan Queen untuk kesekian kalinya lagi.
Setelah para suster pergi meninggalkan ruangan tersebut, Al
dan Queen sedikit mengambil jarak.
“papa pasti lapar, mau makan pa biar Queen yang belikan di
luar, Atau mau masakan rumah?”
__ADS_1
“Tidak… Tidak, papa sangat haus, Queen. Tolong ambilkan air dingin
untuk papa.”
Queen menoleh ke atas nakas masih belum ada apa-apa. Akhinya
ia pun berlari keluar untuk menuju kantin membelikan air mineral papanya.
Entah panik atau apa, wanita itu melupakan lemari es yang tersedia di pojokan. Seharusnya di dalam sana sudah tersedia lengkap. bahkan dispenser panas dingin juga ada. Karena fasilitas VVIP sangatlah lengkap.
Sedangkan Al ia mengambil kursi dan meletakkan di samping
hospital bed tempat Vano berbaring dan duduk dengan tenag di sana.
“Bagaimana keadaan semuanya, Al?”
“Kakek Andrean ada di rumah, Pa. Beliau baik-baik saja
sekarang, meskipun hanya duduk di kursi roda,” jawab Al sambil tertuntuk.
“Lalu, mama dan papa Andreas, bagaimana dia?”
Al tak sanggub menjawab. Mungkin langkah satu-satunya
hanyalah meminta kakek Andrean untuk datang kemari. Bagaimana pun, ialah yang lebih bisa faham
sifat dan karakter papanya sebab, kakek Andrean lah yang telah membesarkan
sebagai ayahnya.
“Al, papa tidak bisa berbicara terlalu keras, apakah kau
tidak mendengar papa?”
“Papa, minum dulu, ya? Pasti kak Al banyak mengajakmu bicara
selama aku pergi”
Lagi-lagi bantuan selalu datang di saat yang tepat.
Al pun berdiri dan beranjak ke arah single sofa yang ada di dalam
kamar inap tersebut dan menghempaskan tubuhnya. Jujur ia merasa senang dengan hal
ini. Tapi setiap hal bukankah akan ada konsekwensinya? Al masih bingun
memikirkan bagaimana cara mengatkan kalau kakek Andreas dan nenek Vivian sudah
tiada pada saat kecelakaan tersebut.
“Papa, sebentar lagi dokter akan kemari untuk memeriksa ulang
kondisi Papa. Istirahat, ya atau Queen nanti yang kena marah oleh mereka,” bujuk
Queen sambil merapikan selimut pada papanya dan duduk di sofa bersama Al. Benar
saja, tak berselang lama, Dokter dan seorang suster datang ke dalam ruamg rawat
inap apanya. Sedang hal itu Al gunakan untuk meminta izin pada Queen untuk
meminta kakek Andrean datang dan mengatakan semuanya. Ia juga memberitahukan
kalau papa mereka sudah menanayakan kakek Andreas dn juga nenek Vivian. Tapi,
Al tidak mapu mengatakannya.
Begitu mendapatkan persetujuan dari Queen atau istri
mudanya Al pun keluar untuk menghubungi kakek Andrean. Dan juga yang lain
memberikan kabar gembira ini.
Mulanya Al sedikit ragu-ragu, bingung apa yang akan dikatakannya pada kakeknya. Memintanya kemari, atau to the point saja?
Belum sampai menemukan jawaban atas apa yang dipikirkannya, panggilannya sudah tersambung dan dengan cepat pula sang kakek menjawabnya.
"Hallo, Al apakah ada masalah dengan kalian?" Tanya Andrean sedikit panik dan terdengar khawatir sekali.
Al yang saking senangnya dan juga bercampur bingung, ngomongpun juga sempat tergagap saat menjawab pertanyaan kakek Andrean.
"E... Anu, Kek. Itu... Tidak ada masalah apa-apa antara aku dan Queen."
"Oh, ya sudah. Kakek khawatir Saja. Lalu, di mana kalian sekarang?"
"Kami ada di rumah sakit, Kek. Kemarilah ada kabar gembira."
"Apa itu, Al? Apakah sudah ada perkembangan antara papa dan mamamu?" Bahkan kakek Andrean pun juga sudah dapat menebaknya. Namun, ia tidak menyangka kalau sepesat ini.
"Benar, Kek. Papa sudah sadar. Ini sudah pindah di ruang rawat VVIP yang ada di sini."
"Apa, Al? Vano sudah sadar? Kau tidak sedang bercanda, bukan, Nak?"
"Kemarilah, aku bersama Queen."
"Baik-baik... Tunggu sebentar."
Dengan perasaan gembira bahkan sampai menitikkan air mata pria tua itu pun berteriak memanggil bik Yul dan juga Nayla yang kebetulan ada di rumah, setahu dia, sih.
"Nayla... Bibi.... Kemarilah ayo ikut ke rumah sakit. Ada kabar baik dari sana!" teriaknya sampao beberapa kali. Namun, tak ada jawaban.
"Ada apa, Tuan?" tanya bik Yul berlarin sedikit tergopoh-gopoh menghampiri Andrean.
"Bi, di mana Nayla? Tanya Andrean seperti seolah tak sabar jika harus menunggu lama."
"Non Nayla baru saja keluar, Tuan. Baruuu saja."
"Oh, kemana dia? Apakah bersama Bilqis juga?"
"Non Bilqis sedang tidur, sedangkan non Nayla sendiri kemana saya kurang tahu, saya Tuan."
Andrean pun mulai menggerutu, kesal dan emosi bercampur Djadi satu.
'Kemana saja tu bocah keluyuran saja. Pasti nemuin pacarnya ini, ambil kesempatan mumpung anaknya tidur!'
"Bi, cepat siap-siap dan ikut saya ke rumah sakit. Baru saja Al telfon kalau Vano putraku sudah sadar," ucap Andrean. Tergesa-gesa. Namun, ia masih ingat dengan ektingnya.
"Alhamdulillah... Ya Allah, akhirnya tuan Vano sadar juga. Lalu bagaimana dengan ny Clara, Tuan?"
"Semoga ia juga segera sadar, Bin ya sudah. Ayo kita cepat ke sana saja. Saya sudah sangat rindu dengan Vano, Bi."
"Baik... Baik, Tuan."
Tak sampai sepuluh menit, Bik Yul sudah siap berganti pakaian rapi. Ia pun mendorong kursi roda Andrean dan membawanya mendekat ke mobil. Tiba di sana, Andrean sudah dibantu oleh anak buah Al. Begitu keluar pagar, barulah bik Yul teringat dengan Bilqis yang tengah tidur di rumah sendirian.
Dari belakang, ia berteriak, "Astagfirullah... Tuan. Bagaimana dengan non Bilqis? Dia di rumah sendiri!"
"Telfon Nayla tanyakan dia ada di mana, suruh segera kembali!" cetus Andrean. Merasa gemas.
"Baik, Tuan." jawab baik yul, kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam dompet lebar yang ada dalam genggamannya.
"Jangan lupa louspeeker, Bi!"
"Baik, Tuan."
Panggilan pun tersambung. Namun, tidak terjawab. Bik Yul nampak bingung dan ragu-ragu melihat ke arah Andrean melalui spion tengah.
"Terus telfon lagi, Bi. Sampai dia menjawab!"
"Iya, Tuan."
Akhirnya, Bik Yul pun menelfon kembali Nayla. Mengulangnya sampai tiga kali, dan itu pun belum dijawab juga oleh Nayla. Panggilan itu baru dijawab setelah lima kali panggilan.
"Halo. Ada apa sih, telepon saya siang-siang begini sampai berkali-kali, Bik? Apakah ada yang penting? jawab Nayla dengan nada tinggi. rupanya Wanita itu sangat marah karena merasa diganggu.
"Maaf, Non. Sekarang ada di mana?" tanya Bik Yul, merasa takut.
"Bukan urusanmu! Memang ada apa?"
"Begini, Non. Ini saya dan Tuan keluar mau ke rumah sakit. Baru saja den Al menelfon tuan. katanya tuan Vano sudah sadar. Dan non Bilqis ada dinrumah sendiri, Non. dia masih tidur."
"Kenapa ditinggal sih, Bi? Bagaimana kalau dia nanti bangun dan nangis sedangkan di rumah tidak ada seorang pun. Lagian, kenapa Bibi ikutan ke rumah sakit?"
Ketika mendengar Omelan Nayla pada bik Yul Andrean begitu marah. Al dan Queen saja pada pembantu tidak pernah begitu pada pembantu, sedangkan dia...
"Nay, mana tanggung jawabmu sebagai ibu? Harusnya kamu itu kalau mau kemana-mana ajak anakmu. Bik Yul itu bukan pengasuh anak. dia hanya bertugas mengerjakan pekerjaan rumah saja. Dan cara bicaramu yang tidak sopan pada orang yang lebih tua tadi, siapa yang mengajarkan? Apakah Al? Cepat kamu pulang. Kutunggu kau di rumah sakit."
Tanpa mau mendengar jawaban dan alasan Nayla, Andrean pun langsung mematikan panggilan tersebut dan memberikan ponsel bik Yul pada pemiliknya.
Sementara Nayla, yang masih berada di kamar hotel bersama Jevin merasa panik dan juga takut. Sehingga Jevin dijadikan pelampiasan olehnya.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Jevin sambil bersandar pada dinding sambil memainkan ponselnya.
"Jev, mertuaku sudah sadar dari komanya. Aku haru segera kembali. Pembantu tak pecus itu juga ikut serta ke rumah sakit katanya," jawab Nayla sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya satu demi satu.
"Kau mau kemana?"
"Ya pulang, lah! Kau pikir apa?"
"Bagaimana mungkin kau bisa pergi seenakmu saja? Sedangkan kita masih setengah permainan. Aku belum tuntas tadi," protes Jevin.
"Anakku sedang tidur dan dia di rumah sendirian, Bodoh! Mana mungkin aku meninggalkan dia demi menyenangkan orang lain?" jawab Nayla dengan ketus.
"Apa? Kau bilang apa barusan? Aku orang lain? Enak sekali kau bicara aku orang lain. Apa kau lupa siapa yang selama ini ada di belakang mu untuk melawan mereka yang menyakitimu? Hah?" Jevin sangat emosi sampai-sampai ia pun menarik rambut Nayla ke belakang hingga ia mendongak ke belakang hingga terjatuh.
"Jev, apa yang kau lakukan? Jangan gila kau!"
"Hahaha, Nayla. Selama ini aku memang terlalu bodoh bisa diperday olehmu. Tapi, tidak lagi untuk sekarang esok dan seterusnya... Puaskan aku sekarang juga. Atau... " Jevin menyeringai.
"Atau apa? Hah?" bentak Nayla tak kalau sengit dengan ucapan Jevin.
"Atau aku bongkar segala kebusukanmu pada Al suamimu. Sudah pernah ku bilang, bukan? Skandal kita ketahuan aku dipecat bisa cari kerja lagi. Tapi, jika kau diceraikan olehnya. Kau gembel lagi."
Mendengar ucapan itu, Nayla pun menjadi gentar, tak ada pilihan lain selain menuruti kemauan Jevin.
"Kau mau buka sendiri pakaianmu, atau aku yang membukanya dengan caraku sendiri?"
"Baik... Baik. Akan kutanggalkan pakaianku. Maafkan aku, aku tidak akan begini lagi padamu."
Jevin pun tertawa puas. Kini posisinya sudah terbalik, jika dulu dia yang selalu diperbudak Nayla, kini justru malah sebaliknya.
****
Kakek Andrean masih bisa tenang duduk di kursi rodanya. Bik Yul berjalan mengekor di belakang pria yang mendorong kursi roda bos besarnya.
Begitu pintu terbuka, kebetulan Vano juga minta duduk bersandar sambil disuapi teh hangat oleh Queen. langsung saja memanggil papanya. Papa Andrean.
"Papa," lirih Vano.
Andreas tak lagi mau menahan dan berpura-pura. Ia langsung begitu saja berdiri dan setengah berlari menghampiri Vano dan memeluknya.
Semua yang ada di sana dibuat heran dengan Andrean yang tiba-tiba saja mampu berdiri dan meninggalkan kursi roda.
"Kakaek, kau bisa berjalan?" gumam Al dan Queen.
Sementara Bik Yul yang melihat dua keajaiban sekaligus itu menangis tersedu-sedu sambil sujud sukur. Tak hentinya wanita paruh baya itu mengucap puji syukur pada sang pencipta.
Queen pun menghampiri Baik Yul dan memeluk wanita itu karena merasakan perasaan yang sama.
"Masyaallah, Non.... Semoga selamanya keluarga kalian terus bahagia selamanya. Bersamaan tuan Vano sadar, Tauan Andrean bisa langsung berjalan ya Allah Non..."
"Iya, Bi.. Terimakasih sudah mau datang kemari, Bi..." Keduanya pun sama-sama menangis dan saling berpelukan.
Kali ini giliran Al yang mematung melihat ayah dan anak yang telah melepas rindu, sementara istri mudanya yang baru beberapa jam dinikahinya malah berpelukan dengan orang lain bukan dengan dirinya.
"Mama sama papa Andreas, di mana, Pa?" tanya Vano.
Andreas diam sesaat. Sepertinya ia perlu berbicara empat mata dengan putranya.
"Al, kamu ajak Queen dan bibi Keluar dulu, ya?"
"Baik, Kek." Al pun mengajak dua wanita dengan usaia yang jauh berbeda itu ke kantin rumah sakit.
"Kita mau ke mana, Den?" tanya Bik Yul.
"Ke kantin, Bik. Pasti bibi juga belum makan siang, kan?"
"Kalian saja ke kantin. Aku mau sama papa," ucap Queen.
Al meraih pinggang Queen dan berbisik, "Beri mereka waktu, biarkan kakek yang memberitahukan segalanya pada papa, kamu juga ikut makan sama aku, ya? Lihat! Kau sekarang sangat kurus."
Tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Al. Sebab, jika ia berontak nanti yang ada Bik Yul jadi curiga. Walaupun Bik Yul bukan tipe orang yang ember, tetap saja, hal ini Queen masih belum siap jika ada orang lain tahu akan hubungan dengan Al. Sebab, mereka dan semuanya mengerti ya Al dan Queen adalah saudara kandung. Sebagian juga tahu, kalau mereka saudara angkat. Tapi, itu hanya beberapa orang terdekat keluarganya saja.
"Aku tidak lapar," ucap Quen.
"Tetaplah makan walau sedikit. Bagaimana jika dalam sini sudah ada calon anak kita? Dia sangat lemah, dan makan pun bergantung padamu, Sayang," ucap Al sambil mengusap perut Queen.
"Baiklah. Tapi, singkirkan tanganmu."
Al pun menuruti, mereka pun mencari meja yang kosong dan duduk bertiga.
__ADS_1
Sementara dalam hati Queen hanya tertawa seorang diri. Bagaimana tidak? Al mengira Queen sudah mengandung. padahal, selama ini dia juga mengkonsumsi pil KB.