
Masuk di dalam
ruangan Al, Candra pun juga ikut tertawa melihat noda merah pada pipi atasannya
membentuk bibir itu. siapa lagi pelakunya jika bukan Queen? Sebab, tadi banyak
staff yang bilang kalau nyonya boss tengah datang hampir bersamaan dengan tamu pak
Al. Mungkin di kantin nanti juga para staff dan karyawan juga akan heboh
membahas ini. Tapi, ada yang aneh. Kenapa Al terlihat santai saja seolah tidak
terjadi sesuatu pada pipinya? Apa dia tidak menyadari itu? pikir Candra.
“Bos, lagi bahagia, ya?” ucap Candra sambil menahan tawa.
“Biasa saja. Kenapa?”
“Barusan ada yang apelin deh kayaknya. Apakah dia nyonya Al?
wah… Sherly bakal sakit hati nanti,” ujar Candra sambil cengar-cengir.
“Kamu kalau tidak ada kepentingan di sini lebih baik keluar
saja,” ucap Al dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangannya pada
berkas-berkas di atas mejanya.
“Camera di mana camera? Coba selpi, Bos, perlihatkan tanda
merah yang ada ada pipimu.” Candra terus tertawa terpingkal sambil tak hentinya
memadang pipi Al sebelah kanan.
Awalnya Al cuek saja
mendengar apa yang Candra katakana. Tapi, saat pria di depannya mengatakan ada
noda merah pada pipi, ia pun akhirinya penasaran juga dan meraih benda pipih
yang ada di hadapannya dan mmencet tombol camera.
“Biasanya dia kalau menciumku tidak sampai meninggalkan
bekas lipstick. Kenapa ini jadi begini, ya?” Al mengambil tisu yang ada di
depannya digunakan untuk menyeka bekas lipstick Queen yang menempel pada
pipinya.
Candra tidak memberi respon apapun, ia masih saja terkikik
karena geli melihat ulah pasangan yang ada di depannya. Sayang sekali, dia
belum pernah merasaklan hal seperti ini. Mungkin alangkah lebih baik kalau ia
segera melamar dan menikahi Novita agar dia juga bisa sebahagia seperti yang ia
lihat dari pasangan Al dan Queen.
“Kamu ada perlu apa masuk ke sini?” tanya Al sedikit sewot.
Sebenarnya dia malu saja. Tapi, tidak mungkin menunjukkan hal itu pada Candra
juga. toh bagaimana pun yang melakukan ini juga istrinya sendiri.
“Tidak ada, Cuma memastikan saja apa yang terjadi di sini.
Soalnya kulihat Lisa tadi terus saja tertawa terpingkal setelah keluar dari
ruanganmu, Boss.”
“Ck, pantas saja dia tadi sampai tertawa begitu. Biasanya
juga tidak pernah kaya gitu.”
“Lagian siapa yang berani tertawa di dalam kadang harimau,
Boss. Apalagi berhadapan dengannya.
“Kapan kamu akan melamar Novita? Cepatlah menikah, masa mau
gitu saja. Awas keburu tua. Saat antar anak sekolah masuk TK dikira cucunya
lagi,” ledek Al. kali ini giliran dia yang tertawa terbahak karena berhasil
membalikkan keadaan. Jika tadi Candra yang meledeknya, kali ini giliran dialah
yang meledek Candra.
“Kan Adriel masih sakit, Boss. Masa iya aku malah
melamarnya?”
“Memang kenapa kalau sakit? Kan cuma melamar. Cukup ijab
qobul saja tidak usah gelar pesta. Sekedar mengumpulkan saudara dan teman
terdekat, yang penting sah. Kau bisa resmi jadi ayah tiri Adriel dan Axel.
Dengan begitu, kau bisa leluasa memberi perhatian pada mereka. Tak terkecuali
pada mamanya. Kan gak hanya tinggal serumah. Tapi, juga tidur dalam satu
ranjang.”
Candra diam mencoba memikirkan apa yang baru saja Al
katakan. Memang itu benar, setelah resmi menikah dah sah, ia bisa membuktikan
kesungguhan cintanya pada Novita, termasuk ucapannya saat mendekatinya dulu, ia
berjanji akan terus menyayangi Axel dan juga Adriel dengan sepenuh hati
seperti anaknya sendiri.
“Baik, aku kan memikirkan itu, Boss. Terimakasih atas
sarannya. Apalagi anak sulungnya juga sudah menunjukkan kesediaannya menerima
saya jadi papa tirinya.”
“Makanya, kau mau tunggu apa lagi?” tanya Al. kemdian ia
tersadar kalau ini jam kerja tapi, malah ngladenin Candra curhat. “Kamu ke sini
__ADS_1
ada keperluan apa? Kenapa kau malah curhat di jam kerja seperti ini? Cepat
sana, kembali ke ruanganmu.”
Candra pun bergegas keluar sambil tertawa. Ia juga tidak
menyangka bisa sampai setengah jam menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol di
ruangan big bossnya. Kemudian ia pun keluar dari ruangan itu dan kembali masuk
ke dalam ruangannya bekerja bersama teman satu timnya.
Sesampainya di dalam mobil Queen puaskan dulu tertawa
sambil mmebenarkan riasannya. Agar, saat menyetir ia bisa fokus. Dari rumah dia memang sudah mempersiapkan memakai lipstik glossy. Jenis lipstik ini beda dengan matte yang tidak menempel pada gelas saat minum. Jadi, terbayang sendiri, kan seperti apa tadi? Apalagi dia menciumnya dengan menekan.
Baru beberapa meter keluar dari area kantor, tiba-tiba saja
Queen mendapati mobil Zahara. Ia sempat berfikir, dari mana, atau mau ke mana, wanita itu? penasaran dan ingin mengikutinya, dengan cepat ia segera
menghubungi Dedi melalui telepon seluler agar segera menjemput Berlyn dan
mengantarnya ke rumah mama dan papanya. Queen terus mengikuti Zahara, mencari
tahu ke mana dia sebenarnya.
Tapi,Sayang, Zahara menyadari kalau dirinya telah diikuti.
Ia hafal banget mobil hondra brio merah dengan nopol B 477XXXX itu adalah mobil
yang biasa Queen gunakan. Wanita itu menyeringai seorang diri di dalam
mobilnya. Lalu berfikir untuk mengerjai wanita itu, mengulur waktunya, agar ia
merasa apa yang dilakukannya sia-sia saja. Sebab, ia yakin, ia sudah
bersekongkol dengan Alex untuk menyelidiki dirinya.
Kali ini, Zahara mengatur siasat untuk mengerjain Queen. Dia
sengaja melajukan kendaraannya ke sebuah tempat terpencil yang jauh dari
keramaian.
Merasa curiga dengan apa yang akan Zahara lakukan, Queen
segera menghubungi Alex. ia mengaktifkan gps ponselnya agar Alex bisa dengan
mudah melacak keberadaannya dan segera melihat apa yang Zahara sebenarnya lakukan di sini. Ia yakin, kalau ada hal lain yang Zahara sembunyikan di sini. Tapi, apa Queen juga belum tahu.
Cukup membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, Alex siudah
berhasil menyusul Queen. Mobilnya kini hanya berjarak beberapa meter saja dari
mobil yang Queen kendarai.
“Aku di belakangmu Sekarang, Queen,” ucap Alex. karena
sedari tadi mereka memang sudah berkomunikasi melalui telefon seluler, dan sama-sama menggenakan hadset Bluetooth. Jadi, itu tidak merepotkan keduanya
saat berkomunikasi.
“Iya, Lex. Aku melihatnya dari spion. Eh, tunggu. Zahara tadi ke mana, ya?” tanya nya bingung.
“Entehlah. Aku belum meihat mobilnya sama sekali,” jawab Alex juga ikut bingung.
mana?”
“Coba sekarang kau belok kanan, dan aku akan coba cek dengan berbelok ke kiri. Siapa tahu kita bisa
menemukannya,” usul Alex.
“Aku coba dulu,” Queen pun membelokkan mobinya sesuai yang
diintruksikan Alex. tapi, belokan ini buntu. Akhirnya ia pun putar
balik dan berusaha melacak setiap belokan. Keduanya berpencar. Namun, semua sama-sama buntu. Lalu,
di mana Zahara pergi?
Karena lelah dan menyerah, Queen pun turun dari mobil dan
menendang ban mobil depannya karena kempes. “Sial banget, sih hari ini?”
runtuknya.
Alex yang melihat Queen turun dari mobilnya juga turun, dan
berlari menghampiri wanita itu.
“Kenapa, Queen?” tanya Pria itu.
“Membututi Zahara gagal, dan sekarang malah ban mobilku
kempes. Sial banget, sih?” ucapnya, emosi.
“Sudah tidak apa-apa. Mungki kita saja yang belum beruntung,
kan masih ada lain waktu,” ucap Alex.
“Ya, kau benar. Lalu ini bagaimana? Kau ada solusi?” tanya
Queen sambil melihat ban depannya.
“Ada saja. Kamu ada ban serep tidak?”
“Ada, sih. Tapi, aku tidak bisa menggantinya sendiri,” jawab
wanita itu dengan melas.
“Ya sudah. Kau cukup duduk manis saja di sini. Aku akan
membantumu.” Alex pun bersiap melepas ban mobil Queen yang kempes dan
menggantinya. Beruntung, wanita itu selalu menyiapkan dongkrak. Kalau pun ia
tida bisa melakukan sendiri, setidaknya kalau minta bantuan juga tidak bingung
cari alat,
Setengah jam kemudian, Alex sudah menyelesaikan
pekerjaannya. Kembali pria itu menghampriri Queen yang duduk di cup mobil miliknya.
“Sudah beres.” Alex melemparkan senyuman pada mantan
__ADS_1
istrinya dan juga cinta semasa SMA-nya itu. keduanya saling tatap dan melempar
senyum satu sama lain.
“Makasih, ya?” ucap Queen.
“Cuma makasih doang, nih? Capek, tahu.” Alex terus melangkah lebih dekat dengan Queen sambil menyeka keringat yang ada di keningnya dengan punggung tangannya.
“Oke, aku traktir kamu makan siang. Bagai mana?” usul Queen.
“Bukannya kau baru saja makan bersama suamimu di kantornya?”
“Kan tadi dan Cuma roti saja kok. Sekarang laper lagi setelah
muter-muter,” jawab Queen dan melewati Al menuju ke dalam mobilnya.
Zahara menyeringai sambil memegang ponselnya. Ia tertawa
penuh kemenangan saat mendapat hasil poto yang bagus dan sangat menarik perhatian bagi siapapun yang melihatnya.
Bagaimana tidak? Alex dan Queen terlihat sangat mesra dengan saat berhadapan.
Sambil sama-sama melempar senyum. Terlebih posisi Queen duduk di atas cup
mobil. Pasti yang melihat hasil jepretan itu akan salah paham.
Karena mobil dua orang itu sudah keluar dari area itu.
buru-buru Zahra menyalakan mesin mobil dan mengikutinya. Ternya mereka berdua
menuju ke subuah restoran. Lagi-lagi, Zahara menang banyak. Sekali lagi, ia
mendapatkan hasil jepretan antara Queen dan Alex. selain baju yang mereka masih
sama dengan yang di tempat yang tadi. Camera yang ada tulisan waktu dan tempat pengambilan gambar.
Tanpa ia duga, bahaya yang hampir mengintainya malah
berbalik mengenai mereka berdua. Zahara tersenyum puas dan tertawa penuh dengan
kemenangan. Setelah dari restoran tersebut, wanita itu menuju rumah Novita.
Sesampainya di sana ia memasang wajah panik, cemas dan bingung.
“Kak. Kau tahu di mana Alex? Aku tidak bisa menemukannya.
Sejak pagi dia pergi dan belum kembali. Bilangnya ma uke GYM. tapi, di sana dia
tidak ada, aku tanyakan pada rekan sesama dosennya dia di kampus. Namum mereka bilang hari ini tidak ada jadwal mengajar.”
“Masuk lah dulu. Kita bicara di dalam saja.” Novita
menggeser tubuhnya untuk memberi akses lewat pada adik iparnya. “Kenapa kau tidak menelfonnya, saja, Ra? Dari pada kamu panik gini.”
“Tidak bisa, Kak. Sudah dua hari ini dia memblokir nomorku. Aku
tidak bisa menghubunginya sama sekali.”
“Ya sudah, aku akan menghubunginya sekarang.” Novita
buru-buru beranjak mengambil benda pipih berwana biru yang tergelatk di atas
meja makan.
“Halo, Lex. Kau di mana sekarang?” rupanya panggilannya
sudah tersambung.
“Aku masih di luar, kak. Ada apa memang?”
“Apakah kau sedang menemui Al?”
“Ya. tadi sudah tapi, sekarang aku memiliki urusan lain,
ucap Alex.”
“Oh, ya sudah. Segeralah pulang jika urusanmu sudah kelar.
Zahara mencarimu. Dia berada di sini sekarang. Kau memblokir nomornya?” tanya Novita dengan penuh selidik.
“Ya, baiklah aku akan segera pulang kalau begitu,” jawab
Alex. kemudian ia mematikan telefonnya.
“Bagaimana, Kak? Di mana dia sekarang?” tanya Zahara dengan
penuh harap.
“Dia berada di luar. Entah di mana pastinya aku tidak tahu. Tapi,
tadi dia katanya baru saja ke kantor Al,” jawab Novita. Ia mengatakan demikian
karena berfikir kalau adiknya sudah tidak berada di sana lagi. Mungkin juga apa yang ingin dia sampaikan juga sudah diutarakan. Jadi, tidak masalah kalau Zahara ke sana. Tapi, siapa sangka, tindakan Novita kali ini yang bermaksut membantu adiknya justru menyeretnya dalam masalah besar.
“Di kantornya Al? baiklah. Aku akan mencarinya. Kucoba lihat
ke sana. Terimakasih banyak ya, Kak Nov. Zahara pun pergi pamit untuk
meninggalkan tempat itu.
“Kau tidak mau minun dulu, Ra?”
“Tidak, Kak. Terimakasih.” Zahara pun segera melajukan
mobilnya menuju kantor Al. alamat ia dapatkan dari Novita. Jadi, ia akan dengan
mudah menemukannya meskipun belum pernah
datang sekalipun ke sana.
Di kantor Al kebetulan tepat jam istirahat. Dugaan Candra ternyata benar. Tidak meleset sama sekali. Kedatangan Queen yang meninggalkan noda lipstik di pipi atasan mereka membuat seluruh karyawan dan staff heboh dibuatnya.
"Mereka tuh udah berapa tahun sih, menikah kok tetap so sweet banget?"
"Kurang paham. Mungkin sekitar enam sampai tujuh tahunan."
"Sudah lah, jangan terus bahas kedekatan mereka. Yakin mau ngelakor? Pak Al itu setia orangnya."
"Cari yang ganjen saja, ya? Lagian istri beliau kan cantik, dokter dan berkelas. Kalau cuma pegawai kantin... Perlu ngaca dulu, kali ya?"
"Huumb... kita yang memiliki jabatan saja minder."
"Halu, ah halu. Namanya pelayan Kangin, wajar kan kalau siapapun minta tolong dibawakan ini itu dan kasih tips. pin pak Al. So jangan baper."
Para staff yang akan makan di kantin terus tiada hentinya menyindir pelayanan baru yang bernama Sherly. Sejauh ini memang dia tidak terlihat menggoda Al sama sekali. Tapi, sudah jadi dahasi umum kalau dia ada rasa pada CEO muda mereka dan merasa GR menganggap pak Al mudus mendekati-nya saja jika memesan kopi, teh dan apapun yang mungkin ingin dia makan dan tak ingin keluar.
__ADS_1
Biasanya Al. memamg sering makan di luar kantor bersama Queen atau sekedar bersama Candra saja. Tapi, memang akhir-akhir ini dia tidak. pernah keluar. istirahat aja cuma makan di ruangannya sendiri dan kembali bekerja agar pekerjaan segera selesai dan bisa pulang lebih awal.
Bagi staf lama hal itu wajar. Tapi, Sherly adalah anak baru yang belum tahu apa-apa. jadi ya menebak-nebak dan pernah sesumbar, bahwa dia akan terima walau hanya jadi simpenannya. jelas, banyak yang menertawai. karena Al bukanlah pria hidung belang yang suka mempermainkan wanita. dia adalah tipe suami yang hanya setia dengan satu istri.