Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 43


__ADS_3

 Masuk di dalam


ruangan Al, Candra pun juga ikut tertawa melihat noda merah pada pipi atasannya


membentuk bibir itu. siapa lagi pelakunya jika bukan Queen? Sebab, tadi banyak


staff yang bilang kalau nyonya boss tengah datang hampir bersamaan dengan tamu pak


Al. Mungkin di kantin nanti juga para staff dan karyawan juga akan heboh


membahas ini. Tapi, ada yang aneh. Kenapa Al terlihat santai saja seolah tidak


terjadi sesuatu pada pipinya? Apa dia tidak menyadari itu? pikir Candra.


“Bos, lagi bahagia, ya?” ucap Candra sambil menahan tawa.


“Biasa saja. Kenapa?”


“Barusan ada yang apelin deh kayaknya. Apakah dia nyonya Al?


wah… Sherly bakal sakit hati nanti,” ujar Candra sambil cengar-cengir.


“Kamu kalau tidak ada kepentingan di sini lebih baik keluar


saja,” ucap Al dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangannya pada


berkas-berkas di atas mejanya.


“Camera di mana camera? Coba selpi, Bos, perlihatkan tanda


merah yang ada ada pipimu.” Candra terus tertawa terpingkal sambil tak hentinya


memadang pipi Al sebelah kanan.


 Awalnya Al cuek saja


mendengar apa yang Candra katakana. Tapi, saat pria di depannya mengatakan ada


noda merah pada pipi, ia pun akhirinya penasaran juga dan meraih benda pipih


yang ada di hadapannya dan mmencet tombol camera.


“Biasanya dia kalau menciumku tidak sampai meninggalkan


bekas lipstick. Kenapa ini jadi begini, ya?” Al mengambil tisu yang ada di


depannya digunakan untuk menyeka bekas lipstick Queen yang menempel pada


pipinya.


Candra tidak memberi respon apapun, ia masih saja terkikik


karena geli melihat ulah pasangan yang ada di depannya. Sayang sekali, dia


belum pernah merasaklan hal seperti ini. Mungkin alangkah lebih baik kalau ia


segera melamar dan menikahi Novita agar dia juga bisa sebahagia seperti yang ia


lihat dari pasangan Al dan Queen.


“Kamu ada perlu apa masuk ke sini?” tanya Al sedikit sewot.


Sebenarnya dia malu saja. Tapi, tidak mungkin menunjukkan hal itu pada Candra


juga. toh bagaimana pun yang melakukan ini juga istrinya sendiri.


“Tidak ada, Cuma memastikan saja apa yang terjadi di sini.


Soalnya kulihat Lisa tadi terus saja tertawa terpingkal setelah keluar dari


ruanganmu, Boss.”


“Ck, pantas saja dia tadi sampai tertawa begitu. Biasanya


juga tidak pernah kaya gitu.”


“Lagian siapa yang berani tertawa di dalam kadang harimau,


Boss. Apalagi berhadapan dengannya.


“Kapan kamu akan melamar Novita? Cepatlah menikah, masa mau


gitu saja. Awas keburu tua. Saat antar anak sekolah masuk TK dikira cucunya


lagi,” ledek Al. kali ini giliran dia yang tertawa terbahak karena berhasil


membalikkan keadaan. Jika tadi Candra yang meledeknya, kali ini giliran dialah


yang meledek Candra.


“Kan Adriel masih sakit, Boss. Masa iya aku malah


melamarnya?”


“Memang kenapa kalau sakit? Kan cuma melamar. Cukup ijab


qobul saja tidak usah gelar pesta. Sekedar mengumpulkan saudara dan teman


terdekat, yang penting sah. Kau bisa resmi jadi ayah tiri Adriel dan Axel.


Dengan begitu, kau bisa leluasa memberi perhatian pada mereka. Tak terkecuali


pada mamanya. Kan gak hanya tinggal serumah. Tapi, juga tidur dalam satu


ranjang.”


Candra diam mencoba memikirkan apa yang baru saja Al


katakan. Memang itu benar, setelah resmi menikah dah sah, ia bisa membuktikan


kesungguhan cintanya pada Novita, termasuk ucapannya saat mendekatinya dulu, ia


berjanji akan terus menyayangi Axel dan juga Adriel dengan sepenuh hati


seperti anaknya sendiri.


“Baik, aku kan memikirkan itu, Boss. Terimakasih atas


sarannya. Apalagi anak sulungnya juga sudah menunjukkan kesediaannya menerima


saya jadi papa tirinya.”


“Makanya, kau mau tunggu apa lagi?” tanya Al. kemdian ia


tersadar kalau ini jam kerja tapi, malah ngladenin Candra curhat. “Kamu ke sini

__ADS_1


ada keperluan apa? Kenapa kau malah curhat di jam kerja seperti ini? Cepat


sana, kembali ke ruanganmu.”


Candra pun bergegas keluar sambil tertawa. Ia juga tidak


menyangka bisa sampai setengah jam menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol di


ruangan big bossnya. Kemudian ia pun keluar dari ruangan itu dan kembali masuk


ke dalam ruangannya bekerja bersama teman satu timnya.


Sesampainya di dalam mobil Queen puaskan dulu tertawa


sambil mmebenarkan riasannya. Agar, saat menyetir ia bisa fokus. Dari rumah dia memang sudah mempersiapkan memakai lipstik glossy. Jenis lipstik ini beda dengan matte yang tidak menempel pada gelas saat minum. Jadi, terbayang sendiri, kan seperti apa tadi? Apalagi dia menciumnya dengan menekan.


Baru beberapa meter keluar dari area kantor, tiba-tiba saja


Queen mendapati mobil Zahara. Ia sempat berfikir, dari mana, atau mau ke mana, wanita itu? penasaran dan ingin mengikutinya, dengan cepat ia segera


menghubungi Dedi melalui telepon seluler agar segera menjemput Berlyn dan


mengantarnya ke rumah mama dan papanya. Queen terus mengikuti Zahara, mencari


tahu ke mana dia sebenarnya.


Tapi,Sayang, Zahara menyadari kalau dirinya telah diikuti.


Ia hafal banget mobil hondra brio merah dengan nopol B 477XXXX itu adalah mobil


yang biasa Queen gunakan. Wanita itu menyeringai seorang diri di dalam


mobilnya. Lalu berfikir untuk mengerjai wanita itu, mengulur waktunya, agar ia


merasa apa yang dilakukannya sia-sia saja. Sebab, ia yakin, ia sudah


bersekongkol dengan Alex untuk menyelidiki dirinya.


Kali ini, Zahara mengatur siasat untuk mengerjain Queen. Dia


sengaja melajukan kendaraannya ke sebuah tempat terpencil yang jauh dari


keramaian.


Merasa curiga dengan apa yang akan Zahara lakukan, Queen


segera menghubungi Alex. ia mengaktifkan gps ponselnya agar Alex bisa dengan


mudah melacak keberadaannya dan segera melihat apa yang Zahara sebenarnya lakukan di sini. Ia yakin, kalau ada hal lain yang Zahara sembunyikan di sini. Tapi, apa Queen juga belum tahu.


Cukup membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, Alex siudah


berhasil menyusul Queen. Mobilnya kini hanya berjarak beberapa meter saja dari


mobil yang Queen kendarai.


“Aku di belakangmu Sekarang, Queen,” ucap Alex. karena


sedari tadi mereka memang sudah berkomunikasi melalui telefon seluler, dan sama-sama menggenakan hadset Bluetooth. Jadi, itu tidak merepotkan keduanya


saat berkomunikasi.


“Iya, Lex. Aku melihatnya dari spion. Eh, tunggu. Zahara tadi ke mana, ya?” tanya nya bingung.


“Entehlah. Aku belum  meihat mobilnya sama sekali,” jawab Alex juga ikut bingung.


mana?”


“Coba sekarang kau belok kanan, dan aku akan coba cek dengan berbelok ke kiri. Siapa tahu kita bisa


menemukannya,” usul Alex.


“Aku coba dulu,” Queen pun membelokkan mobinya sesuai yang


diintruksikan Alex. tapi, belokan ini buntu. Akhirnya ia pun putar


balik dan berusaha melacak setiap belokan. Keduanya berpencar. Namun, semua sama-sama buntu. Lalu,


di mana Zahara pergi?


Karena lelah dan menyerah, Queen pun turun dari mobil dan


menendang ban mobil depannya karena kempes. “Sial banget, sih hari ini?”


runtuknya.


Alex yang melihat Queen turun dari mobilnya juga turun, dan


berlari menghampiri wanita itu.


“Kenapa, Queen?” tanya Pria itu.


“Membututi Zahara gagal, dan sekarang malah ban mobilku


kempes. Sial banget, sih?” ucapnya, emosi.


“Sudah tidak apa-apa. Mungki kita saja yang belum beruntung,


kan masih ada lain waktu,” ucap Alex.


“Ya, kau benar. Lalu ini bagaimana? Kau ada solusi?” tanya


Queen sambil melihat ban depannya.


“Ada saja. Kamu ada ban serep tidak?”


“Ada, sih. Tapi, aku tidak bisa menggantinya sendiri,” jawab


wanita itu dengan melas.


“Ya sudah. Kau cukup duduk manis saja di sini. Aku akan


membantumu.” Alex pun bersiap melepas ban mobil Queen yang kempes dan


menggantinya. Beruntung, wanita itu selalu menyiapkan dongkrak. Kalau pun ia


tida bisa melakukan sendiri, setidaknya kalau minta bantuan juga tidak bingung


cari alat,


Setengah jam kemudian, Alex sudah menyelesaikan


pekerjaannya. Kembali pria itu menghampriri Queen yang duduk di cup mobil miliknya.


“Sudah beres.” Alex melemparkan senyuman pada mantan

__ADS_1


istrinya dan juga cinta semasa SMA-nya itu. keduanya saling tatap dan melempar


senyum satu sama lain.


“Makasih, ya?” ucap Queen.


“Cuma makasih doang, nih? Capek, tahu.” Alex terus melangkah lebih dekat dengan Queen sambil menyeka keringat yang ada di keningnya dengan punggung tangannya.


“Oke, aku traktir kamu makan siang. Bagai mana?” usul Queen.


“Bukannya kau baru saja makan bersama suamimu di kantornya?”


“Kan tadi dan Cuma roti saja kok. Sekarang laper lagi setelah


muter-muter,” jawab Queen dan melewati Al menuju ke dalam mobilnya.


Zahara menyeringai sambil memegang ponselnya. Ia tertawa


penuh kemenangan saat mendapat hasil poto yang bagus dan sangat menarik perhatian bagi siapapun yang melihatnya.


Bagaimana tidak? Alex dan Queen terlihat sangat mesra dengan saat berhadapan.


Sambil sama-sama melempar senyum. Terlebih posisi Queen duduk di atas cup


mobil. Pasti yang melihat hasil jepretan itu akan salah paham.


Karena mobil dua orang itu sudah keluar dari area itu.


buru-buru Zahra menyalakan mesin mobil dan mengikutinya. Ternya mereka berdua


menuju ke subuah restoran. Lagi-lagi, Zahara menang banyak. Sekali lagi, ia


mendapatkan hasil jepretan antara Queen dan Alex. selain baju yang mereka masih


sama dengan yang di tempat yang tadi. Camera yang ada tulisan waktu dan tempat pengambilan gambar.


Tanpa ia duga, bahaya yang hampir mengintainya malah


berbalik mengenai mereka berdua. Zahara tersenyum puas dan tertawa penuh dengan


kemenangan. Setelah dari restoran tersebut, wanita itu menuju rumah Novita.


Sesampainya di sana ia memasang wajah panik, cemas dan bingung.


“Kak. Kau tahu di mana Alex? Aku tidak bisa menemukannya.


Sejak pagi dia pergi dan belum kembali. Bilangnya ma uke GYM. tapi, di sana dia


tidak ada, aku tanyakan pada rekan sesama dosennya dia di kampus. Namum mereka bilang hari ini tidak ada jadwal mengajar.”


 “Masuk lah dulu. Kita bicara di dalam saja.” Novita


menggeser tubuhnya untuk memberi akses lewat pada adik iparnya. “Kenapa kau tidak menelfonnya, saja, Ra? Dari pada kamu panik gini.”


“Tidak bisa, Kak. Sudah dua hari ini dia memblokir nomorku. Aku


tidak bisa menghubunginya sama sekali.”


“Ya sudah, aku akan menghubunginya sekarang.” Novita


buru-buru beranjak mengambil benda pipih berwana biru yang tergelatk di atas


meja makan.


“Halo, Lex. Kau di mana sekarang?” rupanya panggilannya


sudah tersambung.


“Aku masih di luar, kak. Ada apa memang?”


“Apakah kau sedang menemui Al?”


“Ya. tadi sudah tapi, sekarang aku memiliki urusan lain,


ucap Alex.”


“Oh, ya sudah. Segeralah pulang jika urusanmu sudah kelar.


Zahara mencarimu. Dia berada di sini sekarang. Kau memblokir nomornya?” tanya Novita dengan penuh selidik.


“Ya, baiklah aku akan segera pulang kalau begitu,” jawab


Alex. kemudian ia mematikan telefonnya.


“Bagaimana, Kak? Di mana dia sekarang?” tanya Zahara dengan


penuh harap.


“Dia berada di luar. Entah di mana pastinya aku tidak tahu. Tapi,


tadi dia katanya baru saja ke kantor Al,” jawab Novita. Ia mengatakan demikian


karena berfikir kalau adiknya sudah tidak berada di sana lagi. Mungkin juga apa yang ingin dia sampaikan juga sudah diutarakan. Jadi, tidak masalah kalau Zahara ke sana. Tapi, siapa sangka, tindakan Novita kali ini yang bermaksut membantu adiknya justru menyeretnya dalam masalah besar.


“Di kantornya Al? baiklah. Aku akan mencarinya. Kucoba lihat


ke sana. Terimakasih banyak ya, Kak Nov. Zahara pun pergi pamit untuk


meninggalkan tempat itu.


“Kau tidak mau minun dulu, Ra?”


“Tidak, Kak. Terimakasih.” Zahara pun segera melajukan


mobilnya menuju kantor Al. alamat ia dapatkan dari Novita. Jadi, ia akan dengan


mudah menemukannya meskipun belum  pernah


datang sekalipun ke sana.


Di kantor Al kebetulan tepat jam istirahat. Dugaan Candra ternyata benar. Tidak meleset sama sekali. Kedatangan Queen yang meninggalkan noda lipstik di pipi atasan mereka membuat seluruh karyawan dan staff heboh dibuatnya.


"Mereka tuh udah berapa tahun sih, menikah kok tetap so sweet banget?"


"Kurang paham. Mungkin sekitar enam sampai tujuh tahunan."


"Sudah lah, jangan terus bahas kedekatan mereka. Yakin mau ngelakor? Pak Al itu setia orangnya."


"Cari yang ganjen saja, ya? Lagian istri beliau kan cantik, dokter dan berkelas. Kalau cuma pegawai kantin... Perlu ngaca dulu, kali ya?"


"Huumb... kita yang memiliki jabatan saja minder."


"Halu, ah halu. Namanya pelayan Kangin, wajar kan kalau siapapun minta tolong dibawakan ini itu dan kasih tips. pin pak Al. So jangan baper."


Para staff yang akan makan di kantin terus tiada hentinya menyindir pelayanan baru yang bernama Sherly. Sejauh ini memang dia tidak terlihat menggoda Al sama sekali. Tapi, sudah jadi dahasi umum kalau dia ada rasa pada CEO muda mereka dan merasa GR menganggap pak Al mudus mendekati-nya saja jika memesan kopi, teh dan apapun yang mungkin ingin dia makan dan tak ingin keluar.

__ADS_1


Biasanya Al. memamg sering makan di luar kantor bersama Queen atau sekedar bersama Candra saja. Tapi, memang akhir-akhir ini dia tidak. pernah keluar. istirahat aja cuma makan di ruangannya sendiri dan kembali bekerja agar pekerjaan segera selesai dan bisa pulang lebih awal.


Bagi staf lama hal itu wajar. Tapi, Sherly adalah anak baru yang belum tahu apa-apa. jadi ya menebak-nebak dan pernah sesumbar, bahwa dia akan terima walau hanya jadi simpenannya. jelas, banyak yang menertawai. karena Al bukanlah pria hidung belang yang suka mempermainkan wanita. dia adalah tipe suami yang hanya setia dengan satu istri.


__ADS_2