Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
WILL DIE 13


__ADS_3

"Ya, mungkin saja Berlyn menolak untuk ikut karena ia tidak mau ketinggalan pelajaran. Iya, kan Berlyn?" ucap Alex yang kebetulan memangku gadis itu.


Sementara Berlyn, ia hanya mengangguk berkali-kali sambil menunjukkan senyuman terbaiknya sebagai isyarat jawabannya.


Tidak lama setelah itu, Adriel muncul dari balik pintu belakang dan berlari menghampiri Berlyn. lalu, bocah itu mengajak Berlyn bermain ke halaman belakang.


"Berlyn! Rupanya kau yang datang? kukira siapa. maukah kau ikut bersamaku?" tawar bocah itu.


Tanpa berfikir panjang, gadis itu langsung lolos dari pangkuan Alex dan berlari ke arah Adriel.


"Kau tahu, kita mau main apa?" tanya Adriel, berjalan ke belakang sambil menggandeng tangan Berlyn.


Gadis itu mengelengkan kepala. Jelas dia tidak tahu. Beru saja Adriel muncul dan tiba-tiba bertanya seperti itu.


Tapi, setidaknya ia beruntung. karena Berlyn anaknya kalem dan lembut. Coba saja yang sedang bersamanya itu adalah Clarissa. Kena semprot yang ada.


"Aku membuat istana kecil untuk kita, tara... " ucap Adriel dengan ceria sambil menunjukkan kursi di halaman belakang yang ia hias dengan bunga-bunga di bagian sandaran dan sisi kiri kanan kursi itu sendiri. Lebih mirip dengan kursi pengantin, sih.


Berlyn yang memang menyukai bunga, ia terlihat kagum sampai-sampai gadis itu menutup mulutnya dengan gtangan kirinya.


"Bagaimana? Apakah kau suka, ini?" tanya Adriel sambil tersenyum melihat Berlyn yang bahkan masih ia gandeng tangannya.


"Ya," jawab bocah itu girang,dengan sorot mata yang berbinar memancarkan kebahagiaan.


"Syukurlah jika kau suka. Jadi, tidak sia-sia aku bekerja keras untuk ini. Berlyn, ayo kita duduk di sana, aku rajanya, dan kau Ratunya," ucap


Adriel lagi. Sambil mengusap keringat di keningnya.


dua anak itu pun duduk di sana. kedua matanya menatap lurus ke depan sambil tersenyum, dan sesekali saling pandang-pandangan.


Sementara di dalam rumah, Al dan Queen segera berpamit pada Alex dan juga Zahara. bagaimana pun, mereka harus segera kembali, untuk


menyiapkan pakaian sehari-hari milik Berlyn, seragam, dan juga perlengkapan sekolah lainnya. karena, Zahara dan Alex meminta


agar anak-anak menginap di rumahnya saja. Jika pun Bilqis rindu dengan Berlyn, kan juga masih ada tempat. Apalagi remaja itu lebih suka tidur satu kamar dengan Berlyn agar dapat membacakan dongen. Jadi, pemilik rumah tidak perlu repot-repot menyiapkan banyak kamar.


"Ya sudah, kami pamit dulu, ya Za. Maaf sebelumnya jika kami banyak merepotkan kalian," ucap Queen merasa tidak enak hati. Karena.


walau bagaimana pun Zahara memiliki bayi berusia satu tahun dan anak seusia itu adalah aktif-aktifnya. Terlbih, putra mereka, Lytfi kini


sudah mulai bisa berjalan. jadi, harus memberi pengawasan ekstra.


"Sudahlah, Queen. Pada sesama saudara jangan merasa sungkan dan tidak enak begitu. Ini hanyalah perkara ringan. Tak bisa dibandingkan


dengan kau yang tengah merawat Adriel dulu," timpal Zahara.


"Sudah, jangan bawa-bawa masa lalu. Kita dipertemukan oleh Tuhan bukan karena sebuah kebetulan. Tapi, memang sudah diatur dan kelak akan saling membutuhkan," timpal Queen.


"Ya, kau benar. Kalian pulang berdua saja, apa mengajak Berlyn? Mending, biarkan saja dia di sini bersama Adriel," usul Alex.


"Biar kutanya dia dulu. Di mana dia sekarang?" tanya Queen sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu sampai rauang makan.


"Dia berada di halaman belakang bersama Adriel tadi, sepertinya," jawab Zahara.


"Kau ke sana lah! Tanyakan padanya. Jika dia ingin tinggal, jangan dipaksa ikut. Biarkan dia disini," ucap Alex.


Queen pun memandang ke arah Al, kemudian keduanya berjalan ke belakang untuk mencari putrinya.


Tiba di sana, dua insan itu menghentikan langkahnya sejanak. Keduanya diam memerhatikan Berlyn dan Adriel sambil berusaha agar tidak tertawa. Tapi, nyatanya mereka tetap saja tidak sanggup menahan tawanya. Mereka merasa lucu saja dengan dua bocah itu yang duduk bersanding pada kursi putih yang telah dihiasi bunga-bunga seperti kursi pengantin.


"Kau merasak kalau mereka itu lucu, gak si Al?" tanya Queen lirih.


"Sepertinya, iya. Apakah kita dulu pernah bermain begitu, sayang?"


"Tidak," jawab Queen singkat dan to the point.


"Bagaimana mereka kelak jika sudah dewasa sama-sama suka?"


"Tidak masalah. Jika memang itu terjadi, maka artinya selama ini kita telah mengasuh calon menantu

__ADS_1


kita, Al," jawab Queen.


"Ya, kau benar. Ya sudah, ayo kita panggil Berlyn," ajak Al.


Queen mengangguk dan keduanya berjalan mendekati mereka dan memanggil,gadis kecil tersebut.


"Berlyn, Kamu ikut pulang bersama kami, tidak? Besok, pulang sekolah mama dan papa akan antar kau ke mari," tanya Queen pada putrinya yang sedang anteng duduk bersama Adriel tanpa sepatah kata pun.


Gadis itu mengarahkan pandandangannya pada kedua orangtuanya. lalu memberi isyarat, 'Jika aku, masih akan diantar kembali lagi ke sini besok, untuk apa aku ikut kalian pulang?'


"Jadi, kau mau tinggal di sini saja, ya?" tanya Al yang tengah berjongkok sambil memeluk putrinya.


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk.


"Baiklah jika kau ingin di sini. Kami pergi dulu, oke? Baik-baik di sini jangan nakal, jadilah anak yang patuh, oke?"


ucap Al sambil mengelus kepala putrinya dan mencium keningnya, kemudian diikuti oleh Queen dan


keduanya kembali meninggalkan keduanya di halaman belakang.


"Alex, Zahara. Kami titip mereka dulu di sini, ya? Berlyn tidak mau ikut," ucap Queen saat keduanya tiba


di ruang tamu kembali.


"Kalian tidak perlu sungkan begitu, tidak masalah kan mereka di sini," jawab Zahara.


Akhirnya Al dan Queen pun berpamitan dan akan kembali nanti untuk mengantarkan pakaian dan peralatan sekolah Berlyn.


"Ini pertama kalinya kita akan jalan tanpa mengajak Berlyn," ucap Al ketika mereka berada di jalan. Tangan kanannya memegang setir mobil, sementara tangan kiri pria itu mengenggam erat tangan Queen.


"Kau benar. Aku tidak menyangka kalau dia bisa berfikir sampai sejauh itu. Sangat dewasa sekali," jawab Queen.


Al hanya diam tidak menjawab. diangkatnya tangan Queen dan ia cium beberapa kali. ia hanya membatin, kalau Clarissa jauh lebih dari itu. Hanya saja, Al juga tidak ingin menceritakannya, bukan? Jika sampai dia bicara, pasti Queen akan mencecar pertanyaan yang macam-macam. Tapi, tanpa dikatakan pun, orang juga sudah bisa menilai. Cukup melihat apa yang ia lakukan dan ia dapatkan di usianya yang baru menginjak usia sepuluh tahun saja sudah seperti orang berusia tigapuluhan.


***


Tanpa terasa, tiga haru sudah Berlyn tinggal di rumah Alex dan Zahara. Antara dia dan Adriel pun juga kian dekat.


Mungkin ini saatnya dia harus mulai bertindak. Daripada Berlyn merasa terbiasa dengan adiknya dan keduanya saling jatuh cinta.


Yang ada dia dianggap pihak ketiga yang merusak hubungan adiknya nanti jika dua bocah itu sudah sama-sama dewasa dan memahami


akan perasaanya masing-masing.


"Berlyn, kak Axel nanti mau ke Jogja. Apakah kau mau ikut dengannku?" tanya Axel ketika ia mendapati


Berlyn duduk seorang diri di ruang tengah. Omnya sedang mengajar di kampus, sementara tantenya bersama Lutfi tengah


menjemput Adriel sekolah.


Gadis itu menatap lekat dengan matanya yang bulat pada Axel. Ia terlihat sekali kalau tengah berfikir. Tidak berselang


lama, ia mulai berbicara dengan bahasa isyarat yang artinya kurang lebih, 'Apakah hanya kita saja? Kak Adriel ikut tidak?'


"Iya, hanya kita berdua. Aku ajak kau ke makam om Chandra dan nenek Dian dulu. Setelahnya, kita akan jalan-jalan, bagaimana?"


ucap Axel dengan lembut dan menunjukkan senyumannya.


Tapi, sepertinya itu tidak membuat Berlyn puas dengan jawabannya. Ia masih mencecar dengan berbagai pertanyaan. Pakai


bahasa isyarat tentunya. 'Kenapa hanya kita berdua saja? Apakah tidak kasian jika kak Adriel tidak diajak?'


"Sebenarnya kak Axel juga ingin mengajaknya, Berlyn Sayang. Tapi dia nanti ada les dan minggu pagi latihan basket.


Kau tahu itu, kan? Sedangkan jika tidak malam minggu kak Axel tidak akan sempat," jawab Axel dengan nada sok dimelas-melasin


berharap pengertian dan kesediaan dari Berlyn.


Tapi, gadis itu tidak langsung menjawab. Nampak sedikit berfikir dan penuh dengan pertimbangan. Membuat Axel juga merasa tidak sabar.

__ADS_1


"Baigaimana? Apakah kau bersedia menemani kak Axel, Lyn?" tanya remaja itu.


Mendengar kata Lyn terucap dari Axel, membuat gadis itu teringat akan saudari kembarnya yang memanggilnya dengan


nama kesayangan Alin. Akhirnya, ia pun mengangguk dan menyetujuinya.


"Oke, terimakasih ya, Sayang. Nanti sampai sana kakak janji akan beliin apapun yang kamu mau setelah urusan kak Axel selesai, oke?"


Lagi, gadis itu tersenyum dan mengangguk.


Melihat senyuman Berlyn yang terlihat imut dan menggemaskan, Axel tidak tahan untuk mencium gadis yang kini usianya sudah


hampir menginjak sebelas tahun. Sementara Berlyn yang masih polos, dan tidak tahu apa-apa, ia juga membalas ciuman Axel. jadi,setelah Axel


mencium pipi kiri Berlyn, ia mendapatkan ciuman di pipi kanannya. Keduanya merasa itu impas dan saling tertawa.


"Kau masuklah ke kamar. Bersiaplah! Kak Axel akan meminta izin pada om dan tante dulu, bagaimana?" usul Axel.


Berlyn pun menyetujui itu dan mematuhi perintah pria yang usianya duabelas tahun lebih tua darinya itu.


Setelah tak lagi melihat punggung Berlyn, Axel mengabil ponselnya dan menelfon omnya. Ia tahu, di sini jika ia


ingin mengajak Adriel atau pun Berlyn tidak hanya cukup izin dengan satu orang saja. Tapi, karena om dan tantenya


berada di tempat yang berbeda, ia pun harus meminta izin pada omnya dulu yang lebih utama. Pada tante bisa ngomong langsung. Mungkin juga sebentar lagi sudah tiba di rumah.


"Halo. Xel! Ada apa?" jawab Alex dari seberang sana.


"Om, sore ini aku akan ke Jogja. Boleh aku mengajak Berlyn? Sekalian jalan-jalan. Janji besok kami akan segera kembali jika sudah," ucapnya dengan tegas.


Alex diam. ia tidak langsung memberikan jawaban. Tapi, dengan cepat Axel langsung mencari celah. Ia selalu takut kalau omnya


berfikir buruk tentangnya. sebab, dalam pemberitaan banyak sekali kasus pedofil. Ia khawatir omnya memiliki rasangka buruk terhadapnya dan akan melakukan asusila pada bocah sepuluh tahun ini.


"Awalnya aku berfikir ingin mengajak serta Adriel dan juga Bilqis. Tapi, ia sedang menghadari ulangan smester.


Sementara Adriel, ia nanti ada jadwal les privat dan besok pagi dia les basket. Tidak bisa, Om."


"Ya sudah. Tolong jaga dia dengan baik. karena kedua orangtuanya sudah mengamanahkan dia pada om dan tante. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya," jawab Alex pada akhirnya.


"Baik, Om. itu sepertinya tante sudah tiba. aku bilang padanya dulu, ya?" ucap Axel. Kemudian panggilan diakhri, dan ia mengepalkan tangannya ke atas dan menariknya ke bawah sambil bersorak girang tapi, lirih, "yes," ucapnya penuh dengan kemenangan.


"Berlyn! kau di mana? Coba lihat, aku bawa apa?" teriak Adriel dari luar sambil berlari.


Axel diam melihat adiknya yang setiap hari selalu memiliki hadiah kecil untuk gadis pujaan hatinya itu. Ada saja yang ia bawa.


Mulai dari bandana, bando, topi, dan kali ini ia membawakan penjepit rambut. Orang lain mungkin beranggapan hubungan mereka sedekat itu


hanyalah sebatas saaudara karena dari kecil bersama layaknya Berlyn dan Bilqis. Tapi, tidak dengan tanggapan Axel.


Maka dari itu, ia harus segera mengambil tindakkan sebelum Berlyn menolaknya dan hanya merasa nyaman dengan adiknya. Apalagi dari faktor usia selisihnya juga sangat jauh. Axel lebih cocok jadi omnya memang. Tapi, bukankah jaman sekarang banyak gadis yang lebih mencintai om-om?


Tidak lama kemudian, Adriel keluar dari dalam kamar Berlyn dan bertanya kepadanya, "Kak, apakah kau dan Berlyn mau ke Jogja sekarang?"


"Iya, kamu di rumah saja, ya? Kan nanti kamu ada les jam setengah tujuh. Terus besok juga latihan basket, kan?"


"Eeemhh... Aku tidak bisa ikut, dong? Ya sudah, tidak apa-apa. tapi, belikan aku mobil remote yang terbaik di sana, yang bisa berubah menjadi


robot seperti di film transformer," ucap bocah itu dengan polos.


"Baiklah," jawab Axel dengan mudah, Karena tidak menghadapi rengekan adiknya saja sudah suatu keajaiban. Karena selama ini, ia paling suka kalau bermain dengan Berlyn dan maunya selalu ikut ke mana pun Berlyn pergi. Sok sweet aja padahal sama-sama masih bayi. Batin Axel.


"Kamu mau ke Jogja, Xel?" tanya Zahara yang kebetulan mendengar percakapan kedua ponakannya itu.


"Iya, Tante. Aku akan ajak Berlyn. Tidak apa-apa, kan?"


"Sudah izin om kamu?"


"Sudah. dia ngizinin, kok tadi Te."

__ADS_1


"ya sudah. kalau gitu, kalian berhati-hatilah," ucap Zahara.


setelah mendapatkan izin dari om dan tantenya, remaja itu barulah masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.


__ADS_2