Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 33


__ADS_3

Karena merasa kesal dengan kebebalan dan kerasnya hati,


Zahara, Alex memutuskan untuk pergi ke rumah kakaknya saja. Toh, jam segini Axel dan Adriel tidak ada di rumah. Mereka semua pergi ke sekolahan masing-masing. Sebab, pergi ke gym pun percuma. Dia tidak akan bisa fokus dengan apa yang akan dia lakukan. Apalagi ke kampus. Lagian dia juga jadwal mengajarnya masih nanti siang sampai sore.


Tiba di rumah itu, Alex langsung memarkirkan mobilnya dengan


baik, ia sengaja meletakkan mobilnya di samping rumah mungil, sederhana namun nyaman itu. Agar tidak terlihat dari samping kalau dia berada di rumah kakanya.


Novita yang tengah sibuk beres-beres rumah, langsung


meletakkan alat pel yang di pegangnya setelah mendengar suara bel berbunyi.


Ia pikir siapa yang datang, tumben


banget ada tamu sepagi ini. Padahal masih jam delapan. Kalau pun itu kurir yang mengantarkan paket, juga tidak sepagi ini juga, kan?


“Sebentar!” teriaknya saat mendengar bel berbunyi yang


ketiga kalinya.


Begitu pintu rumah terbuka, Novita terkejut melihat siapan


yang berdiri di ambang pintu itu. “Alex? kau sendirian? Di mana Zahara?” tanya Novita sambil menenggok ke luar. Pandangannya di edarkan ke seluruh penjuru halaman. Tak ada seorang pun. Ternyata Alex benar-benar datang sendirian.


Tak ada jabawab yang keluar dari bibir pria itu. Ia langsung


ngeloyong masuk meskipun belum dipersilahkan oleh pemilik rumah.


Merasa ada yang


tidak beres dengan adik semata wayangnya, Novita hanya menghela napas saja. Ia segera menutup pintu dan ikut masuk ke dalam duduk di dekat Alex, seraya


memperhatikan air muka pria itu.


“Kau ada masalah?” tanyanya.


“Aku lelah jika seperti ini terus, Kak. Aku tidak yakin dengan diriku masih bisa bertahan apa tidak dengan pernikahanku sekarang,” keluh Alex, sambil memegangi keningnya.


“Kamu yang sabar, ya? Istrimu itu tengah hamil. Wajar kalau labil dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Dia sensitive dan emosian saja bawaannya. Sekarang, dia di mana?


Apakah kau meninggalkanya di rumah sendirian?”


Alex mengelngkaan kepalanya dan duduk tegap meninggalkan sandaran sofa yang didudukinya. “Pagi tadi dia minta diatar ke tempat umik.”


“Duduklah di sini dulu, kau mau minum apa? Gereen tea saja, ya?” Wanita itu langsung beranjak pergi ke


dapur tanpa menunggu persetujuan dari Alex. ia langsung membuatkan teh hijau hangat dan diberikannya pada Alex. kemudian dia pun kembali meneruskan mengepelnya.


Alex memandangi gelas bening berisi teh hangat itu sambil tersenyum miring. Ini sebuah kebetulan, atau apa? Dulu, Queen sering membuatkan teh hangat untuknya,


terlebih di saat mereka bersantai di halaman belakang.


“Kakek dan nenekku dulu, paling suka, ngeteh sambil makan biscuit di atas balkon sambil bersantai dan bersenda gurau bersama. Aku dan kak Al sering ngrecokin.”


Tiba-tiba saja kata-kata Queen yang entah sudah berapa tahun ini tidak ia dengar, kembali terngiang di telinganya dengan sangat jelas.


“Kenapa, sih


semuanya harus tentang kamu, Queen?” keluh Alex sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia ingat banget bagaimana semalam saat memeluk Zahara dan mengatakan tak lagi cinta pada Queen itu sebenarnya hanyalah bohong. Memang dia sudah


bisa menerima Zahara dengan sepenuh hati. Tapi, Queen. Dia tetap memilikki tempat kusus di hatinya. Selamanya, dan tak pernah terganti.


Hanya saja,


demi menjaga perasaan wanita yang kini telah menjadi istrinya, dia bersikap


seolah sudah tak memilikki perasaan apapun terhadap mantan istrinya itu. benar apa yang Zahara ucapkan semalam. Jika saja bukan karena Helena dan mendiang


kakak iparnya, dia mungkin masih tetap bersama Queen dan hidup berbahagia memilikki anak lagi.


Dia tidak sempat berfikir mengajak Queen rujuk. Tapi, Al melarangnya.


Kalau dipikir-pikir, Al dulu juga tidak seperti mencintai adik angkatnya. Rasa cinta itu tumbuh karena kedekatan mereka berdua selama di kantor yang menyamar sebagai orang asing.


“Bodoh! Dasar


bodoh! Kau benar-benar bodoh, Alex!” runtuknya seorang diri.


“Kau baik-baik


saja, kan Lex?” tanya Novita saat mendapati adiknya telihat aneh.


“Kakak? Sejak kapan kau di sini?”


“Aku tanya ke kamu, bukannya menjawab malah kau, tanya balik. Yang benar, donk! Apakah kau perlu seorang psikolog?”


“Mungkin. Tapi,


curhat sama kakak saja dulu, siapa tahu nemu solusi.”


“Ya sudah, ayo


aku dengarkan!”


Alex menghela napas panjang sebelum bercerita. Ini biasa ia lakukan sebelum mengangkat beban berat saat di rumah, maupun di tempat GYM. Mungkin beban hidupnya juga terasa sangat berat saat ini.


“Aku bertengkar dengan Zahara, semalam.”


‘Sudah aku


duga,’ batin Novita sambil tetap memperhatikan adiknya bercerita.


“Kukira setelah pertemuannya di rumah sakit dengan Queen kemarin dia sudah sadar dan tak lagi


mempermasalahkan Queen lagi, Kak. Tapi, Cuma melihat postingan Axel semalam, dia sudah marah besar. Padahal selama ini aku sudah tidak pernah lagi komunikasi


dengan Queen. Ig juga aku unfollow.”


“Postingan Axel?” tanya Novita lagi meyakinkan. Sebab, dalam postingan putra sulungnya juga sepertinya biasa saja. Tak ada yang aneh dan unsur membanding-bandingkan


antara Zahara dan juga Queen.


“Ya, caption rindu dipermasalahkan dan malah ke mana-amana. Aku merasa sudah sangat sabar


selama ini, Kak. Dia tidak sepantasnya marah begitu, keculai, aku yang posting seperti itu, wajar dia marah.”


Novita hanya menghela napas saja. Ia tak tahu harus berkata apa. Masalah memang ada pada Zahara. Adiknya juga cukup baik dan bisa bersabar. Zahara berhak meminta agar


Alex tidak berkomunikasi lagi, karena tidak ada anak yang mereka tinggalkan dari pernikahan mereka dulu. Tapi, jika melarang keluarganya untuk tetap menjalin hubungan baik dengan Queen itu salah.


“Mungkin kalau


bayinya sudah lahir, dia bia berubah. Bukanklah dia mulai seperti itu saat dia hamil? Tak perlu kau pikirkan ini terlalu serius. Kau perlu fokus untuk bebagai hal juga, kan?”


“Ya. Semoga


saja dia bisa benar-benar berubah ke yang lebih baik lagi.”


“Aamiin. Kamu


sudah sarapan?”


“Sudah, sih. Tapi, sekarang lapar lagi. Kakak ada makanan apa memangnya?” tanya Alex. wajahnya


yang semula tegang karena adnya banyak masalah yang ia tanggung, kini sudah mulai bisa rilex, dan sekit tersenyum.


“Kamu mau makan apa memangnya?”


“Apa saja, kaka dah nawarin aku makan. Pasti ada makanan, kan?”


“Ya ada, tapi masih mentah. Belum masak juga ini. Kamu sih, datang terlalu pagi,” sahut


Novita.


“Berlagak banget, sih nawarin makan segala kalau gak ada yang di makan. Bikin nasi goreng saja deh.”


“Ya sudah, kamu anteng saja di sini, jangan kemana-mana. Kaka buatkan kamu nasi goreng dulu,”


ucap Novita dan beranjak ke dapur. Dengan Gerakan cepat, di keluarkannya beberapa jenis sayuran, ikan dan juga ayam serta sosis. Sepertinya ia tidak hanya kan memasak nasi goreng saja. Melainkan juga memasak untuk makan siang


Adriel juga.


Sekitar lima belas menitan, Novita sudah berhasil menyiapkan nasi goreng untuk Alex dan memberikan


padanya.


“Kamu makan dulu, gih. Habis ini kakak minta tolong kamu boleh, tidak?”


“Minta tolong apa, Kak?”


“Antar kaka jemput Adriel di sekolahan. Sekalian antar kakak belanja kebutuhan rumah. Kamu


bisa, kan?”


“Bisa. Tenang saja. Aku mulai ke kampus nanti jam dua, kok.”


“Oke. Kalau


begitu kaka siap-siap dulu, ya?”


Alex memandang


kakaknya dan kembali meneruskan makannya. Mungkin nanti dia tak perlu makan siang lagi. Selain nasi yang di makan. Kakaknya mengambilkan juga porsi gila. Mau tidak dihabisin, jelas dia akan marah. Jika dihabiskan… dia sangat menjaga pola makan dan bentuk tubuhnya. Tapi, akhirnya ya habis juga.


Tak berselang lama. Novita sudah kembali dengan pakaian rapi. “Kita bisa berangkat sekarang?”


tanya wanita itu.


“Cepet banget, sih? Mandi apa Cuma cuci muka aja tuh tadi?”


“Heh, tentu saja kakak mandi, lah. Ya sudah ayo kita berabgkat sekarang saja.”


“Baiklah.” Alex hanya tertawa saja. Dari dulu sampai sekarang. Sejak masih nanak-anak sampai


dewasa. Masih saja dia suka menggoda kakaknya. Benar-benar kekanak-kanakkan sekali.


Di tengah-tengah perjalanan Ketika hendak menuju sekolahan Adriel, sebuah panggilan masuk membunyikan ponsel Aelex yang sedari tadi berada di dalam saku


celananya.


Dengan sedikit kesulitan karena tangan sebelahnya mengemudikan mobilnya, Akhirnya pria itu


bisa mengeluarkan benda pipih yang tengah berdering tersebut.


“Haaaaah!” Alex mendesah kesal begitu mendapti siapa yang tengah menelfonnya.


“Siapa?” tanya


Novita sambil memandang Alex yang mukanya kembali terlihat kesal.


“Zahara. Gak tahu, mau apa lagi dia,” ucapnya malas. Lalu merijeg panggilannya.


“Kenapa di matikan?”


 “Males. Mungkin juga ngajak berantem lagi.” Alex m meleparkan ponselnya ke atas dashboard. Namun, tidak lama kemudian, panggilan kembali berdering.


Novita memintanya agar mengangkat panggilan tersebut. Tapi, Alex menolak hingga panggilan itu mati dengan dengan sendirinya. Merasa kalau Zahara sudah luluh


dan akan meminta maaf, Novita menunggu pangilan selanjutnyaa. Jika Alex tidak mau mengankat, dia yang akan mengangkatnya sendiri agar segera ketemu titik permasalahannya.


Ternyata benar,  Zahara menelfonnya lagi.


“Kamu angkat, Lex. Siapa tahu dia sudah luluh dari emosinya dan mau minta maaf sama kamu!” seru Novita.


Tapi, alex diam. Menganggap perkataan kakaknya hanya sebatas angin lalu yang tak bisa di

__ADS_1


dengar. Ia masih saja fokus dengan kemudi yang dipegangnya.


Karena tak mendapat respon dari Alex, Novita dengan cepat meraih ponsel itu dan menjawabnya.


“Halo, Za, assalamualikum.”


“Waalaikumssalam.


Kak, apakah Alex sedang bersamamu?”


“Iya, ini dia sedang nyetir. Aku minta tolong padanya untuk jemput Adriel. Ada apa, Za?” tanya Novita seolah-olah dia tidak tahu dengan masalah itu.


“Oh, ya sudah. Aku ada di rumah umik, Kak. Jika sudah, minta Alex ke sini, ya?” jawab Zahara i dengan lembut.


“OKe. Biar aku sampaikan padanya.”


“Terimakasih,


Kak. Assalamualaikum.”


“Waalaikumssalam.”


Panggilan pun di matikan. Novita memandang ke arah Alex dan menyampaikan apa yang dikatakan


oleh Zahara dengan bahasanya sendiri, yang tentunya lebih didengar oleh Alex.


“Lex, Zahara bilang sekarang dia ada di tempat umik, dan kamu diminta untuk ke sana.”


“Kan aku tadi sudah bilang ke Kakak. Dia ke sana kan juga aku yang antar, tidak minggat dia itu tidak minggat,” jawab Alex ketus.


“Bukan begitu, Lex. Iya, kakak tahu kau yang antar dia bawa koper kaka ingat. Kamu mikir dong, dengan dia mengatakan demikian, artinya dia tidak ingin kakak tahu akan


pertengkaran kalian. Bisa saja dia sadar dengan kesalahannya dan mau minta maaf.”


Novita tetap menatap Alex yang masih diam.


“Kamu ngerti gak sih dengan yang kakak bilang? Dengar tidak?”


“Iya, Kak. Aku dengar dan juga ngerti kok,” jawab Alex tanpa mengalihkan padangannya.


“Ya sudah, kamu cukup antar kakak sampai sekolahan Adriel saja. Setelah itu, kamu putar balik


dan temui istrimu. Yang akur jangan berantem terus ya calon ayah," ucap Novita sambil tersenyum.


Sebenarnya Alex masih ingin mengantarkan kakanya berbelanja dan pulang sampai rumah. Tapi,


titah sang ratu tidak bisa d bantah. Kakanya sudah mau ia pulang. Jadi,


ya pulang meskipun kakinya terasa berat.


“Iya, Kak. Aku pamit dulu. Hati-hati, ya? Hubungi aku jika ada sesuatu nanti di jalan.” ucap Alex berlagak sedih, seolah Novita akan pergi merantau jauh saja.


“Masalah apa?” tanya Novita dengan gelagat galaknya.”


“Kali aja


kesulitan bawa barang, dan gak ada becak,” jawab Alex sambil terkekeh.


“Sudah, sana


Pergi!” serunya sambik menahan tawa.


****


“Sayang, cepat sedikit, nanti Berlyn terlambat!” teriak Queen dari meja makan sambil menyisir


rambut putrinya. Seementara putrinya tengah menikmati sarapannya.


“Iya. Ini masih pakai kaus kaki,” sahut Al dari atas.


Setelah selesai menguncir rambut putriya, Queen coba naik ke atas melihat suaminya. Melihat


kesiapannya sampai mana.


Sebelum Berlyn menginap di rumah mama dan papa merek, Al juga selalu disiplin. Tapi, setelah satu


bulan bermalas-malasan Karen tidak punya tanggungan mengantar anak sekolah, dia mungkin sedikit kaget


atau, mungkin lupa. Jadi keterusan.


Queen tersenyum


melihat suaminya yang sedikti keteteran. Ia pun menghampiri pria itu yang mondar-mandir bingung mau menyiapkan apa dulu karena panik. Takut Berlyn terlambat.


“Duduk sini, biar aku bantu.” Queen menepuk sebuah stool yang ada di depan meja riasnya.


Setelah Al duduk, barulah Queen mengambil pomet dan menata rambut suaminya yang masih berantakan. Setelahnya, ia menyemprot dengan hair sprepay. Kemudian, merapihkan


kemejanya dan memasangkan dasi suaminya. Sepatu pun juga tak luput darinpandangan wanita itu.


“Kenapa kau tertawa, Sayang?” tanya Al saat mendapati istrinya tertawa terbahak sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


“Kau… apakah kakimu nyaman memakai sepatu terbalik seperti itu?”


Al menundukkan kepalanya. Melihat sepasang sepatu yang sudah dipakainya. Menyadari sepatunya kebalik, pria itu menepuk jidatnya dan keduanya sama-sama tertawa.


"Biar aku betulkan sepatumu."


Al memperhatikan istrinya melepas sepatunya yang terbalik dan memasangkannya kembali.


"Sudah beres," ucap Queen sambil berdiri.


"Terimakasih, istriku." Al memegang kedua pundak istrinya dan mengecup keningnya.


"Ya sudah, cepat kamu berangkat. Kasian Berlyn kalau sampai terlambat nanti."


"Iya, istriku yang paling cantik," ucap Al sambil meraih tas kerja yang diberikna Queen padanya.


"Yang paling cantik? Berarti masih ada istri lain yang cantiknya nanggung, dong?"


Al mencubit hidung wanita di depannya dan berjalan menuju ruang makan.


Al pun hanya sempat minum seteguk kopi tanpa memakan apapun. Tapi, Queen sudah memperkirakan itu. dia menyiapkan box berisi susu hangat, kopi putih, serta beberapa potong roti sansiwch kesukaan suaminya.


“Kau sampai kantor pasti sangat pagi nanti. Jangan lupa di


habiskan, ya?” ucap Queen sambil menyerahkan tas kecil yang berisi box dan dua tempat minum.


“Terimakasih, Sayang.” Sekali lagi Al mencium kening


istrinya, lalu, ia dan Berlyn pun berangkat. Setelah suami dan anaknya


berangkat, wanita itu pergi ke kamarnya untuk merapikann kamar tidur, lalu iabpun mandi.


Dia sedikit bersantai hari ini karena tidak praktik pagi.


Sesibuk-sibuknya menjadi seorang dokter, tak sesibuk dulu saat ia masih menjadi koas. Jangankan untuk tidur nyenyak, dandan cantik saja boro-boro.


Usia mandi dan luluran, ia berusaha menghubungi salah satu


Teman lamanya yang kini tengah menempuh pendidikan dokter spesialis THT.


Dulu, dia adalah orang yang menyarankan agar Berlyn melakukan operasi pemasangan implan koklea. Karena dari beberapa pasien yang melakukan operasi tersebut dan melakukan terapi, bisa sembuh dari tuna rungu dan tuna wicara.


Hanya saja sayang, Berlyn tidak memiliki keinginan untuk bisa berbicara. Dia lebih memilih diam dan menerima kalau dirinya bisu. Bisa mendengar dengan baik aja dia sudah senang.


“Halo, benar ini Dr.Arnol, bukan?” tanya Queen saat panggilannya dijawab.


“Ya, benar. Kau apa kabar, Queen? Lama gak ketemu, ya?” jawab pria itu merasa senang.


“Kabarku baik. Kamu sendiri gimana?” tanya Queen sambil duduk di tepi ranjang. Sebelah tangannya memegang handphone. Satu tangannya lagi menyisir rambut basahnya.


“Aku, ya? Masih tetap berjuang menunggu momongan datang,


hehehe.” Jawab pria itu sambil gterkekeh.


“Sabar, ya?” jawab Queen.


“Iya, aku sudah sabar kok. Oh, iya. Mengenai terapi untuk putrimu bagaimana? Suamimu sangat horor aku takut. Sebenarnya aku bisa saja ke sana pura-pura bermain dan memberi terapi pada Berlyn dengan halus. Tapi, aku khawatir nanti suamimu mikirnya aku ada niat deketin istrinya lagi.


Queen tertawa terbahak. Memang, dulu saat Berlyn berusia di bawah lima tahun, Al sangat posesif. Bahkan Queen tak diizinkan berteman dengan lawan jenis. Tapi, karena sekarang dia melihat suaminya sudah normal, tidak seposesif dulu, dia berani menghubungi Arnol. Itung-itung menyambung pertemanan yang sempat terputus. Mespun dulu tidak kenal dekat, hanya tahu sebatas nama saja.


“Aku belum bicara dengannya lagi, Ar. Dulu kan pernah


menolak. Dan dia tuh keras kepala banget, kalau sudah maunya, dan kalau sudahntak mau, susah dibujuk,” jawab Queen gemas.


Sementara suara pria di seberang sana tertawa terbahak


mendengar jawaban teman sesama dokternya itu.


“Persis mamanya, kan juga gitu, toh?” timpal pria itu.


“Persis bapaknya, lah! Dasar sotoy!” cetus Queen berlagak emosi. Tapi, setelahnya mereka berdua sama-sama tertawa.


“Eh, iya Gea itu gimana? Kau masih nyambung saja dengannya, ya? Apa kabar dia?”


“Ya, donk. Biar sebulan sekali, kami masih sering menyempatkan


diri untuk ootd. Kabar dia sih biak-biak saja. Kami satu tempat praktik kok. Eh, santai banget kamu? Apakah tidak kerja?”


“gak kok. Aku nanti praktik malam. Dan ini sedang ada di


rumah.”


“Istrmu di mana?”


“Dia bekerja sebagai admin di Bank. Jadi, ya berangkat pagi


pulang sore.”


“Oh, ya sudah. Aku masih ada yang akan aku kerjakan ini.


Byeee. Kapan-kapan kita sambung lagi, ya?” ucap Queen.


Panggilan di matikan. Queen meletakkan ponselnya di atas


kasur. Ia mengehla napas panjang.


Queen melempar asal benda pipih itu. Ia memegangi kepalanya. Ingin sekali rasanya dia membujuk putrinya sekali lagi agar mau melakukan terapi, agar dia bisa seperti kembarannya. Sama-sama bisa bicara.


Tapi, mustahil. Jika Berlyn tidak terima dia akan mengadukan pada ayah, kakek dan neneknya. Kalau sudah begitu, kesalah pahaman antara dia dan Al seperti satu tahun silam akan kembali terulang.


Dulu, pernikahan mereka pernah ada di fase seperti hidup dengan orang lain dalam satu atap. Al sangat membenci Queen karena menganggap istrinya tidak bisa menerima kebisuan Berlyn. Padahal, nyatanya sebagai ibu, dia ingin yang terbaik untuk anaknya.


Berlyn selalu menolak untuk terapi agar bisa berbicara. Dia lebih menyukai di bidang kepenulisan dan juga, dia itu kutu buku.


Ya. Putri istimewanya itu mencintai dunia literasi, dia


gemar membaca dan menuliskan sebuah puisi.


Merasa lelah dan suntuk dengan pikirannya sendiri, ia tak tahu harus menghubungi siapa. Siapapun orangnya yang ia ajak berbagi dengan masalahnya ini, pasti juga


akan sulit memberikan jawaban jika Berlyn sendiri yang menolaknya.


Queen menghela napas panjang dan menhembuskannya perlahan.


Kemudian berkata pada dirinya sendiri.


“Apakah masalah anak itu bisu? Dia tetaplah anakmu  yang special dan cerdas. Bukankahn sudah ada


Clarissa yang memiliki seribu kelebihan?” gumam Queen seorang diri.


Ia tahu, jika dia kembali membahas ini, papa, mama dan juga


suaminya pasti akan marah padanya. Sebab, salah satu terjadi renggngnya rumah tangganya dengan Al dulu juga termauk masalh ini.

__ADS_1


Pihak keluarganya bisa menerima dan menghargai keputusan


Berlyn. Tapi, Queen yang tetap bersikeras membujuk dianggap malu menjadi ibu dari seorang anak yang bisu. Al merasa kecewa dan banyak mendiamkannya. Dia tidak menyangka. Pertemuannya kembali dengan Arnol yang menempuh Pendidikan spesialis THT membawanya kembali dengan keinginannya yang dulu sempat ada, yang kini sudah terlupakan.


“Cekreek!”


Queen menoleh begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka.


“Al, kenapa kau kembali?” tanya Queen. Ia heran saja. Ini


masih jam Sembilan, belum jam istirahat. Tapi, suaminya kembali pulang tanpa mengabarinya dulu.


“Aku mengambil flash disku ada yang ketinggalan, Sayang. Kamu kenapa? Pagi-pagi kok sudah bengong aja?” tanya Al dengan tatapan penuh slidik.


“Aku tidak apa-apa, kok.” Queen langsung beranjak mencari


flash disk di meja kerja Al yang ada di dalam kamarnya.


Karena tidak menemukan apa-apa, Queen menanyakan pada


suaminya, apakah dia yakin benda itu berada di sini atau tidak nya. Sebab, saat ia merapihkan kamar tadi, dia tidak menemukan apa-apa.


“Sayang, coba kamu cari dulu di kamar kerja. Siapa tahu berada


di sana, soalnya di sini tidak apa-apa, nih,” ucap Queen.


“Yakin, di sini tidak ada? Siapa tahu kau sembunyikan,” tukas Al sambil tersenyum nakal, memperhatikan bagian dada istrinya yang sedikit terekspos.


“Aku serius,” ucap Queen sambil melangkah mundur karena Al


terus mendekatinya dengan tatapan seolah mau menerkam saja.


Al tertawa miring dan memeluk istrinya erat sambil menghirup


aroma shampoo di rambutnya yang masih setengah kering.


“Kamu mau cari flash disk, apa kangen aku?”


“Yah, ketahuan, ya?” Al tertawa terkekeh.


“Ada apa?” tanya Queen sambil memperhatikan raut wajah suaminya.


“Aku tidak mood ke kantor hari ini. Aku ingin pergi ke suatu tempat bersamamu.” Al menatap wanita di depannya sambil memegang erat kedua sisi lengan atasnya.


“Kapan? Sekarang?”


“Tidak. Tahun depan. Tentu saja sekarang. Ayo, bersiaplah.”


Tanpa membantah, Queen pun langsung mematuhi perintah


suaminya. Bahkan ia sempat lupa dengan jadwal praktik siangnya.


Akhir-akhir ini Al sering mengajaknya keluar tanpa rencana. Mungkin


benar, jika dia lebih baik buka klinik atau tempat praktik sendiri. Tapi,


kapan? Ngomong saja dia belum.


Setelah bersiap. Queen langsung menghampiri suaminya di ruang


tamu. Ia baru sadar kalau penampilan suaminya sudah sedikit berubah. Setelah mengamatinya


sebentar, barulah ia sadar. ‘Baru ngapain dia, kok dasinya berantakan?’ gumam Queen dalam hati setelah dia menyadarinya.


“Al, kitan mau ke mana sih? Aku nanti siang sudah mau ke rumah sakit loh,” ujar Queen.


“Kau tebak saja. Mau ke mana kita kira-kira?” Al tertawa sambil


mendahului Queen keluar rumah.


“Huuh, nyebelin” runtuk Queen seorang diri. dia paling benci jika saat dirinya bertanya. Tapi, malah di suruh nebak. Dengan Langkah yang ia


hentakkan sebagai pelampiasan rasa kesalnya, ia pun tetap menyusul pria itu juga.


Dengan muka cemberut, ia masuk ke dalam mobil kesayangan


suaminya ferarry merah yang selalu dibawa kemana-mana. Dia pun duduk di samping kemudi tanpa mau memandang orang yang mengemudikan kendaraan tersebut.


Al hanya tersenyum saja melihat betapa menggemaskannya


istrinya yang demikian. Jika saja dia tidak sedang mengemudi, entah apa yang ingin ia lakukan. Yang jelas, dia saat ini merasa gemas.


Baru beberapa kilo meter, Al meminggirkan mobilnya dan


berhenti.


“Di mana ini?” tanya Queen sambil menatap suaminya penuh


selidik. Seolah, dia adalah pria asing yang ingin mengajaknya mesum di jalanan yang kebetulan sepi saja.


“ini masih di jalan, Sayang. Kita belum sampai. Al meloloskan dasinya dari krah yang sudah nyaris tak berbentuk lagi.


“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Queen dengan raut wajah


yang sulit di jelaskan. Sebab, jika itu sebuah rasa penasaran, sepertinya lebih dari itu.


“Kau tenang saja. Aku tidak akan memperkosamu di sini,” ucap


Al sambil menutup mata Queen dengan dasinya.


“Al, kamu jangan macem-macem, deh. Aku takut lo ini beneran.”


“Takut kenapa?” Al hanya tertawa saja melihat ekspresi Queen


yang memang menunjukkan rasa takutnya.


Mobil melaju dengan kencang. Queen berteriak histeris. “Aaaaaal.


Apakah kau mau bunuh diri bersamaku dengan menabrakkan mobil pada pohon? Aku gak


mau mati denganmu, aku masih mau hidup.


Bukannya menurunkan kecepatan mobilnya, atau minimal


memberi jawaban agar istrinya menjadi tenag, Al justru mempercepat laju mobil sambil terkekeh puas.


“Al pliis jangan bikin aku jantungan. Aku masih ingin hidup


menjaga anak-anak kita, Al.”


Al mulai mengurangi kecepatan. Mobilnya seperti sedikit naik,


lalu tak lama kemudian berhenti.


“Kita di mana, Al?” tanya Queen. Karena dia tidak diizinkan


untuk membuka penutup matanya.


“Sudah, ikuti saja aku. Ayo, kita turun.” Al membukakan pintu mobil dan menuntun tangan wanita itu.


“Hati-hati ada tangga,” ucap Al, memperingatkan.


Setelah beberapa melangkah, Al melepaskan dasi yang ia


gunakan untuk menutupi mata Queen.


“Al, apa ini?” tanya Queen heran. Jantungnya tiba-tiba saja


berdebar.


Al masih menunjukkan senyumannya yang lebar dengan raut


wajah bahagia yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata.


“Ini untuk kamu, Sayang. Kita lihat ke dalam, yuk!” ajak Al


sambil meraih pinggang ramping wanita itu. Keduanya berjalan beriringan menuju dalam bangunan tersebut.


Queen mengamati tiap inci ruangan pada bangunan yang lumayan


besar itu. desainnya simple dan elegant. Dia sangat suka.


“Ini klinik, Al?” tany Queen. Ia bisa mengenai desainnya


meskipun di dalamnya masih kosong melompog belum diisi oleh apapun.


“Iya. Ini untuk kamu, Sayang,” jawab Al sambil menatap Queen


dengan tatapan penuh cinta.


“Bagaimana bisa?” Queen sudah tak mampu membendung air mata.


Bahkan, untuk meneruskan kalimatnya yang belum selesai saja ia rasanya sudah tidak mampu karena  lehernya terasa tercekik.


“Loh, kok nangis, sih?” ucap Al, masih tersenyum dan memeluk


erat tubuh istrinya.


“Kamu kok gitu, sih?” ucap Queen sambil terisak.


“Kamu ingat, kan kalau sejak lama aku inginkan kamu buka praktik sendiri?”


“Ya,” jawab Queen singkat, masih memeluk tubuh Al.


“Aku meminta itu, sudah mulai memikirkan rancangan bangunan


dan juga desainnya. Saat aku mulai memondasi, aku coba katakana lagi padamu.”


Queen tersenyum dalam tangisnya. Lalu, wanita cantik itu


berkata, “Padahal aku baru saja mu ngomong sama kamu kalau aku akan mau dan setuju untuk membuka tempat praktik sendiri. Tapi… “


“Tapi, apa Sayang?”


“Tapi, kamu masih sibuk. Jadi, aku pikir aku menundanya


dulu, dan akan mengatakan setelah pembangunan Vila di Bandung kau selesaikan.”


“Aku sengaja memberitahumu ini karena aku tahu dari Shinta


kalau kau sudah berfikir dan menyetujui usulku.”


“Apa? Shinta ngomong sama kamu?” tanya Queen terkejut.


“Iya, kemarin tanpa sengaja aku bertemu dengan dia dan juga


Vico, lalu, saat kami berdua ngobrol, Shinta nimbrung dan menyampaikan ini ke aku.”


"Jadi, aku harus berterimaksih, dong sama dia?" ucap Queen.


Al hanya menjawab dengan senyuman dan kembali mencium kening istrinya. entah sudah yang keberapa kali saja ini dalam beberapa jam ini.


"Bagaimana? kamu suka tidak sama desain dan rancangannya?"


"Suka, suka sekali. makasih, ya?"


Al mengangguk pelan dan memeluk Queen lagi. "Kamu mau ke rumah sakit jam berapa?"


"Sebentar lagi, dong. kamu bisa antar aku pulang dulu?" tanya Queen.


"Kenapa tidak? tentu saja bisa. apakah kamu tidak bawa keperluanmu sekalian? kok harus balik dulu, sih?"


"Ada yang memang seharusnya aku bawa, Al. tapi, aku tadi melupakannya."


mereka beruda pun keluar meninggalkan bangunan yang baru saja jadi itu, meskipun sebenarnya masih belum sepurna. tapi, Queen sepertinya tidak tahu itu.

__ADS_1


Selama perjalanan, Queen tak ada habisnya memperhatikan suaminya dari samping. Dia, selalu menyukai Al saat serius seperti itu. tapi, sayangnya, setelah keduanya menikah, pria itu jarang sekali menunjukkan sisi seriusnya.


Jadi, yang bisa Queen lakukan ya cuma mencuri pandang saat suaminya mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, dan saat tengah menangani perusahaan.


__ADS_2