Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 3 PART 8


__ADS_3

Dedi berjalan sedikit tergesa-gesa. Tanpa sadar ia sampai


berteriak memanggil nama Clara. “Nyonya… Nyonya… Ada bule yang mencari anda!”


“Hus! Dedi, jangan teriak-teriak begitu di dalam rumah,


tidak sopan. Apalagi memanggil nyonya. Bagaimana jika den Al ada di rumah? Bisa


disemprot kamu!” tegur bik Yul yang kebetulan mendengar suara Dedi yang


kencang.


Sementara anak muda itu hanya tertawa cengar cengir gak


jelas.


Dari dalam kamarnya, Clara keluar sambil melajukan kursi


roda yang ia duduki dengan memutar roda di sisi kiri dan kanannya dengan kedua


tangannya sendiri. Lalu, ia bertanya, “Ada apa, Dedi? Siapa yang datang?”


‘’Itu, Nyah. Ada bule nyariin. Dia kasih ini untuk anda lihat.’’ Dedi memberikan sebuah kartu tanda pengenal milik Jeslyn pada Clara.


 Karena penasaran,


Clara meraih kartu identitas itu dan melihat. Belum juga membaca nama, ia sudah mengenali wajah wanita yang ada dalam kartu tersebut dan berkata dengan sangat


girang.


“Jeslyn. Ini Jeslyn. Di mana dia? Bawa aku ke sana,” ucap Clara dengan senang.


Sedangkan Dedi merasa bingung sekaligus takut karena


membiarkan tamunya berada di luar gerbang dan dia menguncinya.


“Dedi, apakah kau tidak dengar? Ayo bawa aku ke sana!” seru Clara sekali lagi.


“Eh, iya Nyah. Iya, ayo!” Dengan tergopoh pria itu pun mendorong


kursi roda Clara dan mengajaknya keluar rumah. Sesampai di teras. Clara


mengedarkan pandangannya ke sluruh penjuru halan rumah. Tapi, ia tidak


mendapatkan siapapun di sana.


“Di mana orangnya, Ded?” tanya Clara, penasaran. Dirinya


sendiri juga sudah sangat kangen pada ibu kandung dari Al yang seolah


terlupakan begitu saja. Karena, selama dua tahun ini ia juga telah mendaptkan


musibah. Jadi, mungkin semua penghuni rumah yang ada hanya sibuk dengan dirinya saja yang tak kunjung sadar. Setelah sadar, malah tidak bisa berjalan dengan baik.


“Ada, Nyah. Di luar gerbang, dan pintunya saya kunci,


hehehe," jawab pria itu sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.


“Hah! Apa? Cepat buka dan minta dia masuk! Kau ini


sembarangan saja,” ujar Clara memarahi Dedi. Sementara pria itu masih saja


sempat nyengir di depan Clara dan kemudian berlari menuju pagar untuk


membukakan pintunya.


Begitu wanita itu masuk, dia yang memasang wajah ceria saat mendengar suara Clara dari luar


seketika keceriaannya itu hilang. Bahkan senyumannya pun juga mengambang,


lama-lama memudar. Hanya ada kesedihan yang tersirat pada wajahnya.


“Clara! Ada apa denganmu?” ucap wanita itu dengan bibir


bergetar serta mata yang mulai merah dan mulai berkaca-kaca.


Sementara Clara, masih duduk di atas kursi rodanya dan


tersenyum anggun pada tamunya yang beru saja tiba dari luar negeri.


Mengisyaratkan kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja.


“Kemarilah, Jes! Peluk aku.”


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak dalam keadaan


baik-baikkenapa kau duduk di kursi roda, sekarang, Clara?” tanya


Jeslyn sambil terisak.


“Ayo masuk! Kita minum teh dulu, dan nanti akan aku ceritakan padamu.”


Jeslyn pun mendorong kursi roda itu dan membawanya ke dalam.


Merasa tidak nyaman berada di dalam, Clara meminta agar dirinya terus mendorong


ke halaman belakang.


Sampai di halaman, Clara langsung to the point. Kalau dua


tahun silam dirinya mengalami kecelakan yang menewaskan sopir papa dan juga mamanya.


Papa Andrean hanya pingsan. Tapi, papa Andreas pun juga tak terselamatkan. Hanya,


dia dan Vano yang terus kritis dan koma selama hampir dua tahun. Dan Clara sendiri lebih dari dua tahun.


“Tapi, itu semua sudah berlalu. Kini kami juga baik-baik


saja. Kau apa kabar, Jes?”


Jeslyn tersenyum getir dan menjawab. “Sama halnya aku dengan


dirimu. Sekarang aku baik-baik saja. Tapi, tidak dengan dua tahun silam. Itulah kenapa aku tiba-tiba saja menghilang.”


“Kenapa, Jes?” bahkan Clara juga panik dan ingin segera


mendapatkan jawaban darinya.


“Dua tahun silam, aku memergoki suamiku tengah berselingkuh


dengan kawan baikku. Dia adalah kolega kerjaku. Aku tidak terima dan meminta


cerai. Tapi, suamiku tidak terima. Dia malah menyiksaku bersama sekingkuhannya


dan menyita semua harta benda milikku dari warisan orang tuaku sampai aku


benar-benar depresi dan tak punya apa-apa.


Selama kurang lebih setengah tahunan aku hanya bisa diam dan


melamun, sesekali menangis dan tak jarang pula aku menjerit histeris untuk


meluapkan segalanya. Bahkan siapa aku saja aku juga tidak tahu. Aku ini siapa, dari mana dan kenapa hidup di dunia. Itu yang selalu jadi pertanyaan hatiku.


Tapi, beruntung aku memiliki seorang sahabat yang baik. Dia


mengurusku dan membawaku menemui psekeater sampai pada akhirnya pikiran dan


jiwaku kembali normal. Dia bahkan juga meminjami aku modal untuk usaha. Sekarang usahaku sudah berjalan lancar dan aku teringat dengan Al, aku merindukannya. Bagaimana kabarnya?”


“Dia baik-baik saja. Tapi, masih ngantor. Apa perlu aku


menelfonnya?”


“Jangan! Biar jadi kejutan saja! Oh, iya. Kenapa rumah sepi


begini? Di mana Nayla? Dia biasanya selalu ada di rumah.”


“Al dan Nayla sudah lama bercerai. Dan sekarang dia sudah


menikah lagi,” jawab Clara sambil tersenyum tertawan.

__ADS_1


“Hah? Sama siapa?”


“Sama putriku, hahaha.”


Jeslyn nampak bengong. Dia susah menilai ekspresi Clara. Dia


ini tengah bercanda apa serius juga tak tahu.


“Serius? Maksutnya Al menikah dengan Queen? Lalu bagaimana


dengan Alex?”


“Ya… gimana ya? Aku sendiri tahu-tahu juga suamiku yang


bercerita. Katanya, pada saat kami kecelakaan dua hari setelahnya Queen


mengalami keguguran. Lalu, tiga bulan setelhnya Alex mengalami kecelakaan dan lupa ingatan. Lalu, karena adanya pihak ketiga, mereka pun bercerai. Satu tahun


lebih setelah kecelakaanku itu. Lalu, entah bagaimana ceritanya Al menikahi Queen dan beberapa bulan kemudian dia menceraikan Nayla karena ketngkap basah di hotel dengan pria lain.”


“Ya tuhaaaan!” Mata Jeslyn nampak berbinar antara senang dan


terharu. Tapi, yang Jeslyn dengar dari Clara ini hanya kutipan saja. Bagaimana


sulit dan beratnya perjuangan Queen dan juga Al, dia belum mengetahui dan


mendengarkan ya bagaimana. Tapi, yang ia yakini, pasti banyak masa sulit yang keduanya hadapi bersama.


“dan kau tahu sesuatu, tidak?”


“Apa?” tanya Jeslyn kian penasaran saja.


“Queen tengah hamil dua bulan.”


“Hah, serius? Di mana dia sekarang?” tanya Jeslyn yang merasa surprise.


“Tentu saja, buat apa aku berbohong padamu. Queen saat ini


masih bekerja. Dia sudah dilantik menjadi dokter. Entah sejak kapan. Saat aku


tersadar banyak yang bilang, sebagai dkter yang juga bertugas di rumah sakit di


mana aku dirawat, seminggu dua kali dia melakukan perawatan wajah padaku kata


tim medis yang melepas alat-alat padaku kemarin.”


“Sungguh dia anak yang baik,” puji Jeslyn.


Di timpali dengan senyuman saja oleh Clara.


***


Tepat pukul lima sore, Vano, kakek Andrean, Queen dan Al


pulang secara bersamaan. Entah, ini suatu kebetulan apa memang sudah di rencanakan.


Seperti biasa, jam segini Clara selalu di halaman depan, menyirami


bunga bersama Dedi, sambil  menunggu


kedatangan anak dan suaminya dari bekerja. Sementara Jeslyn, dia berada di dapur menemani bibi pengurus rumah menyiapkan hisadangan makan malam. Kebetulan


dia memiliki hobi memasak.


“Kalian kok bisa pulang barengan, sih?” tanya Clara, sambil


melihat pada Al dan suaminya.


“Tadi memang papa sama aku, dan mungkin Al menjemput Queen.


Kebetulan saja sayang,” jawab Vano, seraya membungkuk dan mencium kening istriya. Kemudian, dia mendorong kursi roda tersebut, dan membawanya ke dalam.


“Aroma masakan apa ini, Ma? Sedap banget? Bibi di dapur masak apa, sih?” ujar Queen, lalu mepercepat langkahnya.


“Yang masak juga special, Sayang!” sahut Clara.


Tapi, rupanya masih belum ada yang ngeh dengan apa yang Clara katakana barusan. Semua sibuk dengan dirinya sendiri. Termasuk juga Al.


menuju tangga.


“Mandi, Ma. Gerah banget, capek seharian,” jawab pria itu.


“Mandi, apa mau rebahan?”


“Hehehe.”


“Kemari! Duduk di meja makan, Queen juga.”


“Ada apa, Ra?” tanya Andrean.


“Ada yang datang, Pa. dia kangen sama Al, dan kita semua tentunya," jawab Clara, sambil menahan senyumannya.


Tak lama kemudian, Jeslyn datang dengan dua ekor lopster


jumbo yang sudah ia masak ke meja makan.


“Mami!” teriak Al dan Queen bersamaan.


“Kemarilah, Nak. Mami merindukan kalian,” ucap Jeslyn.


Mereka pun bertiga saling berpelukan.


“Mam, kalau memang mau ke sini, kenapa tidak menghubungiku


saja? Nanti biar anak buah Al yang menjemput di Changi, kan bisa,” ujar Al.


“Panjang ceritanya, Nak. Kau, apa kabar, calon ayah?” jawab Jeslyn sambil mengacak-acak rambut putranya yang kini jadi pria dewasa.


“Kapan Mami datang? Apakah mama sudah menceritakan semuanya


padamu?”


“Tentu saja. Sebenarnya semalam sekitar jam satu dini hari


mami landas. Tapi, mami menginap di hotel. Dan baru tadi pagi kemari.”


“Pagi? Al sama Queen keluar juga uda agak siangan jam


setengah Sembilan, lo Mam. Kok bisa tidak tahu, ya?”


“Jam sigtu, mami baru bangun, kesiangan.”


Akhirnya mereka pun makan malam bersama dengan rasa penuh


suka cita. Sejak saat itu juga komunikasi antara Jeslyn dan mereka menjadi kian


erat dan seolah tak terputuskan oleh apapun. Setiap satu bulan sekali, Jeslin


selalu datang ke Indonesia untuk melihat Al, dan melihat kondisi Queen serta


perkembangan Clara.


🧡🧡🧡


Kala itu, Jeslyn tengah menuju ke sebuah rumah makan bernama


****Ocean, yang terkenal dengan Cury kepala ikan kakap dan aneka hidangan laut lainnya. Pesanannya sangat banyak, jadi, hampir satu dek pick up hanya untuk satu tempat


itu saja.


Setelah seharian bekerja kesana kemari mengirim barang,


Jeslyn merasa sangat kelelahan. Ia berfikir untuk pergi spa dan massage agar tubuhnya kembali bugar. Meskipun semua tidak dia kerjakan sendiri. Tapi, tetap


saja. Namanya bekerja tetap lelah.


Mumpung masih berada di tempat usaha, Wanita itu meraih gawainya


dan mencoba menghubungi Zuya sahabatnya. Ia bermasut mengajak sahabatnya itu


untuk pergi ke salon bersama-sama.

__ADS_1


Satu kali sampai dua kali panggilan, Zuya tidak mengankat


panggilannya. Lalu, dia mencoba untuk menelfonnya untuk yang ketiga kalinya. Masih tidak diangkat juga.


“Kemana dia? Tumben gak angkat panggilanku. Biasanya sesibuk


apapun dia, sekalipun lagi berak juga akan tetap mengangkat jika aku menelfon,” gumamnya seorang diri.


Jeslyn pun akhirnya hanya bersantai di depan meja kerjanya. Sambil memandangi daftar aneka usang, kerang kepiting dan ikan yang perlu ia pesan dan antar ke beberapa rumah makan yang menyajikan seafood kusus dari Indonesia. Sementara tanganny memijati tengkuknya sendiri yang terasa pegal. Tapi, ketika mengingat Zuya ia merasa tidak enak dan tidak tenang.


Ada apa ini? Apakah dia sedang dalam masalah? Batinnya.


Tak peduli dengan kondisi tubuhnya yang terasa remuk dan


butuh istirahat, wanita itu meraih tas nya dan memutuskan untuk pergi ke rumah


sahabatnya. Jarak yang cukup jauh, sekitar tiga puluh menit perjalanan,


membuatnya kian panik. Entah berapa km. yang jelas selama itu tanpa halangan


macet dan mobil berjalan mulus dengan kecepatan rata-rata. Di singapura tidak


ada macet, termasuk antrian memanjang di lampu lalu lintas menunggu lampu hijau menyala tidak ada.


Setiba di Gedung apartemen Zuya, Jeslyn segera memencet bel


lip dan menekan angka duabelas setelah berada di dalamnya. Tak menunggu lama,


Lip pun tiba di lantai dua belas. Sekilas tak ada yang aneh. Tapi, ketika ia memencet bel, sayup-sayup dari dalam terdengar suara keributan.


Takut hal buruk terjadi pada sahabatnya. Tanpa permisi Jeslyn


langsung menarik ganggang pintu dan membukanya. Kebetulan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Ternyata dugaannya benar. Zuya tidak sedang baik-baik saja.


“Kamu sahabatnya dari dulu. Mana mungkin kau tidak tahu


keberadaannya? Dia masih berada di Singapura, kan? Karena sudah kulacak


seluruh daerah di Australia juga tak ada. Katakan Jeslyn ada di mana? Atau, kurobek wajah cantikmu ini agar jadi buruk rupa.”


Terlihat jelas di depan mata Jeslyn kalau pria bertubuh


tinggi besar dan kekar itu menempelkan sebilah pisau tajam di pipi kiri sahabatnya


yang tengah menangis ketakutan. Tapi, Zuya tak gentar dan malah menantang pria itu.


“Lakukan saja, cepat! Lalu pergi setelah puas. Sekalian,


bunuh saja aku. Karena aku benar-benar tidak tahu di mana keberadaan Jeslyn.” Dalam


tangisnya, bahkan wanita itu masih sanggup tertawa.


Tak mau masalah ini kian membahayakan sahabatnya, Jeslyn


segera ambil langkah mundur, dan memanggil polisi dengan bukti rekaman saat pria itu


menempelkan pisau tajam pada pipi Zuya.


Tak menunggu lama, dan Zuya tak sampai terluka, kira-kira


hanya lima menit saja, polisi sudah tiba dan membekuk pelaku.


Tanpa aba-aba, seorang intel yang memiliki keahlian dalam


menembak, lansung menebak lengan pria itu, seketika piasau pun terlempar jauh


dan Zuya segera berlari mencari perlindungan di belakang polisi yang datang ke


rumahnya. Ia tak tahu, bagaimana polisi itu bisa datang ke apartemennya.


Setelah pria itu diborgol dan di bawa keluar, dan mungkin


juga sudah masuk ke dalam lip, barulah, Jeslyn muncul dari persembunyiannya. Kejadian


berada di dapur, sementara dia lansung masuk ke salah satu kamar yang ada di


dalam apartemen tersebut.


“Zuya, I’m so sorry, I came late. Because of me too, you


became involved in this matter.”


(Zuya, maafkan aku datang terlambat. Karena aku pula kau


jadi terlibat dalam masalah ini.) ucap Jeslyn sambil memeluk sahabatnya.


“No, it’s ok, Jes. You come at the right time. Thank you for


calling the police to me.”


(Tidak, aku tidak apa-apa, kau datang di waktu yang tepat,


Jes. Terimaksih sudah memanggilkan polisi untukku.)


“I more p less heard your conversation. How could I jus


appear?”


(Sedikit banyak aku mendengar percakapan kalian. Mana mungkin


aku muncul begitu saja?” jawab Jeslyn. Sambil menuntun wanita itu ke meja


makan, lalu dia mengambilkan segelas air putih untukknya agar pikiran sahabatnya


sedikit tenang.


Setelah di rasa tenang, barulah Jeslyn menanyakan kedatangan


pria itu.


"Zuya, how did Johan initially come to you?"


(Zuya, bagaimana awalnya Johan bisa mendatangimu?) tanya


Jeslyn dengan hati-hati.


"I don't know myself either. I just came from the shopping center. Suddenly he appeared and pushed the Kendal door I closed. I lost power with him. He seems like a crazy person keeps asking about you. I told you in a subtle way that you don't understand, but rather act like a robber. "


(Aku sendiri juga tidak tahu. Aku baru saja dari pusat


perbelanjaan. Tahu-tahu dia muncul dan mendorong pintu yang hendak kututup. Aku


kalah kuat tenaganya dengan dia. Dia seperti orang tak waras saja terus


menanyakan dirimu, sudah kubilang dengan cara halus tak juga ngerti, malah berpilaku


seperti perampok.) Zuya nampak kesal dengan pria itu. Tapi, ya sudahlah, taka


da hubungannya dengan Jeslyn sahabatnya.


Melihat itu, Jeslyn kian merasa canggung dan bersalah saja pada


wnaita di depannya. Dari dulu ia hanya bisa merepotkan tanpa bisa membantu apa-apa.


"This is all my fault. Forgive me "


(Ini semua salahku, maafkan aku) Jeslin meletakkan kedua


tangganya di kedua telinganya seperti menjewer diri, isyarat orang india yang


benar-benar tulus memnita maaf.


"Never mind. You call the police well, right? Are you not sick if you imprison your ex-husband? "


(Sudahlah, dengan kau memanggil polisi juga setimpal, bukan?


Apakah kau tidak sakit jika memenjarakan mantan suamimu?) tanya Zuya.


"But, you are my best friend. There is no former term in friendship. "


(Tapi, kau sahabatku. Tak ada istilah mantan dalam

__ADS_1


persahabatan,) jawab Jeslyn dengan bersungguh-sungguh


__ADS_2