Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 193


__ADS_3

Sekitar jam dua dini hari, bersama Vico, Queen sudah tiba di


rumah kediamannya. Begitu sampai wanita itu terlihat sangat marah, ia berjalan


cepat dan menggebrak pintu kamar Nayla.


Sedangkan, Nayla yang pulas tertidur setelah begadang


telfonan dengan kekasih gelapnya itu sangat kaget, belum lagi seember air


dingin disiramkan padanya di atas kasurnya.


“Hey, Queen apa yang kau lakukan? Apakah kamu sudah tidak waras? Gila kau ini!”


umpat Nayla, yang juga emosi.


“Iya, aku memang gila dan tidak waras, memang kamu mau apa?


Hah?” tantang Queen sambil membanting ember itu.


“Bawa saja langsung ke kantor polisi, jangan sampai ada


sidik jarimu menganiaya dia,” bisik Vico, lirih di dekat telinga Queen.


Queen menjawab dengan anggukan saja, dan menyeret Nayla


keluar. Keributan di kamar Nayla berhasil membangunkan seisi rumah, termasuk


juga Bilqis. Ia melihat mamanya basah dan diseret tantenya keluar.


“Mama! Tante, kau apakan mamaku?”


“Bilqis, kau terlau kecil untuk mengetahui hal ini, tapi,


karena kau sudah terlanjur melihatnya, baiklah, mamamu akan tante bawa ke


kantor polisi agar mencabut gugatannya. Dia tidak berhak melakukan itu


sedangkan keluarga korban saja sudah sangat menerima.”


“Apa maksut tante?”


“Mamamu yang melaporkan papamu ke polisi sehingga dia ada di


dalam penjara, kau sadar dan ulah mamamu pula tante dan papamu harus merasakan


sakit dan luka bahkan hampir terbunuh. Kau yang tahu diri. kamu ini bukan…. “


“Queen, sudahlah, Nak. Bereskan saja ini dulu,” ucap Andrean


yang terpaku di atas kursi rodanya.


Queen pun dengan patuh langsung saja pergi, di depan sudah


ada dua orang polisi menunggunya.


Dengan menangis, Bilqis pun menghampiri kakek buyutnya,


dengan polos bocah itu bertanya dengan terbata-bata karena menangis. “Kakek,


sebenarnya aku ini apa? Bukan apa aku ini kenapa tante Queen yang biasanya


sayang sama aku jadi sangat marah? Apa karena dia kesal dengan mama?”


“Iya, Bilqis. Dia kesal saja, nanti kalau emosinya sudah


surut dia juga tidak bakalan seperti itu. Jangan diambil hati, ya? Maafkan dia


yang menyeret mamamu.”


“Bilqis sedih bukan karena dia memperlakukan mama seperti


itu, Kek. Tapi, kenapa mama tega berbuat seperti itu dan malah memenjarakan


papa?”


“Kau masih terlalu kecil untuk tahu, kelak jika kau sudah


dewasa juga akan segera mengerti apa dan mengapa. Ini masih malam, kau


tidurlah!”


Dengan patuh bocah itu pun pergi ke kamarnya, sedangkan


Andrean menjalankan kursi rodanya ke ruang tengah.


“Apa Tuan perlu sesuatu?” Tanya Bik Yul, yang juga kaget


dengan isiden yang baru saja terjadi.


“Tolong buatkan saya kopi ya, Bik. Saya sepertinya sudah


tidak bisa tidur lagi, tapi mata masih saja terasa lengket,” ujar Andrean yang juga belum lama memejamkan mata.


Tak menggu beberapa lama, sekitar lima menitan Bik Yul sudah


keluar dengan membawa nampan berisi satu cangkir kopi di tangannya.


“Ini tuan kopinya.”


“Taruh meja saja, Bi. Terimakasih, ya.”


“Tuan, mohon maah sebelumya kalau bibi lancang, bukan maksut


saya juga kepo atau ikut campur. Tapi, saya penasaran,” ucap si bibi dengan


pelan dan sangat berhati-hati.


“Mau tanya apa memangnya, Bi?” jawab Andrean dengan santai.


“Itu, Tuan, barusan itu kenapa ya Non Queen kok bisa semarah


itu, dih serem banget liat orang biasanya kalem berubah kaya gitu. Tapi, maaf


banget lo ya, Tuan.”


“Oh, itu? Queen sama Vico tadi menylidiki tetang Al yang


dibawa polisi. Mengumpulkan bukti sebagai saksi dan  mungkin yang melaporkan  Al juga sepertinya Nayla sendiri, entah apa


tujuannya, biar anak muda itu menyelesaikan masalahnya sendiri saja, saya sudah


cukup tua untuk ikut campur, Bi,” ujar Andrean, lalu mulai menyeruput yang


dihidangkan oleh bik Yul,


“Memang mereka berdua adalah kakak beradik yang kompak ya,


Tuan. Den Al rela terluka demi adiknyaa, bahkan pas kemarin luka dipunggungnya


dijahit kemarin…. “ Bibi tidak melanjutkan kalimatnya.


“Kenapa, Bi?’


“Nggak, manjanya kok malah ke adeknya tidak ke istrinya,


teriak-teriak dia lihat jarum, hehe mungkin karena mereka sudah hidup dan


tumbuh bersama, ya Tuan,” ucap bibi lalu ia pun memohon diri kembali ke


kamarnya.


Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah lama melihat kejanggalan apda diri Al tertahadp Queen. Hanya saja, ia belum ada keberanian untuk mengungkapnya, Karena bagaimanapun Al beristri, walaupun mereka bersaudara, tidak lucu juga jika skandal terjadi dengan saudara kandung.


Andrean tersenyum seorang diri lalu meneruskan menikmati


secangkir kopi hangat yang ada di depannya. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin bibi pengurus rumahnya ingin katakan.


🌞🌞🌞🌞


Begitu semua urusan beres, dan menyerahkan uang jaminan


untuk menebus Al, Queen pun memaksa ikut ke dalam sel di mana kakaknya ditahan,


Ia sudah tidak sabar melihat kondisi kakaknya. Sedangkan urusan Nayla, ia


menyerahkan sepenuhnya kepada Vico untuk mengawasinya.


“Saudara Al,” teriak salah satu petugas. Al dan penghuni


lapas pun bangun dan pada melihat ke luar sel, dua orang polisi pria dan


seorang polwan berjalan bersama seorang wanita cantik berada di depan pintu


penjara di mana Al dikurung.


Al pun melangkah ke depan pintu, pria itu tersenyum dan


menyapa adiknya lirih, nyaris tidak terdengar. “Queen.”


Wanita itu tersenyum  kepadanya, dan salah satu petugas membuka gembok sel dan memberitahukan


kalau dirinya sudah bebas.


“Kamu mebereskannya selama semalam, Sayang?” ucap Al dengan


tatapan tidak percaya.


“Iya,” jawab Queen sambil mengangguk dan tersenyum.


Al l pun secara reflek mencium Queen di depan polisi dan


para nara pidana lain dan memeluknya erat bahkan tubuh wanita itu sampai


terangkat sambil berseru, “Terimakasih, Sayang.”


“Hey, lepaskan aku, banyak orang di sini!”


“Kalau Cuma kita berdua saja kau mau?” goda Al. Lalu, Queen


mencubit perut pria itu karena gemas.


Keduanya  pun berjalan


meninggalkan tempat tahanan sementara para nara pidana lain semuanya pada heboh


mengenai Al yang baru tadi jam tiga sore masuk tahanan tapi, pukul lima dini


hari sudah bebas.


“Kau yakin dia seorang gay?”


“Munngkin saja jika cwek yang menjemputnya tadi adalah


transgender.”


“kurasa bukan.”


“Jadi, dia hanya mengelabui kita saja, mungkin dia


pacarnya.”


“Kurasa juga begitu.’’


“Pak, kasus apa  sih


yang membuatnya masuk penjara?” tanya salah satu nara pidana yang ada dalam


satu tahanan dengan Al tadi.


“Cuma kesalahpahaman.”


“Dia ketangkap basah merkosa suami orang ya?”


"Kriiiik… kriiik


kriiiik…."

__ADS_1


Seketika suasana lapas pun jadi hening dengan pertanyaan


terakhir yang dilontarkan oleh salah satu penghuni lapas.


“Bukan, pria itu menyelamatkan adiknya saat diskap orang.


Mereka hampir terbunuh dan dari dia melindungi diri, tanpa sengaja malah


membunuh pelaku. Semua sudah beres, keluarga yang terbunuh sudah ikhlas dan


menerima serta sudah membuat surat pernyataan.”


Mereka pun semua tertawa karena percaya dengan apa yang Al


katakan. Lagian dilihat dari orangnya juga seperti pria baik-baik dan


berintelektual Tinggi. Ketika menyambut wanita tadi pun juga kelihatannya


normal-nomal saja. Lagi pula di mana ada seorang gay dengan mudah menunjukan


identitas dirinya begitu saja?


Tiba di rumah, Queen langsung menghampiri kakek mereka yang


sepertinya telah menunggu mereka datang. Kkakek Andeas tersenyum dan memeluk


kedua cucunya. Kalian pasti lelah, sana, bersih-bersih dulu, makan dan


beristirahatlah!” seru kakek Andrean.


“Baik, kakek.” Queen yang memang merasa ngantuk dan lelah


pun segera mengajak kakaknya masuk ke dalam. Dalam keadaan seperti itu, Al


bahkan masih sempat saja menggoda adiknya,


“Kamu katanya mau bantu manddin aku.”


“Kapan? Dih, tidaklah.” Mata Queen terbelalak kaget dengan


perkataan Al yang tiba-tiba saja juga ikut masuk ke dalam kamarnya.


“Terus kalau kamu tidak mau bagaiman?”


Queen mendorong tubuh Al keluar kamar dan menutup pintu


kamar lalu menguncinya. Wanita itu tidak mau ambil resiko setelah merasa ada


yang tidak beres dengan kakaknya, terlebih ucapannya sebelum polisi


menjemputnya kemarin.


Quuen meraih handuk model baju dan msuk ke dalam kamar mandi


kamarnya, menyiapkan iar hangat di bethup untuk berendam. Begitu semuanya siap,


ia masuk berendam pada air hangat tersebut yang sudah ia beri aroma therapi dan


juga sabun. Dia lagi ingin mandi busa rupanya.


Queen berusaha mengingat-ingat kembali perlakuan Al yang


tidak wajar, Dia itu tampan, cerdas, kaya dan berkekuasaan, sebab, orang tuanya


juga menganggap dia sebagai anak kandung dan memiliki hak yang sama seperti


dirinya. Kalau memang dia menginginkan seorang wanita, itu tidaklah sulit


banginya, hanya saja dia sebagai pria terlalu dingin dan hanya focus dengan


kerja-kerja dan kerja. Tapi, Apakah yang Aditya katakana tentang perayaan


aniversarinya kemarin benar? Ah, mungkin benar saja, dan kembali dingin dengan


Nayla karena ia sadar kalau aku diculik.


Lelah memikirkan sikap kakaknya yang begitu mencolok, Queen


pun mengambil ponselnya yang ia letakan di pinggir bethup. Ia menelfon Diaz dan


bahkan berencana nanti siang akan ke Bandung menjenguk kekasihnya itu.


“Halo, Sayang,” jawab seeorang pria dari seberang sana.


‘Cieeee cieeee pacarnya nelfon, langsung halo sayang,’


Queen tersenyum saat mendengar suara Fatimah menggoda kakaknya.


“Hay, kamu lagi apa, Diaz?”


“Lagi mikirin kamu.”


Tanpa sadar wajah Queen memerah, ia tersenyum seorang diri.


“Kamu lagi apa?”


Queen sedikit gelagapan. Sebab, ia juga tidak mungkin


menjawab kalau lagi mandi atau berendam di kamafr mandi, kan?


“aku, ya? Emmm aku lagi santai saja, baru tiba dari kantor


polisi.”


“Panik gitu sih, jawabnya? Lagi kangen sama aku, ya?” goda


Diaz.


“Yaaaa… begitulah. Nanti siang aku boleh ke tempat kamu?


Sekarang aku mau istirahat dulu,” jawab Queen sebelum menutup panggilannya.


Usai mandi dan berganti pakaian santai, Queen mngoles obat


luar untuk lukanya. Luka yang harusnya sudah mulai kering, jadi kembali basah karena


entah apa yang ada dalam pikirannya tadi.


Dengan semangat ia pun ingin segera sarapan dan tidur sampai


puas agar bangunnya tidak terlalu sore. Tapi, siapa sangak saat ia membuka


pintu kamar Al sudah berdiri di depan sana. Queen menjerit karena kaget,


sedangkan Al hanya tertawa saja.


“Kamu ngapain saja di dalam? Lama banget?”


“Ya mandi, lah, terus telfonan sama Diaz.”


“Oh,” jawab Al singkat. Tanpa ekspresi, pria itu


meninggalkan Queen dan masuk ke dalam kamarnya.


Queen memandang kakaknya yang sudah tak Nampak lagi di balik


pintu kamarnya. Pria itu terlihat kalau tidak suka saat dirinya menyebutkan


nama Diaz. Queen gak mau ambil pusing, ia perlu asupan makanan lalu tidur biar


fresh dan gak ngantuk di jalan.


Sekitar pukul satu siang, Queen berpamitan pada kakek


Andrean kalau ia ingin pergi ke Bandung.


Andrean pun mengizinkan. Sementara  Al berada di dalam, tidak tahu kalau Queen


pergi ke bandung, setelah berselang  sekitar lima belas menit barulah Al keluar.


“Kakek, kenapa siang-siang begini di luar?”


“Sudah bangun kamu, Al? Kamu lagi sibuk tidak?” ucap Andrean


bertanya balik.


“Tidak, Sih kek. Queen di mana?”


“Dia ke Bandung, baru saja berangkat. Kamu tidak tahu?”


“Ya, kalau tahu, kenapa aku tanya kakek, ketemu Diaz dia


pasti,” ucap Al sambil memalingkan muka dari sang kakek wajahnya terlihat kalau


ia tidak senang.


“Jika kau tidak sedang sibuk, ayo ikut bersama kakek!” ajak


Andrean.


“Ke mana, Kek?”


“Sudahlah, Ayo. Nanti kau juga bakal tahu.”


Karena penasaran A pun tidak banyak bertanya, Ia nurut saja


kemana pun kakeknya mengajakknya.


Sampai pada akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah dengan


halaman cukup luas, meski tak seluar rumahnya. Tapi, tempat itu rindang dan


asri, sangat serasi dengan rumah kecil minimaalis yang ada di sana.


“Ini rumah siapa, Kek?”


“Ini rumah mendiang nenek Viaian. Di sini mama Clara di


besarkan sampai kelas dua SMA kalau tidak salah. Ayo kita masuk ke dalam, akan


kuberi tahu kau sesuatu. Kakek bersama kakek Andreas itu perginya kemari, di


belakang rumah ini kami bangun kolam pemancingan, sudah izin nenekmu tentunya.


“Jadi dulu kalian tinggal di sini begitu, Kek?” tanya Al


penasaran.


“Tidak, hanya nenek dan mamamu saja sampai dia kelas dua


SMA, barulah mereka berdua pindah di rumah itu,” jawab Andrea. Al jadi kian


bingung saja, akhirnya tak ada pilihan selain mengikuti arah kemana kakeknya


pergi sambil mendorong kursi roda itu.


Di sebuah kamar yang Nampak rapi, seolah masih berpenghuni


Andrean mengajak Al masuk ke dalam, ia memberi intruksi untuk membuka lemari


besar itu di dalamnya bukan berisi baju, melainkan sejenis barang-barng beruba


buku-buku dan  berkas-berkas, entah masih


penting atau tidak Al tidak tahu.


“Setia dua hari sekali ada orang yang kemari untuk


membersihkan rumah dan juga menganti sprei, korden dan juga selambu. Jadi,


meskipun tak lagi berpenghuni, rumah ini tetap bersih. Coba, Al kamu ambil buku


Album berwana hitam itu.”


Al pun menurut dan memberikan album itu kepada sang kakek.


Perlahan-lahan kakek Andrean membuka album itu sambil tersenyum tipis. Disana

__ADS_1


yang Nampak adalah foto-foto masa kecil Clara, dari masa ia masih bayi, dengan


mendiang ayah kandungnya, Ricy, dan sampai ia mulai tumbuh dewasa, semua Andrean


buka di depan Al. Al sedikit janggal ketika melihat foto mamanya bersama


seorang pria namun ia tak mirip sedikitpun dengan kakek Andrean. Sebab, ia


pernah melihat foto sang kakek saat masih muda foto bersama papa Vano, jauh


berbeda.


“Ini bayinya mama Clara, kek?” tanya Al penasaran.


“Iya, lalu siapa lagi memangnya?” jawab Andrean, masih


terseenyum tipis.


“Terus ini siapa? Kok beda dengan wajah kakek semasa muda?”


“Memang kamu pernah lihat?”


“Pernah, di ruang baca kan ada foto saat papa masih kelas


satu SD sama kakek.”


Andrean bukannya segera menjawab, pria tua itu malah tertawa


lebar sambil menepuk pundak cucu lelakinya.


“kau cukup jeli juga ya rupanya.”


“Begini, Al. Ini adalah papa kandung mamamu. Dulu, nenekmu


bekerja di perusaah kakek, dia adalah janda dengan satu anak, dan aku adalah


duda yang mereka kenal dengan satu  anak


pula.”


Al mengertkan keningnya, ia masih bingung dan tidak


mengerti. “Maksutnya gimana sih, Kek?


“Ceritanya sedikit rumit Al. Tentang ini Queen belum tahu,


dan kakek baru akan bercerita padamu. Jadi benar jika papamu adalah putra


kakakku, kakek Andreas. Hanya saja dulu ketika masih dia berusia dua tahun,


kakek Andreas yang seorang pilot internasional pergi meninggalkan rumah untuk


bekerja, dan mengalami kecelakaan udara, semua penumpang yang ketemu tidak ada


satu pun yang selamat. Tiga orang dinyatakan hilang termasuk pilot. Kala itu


usiaku masih belasan tahun, hanya saja tidak tega melihat Vano yang seperti itu


dan sangat manja padaku, aku pun memutuskan melamar Amanda, ibu kandung papa


dengan alasan demi Vano.


Sejak saat itu Vano menjadi anak tiri ku, tapi, karena masih


keponakan kuanggap dia anak sendiri, kubesarkan dia, sampai pada Akhirnya, Vano


mengetahui kalau mamanya berselingkuh, dia yang masih berusia empat tahun, dan


belum paham apapun, bahkan masih belum ingat ya menganggap aku ini adalah papa


kandungnya, ia marah dan tidak terima, dan memintaku menceraikan Amanda, dua


tahun kemudian aku kenal dengan Vivian, satu kenal satu tahun dan lima bulan


menjaalin hubungan, kita memutuskan untuk menikah, saat itu Clara kelas dua SMA,


dan mereka kuajak pindah di rumah itu, ya begitu lah seiring berjalannya waktu,


kedua saudara tiri itu saling dekat dan berubah cinta, keduanya tak dapat dipisahkan meski kami sudah berusaha keras memisahkan mereka. Bahkan sempat kami menjodohkan


juga Vano dengan anak sahabat kakek, tapi mereka tetap menentang dan akirnya


kami mengalah, memilih merestui hubungan mereka, mereka pun menikah sebelum


Clara lulus kuliah, dan hamil Queen pada saat kandungan berusia empat bulan,


kakakku kembali dengan pasukan yang ia miliki, saat itu ia tenggelam di lautan


dan ditemukan oleh seorang ketua mafia yang memilki perusahaan pesawat itu,


setelah papa kandungnya yang merupakan orang jepang itu mati, barulah ia kembali


dan meminta hak nya lagi, yaitu Vano kembali menjadi anakknya. Tapi, kita tak


mempermasalahkan hal itu, jadi mereka tidak berawal dari sepupu, hampir


sepertimu dan Queen. Jika memang kau suka dia, kami akan mendukungmu,” ucap


Andrean Panjang lebar.


Al diam termangu, ia Nampak terkejut dengan kenyataan yang


sebenarnya.


“Mereka cinta karena biasa, Kek, dan itu sah-sah saja, kenal


juga dah dewasa sedangkan aku dan Queen?”


“Tapi, kakek melihat cinta untuknya di matamu, Al.”


“Aku masih punya istri, Kek,” kilah Al.


“Bukannya pria poleh poligami? Mumpung Queen belum menikah


dengan Diaz, loh.” Bahkan si kakek Andrean pun yang biasa tenang juga malah


jadi kompor saking gemesnya sama si Al yang tidak segera gercep alias gerak


cepat.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Sekitar pukul setengah tiga Queen tiba di kediaman Diaz,


wanita itu sengaja tidak menelfonnya lagi saat ia akan berangkat tadi.


Tahu-tahu ia sudah ada di depan pintu rumahnya saja dan memencet bell sambil


mengucapkan salam.


“Assalamualaikum.”


Bersamaan dengan itu, terdengar sahutan dari dalam, suara


seorang gadis muda sambil membukakan pintu untuknya. “Waalaikumssalam. Kak Queen?


Kakak kemari sendirian?” ucap gadis itu dengan girang dan sangat bahagia, dan langsung


memeluk pacar kakanya itu.


“Kamu apa kabar, Fatimah?’’


“Alhamdulillah, kak. Aku sehat, ayo masuk, tadi kita sedang


berkumpul di ruang keluarga, lo.”


“Kakakmu juga?’’


“Iya, ayo!” dengan semngat gadis itu menari tangan Queen dan


mengajaknya untuk bertemu kakak dan juga umiknya. "Umik, yang kita bicarakan


datang, Panjang umur dia,” ucap gadis itu. Seketika itu juga umik Halimah


langsung bangkit dam memluk Queen sedangkan Diaz hanya tersenyum tipis saat melihat


kekasihnya tau-ytau sudah datang saja.


“Kamu kok gak ada kasih kabar jika mau datang?” ucap Diaz


sambil menatap Queen dengan tatapan yang susah dijelaskan.


“Kan aku tadi pagi sudah nelfon kamu,” jawab Queen sambil


tersenyum tipis.


Diaz maju beberapa langkah lebih dekat dengan Queen. Tapi,


keduluan Umik Halimah yang berdehem, membuat Diaz mundur kembali beberapa


langakh.


“Kalian di sini dulu, ya? Umik ambilkan minum dulu,” ujar


umik lalu pergi ke dapur.


Sedangkan Fatimah mengobrol dengan Queen menanyakan kondisi


calon kakak iparnya, sebab, ia melihat ada luka di kedua punggung tangan Queen.


“Kak Queen gak apa-apa, kok Fatimah jika dibandingkan kak


Diaz, dia lebih parah,” jawab Queen perlahan.


“Fatimah, kamu bantu umik di dapur gih, kasian lo nyiapin


semua sendiri,” ucap Diaz.


Dengan patuh dan tanpa membantah sedikitpun gadis itu


segera beranjak ke dapur. Sementara dua insan itu saling berpandangan dan


tersenyum.


“Kemarilah!”


Seolah tengah terhipnotis saja dengan satu kata itu, Queen


pun mendekat, ia melihat kea rah jahitan di kepala kekasihnya itu dan berkata, “Maafkan


aku, ya? Gara-gara aku kamu jadi…”


Dengan cepat Diaz meletakan telunjuknya di bibir Queen dan


berbisik lirih sambil menarik lengan Queen dan membawa ke dalam pelukannya, “Kamu


tahu tidak? Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pria jika dapat menyelamakan


wanitanya."


Queen hendak bergeser melepaskan pelukan Diaz dan sedikit menjauh


karena takut ada yang melihat mereka.


“Kau tenanglah sebentar, aku kangen sama kamu.” ucap Diaz sambil mengeratkan pelukannya.


Tak menunggu lama tedengar suara orang berdehem, Queen pun


segera menjauh dari Diaz, beruntung tadi hanya adiknya Diaz saja yang datang


dengan membawakannya minuman jika sampai tadi itu Umik, mau taruh mana ini


muka?


“Ehem… ada yang lagi kangen kangenan, ya? Hehehe.”


“SSttt… Diem kamu,ucap Diaz pada adiknya, sedangkam Queen

__ADS_1


menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


__ADS_2