
Sekitar jam dua dini hari, bersama Vico, Queen sudah tiba di
rumah kediamannya. Begitu sampai wanita itu terlihat sangat marah, ia berjalan
cepat dan menggebrak pintu kamar Nayla.
Sedangkan, Nayla yang pulas tertidur setelah begadang
telfonan dengan kekasih gelapnya itu sangat kaget, belum lagi seember air
dingin disiramkan padanya di atas kasurnya.
“Hey, Queen apa yang kau lakukan? Apakah kamu sudah tidak waras? Gila kau ini!”
umpat Nayla, yang juga emosi.
“Iya, aku memang gila dan tidak waras, memang kamu mau apa?
Hah?” tantang Queen sambil membanting ember itu.
“Bawa saja langsung ke kantor polisi, jangan sampai ada
sidik jarimu menganiaya dia,” bisik Vico, lirih di dekat telinga Queen.
Queen menjawab dengan anggukan saja, dan menyeret Nayla
keluar. Keributan di kamar Nayla berhasil membangunkan seisi rumah, termasuk
juga Bilqis. Ia melihat mamanya basah dan diseret tantenya keluar.
“Mama! Tante, kau apakan mamaku?”
“Bilqis, kau terlau kecil untuk mengetahui hal ini, tapi,
karena kau sudah terlanjur melihatnya, baiklah, mamamu akan tante bawa ke
kantor polisi agar mencabut gugatannya. Dia tidak berhak melakukan itu
sedangkan keluarga korban saja sudah sangat menerima.”
“Apa maksut tante?”
“Mamamu yang melaporkan papamu ke polisi sehingga dia ada di
dalam penjara, kau sadar dan ulah mamamu pula tante dan papamu harus merasakan
sakit dan luka bahkan hampir terbunuh. Kau yang tahu diri. kamu ini bukan…. “
“Queen, sudahlah, Nak. Bereskan saja ini dulu,” ucap Andrean
yang terpaku di atas kursi rodanya.
Queen pun dengan patuh langsung saja pergi, di depan sudah
ada dua orang polisi menunggunya.
Dengan menangis, Bilqis pun menghampiri kakek buyutnya,
dengan polos bocah itu bertanya dengan terbata-bata karena menangis. “Kakek,
sebenarnya aku ini apa? Bukan apa aku ini kenapa tante Queen yang biasanya
sayang sama aku jadi sangat marah? Apa karena dia kesal dengan mama?”
“Iya, Bilqis. Dia kesal saja, nanti kalau emosinya sudah
surut dia juga tidak bakalan seperti itu. Jangan diambil hati, ya? Maafkan dia
yang menyeret mamamu.”
“Bilqis sedih bukan karena dia memperlakukan mama seperti
itu, Kek. Tapi, kenapa mama tega berbuat seperti itu dan malah memenjarakan
papa?”
“Kau masih terlalu kecil untuk tahu, kelak jika kau sudah
dewasa juga akan segera mengerti apa dan mengapa. Ini masih malam, kau
tidurlah!”
Dengan patuh bocah itu pun pergi ke kamarnya, sedangkan
Andrean menjalankan kursi rodanya ke ruang tengah.
“Apa Tuan perlu sesuatu?” Tanya Bik Yul, yang juga kaget
dengan isiden yang baru saja terjadi.
“Tolong buatkan saya kopi ya, Bik. Saya sepertinya sudah
tidak bisa tidur lagi, tapi mata masih saja terasa lengket,” ujar Andrean yang juga belum lama memejamkan mata.
Tak menggu beberapa lama, sekitar lima menitan Bik Yul sudah
keluar dengan membawa nampan berisi satu cangkir kopi di tangannya.
“Ini tuan kopinya.”
“Taruh meja saja, Bi. Terimakasih, ya.”
“Tuan, mohon maah sebelumya kalau bibi lancang, bukan maksut
saya juga kepo atau ikut campur. Tapi, saya penasaran,” ucap si bibi dengan
pelan dan sangat berhati-hati.
“Mau tanya apa memangnya, Bi?” jawab Andrean dengan santai.
“Itu, Tuan, barusan itu kenapa ya Non Queen kok bisa semarah
itu, dih serem banget liat orang biasanya kalem berubah kaya gitu. Tapi, maaf
banget lo ya, Tuan.”
“Oh, itu? Queen sama Vico tadi menylidiki tetang Al yang
dibawa polisi. Mengumpulkan bukti sebagai saksi dan mungkin yang melaporkan Al juga sepertinya Nayla sendiri, entah apa
tujuannya, biar anak muda itu menyelesaikan masalahnya sendiri saja, saya sudah
cukup tua untuk ikut campur, Bi,” ujar Andrean, lalu mulai menyeruput yang
dihidangkan oleh bik Yul,
“Memang mereka berdua adalah kakak beradik yang kompak ya,
Tuan. Den Al rela terluka demi adiknyaa, bahkan pas kemarin luka dipunggungnya
dijahit kemarin…. “ Bibi tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa, Bi?’
“Nggak, manjanya kok malah ke adeknya tidak ke istrinya,
teriak-teriak dia lihat jarum, hehe mungkin karena mereka sudah hidup dan
tumbuh bersama, ya Tuan,” ucap bibi lalu ia pun memohon diri kembali ke
kamarnya.
Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah lama melihat kejanggalan apda diri Al tertahadp Queen. Hanya saja, ia belum ada keberanian untuk mengungkapnya, Karena bagaimanapun Al beristri, walaupun mereka bersaudara, tidak lucu juga jika skandal terjadi dengan saudara kandung.
Andrean tersenyum seorang diri lalu meneruskan menikmati
secangkir kopi hangat yang ada di depannya. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin bibi pengurus rumahnya ingin katakan.
🌞🌞🌞🌞
Begitu semua urusan beres, dan menyerahkan uang jaminan
untuk menebus Al, Queen pun memaksa ikut ke dalam sel di mana kakaknya ditahan,
Ia sudah tidak sabar melihat kondisi kakaknya. Sedangkan urusan Nayla, ia
menyerahkan sepenuhnya kepada Vico untuk mengawasinya.
“Saudara Al,” teriak salah satu petugas. Al dan penghuni
lapas pun bangun dan pada melihat ke luar sel, dua orang polisi pria dan
seorang polwan berjalan bersama seorang wanita cantik berada di depan pintu
penjara di mana Al dikurung.
Al pun melangkah ke depan pintu, pria itu tersenyum dan
menyapa adiknya lirih, nyaris tidak terdengar. “Queen.”
Wanita itu tersenyum kepadanya, dan salah satu petugas membuka gembok sel dan memberitahukan
kalau dirinya sudah bebas.
“Kamu mebereskannya selama semalam, Sayang?” ucap Al dengan
tatapan tidak percaya.
“Iya,” jawab Queen sambil mengangguk dan tersenyum.
Al l pun secara reflek mencium Queen di depan polisi dan
para nara pidana lain dan memeluknya erat bahkan tubuh wanita itu sampai
terangkat sambil berseru, “Terimakasih, Sayang.”
“Hey, lepaskan aku, banyak orang di sini!”
“Kalau Cuma kita berdua saja kau mau?” goda Al. Lalu, Queen
mencubit perut pria itu karena gemas.
Keduanya pun berjalan
meninggalkan tempat tahanan sementara para nara pidana lain semuanya pada heboh
mengenai Al yang baru tadi jam tiga sore masuk tahanan tapi, pukul lima dini
hari sudah bebas.
“Kau yakin dia seorang gay?”
“Munngkin saja jika cwek yang menjemputnya tadi adalah
transgender.”
“kurasa bukan.”
“Jadi, dia hanya mengelabui kita saja, mungkin dia
pacarnya.”
“Kurasa juga begitu.’’
“Pak, kasus apa sih
yang membuatnya masuk penjara?” tanya salah satu nara pidana yang ada dalam
satu tahanan dengan Al tadi.
“Cuma kesalahpahaman.”
“Dia ketangkap basah merkosa suami orang ya?”
"Kriiiik… kriiik
kriiiik…."
__ADS_1
Seketika suasana lapas pun jadi hening dengan pertanyaan
terakhir yang dilontarkan oleh salah satu penghuni lapas.
“Bukan, pria itu menyelamatkan adiknya saat diskap orang.
Mereka hampir terbunuh dan dari dia melindungi diri, tanpa sengaja malah
membunuh pelaku. Semua sudah beres, keluarga yang terbunuh sudah ikhlas dan
menerima serta sudah membuat surat pernyataan.”
Mereka pun semua tertawa karena percaya dengan apa yang Al
katakan. Lagian dilihat dari orangnya juga seperti pria baik-baik dan
berintelektual Tinggi. Ketika menyambut wanita tadi pun juga kelihatannya
normal-nomal saja. Lagi pula di mana ada seorang gay dengan mudah menunjukan
identitas dirinya begitu saja?
Tiba di rumah, Queen langsung menghampiri kakek mereka yang
sepertinya telah menunggu mereka datang. Kkakek Andeas tersenyum dan memeluk
kedua cucunya. Kalian pasti lelah, sana, bersih-bersih dulu, makan dan
beristirahatlah!” seru kakek Andrean.
“Baik, kakek.” Queen yang memang merasa ngantuk dan lelah
pun segera mengajak kakaknya masuk ke dalam. Dalam keadaan seperti itu, Al
bahkan masih sempat saja menggoda adiknya,
“Kamu katanya mau bantu manddin aku.”
“Kapan? Dih, tidaklah.” Mata Queen terbelalak kaget dengan
perkataan Al yang tiba-tiba saja juga ikut masuk ke dalam kamarnya.
“Terus kalau kamu tidak mau bagaiman?”
Queen mendorong tubuh Al keluar kamar dan menutup pintu
kamar lalu menguncinya. Wanita itu tidak mau ambil resiko setelah merasa ada
yang tidak beres dengan kakaknya, terlebih ucapannya sebelum polisi
menjemputnya kemarin.
Quuen meraih handuk model baju dan msuk ke dalam kamar mandi
kamarnya, menyiapkan iar hangat di bethup untuk berendam. Begitu semuanya siap,
ia masuk berendam pada air hangat tersebut yang sudah ia beri aroma therapi dan
juga sabun. Dia lagi ingin mandi busa rupanya.
Queen berusaha mengingat-ingat kembali perlakuan Al yang
tidak wajar, Dia itu tampan, cerdas, kaya dan berkekuasaan, sebab, orang tuanya
juga menganggap dia sebagai anak kandung dan memiliki hak yang sama seperti
dirinya. Kalau memang dia menginginkan seorang wanita, itu tidaklah sulit
banginya, hanya saja dia sebagai pria terlalu dingin dan hanya focus dengan
kerja-kerja dan kerja. Tapi, Apakah yang Aditya katakana tentang perayaan
aniversarinya kemarin benar? Ah, mungkin benar saja, dan kembali dingin dengan
Nayla karena ia sadar kalau aku diculik.
Lelah memikirkan sikap kakaknya yang begitu mencolok, Queen
pun mengambil ponselnya yang ia letakan di pinggir bethup. Ia menelfon Diaz dan
bahkan berencana nanti siang akan ke Bandung menjenguk kekasihnya itu.
“Halo, Sayang,” jawab seeorang pria dari seberang sana.
‘Cieeee cieeee pacarnya nelfon, langsung halo sayang,’
Queen tersenyum saat mendengar suara Fatimah menggoda kakaknya.
“Hay, kamu lagi apa, Diaz?”
“Lagi mikirin kamu.”
Tanpa sadar wajah Queen memerah, ia tersenyum seorang diri.
“Kamu lagi apa?”
Queen sedikit gelagapan. Sebab, ia juga tidak mungkin
menjawab kalau lagi mandi atau berendam di kamafr mandi, kan?
“aku, ya? Emmm aku lagi santai saja, baru tiba dari kantor
polisi.”
“Panik gitu sih, jawabnya? Lagi kangen sama aku, ya?” goda
Diaz.
“Yaaaa… begitulah. Nanti siang aku boleh ke tempat kamu?
Sekarang aku mau istirahat dulu,” jawab Queen sebelum menutup panggilannya.
Usai mandi dan berganti pakaian santai, Queen mngoles obat
luar untuk lukanya. Luka yang harusnya sudah mulai kering, jadi kembali basah karena
entah apa yang ada dalam pikirannya tadi.
Dengan semangat ia pun ingin segera sarapan dan tidur sampai
puas agar bangunnya tidak terlalu sore. Tapi, siapa sangak saat ia membuka
pintu kamar Al sudah berdiri di depan sana. Queen menjerit karena kaget,
sedangkan Al hanya tertawa saja.
“Kamu ngapain saja di dalam? Lama banget?”
“Ya mandi, lah, terus telfonan sama Diaz.”
“Oh,” jawab Al singkat. Tanpa ekspresi, pria itu
meninggalkan Queen dan masuk ke dalam kamarnya.
Queen memandang kakaknya yang sudah tak Nampak lagi di balik
pintu kamarnya. Pria itu terlihat kalau tidak suka saat dirinya menyebutkan
nama Diaz. Queen gak mau ambil pusing, ia perlu asupan makanan lalu tidur biar
fresh dan gak ngantuk di jalan.
Sekitar pukul satu siang, Queen berpamitan pada kakek
Andrean kalau ia ingin pergi ke Bandung.
Andrean pun mengizinkan. Sementara Al berada di dalam, tidak tahu kalau Queen
pergi ke bandung, setelah berselang sekitar lima belas menit barulah Al keluar.
“Kakek, kenapa siang-siang begini di luar?”
“Sudah bangun kamu, Al? Kamu lagi sibuk tidak?” ucap Andrean
bertanya balik.
“Tidak, Sih kek. Queen di mana?”
“Dia ke Bandung, baru saja berangkat. Kamu tidak tahu?”
“Ya, kalau tahu, kenapa aku tanya kakek, ketemu Diaz dia
pasti,” ucap Al sambil memalingkan muka dari sang kakek wajahnya terlihat kalau
ia tidak senang.
“Jika kau tidak sedang sibuk, ayo ikut bersama kakek!” ajak
Andrean.
“Ke mana, Kek?”
“Sudahlah, Ayo. Nanti kau juga bakal tahu.”
Karena penasaran A pun tidak banyak bertanya, Ia nurut saja
kemana pun kakeknya mengajakknya.
Sampai pada akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah dengan
halaman cukup luas, meski tak seluar rumahnya. Tapi, tempat itu rindang dan
asri, sangat serasi dengan rumah kecil minimaalis yang ada di sana.
“Ini rumah siapa, Kek?”
“Ini rumah mendiang nenek Viaian. Di sini mama Clara di
besarkan sampai kelas dua SMA kalau tidak salah. Ayo kita masuk ke dalam, akan
kuberi tahu kau sesuatu. Kakek bersama kakek Andreas itu perginya kemari, di
belakang rumah ini kami bangun kolam pemancingan, sudah izin nenekmu tentunya.
“Jadi dulu kalian tinggal di sini begitu, Kek?” tanya Al
penasaran.
“Tidak, hanya nenek dan mamamu saja sampai dia kelas dua
SMA, barulah mereka berdua pindah di rumah itu,” jawab Andrea. Al jadi kian
bingung saja, akhirnya tak ada pilihan selain mengikuti arah kemana kakeknya
pergi sambil mendorong kursi roda itu.
Di sebuah kamar yang Nampak rapi, seolah masih berpenghuni
Andrean mengajak Al masuk ke dalam, ia memberi intruksi untuk membuka lemari
besar itu di dalamnya bukan berisi baju, melainkan sejenis barang-barng beruba
buku-buku dan berkas-berkas, entah masih
penting atau tidak Al tidak tahu.
“Setia dua hari sekali ada orang yang kemari untuk
membersihkan rumah dan juga menganti sprei, korden dan juga selambu. Jadi,
meskipun tak lagi berpenghuni, rumah ini tetap bersih. Coba, Al kamu ambil buku
Album berwana hitam itu.”
Al pun menurut dan memberikan album itu kepada sang kakek.
Perlahan-lahan kakek Andrean membuka album itu sambil tersenyum tipis. Disana
__ADS_1
yang Nampak adalah foto-foto masa kecil Clara, dari masa ia masih bayi, dengan
mendiang ayah kandungnya, Ricy, dan sampai ia mulai tumbuh dewasa, semua Andrean
buka di depan Al. Al sedikit janggal ketika melihat foto mamanya bersama
seorang pria namun ia tak mirip sedikitpun dengan kakek Andrean. Sebab, ia
pernah melihat foto sang kakek saat masih muda foto bersama papa Vano, jauh
berbeda.
“Ini bayinya mama Clara, kek?” tanya Al penasaran.
“Iya, lalu siapa lagi memangnya?” jawab Andrean, masih
terseenyum tipis.
“Terus ini siapa? Kok beda dengan wajah kakek semasa muda?”
“Memang kamu pernah lihat?”
“Pernah, di ruang baca kan ada foto saat papa masih kelas
satu SD sama kakek.”
Andrean bukannya segera menjawab, pria tua itu malah tertawa
lebar sambil menepuk pundak cucu lelakinya.
“kau cukup jeli juga ya rupanya.”
“Begini, Al. Ini adalah papa kandung mamamu. Dulu, nenekmu
bekerja di perusaah kakek, dia adalah janda dengan satu anak, dan aku adalah
duda yang mereka kenal dengan satu anak
pula.”
Al mengertkan keningnya, ia masih bingung dan tidak
mengerti. “Maksutnya gimana sih, Kek?
“Ceritanya sedikit rumit Al. Tentang ini Queen belum tahu,
dan kakek baru akan bercerita padamu. Jadi benar jika papamu adalah putra
kakakku, kakek Andreas. Hanya saja dulu ketika masih dia berusia dua tahun,
kakek Andreas yang seorang pilot internasional pergi meninggalkan rumah untuk
bekerja, dan mengalami kecelakaan udara, semua penumpang yang ketemu tidak ada
satu pun yang selamat. Tiga orang dinyatakan hilang termasuk pilot. Kala itu
usiaku masih belasan tahun, hanya saja tidak tega melihat Vano yang seperti itu
dan sangat manja padaku, aku pun memutuskan melamar Amanda, ibu kandung papa
dengan alasan demi Vano.
Sejak saat itu Vano menjadi anak tiri ku, tapi, karena masih
keponakan kuanggap dia anak sendiri, kubesarkan dia, sampai pada Akhirnya, Vano
mengetahui kalau mamanya berselingkuh, dia yang masih berusia empat tahun, dan
belum paham apapun, bahkan masih belum ingat ya menganggap aku ini adalah papa
kandungnya, ia marah dan tidak terima, dan memintaku menceraikan Amanda, dua
tahun kemudian aku kenal dengan Vivian, satu kenal satu tahun dan lima bulan
menjaalin hubungan, kita memutuskan untuk menikah, saat itu Clara kelas dua SMA,
dan mereka kuajak pindah di rumah itu, ya begitu lah seiring berjalannya waktu,
kedua saudara tiri itu saling dekat dan berubah cinta, keduanya tak dapat dipisahkan meski kami sudah berusaha keras memisahkan mereka. Bahkan sempat kami menjodohkan
juga Vano dengan anak sahabat kakek, tapi mereka tetap menentang dan akirnya
kami mengalah, memilih merestui hubungan mereka, mereka pun menikah sebelum
Clara lulus kuliah, dan hamil Queen pada saat kandungan berusia empat bulan,
kakakku kembali dengan pasukan yang ia miliki, saat itu ia tenggelam di lautan
dan ditemukan oleh seorang ketua mafia yang memilki perusahaan pesawat itu,
setelah papa kandungnya yang merupakan orang jepang itu mati, barulah ia kembali
dan meminta hak nya lagi, yaitu Vano kembali menjadi anakknya. Tapi, kita tak
mempermasalahkan hal itu, jadi mereka tidak berawal dari sepupu, hampir
sepertimu dan Queen. Jika memang kau suka dia, kami akan mendukungmu,” ucap
Andrean Panjang lebar.
Al diam termangu, ia Nampak terkejut dengan kenyataan yang
sebenarnya.
“Mereka cinta karena biasa, Kek, dan itu sah-sah saja, kenal
juga dah dewasa sedangkan aku dan Queen?”
“Tapi, kakek melihat cinta untuknya di matamu, Al.”
“Aku masih punya istri, Kek,” kilah Al.
“Bukannya pria poleh poligami? Mumpung Queen belum menikah
dengan Diaz, loh.” Bahkan si kakek Andrean pun yang biasa tenang juga malah
jadi kompor saking gemesnya sama si Al yang tidak segera gercep alias gerak
cepat.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Sekitar pukul setengah tiga Queen tiba di kediaman Diaz,
wanita itu sengaja tidak menelfonnya lagi saat ia akan berangkat tadi.
Tahu-tahu ia sudah ada di depan pintu rumahnya saja dan memencet bell sambil
mengucapkan salam.
“Assalamualaikum.”
Bersamaan dengan itu, terdengar sahutan dari dalam, suara
seorang gadis muda sambil membukakan pintu untuknya. “Waalaikumssalam. Kak Queen?
Kakak kemari sendirian?” ucap gadis itu dengan girang dan sangat bahagia, dan langsung
memeluk pacar kakanya itu.
“Kamu apa kabar, Fatimah?’’
“Alhamdulillah, kak. Aku sehat, ayo masuk, tadi kita sedang
berkumpul di ruang keluarga, lo.”
“Kakakmu juga?’’
“Iya, ayo!” dengan semngat gadis itu menari tangan Queen dan
mengajaknya untuk bertemu kakak dan juga umiknya. "Umik, yang kita bicarakan
datang, Panjang umur dia,” ucap gadis itu. Seketika itu juga umik Halimah
langsung bangkit dam memluk Queen sedangkan Diaz hanya tersenyum tipis saat melihat
kekasihnya tau-ytau sudah datang saja.
“Kamu kok gak ada kasih kabar jika mau datang?” ucap Diaz
sambil menatap Queen dengan tatapan yang susah dijelaskan.
“Kan aku tadi pagi sudah nelfon kamu,” jawab Queen sambil
tersenyum tipis.
Diaz maju beberapa langkah lebih dekat dengan Queen. Tapi,
keduluan Umik Halimah yang berdehem, membuat Diaz mundur kembali beberapa
langakh.
“Kalian di sini dulu, ya? Umik ambilkan minum dulu,” ujar
umik lalu pergi ke dapur.
Sedangkan Fatimah mengobrol dengan Queen menanyakan kondisi
calon kakak iparnya, sebab, ia melihat ada luka di kedua punggung tangan Queen.
“Kak Queen gak apa-apa, kok Fatimah jika dibandingkan kak
Diaz, dia lebih parah,” jawab Queen perlahan.
“Fatimah, kamu bantu umik di dapur gih, kasian lo nyiapin
semua sendiri,” ucap Diaz.
Dengan patuh dan tanpa membantah sedikitpun gadis itu
segera beranjak ke dapur. Sementara dua insan itu saling berpandangan dan
tersenyum.
“Kemarilah!”
Seolah tengah terhipnotis saja dengan satu kata itu, Queen
pun mendekat, ia melihat kea rah jahitan di kepala kekasihnya itu dan berkata, “Maafkan
aku, ya? Gara-gara aku kamu jadi…”
Dengan cepat Diaz meletakan telunjuknya di bibir Queen dan
berbisik lirih sambil menarik lengan Queen dan membawa ke dalam pelukannya, “Kamu
tahu tidak? Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pria jika dapat menyelamakan
wanitanya."
Queen hendak bergeser melepaskan pelukan Diaz dan sedikit menjauh
karena takut ada yang melihat mereka.
“Kau tenanglah sebentar, aku kangen sama kamu.” ucap Diaz sambil mengeratkan pelukannya.
Tak menunggu lama tedengar suara orang berdehem, Queen pun
segera menjauh dari Diaz, beruntung tadi hanya adiknya Diaz saja yang datang
dengan membawakannya minuman jika sampai tadi itu Umik, mau taruh mana ini
muka?
“Ehem… ada yang lagi kangen kangenan, ya? Hehehe.”
“SSttt… Diem kamu,ucap Diaz pada adiknya, sedangkam Queen
__ADS_1
menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.