Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
WILL DIE 15


__ADS_3

"Iya, adikku Sayang. Kau tenang saja. Ya, sudah, matikan lah video callnya. Kami akan bersiap untuk pulang, oke?" ucap Axel lalu mengakhiri panggilannya. Setelah itu, barulah pria itu memberikan benda pipih berwarna merah itu pada gadis kecil di sampingnya.


Berlyn tidak langsung menerima ponselnya dari tangan Axel. melainkan ia masih sibuk membersihkan tangannya yang belum benar-benar bersih dengan tisu basah. setelahnya, barulah dia menerima benda itu dan kembali memasukkan ke dalam tasnya.


"Ini sudah jam setengah duabelas, kita makan siang dulu saja, ya? Setelahnya, barulah kita kembali ke Jakarta. Kamu makan apa?"


Berlyn nampak diam dan berfikir. Pandangannya diedarkan ke selurh penjuru Maliobor. Ia sebenarnya sudah memikirkan ingin makan apa. Tapi, ia tidak bisa mengisyaratkannya. Untuk menulis di smart phone juga malas mengeluarkan kembali dari dalam tasnya. Tapi, rupanya gadis itu tidak pernah kehilangan ide. Diraihnya tangan Axel, ia menggandengannya dan mengajaknya berlari sambil tertawa. Tiba di sebuah tempat, Berlyn menunjkuk rumah makan yang menyediakan makanan khas Jogja. Yaitu gudeg.


"Kau mau makan gudeg?" tanya Axel sambil sedikit terengah-engah.


"Ya," jawab Berlyn sambil tertawa. Tawa yang imut, membuat Axel tidak mampu menolaknya, meskipun sebenarnya ia sendiri tidak menyukai makanan yang berbahan dasar nangka muda dan manis ini. Tapi, demi Berlyn, apa sih yang enggak? Asal gadis itu tidak memintanya menelan racun, pasti ia akan lakukan.


"Berlyn, kenapa harus gudek, sih?"


Berlyn sedikit kesal. Tapi, bibirnya masih menyunggingkan senyuman. dikeluarkannya ponsel dari dalam tas kecilnya dan ia menuliskan sebuah kalimat yang hanya terdiri dari dua kata saja sebagai jawaban untuk Axel. "Karena, Khas."


"Kau tahu, gudeg itu, apa?"


Berlyn mengelengkan dan nampak bingung. ia hanya pernah mendengar saja tanpa pernah melihatnya. meskipun dari Internet. yang ia dengan mengenai makanan ini selain khas Jogja, ini juga enak dan lezat.


"Jika kau tidak tahu, kenapa meminta ini, Sayang?"


kembali Berlyn menuliskan kalimat dengan cepat di aplikasi note dari dalam poselnya, "Justru itu. Karena aku tidak tahu, aku penasaran ingin mencobanya. Memangnya, kenapa? Tidak boleh?"


"Iya, boleh. Ayo kita ke sana dan memesannya."


Gadis itu pun senang, kembali ia menggandeng Axel dan mengajaknya masuk ke dalam kedai tersebut.


Axel hanya memandangi Berlyn yang nampak tidak sabar menunggu pesanannya datang. Selang beberapa menit, seorang wanita muda membawa nampan dengan dua gelas es jeruk dan dua piring nasi gudek yang sudah lengkap dengan telur, ayam dimasak lodho, sambal goreng kentang dan juga krecek sapi. Mata Berlyn nampak berbinar. Mungkin saja ia senang karena rasa penasarannya akan segera terobati. Namun, lain halnya dengan Axel. Ia tampak eneg duluan sebelum memakannya. ia juga berharap agar Berlyn tidak menyukai makanan yang terasa aneh di lidahnya ini. Agar, kelak jika ia mengajaknya ke mari lagi ia tidak mengajaknya makan makanan terkutuk ini.


"Kau tahu, itu apa?" tanya Axel, masih dengan nada dan raut muka yang sabar. Meskipun sebenarnya hatinya lumayan kesal.


Beryn mengelengkan kepala sambil menatap Axel dengan kedua mata lebarnya.


"Itu, gudeg itu sebenarya nangka muda yang dimasak saja. rasanya manis dan tidak ada yang istimewa. Khas karena hanya ada di sini. Sekalipun di Jakarta ada, pasti menulisnya juga gudeg Jojga," jawab Axel panjang lebar.


Tapi, tanggapan Berlyn lain. Ia memberi isyarat yang mengatakan, "Justru karena khas itu, aku ingin mencobanya. Tidak sah rasanya jika mengunjungi suatu daerah tidak memakan makanan khas daerah itu sendiri."


Akhirnya, Axel pun menyerah juga dengan gadis ini. Dia terlalu cerdas, sehingga, ia tidak akan pernah bisa mengalahkannya.


Berlyn diam menunduk sambil memejamkan matanya. Selang beberapa detik gadis itu mengusap wajah dengan kedua tangannya, lalu memulai menyendokkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Ternya, gadis itu sangat menyukai makanan khas itu. Jadi, Alex yang berharap agar Berlyn tak menyukainya hanya tepuk jidat saja.


"Enak, ya?" tanya Axel dengan heran.


"Ya," jawabnya sambil terus memakan makanannya dengan lahap hingga nyaris tidak tersisa.


"Apakah kau menyukainya?"


"Ya," ucapnya. Sambil memberi isyarat kalau ia ingin memakannya lagi jika dia datang ke Jogja.


"Baik, mungkin mulai dari sekarang kak Axel akan sering mengajakmu datang ke mari. Kakak juga kan janji, apapun yang Berlyn mau, kak Axel akan belikan, oke?"


Gadis itu tersenyum ceria sambil menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai ucapan terimakasih sebelumnya.


"Oke, kalau gitu, kita bisa kembali ke Jakarta sekarang?" tanya Axel.


"Gadis itu mengangguk, mencangklong kembali tasnya dan berdiri. Menunjukkan kalau ia sudah selesai dan siap kembali ke Jakarta.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja.Sebenarnya Axel butuh sekali teman untuk diajak ngobrol. Tapi, mana mungkin ia bisa mengeobrol dengan Berlyn yang memang bisu sejak lahir, dan tak ada keinginan untuk berusaha berbicara seperti anak-anak bisu yang sudah melakukan oprasi kelenjar klokea seperti kebanyaka. Dia seolah pasrah dan terima nasib saja sebagai seorang yang bisu. Memang ini sudah resiko jatuh cinta pada gadis bisu. Jadi, Axel harus bersiap jika kelak suatu saat ada keajaiban Berlyn menerima cintanya dan bersedia hidup seatap dengannya, maka ia akan memiliki rumah yang sepi.

__ADS_1


'Apa yang aku pikirkan? Bukankah Tuhan akan selau meberi jalan yang terbaik? Aku tak perlu takut menikah dengan gadis bisu, tak perlu khawatir bagaimana nanti anak-anakku belajar berbicara. Bukankah bisa bayar pengasuh?' pikir Axel.


ia memandang ke arah Berlyn hanya diam menatap lurus ke depan.


"Ini sudah siang pukul setengah satu. Kau tidurlah jika mengantuk! Apakah perlu di belakang?" tanya Axel sambil melihat ke arah Berlyn.


Gadis itu mengeleng tanpa mau menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa? Apakah ada masalah?"


Lagi-lagi gadis itu hanya mengelengkan kepalanya saja.


"Kenapa? Kangen sama papa dan mama?"


Dengan berat gadis itu mengangguk. Sementara Axel hanya diam menghela napas dalam. Tadi, ketika ia sempatkan menelfon papa Al kenapa tidak menayakan kapan mereka akan kembali? Lagipula ia juga heran, kenapa bisa gadis ini tidak mau ikut bersama kedua orang tuanya saja?


"Ya sudah tidak apa-apa. Kita berhenti di rest area, kita gelar kasur bulu di belakang dan kau tidurlah. Nanti akan kakak bangunkan jika sudah sampai rumah. Jangan sedih, ya?" ucap Axel lagi sambil mengelus punggung Berlyn dengan sebelah tangannya.


***** 


Merasa suntuk di hari minggu tidak ada kegiatan, Bilqis berencana pergi ke rumah om Alex untuk mengajak jalan Berlyn dan Adriel. Barangkali saja, dengan mengajak dua anak itu ke time zone kak Axel bisa ikut juga dengan mereka. Lumayan, kan jika mendapatkan satu boneka beruang lagi darinya seperti dulu? Lagi pula, Axel kan memang jago dalam segala permainan yang ada di sana. Selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.


Sebenarnya Bilqis sendiri malu dan masih agak sungkan dengan om Alex dan tante Zahara meskipun mereka berdua juga sangat baik padanya. Tapi, apakah harus menukar itu semua dengan tetap diam di rumah sendiri? Karena ia merasa sudah tidak lagi memiliki teman selain tiga saudaranya itu. Sebab, semenjak kejadian di mana dia diganggu oleh sekawanan preman bersama Tiara, Axel melarang keras dia dekat dan terlalu sering bermain dengan sahabat sejak SMP nya itu. Bilqis tidak mempermasalahkan. Sekalipun Axel tidak bisa menerimanya sebagai pasangan, setidaknya remaja itu menunjukkan kepedualiannya terhadap dirinya sebagai saudari.


"Mau kemana kau, Bilqis?" tanya Nayla yang kebetulan sudah dua hari ini selalu berada di rumah untuk menemani putrinya belajar.


"Mau ke rumah tante Zahara, Ma. Mama mau ikut?" jawab Bilqis sekalian mengajak mamanya.


"Mama titip salam saja pada mereka. Apakah kau mau bermain sama  Berlyn?" tanya Nayla yang jjuga tidak tahu kalau sejak kemarin sore Berlyn dan Axel pergi ke Jogja.


"Ya sudah, Bilqis berangkat dulu, ya Ma?" pamitnya. Kemudian beranjak keluar rumah setelah bersalaman mencium punggung tangan kanan mamanya.


"Sejak kapan mereka pergi, Tante?" tanya Bilqis. Ia berfikir mereka berangkat sekitar jam lima dini hari. Namun, nyatanya tidak. Keduanya barangkat sejak kemarin sore sekitar pukul empat.


"Dari kemarin sore. Sekitar jam tiga kalau tidak salah. mungkin nanti siang juga sudah tiba," jawab Zahara sambil menghidangkan minuman pada tamunya.


"Oh, iya Tante," jawab Bilqis sambil tersenyum. Tapi, tidak dengan hatinya. pikirannya pun juga sudah tak keruan dan kemana-mana.'apa yang mereka lakukan? Lalu semalam, apakah mereka membuka hotel dan menginap dalam satu kamar. Sekalipun Berlyn masih polos dan tidak tahu apa-apa, tapi tidak dengan kak Axel, kan?' batinnya. pikirannya juga kian melantur dan aneh-aneh saja.


"Adriel masih pergi ada latihan basket bersama omnya. mungkin sebentar-sebentar lagi juga akan kembali. Bilqis di sini sama tante dan Lutfi juga tidak apa-apa, kan?" ucap Zahara lagi berusaha menghibur. sekalipaun akhir-akhir ini hubungan atara Bilqis dan keponakannya terlihat baik-baik saja dan Bilqis juga tidak terlihat tengah mengejarnya ia yakin. Di dalam hati Bilqis masih ada rasa cinta untuk Axel. Ia hanya menahannya saja demi sebuah hubungan tetap baik. Membiarkan pria yang ia sukai dekat dengan saudarinya meskipun sebenarnya ia sakit. Tapi, Zahara dan yang lain bisa apa? Dia tidak bisa memaksakan kehendak Axel. Apalagi jika sudah mengenai perasaan dan hati. Keputusan sepenuhnya ada pada diri Axel. Karena dia yang bersangkutan.


"Tidak masalah, Tante," jawab Bilqis sambil tersenyum canggung.


"Ya sudah, tante titip Lutfy dulu, ya? Tante akan mengambilkan baju ganti, dia baru saja muntah karena kekenyangan minum susu," ucap Zahara sambil beranjak.


Sementara bocah berusia 15 bulan itu terus berjalan ke sana kemari.


'Fokus dengan apa yang ada saja. Dia sudah bahagua dengan yang lain. Aku, juga akan menemukan bahagiaku walau tidak bersama dia. Benar cinta tak harus memiliki. Sebab, jika dipaksakan juga tidak akan baik untukku. Aku tidak hanya butuh raga kak Axel. Tapi, hati dan perhatiannya. Jika sudah demikian, perhatian sebagai adik juga tidak masalah, bukan?" pikirnya sendiri.


Tidak berselang lama, dari luar terdengar ucapan salam dari seorang pria. Ternyata om Alex dan Adriel sudah pulang.


"Hay, Lutfy? kau bermain dengan siapa?" sapa pria bermata biru itu. Sambil berjongkok membuka tangannya bersiap memeluk putra kecilnya yang masih berjalan dengan tertatih-tatih.


"Ka...kak," jawab bocah itu saat berada dalam pelukan papanya sambil tertawa dan menunjuk pada Bilqis.


"Kamu sudah lama, Bil? Di mana tante?" tanya Axel pada gadis yang duduk bersimpuh di atas karpet bulu ruang tamunya.


"Ada di dalam, mengambilkan baju untuk Lutfy, katanya," jawabnya.


"Assalamualaikum, Sayangku... kalian sudah tiba?" sapa Zahara dari dalam kamar sambil membawa sepotong kaus singlet warna merah untuk putra kecilnya.

__ADS_1


"Waalaikumssalam," jawab mereka betiga hampir bersamaan.


"Adriel, kamu ganti baju dulu, gih! Setelah itu baru main sama adek, oke?' ucap Zahara. Kemudian bocah itu langsung berlari menuju kamarnya. cukup lama sekali ia tidak segera kembali. Ternyata ia melakukan video call pada Berlyn. Sebab, ketika dia kembali, ia bercerita dengan kabar gembira.


"Sebentar lagi kak Axel akan datang. Dia membelikan aku mainan baru!" serunya senang sekali.


"Apakah mereka sudah dalam perjalanan?" tanya Alex.


"Ya belum, sih. Katanya masih menunggu Berlyn menghabiskan makan es krimnya," jawab Adriel.


"Sekarang perjalanan bawa mobil dari Jogja ke Jakarta tidaklah lama. bisa sangat singkat dengan adanya jalan tol," gumam Zahara.


Dengan keberadaan Adriel yang lucu serta Lutfy, cukup menghibur hati Bilqis. Ia merasa senang juga di sini. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua. Ia berpamitan untuk pulang.


Namun, siapa sangka, bersamaan dia keluar dari rumah itu, bertepatan dengan mobil Axel masuk ke dalam halaman.


"Itu kak Axel dan Berlyn sudah datang, Bil!" seru Zahara yang kebetulan mengantarkan tamunya sampai depan pintu. Sedangkan Alex, ia sudah pergi ke gym sejak dua puluh menit yang lalu.


"Aku akan menyapa mereka dulu, Tante," jawab Bilqis sambil tersenyum. Padahal, ia tidak mengharapkan ini. Dia tidak ingin bertemu dengan mereka berdua. ia takut, kalau tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Tapi, ketika ia melihat seorang gadis meloncat dari dalam mobil melewati pintu belakang, suasana hatinya seketika berubah. Bibirnya tersenyum menyambutnya.


"Hay, bagaimana bisa kau ke Jogja tidak kabar-kabar?" sapa Bilqis pada Berlyn.


Gadis itu hanya tersenyum sambil memangku plan kedua tangannya di depan dada, yang berarti ia minta maaf. Tapi, apapun yang diisyaratkan gadis itu, Berlyn bisa menangkapnya dengan baik. Ia sangat paham akan maksutnya yang memiliki keterbatasan. Mungkin, itu terjadi karena rasa sayangnya yang menyamai saudara kandung.


Berlyn kembali ke mobil, sepertinya nengambil sesuatu. Benar saja, ia membawa sebuah tas karton dan memberikannya pada Bilqis dan berkata dalam bahasa isyarat kalau itu untuk dia dan mama Nay.


"Apa ini, Berlyn?" tanya Bilqis sambuk mengintip ke dalamnya.


'buka saja!' ucap Berlyn dalam bahasa isyarat.


Setelah membukanya, ternyata di dalamnya ada sebuah tas dowa warna coklat muda dan tas rotan.


"Wah, ini cantik sekali, Bilqis! Terimakasih, ya? Ini yang rotan buat kakak?"


Berlyn tersenyum sambil mengangguk.


Sekali lagi Bilqis mengucapkan terimakasih, sekalian ia berpamitan karena ada urusan. Bahkan, sedikitpun gadis itu tidak menoleh dan menganggap Axel ada. Apalagi, Axel hanya menyapanya satu kali tanpa mengajaknya berbasa-basi dan langsung masuk ke dalam rumah. Jadi, ya sudah. Memang saatnya untuk terlepas dari jeratan ini. pikir Bilqis.


Sejak tadi, Bilqis sebenarnya belum memesan jasa taxi online. Dia terus berjalan di sepanjang trotoar untuk menghilangkan stres dan kesedihan di hatinya. Tak peduli di lihat orang, ini Jakarta, banyak yang berjalan kaki, toh dirinya juga tidak berpenampilan seperti gembel. Jadi, ya abaikan saja.


"Tiin... tiin... tiiiiin!"


Bilqis terperanjat kaget dengan bunyi klakson mobil sebanyak tiga kali dari belakangnya. Ia menoleh. Ternyata itu mobil milik Axel. "Mau ke mana, dia? Tidak sedang mengikuti ku, bukan?' batinnya. Walau sebenarnya ia berharap. hanya saja tidak mau kecewa lagi untuk kesekian kalinya.


"Kenapa kau jalan kaki?" teriak Axel dari dalam mobil sambil melajukan mobilnya lirih. Menyeimbangkan dengan langkah kaki Bilqis.


Bilqis bingung harus ambil sikap bagaimana. Ia teringat nasehat yang pernah mama Queen berikan padanya dulu. Tetap bersikap elegan dalam situasi sesakit dan sekecewa apapun.


"Lagi ingin saja, Kak Axel mau ke mana?" sapa Bilqis, berlagak riang.


"Mau ke gym. Ayo aku antar pulang!" serunya. Tapi, ada yang aneh.


Kenapa raut wajah itu terlihat seperti sedang kesal. Apakah tadi setelah dia pulang ada masalah? Tapi, apa? Apa tante Zahara memarahinya karena bermalam di di Jogja dan hanya menyewa satu kamar hotel? Rupanya otak Bilqis mulai tercemar ke mana-mana. Ia yakin, Axel tidak mungkin seperti itu. dia bukan tipe cowok yang kurang ajar.


'kan itu ke kamu. Bagaimana jika pada Berlyn? Dia cinta sama Berlyn," ucap diri jahatnya.


Smentara dirinya yang baik langsung menangkis itu, menghilangkan pikiran kotor dari otaknya. 'Kau percayakan pria baik itu akan tetao baik. jika benar dia jahat dan mesum, pasti sudah sejak dulu memanfaatkan dirimu, menidurimu hingga puas. Setelah bosan kau ditinggal.'


#Seperti yang sudah saya katakan kemarin saat Novita terbunuh oleh mama Dian, ya? Axel tidak akan menjadi psycopath dan jahat. ia akan tetap jadi Axel yang baik, dewasa dan bijak sana dalam menyikapi setiap masalah. Mungkin juga dia lebih baik dari Al dan juga Alex. kenapa? Al masih mau membunuh, Axel tidak. Omnya dulu playboy, dan Axel kalem baik dan pria idaman benar pokoknya.

__ADS_1


__ADS_2