Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 37


__ADS_3

Dua bulan sudah Vano dan Clara tidak saling bertemu. Tidak ada seorangpun yang tau di mana keberadaan Clara kecuali Hans dan sahabat-sahabatnya.



Selama tiga bulan pula Vano seperti kehilangan semangat hidup, sering kali ia datang ke kampus Clara menanyakan kepada teman-teman dan juga dosennya tapi masih saja Nihil.



"ARRRGGHH!!!"



"Pyaaaarr"



Vano mengepalkan kuat-kuat tangan kanannya, meninju sekecang-kencangya cermin yang ada di depannya.



Mendengar itu Vivian berlari menuju suara itu yang bersumber di dalam kamar Vano.



"Van! Kamu kenapa, Nak?" panik Vivian.



Vano diam tidak menjawab, darah mengucur deras dari jari-jari tangannya.



"Bi Narti, tolong ambilkan saya P3K," teriak Vivian.



Tak lama kemudian P3K datang tapi.bukan bi Narti. Melainkan Raisha.



"Kamu kenapa lakukan ini, Sayang?" tanya Raisha panik



"Pergilah, aku bisa urus putraku sendiri, dan ingat kebusukan tidak selamanya akan tertutupi," ketus Vivian kepada Raisha sambil merampas paksa P3K di tangannya.



Raisha pergi meninggalkan Vivian dan Vano dalam kamarnya, 'Kebusukan yang mana calon mama mertua? Toh tinggal nunggu hari saja aku sudah akan menikah dengan Vano, dan anakku ini akan jadi pewaris tunggal,' batinnya sambil tersenyum sinis menuruni tangga.



"Van, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?"



"Maafkan ... " ucap Vano lemas. "Apakah Mama juga akan pergi seprti Clara dan Papa karena tidak mau melihat Raisha di sini?" ucap Vano dengan tatapan kosong.



Vivian meraih Vano memeluknya, "Kamu harus kuat, kamu tidak sendiri. Mama bersamamu, Nak."



"Tapi lusa Vano harus menikahi Raisha, padahal Vano .... "



"Sstttt, ingat kata Clara dulu, pasrah tawakal, berusaha dan cukup ikuti alurnya saja," ucap Vivian tersenyum menangkan Vano.



"Tapi dulu Vano bersamanya. Tapi sekarang di mana dia, satu pun dari kita tidak ada yang tahu, Hans dan teman-teman Clara sekarang menjauhiku.


-----



"Bagaimana? Apakah sudah siap?"



"Iya, ayo!"



"Dan, kamu duluan kita nanti dibelakangmu, lalu siap-siap Clara."



"Ok, siap."



"Anda siap sodara Vano?" tanya penghulu yang duduk di depan Vano dan Raisha.



"Vano tak menjawab, melainkan 1x anggukan kecil."



"SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN SODARA  REVANO WIJAYA BIN ANDREAN WIJAYA DENGAN SAUDARI RAISHA .... "



"STOP!"



Seluruh tamu undangan dan penghulu menoleh ke arah sember suara itu.



Raisha membelalak matanya tak percaya melihat Daniel datang dalam acara pernikahannya, "Daniel, bukankah kamu? .... "



Seketika wajah Raisha berubah pucat dan nampak ketakuan, tubuhnya pun juga gemeratan.



"Kenapa kamu Sha? Berfikir aku sudah mati? Lihat! Aku masih hidup," ucap Daniel sambil merentangkan rendah kedua tangannya.



"Vano! Kau ini dibohongi sama wanita ini, memang dia hamil, tapi bukan anakmu, akulah ayah dari anak itu," teriak Daniel lantang sambil menunjuk ke arah Raisha.


__ADS_1


"Heh, Daniel. Kamu mimpi apa bicara seperti itu? Kamu ga trima karena aku tolak lalu gila, hah?" teriak Raisha. Sedikit gagap.



Tak lama kemudian salah satu satpam yang bertugas di kantor keluarga Vano masuk dengan sebuah benda di tangannya, "Maaf, tiga bulan lalu saya menemukan ini jatuh dari tas Bu Raisha. Saya bawa ke  rumah sakit ternyata ini obat bius, anda mencampurkan pada kopi milik pak Vano."



Belum hilang Shock yang dirasakan Raisha, Lusi dan tim dokter lainnya datang, membawa sebuah map, "Raisa, kamu ini hamil uda jalan lima bulan, sedangkan Vano di hotel bersamamu baru dua bulan setemgah yang lalu, bagaimana mungkin bisa itu anak Vano? Oh maaf mungkin sebelumnya pernah. Tapi sayang, hasil DNA janin itu darah daging Daniel."



"TIDAK!"


Raisha berniat kabur, dia akan pergi tapi dua orang polisi menyabutnya di ambang pintu, "Selamat pagi. Kami dari kepolisian, ditugaskan untuk menangkap saudari Raisha atas percobaan pembunuhan yang dilakukannya terhadap saudara Daniel."



Dengan sigap Polisi itu menangkap Raisha, dan membawanya pergi dengan kedua tangannya diborgol.



Vano senang melihat kebenaran dirinya terungkapkan pula, dan Raisha sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya.



Saat itu juga pesta pernikahan yang tengah gagal dibuyarkan. Setelah sua tamu pulang, Vano berinisiatif mbujuk sang ayah untuk kembali berkumpul di rumahnya.



Di sebuah vila besar Vano memarkirkan mobil dan masuk ke dalam.



Sekian lama berjalan menyusuri tiap ruangan ia menemukan orang yang dicarinya di baklon belakang.



"Papa, ayo pulang sama Vano," ucapnya ragu-ragu.



"Pa, apa alasan Papa tidak mau pulang? Raisha sudah pergi, dan Vano juga terbukti tidak salah, Pa. Vano tidak menghamili Raisha."



"Apa itu saja sudah cukup? Gara-gara kamu Clara pergi entah kemana, apa kau sudah menemukan dia?"



"Vano akan berusaha, Pah."



"Heehmbb" ucap Andrean sambil mengangguk pelan, namun penuh wibawa.



"Kamu mau cari kemana adikku. Sedangkan kau tak tahu keberadaannya," ucap seorang pria berdarah Indonesia



"Hans?" lirih Vano



"Yaa, benar. Tiga bulan kamu mencari Clara ketemu, tidak? Atau minimal mengethaui tanda-tanda keberadaannya," sahut Eren yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.




Vano semakin bingung tidak mengerti, bagaimana bisa mama kandungnya bersamaan datang dengan mama tirinya, mereka tampak sangat akrab membincangkan sesuatu tapi apa entah.



"Milik kita bersama, ok," ucap Vivian.Hanya itu yang didengar oleh Vano .



"Vano, kamu ada di sini?" tegur Amanda.



Vano tidak menjawab, dia berkerut kening, 'harusnya aku yang bertanya pada kalian.' batinnya.



"Ya uda, kita akan makan malam bersama di sini, kamu ikut ya Van," ucap Vivian sambil berjalan menuju halaman belakang yang maha luas dan indah.



Ini adalah rumah yang baru saja Andrean beli dua bulan lalu dan dia tempati sendiri, dengan alasan tidak mau melihat pelakor di rumahnya.



Vano mengikuti mereka dari belakang dengan langkah lesu, namun dia kaget melihat pemandangan di meja makan halaman belakang di bawah rindangnya pohon akasia. Di sana duduk beberapa sahabat Clara yang lain, kalau tadi Hans dan Eren. Di sana ada Sely, Reza, Hengki dan Lusy.



Tunggu. Bukan mereka yang membuat Vano kaget, tapi sosok yang mereka pandang, mereka ajak berbincang dan tertawa riang.



"Clara? Clara kah itu?" gumam Vano tak percaya. Berkali-kali ia mengucek matanya, meyakinkan apa yang dilihatnya.



Karena Clara yang dilihat begitu berbeda, lebih berisi, lebih putih berseri dan nampak jauh bertambah cantik dengan balutan dres biru muda selutut.



Vano melangkah kan kakinya mendekat, meyakinkan bahwa pandangannya tidak salah.



"Clara!" panggil Vano.



Clara menoleh kearah suaminya yang selama ini sudah lama dirindukannya, sambil memberikan senyum terbaiknya.



Vano berlari mendekati Clara, kecanggunggan masih ada di wajahnya, jadi. Dia hanya memengan kedua tangan Clara.



Clara melepas tangan kanannya dari genggaman Vano. Dia menyentuh pipi Vano yang mulai ditumbuhi rambut halus, serta rambutnya yang mulai memanjang membuat ia terlihat dekil dan tak terawat..

__ADS_1



"Kamu apa kabar, sayang?" Tanya Clara matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.



"Aku baik, kamu sendiri bagaimana?" Vano memegangi punggung tangan Clara yang masih mengelus pipi dan rambutnya.



"Seperti yang kamu lihat, kami sehat-sehat saja," Clara tersenyum lalu memeluk Vano.



Rupanya Vano tidak fokus dengan apa diucap Clara kami itu.



"Kamu makin cantik aja dengan drees itu," puji Vano.



"Makasih, tapi kamu keliatan dekil, jarang mandi, ya? Maaf ya aku ga bisa rawat kamu."



"Van! Muka kamu mupeng banget, awas, jangan macem-macem, kamar kalian sudah kami lengkapi CCTV. Jika punya malu, jangan maen kuda-kudaan," sahut Hans tiba-tiba.



Vano bingung dengan ucapan Hans, bukan bingung pastinya jengkel.


Masa kamar dengan bini sendiri dipasang CCTV.



"Kamu lagi menstruasi?" tanya Vano, teringat kejadian malam pertamanya dulu.



Calara tersenyum sambil menggelengkan kepala.



"Lalu?"



Calara tersenyum meraih kedua telapak tangan Vano dan meletakkan pada perutnya, "Coba kamu rasakan!"



Telapak tangan Vano merasakan perut Clara seperti ada gerakan-gerakan halus di sana, tapi. Rupanya dia masih belum mengerti pula.



"Dia merindukanmu selama ini," ucap Clara.



"Maksutnya?"



Clara mendengus kesal, "Jadi kamu tidak ngerti?"



"Calon ayah! Bengong saja, bantuin angkat ini," seru Reza sambil memegang ujung meja besar.



Vano semakin bingung saja, "Kamu hamil?"



Clara mengangguk bahagia, "Iya sayang, dia milik kita."



Vano bertekuk lutu di hadapan Clara, memeluk perutnya dan menciuminya, "Hai, Sayang! Kamu pasti kangen ya sama papa? Maafin papa ya, mulai saat ini Papa janji akan jaga kalian berdua."



Clara meneteskan air mata kbahagiaan bercampur haru, sambil sesekali mengusap rambut Vano.



Vano kembali berdiri mencium kening Clara dan memeluknya erat, "Maafkan aku sayang, maafkan aku. Belum bisa jadi suami dan ayah yang baik."



"Vano, sepertinya Clara sudah sangat kelelahan. Ajak dia istirahat, gih!" seru Amanda.



"Inget CCTV bro," kembali Hans menggoda Vano sambil menepuk pundaknya.



"Untung kamu sobatku dan sepupu kesayangan istriku, kalau tidak .... " Vano mengepalkan kedua tangannya.



"Kalau tidak apa? Dia calon suamiku," sahut Eren.



"Hah?" Kembali Vano bengong, banyak hal terjadi selama tiga bulan terakhir, dan dia tidak mengetahui apapun. Pikirannya hanya tertuju kepada Clara saja.



"Uda jangan bengong, tu bininya sudah kelelahan. Ibu hamil ga baik terlalu capek," ujar Hans.



Vano diam sesaat, memandang Clara. Keduanya saling tersenyum, dan tanpa pikir panjang Vano menggendong isterinya membawa pergi dari keramaian.



Clara terkejut dan berteriak, "Van, turunin aku, jangan gini aku malu."



Vano tidak menghiraukannya, dan terus membawanya pergi sampai tiba di kamar, mendudukan isterinya di atas meja rias.



Cukup lama keduanya saling menatap tanpa sepatah katapun.

__ADS_1




__ADS_2