
Tiba di perusahaan Al. Zahara langsung menemui resepsionis
untuk menanyakan keberadaan big boss mereka.
“Mbak, permisi. Saya ingin menemui pak Al. apakah beliau ada
di tempat?”
“Tapi ini masih jam istirahat, Bu. Mohon maaf,” jawab salah satu dari dua wanita yang berdiri di tempat resepsionis.
“apakah masalah jika saya hanya akan menemuinya selama lima
menit saja? Tolong telfon dia dan katakana kalau ada wanita bernama Zahara
mencarinya,” ucap Zahara dengan sedikit ketus.
Tak ingin dikata tidak memiliki rasa hormat terhadap tamu,
wanita itu pun akhirnya menghubungi. atasannya. Sengaja dia menggunakan telfon
kantor. Karena ia tidak melihat kalau atasannya keluar dari dalam ruangannya.
Begitu mendapatkan konfirmasi, wanita itu menujukkan letak ruangan bossnya.
Dengan sedikit tergesa-gesa Zahara menuju ruangan yang
ditunjukkan oeh resepsionis barusan. Tiba di sana rupanya Al sudah menantinya.
“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Al. sambil memandang
pada wanita yang tengah berdiri di ambang pintu ruangannya.
“Apakah Alex baru saja tiba di sini, Al?”
“Ya, kau benar. Tapi, ia sudah lama kembali. Apakah ada
masalah?”
“Kau tahu ke mana dia pergi? Kurasa dia memang ada sesuatu
yang di sembunyikan dariku.”
“Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian, Zahara.
Apapun, masalah kalian, pecahkan sendiri temukan solusinya berdua, jangan bawa ke luar.”
Al nampak jengah dan sangat bosan melihat Zahara. Apalagi mendengarkan
celotehannya yang terkesan tidak penting itu.
“kau tidak bisa begitu. Karena, ini juga menyangkut dengan
rumah tanggamu. Mungkin juga Queen tak lagi jujur dengan mu. Apa kau tahu itu?”
“Apa maksutmu kau berkata demikian?” tanya Al dengan nada
yang mulai meninggi.
“Kau tahu kenapa aku bingung mencarinya? Karena aku
mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.” Zahara mengeluarkan benda
pipih dari dalam tasnya dan membuka sebuah pesan wa yang menunjukkan beberapa
foto yang sebenarnya dia sendiri yang mengambilnya.
Al mengamati gerak gerik Zahra yang terkesan aneh dan kaku.
“Inilah alasanku mengapa aku terlalu cemburu dan posesif
pada suamiku, dan mengapa aku terlalu benci padanya. Aku merasa kalau mereka
masih belum bisa move on Al.
Al diam sesaat. Mengambil ponsel dari tanga Zahara dan
mengamati foto tersebut. Gambar dua orang itu benar-benar Queen dan Alex atau
bukan. Tapi, jika dilihat dari tanggal waktu serta baju yang mereka kenakan. Harusnya iya dan bukan editan.
“Mungkin tanpa sengaja mereka bertemu di sana dan makan
bareng,” jawab Al dengan muka yang memerah karena menahan amarah.
“Tidak sengaja bertemu, Al? kalau tidak sengaja bertemu di
mall, di jalan dan di restoran itu masuk akal. Tapi, ini di tempat sepi, Al. apakah
kau tidak berfikir mereka melakukan hal yang macam-macam?” ucap Zahara terus
mengompori Al.
“Zahara, mereka berdua itu sudah sama-sama dewasa dan
sama-sama memiliki uang. Kalau memang mereka ingin berselingkuh dan melakukan
sesuatu yang macam-macam, kenapa di hutan? Apakah mereka tidak bisa membayar
hotel? Sekarang kau pergi," ucap Al masih dengan nada datar. Tapi, tidak dengan
hatinya.
“Bagaimana bisa kau mengusirku, Al? ini sungguh tidak masuk
akal. Kau benar, mereka bisa membayar sewa hotel atau vila. Tapi, apakah
mereka juga tidak cerdas, kenapa mereka di sana? Mungkun jika di hotel dan vila
takut terlihat dengan orang yang mereka kenal.
“Aku percaya dengan istriku, Zahara. Dia tak mungkin
melakukan hal serendah itu.”
“Terserah kau saja. Tapi, jika kau mau balas dendam dengan
mereka, aku siap membantumu.” Zahara berjalan menghampiri Al. wanita itu bisa
merasakan emosi pria yang berada di depannya. Disentuhnya punggung, dan
merambat ke depan lalu dada hingga Pundak. “Kita bisa balas dendam dengan
membalas perbuatan mereka dengan sama-sama selingkuh, Al,” ucap Zahara sambil
menatap Al dengan tatapan menggoda.
“Kau pergilah dari sini cepat. Atau aku kan panggilkan
satpam untuk melemparmu keluar?” bentak Al karena rasa sabarnya sudah hilang.
Merasa gagal memprovokator Al, dengan hati kesal wanita itu
pun pergi meniggalkan kantor dan pulang ke rumahnya. Lagi-lagi keberuntungan
berpihak padanya. Alex masih belum tiba di rumah. Ia bisa melanjutkan
sandiwaranya untuk marah-marah dan seolah yang menjadikan dirinya berubah
__ADS_1
adalah Alex dan Queen.
Tak lama kemudian Alex tiba dan menghampiri Zahara yang
berada di dalam kamar mereka. “Maaf jika lama membuatmu menunggu, Zahara.”
“Sudah cukup kencannya?” tanya Zahara tanpa memandang ke
arah suaminya yang baru saja tiba.
“Kencan? Apa sih maksutmu, Sayang?” tanya Alex bingung.
Karena ia tidak merasa tengah berkencan dengan siapapun selain bertemu dengan
Al dan Queen.
Dengan sigap wanita yang menggenakan setelan pakaian syar’i
berwarna kombinasi hitam dan merah itu mengambil benda pipih yang ada di
hadapannya. Kemudian menunjukkan kepada Alex sambil menangis terisak. “Lalu, ini apa, Lex?” tanya Zahara.
“Apa, Ra?” Alex seketika terkejut mendapati gambar dirinya
bersama Queen di dua tempat. Memang ia tadi sempat saling memandang serta melempar
senyum satu sama lain setelah dia menggantikan ban mobil milik Queen. Dan
setelah itu, ia juga memang sempat makan siang di sebuah restoran sebagai
ucapan rasa terima kasih mantan istrinya itu.
“Kau seharian keluar hanya untuk menemui dia, kan? Dan itu
seperti hutan. Kalian habis ngapain saja, Alex? ini yang membuat aku benci pada Queen dan
posesfif ke kamu. Tapi, kenapa kau tidak pernah intropeksi diri?”
“Dari mana kau dapatkan gambar-gambar ini?”
“Tidak penting aku dapatkan gambar ini dari mana. Yang jelas
ini asli dan bukan editan. Bahkan, baju yang kau kenakan juga masih sama, kan?”
ucap Zahara sambil terisak.
“itu tidak seperti yang kau pikirkan tadi itu ban mobilnya
kempes dan aku yang bantu menggantinya, Zahara dan sebagai ucapa terimakasihnya,
dia mentraktirku makan.”
“Lalu, kenapa bisa dia berada di tempat terpencil seperti
itu? kau tidak tahu? Hah? Kenapa harus kamu yang dimintai tolong, Lex? Apakah
tidak ada orang lain? Apakah dia tidk punya suami?”
“Cukup Zahara.” Alex yang benar-benar kehilangan kendali pun
menampar pipi Zahara. Setelahnya ia tersadar, memandang telapak tangannya
sendiri lalu pergi meninggalkan kamar tersebut dengan rasa penuh penyesalan
karena telah menampar seorang wanita.
“Berani dia menamparku? Awas saja, kau!” runtuk Zahara
emosi.
***
pria itu sudah menunggu istrinya di tempat biasa. Di dekat gerbang rumah sakit.
Pria itu memang tidak pernah masuk menuju tempat parkir. Dia lebih suka
menunggu di luar saja.
Baru saja Al hendak menyalakan sebatang rokok, seorang
wanita tersenyum di depan jendela masih mengenakan jas putih yang menujukkan
identitasnya sebagai seorang dokter.
‘’Kau sudah mwnunggu lama, Beb?” tanya wanita itu sambil
menujukkan senyuman ramahnya.
Dengan wajah jengah pria yang berada di dalam mobil itu pun
meletakkan sebatang rokok dan korek di tangannya ke atas dashboard dan
membukakan pintu mobil tanpa memandang ke arah Queen.
“kok diam saja? Sudah lama, ya?” ucap Queen sambil mendekatkan
wajahnya hendak mencium pipi suaminya. Tapi, pria itu menahan wajah Queen.
“Kenapa?" Queen menatap Al lekat dengan wajah yang penuh
dengan tanda tanya.
“Ada yang perlu kubicarakan sama kamu,” jawab Al dengan
pandangan lurus ke depan menuju jalan di hadapannya.
“Mau ngomong, apa? Bicara saja,” ucap Queen lirih. Ia merasa
ada yang tidak beres dengan Al. tapi, kenapa?
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Al melajukan kendaraannya.
Selama di jalan mereka sama-sama membisu. Tak ada obrolan sama sekali. Queen
jika sudah mendapati suaminya seperti ini juga akan selalu lebih memilih untuk
diam saja. Sebab, ia tahu. Bicara pun juga percuma. Yang ada malah bertengkar nanti.
Di sebuah café, Al menghentikan mobilnya di parkiran. Kemudian
mengajak Queen untuk turun. Masih dalam keadaan membisu, wanita itu keluar dari
mobil dan berjalan mengikuti Al dari belakang.
Sepertinya Al memang sudah menyiapkan segalanya. Café yang
bisanya jam sepuluh masih ramai, ini juga lumayan sepi. Terlebih, meja yang
terletak di dekat meja yang mereka tempati. Tak lama kemudian beberapa pelayan
datang. Tapi, mereka tidak membawakan daftar menu dan catatan. Melainkan nampan
berisi makanan yang tertutup rapat oleh tudung saji.
Dari situlah, Queen tidak bisa lagi menahan untuk bertanya. “Kau
sudah mempersiapkan semua ini, Al?”
__ADS_1
“Ya, sudah sejak jauh hari,” jawab Al masih dengan nada
suara yang datar.
“Makasih,” jawab Queen tak kalah datar dan dingin. Moment yang
seharusnya mebahagiaan begini, kenapa harus menjadi dingin dan terasa hambar? Dia
di sini bersama suaminya. Tapi, seolah dengan orang lain. Kenapa begini? Lagi-lagi
hanya kenapa dan mengapa saja yang terlitas di benak Queen. Memang harusnya
mereka dalam keadaan yang baik-baik saja, kan? Tadi siang juga masih saling
bercanda. Apa yang membuatnya berubah?
“Setelah dari kantor kau ke mana saja tadi?”
“Awalnya mau langsung jemput Berlyn, Al. tapi, di jalan aku
melihat mobil Zahara. Karena penasaran, aku mengikutinya. Sebab, dia melewati jalur yang
tak wajar. Takut hal buruk terjadi, aku akhirnya menghubungi Alex, aku merasa
dia tidak beras. Jadi, maksut… “
Belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya Al sudah menyumpal
bibir tipis wanita dihadappannya dengan sebuah ciuman.
Queen diam merasakan emosi yang mengalir dari napas suaminya
yang berhembus. Ini terkesan santai, tapi menuntut. ‘Kenapa dia sebenarnya? Marah,
atau tidak mau mendengar penjelasanku? Apakah ada yang salah?’ gumamnya dalam hati.
Al melepaskan cimumannya tapi, jarak mereka masih sangat dekat,
kedua hidung mereka masih saling bersentuhan, sehingga mereka dapat merasakan kalau napasnya saling bertukar. “Jawab dengan jujur. Apakah ada pria lain di hatiku selain kamu?”
“Tentu saja tidak. Kau ini, kenapa?”
“Apakah Alex masih ada di hatimu?”
“Sama sekali tidak. Kau ini kenapa, Al.”
Al tersenyum miring dan menjauhkan wajahnya dari wajah
Queen. “Jelaskan apa ini!” Al melempar ponselnya yang berisi foto dia bersama Alex siang tadi di hadapan Queen.
Queen tersenyum dan memandang ke arah pria yang tengah
menahan marah di depannya. “Wah, bagus ya hasil jepretannya? Pasti yang mengambil
adalah fotografer handal. Lihat! Aku terlihat sangat cantik dan anggun. Camestri
dengan Alex juga seolah ada,” ucap Queen sambil tertawa renyah tanpa beban. Tak peduli seberapa marahnya Al karena cemburu. Tapi ia tahan.
“Kamu kok santai banget, sih? Apa pantas, sih kamu kek gini
dengan mantan suami? Kau sudah berkeluarga, Queen. Begitu pun juga Alex,” ucap
Al lirih sambil menatap tajam pada istriya yang sedikit pun tidak merasa
bersalah sama sekali.
“Habis mau gimana? Nyatanya sekaligus foto ini asli, tapi
rekayasa saja kok. Mirip video di tik tok dan pas bikin film. Adegannya bagus
dan penuh aksi, romantic dan apalah. Tapi, nyatanya juga banyak yang tertawa
karena kurang fokus. Lalu, diulangi terus sampai benar, atau di edit biar sempurna.
“Bisa kau jelaskan?”
“Aku sudah menjelaskannya tadi. Tapi, kau malah menghentikannya,”
jawab Queen sambil meraih segelas softdrink di depannya karena mulut dan
giginya terasa kering karena tertawa dan tersenyum terus sejak tadi.
“Ya sudah. Apa sebenarnya yang terjadi tadi,” tanya Al,
dengan nada bicara yang sudah tak sedatar sebelumnya.
“Aku mengikuti Zahara bersama Alex, dan di sana kami kehilangan
jejaknya. Lalu, tiba-tiba saat aku ingin meninggalkan area terkutuk itu ban
mobilku kempes, dan Alex lah yang mengganti, sementara aku menunggunya duduk di
cup mobil miliknya dan dia datang menghampiriku dan mengatakan sudah beres dan aku
mentraktirnya makan sebagai ucapan terimakasih," jelas Queen panjang lebar.
Al tertawa tertahan mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bagaimana
bisa ia terbawa emosi dan percaya saja dengan apa yang Zahara katakana. Dari segi
foto juga terlihat sekali kalau ada yang aneh.
“Pejamkan mata mu, Sayang. Aku beri kamu hadiah.”
“Apa? Aku kok ilfeel, ya sama kamu?” ucap Queen menatap Al
dengan tatapan penuh intimidasi.
“Baikla. Tetap pada posisimu. Jangan menolah jika memang kau
tak mau memejamkan mata kamu,” ucap Al kemudian ia beranjak dari tempat duduknya
dan berdiri di belakang Queen. Kemudian ia mengeluarkan sebuah box kecil dari
dalam saku celananya lalu, membuka box tersebut dan mengeluarkan benda dari
dalamnya. Sebuah kalung emas putih dengan leontin blue safir yang indah, menawan dan elegan.
“Apa ini, Al? Wow. Indah sekali Al,” ucap Queen merasa
surprieses dengan pemberian suaminya. Ia mendongkak ke atas, dan mendapati
wajah Al yang masih saja terlihat datar. Apakah dia masih marah? Pikir Queen.
“Aku gak mau tahu. Kau harus selalu tetap memakainya. Aku tidak
menerima penolakan,'’ ucap Al datar.
“Ini mewah banget, Al. buah sehari-hari kayaknya kurang pas.”
“Aku gak mau tahu. Harus tetap kamu pakai sekalipun kau
sedang mandi,” jawab Al.
“Baiklah, Mr.Al.” Queen beranjak dan mengecup pipi Al.
Lalu mereka pun makan malam bersama, dan pulang setelahnya tanpa ada masalah lagi. Bahkan di sepanjang perjalanan keduanya juga saling bercengkrama dan bercanda.
__ADS_1
Seperti yang pernah Al katakan beberapa waktu lalu. Mereka tidak akan melakukan hubungan badan di rumah. jadi, malam ini mereka pergi ke tempat di mana Queen dulu dibawa kabur Al dari pertunangannya sendiri. Keesokan paginya, barulah ia kembali ke rumah untuk memulai aktifitas masing-masing.