
Setelah Lyli di seret keluar oleh Karin, Al meminta semua
karyawan yang ada di depan ruangannya bubar, dan kembali ke tempatnya
masing-masing. Ketika di dalam ruangan tersebut hanya ada dia dan pak Darto, Al
tak segan-segan memuji siasat yang si tua itu pakai. Benar-benar bersih dan
rapi.
“Cara anda sangat bagus sekali, Pak. Sayang sekali istri
saya tidak lihat,” ucap Al.
“Saya hanya pemeran saja, Pak. Dalang di balik semua ini
adalah Bondan. Dia yang memiliki ide dan mengatur semuanya,” jawab pak tua kw
nya kakek Sugiono tersebut.
“Peran yang bagus. Kemarahan anda sangat natural, sekali. Tak
nampak kalau itu hanya bagian dari konspirasi,” ucap Al lagi.
“Sebenarnya itu bukan sebagian dari permainan ini, Tuan. Saya
benar-benar marah. Karena saya tidak menyangka kalau dia sampai memiliki
rencana sebusuk itu. awalnya dia berkata tentang dokter Queen saya iyakan saja.
Karena saya pikir saya tidak memiliki hubungan yang baik dengan beliau. Maafkan
saya atas ketidak tahuan saya, Pak. Saya juga tidak tahu kalau di sini anda
menggunakan nama Al. saya benar-benar kaget malam itu saat anda datang ke rumah
bersama ibu Queen dan mengatakan kalau beliau adalah istri anda,” ucap pria tua
itu dengan santun.
“Tidak masalah selama anda dan anak buah anda tidak sampai
menyentuh istriku,” jawab Al.
“Saya datang ke mari untuk meminta maas yang
sebesar-besarnya pada anda, secara pribadi, Tuan.”
“Di maafkan.”
****
Melihat Karin menyeret Lyli dan melemparkannya ke dalam
mobil dengan kasar buru-buru Bondan menyusul teman kerjanyanya itu. ia tahu,
akan di bawa ke mana wanita itu oleh Karin. Jadi, dia tidak begitu
terburu-buru. Sekalian memberi waktu Karin melakukan sesuatu pada Lyli.
Ternyata benar. Tidak mungkin seorang Karin memberi ampun
dan belas kasihan pada orang yang berani menghianati bosnya. Saat ia tiba di rumah besar yang dulu memang diberikan pada Lyli oleh bossnya, Karin menghajar
Lyli dengan cambuk sampai seluruh badannya terdapat bekas yang membiru.
“Karin, ada apa ini? Kau kenapa menghajar Nyonya?” tanya
Bondan berlagak bingung.
“Kenapa? Tanyakan padanya sendiri!” seru Karin, kemudian
kembali memberi cambukan pada tubuh Lyli yang masih dalam keadaan kedua
tangannya diborgol.
“Stop dulu, Rin! Bagaimana aku bisa tanya dan berbicara
padanya kalau dia terus-terusan kau hajar begini?” ucap Bondan berusaha
menghentikan.
Bersamaan dengan itu, pak Darto juga sudah tiba ditempat. Pria
tua itu berdiri tepat di balakang Bondan.
“Dia mencoba mempermainkan aku, Bondan. Untung saja aku
segera kembali dan ada urusan dengan perusahaan milik pak Alfa. Jika tidak,
mungkin dia akan merayu pria lain dan meminta agar pria itu membunuhku.”
“Apakah benar begitu, Nyonya? Apakah pria yang boss maksut
itu adalah Al? Suaminya Queen, bukan?” tanya Bondan lagi.
Tak ada jawaban dari mulut Lyli. Mungkin dia merasakan
sakit, perih dan panasnya bekas cambukan di sekujur tubuhnya.
“Boss. Maafkan saya jika saya turut melancarkan rencananya.
Jujur, saya yang mengatur pertemuan antara Nyonya dengan pria itu tadi. Itu pun juga karena misi dia untuk balas dendam dia ingin menyakiti Queen sebagai balas dendam dengan cara mengambil suaminya. Setelah selesai, dia juga akan campakkan
pria itu.”
“Itu alasan dia saja, Bondan. Aku dengar dengan mata
kepalaku sendiri. Di dalam ruangan pak Al dia terus merayu dan rela jadi
simpanannya. Dia tersiksa bersamaku dan minta pak Al agar membunuhku agar dia bisa bebas.”
__ADS_1
Lyli diam dan kesal atas nasibnya ini. Tiba-tiba terlintas
di benaknya kalau Bondan bisa bersama wanita mana pun asal bukan dengan wanita simpanan si tua itu. jadi, dia bermaksut menyeret juga Bondan bersamanya. Karena, bagaimana pun Bondan juga bersalah dan pantas dihukum.
“Bondan. Aku diperlakukan begini karena bersalah, bukan?
Bagaimana dengan kamu? Kau menikmati tubuhku beberapa kali,” ucap Lyli sambil tertawa. Meskipun ia merasa sakit yang teramat sangat luar biasa.
“Kau bilang apa, Nyonya? Coba ulangi sekali lagi,” ucap
Bondan sambil tertawa canggung.
“Kau menikmati tubuhku selama ini,” ucap Lyli sekali lagi
dengan keras, dan napas terenga-engah menahan sakit.
Karin mendengar dan melihat bagaimana ekspresi dua orang itu
mulai mengayunkan cambuknya pada Lyli, dan berseru, “Benar apa yang boss
katakan. Kau memang wanita setengah gila. Kata-katamu tak bisa dipercaya. Semua yang ada justru malah kebalikannya. Ucap Karin.
“Kali ini aku benar. Tanyakan saja pada pria itu jika kalian tidak percaya. Aku selama ini diam-diam ada main dengannya,” teriak Lyli.
“Bondan, apa benar yang Lyli katakana?” tanya pak Darto dengan nada dingin, dan menatap pria itu dengan tatapan penuh selidik.
“saya tidak perlu berkata benar apa tidak, Tuan. Selama ini,
apakah saya berani menghianati anda? Yang saya katakana juga selalu benar.
Seperti halnya tadi, saya lah yang membantu Lyli agar bisa bertemu dan merayu Al. saya juga tidak tahu, bagaimana anda bisa memiliki hubungan dengan orang bernama Al itu. Saya juga terkejut, bagaimana bisa anda berada di sini, karena saya tahu anda berada di luar negeri.”
“jadi, kau tidak ada main dengannya?”
“Saya tidak akan selancang itu, Tuan.”
“kau munafik, Bondan. Kau bohong. Sudah berkali-kali kau
menggauliku. Tapi, kau tak mau mengakuinya,” teriak Lyli dengan kesal.
“Terserah kau boleh menuduhku apa saja. Tapi, sertakan
buktinya!” tantang Bondan. Sementara Lyli diam tidak berkutik. Dia setiap kali
merayu Bondan juga Ketika di tempat-tempat yang tidak terekam oleh cctv. Tapi, jika pun iya, tetap saja dia yang salah. Karena dia yang merayunya lebih dulu.
Bondan diam memperhatikan keadaan. Kemudian mengeluarkan
ponselnya dan memutar rekaman recorder perbincangannya di jalan tol saat ia dan Lyli hendak ke Bandung pasca tanpa sengaja ia membunuh ibu king of bossnya.
“Boss. Tolong dengarkan ini,” pinta Bondan sambil memberikan
ponselnya yang sudah siap setel hasil rekaman. Di sana juga sudah tercantum
tanggal dan jamnya.
Pak Darto menatap tajam pada Bondan, dengan mantap
“Bondan, aku tahu kau diam karena terkagum oleh kecantikan
wanita yang datang marah-marah padaku atas kematian papanya tadi, kan? Bagaimana kalau kita bekerja sama saja.” Terdengar suara seorang wanita berbicara di sana. Yang di duga kuat itu adalah suara Lyli.
Setelah seuasana cukup lama hening, sekitar limabelas detik,
terdengar jawaban seorang pria dengan suara malas.
“Apa?”
Kembali, wanita itu menyahut, dan menjelaskan kerja sama
yang dia maksud tadi. “Kau menginginkan wanita itu, bukan? Dia Namanya Queen. Dan aku menginginkan suaminya. Aku bantu kau dapatkan dia. Tapi, bantu aku agar bisa mendapatkan suaminya. Suami wanita itu adalah cinta pertamaku, Bondan. Si Al.”
“Kau bermaksut menghianati boss? Ingat, seperti apa
perjanjian kontrak dengan boss yang sudah kau tandatangani. Dan kau pasti juga tahu konsekwensinya, jika berhianat, bukan?”
Seketika suara hening. Tak ada jawaban dari wanita itu.
“Jika aku, bebas mau dengan wanita mana yang kumau, dan
melakukan apapun yang kubisa untuk mendapatkannya. Selama, wanita itu bukan wanitanya si boss.”
Lagi-lagi suara menjadi hening cukup lama. Pak Darto melihat
pada recorder tersebut. Masih belum selesai. Sebenarnya ia sudah bosan menunggu
dan tak kunjung keluar suara. Tapi, saat ia hendak memberikan ponselnya pada Bodan, kembali, suara Lyli yang muncul.
“Tenang Bonda. Aku Cuma mau balas dendam saja. Aku ingin
Queen merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang dia cintai. Orangtuaku
mati karenanya. Dan Al juga diambil olehnya. Aku akan izn tuan dulu. Jika dia mengizinkan aku melaksanakan rencanaku, kau bantu aku, ya?”
Pak Darto tertawa miring sambil memandang Lyli dengan
tatapan jijik.
“Karin, cambuk dia sampai limapuluh kali. Jangan biarkan dia
mati. Dan kau Bondan! Ambil air garam dan siramkan padanya nanti,” ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah selasai memberi cambukkan dan menyiram dengan air
garam, Karin melepas semua oerhiasan yang Lyli kenakan. Ia hanya diizinkan
mengenakan baju daster biasa yang bahkan pembantu di sana tidak memakainya,
serta alas kaki sendal jepit biasa. Setelah itu, dengan sengaja, Lyli di buang di dekat klinik milik Queen. Agar Queen tahu, kalau wanita jahat yang telah melakukan hal buruk pada keluarganya telah menerima karmanya.
****
__ADS_1
Setiba dari klinik, Queen langsung disambut putrinya. Queen
tersenyum melihat putrinya yang langsung menunjukkan tulisan welcome mama.
“Terimakasih, Sayang. Kau apa kabar? Maaf, ya mama seharian
sibuk sendiri. Mama janji. Karena itu klinik sudah milik mama sendiri, mama akan bekerja maximal tiga jam dalam sehari. Sisanya, mama akan menemani Berlyn di rumah dan jalan-jalan, bagaimana?”
Gadis itu tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Kemudian
dia memeluk Queen.
“Makan apa siang tadi, Sayang?” tanya Queen.
Dengan cepat gadis kecil itu menulis di balik kertas putih
yang tertuliskan kata sambutan padanhya tadi.
“Bibi memasakkan Berlyn tumis brocoly dan udang. Dan lauknya
bola-bola tahu.”
“Wah, baik banget, sih bibi? Enak tidak bola-bola tahunya?”
tanya Queen sambil duduk di sofa ruang tamu meletakkan rasa penatnya karena seharian bekerja. Wajarlah. Karena klinik juga baru beroprasi setidaknya dia
harus sering-sering dulu di sana. Karena dia sendiri juga seorang dokter. Dan berdirinya klinik itu juga di kenal itu adalah miliknya. Jadi, siapapun pasien
yang datang. Pasti berharapnya dipriksa olehnya secara langsung, bukan yang lain. Tapi, mana boleh buat, dia juga memiliki anak berkebutuhan kusus yang juga butuh banyak waktu untuk ditemani olehnya.
“Sayang. Mama mandi dulu, ya? habis ini mama temanin
belajar. Bagaimana?” tanya Queen pada putrinya.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum baru saja Queen hendak
beranjak, ponsel dari dalam tasnya berdering. Jadi, ia duduk kembali dan
melihat. Siapa yang menelfonnya.
“Ama kamu video call, Sayang. Kamu kemarilah!” ucap Queen
saat ia sudah mengangkat panggilannya.
“Kau sudah di rumah sayang. Di mana Berlyn?” tanya wanita itu.”
“Ini, Mam. Kebetulan pas lagi ngobrol sama Berlyn juga. Di
mana Clarissa?” tanya Queen terus menatap ke arah layar ponselnya.
Jeslyn tersenyum dan menunjukkan Clarissa yanga hanya diam
dan juga tersenyum saja. Karenajarak waktu di Singapura dan Indonesia selisih satu jam lebih cepat, pasti ini juga sudah saatnhya jam makan malam. Karena mamanya biasa makan jam setengah enam sore.
“Sayang. Kau sudah makan malam belum? Ama memasakkan apa
untukmu?” tanya Queen. Tapi, gadis kecil itu hanya diam tidak menjawab. Malah menghindari kamera dan bersembunyi di balik tubuh Jeslyn.
“Clarissa kenapa, Ma? Apakah dia sakit?” tanya Queen mulai
khawatir. Sebab, ia tidak biasa begitu.
“Oh, tidak masalah. dia Cuma sariawan saja. Di sini sedang
kemarau. Tapi, hawanya sangat dingin. Jadi membuat kering dan pecah-pecah. Termasuk dia, kena panas dalam.”
“Oh, sudah minum obat atau larutan?” tanya Queen panik.
“Sudah. Cuma katanya masih perih, kalau dibuat ngomong. Jadi
ya gitu. Dia lebih banyak diam saja.”
“Dingin banget, ya Ma kalau malam? Ke kulit kering apangimana? Jangan-jangan dehidrasi. Jangan boleh minun air dingin dari kulkas,
Clarissa, Ma,” ucap Queen panjang lebar.
“Iya, Sayang. Sudah mami kasih tahu dia. Kamu baru pulang
kerja, ya?”
“Iya, nih Mam. Baru saja tiba dari klinik.”
“Al masih belum pulang?”
“belum, Ma. Dia kembali ngurus dua perusahaan sekaligus.
Jadi sering pulangnya agak telat dan di rumah juga sering bangun malam buat lembur,” jawab Queen.
“Kalian yang sabar, ya? ya sudah, kamu mandi dulu, dan istirahat laj. Pasti kamu capek, baru pulang kerja. Mamiurus.Clarissa dulu, oke? Jika ada waktu, main lah kemari. Mami dan Clarissa merindukan kalian,” ucap Jeslyn sebelum mengakhiri video callnya.
Usai video call dengan mama mertuanya, Queen langsung
beranjak mandi. Sementara Berlyn putrinya dia berada di kamarnya, menunggu mamanya mandi sambil bermain game di PC yang biasa papanya gunakan untuk mengerjakan tugas ketika berada di rumah.
“Kau bermain apa, Sayang? Mama sudah selesai mandi, ayuk kita
belajar dulu sebentar sambil nunggu papa pulang,” ucap Queen begitu ia keluar dari dalam kamar mandi.
Kata-kata Queen itu ternyata cukup membuat putrinya
terkejut. Ia sampai tersentak dibuatnya. Mungkin karena saking fokusnya bermain,
bocah itu sampai terkejut. Buru-buru diloug outnya apa yag dipantenginya tadi.nGadis itu tersenyum pada Queen yang masih melilitkan handuk pada rambut basahnya usai kramas.
“Kamu terkejut? Maafin mama ya, Sayang?” ucap Queen merasa
bersalah. Bagaimana bisa putri kecilnya bisa sampai sekaget itu. padahal, dia berkata juga dengan volume normal.
Gadis kecil itu tersenyum dan mengeluarkan kepalanya. Seolah berkata kalau dirinya tidak apa-apa.
"Ya sudah, ayo kita belajar di ruang tengah, Sayang," ajak Queen pada putrinya.
__ADS_1