Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 50


__ADS_3

Sampai di pertengahan jalan, Axel bingung sendiri dengan keputusannya yang menyesatkan diri sendiri. Tapi, menyenangkan untuk Candra.


Memang, dia untuk pergi sendiri ke


tempat tante Queen juga canggung dan sedikit malu. Karena, memang belum terbiasa. Apalagi dia juga tidak tahu, mereka ada di rumah apa tidak. Mau putar arah ke tempat sahabatnya, si Ricky, juga sudah terlanjur mengajak serta Adriel. Kalau sampai adiknya ngomong sama mamanya, bisa dicincang hidup-hidup dia nanti


karena ketahuan berbohong.


Di tengah-tengah kekacauannya, akirnya ia pun punya ide juga. walau lesannya jahat dan licik, tapi akan tetap ia lakukan demi keselamatannya sendiri. Hanya saja,


lagi-lagi iya bingung, sehingga mobil melaju tanpa tujuan. Berputar-putar terus di persimpangan jalan.


“Kak Axel, kita bukannya mau ke rumah Berlyn, ya? kenapa


muter-muter di persimpangan jalan ini terus, sih? Kalau kek gini terus, kapan sampainya?” protes Adriel merasa


bingung dengan kakaknya.


 “Iya Adriel,” jawab Axel singkat.


Seketika pikirannya langsung tertuju pada Bilqis. Ia ingat


betul, kalau gadis itu sangat dekat dengan tante Queen sekalipun mama dan papa tiriya sudah lama bercerai. Axel berfikir ke sananya mengajak Bilqis saja.


Tapi, apakah Bilqis bersedia dan ada di rumah? Dia sudah dewasa dan mulai memiliki dunia sendiri, bahkan kemungkinan terburuk dia akan marah karena merasa dimanfaatkan saja olehnya.


Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas dashboard mobil. Tapi,


untuk menelfon, pria remaja itu masih saja tetap ragu. Bimbang antara iya dan tidak. Sempat ia menelfonnya. Tapi, buru-buru dimatikan oleh nya Ketika panggilan


belum tersambung. Dan hal itu terulang sampai lebih dari tiga kali.


Akhirnya, ia pun memutuskan datang begitu saja ke rumah


Bilqis. Tiba di sana dia juga bingung, mau ketok pintu, bertemu dengan mamanya gadis itu, atau menelfonnya dan menunggu di luar saja tanpa masuk dulu.


“Kak, mau ajak kak Bilqis juga, ya?’’ tanya Adriel, saat


mobil terparkir di depan gerbang rumah Bilqis.


“Iya. Kita ajak kak Bilqis ke sana,” jawab Axel sedikit tergagap.


“Ya sudah, lepaskan sabuk pengamanku, Kak.”


Axel melepaskan dengan cepat sabuk pengaman adiknya kemudian


membukakan pintunya. Ia pun turun. Sesampai di depan pintu gerbang, rasa ragu kembali menghinggapi pikirannya. Antara iya, atau tidak. Demi apa coba dia mendatangi rumah gadis itu sepagi


ini? Biasanya juga dia yang selalu datang lebih dulu ke rumahnya dengan


berbagai alasan yang sebagaian besar adalah tidak penting. Katang pula, tidak penting tapi sok dipenting-pentingin dengan alasan minta diajari ngerjain PR. Padahal


dia sendiri sebenarnya adalah anak yang cerdas.


“Ting tong!”


Tak mau menunggu lama kakaknya yang terus bengong di depan


gerbang, Adriel bocah berusia enam tahun itu berjinjit meraih bell rumah dan


memencetnya dengan harapan empunya rumah segera keluar untuk membukakan


gerbang. Karena di tempat ia berdiri sudah cukup panas.


“Adriel?” Axel terbelalak kaget. Bagaimana bisa bocah kecil


itu bisa bertindak lebih cepat darinya?


“Panas, Kak. Kau mau berjemur sampai kering, kah di sini?”


tanyanya. Sekaligus memberi jawaban dari apa yang baru saja kakaknya ucapkan.


Selang beberapa saat kemudian, seorang gadis mengenakan rok


berbahan katun berwarna khaki sepanjang lutut dan kaus lengan pendek warna


putih polos membuka pintu dan bergegas lari menuju pintu gerbang.


“Kak Axel? Tumben ke sini. Mari, masuk, Kak.” Sambut gadis


itu dengan senyuman serta mata yang berbinar, penuh keceriaan sambil membuka gerbang lebih lebar.


“Ada acara?” tanya Axel singkat.


“Tidak. Aku di rumah saja kak. Mama juga tidak ada. Masuk,


yuk!” serunya sambil menggandeng tangan kecil Adriel.


“ke tmepat tante Queen, yuk!”


Bilqis terdiam senyumnya tiba-tiba saja langsung mengambang.


Awalnya dia berfikir kalau pria itu mulai merasa kangen dengannya karena sudah


hampir satu bulan dia tidak lagi datang ke rumahnya. Tapi, nyatanya, dia salah. Ke sini hanya ingin menjengkuk mama Queen dan mungkin juga malu, akhirnya


mengajaknya.

__ADS_1


“Oh, mau jenguk mama Queen, ya? ayok sebentar, ya aku mabil


hp dulu sama ngunci pintu,” pamit Bilqis lalu beranjak pergi.


Sementara Axel dan Adriel yang memang tidak ada rencana


untuk mampir langgsung mengajak adiknya masuk ke dalam mobil. Kali ini Axel


meminta agar adiknya duduk di kursi belakang, bagaimana pun ia sudah meminta


tolong pada Bilqis. Jadi, ia membiarkan gadis itu duduk di depan dengannya.


Awalnya Bilqis merasa hanya dicari saat Axel butuh saja. Tapi,


ia tidak kebertan. Toh selama ini setiap kali dia datang ke tempat Axel juga dengan alasan minta diajari mengerjakan PR. Mungkin Axel benar-benar tidak mengerti


dengan maksut terselubungnya, dsn menganggap dia satang murni karena benar-benar perlu bantuannya. Jadi, apa alasannya dia marah, kan? Artinya ini sudah impas.


Setelah mengambil tas kecil untuk tempat dompet dan hp gadis


itu segera berlari keluar menutup serta mengunci pintu rumah dan juga gerbang.


“Masuk, sini!” seru Axel sambil membuka pintu mobil di


sebelah kemudi. Bilqis sedikit terkejut saja dengan apa yang Axel lakukan. Biasanya


dia juga selalu duduk di belakang. Ini kenapa malah minta adeknya yang di


belakang, ya? pikir Bilqis.


“Aku di sini, ya Kak?” tanya gadis itu meyakinkan.


Axel diam, ia hanya menjawab dengan anggukan pelan saja. Akhirnya


gadis itu pun duduk di depan. Tapi, keduanya saling membisu dan sama-sama diam seribu Bahasa. Axel sendiri memang bawaannya pendiam, tenang dan cool. Bertentangan


dengan Bilqis yang sedikit suka celometan. Tapi, semakin dewasa, ia semakin bisa menempatkan diri. bisa bawa diri dan menyesuaikan sikap dengan siapa


dirinya berhadapan. Dia juga sudah tidak lagi suka menjaili Axel lagi seperti dulu.


Setengah jam kemudian, mobil Axel yang di dalamnya ada Bilqis


dan juga Adriel sudah berada di depan gerbang rumah megah bernuansa timur itu. warna cat tembok pitih dan kombinasi emas sungguh memberi kesan yang mewah dan


sangat megah. Terlihat sekali, kalau penghuni rumah itu adalah seorang


konglomerat.


Dari dalam pos bercat putih, keluar seorang pria berpawakan tinggi


kecil buru-buru membuka pintu gerbang. Mungkin ini kali pertama Axel datang ke mari tanpa mengajak om, atau mamanya. Tapi, mobil ini sudah familiar di rumah


Turun dari mobil pun, Axel juga menunggu Bilqis. Ia meminta


gadis itu berjalan lebih dulu, dan dia berjalan mengekor bersama Adriel di


belakangnya.


“Bilis, tumben sekali ke sini dengan kak Axel. Mari,


masuklah,” sambut Queen dengan ramah.


“Mama Queen sudah sehat?” tanya Bilqis kala mendapati wanita itu sudah berjalan tanpa bantuan apapun.


“Sudah baikan, Cuma luka ringan saja, kok.” Wanita itu


mempersilahkan tamunya untuk duduk. Kemudian ia berjalan ke halaman belakang


menyusul Suami dan juga putrinnya yang tengah bermain catur di sana.


“Al, ada tamu, tuh,” ucap Queen menghampiri suami dan


putrinya yang sudah sedari tadi asik bermain catur.


“Siapa, Sayang?” tanya Al memalingkan pandangannya dari


papan cartur ke arah istrinya yang tengah berdiri di sampingnya.


“Ada Bilqis, Axel dan juga adiknya.”


“Sayang, ada kakak tuh di depan, ayuk kita sudahi dulu


mainnya. Kapan-kapan kita main lagi, oke?'’ ucap Al pada putrinya. Mereka pun berjalan ke depan lebih dulu. Sementara Queen membereskan catur dulu, dan kemudian menyusul sambil sekalian mengambilkan minuman untuk para tamunya.


Baru saja Queen meletakkan minumn di atas meja ruang tamu,


Al mengajak Axel bermain catur di halaman belakang. Padahal, sudah Queen bereskan. Tapi,


mau gimana lagi? Sudah jadi hobi suaminya sejak kecil dulu, selalu bermain


catur dengan mendiang kakek Andreas. Terlebih, mereka empat tahun di Jepang


bersama. Mungkin juga, di sana dia selama itu juga tiap hari bermain catur tanpa henti.


Sementara Berlym, dan Bilqis berada di dapur membuat cemilan,


karena mereka juga lagi sama-sama gak mood untuk keluar rumah.

__ADS_1


***


Tanpa terasa, tiga hari sudah Lyli berada di Jakarta. Selama


tiga hari juga, sugar dadynya selalu bersamanya, dan minta di layani terus.


“Sayang. Kamu, kan kaya. Pasti bisa lah beliin aku rumah di


mana saja selama masih bisa kau jangkau. Musuhku berada di sekitar sini, kenapa


aku tidak kau biarkan aku tinggal di sini saja, agar aku bisa melakukan apa


yang ingin aku lakukan pada mereka?” tanya Lyli pada si tua itu yang kini


tengah bermanja-manja di atas pangkuannya setelah berkeringat bersama.


“Jadi, kamu sudah gak mau nemapatin rumah kamu yang di


Bandung?” tanya si tua itu.


“Aku kesepian di sana. Aku jika di sini dan dapat berjumpa


dengan wanita ****** itu, aku bisa dengan mudah melakukan pembalasan dendamku,


bukankah kau sudah katakana untuk membantuku?”


“Iya, aku ingat. Ya sudah, tunggu sebentar, biar anak buahku


yang urus semua itu, aku akan kembali ke Bandung dulu karena ada urusan. Ingat, kau di sini hanya untuk balas dendam saja, tidak untuk mencari pria muda untuk


bersenang-senang, mengerti?” pria itu beranjak menelfon seseorang dan membahas


soal rumah yang letakknya tidak jauh dari tempat tinggal Queen. Mungkin sekitar


dua kilometer saja. Setelahnya, ia masuk ke kamar mandi dan segera bergegas pergi


setelahnya.


Sementara Lyli tersenyum lega. Dia sudah berhasil meyakinkan


si tua itu untuk memegang hp, dan kali ini, ia malah dengan mudah bisa


mendapatka rumah yang dekat dengan kediaman Al dan Queen.


"Lihat saja, Queen. Kelak kita akan sering bertemu. Aku mau tahu, nagaimana reaksimu setelah tahu apa yang kakak kesayangan mu lakukan padaku, dan keluargaku tujuh tahun silam. Apakah kau akan tetap sayang padanya dan mau jadi selingkuhannya diam-diam?" gumam Lyli seorang diri.


Sambil menunggu suruhan si tua yang menjadi sugar daddy nya, Lyli menghabiskan waktu untuk bermedsos. diambilnya memori card dari ponsel lamanya dulu. Kemudian, wanita itu memasukkan ke dalam ponsel barunya dengan harapan ia dapat menemukan kembali beberapa foto Al dan Queen saat berciuman di sebuah restoran dan keluar masuk hotel sambil berpelukan.


beberapa saat kemudian, bibir wanita itu melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Ia puas karena foto-foto itu masih utuh di sana.


"Kau tinggal menunggu saja. Sebentar lagi perselingkuhan kalian akan segera terbongkar. Kau, Al, Alex dan Nayla akan  bertengkar dan saling benci. Lihat saja."


"tok-tok-tok... !"


Dengan cepat Lyli menoleh ke arah pintu. Kemudian mempersilahkan orang di balik pintu tersebut masuk. Karena kebetulan ia tidak menguncinya.


"Masuk!"


Seorang pria berkulit hitam, dengan sorot mata tajam, mengenakan kalung rante membuat kesan sangar tersendiri. Dari bodynya yang tinggi besar dan berotot, sepertinya ia ahli gulat dan suka bertarung. terlebih lagi, penampilannya lebih mirip dengan seorang preman. membuat Lyli kian yakin saja. Dia salah satu andalan si tua itu.


"Bu Bunga, silakan ikut saya. kemasi barang dan berpindah me rumah baru anda," ucap pria itu dengan nada tegas.


Lyli tidak menjawab apapun selain menyeringai kecil. Ia tak menyangka kalau si tua itu akan sangat memanjakannya seperti ini. Baru saja tadi dia minta rumah di area Jakarta, dalam hitungan menit saja dia sudah dapatkan.


Dengan cepat wanita itu memberskan barang-barangnya, dengan bantuan pria bernama Bondan, Lyli membawa keluar semua barang miliknya dan beberapa baju milik si tua itu yang tertinggal keluar dari kamar tersebut.


"Sudah berapa lama, kau bekerja sama pak Darto, Bondan?" tanya Lyli, penasran.


"Kurang lebih dua tahunan. Ada, apa?"


"Tidak ada. Kalau tidak salah ingat, kau bodyguard pribadi beliau, ya?"


"Benar, dan mulai saat ini, saya ditugaskan untuk mengawal anda," jawab pria itu.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Lyli tanyakan pada pria itu. Tapi, ia sungkan. Lagipula, dia yang akan jadi pengawal pribadinya. Tidak buruk, dia bisa bertanya secara bertahap seiring kedekatan mereka berjalan.


setelah satu jam menempuh perjalanan, mobil yang ia kendarai memasuki area perumahan elit dinkawasan Jakarta pusat.


Lyli melihat semua bangunan rumah yang berjajar di dalam pagar itu. Tidak ada satupun rumah sederhana atau minimalis. Semua rumah yang ada di sini besar dan megah.


"Aku di belikan rumah di kawasan ini sama pak Darto?" Tanya Lyli, girang.


"Ya. Anda suka?"


"Tentu saja, suka. Suka sekali," jawab Lyli.


Kemudian mobil berhenti di depan rumah terbaik dari beberapa rumah yang sudah dia lihat. Awalnya dia tidak percaya. Tapi, memang nyatanya Bondan membuka pagar tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil untuk memasukkan ke dalam halaman.


"Di sini masih belum ada satpam, dan mungkin juga tidak akan pernah ada satpamnya. Mungkin, besok dua orang pembantu akan ada di sini untuk bekerja di rumah ini."


"Oke," jawab Lyli. Kemudian beranjak masuk ke dalam rumah megah itu dan melihat isinya. Sangat elegan dan mewah. Walau mungkin tak semewah rumah yang ia tempati di Bandung. Tapi, setidaknya di sini dia dekat dengan Al.


"Anda mau makan apa?"


Lyli baru sadar kalau kalau ini sudah pukul empat belas, saking senengnya mungkin, sampai melupakan jam makan siangnya. Lagipula, perutnya juga sudah mulai keroncongan.


"Terserah apa saja. aku mau makan makanan yang sama, sama kamu. Aku hanya perlu minuman dingin saja," jawab Lyli.

__ADS_1


"Di kulkas ada beberapa macam minuman dingin. Bahan makanan juga ada. Tapi, saya tidak bisa memasak," sahut Bondan.


"Oke, kalau begitu, tidak usah pesan apapun. Aku yang akan memasak untuk makan malam kita.


__ADS_2