
"Kamu mau pulang, apa tetap di sini? Papa dan mamaku sudah menunggu," ucap Alex kepada Queen.
"Kakak belum pulang, Lex. Dan jika kita pergi bagaimana? Tidak ada laki-laki di sini," jawab Queen dengan berat hati.
"Ya sudah tidak apa-apa. Aku telfon mama dulu dan memberi tahunya padanya." Alex pun meraba gawainya dan menscrol kontak dan memanggilnya.
Sementara Queen berusaha menelfon kakaknya, menanyakan dia ada di mana.
"Kak, kau di mana?" Tanya Queen begitu Al mengangkat panggilannya.
"Kakak masih ada meeting, sayang. Ada apa?"
"Apakah kau masih lama? Mertuaku menunggu kami di rumah Alex. Kalau ga pulang kasian mereka. Tapi, jika kami ke sana sekarang, bagaimana dengan rumah, kak? Gak ada laki-lakinya."
"Kalian pulang dulu tidak apa-apa, biar aku minta Vico ke sana," jawab Al dengan santai.
"Ok, baik kakak. Makasih."
Queen pun mematikan panggilannya dan mengajak Alex berpamitan. Karena teman kakaknya akan segera datang kemari. Jadi, mereka tidak kawatir lagi.
🍁 🍁 🍁 🍁
Al mengeluarkan napas lega. Beruntung dia masih ada di luar basecamp saat sang adik menelfonnya. Atau, rencananya untuk membalas Lyli akan gagal.
Sebelum ia masuk, Al memberi pesan singkat kepada Vico untuk segera ke rumahnya. Tapi, dia juga menyuruh tiga orang berjaga-jaga di area rumah. Dan melapor jika ada apa-apa.
Setelah itu, Al mematikan ponselnya.
***
Sementara Vico di bar tengah asik bersenang-senang dengan beberapa wanita dan hendak memboyong salah satu gadis paling cantik dari lima yang mengerumuninya ke vila untuk menghabiskan malam berdua.
Tapi, sepertinya hal itu tidak diizinkan. Pesan Al masuk di saat yang tepat.
"Kau datang ke rumah sekarang karena aku ada urusan atau, aku akan memanggangmu jika terjadi sesuatu di rumahku dan tidak kutemui dirimu di sana saat aku pualng nanti."
Membaca pesan dari Al itu raut wajah Vico berubah drastis. Jadi, mau tidak mau dia pun harus meninggalkan tempat itu dan gadis-gadis cantik yang tengah bersamanya.
***
Al melihat tida orang itu sambil duduk di kursi yang memang sudah di sediakan untuknya. Ia memandang tajam pada tiga orang itu terutama Lyli. Lalu, ia mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Aku tidak akan menyelesaikan masalah ini ke jalur hukum," ucapnya sambil meniup asap rokok ke udara."
Lyli dan ibunya nampak senang dan ada sedikit senyuman di sana tapi, tidak dengan Akbar. Dia malah khawatir dan berusaha bernegosiasi.
"Bukankah yang Lyli perbuat itu kriminal, Al? Kenapa kau tidak memintanya mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan polisi?"
"Kak Akbar, apakah kau tidak waras? Sudah baik dia tidak melapor ke polisi, kenapa kau malah memohonnya agar aku dilaporkan, kak?" Protes Lyli yang sukses membuat Al tersenyum. Yah, lebih tepatnya seringai, bukan senyuman, sih.
"Dipenjara lebih baik daripada dia menyelesaikan dengan cara mafia," ucap Akbar tegas kepada Lyli.
Al pun bertepuk tangan dan menunjukan kebanggaan atas kecerdasan Akbar.
"Pintar sekali kau Akbar. Tak kusangka kau tahu maksutku. Jangan-jangan kau tahu siapa diriku sebenarnya."
"Siapa dirimu aku sungguh tidak tahu. Tapi melihat tingkahmu kali ini aku yakin kau bukan orang sembarangan. Jadi, Al bagaimana?"
"Jika aku melaporkan adikmu ke polisi dia minimal dipenjara paling lama sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun kalian masih bisa menemuinya dan sepuluh tahun kemudian Lyli kembali bebas dan pulang bisa kembali bersama di tengah-tengah keluarganya lagi, sementara aku? Aku sudah pasti kehilangan nenek dan kakek yang menjadikanku orang terpandang seperti saat ini. Dan mama papaku tidak tahu bagaimana nasibnya. Mudah sekali? Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya hatiku saat ini. Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cara mafia."
"Al, pikirkan lagi sebelum kau bertindak atau kau akan menyesalinya kelak!" Seru akbar.
Al tertawa miring dan berkata, "Aku sudah memikirkannya dan yakin tidak akan pernah menyesali keputusan yang sudah kuambil ini."
__ADS_1
Al pun berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga. Menghampiri deretan pria dengan muka garang yang tengah berbaris di belakangnya.
"Aku sedang tidak mood mengerjai mereka, itu ada gadis yang mungkin masih perawan, kalian bisa menikmati sepuasnya," ucap Al sambil melihat ke arah Lyli.
Mendengar hal itu tiga orang yang tengah terikat itu terkejut.
Sementara Akbar berusaha berontak dan menghardik Al.
"Al, dasar gila kau, kau psikopat. Apa maksutmu, hah?"
"Maksudku jelas bukan? Jika tidak kau bisa melihatnya sendiri nanti. Sabar, ya?"
"Bos, kalau dia masih perawan, kenapa tidak anda saja yang mendahului nya?" tanya salah satu anak buah Al.
"Dari dulu aku tidak pernah berselera dengan wanita seperti ini. Buat kalian saja. Anggap ini bonus kalian."
Dengan cepat duapuluh pria itu mengerumuni Lyli dan saling menarik pakaian yang Lyli kenakan. Sementara gadis itu berteriak histeris meminta ampun.
"Hay, kalian. Jangan semua di situ. Perlihatkan pada ibu dan kakaknya, bagaimana kalian memperlakukan wanita itu. Dan, izinkan wanita itu melihat apa yang akan diterima sang kakak dan ibunya jika tidak mau lihat." Al melemparkan dua cambuk pada orang-orangnya. Dan dengan sigap pula mereka menangkapnya. Al pun kembali duduk dengan tenang melihat dua puluh anak buahnya mulai mengerjai tiga orang tersebut.
Dengan posisi berdiri dan kedua tangannya diikat, orang-orang itu mulai menelanjangi Lyli dengam cara mengoyakkan pakaian Lyli lalu memperkosanya tanpa ampun di depan ibu dan kakaknya sementara dua keluarganya yang memejamkan mata, dengan rasa tanpa belas kasihan dicambukinya dan bahkan satu dari mereka ada yang membawa cuter menyatu lengan, dada paha dan apa saja yang ingin dia sayat di tubuh Lyli sambil menunggu giliran. Lyli berteriak histeris kesakitan. Entah, karena keperawanannya dibobol atau karna menerima sayatan demi sayatan dari anak buah psikopat Al.
"Al, kau jangan gila melakukan hal seperti ini demi mereka yang hanya orang tau angkatmu," teriak ibunya Lyli.
Al pun menoleh ke arah wanita paruh baya itu. Senyumannya pun mulai memudar dan memandangnya dengan tajam.
"Jangan berani kau berkata demikian sementara hatimu busuk! Nyatanya mama Clara memperlakukan kubsama seperti dia memperlakukan Queen. Aku juga bukan pancingan. Dia mengadopsiku saat aku berusia enam tahun dan Queen saat itu berusia enam bulan. Sementara kau, lihat! Tega membuang putranya sendiri. Dan putrimu yang mulai beranjak dewasa malah kau suruh bekerja sementara kau yang menerima uangnya. Ibu macam apa kau ini?"
"Dia berani menyinggung bos. Jajar wanita itu!" seru salah satu anak buah Al dan mulai mencambuki ibunya Lyli.
Sedang Lyli melihat ibunya diperlakukan seperti itu, serta sang kakak uang sudah lebam dan darah mengucur dari hidung dan ujung bibir, belum lagi rasa sakit dan dia derita, ia pun pingsan dan tak sadarkan diri.
"Yah, bos. Gimana ini malah koit begini? Mana belum dapat giliran saya, bos... "
Al pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Untuk apa kau memberi kami makan jika ujung-ujungnya kau bunuh juga? Bunuh saja sekarang juga, Al," teriak Akbar.
"Oh, masih bisa berteriak rupanya. Aku akan bunuh kalian tp tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah, kalian harus tahu bagaimana aku kehilangan keluargaku."
Al pun sudah tidak peduli dengan apa yang keluar dari mulut Akbar dan ibunya. Kini, dalam hati pria itu hanya ada kebencian saja. Tak ada lagi kasih sayang dan belas kasihan terhadap sesama.
Hati mafia yang lama terkubur kembali hidup justru lebih kuat dari sebelumnya. Memang, kali ini dia tidak mau membunuh dan menyiksanya sendiri orang yang membuat masalah dengannya. Tapi, ia duduk dengan tenang turut menyaksikan. Ya... Mungkin karna dia lelah
"Wah, lama sekali bos kita of dan menelantarkan kita, kita harus berterimakasih pada gadis ini yang telah membuat bos kembali pada kita, ya.... Dan memberikan perawan secara cuma-cuma pada kita lagi!" Ucap salah seorang anak buah Al saat Al sudah pergi.
"Iya, benar. Kita rindu dengan hal ini, bukan?" Sahut yang lainnya.
🍁 🍁 🍁 🍁
Al mengemudikan mobilnya entah kemana. Pikirannya dan hatinya sudah tidak lagi dapat menyatu. Ya, dia puas dengan apa yang dia lakukan terhadap Lyli. Tapi, ada hal yang membuatnya sedih dan rasanya ingin menembak langsung kepala wanita itu saat teringat bagaimana dia mengubur jenazah kakek neneknya serta melihat papa mamanya tergeletak tak berdaya di ruang ICU selama ini.
"Arrgghhh sial... Kau akan mati, pasti mati di tanganku Lyli," teriak Al.
Saat Al kembali tersadar tiba-tiba mobil nya sudah ada di rumah sakit Bhayangkara di mana papa dan mamanya di rawat.
Ia pun melajukan mobilnya ke parkiran dan keluar, langsung masuk menuju lip untuk ke lantai 4 di mana papa dan mamanya berda.
Melihat Al keluar dari lip dengan ekspresi penuh amarah, dua orang yang dia perintahkan menjaga papa mamanya langsung berdiri dengan tegap dan menunduk. Awalnya mereka tengah bersantai dan ngobrol
Al masuk ke ruang ICU di sana ia menatap dua wajah itu dengan perasaan sedih dan hancur, sehancur hancurnya.
"Pa, sadar lah Pa... Jika kau sadar, aku yakin mama juga akan terjaga bersamamu. Jangan menyerah sampai di sini saja. Kalian harus bangun. Semua merindukan kalian semua ingin kalian kembali di tengah-tengah kita, Pa, Ma..."
__ADS_1
Al pun jatuh berlutut di antara tempat papa dan mamanya. Tanpa sadari air mata pria itu mengalir deras. Dia tidak sanggup melihat dan menerima konflik batin di hatinya. Dan bahkan, menyentuh salah satu dari mereka saja dia tidak berani.
"Papa, Mama. Maafkan Al yang kembali ke dunia hitam lagi. Dan hanya kalian lah yang dapat membuatku kembali berhenti lagi seperti dulu. Berjuanglah untuk melawan maut. Tetaplah hidup dan kembali berkumpul seperti dulu. Atau, jika kalian pilih pergi...." Kalimat Al mengambang tak terselesaikan saat dua suster dan seorang dokter masuk ke dalam dan dengan tegas meminta Al untuk keluar.
"Pak, silahkan anda keluar. Kami akan menangani pasien," ucap salah satu suster itu.
"Dok, sudah brapa Minggu papa dan mamaku belum sadar juga? Kenapa seperti ini? Kau sanggup menanganinya atau tidak?" tanya Al lirih dengan nada sakit hati yang sangat mendalam.
"Kami akan berusaha yang terbaik untuk orang tua bapak. Ini adalah rumah sakit terbesar dengan fasilitas paling lengkap di Indonesia. Jadi, kami akan...."
"Aku pegang omonganmu, dok. Kalau sampai terjadi apa-apa bahkan hal terburuk salah satu dari mereka meninggal. Kau akan kukubur dengan mereka."
Al pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa emosi yang kian meninggi.
Sementara dokter dan dua suster di belakangnya membeku karena merinding dengan apa yang Al katakan baru saja.
"Pria itu saiki banget, sih?" Lirih seorang suster pada temannya sambil memegangi tengkuknya sendiri.
"Bukan lagi saiko, tapi psycopath tiangkat akut itu... Lebih horor dari hantu pokoknya."
"Sudah, ayo kita bekerja, abaykan dulu dia. Siapapun bisa berubah jadi jahat jika merasa sedih dan tersakiti oleh suatu keadaan," timpal dokter itu.
Tiba di parkiran rumah sakit Al benar-benar seperti orang gila saja. Dia tidak tahu harus pulang atau tidak. Ingin ke tempat Vico, dia juga tengah berada di rumahnya menemani istri dan kakeknya. Sementara jika menemui Juna... Kerjaan kantornya bisa-bisa malah tidak beres.
"Masuk dulu ke mobil, nanti kalau dah jalan juga bakal nemu ide," gumamnya seorang diri.
Lima menit melajukan kendaraannya, Al pun baru ingat dengan suatu tempat di mana tempat itu dulu menjadi tempat favorit saat masih menjelajah duni hitam. Bukan apa-apa, bir dan shisa membuatnya merasa rileks dan tenang.
Perjalanan dari rumah sakit dan bar milik Martin harusnya di tempuh selama duapuluh lima menit, hanya dia tempuh sekitar enam menit saja, entah setan apa yang merasukinya... Tapi, bukannya Al memang seperti itu, ya?
Tiba di sana suasana bar makin makin ramai saja. Ia masuk dan seperti biasa ambil tempat di paling pojok, paling jauh dari keramaian.
Al menunduk tangan kirinya menggenggam gelas bir, sementara tangan kanannya memegang ganggang sisha menghisap dan menyesabnya secara bergantian.
"Hay, bro! Kau di sini? Lama tidak datang. Apa kabar kamu?" Sapa seorang pri barbadan tinggi besar dengan perut buncit dan berewok agak tebal dan lengan tangan yang dipenuhi bulu-bulu mengenakan celana jens panjang dan kaus abu-abu gelap sarta topi yang selalu menempel di kepalanya seolang sudah jadi ciri khas pria seumuran Al itu.
"Sini, lo! Sudah hampir satu jam kau baru muncul, kemana saja kau bos?" ucap Al dengan suara yang sudah mulai tak jelas.
"Masih ada urusan kecil brother... Kau tidak sedang putus cinta, kan kemari?" Martin pun terkekeh melihat muka Al yang sudah berubah seperti kepiting rebus.
"Putus cinta palamu? Bahkan mama dan papaku saja belum sadar, mana mungkin aku akan mencari cinta?" jawab Al melantur.
Rupanya dia lupa kalau sudah punya istri di rumah. Sebab, selama menikah ini kali kedua dia datang ke tempat ini. Dulu setiap kali melihat Clara mesra bersama Vano, Al selalu ke sini jika diintrogasi oleh temannya yang kepo dia selalu jawab kalau dia tengah putus cinta. Padahal aslinya juga jomblo.
Memang hanya Vico yang tahu banyak hal tentang dirinya. Orang yang yang dia percaya untuk tahu kelemahan dan juga hampir seluruh rahasianya.
"Gua turut berduka cita, bro atas apa yang menimpa keluargamu. Kala itu aku datang ke rumahmu. Tapi, kau tidak ada. Mulanya aku ingin menemui Queen adikmu, tapi, dia pingsan dan mengalami pendarahan hebat. Bagaimana dia sekarang?"
"Dia sudah tidak apa-apa, tapi, kandungannya tak dapat terselamatkan. Saat itu juga dia keguguran."
Martin tidak dapat berkata apapun dia hanya menepuk pundak Al seolah mengatakan agar dia tetap tabah dan sabar.
"Kau yang kuat, bro. Sebenarnya aku serba salah jika kau kembali seperti ini, aku juga sedih, tapi, jika kau keluar dari dunia hitam, omsetku tak akan setinggi ini. Hahaha." Martin terbahak dengan kata-katanya sendiri yang entah keluar dari logika atau hatinya.
Tapi, jujur pria itu pun sebenarnya tak ingin melihat Al kembali seperti ini lagi. Meski Al tidak datang, dia juga tetap untung dan barnya memang tak pernah sepi.
***kalian sadar tidak kalau 1 part penuh saya cuma nulis tentang Al doang? dia kembali menjadi jahat dan masuk lagi dalam lingkar hitam dunia mafia. gimana tuh?
__ADS_1