Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 148


__ADS_3

Usai jam kerja, Quen langsung menuju kantor kakaknya. Di dalam taxi online ia menelfon Diaz dulu, mengatakan kalauasih perlu ke kantor kakaknya sebentar.


"Halo, Diaz. Kamu lagi apa?"


"Ini lagi nemenin kakek jalan-jalan. Kami sudah pulang? Perlu aku jemput sekarang?" jawab pria dari seberang itu dengan antusias.


"Tidak usah, ini q di dalam taxi mo ke kantor dulu sebentar. Nanti pulang bareng Kakak."


"Ya sudah. Hati-hati, ya?" jawab Diaz dengan raut sedikit kecewa.


Tiba di ruangan Al, rupanya pria itu sudah mempersiapkan apa yang ingin ditunjukkan pada adiknya, terlihat dari bagaimana dia ketika bersantai di single sofa dalam ruangannya dengan laptop di pangkuannya.


"Sudah datang kamu sayang? Kemarilah!" seru Al sambil menggeser posisi duduknya.


"Mau nunjukin apa sih, Kak?" tanya wanita itu penasaran. Seraya duduk di sebelah kakaknya dan mengarahkan pandangannya di layar monitor kakaknya.


"Ini kakak ada rekaman yang menunjukan semua bukti kejanggalan mengenai Alex. Kamu mau lihat apa tidak?" tanya Al sekali lagi sebelum menyalakan videonya.


"Memang kenapa kak? Apakah sepenting itu? Makstunya apakah aku harus tahu?"


"Ya kembali sama kamu. Tapi, kalau kamu gak. Mau gak apa-apa sih. Hanya saja... "


Al dengan sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Hanya saja apa?" Quen kian bertambah penasaran saja.


"Hanya saja kalau kamu ingin tahu kenapa Alex hanya lupa kamu dan kenapa Aditya seperti itu kondisinya sini aku ada bukti." ucap Al sambil menscrol data-data yang terpampang di sana.


"Baik, aku mau lihat."


"Ok, siapkan saja dirimu. Jangan nangis ya?"


Al pun mulau memutar video yang di dapatnya dari Juna tadi pagi.


Dalam layar monitor itu Menunjukan sebuah rekaman tersembunyi yang sudah di edit dengan rapi sesuai urutan kejadian.


Pertama, terlihat sebuah area parkir di hotel **** dan masuk mobil putih milik Aditya. Dan benar saja, dalam kondisi babak belur pria itu keluar dan masuk ke dalam kamar yang sepertinya memang sudah dia sewa sebelumnya. Dia tidak lagi ke tempat administrasi.


Quen mengerutkan keningnya. Ia bingung dalam hati bertanya, 'apa hubungannya dengan Aditya ke hotel ini?'


Sampai sebuah rekaman menunjukkan Aditya di dalam kamar hotel melepas kemejanya dan menelfon seseorang.


"Apa sih ini kak?" tanya Quen, meresa tak sabar. Ketika mendapati hanya rekaman Aditya menelfon sesorang.


Al pun mempercepat video tersebut. Hanya saja, ia tidak hafal di menit keberapa saat dua orang itu saling ngobrol membahas tentang hipnotis yang dilakukan kepada Alex sebelum pria itu mengalami kecelakaan yang memang disengaja itu.


Beberapa saat Quen mendengar suara desahan dan adegan tak senonoh dari Aditya dan Helena.


"Eh? " hanya itu yang keluar dari mulut Queen. Ia merasa malu sendiri selain melihat hal itu dari dua orang yang dia kenal di sampingnya.


Quen memalingkan wajahnya kesamping. Mukanya terasa panas.


"Eh, sorry, ga seharusnya juga kamu lihat adegan ini," ucap Al canggung. Sambil kembali mempercepat durasi video tersebut.


Meski ada sisa dari adegan yang baru saja terjadi, setidaknya kali ini ia tepat dalam memutar videonya.


Di sana Adit berkata pada Helena agar mengatur cara apapun agar Quen bisa ia tiduri. Serta perkataan mengenai Alex yang dihipnotis itu.


Mendengar hal itu Queen menutup mulutnya dengan kedua tangannya ia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Benar, kan? Memang ada yang tidak beres. Ternyata merekam pelakunya. Jahat banget mereka," keluh Queen sambil terus menangis kencang.


Al memeluk erat Quen, terus menenangkan dan berkata, "Sudahlah. Kau sudah punya Diaz, kan? Bukankah kalian juga akan menikah setelah ini?" hibur Al.


"Iya, tapi, ini tidak adil awas ya, Adit dan Helena, aku harus membuat perhitungan dengan mereka berdua!"


Dengan cepat wanita itu bergegas keluar. Tapi, dengan sigap pula Al mengejar dan menangkap adiknya.


Ia tak peduli dengan staf yang lalu lalang meninggalkan ruangan mereka untuk pulang. Karena memang ini sudah jam pulang kantor.


Queen terus terisak sementara Al memeluknya dari belakang untuk menahannya.


"Sudah jangan pergi, ya? Kamu tenangin dulu hati kamu. Setalah kau tenang dan bisa berfikir dengan jernih, barulah kau ambil keputusan. Jangan memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi," ucap Al.


Sementara semua staf saling berbisik dan menggosip tentang mereka.


"Mungkin wanita itu sudah muak jadi simpanan pak Al. Dia ingin pergi, hanya saja pak Al sangat mencintainya."


Al menatap tajam pada para staf yang membicarakannya di bekang dan berkata dengan lantang dan penuh dengan rasa emosi.


"Apakah kalian semua di sini digaji untuk menggosip dan kepo dengan urusan bos?"


Sontak mereka pun meminta maaf dan buru-buru pergi.


"Kau bisa membalas mereka tapi, dengan cara cantik. Jangan mengotori tanganmu untuk melukai fisiknya. Dan jangan pula korbankan reputasimu untuk memperingati mereka," bisik Al.


Quen pun membalikan badannya dan menangis kembali di pelukan kakaknya.


Di dalam mobil saat menuju rumah, kembali Quen teringat adegan di mana ia menyiksa Helena dan wanita itu pun membalasnya dengan memukul kepala Aditya dengan botol.


'Pantas saja, dia lebih seperti orang dihajar daripada kecelakaan. Dan soal rumah dan orang yang ditangkap polisi itu hanyalah akal-akalan mereka demi menutupi kebohongannya dan membuat kebohongan baru. Dasar Aditya psikopath,' runtuk Quen dalam hati.


"Dan bagaimana bisa Alex tidak meninggalkan spermanya di rahim Helena. Tapi, kenapa saat aku katakan bahwa dia hamil kok diam saja? Kurasa kediaman dia karena sudah tahu, ternyata belum. Lalu, kenapa dia diam saja tidak mempertanyakan jika memang ia tidak merasa? Harusnya meski sekali ya pernah."


Al memandang adiknya yang terus mengomel sepanjang perjalanan. Ia tahu bagaimana perasaannya saat ini.


"Lalu, apakah kau ingin balikan sama Alex? Kita cari tahu tentang orang yang menghipnotis dia dulu dan memintanya menormalkan Alex kemabali? Terus bagaimana dengan Diaz yang sudah terlanjur suka sama kamu? Kakak rasa kalian juga cocok."


Queen hanya mendengus kesal. Semua yang ada di dalam hatinya seolah bergemuruh kuat. Ingin marah tapi, pada siapa hanya ada dia dan Al yang selalu mendukungnya di mobil ini.


"Mungkin aku sudah ikhlas Alex tidak bersamaku. Tidak apa-apa, benar kata kakak, aku juga sudah sayang sama Diaz, hanya saja jika Alex dibohongi... Dia orang baik, kak."


Al mengelus kepala Quen dan berkata. "Kamu percaya kan sama kakak? Kakak akan bantu kamu mendapatkan apa yang kamu mau, biar mereka sendiri yang membongkar kedoknya di depan orang yang mereka tipu. Kamu fokus aja sama hubungan kamu dengan Diaz."


Queen pun mengangguk patuh.


Sementara Al lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri yang masih saja membuat adiknya sedih.


'Mama, papa. Kukira aku sudah membayar utang ku membuat Quen bahagia. Tapi, karena ulahku pula dia kembali bersedih. Padahal sudah ada Diaz di kehidupannya,' batin pria itu.


🍁🍁🍁🍁


Malam itu, bersama Diaz Queen menikmati pemandangan bulan sabit sambil menikmati secangkir kopi. Suasana gelap dan sunyi, membuat keduanya seolah canggung saja. Hanya suara jangkrik dan hewan malam lain bersahutan memecah kesunyian.


Quen mengarahkan tangannya menyentuh punggung tangan Diaz. Secara refleks, Diaz menarik tangannya.


Wanita itu menatap ke arah pria yang sudah beberapa bulan ini namanya terukir di dalam hatinya.


"Kenapa?" ucapnya, lembut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Maafkan aku."


Quen melangkah kian dekat dengan pria itu yang nampak nervous.


"Queen, aku takut kejadian seperti di apartemen kemarin terulang kembali. Biarkan semua akan indah pada waktunya, ya?"


"Aku cuma bilang kalau aku mencintaimu, dan selamat malam. Lebih baik kita segera istirahat saja, agar besok tidak kesiangan," ucap Queen sambil tertawa meledek Diaz.


"Ok, ide bagus. Selamat malam tuan putri."


"Apa hanya ucapan selamat malam saja yang ingin kau ucapkan padaku? Lalu ini?" Wanita itu tersenyum sambil menunjuk dahinya sambil memejamkan mata di depan Diaz.


Dengan ragu-ragu Diaz mengecup kening wanita itu perlahan dan sangat lama seolah ingin begitu saja terus sampai esok fajar menyapa.


🍁🍁🍁🍁


Vico mengamati asbak di terasnya yang sudah penuh dengan puntung rokok serta beberapa botol wine yang sudah kosong. Ia memandangi pria yang ngakuknya bahagia namun terkesan seperti orang depresi.


"Bro! Ini sudah gelas yang keberapa? Kau ingin mabuk yang seperti apa lagi?"


Ucapnya tatkala pria yang diamatinya itu kembali menuang wine meski pun keadaannya sudah tak terkondisikan lagi.


"Selasa aku ke Jepang. Tolong jaga adikku ya? Meskipun dia sudah punya calon suami lagi, tapi aku tidak bisa memasrahkan sepenuhnya pada laki-laki itu."


"Kenapa? Apakah dia... "


"Dia kerja di Bandung sedangkan adikku di Jakarta. Besok kami akan ke Bandung berlibur, kau mau ikut?"


"Tidak. Aku ada sesuatu yang harus kuurus."


Vico terus mengamati Al. Dalam hati dia kagum dengan pria di depannya. Kemampuannya dalam minum sangat luar biasa. Harinya dia sudah bicara ngelantur tapi, tidak. Meskipun nampak sempoyongan kesadarannya seolah tidak hilang, dan dia terus saja menunang lagi dan meminumnya habis.


"Bro, sudah deh aku takut kamu over dosis nanti," ucap Vico khawatir.


"Tenang aja, gak akan. Malam ini aku tidak akan pulang aku akan kembali besok siang aja," ucap Al.


Setengah jam kemudian, Al berbicaranya mulai melantur kemana-mana. Sedangkan Vico, cukup menjadi pendengar saja. Baginya, percuma bicara dengan sohibnya dalam keadaan seperti ini.


"Kau tahu Vico? Aku berhutang pada papa dan Clara untuk menjaga putri mereka dengan baik. Tapi nyatanya, dia sekarang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Setelah pernikahannya dengan Alex kukira dia akan bahagia, tapi tidak. Suaminya jatuh di tangan wanita lain."


"Al, sudah minumnya!" seru Vico sambil merebut gelas dalam genggamannya.


"Beraninya kau merusak kesenanganku, Vic? Berikan, berikan padaku, aku tidak apa-apa." Al tidak berusaha merebutnya. Ia menyeringai mendapati sebotol wine yang masih ada sisanya setengah lebih. Dengan cepat disambarnya. Kini ia minum langsung dari botolnya.


Sementara Vico hanya mendesah kesal, "Ok. Kau memang selalu lebih unggul dalam hal apapun, Bro."


"Aku awalnya tidak keberatan Queen dengan teman dokternya. Dia baik, tapi aku takut hal serupa akan terjadi lagi. Ada gadis yang juga mencintai dokter muda itu."


"Bukannya hal seperti itu wajar, Al? Contohnya saja mama angkat kamu, menikah dengan pria yang dia cintai tapi di sisi lain ada banyak pria yang juga mencintainya tapi mereka tetap bahagia. begitupun papa kamu, tidak hanya mamamu yang mencintai dia, banyak wanita lain yang mencintainya, dari wanita lain yang menginginkan om Vano maka jadilah kau anak angkat mereka, tapoz Lihat. Mereka baik-baik saja, bahagia desah senang bersama. Bahkan saat ini mereka juga sama-sama berjuang untuk hidup di tempat yang sama. Lalu, apa yang kau takutkan dengan hubungan Diaz dan adikmu?" tanya Vico.


"Biar aku saja yang menjaga dan membahagiakan dia, Vico. Lagipula dari dulu kami juga sudah bersama-sama, kan?"


Vico kehabisan akal, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Al, keknya elu tuh mulai suka, deh sama adik angkatmu itu?"


"Tidak! Aku hanya ingin melakukan sumpahku saja. Tetap Clara yang ada di hatiku, pokoknya."


"Ya sudah terserah, ayo tidur, ini sudah pukul dua dini hari!" seru Vico dan memapah tubuh Al membawanya ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2