Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 13


__ADS_3

"Kak, Lyli. Tolong tarik slimutku. Pakaikan pada adik saya," ucap Al saat melihat Quen tertidu dengan posisi meringkuh di atas sofa.


Sebenarnya dia ingin datang dan memakaikan selimutnya sendiri pada adiknya. Hanya saja, badannya masih terlalu sakit untuk bergerak.


"Tapi, Tuan." Dengan ragu-ragu Lyli memegang selimut yang Al kenakan.


"Tidak apa-apa, ambil dan selimuti saja adikku! Perintahnya.


Dengan perasaan tidak enak gadis itu mengambil selimut dari tuannya dan mengenakannya pada Quen yang baru beberapa menit saja sudah sangat pulas.


Lyli duduk bersandar di bawah sofa, mendengarkan napas Quen yang nampak sangat teratur.


"Kak, kok duduk di bawah? Duduk lah di sebelah adikku," ucap Al.


"Tidak apa-apa, Tuan. Anda istirahatlah."


'Bahkan untuk memanggil nona Quen saja selalu mengatakan adikku. Siapa yang tidak tahu kalau dia adikmu?' batin Lyli sambil membuang bapas sedikit keras.


Lyli terdiam, tiba-tiba terbesit rasa iri pada Quen yang sudah memiliki segalanya. Dia tidak inginkan harta atau apa, jika tidak mendapatkan orang tua yang sayang padanya, setidaknya seorang kakak laki-laki saja.


Tidak harus tampan dan cerdas seperti majikannya, cukup yang menyanginya saja dan tidak pernah marah padanya seperti Al kepada Quen.


"Hey, Lyli. Sadar siapa dirimu! Jangan banyak bermimpi. Bekerja di sini dan semua majikan baik saja bukannya sudah lebih dari cukup?" gumam Lyli seorang diri. Berusaha sadar dari kenyataan.


******


"Aaaahh...." pekik Quen saat tiba-tiba ia merasakan hidungnya seperti ditarik sama seseorang.


"Bangun!"


Quen mengucek kedua matanya yang masih terasa berat, "Ah, Papa... Kenapa, sih?" ucapnya agak serak, khas suara orang bangun tidur.


"Ayo pulang! Biar nenek dan  kakek yang jaga kakakmu di sini!" Seru Vano.


"Aku masih ngantuk, Paaaa!"


"Coba, lihat! Sudah jam berapa ini, kakakmu bilang kau tidur sejak jam dua tadi, bahkan kau bilang masih ngantuk?" ucap Vano sambil menarik anaknya duduk.

__ADS_1


"Beneran, Pa. Kepalaku pusing," rengek Quen sambil menyandarkan kepalanya di ulu hati Vano.


"Apakah kau minta gendong seperti bayi, Quen? Ayolah! Kau ini sudaj dewasa Papa mana sanggup menggendongmu!" goda Vano.


"Baiklah, aku akan bangun dan berjalan sendiri."


"Bahkan kau mengambil selimuk kakakmu," ucap Andreas sambil tertawa.


"Kek, aku tidak mengambil ini darinya!" teriak Quen.


Gadis pun berjalan menghampiri kakaknya, dia berpamitan.


"Aku pulang dulu ya, Kak. Besok pulang sekolah aku akan segera kemari menemanimu," ucap Quen lalu pergi meninggalkan ruang rawat itu bersama Vano dan Lyli.


Quen duduk di depan menemani Vano yang tengah mengemudikan mobil, sementara Lyli. Dia duduk di jok belakang.


"Pa, aku lapar," ucap Quen memecah keheningan.


"Kau mau makan apa?"


"Sebentar, papa telfon mama, dulu. Dia menyiapkan makan malam buat kita atau tidak," ucap Vano sambil mengeluarkan benda pipih berwarna biru dari dalam saku kemejanya.


"Sayang, masak apa kau hari ini?"


"...."


"Ok, baiklah. Kami baru saja keluar dari rumah sakit. Kami akan segera pulang kalau begitu."


Vano pun memutus sambungannya dan kembali menaruh gawai di dalam saku.


"Mama sudah menyiapkan makan malam. Jadi, makan di rumah saja, ya Sayang?" ucap Vano sambil melirik ke arah putrinya.


"Ok. Tapi, kapan-kapan kita makan di luar ya, Pa."


"Iya!"


Lyli terdiam mendengar obrolan anak dan ayah di depannya. Diam-diam dia sangat mendambakan keluarga seperti mereka.

__ADS_1


"Bahkan pak Vano selalu mengajari anak-anaknya untuk selalu menghargai usaha istrinya di rumah. Pak Vano sangat sayang pada Nona Quen. Jika dia orang lain pasti menurutinya dan tak peduli dengan apa usaha sang istri di rumah. Padahal dia duit banyak bisa beli apapun yang dia mau. Selain itu, Pak Vano tipe orang yang setia dan tampan, apakah Tauan Al juga seperti itu, ya? Beruntung sekali wanita yang akan jadi istrinya kelak," batin Lyli sambil menghela napas dalam-dalam.


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di rumah. Kemabali Lyli mengamati kedua tuan dan nyonya mudanya yang selalu terlihat romantis.


Ya, sederhana tapi menyejukan hati bagi setiap yang melihatnya.


Dengan senyuman ramah Clara menyambut suaminya, ia mengambil tas kerja dari tangan Vano, lalu membantu melepaskan Jas nya, mencium tangannya dan di balas ciuman lembut di keningnya.


Diam-diam Lyli berimajinasi, seolah pemandangan yang dia lihat adalah dia dan Al yang melakukan itu. Sampai-sampai lamunannya terbuyarkan saat Quen berteriak memanggil namanya.


"Kak, Lyli. Apa kau akan kenyang dengan berdiri saja di, sana?"


Seketika itu juga wajah Lyli berubah bersemu merah. Meskipun tidak ada yang tahu apa yang tengah mengisi pikirannya, tetap saja dia malu pada dirinya sendiri.


"Saya tahuh baju kotor Nona ke tempat cucian dulu," ucap Lyli lalu beranjak dari tempatnya.


"Wah, Mama masak rica-rica cumi-cumi, ya? Kelihatannya sangat enak," ucap Quen sambil mengambilnya dan meletakan di atas piring yabg sudah ada nasinya.


"Memang kapan mamamu pernah masak tidak enak, Quen?" sahut Vano.


"Papa mana pernah makan cumi-cumi?"


"Papamu tidak suka, Sayang," sahut Clara. "Van. Aku masakain kamu Gurami bakar, nih." Clara menyodorkan sebuah pirung besar berisi seekor gurami besar, melihatnya saja pasti sudah menggundang air liur pemirsanya.


"Makanlah, setelah itu kau istirahat. Habis ini papa sama mama akan ke rumah sakit sebentar," ucap Vano kepada putrinya.


"Bagaimana kondisi kakakmu tadi, Quen?"


"Kakak, ya?"


"Mana dia tahu, dia di sana seharian tidur. Cuma kak Lyli yang menemaninya," ucap Vano sambil tertawa.


"Aku capek, Pa." Tanpa ekspresi gadis itu terus melanjutkan memakan makan malamnya yang spesial itu.


"Sudahlah tidak apa-apa. Tapi, jika kamu menjaganya sendiri jangan ditinggal tidur, kasian kakak, ya?  Dan, bagaimana dengan ujianmu?"


"Lancar, Ma."

__ADS_1


__ADS_2