
Tiba di kantor polisi, Vico memberikan pakaian pada Jevin
dan Nayla berupa daster katun biasa untuk Nayla, dan untuk Jevin ia memberikan
sebuah celana boxer dan kaus oblong besar yang biasa diberikan oleh toko
bangunan yang membeli bahan material banyak di tokonya yang bertuliskan nama toko dan alamatnya.
“Nih, kamu pake! Dari pada telanjang gitu,” cetus Vico.
Kebetulan mereka juga baru tiba di sana. Jadi, pihak polisi juga belum memberikan mereka
sesuatu untuk menutupi tubuh telanjang mereka.
“Apaan ini?” protes Nayla saat membuka tas kresek berisi
dater yang bahkan lebih kuno modelnya daripada yang biasa bi Yul kenakan sehari-hari di rumah.
“Ya baju, kamu kira apaan?” jawab Vico, cuek.
“Kamu gak salah kasih ini sama aku? Bajuku yang dihotel tadi mana?”
“aku gak tau, Cuma lihat itu aja tadi kebetulan ada yang
jualan gelar karpet di pinggir jalan. Kamu pake aja itu seadanya. Kecuali kalau kamu emang
suka pamer tubuh ya tidak apa-apa,” ucap Vico sambil menjilat bibirnya sendiri.
Ia memasang muka seolah tergoda dengan body Nayla. Padahal, sebenarnya sama sekali tidak.
Dengan wajah cemberut, Nayla pun menerima kresek itu dan
langsung memakai daster tersebut.
Begitu pula dengan Jevin, ia seolah tak percaya lihat celana kolor dan kaos oblong yang jelas akan sangat kedodoran jika ia pakai. Belum lagi warnanya yang sangat norak. Oren terang seperti stabilo.
"kami juga, Jev. Pakai saja itu, mau yang kek gimana? Baju tahanan, mau?" Setelahnya, Vico tertawa terbahak dan
meledek Nayla yang sudah memakai daster mirip nyai ronggeng pemberiannya, “Lihat, mantan nyonya Al. penampilannya seperti pembantunya tuan
Al. Hahaha.”
“Aku belum bercerai secara resmi dengannya," jawab Nayla dengan ketus.
“tapi, kata cerai sudah terucap darinya. Cepat atau lambat,
dia juga akan menceraikanmu secara hukum.”
Tidak mau membuang waktu untuk memperdebatkan hal tak penting, Vico pun pergi menemui komandan polisi tersebut. Ia mengurus
semua sesuai permaintaan Al untuk tidak memenjarakan Nayla, dan juga Jevin.
Setelahnya, Vico
mengajak Nayla pergi dan tiba di sebuah perumahan kelas menegah ke bawah, ia
membelokkan mobilnya.
“Kita mau ke mana, Vic?” tanya Nayla.
“Pulang ke rumah. Ini Al masih baik sama kamu. Kau diberi
tempat tinggal. Jika tidak, kau pasti juga jadi eglandangan lagi.”
Nayla hanya menunduk, kemudian ia berkata, “Tapi, anakku
masih ada di sana.”
“Kau mau menjemputnya, apa aku yang akan mengantarkannya
untukmu? Terserah.”
“Aku akan menjemputnya nanti. Terimakasih.”
Wanita itu pun turun setelah Vico memberikan kunci rumah
tersebut. Juga dengan tasnya yang tertinggal di hotel tadi.
Dengan langkah gontai Nayla membuka pagar dan pintu rumah
minimalis berukuran kira-kira 4x7,5 meter tersebut. Ia masuk dan mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Desainnya biasa dan sederhana, sangat
jauh jika dibandingkan dengan rumah mertuanya yang ia tinggali sebelumnya.
Nayla berjalan melihat ke seluruh ruangan, rumah dengan dua
kamar, satu Gudang, ruang, dapur yang langsung gandeng dengan ruang makan itu
tertata rapi dan sangat elegant. Tapi, tetap saja wanita itu tidak puas dengan
apa yang ia dapat.
Ia pun duduk bersimpuh dan menangisi nasibnya sendiri.
“Bagaimana aku bisa hidup di tempat seperti ini? Sebelumnya aku tinggal di rumah
mewah dan besar. Lalu, sekarang… “
Wanita itu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi
Jevin. Ia menanyakan keberadaan pria itu.
“Jev, kamu ada di mana?” tanyanya begiu panggilan sudah terjawab.
“Aku… E aku perjalanan mau pulang,” jawab pria itu sedikit
terbata-bata.
“Apakah kamu tidak kembali ke kantor, Jev?”
“Aku sudah terlambat. Aku akan ke kantor besok saja. Kau ada
di mana sekarang?”
“Aku berada di sebuah perumahan. Vico bilang, aku akan
tinggal di sini nanti. Karena mas Al akan menceraikanku, gimana dong, Jev? Aku
gak mau diceraikan olehnya. Aku tidak rela jika Queen menjadi satu-satunya
istri yang ia miliki,” ucap Nayla mulai terisak.
“Nay, kamu tenang saja dulu. Sekarang kau ada di mana? Coba
kamu share lokasi, biar aku ke sana,” bujuk pria itu.
Nayla pun mengirim lokasinya pada Jevin melalui wa. Sekitar
tigapuluh menit, pria itu pun sudah tiba di depan rumah baru Nayla.
Pria itu mengamati isi rumah tersebut, kemudian menyeringai
kecil dan bergumam, “Lumayan.”
“Apa, Jev?” tanya Nayla yang kebetulan mendengar ucapannya.
“Tidak, kurasa Al itu masih peduli sama kamu, Nay. Jika
memang kamu masih cinta sama dia, kenapa kamu tidak menemuinya saja? Mintalah
maaf dengan segala kerendahan dan katakana kalau kau tidak mau bercerai.”
“Ya. Tapi, dia sudah mengucap kata cerai padaku tadi, Jev.”
“Kamu pikirkan, jika memang dia tidak peduli padamu, kenapa
dia tidak memenjarakanmu? Bahkan dia masih memberikan kamu rumah untuk tinggal. Walau
bagaimana pun, ini juga lebih dari limaratus juta lo, Nay.”
Wanita itu diam dan berfikir sejenak. Dalam hati ia membenarkan
apa yang Jevin katakan.
“Iya, Jev. Kamu benar. Sekarang kamu antar aku beli baju
__ADS_1
yang pantas dulu, aku akan kesana menemui mas Al. Aku bisa sampai dijatuhi kata
talak juga karena si ****** itu. Aku harus membuat perhitungan padanya.”
“Baiklah. Tapi, untuk masuk ke dalam rumah keluarga itu, aku
tidak bisa menemanimu.”
“Kau hanya perlu mengantarku saja!” seru Nayla meyakinkan.
***
Untuk menuju ke rumah, Al sengaja menghubungi salah satu
anak buahnya untuk menjadi sopirnya saat ini. Sedangkan dia duduk di
belakang bersama Queen. Sepanjang perjalanan dari hotel, tiada hentinya pria
itu mengelus perut istrinya yang bahkan masih rata itu.
“Aaaal! Hentikan, deh. Malu tuh di lihat dia,” lirh Queen
saat Al bahkan menciumi perutnya.
“Kenapa harus malu? Tidak apa-apa. Dia juga sudah punya
anak. Pasti dulu juga melakukan hal yang
sama pula pada istrinya,” jawab Al cuek.
Tanpa terasa, mobil pun sudah memasuki halaman rumah. Dengan
segera Al turun dan membukakan pintu untuk Queen lalu mengangkat tubuh wanita itu.
“Al, kenapa kau menggendongku? Aku tidak apa-apa. Cepat
turunkan, aku!”
“Kau kelelahan, Sayang! Aku tidak mau ambil resiko.
Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada anakku nanti, hah?”
“Dia juga anakku. Aku pasti akan menjaganya dengan baik," jawab Queen sambil mengalungkan tangannya pada leher Al.
Al mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia mendapati
rumah masih sepi. Lalu, kemana perginya tiga orang itu, papa, mama dan juga
kakeknya? Harusnya mereka juga sudah sampai, kan?
“Di sini dulu, ya?” ucap Al sambil menurunkan Queen pada
sofa. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mulai menelfon seseorang.
“Halo, Pa. Kalian ada di mana? Aku dan Queen sudah tiba di
rumah.”
Queen mengamati suaminya yang tengah menelfon papanya dan
menanyakan keberadaan papa, mama dan juga kakeknya.
“Kami masih ada di rumah yang ada di jalan Rajawali. Kau suruh Queen
istirahat saja dulu, dan ajak dia makan siang. Kami baru akan kembali nanti
sore,” jawab Vano dari seberang sana.
“Baiklah, tidak masalah. Tapi, apa yang kalian lakukan di
sana?” tanya Al.
“Mamamu sudah dua hari sadar, dan dia juga masih belum bisa
lepas dari infus dan oksigen sepenuhnya. Semua peralatan medisnya ada di sini.
Jadi, kami perlu waktu untuk membereskannya.”
“Ya sudah, Pa. Aku ajak Queen makan siang dulu kalau
begitu.” Al pun mematikan panggilannya dan meletakan benda pipih itu pada
duduk manis sambil memperhatikan dirinya.
“Pasti belum makan siang, kan?” Al menghampiri Queen dan
duduk di sebelah wanita itu.
“Sudah.”
“Kapan?” Al memasang wajah terkejut dan memandang ke arah
istrinya.
“Kemarin!” seru Queen dengan raut wajah sedikit kesal.
Sementara Al hanya tertawa saja melihat tingkah Queen.
“Ya sudah, ayo kita makan siang dulu, kamu mau makan di
luar, apa di rumah?”
“Di rumah, dan itu kamu yang masakin!”
“Mau di masakain apa memang? Ini kamu ngidam, apa hamil kau
jadikan alasan?” tanya Al lagi sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Queen. Kemudian menggigitnya.
“Aduh, geli! Terserah. Aku juga tidak tahu itu. Sejak kau
menyuapiku sarapan pagi itu, aku sudah ingin sekali makan masakanmu, bahkan
setiap bangun tidur juga kau yang menyiapkan minuman hangat untukku,” ucap Queen manja.
“Baik tuan putri. Hamba akan laksanakan.”
Queen tertawa dan mencubit pertu Al. Kemudian Al pun pergi
ke dapur sambil menyingkap kedua lengan kemejanya.
****
Di sebauh trotoar jalan raya yang terik. Berjalan seorang
wanita yang tengah hamil besar membawa tas kresek berisi barang belanjaan.
Rupanya ia baru saja keluar dari sebuah mini market dan membeli beberapa buah
dan sayur-sayuran untuk makan malam nanti.
“Jam berapa sih kok masih sangat menyengat sinar
mataharinya?” gumam wanita itu sambil menyalakan layar ponselnya.
Padahal sudah jam dua lebih, dan seharusnya memang tak
sepanas ini. Bahkan sinar mentari sekarang panasnya seperti jam dua belas tepat
saja. Ia pun sedikit terburu-buru berlari kecil. Tidak berani terlalu kencang.
Selain bawaan yang lumayan berat, ia juga tengah hamil tua dan tinggal menunggu
beberapa bulan saja untuk melahirkan bayi di dalam rahimnya. Walau tanpa adanya sosok suami, atau sorang ayah untuk anak itu. Ya, bayi itu akan terlahir dalam keadaan yatim.
Tapi di tengah jalan…
“Hey, jalan hati-hati, donk!” seru wanita itu pada seorang
pria yang tengah sedikit berlari tanpa sengaja barang bawaannya terkait pada
kantong kresek wanita itu. Alhasil barang belanjaannya pun jadi jatuh dan
berceceran.
Dengan sigap pria itu menoleh ke belakang. Melihat ke bawah
banyak sayur dan buah-buahan yang berantakan memenuhi trotoar. Lalu
__ADS_1
pandangannya naik ke atas. Berdiri seorang perempuan yang masih bisa di kata muda dan cantik dengan perut yang buncit.
Dengan rasa menyesal karena tidak hati-hati dan juga rasa
bersalah, pria itu segera memunguti buah dan sayura itu dan mengumpulkannya
jadi jadi satu.
“Maafkan saya, Mbak, saya benar-benar tidak sengaja,” ucapnya
sambil terus mengumpulkan.
Novita yang sudah terjanjur dongkol dan berfikir kalau apel
dan buah pir itu akan cacat dan tak cantik lagi warnanya jadi, ia tidak peduli dan
berkata lagi dengan ketusnya, “Percumah kau kumpulkan. Itu sudah kotor. Dan
apel-apel itu pasti juga dalamnya coklat seperti buah busuk. Lagipula tas
kresekku robek tersangkut oleh penggaris stenleesmu.”
Pria itu pun berdiri dan membawa bebrapa buah jeruk di
tangannya. Dengan gentlenya ia berkata, “Iya, Mbak. Saya sadar ini adalah salah
saya. Saya minta maaf. Karena terburu-buru saya jadi tidak melihat. Bagaimana
kalau saya belikan lagi dengan yang baru. Sebagai permintaan maaf saya?” ucap pria itu dengan santun.
“Belikan saja aku satu kilo apel, maka aku akan
memaafkanmu,” ucap Novita lagi, sambil berusaha berjongkok memunguti sayur dan
buah yang tidak rusak.
Pria itu pun diam tak menjawab, karena sejak awal ia juga
sudah menawari Novita untuk digantikan belanjaannya denga yang baru.
Setelah semua terkumpul dan dimasukan pada plastic yang
sudah diikat ujungnya yang roboke pun
keduanya berdiri. Pria itu memberikan kembali kresek itu kepada pemiliknya.
Tapi, saat Novita juga berdiri dan melihat wajah pria di
depannya. Tiba-tiba saja kakinya terasa lemas, bahkan ia sampai terjatuh. Ia
tidak mempercayai ini. Kemudian ia justru memangis tersedu-sedu dan menundukkan pandangannya.
Sedangkan laki-laki itu bingung dengan wanita di depannya.
Kenapa dia tiba-tiba malah menangis? Padahal ia menyakitinya saja tidak.
“Mbak, kenapa kamu tiba-tiba saja menangis? Apakah aku ada
salah?” tanyanya pelan. Namun tak dapat menyembunyikan kepanikannya.
Wanita itu bukannya menjawab, ia terus saja menangis dan
malah kian menjadi. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, namun tetap tertunduk.
“Kamu pergi, pergi!” seru Novi ditengah-tengah isakannya.
“Tapi, kenapa?” tanya pria itu. Semakin bingung dan tidak
mengerti saja dengan Novita yang tiba-tiba saja menangis dan bahkan tak mau
melihatnya sama sekali. Padahal, sebelumnya, dialah yang galak. Tapi, mau gimana lagi, ia juga salah.
“Kamu pergi! Jangan di depanku lagi, cepat pergi!” teriak
Novita hingga suaranya serak. Bahkan, tanpa sadar, mereka berdua jadi pusat perhatian
orang-orang yang berada di sekitarnya.
“Ada apa ini? Ada apa?” Bahkan orang-orang pun mulai berkumpul.
“Mbak, anda kenapa? Apakah anda bertengkar dengan suamimu?”
tanya salah satu ibu-ibu paruh baya pada Novita.
“Tidak, dia bukan suamiku. Suruh dia segera pergi dari sini,
Bu, tolong…”
Akhirnya pria itu pun diminta untuk pergi baik-baik oleh
beberapa orang. Karena takut terjadi apa-apa pada andungan Novita, jika terus
emosi melihat pria itu.
Dengan berat hati, pria itu pun akhirnya pergi juga.
Walaupun di hatinya masih merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada
wanita itu. Perasaan aku tidak melakukan apa-apa. Gumamnya dalam hati.Lalu, ia
pun mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan berkaca melalui kamera. Wajah
tampannya masih baik-baik saja. Tidak menyeramkan, dan tak berubah menjadi joker.
Evereyting is fine. Dasar wanita aneh.
“Nak, apakah kau baik-baik saja? Orang itu tadi kenapa? Apakah
dia menyakitimu?” tanya ibu-ibu yang dijadikan sandaran oleh Novita sejak tadi.
“Tidak, Bu. Tidak apa-apa. Dia tadi orang lain, saya tidak
kenal. Untuk bantuan ibu dan kalian semua saya ucapkan terimakasih. Saya harus
segera kembali. Pasti putra dan ibuku sudah menunggu di rumah,” ucap Novita
lalu segera beranjak pergi. Selain sudah lama dia keluar, dia juga menghindari pertanyaan dari orang-orang mengenai drinya tadi. Dan baginya, memang tak ada yang
lebih tepat selain menghindar.
Sesampai di rumah, Novita sudah disambut dengan ibu
mertuanya yang baik hati. Wanita itu tersenyum dan bertanya pada menantu yang
sudah dianggap seperti anak sendiri itu, karena memang Livia dan suaminya tidak
memiliki anak perempuan. Jadi, kedua menantunya pun diperlakukan layaknya anak
sendiri. Hanya saja, ini yang dekat adalah Novita. Walaupun Aditya sudah tidak
ada. Tapi, tetap saja wanita tua itu tak izinkan Novita pergi. Tapi, jika
memang ingin menikah lagi, ia juga tidak keberatan.
“Nov, kamu kenapa? Apakah ada masalah di jalan? Kenapa mata
kamu sembab seperti orang yang baru saja menangis?” tanya Livia dengan penuh perhatian.
“Novi tidak apa-apa, Ma. Apakah Axel masih belum pulang les?”
tanya wanita itu, berlagak sibuk mencuci buah dan sayur. Itu ia lakukan hanya
semata-mata menghindari tatapan mertuanya saja.
“iya, masih belum. Kamu kenapa, Nov? Kalau ada apa-apa, kamu
cerita saja pada mama!”
“Novi tidak apa-apa. Apakah nanti pak Jupri yang akan
menjemput Axel, Ma? Novi yang masak untuk makan malam saja, ya? Mama istirahat
saja!” ucap wanita itu sambil tersenyum, Tersenyum palsu.
Livia yang sudah sangat hafal dengan Novita, taka da pilihan
selain menuruti kemauam memantunya saja. Ia mengangguk dan menujukkan senyuman
__ADS_1
yang memancarkan betapa sayangnya dia kepada Novita.