
“Aku tidak menyangka kalau kau bisa berubah secepat itu. Ada
apa?” tanya Shinta, setelah Al dan Vico pergi.
“Aku sudah berpikir kalau apa yang kau katakana tadi pagi
benar, buat apa aku mengharapkan mawar, kalau melati saja sudah berada di
pelukan.” Queen tersenyum ke arah sahabatnya.
“Melati jauh lebih harum, dan dia tidak berduri,
keindahannya tidak menipu, lain halnya dengan mawar, dia indah dan harum. Namun
jika kita tidak berhati-hati, kita akan terluka karena durinya yang tajam.”
“Lalu, kau bagaimana bisa kenal dengan kak Vico? Apakah
kalian kenal di pesawat?”
“Tidak, kemarin sepulang dari tempatmu aku tanpa sengaja
menabrak mobilnya. Gak ada satpam, aku buru-buru, mobilku keluar mobil dia
hendak masuk, dan dari situlah kami kenal.”
“Ciee baru kenal seminggu dah jalan saja,” goda Queen.
“Aku merasa nyaman sama dia Queen. Mungkin dia adalah pria
terakhir dalam hidupku.”
“Ah, kok jadi curhat gini? Kita belanja saja yuk, kitya
habiskan uang lelaki kita, kalau perlu, jangan sisakan sepeserpun,” ucap Queen
sambil menggeret Shinta ke counter parfum bermerk.
Sedangkan Al dan Vico, kini dalam keadaan yang benar-benar
serius. Vico menginformasikan pada sahabatnya mengenai orang Jepang yang tengah
membayar salah satu orangnya beberapa bulan lalu, perasaannya terhadap Shinta,
dan membulinya.
“Jadi, orang itu adalah anak dari adik orang tua angkat
kakek Andres, Al. Dia sangat berambisi untuk mendaptkan perusahaan omnya itu,
dan menghalalkan segala cara. Terlebih, dia tahu, kau masih belum memiliki
anak, jadi, ia kian arogan saja.”
“Lalu bagaimana? Apakah itu benar-benar selesai?”
“Walau dikatakan belum sepenuhnya, tapi, kau berada di zona
aman. Legalitas surat kepemilikan adalah atas nama kakek Andreas, dan kau harus
segera mengalihkan nama sebagai milikmu. Bagaimana pun, kakek Andreas tidak
membuat surat wasiat, pada siapa selanjutnya perusahaan itu akan diturunkan.
Kbar kematian beliau sudah di dengar oleh mereka, makanya mereka berani
bergerak dan bermaksut mengancurkanmu dari dalam menggunakan para penghianat.”
“Ya, kamu benar, Tapi, jika kelak aku harus kehilangan itu
aku juga tidak masalah. Aku sudah cukup “puas dengan kehidupanku yang
sekarang.”
“Apa memang yang membuatmu puas? Jangan bilang cinta.”
“Tapi, memang itu kenyataannya, Vic. Asal aku bisa terus
bersama Queen, aku sudah tak butuh apa-apa lagi.”
“Tapi, itu asset peninggalan kakekmu, dan dia mempercayakan sepenuhnya padamu,
Al. Tidak pada om Vano.”
“Aku tidak peduli, kurasa kau juga cukup paham bagaimana
cara mafia bekerja, dan menyerang lawan serta mengulimatumnya. Jika kakuasaan
hanya akan memberi masalah pada orang yang aku cintai, untuk apa?”
“Al, sejak kapan kau jadi bucin begini?” protes Vico.
“Ya sejak aku mengenal cinta. Oh, iya, kau bagaimana bisa
kenal dengan teman istriku?”
“Ah, Panjang cderitanya. Gini, akum au langsung ke inti
saja, ua? Aku mau serius sama dia. Apakah kau ada ide, bagaimana harusnya aku
melamarnya agar dia busa terkesan dan jatuh cinbta padaku?”
“La menurumu, dia sudah cinta belum sama kamu? Jika sudah,
kenapa harus dibikin cinta lagi? Ntar yang ada malah benci, loh!” ucap Al ambil
tertawa miring.
“ya, ya, aku paham itu. Tapi, gimana? Kasih aku saran,
dong!”
“Untuk meluluhkan hati istri mudaku saja aku berguru padamu.
__ADS_1
Terus, gimana aku mengajarimu membuat hati wanita terkesan? Ada-ada saja kau
ini.”
“Oke, kasih aku saran dari dua pilihan yang kuberikan.
Shinta, minggu depan sudah akan kembali bekerja, akan cuti satu bulan lagi. Aku
lamar dia sebelum dia kembali bekerja, atau aku kasih kejutan saat dia di luar
negeri? Atau mungkin dipesawat gitu, konfirmasi dulu sama bosnya.”
“Sarat kedua,” jawab Al singkat.
“Oke, baiklah. Bagaimana? Apakah kita akan menjemput wanita
kita sekarang?”
“Ya, bolehlah!”
****123.
Nayla mulai gelisah saat melihat jam sudah menunjukan jam
Sembilan malam Al belum juga kembali. Dia yakin, Al tidak sedang lembur. Sebab,
yang dia tahu dari Jevin, suaminya meninggalkan perusahaan seja jam makan
siang.
“Ma, kenapa mama berputar-putar seperti orang kebingungan
begitu, sih?” tanya Bilqis yang merasa kosentrasi belajarnya terganggun oleh
Nayla.
“Mama nunggu papa, Sayang. Ini sudah jam Sembilan, kenapa
dia belum pulang?”
“Mungkin papa masih ada urusan, Ma.”
“kata om Jevin dia tadi keluar dari kantor sejak jam
istirahat dan tidakj kembali lagi, harusnya kan… “
“Ma, jangan gitu, mungkin ada urusan di luar. Papa kan
orangnya selalu sibuk, dari pada Mama terus berputar-putar begini, lebih baik
menelfonnya saja.”
“Iya, kau benar. Kenapa mama tidak kepikiran dari tadi, ya?”
Nayla pun mengambil gawainya dan berusaha menghubungi Al. Meskipun menunggu
sampai lama, setidaknya Al langsung menjawab pada panggilan pertama. Dari
seberang telfon, Nayla mendengar suara bising music dan gaduh. Mungkin benar
itu mengenai perusahaan, harusnya kan Jevin juga tahu, kan?
“Ada apa, Nay?” jawab Al dengan nada dingin.
“Ramai sekali, Mas? Ini kamu ada di mana?”
“Aku masih ada urusan sama rekan bisnis. Apa ada masalah di
rumah?”
“E… Tidak ada, ya sudah!” Nayla pun mematikan panggilannya.
Tapi, pikirannya mulai tidak tenag, walau kemarin Al sudah menunjukkan sikap
baik kepadanya, ia merasa ada hal yang tidak benar di balik semua ini.
Di tengah-tengah kepanikannya, ponselnya kembali berdering,
mulanya dia mengira itu adalah Al, melainkan, Jevin yang telah menelfonnya.
Dengan rasa sedikit kecewa, wanita itu pun mengangkat panggilan tersebut.
“Halo. Ada apa, Jev?” jawab Nayla tak bergairah sedikitpun.
“Ada apa, Sayang? Kamu kok kedengarannya lemes banget gitu,
sih?” jawab pria itu sambilo menujukkan sorot mata dan senyumannya yang licik,
jelas saja, Nayla tidak melihat hal itu.
“Malam-malam begini, bagaimana kau bisa menelfonku? Aku
sudah bilang, kan kemarin kalau mas Al sudah mulai baik denganku, jika dia
sampai tahu ini, bisa celaka aku,” jawan Nayla sedikit emosi.
“Ohohoho. Jadi, begitu ya? Apakah kau sudah lupa, siapa yang
ada di saat dirimu terjatuh dan rapuh? Inikah balasannya yang aku dapatkan?”
“Tapi, kamu yang ngerti posisiku, dong Jev.”
“Aku kangen nih, gimana dong? Aklu pengen ketemu kamu.”
“Aku tidak bisa!”
“Lalu, apa yang bisa kau lakukan untuk menjaga rahasia kita
agar tidak diketahui oleh suami tercintamu itu?”
“Kamu mau apa?”
“Kurasa kau tahu, kan? Ayolah, aku tidak butuh apapun, aku
__ADS_1
Cuma inginkan kamu.”
“Besok saja kita ketemu di tempat biasa, sekarang, aku kasih
kau lima juta untuk bersenang-senang dulu bagaimana?”
“Nay, aku tidak butuh uang, aku Cuma butuh kamu datang
menemaniku saat ini,” ucap Jevin, gombal.
“Ya sudah, kamu terima saja dulu duit itu, baru besok akan
kutemui kamu.”
“Tidak mau, akum au besok kau memberikannya saja langsung
padaku, jika tidak begitu, aku takut kau php in. Kan, Al udah mulai baikan sama
kamu.”
“Ya sudah kalau begitu, aku pasti akan memberimu lebih.”
Setelah itu, Nayla menghela napas Panjang. Ia bersukur
sekali dengan kehidupannya yang sekarang. Selain menikah dengan pria tampan dan
kaya raya, dia tidak pelit. Sebab, dia diam saja meskipun akhir-akhir ini telah
menguras banyak uang di atm yang dipegangkan olehnya. Nayla yakin, kalau Al
tahu soal itu, sebab pemberitahuan atau mutase dari bank juga masuk ke dalam
nomonya melalui sms.
Sedangkan doi sebuah restoran yang mewah dan berkelas, dua
pasang muda mudi tengah menikmati hidangan makan malam mewah sambil saling
melmpar candaan.
Queen yang dari tadi siang pergi dan belum sempat
beristirahat sedetikpun mulai merasa kelelahan.
Tapi, rasa lelah itu seolah lenyap ketika Al selesai
menerima panggilan dari Nayla. Al langsung mengampirinya, meletakkan tangan
pada pundak wanita itu, dengan penuh perhatian, ia memijat lembut pundak istrinya
dan berkata, “Kamu capek banget, pasti, ya? Apa mau pulang sekarang?”
Belu,m juga Queen menjawab pertanyaan Al, Vico malah memulai
duluan.
“Jangan mau digilir, Queen! Baru saja dia nelfon sitri ysng
lainnya dan sekarang malah mau merayumu.”
“Diem loe,” cetus Al dengan muka jutek.
“Wanita itu, satu-satunya, Queen, kenapa mau kamu dijadikan
yang kedua.”
“Vico, jangan meprovokasi, deh. Selama Al bisa adil, memang
kenepa? Gak masalah, kan Queen?” sahut Shinta.
“Iya, tentu saja. Namanya juga punya dua istri. Kalau Cuma aku
istrinya dan perhatian ma wanita lain, aku berhak marah dong.”
“Istriku akur, Vic. Kamu bisa gak, kaya aku?” tantang Al
sambil terkekeh.
“Kamu kalau mau duain aku, kita putus! Cari wanita yang mau
kau duakan dan mau jadi yang kedua,” ucap Shinta dengan pandangan siap
mencincang. Kebetulan dia tengah memegang garpu di tangan kiri dan pisau di
tangan kanan. Kerena ia kebetulan tengah memakan steak.
“Gak, Sayang, aku gak bakalan menduakanmu, kok,’ ucap Vico,
ketakutan.
Al yang melihat oemandangan tak wajar itu hanya terkekeh
saja. Seumur-umur kenal juga baru kali ini melihat sahabatnya terlihat takut ditinggalkan
oleh seorang wanita.
Ini sudah malam, istriku kelelahan. Kami akan kembali dulu,”
ucap Al sambil berdiri, dan melambaikan tangan pada pelayan restoran untuk
membayar tagihan.
“Kalau capek langsung tidur, jangan dibawa lembur,” goda Vico.
Mendengar ucapan itu Queen jadi malu sendiri. Ia pun hanya menunduk tanpa
mengucap sepatah katapun.
Al menyerahkan
beberapa lembar uang ratusan ribu, dan berkata pada pelayan untuk menyimpan
kembaliannya. Kemudian pria itu mendekati Vico yang lebih rendah darinya,
__ADS_1
kira-kitra setelinganya dan memitingnya dari belakang.
“Dasar kau rese,” ucap Al.