
Usai makan di
foodcourd, mereka berdua berlanjut menuju ke lantai dua, tempat fashion dan cosmetic. Selain ada yang ingin di beli, mau ke mana lagi? Ke tempat
perlengkapan bayi dan anak, anak mereka juga sudah sering berbelanja bersama kakek dan neneknya. Selain Clarissa, putrinya yang tinggal di Singapura. Dia lebih suka belanja online daripada keluar milih sendiri dan keliling-keliling pusat perbelanjaan. Mungkin karena barang yang dijual di toko online negara spin itu benar-benar real pict, jadi, tak heran kalau putrinya seperti itu.
“Kamu tidak
mau beli jas atau kemeja baru, Al? warna apa gitu, mungkin hitam?” tanya Queen pada suaminya yang berjalan di sampingnya.
“Hitam lagi, ya?” tanya Al.
“Habis, kamu lebih suka mengenakan warna itu dari pada yang lain. Kan di rumah yang dua uda
tidak layak pakai. Warnanya sudah kusam gitu, aku yang pilihkan buat kamu, ya?”
Queen menarik lengan Al, dan mengajaknya menuju ke tempat perlengkapan kerja
pria. Tidak hanya kemeja, jas, dasi, dan juga celana kantor. Setelah memilihkan untuk Al, barulah Queen mengajak suaminya menuju ke tempat tas dan dompet. Karena memang awalnya juga dia ingin membeli tas baru untuk bekerja, dan juga pas lagi jalan.
“Aduh! Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,” ucap Queen saat tanpa sadar ia menyenggol seorang
wanita hingga wanita itu oleng dan hampir terjatuh. Ia sendiri terlalu asik
bersama Al. tak memperhatikan jalan selain pada benda yang terpajang di sana.
“Jalan itu pakai mata, Mbak!” hardik wanita itu, tidak terima.
“Maaf, Mbak.
Saya tidak begitu memperhatikan jalan,” ucap Queen lagi.
“Makanya, ini tempat umum bukan lapangan atau rumah mu sendiri. Jangan seenaknya sendiri
begitu!” Wanita itu bahkan masih saja tetap ngotot tidak terima. Padahal, dia
tersenggol juga tidak begitu parah. Memang dasar orangnya saja yang sedikit aneh, dan belagu.
Mendengar suara ribut di belakangnya, Al menoleh dan melihat, memastikan siapa yang terlibat dalam adu mulut tersebut. Tahu kalau itu adalah istrinya dengan wanita tidak dikenal, segera Al beranjak menghampiri Queen.
“Ada apa ini, Sayang?” tanya Al sambil merangkul Pundak Queen.
“Aku barusan ga sengaja nyenggol dia, Al.”
“Dasar wanita ******!” ucap wanita itu lagi.
Mendengar kata ****** Al dan Queen seolah tak percaya. Siapa dia berani sekali berkata
demikian pada orang yang hanya tidak sengaja menyenggolnya pada saat berjalan.
“Mbak, kau
ini ada masalah apa? Berani sekali mengatai ****** pada istriku,” tegur Al
tidak terima.
“Fakta kan, Al? dia merebutmu dari Nayla? Adik angkatmu sendiri, malah jadi istrimu. Lalu,
bagaimana nasib Nayla? Kau bahkan menceraikannya demi dia.”
Queen meperhatikan wanita di depannya dengan
seksama. Wanita yang mengati dirinya ****** itu. Bahkan, dandanannya sangat menor, rambut diwarna merah maroon dengan kombinasi
ungu gelap, hanya mengenakan tengtop tanpa bra model crop hingga memamerkan perut ratanya, bawahan hot pant dan sepatu hak tinggi.
“Kamu Lyli, bukan? Kau mengataiku ******, tapi justru pakaianmu yang cenderung menuju pada
pribadi seorang wanita ****** yang sebenarnya,” ucap Queen pada Lyli.
“Kau tidak malu, ya? mengambil suami orang, hah? Pria yang disampingmu itu sebenarnya…. “
“Ya, dia adalah kakak angkatku. Tapi, jika kau berasumsi aku merebutnya dari Nayla, kau salah besar. Kemana saja kau selama ini? Info yang kau dapatkan semuanya tidak
ada yang benar. Atau, kau sebenarnya belum benar-benar sembuh dan kabur dari rumah sakit jiwa?” ucap Queen, memotong kalimat Lyli, sekaligus mengejeknya.
“Lancang kau mengatakan aku begitu, berani sekali, kau hah!” Dengan geram Lyli mengangkat tangannya dan hendak melayangkan tamparan pada Queen.
Tapi, dengan sigap pula Al menangkap tangan Lyli dan menghempaskannya dengan keras sehingga
wanita itu jatuh bersimpuh tepat di depan kaki Queen.
“Jaga mulutmu, dan jangan berani kau menyentuh istriku,” ucap Al dengan penuh penekanan.
Lyli terdiam. Ia tak habis pikir. Mati-matian Al membela wanita di sampingnya.
“Al, kau ini lelaki boneka, ya? hidup hanya dikendalikan oleh wanita? Hah, lelaki macam apa kau ini tak memiliki jati diri sendiri saja,’’ ucap Lyli mendongak memandang ke
arah Al dengan pandangan yang merendahkan.
Al mengepalkan kedua tangan, dan mengeratkan rahang-rahangnya. Al sendiri tahu, kalau wanita di depannya hanyalah memancing
emosinya supaya ia melakukan hal kasar, atau bahkan, ia mengatakan apa yang pernah dia lakukan di masa lalu terhadap wanita itu.
“Bilang saja, kau iri, Lyli. Suamiku sangat menyanginku dan menuruti apapun yang kumau. Makanya, kau berkata demikian,” timpal Queen. Kemudian wanita itu, menarik lengan pria di sebelahnya pergi meninggalkan Lyli yang bahkan masih jatuh tersungkur.
“Al, ingat, karma itu ada. Aku belum bisa melupakan apa yang kau lakukan padaku tujuh tahun
silam!” teriak Lyli. Namun, Al dan Queen mengabaikan teriakannya.
“Coba, apakah Queen istrimu tahu, apa yang kau lakukan? Aku tidak yakin dia tahu akan hal itu,” teriak Lyli lagi. Tapi, masih saja diabaikan oleh sepasang suami istri itu. Sepertinya dia lupa kalau dia sendiri yang dulu di Bandung mengatakan sendiri pada Queen. Jadi, sekalipun sekarang dia katakan padanya, dia juga sudah tahu apa alasan Al melakukan itu.
Tidak terima sudah diabaikan, Lyli beranjak pergi mengikuti mereka. Dia ingin tahu, kemana
perginya. Tapi, sepertinya ia tidaklah beruntung. Karena, dia kehilangan jejak mereka. Yang lebih memalukan, saat ia menarik lengan seorang pria yang dia kira Al karena mengenakan kemeja dengan warna yang sama, dia malah salah orang.
“Kemana, kaunpengecut!”
Sementara pria yang tangannya ditarik tadi, langsung menoleh cepat ke arah Lyli tanpa sepatah katapun. Mungkin ia terlalu terkejut. Karena tiba-tiba dari belakang seorang wanita menariknya sambil marah-marah dan mengatakan dirinya adalah seorang pengecut.
“Mbak, kamu ini siapa, ya? Ada urusan apa dengan pacar saya?” hardik wanita di sebelah pria
itu, yang penampilannya saja jauh berbeda dengan Queen.
“Maaf, maaf. Saya salah orang,” ucap Lyli sambil menelungkupkan kedua tangan di depan
dadanya. Ia takut, dan juga merasa bersalah saja.
“Dasar sinting. Kamu gila, ya?” ucap wanita yang baru saja pacarnya jadi korban salah sasarannya Lyli sambil berlalu mengajak pacarnya pergi.
Lyli diam sesaat. Tiba-tiba saja ucapan Queen tadi yang mengatakan dirinya belum waras dan masih gila serta tuduhan kabur dari rumah sakit jiwa terngiang di telinganya. Di waktu bersamaan, wanita lain yang tak mengenal siapa dia juga mengatakan hal serupa walau tidak persis. Tiba-tiba saja dia takut kalau dirinya benar-benar masih gila.
“Apa? Gila? Aku gila? Tidak. Aku tidak gila, aku ini waras! Kalian lah yang gila dan tidak waras!” seru Lyli. Sehingga ia jadi bahan tontonan oleh pengunjung Mall. Tidak
hanya itu, bahkan ada salah satu pengunjung yang mungkin melapor pada satpan, kalau Mall ini dimasuki oleh orang gila yang sekarang ngamuk. Jadi, tidak berselang lama, dan Lyli masih berteriak-teriak, dua orang satpam datang dan meminta agar Lyli keluar dari area tersebut.
“Heh, kalian, satpam kere! Beraninya mengusirku keluar. Kalian lihat, ini, ya? ini uang cast
ku saja ada sepuluh juta di dalam sini, belum lagi yang ada di kartu credit dan
di dalam dua ATM, ini. Kalian tidak punya uang sebanyak ini, beraninya memperlakukanku
seperti hewan!” teriak Lyli sambil membuka isi dompet dan memamerkan isinya.
Sementara dua satpam itu pun langsung pergi, tak mau pedulikan Lyli yang masih
mengamuk dan tidak terima di kata kalau dirinya adalah orang gila.
Dengan rasa kesal Lyli kembali pulang ke rumah. Sampai di sana dia juga uring-uringan sendiri.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Bondan yang kebetulan tengah bersantai di halaman depan.
"Tadi aku ketemu dengan Al dan wanita ****** itu. Beraninya wanita itu mengataiku wanita ******. Benar-benar tidak tahu diri dia.
Bondan hanya diam. Sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak sampai tertawa di depan Lyli. Karena, pakaiannya yang terlalu terbuka, dan kemungkinan dia juga terlalu over mengejar suami dari wanita itu. Kadi, wajar dan sah-sah saja jika wanita itu mengatai Lyli ******.
"Aku mau mandi dulu dan istirahat. Jangan ganggu aku dulu!" Kemudian Lyli pun berlalu meninggalkan Bondan.
Di tempat parkiran, Al menyempatkan meminta maaf pada Queen karena acara jalan mereka kali ini gagal.
"Sayang, maafin aku, ya? Semua masih berkaitan dengan apa yang aku lakukan di masa lalu. Rumah tangga kita seolah tidak menemui ketenangan,"
“Gak apa-apa, ini juga bukan mau kamu, kan? Kita pulang saja, ya?" Jawab Queen lalu keduanya berjalan menuju mobil mereka.
Selama perjalanan pulang menuju rumah, Queen hanya banyak diam saja. Entah apa yang
ada dalam pikiran wanita cantik itu. ia merasa, kalau kemunculan Lyli ada
kaitannya dengan masa lalunya dulu. Tapi, apa? Ya, benar wanita itu tahu kalau Lyli sangat menyukai Al. tapi, Al juga tidak akan pernah berpaling darinya. Apalagi demi waita seperti Lyli. Bukan kelasnya. Lalu, apa?
****
Merasa apa yang dilakukan kemarin di mall tidak membuahkan hasil sama sekali, pagi-pagi
sekali Lyli sudah berada di depan rumah Al dan Queen. Ia menunggu Queen keluar
dari halaman rumah itu. tapi, sepuluh menit kemudian, sebuah mobil ferarry
__ADS_1
merah keluar dari halaman. Artinya, yang keluar bukanlah Queen melainkan Al. hanya saja, yang membukakan gerbang untuk mobil itu adalah Queen sendiri. Setelah memastikan mobil Al sudah jauh, buru-buru Lyli keluar dari mobilnya dan mengetuk pagar.
Seorang wanita muda membuka pagar tersebut. Dengan muka kesal ia bertanya pada Lyli. “Kamu?
Ngapain sepagi ini datang ke rumahku?” tanya Queen kesal.
“Harusnya kau tidak perlu bertanya, juga tahu, kan? Kemarin itu urusan kita masih belum selesai. Aku kemari, untuk menyelesaikannya.
Queen hanya diam, tidak mau meladeni Lyli yang kian hari kian melantur. Tapi, ada satu hal
yang membuat ia heran dan berfikir macam-macam dengan mantan pembantunya ini. Beberapa bulan silam ia bertemu di rumah sakit jiwa sebagai pelayan karena utangnya. Menurut informasi yang ia dapatkan, utang Lyli itu tidaklah sedikit,
lalu, bagaimana dia bisa keluar dari sana dan merubah penampilannya dengan drastis seperti ini? Apakah dia jadi simpanan om om kaya? Lalu, kira-kira siapa ya, yang mau dengan wanita alumni rumah sakit jiwa? Apakah tidak horor, tuh? Walaupun tidak semua orang gila di sama ngamuk, malah yang suka ngamuk itu sedikit, tapi, tetap saja kesan yang melekat di benak setiap orang kan demikian karena sudah termakan oleh alur sinetron.
“Kau tahu, kenapa aku mengatai kamu sebagai pelakor? Beberapa hari yang lalu, aku ketemu
Nayla dan Bilqis di pusat perbelanjaan. Dia banyak curhat sama aku, salah
satunya, rumah tangganya dengan Al dihancurkan olehmu. Kau merusak rumah
tangganya hingga mereka bercerai, dan kau minta dinikahi oleh Al. seperti ini, ya ternyata kelakuan anak orang kaya dan berpendidikan. Sekolah ambil jurusan
kedokteran Cuma jadi pelakor. Yang dirusah rumah tangga kakak angkatnya lagi.”
Mendengar
perkataan Lyli, Queen merasa emosi, dia ingin marah sama Nayla. Mana mungkin
dia bisa berkata seperti itu? Tapi sebisa mungkin wanita itu berusaha agar
tetap tenang. Tidak menunjukkan emosinya. Ia rasanya masih belum bisa percaya
kalau Nayla bisa seperti itu di belakangnya. Memang, hubungan mereka dulu tidak
lah baik. Tapi, lima tahun terakhir ini, dia dan Nayla malah seperti saudara
saja.
“Kamu sudah selesai,
ngomongnya? Ya sudah, kau pergilah!” tanpa banyak bicara lagi, Queen menutup pintu pagar tersebut lalu menguncinya.
“Dedi! Jangan pernah membukakan pintu gerbang pada orang yang tidak di kenal, ya? barusan ada
orang tidak waras ke sini,” teriak Queen dengan suara lantang pada pria yang dulu pernah jadi anak
buah Al kala masih menjadi mafia. Siapa Lyli mungkin dia juga tahu, meskipun tidak ikut menikmati tubuh wanita itu berama-raai seperti beberapa temannya
yang lain.
“Baik, Non,” jawab pria itu. kemudian kembali menersukan ngopinya setelah melihat majikannya
msuk ke dalam rumah.
Sesampainya
di dalam, Queen merasa pikirannya sedikit terganggu. Untuk membuktikan
kebenaran atas apa yang Lyli katakana tadi, ia perlu menghubungi Nayla dan menanyakannya secara langsung dengan baik-baik. Tapi, sebelum menghubungi Nayla, wanita
itu menuju dapur untuk meneguk segelas air putih agar pikirannya lebih tenang dan rilex. Setelahnya, barulah ia mengambil ponselnya dan menghubungi Nayla.
“Halo, kak.
Kau ada acara tidak hari ini? Aku ingin ketemu, ada yang ingin aku bicarakan,”
ucap Queen begitu panggilannya sudah diangkat.
“Halo, iya Queen. Tidak ada. Bagaimana kalau saat ini juga? kebetulan, aku juga ada yang
mau aku bicarakan sama kamu,” jawab Nayla dari seberang sana.
“Oke, baiklah. Bagaimana kalau di café milik om Reza saja?”
“Boleh, lah.” Nayla menerima usulan Queen. Dia tidak begitu pentingkan tempat, yang dia perlukan saat ini adalah bisa bertemu dengan Queen cepat agar bisa selalu
waspada dengan Lyli. Ia merasa kalau wanita ular itu datang ingin menghancurkan
Queen.
Saat Queen
tiba di café milik om Reza tempat mereka janjian, ternyata Nayla sudah datang
lebih dulu sudah.
“Kak Nay sudah lama nunggu aku? Maaf ya telat,” ujar Queen, kemudian duduk di depan Nayla.
Queen tersenyum dan berkata, “Wah, tahu aja kesukaanku.”
“Kamu pasti juga belum sarapan, kan?” tebak Nayla.
“Iya, kak. Tahu saja. Oh, iya. Katanya tadi kak Nay juga mau ada yang mau diomongin sama aku. Apa?”
“kamu apa?”
“Karena kak Nay yang tiba lebih dulu, kak Nay saja yang duluan ngomong.”
“Baiklah kalau maumu begitu. Dua hari yang lalu aku ketemu Lyli di mall saat bersama Bilqis. Aku merasa dia kembali muncul setelah bertahun-tahun hilang mau
merencanakan hal buruk padamu.”
Queen diam memperhatikan. Dari cara Nayla bicara dan juga ekspresinya, sepertinya wanita
itu menghawatirkan dirinya. Mana mungkin dia berkata yang bukan-bukan pada
Lyli? Terlebih saat pertama melihat Lyli di rumah sakit jiwa beberapa tahun
silam juga terlihat sekali aura kebencian di wajahnya.
“Aku tidak tahu, ke mana dia setelah dipecat oleh mendiang kakek Andreas dulu perginya. Tak pernah ada kabar lagi tentangynya. Tiba-tiba saja dia muncul menunjukkan
fotomu bersama mas Al saat kalian di restoran dan keluar masuk di hotel.
Sepertinya dia mengira aku masih istri mas Al, Queen.”
“Oh, jadi dia memang ada niat untuk mengadu domba kita semua, Kak. Untung saja ketahuan lebih
dulu,” timpal Queen.
“yah, begitulah. Aku tidak tahu, kenapa dia sangat membencimu. Perasaan, kau tidak pernah ada masalah dengannya. Oh, iya. Kamu bilang mau ngomong, apaan?” tanya
Nayla begitu teringat kalau tadi yang pertama ingin bertemu juga Queen, karena ada hal yang perlu dibicarakan.
“Ya sudah. Ini yang mau aku katakan, Kak. Tentang Lyli. Kemarin saat aku jalan sama Al aku
ketemu dia, dan tidak puas membuliku sebagai pelakor dia pagi tadi datang ke
rumah, dan mengatakan, kalau kak Nay lah yang seolah bercerita bagaimana kalian
bercerai. Jadi, dia membuat cerita seolah Al itu ada di bawah kendaliku.
Kemarin juga ngatain Al itu pria boneka. Entahlah.
“memang selama ini dia ke mana, ya? muncul-muncul kok penampilannya wow banget, apa dia jadi
tkw, ya?” ucap Nayla. Membuat Queen tersedak karena bersamaan ia menelan makanan, dia tertawa. Lucu saja jika Nayla menganggap seperti itu, padahal,
kebenarannya, dia dua tahun diskap oleh Al karena ulahnya, dan lima tahun dia berada di rumah sakit jiwa. Ada seseorang yang menemukan dia dalam keadaan mengenaskan, stress gila dan trauma jadi satu.
“kalau TKW aku tidak kepikiran. Aku justru berfikir kalau dia itu malah jadi simpanannya om om kaya.”
“Hah. Tapi, bisa juga, sih.”
“Selama ini dia di bandung itu bekerja di rumah sakit jiwa, Kak. Dia menjadi pelayan di
sana, bagian masak dan bersih-bersih lah pokoknya. Gak tau, dalam waktu kurun
beberapa bulan saja kok sudah kek gitu.”
“Apa karena terlalu lama bekerja di rumah sakit jiwa, ya dia jadi ketularan edannya
para pasien?’' timpal Nayla dan semuanya pun tertawa.
“Mungkin saja begitu,” sahut Queen. Pura-pura tidak tahu. Sebab, walau bagaimana pun, ia
tidak ingin, rahasa terbesar Al diketahui oleh Nayla. Walaupun dia lama pernah
menjadi istri dari suaminya. Tapi, sedikitpun ia tidak tahu, tentang dunia
hitam yang pernah Al jalani selama bertahun-tahun lamanya. Membunuh tanpa rasa
bersalah. Menyandra dengan tega, cukup dia saja yang tahu. Selama ini Al juga sebagai suami sangat baik, peduli dan perhatian terhadap dirinya. Jika dia bisa menerima kelebihannya, kenapa tidak dengan kekurangnya?
***
“Mama, kapan kau akan kembali dari Jogja? Apakah kau tidak kangen aku?” ucap seorang bocah dari dalam telefon.
__ADS_1
“Secepatnya, Sayang. Apakah kau sudah merindukan, Mama?” jawab Novita, menghibur putranya.
“Tentu saja aku sangat merindukanmu, Mama.”
“Sama papa rindu tidak?”
“Papa?” tanya bocah itu sedikit bingung.
“Iya, Papa. Sekarang kau dan kakakmu sudah tidak boleh memanggil om Candra dengan panggilan om lagi. Tapi, harus memanggil dengan panggilan papa. Mengerti?” jawab Novita dengan lembut.
“Ya aku mengerti,” jawab bocah itu.
“Adriel Sayang. Ayo makan siang dulu, lalu tidur!” terdengar suara Zahara dari belakang memanggil putra kecilnya untuk makan siang. Novita sempat terdiam. Rindu, merasa bersalah pada kedua putranya menjadi satu. Tapi, bagaimana lagi.
“Mama, tante Zahara memanggilku, kau bicaralah dengannya. Aku mau makan siang dulu, oke?” ucap bocah itu dengan lantang, membuat lamunan Novita terbuyarkan.
“Assalamualaikum, Kak.” Suara dari seberang saja juga sudah berganti dengan suara seorang wanita.
“Waalaikumssalam, Zahara. Ra, aku titip anak-anak dulu, ya? maaf kalau dah bikin kamu dan Alex repot. Aku tidak tahu, kalau di keluarga candra masih kental dengan peradatan jawa,” ucap Novita menjelaskan.
“Sudahlah, Kak. Jangan pikirkan Adriel dan Axel. Mereka di sini baik-baik saja. Aku malah suka kok, kan ada yang menemani Lutfy,” ucap Zahara.
“Aku sudah sangat rindu mereka, Za. Aku kira setelah nikah ya sudah, kami bisa cepat kembali ke Jakarta. Makanya, saat Adriel menolak untuk menginap di sini aku santai saja.”
“Turuti saja kak adat di sana, hargai mereka, selama tidak menyalahi aturan agama, tidak masalah. memang, dipingit sampai berapa hari sih kak?” tanya Zahara yang juga penasaran.
“Empat puluh hari, Za. Kami tidak boleh keluar kemana-mana. Kecuali masih satu daerah, itu tidak masalah. Kalau dilanggar entah apalah aku juga tidak terlalu paham. Intinya, selama itu, kami dibuatkan pagar agar rumah tangga kami terjaga dengan baik,” jawab Novita.
“Ya sudah kak, tidak masalah kan satu bulan lebih di sana? Percayakan saja anak-anak pada aku dan Alex. insyaallah, kami berdua amanah,” jawab Zajara menghibur kaka iparnya.
“Tapi, ini sangat merepotkanmu, Za.”
“Sudah lahkak. Tidak. Kan Adriel sudah sekolah. Dia tidak mungkin akan libur selama itu dari sekolahannya, bukan? Jangan khawatirkan mereka. Rindu biasa. Kan jaman sekarang bisa video call.”
“Iya, Zahara. Kau benar. Sekali lagi terimakasih, ya? dan maaf banget kalau aku merepotkanmu.”
“Tidak kak, ya sudah, aku lihat Adriel dulu, biar dia segera istirahat.”
Panggilan pun dimatikan. Novita berbalik badan. Ternyata mama Dian mertuanya sudah berada di belakangnya. Entah, sudah berapa lama wanita itu di sana, dan sudah berapa banyak yang sudah di dengar olehnya.
“Mama, sejak kapan di sini?” tanya Novita.
“Baru saja, Sayang. Maafkan mama, ya? Mama sebenarnya tidak berniat mengurungmu di sini. Tapi, ini sudah menjadi adat kami sebagai orang jawa. Kamu pasti rindu banget sama putramu, ya? bagaimana kalau mama ke tempat adikmu dan menjemput Adriel untukmu?” usul mama mertua Novita.
“Tidak usah, Ma. Aku tidak mau merepotkan mama,” jawab Novita dengan cepat.
“Mama sama sekali tidak merasa direpotkan, Nov. justru mama merasa sedih dan nyesek kalau kamu kek gini,” jawab wanita itu dengan raaut wajah yang juga ikut merasa sedih.
“Novi sudah dua minggu di sini, kan Ma? Artinya sudah empat belas hari. Duapuluh empat hari lagi Novi akan kembali dan bisa bertemu dengan mereka,” jawab Novi sambil tersenyum dan memegang tangan mertuanya.
“Ya sudah, ayo kita makan siang dulu. Mama masakkin sesuatu yang special buat kamu,” ajak mama Dian.
“Apa, itu Ma?”
“Ayolah, kau pasti juga sudah bisa menebaknya. Makanan khas jogja lah salah satunya.”
“Gudeg bukan?”
“Itu, kamu tahu. Ayo, Candra juga sudah menunggumu di sana.”
Usai makan siang, Novita membantu asiten rumah tangga mama mertuanya membereskan sisa-sia makan dan mencuci pirirng setelahnya, ia menyusul Candra yang tengah mengobrol dengan mamanya.
“Ndra, sabtu nanti kamu minta supir buat jemput Adriel napa? Kasian istri kamu dia kangen banget pasti dengan putranya. Putra dia kan sekarang juga putra kamu. Minggu sore, biar diantar pulang. Atur saja, lah sekiranya tidak menganggu sekolahnya,” ucap mama Dian yang juga kebetulan didengar oleh Novita.
“Aku juga sudah berfikir demikian, sih Ma.”
“Kamu Cuma dipikirkan doang, tapi gak dijalanin. Ya percuma, Ndra. Gak akan ada hasil apa-apa,” timpal mama Dian. Mulai mengomeli putranya.
“Pasti lah Candra akan menjalani, kan ini juga masih hari Kamis. Kurang dua hari lagi. Masak langsung main jalani saja. Lagian, kenapa sih mama jadi kuno banget, pake acara pingit-pingitan segala,” protes Candra.
"Ini juga demi keselamatan rumah tangga kalian, Ndra. Nurut dikit napa jangan hina adat. Pengantin baru itu sampe 40 hari itu bawa sawan, kalau sampe keluar kemana-mana mau kamu kena sawan, godaannya setan yang membuat pernikahan kalian hancur? Nikah dah ketuaan, masih berlagak saja. Untung nikahnya sama janda yang punya anak. Setidaknya mama dah rasain punya cucu walau ga tau bayinya."
Jawaban dari Candra barusan membuat mama Dian kian mengomel saja. Baru berhenti saat menyadari kalau Novita sudah datang.
“Novi, sini! Duduk, kamu lama banget? Kamu tidak perlu bantu beres-beres, kan semua kerjaan rumah memang sudah jadi tanggung jawab mereka,” ucap mama Dian pada menantunya.
“Tidak apa-apa, Ma. Novi sudah terbiasa saja,” jawab wanita itu sambil tersenyum tipis dan duduk di dekat mertuanya.
“Pasti papa dan mama kamu bangga ya memiliki duan anak laki-laki dan perempuan yang mandiri seperti kau dan adikmu. Tidak menggantungkan hidup pada kedua orang tua saja."
“Apa bedanya sama Candra, Ma?”
“Dia itu keras kepala, Novita. Mama minta jadi penerus perusahaan dia malah ngeyel lebih suka melakukan sesuatu yang rumit. Kuliah mama minta ambil jurusan bisnis juga mlah arsitek. Mungkin dia akan nurut kalau mama sudah menyesul adiknya pergi kali,” keluh mama Dian.
Novita sempat terkejut. Ia tidak begitu tahu dengan keluarga suaminya. Yang ia tahu, mamanya adalah seorang janda. Soal saudara, Candra tidak pernah bercerita, Novi sendiri malah mengiranya kalau suaminya ini adalah anak tunggal. Ternyata dia punya adik, lalu, kemana adiknya? Apakah meninggal? Meninggal diusia berapa? Batin Novita.
“Ma, sudah lah jangan lagi ungkit-ungkit Maya. Ikhlaskan dia biar dia tenang dialamnya sana,” timpal Candra.
“Kamu nurut dikit sama mama kenapa, sih, Ndra?” ucap mama Dian mulai terisak teringat dengan mendiang putrinya.
“Sabar, ya Ma. Nanti aku bantu bujuk Candra biar mau nerusin perusahaan mama dan resign dari pekerjaannya yang ada di Jakarta,” ucap Novita pelan sambil mengelus punggung mamanya.
“Makasih ya Nov, kamu memang anak yang baik. Ya sudah, mama mau keluar dulu, ada hal yang perlu mama urus. Kamu ngobrol lah bersama Candra.”
Novi dan Candra hanya saling pandang saja saat mama Dian sudah pergi meninggalkan mereka berdua di halaman belakang rumah. Wanita itu hanya diam karena tidak tahu harus berkata apa.
“Maafin mamaku, ya? dia memang sangat bawel makanya, aku pilih keluar dari rumah dan cari pekerjaan sendiri sesuai bidang yang aku sukai,” ucap Candra mendahului berbicara.
“Kamu sedikit turunin ego kamu, walau seperti apapun dia, tetaplah dia itu ibu kamu, wanita yang sudah selama sembilan bulan mengandungmu dan rela bertaruh nyawa untuk melahirkan kamu. Berbaktilah padanya selagi dia masih hidup, Ndra. Lihatlah aku dan Alex yang masih memiliki kedua orang tua lengkap tapi, berasa hidup sendiri. Sekalipun kami menyusul mereka ke New York, mereka juga pasti bakal melarang kami untuk tingal bersama.”
Candra diam mencoba meresapi apa yang baru saja Novita katakana, entah kenapa, dengan wanita ini dia seolah bisa terhipnotis saja, apapaun yang diminta dan dikatakan seolah rasanya semuanya benar, tidak ada yang salah. Jadi, meskipun berat, ia berusaha keras untuk melakukan apa yang sudah diminta.
“Ya, aku akan berusaha melakukan itu. tapi, bagaimana dengan kamu, jika aku bekerja di sini? Apakah kamu tidak keberatan pindah di sini? Axel sudah akan kuliah dan dia maunya kuliah di Jakarta. Apa tidak apa-apa membiarkan dia tinggal seorang diri di sana?”
“Inyasaallah tidak apa-ala, Ndra. Axel kan sudah dewasa. Yang penting Adriel saja.”
“Ya sudah, kita ke kamar saja yuk, ngobrol di sana!” ajak Candra sambil merangkul Pundak Novita.
Sesampainya di kamar, Novita memberanikan diri menanyakan tentang adiknya Candra yang kata mamanya tadi sudah tiada.
“Ndra. Maaf, ya jika aku lancang menanyakan ini ke kamu. Memangnya kamu punya adik, ya? dia laki-laki apa perempuan?”
Candra menghela napas panjang sebelum menceritakan tentang ini. Terlihat sekali, kalau hal ini terasa berat bagi pria itu. namun ia tetap berusaha terlihat tegar dan kuat menghadapi hal ini. Mungkin juga ini alasannya mengapa selama ini dia tidak pernah bercerita pada Novita.
“Kamu tidak perlu menjawabnya, Ndra. Aku tidak mau kamu bersedih, maafkan aku, ya?” ucap Novita buru-buru.
“Tidak masalah. aku akan ceritakan sama kamu. Karena sekarang kau sudah jadi istriku, kau harus tahu mengenai keluargaku. Iya, aku mempunyai adik perempuan. Dia meninggal sudah lama. Sekitar sembilan tahun silam, dia meninggal diusia duapuluh tiga tahun. Kami sangat menyayanginya. Tapi, tuhan berkehendak lain. Sebenarnya mama tidak sebawel itu. dia membebaskanku mengambil bidang apa saja karena ia pikir adikku lah yang bakal menggantikan posisinya di perusahaan kelak. Tapi, sepertinya Tuhan telah berkehendak lain,” jawab Candra panjang lebar.
“Yang sabar, ya? aku tahu mungkin ini berat bagi kamu terlebih mama. Mungkin dia berubah jadi sensitive dan uring-uringan juga semenjak kepergian adikmu itu, ya?” tebak Novita.
“Ya, kamu benar. Bagaimana, kalau besok aku ajak kamu ke makamnya Maya, adikku,” ucap Candra, dan hanya dibalas oleh anggukan sama Novita.
****
Merasa bosan karena tidak ada kegiatan, hari ini Queen berencana menjemput putrinya dari sekolahan dan mengajaknya jalan-jalan. Seharian ini dia sudah puas melakukan video call bersama putrinya yang berada di singapura. Dia benar-benar bocah yang luar biasa, diusianya yang baru enam tahun saja sudah duduk di kelas bangku SMP klas 1. Queen sendiri tidak tahu, memang anaknya yang luar biasa, atau mama mertua kandungnya yang hebat, membuat anak bisa sedemikian hebat. Entah, bakat dari siapa yang diambil oleh Clarissa, mungkinkah dari papanya?
Sebelum ia berangkat menjemput putrinya, ia menelfon mamanya untuk memberi tahu agar tidak perlu menjemput Berlyn.
“Hallo, Ma.”
“Iya, Hallo Sayang. Ada apa?” sahut seorang wanita dari seberang sana.
“Mama lagi apa? Apakah Mama mau jemput Berlyn?”
“Iya, ini baru juga mau siap-siap, ada apa? Apakah kau yang akan menjemputnya?” tebak Clara.
“Iya, Ma. Sekalian aku mau ajak dia jalan. Bosen banget aku rasanya di rumah terus. Itung-itung sambil refresing,” jawab Queen.
Di seberang sana, Clara hanya tersenyum saja. Menertawakan putri semata wayangnya yang begitu nurun papanya. Sangat gila kerja, baru saja dua hari dia tidak bekerja di rumah sakit karena resign, sebab dua minggu lagi klinik miliknya sudah akan beroprasi. Tapi, dia bahkan sudah merasa bosan.
“Ya sudah, kamu hati-hati, ya? nanti Berlyn mau nginep di ruma kamu, apa kamu antar lagi ke rumah mama, Sayang?” tanya Clara. Dia tidak merasa direpotkan sama sekali dalam mengasuh cucunya, mungkin karena dulu Cuma punya satu anak saja. Ketika mengasuh Al juga dia sudah berusia enam tahun, dan Al adalah anak yang pintar dan pandai menempatkan diri. membuat, Clara, Vano dan semua orang tuanya lupa, kalau dia adalah anak yang diadopsi.
“Baik, Ma.” Panggilan pun dimatikan. Queen segera bergegas mengambil tas dan kunci mobil lalu menuju ke garasi dan bersiap hendak menjemput putri kecilnya. Di jalan ia berfikir, jika saja dulu itu yang diambil oleh mami Jeslyn adalah Berlyn, dan dia yang dengan Clarissa, tak dapat dibayangkan, betapa gaduhnya rumahnya itu. sebab, anak yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi seperti Clarissa memiliki pemikiran sendiri, tak begitu menikmati masanya yang masih kanak-kanak, dia merasa dewsa, dan akan kuat dengan pendiriannya sendiri.
Tapi, dia bersyukur memilki dua batu permata sekalipun terpisah. Dengan adanya Lyli, ia sedikit membenarkan apa yang maminya khawatirkan. Bisa saja, Lyli yang sudah gila dan hatinya dipenuhi dengan rasa dendam mengambil salah satu putrinya dan membunuhnya, atau, bahkan dua-duanya. Seketika, Queen terperanjat dari lamunannya sendiri.
“Tidak! Lyli tidak boleh menyentuh salah satu putriku, lebih baik aku saja yang mati terbunuh olehnya dari pada aku kehilangan salah satu dari mereka. Aku tidak bisa begini,” gumamnya seorang diri. tiba-tiba saja tangannya gemetaran karena merasa takut.
Tiba di sekolahan, Queen menunggu putrinya keluar. Banyak siswa siswi berseragam khas sekolahan tersebut berhambur keluar dari kelas menuju pada orangtua yang menjemputnya. Tapi, di mama Berlyn? Kenapa dia belum keluar?
Merasa tak nyaman, Queen pun memutuskan untuk menjemput putrinya sampai di depan pintu kelasnya. Tapi, baru saja ia masuk gerbang, seorang anak berusai kira-kira enam tahun dengan pawakan langsing berkulit putih rambut hitam lebat dan ikal serta sepasang bola mata yang lebar dan bulu matanya yang lentik berlari menuju ke arahnya sambil mengubar senyuman yang ceria.
“Sayang, kok keluarnya belakangan?” tanya Queen, begitu menggendong dan mencium pipi putrinya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir gadis kecil itu selain sebuah senyuman dan Gerakan tangan yang mengisyaratkan, kalau dia menyelesaikan tugas mewarna dari guru selesainya belakangan.
“Oh, kau mewarnai? Gambar apa yang kau warnai, Sayang?”
Berlyn menunjuk lehernya lalu tangannya ke atas, yang artinya si leher panjang.
“Jerapah?” tebak Queen berharap tebakannya benar.
Gadis itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Awalnya Queen ingin mengajak putrinya langsung keluar, karena dia sudah menyiapkan pakaian ganti. Tapi, urung saat ia di jalan tadi tiba-tiba teringat dengan Lyli dan mengaitkan antara ramalan dari seorang cenayang yang pernah menemui mami Jeslyn di kala dirinya masih mengandung putri kembarnya.
“Sayang, kita pulang ke rumah dulu. Mama akan siapkan makan siang untukmu dan papa. Setelahnya, kita pergi ke kantor papa dan makan siang bersama, ya Sayang?’’ ucap Queen sambil memasangkan sabuk pengaman untuk putrinya yang duduk di dekatnya.
Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum dan penuh kegirangan. Ia menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang, dan mengelus belakang kepalanya. Walaupun dia bisu, setidaknya ada banyak hikmah yang ia dapatkan, sejak usia tiga tahun sebelum masuk sekolah TK dia sudah bisa membaca dan menulis. Mendengar pun dia juga bisa dengan baik karena pernah melakukan oprasi pemasangan implan koklea. Hanya saja, kenapa dia tidak mau ikut terapi agar bisa berbicara seperti anak-anak yang lainnya? Apa jangan-jangan dia sebenarnya dapat berbicara tapi lebih menikmati menjadi gadis bisu? Entahlah. Queen menyalakan mesin dan mulai mengemudikan kendaraannya menuju rumah.
__ADS_1
Sesampai di rumah, ia meminta bibi agar menyiapkan makan siang untuk dirinya dan seuami berserta dengan putrinya dimasukkan ke dalam box. Sementara Queen sendiri membantu putrinya cuci tangan, wajah dan kaki serta mengganti baju seragam dengan pakaian santai untuk pergi ke kantor papanya.
Begitu semua selesai, Queen segera menuju kantor suaminya. Sekitar pukul setengah sebelas dia tiba di sana. Sambil menunggu jam istirahat papanya yang kurang satu setengah jam lagi, Queen dan Al meminta putri kecil mereka untuk tidur dulu. Dalam ruangan Al, memang tertadapat 1 kamar kecil yang hanya berisi 1 tempat tidur berukuran 200x160cm. Tempat itu biasa suaminya gunakan untuk tidur saat ia memilih untuk tidak pulang. Sementara Queen duduk di ruang kerja bersama suaminya. Meskipun tidak membantu suaminya menyelesaikan pekerjaannya, menggoda suami sendiri di kala sepi dan tak ada orang, sah-sah saja, kan?